Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 9)

Dalam perjalanan ke PIM pun Cakka dan Oik masih saling diam. Oik msih saja menutup matanya sambil memeluk pinggang Cakka. Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di PIM. Cakka segera memarkirkan motornya. Oik turun dari boncengan motor Cakka dan berkacak pinggang di belakang Cakka. Cakka sendiri, masih ribet dengan motor dan helmnya. Setelah itu, Cakka membalikkan badannya. Oik sudah standby dengan kedua tangan di pinggang dan melotot ke arah Cakka.

“Resek ya lo, Cakk! Sarap lo! Lo gila ya? Lo ga nyadar apa kalo gue takut sama yang namanya kebut-kebutan, hah? Tau ah, ngeselin lo!” sembur Oik.

Oik pun berjalan meninggalkan Cakka. Ia berjalan cepat memasukki PIM. Cakka masih diam di tempat. Pluk! Sebuah bongkahan kertas mengarah ke Cakka. Cakka celingukan. Didapatinya seorang satpam sedang duduk santai di kursi kayu tak jauh dari tempatnya berdiri. Cakka masih diam melongo menatap satpam tersebut.

“Kamu itu ya! Itu, cewek kamu sudah pergi! Ayo kejar! Jangan sampai nyesel!” ujarnya dengan gemas.

Cakka pun tersadar. Ia menepuk jidatnya dan segera memasukki PIM, mencari Oik. Tak jauh dari parkiran, ia melihat seorang gadis mungil dengan seragam SMP dan tas punggung berwarna pink sedang berjalan gontai. Cakka segera menghampirinya dan menepuk pundaknya dari belakang. Gadis mungil tersebut menoleh malas ke arah Cakka. Begitu ia melihat seseorang yang telah menepuk pundaknya, gadis mungil itu kembali memasang wajah jutek dan berjalan cepat meninggalkan Cakka.

“Yah.. Eh, Oik! Tungguin kek! Woy, tunggu dong!” teriak Cakka.

Ups! Beberapa pengunjung PIM mengedik ke arah Cakka. Cakka cengengesan ga jelas dan segera kembali mengejar Oik. Oik sudah berjalan cepat sekali di depannya. Ia biarkan gadis mungil itu ke mana saja ia mau. Akhirnya, gadis mungil itu berjalan ke arah stan ice cream. Cakka berusaha mensejajarkan langkahnya dengan gadis mungil itu. Oik, gadis mungil tersebut, kembali menoleh malas ke arah Cakka.

“Ngapain sih lo ngikutin gue mulu?” bentaknya. Kemudian Oik beralih kepada sang pramusaji dan memilih sebuah ice cream vanilla dengan topping cokelat dan blueberry.

“Udah, mbak, biar saya saja yang membayar. Ini.. ” Cakka mengangsurkan selembar uang lima puluh ribu yang baru dikeluarkan dari dompet. Menunggu sang pramusaji mengambilkan kembalian dan kemudian, menarik Oik pergi dari stan tersebut. Oik makin jengkel saja.


Cakka menarik Oik ke arah sebuah kursi di depan sebuah stan musik. Cakka menyuruh Oik untuk duduk di situ. Sebenarnya Oik menolak. Oik lebih memilih untuk mengitari PIM dan mencari kakak laki-laki serta para sahabatnya. Cakka kemudian memaksa Oik. Oik pun menurut dan duduk di kursi tersebut. Cakka kemudian duduk di sebelahnya. Terlihat sekali kalau Oik sangat menjaga jarak dengan Cakka. Buktinya, Oik menggeser duduknya lebih jauh dari Cakka. Dan ketika Cakka berusaha kembali mendekat ke Oik, Oik kembali bergeser.

Cakka jadi gondok sendiri, “Lo kenapa sih jaga jarak gitu sama gue?” Cakka mencak-mencak sendiri.

Oik masih asyik dengan ice cream miliknya. Ia melirik sekilas ke arah Cakka yang sedang mencak-mencak dan menyunggingkan senyum sinis, “Hah? Kenapa? Ga boleh? Ntar Agni marah, lagi, kalau tahu gue deket-deket sama cowok kesayangannya” sindir Oik. Oik kembali sibuk dengan ice cream-nya.

“Tapi, Ik, lo tau kan kalau gue---” belum sempat Cakka menyelesaikan kalimatnya, ponsel Oik sudah berdering.

Oik memberi isyarat kepada Cakka agar diam sebentar, menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Cakka. Oik segera beralih pada ponselnya. Rupanya sebuah panggilan dari Alvin. Oik menghela napas sebentar dan kemudian, mengangkat panggilan dari Alvin tersebut.

“..... Iya, kenapa kamu nelpon aku? .....”

“..... Yah, emangnya kenapa? .....”

“..... Oh, jenguk saudara, ya? Iya deh .....”

“..... Bye .....”

Oik pun kembali meletakkan ponselnya kembali dan mengedik ke arah Cakka. Cakka masih memandang sendu ke arahnya. Oik kembali menyunggingkan senyum sinisnya. Sebenarnya ia sudah malas sekali dengan Cakka. Bagaimana tidak? Dulu Cakka sendiri yang berkata padanya bahwa ia sayang padanya. Tapi nyatanya, ia sekarang berpacaran dengan Agni! Wow! Cakka, don’t you know how much you hurt me, huh?

“Mau ngomong apa tadi?” tanya Oik dingin.

“Ik, kan lo tahu sendiri kalau gue itu---” omongan Cakka kembali terhenti. Ponselnya berdering. Cakka mengumpat kesal. Ia segera angkat panggilan tersebut tanpa melihat dari siapakah panggilan itu. Cakka melengos malas. Ia tahu pasti siapa yang menelpon Cakka sekarang.


“..... Hm, ngapain nelpon gue? .....”

“..... Iya iya, ngapain kamu nelpon aku? .....”

“..... Hm, suka-suka deh .....”

“..... Iye iye! Udah ah! Males ngomong sama lo! .....”

Cakka menutup panggilan sepihak. Ia kesal dengan orang tersebut. Ia pun kembali kepada Oik. Oik masih menatap sekeliling. Seolah tak memperdulikan ada ia di sampingnya. Cakka segera memalingkan wajah Oik kepadanya dengan tangan kanannya. Oik menatapnya tanpa ekspresi dan melepaskan tangan Cakka dari pipinya.

“Ga usah megang-megang gue deh!” ujarnya tajam, masih memandang Cakka tanpa ekspresi.

Cakka gelagapan sendiri. Seolah ada sebuah lampu menyala dari atas kepalanya, ia pun meninggalkan Oik sebentar. Tanpa pamit kepada Oik! Oik kembali berdecak kesal. Cakka berjalan mengitari PIM. Mencari sebuah stan barang yang ia perlukan. Senyum Cakka mengembang. Ia masuk ke sebuah minimarket. Cakka berjalan ke rak makanan. Dan kemudian, mengambil satu bar cokelat kesukaan Oik. Cakka pun berjalan ke kasir dan membayarkannya.

Cakka kembali berjalan menghampiri Oik. Oik masih menunduk menatap layar ponselnya. Cakka mengacungkan cokelat tersebut ke arah Oik. Terlihat senyum mengambang di wajah Oik. Oik segera mendongakkan kepalanya dan mendapati Cakka-lah yang mengacungkan cokelat kepadanya. Segera saja Oik menarik agar Cakka duduk di sampingnya. Setelah itu, Oik mengambil cokelat tersebut dari tangan Cakka. Oik melahapnya dengan cepat.

“Oh iya, ngomong-ngomong, siapa tadi yang nelpon?” tanya Oik, masih dengan mengunyah cokelat pemberian dari Cakka.

“Oh, itu, Agni”

“Hmm.. Kenapa nelpon?”

“Cuman bilang kalau dia ga bisa nyusul kita ke sini. Ga dibolehin sama nyokapnya”

“Oh, gitu.. ”



“Iya.. Terus, yang tadi nelpon lo, siapa tuh?”

“Itu Alvin. Dia bilang kalau dia juga ga bisa nyusul ke sini. Lagi jenguk saudaranya yang sakit soalnya”

“Oh.. Lo ga curiga gitu?”

Oik menoleh penasaran ke Cakka. Dahinya berkerut, “Hah? Gue? Curiga ngapain?” tanya Oik seraya menunjuk dirinya sendiri. Cakka menahan tawanya.

“Ya ga gitu sih.. Kan, kali aja kalau si Alvin itu bukannya ngejenguk saudaranya yang sakit. Kan, bisa aja gitu kalau dia lagi berduaan ama cewek lain” ujar Cakka, mengompor-ngompori.

Oik tersenyum dan menyenggol lengan Cakka pelan, “Ngaco lo, ah! Ga mungkin Alvin kayak gitu!”

Cakka tersenyum kecut.

“Oh iya, mau ngomong apa lo tadi?” tanya Oik kembali.

“Itu.. Lo tau sendiri kan, Ik, kalau gue ga sayang sama Agni” ujar Cakka dengan menatap Oik sayu.

Oik segera mengalihkan pandangannya, “Ngarang lo! Kalau lo ga sayang sama Agni, kok kalian bisa jadian sih?” Oik mendorong bahu Cakka.

“Ya, kan, waktu itu gue ngiranya lo beneran jadian sama si Gabriel itu”

Oik kembali menoleh ke arah Cakka, “Lah? Kok nyambungnya ke gue sih? Ga ada sangkut-pautnya kali!” seru Oik.

“Ya ada dong!” Cakka pun meraih kedua tangan Oik, “Kan gue sayangnya sama lo! Gimana sih?!” ujar Cakka.

“Ehemm ehemm.. ” beberapa orang berdehem di dekat Cakka dan Oik.

Oik segera melepaskan tangan Cakka dari tangannya. Begitu pula sebaliknya. Cakka dan Oik segera mendongak ke sekitarnya. Ada Rio, Ray, Ozy, Deva, dan Sivia di sana. Mereka berlima sedang berdiri di depan Cakka dan Oik seraya melipat tangan di depan dada. Cakka dan Oik pun berdiri. Rio, Ray, Ozy, Deva, dan Sivia melengos. Cakka dan Oik keki.


“Eh, kalian udah lama di sini?” tanya Oik, basa-basi.

“Ga usah basa-basi deh!” seru Rio, Ray, Deva, Ozy, dan Sivia.

“Alvin sama Agni mana?” tanya Ray setelah menyadari tak ada dua orang tersebut di sekitarnya.

“Tada Alvin nelpon gue. Katanya, dia ga bisa nyusulin kita. Dia mau ngejenguk saudaranya gitu. Terus, kalau Agni, tadi dia nelpon Cakka. Katanya, dia juga ga bisa nyusulin. Ga dibolehin sama nyokapnya” jelas Oik panjang lebar. Rio, Ray, Ozy, Deva dan Sivia hanya mengangguk menanggapinya.

“Meskipun ga ada Alvin, lo tetep kudu nraktir kita!” paksa Deva.

Oik mengangguk pasrah. Mereka bertujuh pun berjalan menuju sebuah stan makanan favorit mereka. Rio, Ray, Ozy, Deva, dan Sivia berjalan mendahului Cakka dan Oik. Jadilah Cakka dan Oik berjalan beriringan. Beberapa orang bahkan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Cakka dan Oik pun segera berjalan cepat, menyusul kelima orang di depannya. Mereka bertujuh masuk ke sebuah stan makanan fastfood. Ray dan Deva merengek pada Oik agar mereka makan di sana saja. Alasannya? Mereka berdua sudah lapar tingkat dewa! Padahal, Oik berencana menraktir mereka di stan makanan biasa yang harganya lebih mahal daripada stan fastfood ini.

Mereka bertujuh duduk di sebuah sudut stan. Sivia duduk di sebelah Oik, Oik di sebelah Cakka, dan Cakka di sebelah Deva. Sedangkan Rio, Ray, dan Ozy, mereka bertiga duduk di hadapan Sivia, Oik, Cakka, dan Deva.

Oik segera memanggil pelayan. Tak lama kemudian, pelayan tersebut datang menghampiri mereka bertujuh. Mata Deva dan Ray mendadak berbinar. Cakka menempeleng keduanya dengan tanpa ekspresi. Deva dan Ray mengaduh kesakitan. Pelayannya pun ikut tertawa melihatnya.

“Wah, anak muda. Pasti ada yang baru jadian ya? Biar saya tebak, pasti kalian, kan?” celoteh pelayan tersebut. Jari telunjuknya mengarah bergantian kepada Cakka dan Oik.

Wajah keduanya mendadak semerah tomat. Sivia, Ray, Rio, Deva, dan Ozy yang mengetahui hal sebenarnya hanya menahan tawa melihat Cakka dan Oik yang masih salah tingkah itu.

“Udah, udah! Ga usah ngeledekin gue! Kalian mau pesen apa?” seru Oik kesal. Wajahnya serta wajah Cakka masih merona merah.



“Terserah deh! Pokoknya cepet! GPL ya, mbak!” celoteh Deva dan Ray.

Pelayan tersebut kembali menahan tawa. Akhirnya Oik mengangguk. Menandakan bahwa pesanan mereka bertujuh disamakan saja. Oik sedang malas melihat-lihat daftar menu. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kembali memakan cokelat-nya tadi. Cakka meliriknya sekilas dan kemudian, ia tersenyum kecil. Sivia tak sengaja menoleh kepada Oik. Ia mendapati teman sebangkunya tersebut sedang memakan cokelat. Padahal, seingatnya, cokelat pemberian dari Alvin sudah habis dimakan oleh Oik sendiri.

“Ik, cokelat dari siapa?” tanya Sivia seraya menunjuk cokelat Oik, “Bukannya cokelat dari Alvin udah ludes waktu di kantin tadi?” tanyanya lagi.

Mendengar nama Alvin yang Sivia sebut, Cakka kembali memasang wajah muram. Oik melirik ke arah Cakka dan tersenyum minta maaf. Oik kembali beralih pada Sivia dan menggelengkan kepalanya pasti.

“Bukan dari Alvin kok. Ini tadi dibeliin Cakka” katanya.

Sivia, Ray, Rio, Deva, dan Ozy terperanjat kaget. Sebisa mungkin mereka menutupi kekagetannya dari Cakka dan Oik. Tak lama kemudian, pelayan datang dengan nasi goreng dan lemon tea yang masing-masing berjumlah tujuh. Pelayan tersebut segera meletakkan pesanan itu di meja dan kembali ke dapur.

“Udah, makan dulu, yuk” ajak Oik.

Mereka bertujuh pun segera melahap makannya dengan diselingi tawa riuh. Deva dan Ray memang bisa sekali menghidupkan suasana. Setelah Oik membayar semuanya, mereka kembali berjalan-jalan mengitari PIM. Formasinya tetap saja sama. Sivia, Rio, Ray, Deva, dan Ozy berjalan di depan. Cakka dan Oik mengekor kelimanya dari belakang. Lagi-lagi, Cakka dan Oik berjalan beriringan. Tiba-tiba saja, Rio, Ray, Deva, Ozy, dan Sivia menghentikan laju jalannya. Mereka semua berbalik kepada Cakka dan Oik seraya tersenyum misterius.

“Foto box, yuk!” teriak kelimanya bersamaan.

Cakka dan Oik mengangguk malas. Pertama-tama, Deva dan Ray yang berfoto. Kemudian dilanjutkan oleh Rio dan Ozy dengan pose sok keren. Sivia dan Oik diurutan berikutnya. Sivia terlihat cantik dan Oik terlihat manis. Sivia dan Oik keluar dari dalam bilik dengan tertawa riang. Ozy kemudian melirik jahil ke arah Cakka. Deva dan Ray mengikuti arah pandang Ozy. Ketiganya tersenyum penuh arti.

“Eh, Cakka, lo belom foto, ya?” tanya Ozy dengan mimik yang dibuat-buat.


Cakka menganggukkan kepalanya. Ia sudah merasakan aura-aura kejahilan ketiga sahabatnya tersebut. Ray dan Deva tersenyum senang, “Wah, Cakk, lo foto ama Oik aje sono! Dari pada kagak foto sama siape-siape tuh” saran Deva. Rio dan Sivia mengangguk bersamaan.

Rio segera mendorong Cakka masuk ke dalam bilik. Sivia pun mendorong Oik masuk ke dalam. Sebelumnya, Ray sudah membisikkan kepada petugasnya agar Cakka dan Oik difoto sebanyak-banyaknya. Ray, Ozy, dan Deva tertawa jahil dari luar bilik. Rio dan Sivia pun ikut tertawa.

Cakka dan Oik keluar dari dalam bersamaan. Mereka bertujuh pun segera melihat hasil-hasilnya. Setelah membayar, Cakka, Oik, Sivia, Rio, Deva, dan Ray berjalan kembali. Mereka menuju parkiran. Ozy, yang ide jahilnya kembali muncul, berbisik kepada petugas foto box. Jadilah foto-foto Cakka dan Oik berpindah ke ponselnya. Ozy kembali tertawa jahil. Setelah itu, ia menyusul keenamnya di parkiran. Rupanya Cakka dan Oik sudah pulang lebih dulu. Ozy segera masuk ke dalam mobil Rio.

^^^

Setibanya di rumah, Ozy segera mengambil laptop-nya dan mengunggah foto-foto Cakka dan Oik tadi ke salah satu situs jejaring sosial.

“Selesai!” pekik Ozy girang setelah ia selesai mengunggah seluruh foto Cakka dan Oik.

^^^

“Najis! Cakka kenapa bisa foto ama si Oik sih?! Awas aje tuh si Oik!” geram seorang gadis tomboy. Kebetulan ia sedang membuka situs jejaring sosialnya.

^^^

“Oik? Sama Cakka? Kok bisa?” pekik seorang laki-laki oriental. Terlihat sekali kalau ia berusaha menahan laju amarahnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar