Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [01]


            Shilla baru saja keluar dari kamar mamanya dengan wajah ditekuk. Ia menutup daun pintu ruangan tersebut dengan keras. Bunyi berdebam menggema di seluruh penjuru istananya. Shilla berjalan cepat menuju ruang keluarga, mengambil sebuah kunci mobil yang tergantung di dekat televisi, dan berjalan menuju pekarangan istananya. Mobilnya terparkir di sana.

            Shilla masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesinnya dengan cepat. Begitu mesin mobilnya menyala, Shilla segera memacunya menuju rumah Cakka. Tak peduli dengan bayangan mamanya yang sedang berlari menyusulnya. Samar-samar Shilla mendengar teriakan mamanya.

            “SHILLA! KEMBALI! KAMU ADA JADWAL NYANYI HARI INI! KAMU GA BISA MEMBATALKANNYA BEGITU AJA! KAMU BISA DITUNTUT, SHILL! SHILLAAA!!”

^^^

            Oik sedang membubuhkan setangkai kecil peterseli dan sebuah cherry merah di atas pastel tutupnya ketika terdengar sebuah ketukan dari pintu utama apartemennya. Cepat-cepat ia lepas celemeknya dan berlari untuk membukakan pintu.

            Tubuh Alvin berada hanya beberapa jengkal dari tubuh Oik, “Pagi, peri kecil!” Alvin bergerak untuk mencium pipi kiri Oik.

            Oik mengangguk dan terkekeh, “Kamu ini, ya!” Oik melayangkan tinjunya ke lengan Alvin, “Aku lagi finishing pastel tutup, tau ga? You’re so annoying, Vin!”

            “Pastel tutup?” Alvin pun berlari menuju dapur dan mendapati seloyang pastel tutup berada di atas meja makan.

            Oik bergegas menghampiri Alvin dengan berkacak pinggang. Begitu telah berada di samping Alvin, Oik semakin kesal ketika mendapati lelaki bermata sipit itu sedang meniup-niup pastel tutupnya. Oik pun mencubit pinggang Alvin dengan keras.

            “Apa, sih, Ik?” tanya Alvin, lelaki itu meringis kesakitan.

            Oik mengambil alih seloyang pastel tutup tersebut, “Ini untuk tetangga baru itu, yang di sebelah. Aku khusus masak untuk mereka! Enak aja kamu mau comot-comot.”

            Alvin memanyunkan bibirnya, “Aku juga mau, Ik..”

            “Iya, iya.. Nanti aku masak untuk kamu. Nanti, ya. Setelah kita pulang. Kamu ga lupa, kan, kalau hari ini kita ada jadwal motret?” cerocos Oik.

            Alvin hanya mengangguk-angguk mendengarkan kata-kata berderet dari Oik. Keduanya beranjak menuju ruang tengah. Alvin segera duduk di sofa empuk Oik.

            “Ya sudah, kamu tunggu sini aja dulu. Aku mau kasih ini ke tetangga baru itu. Jangan kemana-mana. Jangan berantakin apartemenku.” pesan Oik, Alvin kembali mengangguk.

            Oik pun berjalan menjauh. Alvin mengiringi kepergian Oik dalam diam. Ia menatap punggung gadis chubby itu dengan pandangan yang sulit diartikan...

^^^

            Begitu sampai, Oik segera mengetuk perlahan pintu di hadapannya dengan tangan kiri –tangan kanannya memegang seloyang pastel tutup–. Tak selang lama, pintu pun terbuka. Oik tersenyum lebar pada lelaki berbehel yang membukakan pintu untuknya itu.

            “Cari siapa, ya?” tanya lelaki berbehel tersebut dengan bingung.

            Oik terkesiap. Ia pun memindahkan seloyang pastel tutup tersebut ke tangan kirinya. Ia segera mengulurkan tangan kanannya pada lelaki itu, “Gue Oik. Apartemen gue di sebelah itu.” Oik menunjuk ruangan apartemennya.

            Lelaki itu menyambut uluran tangan Oik dengan tersenyum, “Gue Ozy. Gue baru di sini. Kemarin baru sampai. Ini aja masih beres-beres. Sorry, deh, belum bisa kenalan sama lo dan yang lainnya.”

            Oik mengangguk, “Oh ya, ini gue ada sesuatu buat lo dan temen-temen seapartemen lo.” Oik menyerahkan pastel tutup tersebut pada Ozy.

            Ozy menerimanya dengan senyuman lebar, “Wah, thanks, ya! Masuk dulu, yuk! Gue kenalin sama temen-temen gue yang lain.”

            Oik kembali mengangguk. Ia pun melangkah masuk ke dalam ruangan apartemen itu. Suasana di dalam masih berantakan. Baru beberapa perabot saja yang sudah terletak di tempatnya. Wallpaper dengan motif garis-garis berwarna hitam dan putih terhampar di seluruh dinding ruangan apartemen tersebut.

            “Duduk dulu, Ik. Gue panggilin yang lainnya dulu.” Ozy mengedik pada sofa berwarna abu-abu di dekatnya.

            Oik tersenyum, “Oke..”

            Ozy pun berlalu seraya berteriak keras-keras, “Woy! Bocah-bocah! Kemari, cepet! Kenalan sama tetangga, dong!”

            Ozy kembali dengan tangan yang sudah kosong. Entah ia letakkan dimana pastel tutup dari Oik. Lalu, ada empat laki-laki lain yang berjalan di belakang Ozy. Sejauh ini, Oik masih menyimpulkan bahwa mereka berlima bersahabat karena wajah kelimanya tidak mirip sama sekali.

            “Ik, kenalin.. Ini temen-temen gue.” Ozy melihat keempat lelaki lainnya dengan tersenyum.

            Oik pun berdiri, menatap keempat lelaki itu dengan tersenyum lebar. Seorang dengan rambut gondrong, seorang dengan mata belo, seorang dengan tubuh kurus dan tinggi, lalu seorang lagi dengan kulit hitam manisnya. Oik melambaikan tangannya pada keempat lelaki itu.

            “Hay! Gue Oik! Sorry, deh, ganggu acara lo semua beres-beres.” Oik menampilkan cengiran lebarnya.

            “Iya, ga apa-apa. Sekali lagi, thanks pastel tutupnya!” sahut Ozy.

            “Gue Ray. Salam kenal, Oik!” Oik berjabat tangan dengan lelaki berambut gondrong itu.

            “Gue Deva. Kalau mau ke Bali, calling gue aja. Ntar gue temenin lo keliling Bali.” lelaki bermata belo itu tersenyum lebar pada Oik.

            Oik kini ganti menyalami lelaki berkulit hitam manis itu, “Panggil gue Patton. Sorry, ya, belum sempet ke apartemen lo. Kan, kita yang ornag baru di sini, eh, malah lo yang ngunjungin kita-kita.”

            “Lo bisa panggil gue Gabriel. Iel juga boleh.” Oik tersenyum pada lelaki yang ia salami paling akhir.

            “Eh, sorry, nih. Gue ga bisa lama-lama di sini. Gue ada jadwal motret.” sesal Oik.

            “Lo fotografer, Ik?” tanya Ray, ia terlihat kaget.

            Oik mengangguk. Kelima lelaki itu pun mengantar Oik sampai depan ruang apartemennya. Oik melambaikan tangan pada mereka semua. Tak sengaja, pandangan Oik bertabrakan dengan pandangan Gabriel. Oik menyipitkan matanya, merasa kenal dengan bola mata hitam legam milik Gabriel.

^^^

            Seorang gadis berambut pendek sedang membuka halaman demi halaman sebuah album foto yang telah usang di sebuah ruangan yang sangat gelap. Ruangan itu hanya disinari oleh sebuah lilin kecil yang dibawa gadis itu. Di sampingnya, ada sebuah kardus berisikan album-album foto usang yang sengaja ia letakkan di sini. Ia sembunyikan.

            “Ini semua gara-gara lo!” pekiknya, telunjuknya menunjuk seseorang yang tertangkap kamera sedang bermain-main di taman bersama dua orang lainnya.

            Emosi gadis itu telah sampai di ubun-ubun, “Untung aja gue bisa hentiin lo. Kalau ga gue ga tau apa yang udah terjadi.”

            Dengan amarahnya, gadis itu menutup album foto usang di tangannya dengan keras. Lalu ia mengembalikannya, bersama dengan album-album yang lainnya. Ia mengambil lilin kecil tersebut dan meninggalkan ruangan gelap itu dengan emosi yang masih membara.

^^^

            Shilla memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Cakka. Ia pun mematikan mesinnya dan turun. Ia disambut hangat oleh kakak Cakka. Keduanya berpelukan sejenak dan cipika-cipiki. Mereka berdua melenggang menuju dapur rumah Cakka. Kebetulan kakak Cakka sedang membuat cake.

            “Gila, ya. Ga kerasa aja lo bakalan jadi adik ipar gue bentar lagi.” desis kakak Cakka.

            Shilla mengangguk bersemangat, “Iya, Mba’. Gue juga ga nyangka bakalan secepat ini. Gue juga ga nyangka Cakka nurut aja pas gue ajakin married.”

            “Eh, Shill, lo ngapain kemari? Bukannya ada jadwal nyanyi?”

            Shilla mendadak berubah kesal, “Udah gue batalin semuanya, Mba’. Khusus buat hari ini. Gue sempat adu mulut sama nyokap juga tadi. Gue mau ajak Cakka keliling.”

            Kakak Cakka mengangguk, “Ingat, ya, Shill.. Lo jangan bilang kalau lo cancel semua jadwal nyanyi lo ke Cakka. Apalagi lo sampai bilang lo sempat adu mulut sama nyokap. Jangan sampai. Ntar Cakka ilfeel.”

            Shilla mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya, “Sip, Mba’! Sekarang, Cakkanya mana?”

            “Ada di kamarnya. Gue panggilin dulu, deh. Lo tunggu sini aja. Cobain cake gue juga.”

            Shilla tersenyum lebar, menyertai kepergian kakak Cakka. Ia mencomot sepotong cake buatan kakak Cakka dan memakannya perlahan. Matanya menerawang, menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di hadapannya. Ia, Cakka, dan seorang lagi. Semasa mereka kecil. Shilla tersenyum penuh arti.

^^^

            Gadis itu membuka pintu kamar Cakka perlahan. Ia mendapati adiknya itu sedang tersenyum kecil memandang sebuah foto. Ada tiga orang di dalamnya. Seorang laki-laki kecil yang diapit oleh dua orang perempuan kecil. Ia pun memutuskan untuk menghampiri Cakka, memeluk lengan adiknya itu dari samping.

            “Lo ngapain, Kka?” tanyanya.

            Cakka menengok padanya dan tersenyum, “Eh, Mba’ Agni. Ga ngapain-ngapain, Mba’. Lala lucu, ya?”

            Kakak Cakka –Agni– tersenyum samar, “Iya, lo benar. Shilla memang lucu. Tapi itu dulu. Sekarang dia cantik banget.”

            Cakka mendengus kesal, mendapati kakaknya yang sengaja mengalihkan pembicaraan. Agni meliriknya sekilas. Mulutnya sudah akan terbuka, namun urung. Ia simpan dulu rahasia itu rapat-rapat. Tunggu saja nanti. Ia akan memberitahu Cakka kalau waktunya sudah tepat.

            “Ada Shilla, tuh. Di dapur. Dia mau jemput lo. Katanya dia mau ajak lo keliling. Gih, susul dia.” Agni menggeret lengan Cakka menuju dapur.

            Cakka pasrah. Ia membiarkan kakaknya itu menariknya hingga ke dapur. Namun, ia masih memandangi foto itu. Dan, dengan berat hati, ia berhenti memandangnya ketika ia sudah beranjak keluar dari kamarnya.

            Benar kata kakaknya. Ada Shilla di sana. Gadis semampai itu sedang menyantap cake buatan kakaknya dengan tersenyum sendiri. Cakka berdiri di hadapannya. Mengucek lembut puncak kepala gadis itu dan ikut tersenyum.

            Agni memandang keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti ada ‘sesuatu’ di sana. Ya, sesuatu. Sesuatu yang ia sembunyikan. Seiring dengan terdengarkan percakapan sejoli itu, Agni berangsur menyingkir. Ia bergegas menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

            Shilla berdiri. Keduanya berjalan ke pekarangan rumah Cakka. Shilla bergelayut manja di lengan lelakinya itu. Cakka duduk di belakang kemudi dan Shilla duduk manis di sampingnya. Cakka mengemudikan mobil Shilla sesuai dengan instruksi gadis itu.

            “Kamu ga ada jadwal nyanyi hari ini?” tanya Cakka, melirik Shilla sekilas.

            Shilla menggeleng pelan, “Ga ada. Aku sengaja kosongin hari ini.” Shilla menjawab dengan menunduk.

            “Oke. Kita ke mana sekarang?” tanya Cakka lagi.

            “Oicagraph. Agent fotografi yang akan kita pakai untuk wedding nanti.” Shilla menatap Cakka dengan senyum mengembang.

^^^

            Oik dan Alvin baru saja rampung memotret di Bukit Bintang. Seluruh krunya sudah membereskan perlatan dan memasukkannya ke dalam mobil. Klien pun sudah pulang. Kini tinggal mereka berdua yang masih ada di sana, bersandar di mobil Alvin.

            “Kamu kapan bisa temani aku ke Bandung lagi?” tanya Oik, memandang Alvin dari ekor matanya.

            Alvin tersenyum kecil, “Kamu kapan bisa temani aku ke Malang lagi?” tanyanya balik.

            Oik memukul lengan Alvin, “Kamu ini!”

            Oik ngambek. Ia segera masuk ke dalam mobil Alvin, duduk di samping kemudi. Alvin terkekeh pelan. Ia pun ikut masuk ke dalam mobil. Alvin menyalan mesin mobilnya dengan senyum tertahan. Oik memang selalu begini.

            “Jangan ngambek, dong, peri kecil..” bisiknya, sesaat setelah mencium pipi gadis di sampingnya itu.

            Wajah Oik pias. Ia memalingkan pandangannya ke samping agar Alvin tak melihatnya. Alvin tertawa keras. Ia segera mengemudikan mobilnya menuju kantor mereka, Oicagraph Studio.

^^^

            Cakka dan Shilla memasukki Oicagraph Studio dengan pandangan kagum. Foto-foto apik terpampang di kiri dan kanan mereka. Itu semua foto-foto yang diambil oleh Oik dan Alvin. Mata Shilla menyapu seluruh lobby dengan mata berbinar.

            “Lihat, Kka.. Aku ga salah pilih agent fotografi, kan? Kamu bisa lihat sendiri foto-foto mereka ga ada yang jelek.” desis Shilla, Cakka mengangguk lugas.

            “Permisi, Mas, Mba’.. Ada yang bisa saya bantu?” sebuah suara menyadarkan keduanya.

            Keduanya terkesiap, Cakka dan Shilla mendapati seorang gadis berdagu tirus berdiri di belakang sebuah meja yang penuh dengan album foto tester Oicagraph. Cakka dan Shilla memandangnya dengan senyum. Lalu, keduanya duduk pada kursi yang telah disediakan. Gadis berdagu tirus itu juga duduk.

            “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ulang.

            Shilla mengangguk bersemangat, “Iya, iya. Ini.. Saya butuh jasa fotografer untuk foto pre-wedding kami.”

            Ketiganya pun mulai berbicara serius soal kesepakatan tempat, harga, dll. Ditengah-tengah perbincangan seru tersebut, pintu utama Oicagraph kembali terbuka. Ada Oik dan Alvin di sana. Keduanya tertawa riang dengan tangan kiri Alvin yang bertengger di pundak Oik.

            “Ify!” sapa Oik, dengan sisa-sisa tawanya.

            Gadis berdagu tirus itu menengok dan tertawa lebar, “Ssstt! Ada klien baru! Kalian duduk dulu aja sana!” usirnya.

            Oik dan Alvin terkekeh. Keduanya duduk tak jauh dari Ify, menatap Ify yang sedang bernegosiasi dengan klien baru mereka. Beberapa menit setelahnya, akhirnya mereka mencapai kata sepakat. Seluruhnya telah disetujui. Harga, tempat, pakaian, perlengkapan, dll. Mengetahui itu, Oik dan Alvin akhirnya memutuskan untuk bergabung.

            Oik dan Alvin berdiri di samping Ify. Oik segera menyingkirkan tangan Alvin dari pundaknya. Sebagai gantinya, ia memeluk pinggang Alvin dari samping.

            “Yoooooo!! Undangannya mana?” Ify berteriak, memanggil seseorang.

            Tak lama kemudian, seorang laki-laki berwajah manis datang dengan tergopoh-gopoh. Ia membawa dua buah undangan.

            “Fy, undangannya sisa satu. Untuk siapa lagi?” tanyanya.

            “Ya untuk Alvin dan Oik, dong, Yo! Kamu gimana, sih?” pekik Ify tertahan.

            Lelaki manis itu menyerahkan selembar undangan pada Alvin dan Oik, “Nih! Masih sisa satu, Ifyku yang cantik jelita!” ia menunjukkan lagi selembar undangan pada Ify.

            “Aduh, untuk siapa lagi?” Ify bergumam.

            “Kenapa ga untuk kami aja?” sahut Shilla, lalu dirasakannya Cakka menyodok perutnya pelan, “Ga apa-apa, kan?”

            Lelaki itu menatap Ify, Ify hanya mengangguk dengan berat hati. Akhirnya, selembar undangan itu pun sampai di tangan Shilla. Shilla tersenyum, membukanya perlahan.

            “Oh, kalian akan menikah?” tanya Cakka, ketika ia baru saja mengintip sekilas isi undangan tersebut.

            Ify dan lelaki manis itu mengangguk bersamaan dan tersenyum tipis, “Sempatkan datang, ya.” Ify menimpali.

            Cakka dan Shilla mengangguk, “Alyssa Saufika Umari dan Mario Stevano Aditya Haling.” Shilla bergumam, membaca setiap huruf pada undangan tersebut.

            Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya Shilla dan Cakka pun memutuskan untuk pamit. Masih banyak tempat-tempat yang mereka harus datangi sehubungan dengan pernikahan mereka. Cakka dan Shilla menyalami Oik, Alvin, Ify, dan Rio satu-persatu. Oik mendadak terhuyung, pandangannya kabur. Untung saja Cakka menangkap tubuhnya. Rio, Ify, Cakka, dan Shilla mendadak panik.

            “Kamu terlalu capek, Ik. Istirahat dulu, ya. Biar aku yang ngantar Cakka dan Shilla ke depan.” Alvin memandang Oik dalam.

            Oik hanya mengangguk dengan sesekali memijit pelipisnya yang terasa ngilu. Alvin pun mengantar Cakka dan Shilla ke depan. Cakka menyeret kakinya yang mendadak berat meninggalkan tempat itu. Cakka mengedik ke belakang, mendapati Rio dan Ify yang sedang mengurus Oik.

            Begitu sampai di pelataran parkir, keduanya segera masuk ke dalam mobil dan melesat. Meninggalkan Alvin yang melambaikan tangan pada mereka dengan rahang mengeras.

            Begitu Alvin menyadari Cakka dan Shilla sudah bergerak menjauh serta Oik yang telah diurus Rio dan Ify, lelaki bermata sipit itu segera menghampiri sebuah mobil yang terparkir. Pengemudinya segera membuka kaca mobil ketika menyadari ada Alvin di luar.

^^^

            Keadaan Oik berangsur membaik. Pandangannya sudah tak kabur lagi. Ify duduk di sampingnya, mengelus lengannya dengan wajah khawatir. Rio sedang ke belakang, mengambilkannya minuman dan obat.

            “Makanya, Ik.. Jangan terlalu diforsir kalau bekerja. Jadinya begini, kan.” Ify berdecak.

            Oik sama sekali tak menghiraukan perkataan Ify. Ia sibuk memandang Alvin yang sedang berbicara dengan seseorang di luar sana. Oicagraph memang berdindingkan kaca tembus pandang. Alhasil, Oik dapat melihat Alvin dan seorang gadis berwajah riang di luar. Mendadak Oik merasa gelisah.

            Dia siapa? Alvin lagi ngomong sama siapa?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [Prologue]

            Oik Cahya Ramadlani –atau yang biasa dipanggil Oik– adalah seorang fotografer professional sekaligus pemilik sebuah agent fotografi terbesar di Jakarta. Oik tinggal seorang diri di sebuah apartemen yang terletak di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

            Oik juga memiliki seorang asisten bernama Alvin. Dia adalah lelaki Chinese asal Malang yang tinggal seapartemen dengannya. Oh, bukan, bukan. Mereka tidak tinggal bersama. Ruang apartemen milik Alvin berseberangan dengan milik Oik. Hal ini membuat segalanya menjadi lebih mudah mengingat jam terbang keduanya yang tinggi.

            Kedua orang tua Oik tinggal di sebuah daerah terpencil di kawasan Kabupaten Bandung yang sangat tenang dan asri. Biasanya, sekali dalam sebulan Oik mengunjungi mereka. Membawa Alvin juga. Keduanya lantas membidik setiap objek yang ada di sepanjang pematang sawah dan perkebunan di sana.

^^^

            Terlihat sebuah konferensi pers yang digelar oleh seorang public figure kenamaan Indonesia di kediamannya di daerah Serpong. Sudah sejak subuh tadi rumah di kawasan terelit seantero Serpong itu ramai didatangi para wartawan. Barulah setelah para wartawan itu memenuhi teras rumahnya –yang seluas lapangan sepak bola itu–, konferensi pers dimulai.

            “Selamat pagi!” sapanya –seorang gadis semampai dengan rambut ikal yang tergerai indah– dengan menunjukkan deretan giginya yang dihiasi behel berkaret pink.

            “Pagi, Mba’ Shilla..” sapa para wartawan balik.

            Konferensi pers pun dimulai. Para wartawan segera memberondong gadis itu dengan ribuan pertanyaan. Dua orang lain –seorang manager dan seorang laki-laki yang saling bertaut tangan dengan gadis itu– hanya tersenyum setiap para wartawan menanyakan soal ‘itu’.

            Shilla –lengkapnya Ashilla Zahrantiara– adalah seorang penyanyi solo pendatang baru yang langsung meledak dengan lagu dan suaranya. Managernya adalah ibundanya sendiri. Semenjak anak sulungnya itu memutuskan untuk terjun dibidang tarik suara, beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dokter dan berkomitmen untuk selalu menjaga putrinya itu dengan menjadi seorang manager. Sedangkan laki-laki itu, ia adalah---,

            “Iya, dia Cakka. Calon suami saya. Kami akan menikah bulan depan. Segala sesuatunya sudah dikonsep. Tinggal menjalankannya saja. Sebenarnya, kami adalah sahabat sejak kecil.” Shilla menutup penjelasannya dengan tersenyum lebar, laki-laki itu pun –Cakka– juga ikut tersenyum lebar.

^^^

            Oik mengendarai Peugeot 206 miliknya menuju Oicagraph, agent fotografi yang ia bangun beberapa tahun lalu. Ia bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang diputar melalui tape mobilnya. Asal kalian tau saja, suara fotografer professional ini tak kalah bagus dengan suara para penyanyi Indonesia saat ini.

            Tiba-tiba saja, mobil di depan Oik berhenti. Dengan cekatan, Oik mengerem mobilnya dan mengumpat habis-habisan. Oik melihat para pengemudi mobil di depannya berbondong-bondong keluar dan berjalan menuju satu titik. Karena penasaran, Oik pun ikut turun.

            Oik memaku di tempat. Di depannya, sebuah kecelakaan lalu lintas baru saja terjadi. Darah tercecer dimana-mana. Sekelebat bayangan muncul di kepala Oik. Sekelebat lagi. Sekelebat lagi. Lagi. Lagi. Dan---,

            “Aaaahhh!!” Oik berteriak kesakitan seraya memegangi kepalanya.

            Suasana ketika itu cukup ramai sehingga tak seorangpun mendengar jeritan Oik. Oik akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobilnya. Ia berjalan sempoyongan. Tangan kanannya bertumpu pada setiap mobil yang ia lewati.

            Setelah sampai tepat di depan mobilnya, ia membuka pintu di belakang kemudi dan langsung menjatuhkan dirinya di sana. Kepalanya masih terasa amat sakit. Oik menutup matanya rapat-rapat dan menelungkupkan kepalanya di atas stir mobil.

^^^

            “.....Bagaimana?.....”

            “.....Baik-baik saja. Aman.....”

            “.....Ya sudah. Tolong kamu terus pantau dia, ya. Bagaimana pun juga---,.....”

            “.....Iya, iya. Aku tau. Aku juga sebenarnya ga tega.....”

            “.....Yang penting, pastikan dia tidak ingat akan hal itu.....”

            “.....Iya, tante. Saya jamin itu.....”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS