Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

MY NEW 'FRIEND' (Part 10)

“Eh iye, gua baru inget!” teriak Oik sambil menepok jidatnya.

“Apaan?” tanya Cakka, Iyel, dan Via bersamaan.

“Biasanya bokap nyokap gue kalo ke PIM pasti mampir ke Starbucks-nya dulu” jawab Oik dengan cengiran khasnya.

“Kenapa ga bilang dari tadi sih Ik?” sentak Iyel.

“Oik mah, capek tau!” keluh Via.

“Kalian ngapain ngebentak cewek gua?!” tanya Cakka.

Oik memandangnya dengan datar, “Emang gue cewek lo? Pura-pura doang kan..”

Iyel dan Via menahan tawa mendengar ucapan Oik barusan.

“Ngarep banget lo jadi cowoknya Oik?!” ejek Via dengan tetap menahan ledakan tawanya.

Cakka garuk-garuk kepala, malu mungkin.

“Pacar bo’ongan ya bo’ongan aja kali Cak!” kata Iyel.

“Ga usa pake ngaku-ngaku pacar beneran deh..” timpal Via.

“Udah deh yuk langsung ke Starbucks aja” ajak Oik sambil menyeret lengan Via.

Eh , wait! Bukan lengan Via yang Oik tarik! Terus? Iyel? Bukan juga! Cakka? Ya ini anak yang tangannya digeret Oik, Via dalam bentuk cowok.

Via dan Iyel berjalan di samping Oik sambil bergandengan tangan dan tersenyum penuh arti.

“Via! Iyel! Rada cepet ya jalannya. Takutnya bokap nyokap gue keburu nyampek sana” kata Oik sambil tetap melihat ke depan.

“Sip Ik!” jawab Via sambil menunjukkan jempol tangan kirinya yang harusnya masih digeret Oik.

Oik tersenyum dan mengalihkan pandangannya menuju Via.

Awalnya Oik emang biasa aja. Tapi akhirnya..

“Wait! Vi, kalo tangan kiri lo ada di situ, terus tangan siapa dong yang gua geret dari tadi?” tanya Oik sambil menatap Via tajam.

Via tersenyum geli melihat sahabatnya yang satu itu, “Siapa lagi sih? Yang ga ada di sini kan cuman satu orang aja”

“Siapa lagi, Ik, kalo bukan Cakka?!” sahut Iyel, wajahnya sudah merah padam karena dari tadi ia terus menahan ledakan tawanya.

Oik berhenti menatap Via tajam, ia membalikkan badannya dan melihat tangan siapa yang sedari tadi ia gandeng. Ia melihat sesosok laki-laki yang sangat ia kenali sedang tersenyum jail ke arahnya.

“Ah, elu lagi..” gumam Oik sambil mengibaskan tangannya yang menggandeng Cakka.

“Ik, kalo emang lo pengen gua gandeng ya ga usah pake pura-pura salah gandeng segala dong” tutur Cakka sambil tetap memasang senyum jahilnya.

“Pura-pura? Lo ga liat wajah gua udah ga enak gini?” tanya Oik dengan menunjuk wajahnya yang memang sudah sangat bete to the max.

Mereka kembali berjalan menuju Starbucks.

***

Di Starbucks..

Mereka berempat segera menghempaskan badan masing-masing pada kursi yang letaknya paling dekat dengan mereka.

“Cepetan pesen apa kek gitu biar ga dipelototin ama pelayannya, dikiranya kita numpang duduk doang lagi di sini” saran Iyel.

“Iya deh.. Gue aja yang mesenin” Via lalu beranjak berdiri dan meninggalkan mereka bertiga yang masih terduduk.

Selang beberapa menit Via kembali dengan membawa nampan beserta empat gelas minuman yang sepertinya isinya sama.

“Nih..” kata Via, ia langsung kembali ke tempat duduknya setelah meletakkan minuman tadi di meja mereka.

“Ini apaan?” tanya Oik.

“Tau deh, gua mesennya ngasal tadi. Kayaknya sih sama semua.. ” jawab Via.

“Ga papa kok Vi. Apa aja yang penting halal” sahut Iyel.

“Sok alim banget lu! Biasanya juga makan babi” ucap Cakka, ia menoyor kepala Iyel.

“Lo tuh yang sok alim! Orang gua ga doyan babi juga! Meskipun gua Kristen, tapi gua ga doyan babi” gumam Iyel.

“Ik, kok nyokap sama bokap lo lama sih?” tanya Via.

“Ga tau gue. Gue telpon mereka dulu ya” Oik langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon mamanya.

***ONTHEPHONE:OIK-MAMANYA***

M         : “Halo?”

O         : “Mama kan?”

M         : “Iya. Kenapa Ik?”

O         : “Mama di mana sih? Kok di rumah ga ada?”

M         : “Mama lagi mau ke PIM sama papa. Ini tadi abis ke rumah Iyel dulu”

O         : “Oh, pantesan ga ada. Eh..”

M         : “Apa Ik?”

O         : “Mama mau ke PIM?”

M         : “Iya, kenapa?”

O         : “Oik lagi di PIM ini”

M         : “Sama siapa?”

O         : “Sama temen. Palingan abis ini udah pulang kok”

M         : “Oh, take care baby!”

O         : “Okay mom..”

***ONTHEPHONE:END***

Oik kembali meletakkan ponselnya dan menyeruput minumannya sedikit.

“Nyokap bokap lo lama banget?” tanya Cakka.

“Masih di jalan katanya. Abis dari rumah Iyel..” jawab Oik.

“Oh..” gumam Iyel dan Via.

Oik mengedarkan pandangannya dan melihat keluar. Kedua matanya tertuju pada seorang perempuan dan laki-laki seumuran dengannya yang sedang tertawa dan berjalan sambil bergandengan tangan.

“Liat apa sih lo? Sampek segitunya banget deh..” tanya Via, ia lalu mengekor ke arah pandangan Oik.

“Ik, itu? Bukannya..” ujar Via dengan terbata.

“Mereka berdua kenapa sih?” Iyel bertanya pada Cakka.

“Mana gue tau..” jawab Cakka dengan mengangkat kedua bahunya.

“Obiet! Angel!” panggil Oik pada kedua sosok yang dari tadi ia perhatikan.

Kedua sosok itu langsung menoleh ke sumber suara. Keduanya terlihat kaget melihat Oik, Cakka, Via, dan Iyel ada di sana.

“Woy! Sini!” panggil Via pada mereka berdua.

Mereka berdua langsung melepas gandengan tangannya dan berjalan menuju Oik, Cakka, Via, dan Iyel dengan sebiasa mungkin.

“Obiet my bro!” kata Cakka dan Iyel berbarengan. Mereka bertos ria.

“Angel, ngapain lo sama Obiet?” selidik Via.

“Umm.. Anu.. Tadi.. Gue sama Obiet baru aja pulang les!” jawab Angel dengan terbata.

“Serius lo?” tanya Oik.

“Dua rius Ik!” kata Angel sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Eh, duduk lo berdua” suruh Cakka.

Obiet dan Angel akhirnya duduk. Mereka duduk bersebelahan dengan canggung.

“Kalian pada ngapain di sini?” tanya Obiet, bermaksud mengalihkan pembicaraan.

“Ga ada yang bisa ngalihin pembicaraan” sahut Iyel.

“Oke, kalian ngapain berduaan doang ke sini?” tanya Cakka, memulai interogasi.

“Kita ga ngapa-ngapain kok” jawab Obiet dengan putus-putus.

“Oh, kok tadi pake gandengan tangan?” ganti Oik yang bertanya.

“Itu..” jawab Angel menggantung.

“KALIAN JADIAN YA?!” tanya Oik, Cakka, Via, dan Iyel bersamaan.

Sesaat Obiet dan Angel saling berpandangan dan akhirnya mengangguk kecil.

“ECIEEEEEEEE..” sorak mereka berempat.

“Sssssstttt!!” Obiet dan Angel meletakkan jarinya di bibir masing-masing.

Keempatnya nyengir ga jelas dan menggaruk-garuk kepala.

“Kalian kapan jadiannya sih? Kok ga pernah ngasih tau?” todong Oik.

“Baru seminggu ini..” jawab Angel.

“Kita malu.. Ga mau disorakin kayak Cakka sama Oik” lanjut Obiet.

Cakka dan Oik melotot, menjitak jidat Obiet bersamaan.

Oik teringat akan mama papanya yang akan ke sini. Ia kembali mengedarkan pandangannya keluar dan melihat mama dan papanya sedang berjalan ke arah Starbucks.

“Oy! Nyokap bokap gue tuh!” kata Oik sambil menunjuk papa dan mamanya yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Mampus! Ayo ayo..” suruh Iyel.

Mereka mengatur tempat duduk. Cakka di sebelah Oik, Iyel di sebelah Via, dan Obiet di sebelah Angel.

“Pura-pura ga tau ya kalo ada nyokap bokap gue!” suruh Oik.

Kelima temannya langsung mengangguk dan bertingkah seolah tak ada apa-apa ketika mama dan papa Oik menghampiri mereka semua.

“Eh, halo om! halo tante!” sapa mereka kepada mama dan papa Oik.

“Papa? Mama? Kok ke sini?” tanya Oik  pura-pura ga tau.

“Kan tadi mama udah bilang kalo mama mau ke sini..” jawab mama Oik.

“Oh..” respon Oik.

“Ya udah ya.. Om sama tante duluan” mama dan papa Oik kembali meninggalkan mereka yang sedang ‘berpacaran’.

“Fiuhh..” mereka semua menghela nafas lega.

“Eh iya.. Gue mau ngerjain si Shilla nih” kata Iyel dengan senyum jahilnya.

“Ngejailin gimana?” tanya Angel.

“Tapi lo mau bantu gue ga?” tanya Iyel.

“Boleh boleh..” jawab semuanya.

“Alvin, Zevana, sama Acha diajak juga kan?” tanya Oik.

“Acha udah berangkat ke Jepang..” jawab angel.

“Hah? Kapan?” kaget Oik.

“Tadi malem.. Dia ngikuti bokapnya ke sana” ujar Angel.

“Terus? Dia kapan balik ke sin ?”

“Kata dia sih bokapnya bakalan di sana tiga bulan doang”

“Kita bakalan ga ketemu Acha tiga bulan dong?”

Angel menganggukkan kepalanya dengan lesu.

Obiet menghibur Angel dan Cakka menghibur Oik.

“Kan masih ada gue Ik..” kata Cakka dengan narsisnya.

Oik mendorong pelan bahu Cakka, “Lo kan bukan sobat gue!”

“Iya sih, tapi cowok lo” jawab Cakka dengan santai.

“Gue timpuk juga lu Cak” sahut Oik.

“Lo ga mungkin tega kok mau nimpuk pacar lo ini” ujar Cakka.

“Lo kan cuman pacar bo’ongan gue..” ledek Oik.

“Ah, tapi gue yakin lama-kelamaan lo bakalan suka sama gue” jawab Cakka dengan mengangkat kerah bajunya.

“Cuih! Mimpi banget lo?!” Oik berpura-pura muntah, mengejek Cakka.

“Woya dong, siapa sih yang ga terpesona sama gue?”

“GUE!” jawab Angel, Oik, dan Via berbarengan.

“Hahahaha..” Obiet tertawa terpingkal-pingkal.

“Kalo Oik mah gue yakin dia bo’ong.. Dia kan terpesona sama gue” Cakka tetep narsis.

“Lo kali yang terpesona sama gue!” kata Oik.

“Udah deh! Iyel ga jadi kan tuh ngomongnya” sela Via.

“Lo belain pacar lo mulu sih!” ucap Cakka dan Oik.

“Udah udah.. Jadi lo bakal ngapain nih?” tanya Obiet pada Iyel.

“Gue penasaran.. Gue ntar ikutan ya!” Angel terlihat paling bersemangat.

“Sip!” jawab Iyel.

Mereka semua mendengarkan rencana Iyel dengan serius.

“Oh, jadi gitu..” gumam Cakka.

“Iya.. Sorry ya Vi. Sementara aja kok” jawab Iyel.

“Iya, ga papa kok. Sekali-kali dia harus diginiin..” ujar Via sambil tersenyum ke arah Iyel.

“Sip! Rencana mulai besok ya!” kata Oik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar