Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 17)

“Hey! Acha? Ngapain di sini?” tanya Cakka, tak kalah riangnya dengan Acha yang tadi menyapanya terlebih dahulu.

Gadis itu, Acha, segera menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya. Acha melihat-lihat sekilas ke rak komik di depannya. Tangannya terulur untuk mengambil salah satu komik keluaran baru, “Nyari ini aja, Cakk. Lo?” tanyanya balik.


Cakka terlihat kaget, “Sama! Gue juga lagi nyari komik itu. Ternyata samaan, ya, kita?” serunya tak percaya. Cakka pun juga mengambil komik yang sama dengan yang Acha ambil barusan.


“Iya, hehe. Lo sendirian aja, Cakk?” tanya Acha lagi. Mereka berdua berjalan beriringan menjauh dari rak komik tersebut dan beralih ke rak komik yang lainnya, “Cakk, ke rak komik sana dulu, yuk? Gue mau nyariin pesenan saudara gue” ajak Acha.


Alasan klise. Tak ada saudaranya yang titip komik padanya. Acha hanya ingin memperpanjang waktu hang out-nya bersama Cakka. Jarang-jarang ia bisa jalan berdua dengan Cakka. Bahkan, ini adalah hang out pertamanya dengan Cakka!


Cakka mengangguk, “Ga, sih, harusnya. Gue janjian sama Ozy. Tapi Ozy-nya, katanya, mau pulang bentaran. Udah gue tunggu dari tadi, eh, ga dateng-dateng” Cakka mengangkat kedua bahunya pasrah.


Acha terlihat tertawa mendengar jawaban Cakka. Sebenarnya ia sudah tahu. Kan, ia yang merencanakannya. Ia menepuk pelan bahu Cakka, “Sabar, Cakk. Besok aje deh tuh si Ozy lo damprat” ujarnya.


^^^


Oik dan Alvin serta Cakka dan gadis yang menyapanya tadi masih ada dalam satu tempat, toko buku di PIM. Oik yang menyadari adanya Cakka dan gadis itu pun hanya diam saja. Tak terlihat sedikitpun bahwa ia akan memberitahu kehadiran Cakka dan gadis itu. Sesekali Oik curi pandang ke keduanya, Cakka dan gadis di sampingnya.


Alvin masih sibuk membuka-buka kumpulan novel di hadapannya, “Ik, mau cari novel apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari novel di tangannya.


Oik mengedik padanya sekilas. Kembali ia curi-curi pandang pada dua makhluk yang berada tak jauh darinya dan juga Alvin. Cakka terlihat sedang mencari-cari sesuatu di rak komik. Gadis itu terus saja mengekornya dan berusaha mengajak Cakka masuk ke dalam pembicaraan mereka. Oik menghela napas berat.


Alvin, yang merasa pertanyaannya tak digubris, segera meletakkan novel yang tadi ia baca summary-nya dan menatap Oik lekat, “Ik, kok pertanyaan aku ga dijawab, sih?” tanyanya bingung. Ia mengikuti arah pandang Oik.


“Eh? Oh, itu.. Lagi mau cari teenlit baru aja kok. Kenapa, Vin?” tanyanya balik.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya. Oik patut menghela napas lega. Pasalnya, ketika Alvin mengikuti arah pandangnya, Cakka dan gadis itu sudah tak ada di sana lagi. Mungkin mereka berdua sedang menuju rak-rak komik lainnya.


“Ya udah, yuk.. Temenin nyari teenlit yang bagus” ajak Oik seraya menarik lengan Alvin dan mengajak pacarnya itu kembali menyusuri setiap rak teenlit di toko buku tersebut.


^^^


Di kamarnya, Ozy terus saja mondar-mandir sambil sesekali melirik jam tangan birunya. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya! Memang, sepulang sekolah tadi ia tak berganti pakaian. Sangking kacaunya pikirannya, ia sampai tak mendengar ponselnya telah berteriak puluhan kali.


Ozy masih memikirkan Cakka dan.. Acha. Gadis imut itu memang yang memintanya untuk membuat janji dengan Cakka dan tak menepatinya agar Acha ada alasan untuk bisa jalan bersama Cakka. Mereka berdua mengaturnya sedemikian rupa agar Cakka tak curiga. Ya walaupun, Ozy melaksanakannya dengan setengah hati.


Untuk yang kesekian kalinya, ponsenya berdering. Kali ini, Ozy coba melihat siapa yang telah menelponnya sedari tadi. Oh, rupanya Cakka. Ozy merasa sangat tak enak dengan sahabatnya sejak kelas satu SMP itu.


“Maaf banget, Cakk. Gue ga mau ganggu lo sama Acha. Kesian Acha, baru kali ini dia bisa jalan berdua doang sama lo” gumamnya.


Ozy segera mereject panggilan Cakka dan mematikan ponselnya. Ia lemparkan ponselnya ke tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi dengan menenteng pakaian gantinya. Terdengar teriakan frustasi Ozy dari luar kamar mandi.


^^^


Acha dan Cakka baru saja keluar dari toko buku tersebut dengan tentengan tas belanjaan masing-masing. Acha berhasil membuat Cakka lupa dengan janjinya bersama Ozy. Cakka sendiri merasa fun jalan dengan Acha. Seperti sedang jalan dengan adiknya sendiri. Yeah, andai saja adiknya masih hidup.


“Cakk, laper gua. Mau temenin gua makan dulu, ga, di resto langganan gua?” ajak Acha. Ia berharap sekali Cakka menerima ajakannya. Hitung-hitung sebagai proses PDKT mereka berdua.


Cakka terlihat berpikir beberapa detik sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Acha segera menariknya menuju resto langganannya dan duduk di meja yang biasa ia tempati jika makan dengan teman-temannya.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka, “Mas, gue kayak biasa aja, satu” pesan Acha. Ia beralih pada Cakka yang masih melihat daftar menu, “Lo pesen apa, Cakk?” tanyanya.


Cakka mengangkat bahunya kembali. Ia mengedik pada pelayan resto tersebut, “Samain sama dia aja deh, mas” pesannya.


Pelayan tersebut mengangguk dan berlalu dari hadapan keduanya. Cakka kembali teringat dengan Ozy. Ia menepuk jidatnya. Acha jadi bingung dengan tingkah laki-laki di sampingnya ini, “Kenape, Cakk? Aneh lu!” katanya.


Cakka segera mengambil ponselnya dan menelpon Ozy kembali, “Shit! Ini si Ozy malah matiin HPnya. Maunya apa, sih?” dumelnya sebal. Acha sempat mendengarnya. Diam-diam ia menghela napas lega. Besok ia memang harus sangat berterima kasih pada Ozy.


“Udahlah, Cakk, mungkin Ozy memang ada acara sama keluarganya. Besok aja lo ajak ngomong” cegahnya. Harap-harap cemas ia menasihati Cakka. Takutnya, jika Cakka terus menelpon Ozy, Ozy akan mengangkatnya. Dan.. gagallah acara hang out-nya dengan Cakka.


^^^


Alvin dan Oik baru saja keluar dan menuju parkiran ketika, tiba-tiba saja, ponsel Oik berbunyi. Mereka berhenti sejenak. Oik segera mengambil ponselnya yang ia letakkan dalam tasnya. Ia melirik sekilas ke layar ponselnya dan mendapati kakaknya-lah yang menelponnya.


“.....Kenapa, kak?.....”


“.....Gue? lagi di PIM ini.....”


“.....Ga usah lo jemput di sini deh, kak. Gue mau ke rumah Alvin dulu.....”


“.....Iya, lo jemput di rumah Alvin aja.....”


“.....Ini udah mau balik kok. Lima belas menit lagi gue sampek di rumah Alvin.....”


Oik kembali meletakkan ponselnya dalam tas. Ia dan Alvin kembali berjalan beriringan menuju tempat di mana Alvin memarkirkan motornya, “Tadi siapa yang nelpon, Ik?” tanya Alvin seraya menyalakan mesin motornya pelan-pelan.


Oik segera naik ke boncengan motor Alvin, “Kak Rio. Ntar dia jemput aku di rumah kamu” jawabnya singkat. Mereka berdua pun melaju meninggalkan PIM, menuju rumah Alvin.


^^^


Cakka dan Acha baru saja selesai menyantap makanan masing-masing. Keduanya sekarang berjalan menuju kasir dan membayar makanannya. Keduanya kembali berjalan dalam diam. Dalam hati, Acha sudah berteriak kegirangan. Berbeda dengan Cakka yang terlihat agak kecewa karena acara hangout bersama Ozy batal.


“Ya udah, ya, Cakk.. Gue duluan” pamit Acha.


Gadis itu segera berlalu dari hadapan Cakka. Sebenarnya, Acha sudah berharap sekali kalau Cakka akan menyusulnya dan mengantarkannya pulang. Acha kembali bersorak ketika Cakka memanggil namanya. Gadis itupun membalikkan badannya..


“Ya? Kenapa, Cakk?” tanya Acha dengan hati berdebar-debar tak karuan.


“Umm.. Lo naik apa tadi ke sini?”


“Naik taxi, Cakk. Mau naik apa lagi emangnya?” Acha tertawa hambar.


Cakka hanya menganggukkan kepalanya, “Oh.. Gue anter, mau?” tawarnya.


Acha mengangguk cepat. ia kesampingkan terlebih dahulu gengsinya ketika Cakka menawarkan pulang bareng. Keduanyapun berjalan menuju tempat Cakka memarkir motornya. Tepat ketika mereka sampai di parkiran, Alvin dan Oik baru saja melaju menuju rumah Alvin.


“Cha.. Gue cuman ada helm satu. Lo ga pake helm ga pa-pa, ya?” tanya Cakka dengan santainya.


Acha menganggukkan kepalanya pasrah. Kenapa g ague aja, sih, yang make tuh helm? Cakka ga gentle banget! Kayak di film-film kek! Cowok, gitu, yang ngalah sama cewek! Cakka ga romantis! Acha ngedumel dalam hati.


Cakka menstarter motornya dan, dengan cepat, Acha melompat ke boncengan motor Cakka. Keduanya berlalu menuju rumah Acha yang notabenenya, berhadapan dengan rumah Alvin. Wow!


Tak sampai lima belas menit, keduanya telah sampai di depan rumah Acha. Dengan ogah-ogahan, Acha turun dari motor Cakka dan memberikan senyuman termanisnya. Sebenarnya gadis imut itu masih ingin bersama Cakka. Tapi, mau bagaimana lagi?


Mereka berdua tak menyadari ada dua pasang bola mata berwarna hitam legam telah memperhatikan mereka dari seberang rumah Acha. Ya, keduanya adalah Alvin dan Oik. Alvin Nampak santai sambil duduk di kursi terasnya. Sedangkan Oik, ia berusaha sekali mengalihkan pandangannya menuju hal lain.


“Cakk, gue sayang sama lo. Lo mau jadi cowok gue?” kalimat tersebut meluncur begitu saja dari mulut Acha.


^^^


“Wah, Ik, Cakka sama Acha makin lengket aja, ya?” gurau Alvin, yang memang tak mengerti bagaimana suasana hati Oik sekarang ini.


Oik mengedik pada ‘pacarnya’ itu untuk beberapa detik. Ia kembali menatap ‘pemandangan indah’ yang terhampar di hadapannya dengan sendu, “Mana aku tau, Vin.. Lagipula aku udah ga ada apa-apa sama Cakka. Bukan urusan aku!” sahut Oik dengan ketusnya.


Alvin jadi heran sendiri mengapa gadisnya itu berkata dengan ketus, “Kamu kenapa, Ik? Tumben-tumbenan ketus gitu?” tanya Alvin dengan menatap Oik lembut.


Oik hanya mengangkat bahunya, “Mood aku kacau, Vin, akhir-akhir ini” Oik menghela napas sejenak, “Ngomong-ngomong, itu Cakka sama Acha ngomongin apa, ya? Kok kayaknya serius banget? Lama, pula!” kata Oik, mengalihkan pembicaraan.


“Ga tau, Ik. Si Acha nembak Cakka, kali! Kamu tau, kan, kalau Acha emang suka sama Cakka” rupanya usaha Oik untuk mengalihkan pembicaraan semula lumayan berhasil. Namun saja, hatinya kembali sakit ketika mendengar kata-kata Alvin.


Oik mencoba untuk tersenyum, “Oh.. Ya kita tinggal nunggu PJ aja dari mereka” balas Oik dengan sumbang.


Keduanya kembali menatap Acha dan Cakka. Tak lama kemudian, Cakka terlihat tersenyum pada Acha dan mengusap sejenak puncak kepala gadis itu. Setelahnya, Cakka berlalu dengan motornya. Tanpa sadar, raut wajah Oik berubah sedih. Bukan tak menyadarinya, Alvin hanya ingin memberi waktu untuk Oik agar dapat menerima jika Cakka dan Acha memang sudah jadian.


^^^


Acha tetap tak bergeming ketika punggung Cakka sudah tak terlihat lagi olehnya. Ia diam terpatung selama beberapa detik. Kemudian, ia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya dengan mimic wajah yang sulit ditebak.


Ia tak menyangka bahwa ia dapat dengan lancarnya mengucapkan ‘kata keramat’ tadi pada Cakka dan mendapatkan jawaban Cakka yang sebegitu mengejutkannya. Gadis itu pun masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya pelan-pelan. Ia terduduk dan bersandar pada daun pintu tersebut.


^^^


Terdengar deru motor dari depan rumah Alvin. Mereka berdua pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan menghampiri sang pengemudi motor yang berhenti di depan rumah Alvin. Alvin terlihat ber-highfive dengannya.


“Hay, kak!” sapa Alvin dengan ramah.


“Hey!” pengemudi motor tersebut pun melepas helmnya dan bersandar pada motornya. Ia memandangi Cakka dan Oik di hadapannya. Oh, rupanya ia menyadari bahwa Oik memang benar-benar tidak dalam mood yang baik.


“Kak, langsung pulang aja deh” ajak Oik dengan ekspresi datar.


Pengemudi motor tadi, Rio, segera menganggukkan kepalanya. ia pun kembali menaiki motornya dan memakai helm. Tak lupa, Rio juga mengangsurkan sebuah helm pada Oik. Keduanya segera melesat ke kediaman mereka setelah sebelumnya, Alvin memberikan senyuman termanisnya pada Oik.


“Dek, gue rasa, kita perlu ngomong soal ini” ucap Rio di tengah perjalanan mereka, Oik hanya menganggukkan kepalanya saja.


Tepat ketika keduanya melewati taman kota, pandangan Oik tak sengaja terantuk pada tiga orang laki-laki yang sebaya dengannya sedang duduk-duduk di bangku taman. Ozy, Deva, Ray. Dan Oik sadar betul bahwa Ozy sangat kacau keadaannya.


Ya, sekarang Oik tau betul bagaimana keadaannya. Salah! Keadaan antara Alvin, dirinya, Cakka, Acha, dan Ozy, tentu saja. Ia menghela napas berat-berat. Ia pun memejamkan matanya dan, pelan-pelan, tertidur dengan posisi ia memeluk kakaknya dari belakang, masih dari atas motor yang melaju membelah jalanan Jakarta.


^^^


“Zy, lo ngapain ngajak kita ketemuan di sini?” tanya Ray dari sebelah kanan Ozy.


Ozy tak bergeming. Ia tetep memandang kosong ke jalanan di depannya. Ray dan Deva saling berhadapan dengan wajah frustasi. Beberapa detik kemudian, keduanya dibuat kaget oleh teriakan Ozy. Akhirnya keduanya sadar betul betapa kacaunya sahabatnya itu.


“Zy, lo kenapa? Cerita, deh, sama kita.. Kali aja kita bisa bantu, gitu” saran Deva dengan takut-takut.


“Menurut lo berdua.. Kenapa gue bisa jadi kayak gini?” tanya Ozy dengan suara agak parau.


Ray dan Deva kembali berpandangan sesaat. Akhirnya, Ray-lah yang menjawab pertanyaan Ozy tadi, “Kita ga tau.. Mungkin lo bisa sharing sama kita soal itu” Ray menepuk bahu Ozy pelan. Mengisyaratkan bahwa ia dan Deva selalu ada untuk Ozy.


“Kalian aja, yang emang sobat gue, ga tau gue kenapa. Apalagi gue! Gue juga bingung gue kenapa!” Ozy kembali berteriak sambil mengacak-acak tatanan rambutnya. Untung saja taman kota sedang sepi-sepinya sore itu.


“Zy, lo bisa cerita sama kita. Kita berdua bisa jaga rahasia, kok” bujuk Deva untuk yang kesekian kalinya.


“Yang gue tau, gue jadi kacau kayak gini cuman gara-gara satu cewek. Sebelumnya, gue emang fine-fine aja lihat dia seneng sama sobat gue. Tapi ternyata, makin ke sini, gue makin ga bisa lihat mereka barengan. Di sisi lain, gue ga tega sama cewek itu. Gue tau banget kalau cewek itu udah suka sama sobat gue sejak dulu. Ga enak banget, kan, jadi gue?”


Ray dan Deva mengusap bahu Ozy pelan. Kini, keduanya tau seberapa kacau dan ribetnya hidup anak SMP seperti mereka, “Udah, Zy.. Masa cuman gara-gara satu cewek lo jadi gini? Mana Ozy yang dulu? Mana Ozy yang ceria? Ah, cemen lo!”


Mau tak mau, Ozy tersenyum mendengar celotehan kedua sobatnya tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar