Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

MY NEW 'FRIEND' (Part 14)


“Kok bisa sakit gini sih?” tanya Oik sambil tetap menggenggam tangan Cakka.

“Cuman capek aja kok..” jawab Cakka sambil tersenyum.

Di sudut lain ruang rawat Cakka..

“Ga bisa, Yel! Dia udah bikin Cakka kayak gini!” Via tetap bersikeras agar Iyel menyuruh Oik keluar dari ruang rawat Cakka.

“Tapi Cakka butuh dia!” kata Iyel dengan suara tertahan.

“Buat apa ada dia kalo dia cuman bisa bikin sepupu kamu kayak gini?!” tantang Via.

“Via! Udah! Dia itu sahabat kamu!” bentak Iyel.

“Aku ga punya sahabat macem dia! Ga sudi!” Via lalu beranjak dari duduknya dan segera keluar dari ruang rawat Cakka setelah ia membanting pintu.

Cakka dan Oik menoleh ke sumber suara dengan tatapan bingung.

“Ga ada apa-apa kok. Cuman salah paham aja” ujar Iyel yang seolah mengerti arti tatapan Cakka dan Oik barusan.

Iyel segera keluar ruang rawat Cakka dan ia menemukan Via sedang duduk di kursi depan ruang rawat Cakka dengan rahang mengeras dan tatapan tajam lurus ke depan.

“Vi..” sapa Iyel sambil duduk di kursi samping Via.

“Apa?” sahut Via ketus.

“Ga seharusnya tadi kamu kayak gitu..” kata Iyel lembut.

“Tapi Oik udah bikin Cakka terbaring lemah di dalem!” ucap Via masih dengan emosi.

“Cakka kayak gini bukan gara-gara Oik, dia murni capek” tutur Iyel sambil memainkan rambut panjang Via.

“Beneran?” tanya Via.

“Iya..” jawab Iyel dengan senyum manisnya.

“Bukan karena Oik?” tanya Via lagi.

“Demi apa aja deh, Cakka kayak gini bukan karena Oik” jawab Iyel serius.

***

“Via kenapa sih?” tanya Oik kepada Cakka.

“Ga tau.. Udah, biarin aja” jawab Cakka, ia segera melepaskan tangan kanannya yang sedari tadi Oik genggam.

“Kok? Kenapa?” tanya Oik melihat Cakka melepas genggaman tangannya.

“Ga papa kok..” kata Cakka sambil mengucek rambut Oik dengan lembut.

Drrttt drrttt.. Drrttt drrttt..

“HP kamu bunyi ya?” tanya Cakka.

“Iya.. Dari Rio” gumam Oik setelah melirik layar ponselnya sekilas.

“Hhh..” Cakka menghela napas berat dan segera mengalihkan pandangannya dari sosok mungil Oik.

***ONTHEPHONE:OIK-RIO***

R          : “Kamu di mana sih? Kok di sekolah ga ada?”

O         : “Umm.. A.. Aku ga masuk. Kok kamu tau?”

R          : “Aku lagi di sekolah kamu dan temen-temen kamu bilang kalo kamu ga masuk”

O         : “Iya.. Aku nungguin Cakka di RS”

R          : “Ngapain kamu nungguin dia?”

O         : “Emang kenapa? Ga boleh?”

R          : “Kamu kan punya aku!”

O         : “Hah? Maksudnya?”

R          : “Kamu cewekku kan?”

O         : “Kita ga pernah ngomongin ini sebelumnya dan kamu tau-tau ngomong gini ke aku?!”

R          : “Aku tau kamu sayang aku..”

O         : “And then? Kamu ga punya hak apapun atas aku!”

R          : “Aku juga sayang kamu..”

O         : “Mau kamu apa?”

R          : “Aku mau kamu jadi cewekku!”

O         : “Aku bisa kasih jawaban sekarang!!”

***ONTHEPHONE:END***

“Kenapa?” tanya Cakka dengan tetap tak memandang Oik.

“Rio.. Dia minta aku jadi ceweknya” jawab Oik dengan suara yang makin mengecil.

“Terus?” tanya Cakka lagi.

“Aku bingung. Ga ngerti” gumam Oik.

“Kalo emang kamu masih sayang dia ya kamu terima aja” kata Cakka dengan berat hati.

***

Di luar ruang rawat Cakka..

Sebenarnya Iyel dan Via berniat masuk kembali ke dalam ruang rawat Cakka, tapi mereka mengurungkan niat itu karena mereka mendengar Oik mengatakan bahwa Rio menelponnya.

Mereka berdua telah mendengar semuanya. Potongan-potongan percakapan Oik dan Rio di telepon, sampai Cakka mengatakan bahwa Oik bisa menerima Rio jika Oik masih menyayanginya.

Tentu saja itu membuat Via kembali marah dan sayangnya Iyel tak bisa meredakan kemarahan Via kali itu.

“Kamu denger sendiri kan?!” bentak Via dengan mata berkilat-kilat.

“Iya..” jawab Iyel lemas.

“Terus? Kamu ngebiarin Oik terus nyakitin sepupu kamu?!” bentak Via lagi.

“Kalo Cakka maunya Oik sama Rio? Kita ga bisa ngapa-ngapain lagi..” ucap Iyel.

Mereka berdua terus berdebat di luar ruang rawat Cakka sampai akhirnya mereka sayup-sayup mendengar Oik kembali berbicara dengan Cakka.

Mereka berdua segera menempelakan telinga masing-masing pada pintu ruang rawat Cakka agar dapat mendengar lebih jelas lagi percakapan Cakka dan Oik di dalam.

***

“Cak..” sapa Oik lirih.

“Kenapa?” tanya Cakka, akhirnya ia kembali mengarahkan pandangannya pada Oik yang duduk di samping ranjangnya.

“Maaf..” kata Oik lirih.

“Maaf buat?” Cakka semakin bingung dengan perkataan Oik barusan.

“Maaf buat semuanya..” ujar Oik sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Kamu ga punya salah sama aku..” tutur Cakka dengan lembut dan senyum mengembang.

“Aku punya salah sama kamu!” Oik menatap Cakka dengan tatapan sendu.

“Apa?” tanya Cakka lagi.

“Tapi kamu jangan marah ya..” pinta Oik, ia kembali menundukkan kepalanya.

“Iya..” jawab Cakka.

“Aku bilang sama mama kalo kita udah putus..” ujar Oik dengan suara parau.

“Oh..” jawab Cakka tak bersemangat.

“Kamu nangis?” tanya Cakka setelah menyadari nada suara Oik berbeda dengan sebelumnya.

“Ga kok.. Ini lagi flu aja” kata Oik, diam-diam ia segera menghapus air matanya.

“Kamu nangis. Suaramu beda ama biasanya, kalo kamu flu suaramu ga berubah sedrastis ini..” ujar Cakka dengan lembut.

“Ini cuman flu..” kata Oik sambil mengangkat kepalanya dan menatap Cakka dengan senyum pahitnya.

“Tuh kan, kamu nangis ya?!” bentak Cakka setelah melihat mata dan hidung Oik memerah.

“Ga kok..” elak Oik, ia segera menutupi mukanya yang benar-benar memerah karena sempat menangis barusan.

“Kenapa nangis?” tanya Cakka langsung.

Ia segera bangkit dari tidurnya dan duduk di ranjangnya. Ia menatap Oik sesaat dan segera menarik gadis manis itu ke dalam pelukannya.

“Aku ga nangis..” elak Oik untuk yang kesekian kalinya.

“Mata kamu merah..” bisik Cakka.

“Ini tadi kelilipan, bukan nangis” kata Oik kembali berbohong.

“Ga usah ngibul..” bisik Cakka lagi.

“Hhh.. Aku emang nangis” aku Oik, ia kembali meneteskan air matanya.

“Why?” tanya Cakka dengan suara pelan.

“Bingung” jawab Oik singkat.

“Rio? Aku?” selidik Cakka.

Oik hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Cakka.

“Kamu sayang Rio?” tanya Cakka.

“Mungkin, aku ga tau” jawab Oik, ia mengencangkan pelukannya dengan Cakka.

“Kamu sayang aku?” tanya Cakka lagi, Cakka kebanyakan nanya nih.

“Iya..” jawab Oik.

Wajahnya memerah, untung Cakka tak melihatnya.

Cakka tersenyum manis, ia mengelus rambut Oik pelan dan segera melepaskan pelukannya.

***

Iyel dan Via selesai menguping pembicaraan Cakka dan Oik seiring dengan Cakka melepas pelukannya pada Oik. Iyel dan Via saling tatap untuk beberapa detik dengan dahi berkerut dan sejuta pertanyaan di pikiran masing-masing.

“Jadi..” gumam Via.

“Semuanya..  lanjut Iyel.

“Cuman gara-gara Rio!” sahut keduanya berbarengan.

“Sumpah demi apa ya, si Rio bener-bener bikin rusuh!” kata Via, ia kembali duduk di kursinya tadi.

Iyel mengikutinya dan duduk di sebelanya, persis seperti tadi, “Cakka sama Oik sebenernya sama-sama sayang. Cuman Oiknya aja yang masih bingung” ujar Iyel.

“Dilema dia..” ucap Via sambil menoleh ke arah Iyel.

“Gue bakal bikin peritungan sama dia kalo sampek dia tetep ga mau ngaku apa alesan dia deketin Oik” tekad Iyel dan sepertinya Via juga mendukung tekadnya tersebut.

***

Nova, Deva, Alvin, dan Obiet segera mengemasi barang masing-masing. Hanya satu yang ada di pikiran mereka, cepet-cepet jenguk Cakka di RS Cempaka Putih!

Mereka selesai mengemasi barang-barang secara bersamaan. Dengan cepat mereka berempat segera menyusuri koridor kelas sembilan dan menuju kelas 9B dan 9A yang memang bersebelahan.

Nova dan Deva memasukki kelas 9B untuk menyusul Angel. Sedangkan Obiet dan Alvin melangkah menuju kelas 9A untuk menyusul Zevana.

Mereka berenam kembali berjalan menuju parkiran sekolah.

“Kita semua naik mobil gue aja ya.. Cukup kok” saran Zevana, ia memang sudah tau perihal dirawatnya Cakka.

Mereka berenam baru saja akan menaiki mobil Zevana ketika sebuah suara memanggil nama mereka satu-persatu.

‘Die nyapa ato mau ngabsen?’ tanya mereka dalam hati.

Mereka berenam mengurungkan niat untuk menaiki mobil Zevana dan membalikkan badan untuk melihat sang ‘pengabsen’ tadi.

“Kalian mau jenguk Cakka kan?” tanya sang ‘pengabsen’ itu.

“Iye. Mau ape lo?” tanya Obiet dingin.

Obiet memang sudah mengetahui semua kecurigaan Via. Tadi malam Via menelponnya untuk memberitahu semuanya. Dari A sampai Z, ga kurang dan ga lebih. Obiet mengangguk mendengar semua penuturan Via malam itu. Dan ia tau, jelas ada yang tidak beres dengan Rio.

“Mau bikin masalah makin runyam?” tantang Angel.

Dari awal kedatangan Rio, ia memang sudah memprediksikan hal semacam ini akan terjadi. Dan ya, untuk yang kesekian kalinya, prediksinya selalu tepat.

“Mau misahin Cakka sama Oik?” timpal Alvin dengan nada yang sangat sangat tidak bersahabat.

“Mau bikin Cakka makin sakit?” tanya Zevana tak kalah sinis dengan lainnya.

“Kita ga butuh orang kayak lo..” ujar Nova dengan tatapan meremehkan.

“Oik ga butuh cowok kayak lo, cuman Cakka yang dia butuh” sahut Obiet dengan senyum sinis dan tatapan tajam matanya pada Rio.

“Gue pengen ikut kalian” kata Rio dengan tajam dan rahang mengeras.

Sedari tadi Rio memang menahan emosinya mendengar seluruh perkataan Obiet, Angel, Alvin, Zevana, Nova, dan Deva. Dan mungkin itu karena ia memang sedang menjalankan misi rahasianya dengan menggunakan Oik sebagai ‘alat’.

“Lo? Mau ikut kita? Ngapain?” tanya Zevana dengan cuek.

“Jemput Oik” jawab Rio tak kalah cuek.

“Sebodo amat deh sama semua misi rahasia lo itu.. Kita ga bakalan musuhin lo kalo lo ga pake Oik sebagai ‘alat’!” kata Obiet. Ia segera menarik tangan Angel memasukki mobil Zevana.

“Kalo emang lo pengen ngikut kita, lo pake mobil lo sendiri aja” timpal Deva, ia segera menyusul Obiet dan Angel ke dalam mobil.

“Kita ogah semobil sama lo!” sahut Nova.

Akhirnya Nova, Alvin, dan Zevana segera menaikki mobil Zevana dan meninggalkan Rio yang masih berdiri di tempat.

Mobil Zevana segera melaju meninggalkan SMPN 484. Rio yang baru sadar akan hal itu langsung menepuk jidatnya dan berlari menuju mobilnya.

“Pak, ikutin mobil tadi!” suruh Rio pada sopirnya.

Mobil Rio segera melaju kencang dan mengikuti mobil Zevana dari belakang.

***

Di Mobil Zevana..

“Si Rio bikin naik darah aje..” kata Zevana sambil mencomot cake yang berada di tangan Alvin.

“Iye.. Maunya apa sih tuh anak?!” timpal Obiet.

“Kita kudu bisa bikin dia ngaku!” sahut Deva.

“Oke!” ujar Alvin, Zevana, Obiet, Angel, dan Nova berbarengan.

Setelah melaju beberapa lama, akhirnya mobil Zevana dan mobil Rio sampai di RS Cempaka Putih, tempat Cakka dirawat mulai semalam.

Mereka segera berlalu menuju ruang rawat Cakka dan mendapati Iyel dan Via sedang berada di luar ruang rawat Cakka.

“Kok di sini?” tanya Nova pada Iyel dan Via.

“Ga enak ganggu orang pacaran” tegas Via dengan penekanan pada akhir kalimatnya.

Rio bereaksi mendengar penuturan Via barusan. Ia segera masuk ruang rawat Cakka dan mendapati Cakka dan Oik sedang mengobrol dengan sangan mesra. Jealous? Maybe.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar