Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 14)

Alvin dan Acha baru saja sampai di pelataran rumah sakit tempat Oik dirawat. Alvin segera mengarahkan motornya ke parkiran dan memarkirkannya di sana. Keduanya turun dari motor secara bersamaan. Setelah itu, dengan tetap saling diam, keduanya berjalan beriringan memasukki bangunan dengan bau-bauan obat tersebut.

Rumah sakit siang ini tampak sangat ramai. Wajarlah, sekarang memang saatnya jam berkunjung. Dari lobby rumah sakit, mereka berdua berbelok kanan dan menyusuri sebuah lorong yang lumayan panjang. Di ujung lorong terdapat sebuah kamat VIP. Dengan tak mengintip sebentar melalui kaca pintu, keduanya masuk ke dalam.

Keduanya terpaku melihat pemandangan ‘menakjubkan’ di depannya. Cakka dan Oik yang masih saling pandang, keadaan yang sunyi senyap, dan seluruh teman-temannya yang seakan terhipnotis oleh Cakka dan Oik. Alvin tersenyum kecut. Acha memerah wajahnya, ia cemburu. Sangat!

Alvin menyadari sesuatu. Mungkin, ia memang belum menempati seluruh hati Oik. Atau bahkan, ia sama sekali belum menempati hati Oik. Dan yang lebih parahnya, dia tidak menempati sekecil apapun ruang di hati Oik. Wajahnya sudah sangat masam. Keadaan masih belum berubah. Cakka dan Oik masih saling pandang. Cakka berdiri di tepi ranjang Oik dan Oik duduk di tepi ranjangnya.

Beberapa menit berlalu. Alvin dan Acha sudah sampai di ubun-ubun rasa cemburunya. Perlahan, Alvin berjalan menuju ranjang Oik. Sedangkan Acha, ia menghempaskan tubuhnya di sofa, sebelah Ozy. Hanya tempat itulah yang kosong. Sivia, Rio, Ozy, Deva, dan Ray sudah kembali ‘sadar’ dan melanjutkan aktifitasnya.

“Hey Oik.. Udah baikan?” tanya Alvin lembut seraya mengelus puncak kepala gadis mungil itu.

Cakka dan Oik terkesiap seketika. Keduanya segera membuang pandangan masing-masing. Ray bersiul jahil. Tak lama setelahnya, terdengar lengkingan kesakitan dari mulut cowok gondrong itu. Oh, rupanya Deva menginjak kakinya, dengan sengaja, “Lo sih! Udah tau ada Alvin, kan die cowoknya Oik!” bisik cowok bermata belo itu.

Ray hanya cengengesan. Cakka pun segera kembali ke tempatnya dengan raut wajah sedih. Oik membuka bungkusan makanan yang tadi diterimanya dari Cakka sambil sesekali melirik ke Alvin, “Udah kok, Vin. Malahan besok udah boleh pulang kok” jawabnya.

Alvin berangsur duduk di sebelahnya, “Oh, emang besok pulangnya jam berapa? Mau aku jemput? Ya itu kalau kamu ga keberatan sih” ujarnya.

“Ecieeee.. Berasa dunia milik berdua banget. Kita mah ngontrak! Ya kan, Dev, Ray, Zy, Kak Rio?” Sivia berkoar heboh. Ia sekilas memandang Cakka. Rupanya temannya yang satu itu benar-benar hancur mood-nya. Kacau sekali wajahnya.

Alvin dan Oik tertawa lepas. Begitupula Rio, Ozy, Deva, Ray, Acha dan Sivia. Cakka? Ia masih setia dengan wajah murungnya. Ia sadar betul bahwa Oik masih menempati ruang spesial di hatinya. Dan sayangnya, ia baru menyadari hal itu. Ke mana saja ia saat Oik menunjukkan bahwa gadis itu menyayanginya? Bahkan, Cakka lebih memilih bersama Agni ketika itu.

“Eh, ngomong-ngomong, si nenek perkasa itu ke mane? Kok kagak ade die? Eh, tapi bagus sih. Ga bakalan ada yang sok ngatur lagi. Terus, ga bakalan ada yang sok deket sama Cakka” cerocos Acha. Ia melirik Cakka diakhir kalimatnya.

Ozy menoleh ke arahnya sekilas, “Agni maksud lo?” Acha hanya mengangguk antusias, “Lo belum tau? Dia, kan, dikirim Kak Rio ke neraka. Biar dah, haha. Salah sendiri make acara nyelakain Oik” jelas Ozy. Senyum mengembang di wajahnya. Acha hanya manggut-manggut.

“Ke neraka? Maksud lo? Kak Rio beneran ngirim dia ke neraka? Mampus, gitu? Apaan sih?” Alvin menyahut dari tempatnya. Ia masih bingung dengan penjelasan Ozy barusan.

Rio, Deva, Ray, Ozy, dan Sivia kembali tertawa. Kelewatan sekali polosnya Alvin ini. Apakah dia tak bisa membedakan mana yang konotasi dan mana yang denotasi? Pastinya Rio tak akan setega itu pada Agni. Bagaimanapun, Oik masih tetap bisa hidup walaupun Agni menguncinya dalam ruangan gelap dan menyerempetnya dengan motor.

Rio meletakkan makanannya di atas meja dan memandang Alvin dengan sisa-sisa tawanya, “Gini, ya, Vin. Di kampus gue lagi ada pemilihan beasiswa buat anak yang jago basket. Mereka-mereka ini bakalan dikirim ke Bali buat sekolah khusus basket di sana. Kebetulan, gue itu panitianya. Daripada gue ribet-ribet nyari orang, mending gue sertain aja nama Agni di sana. Lumayan, kan? Ga bakalan ada yang gangguin cewek lo tersayang itu”

Alvin dan Oik kembali tergelak. Wajah keduanya memerah, “Apaan sih lo, kak?” sangkal Oik. Rona kemerahan kembali muncul di kedua pipinya.

“Oh.. Agni dikirim ke sana, ya, kak? Berapa tahun tuh? Lama, kan? Males deh gue kalau kudu ketemu dia lagi. Takut diapa-apain gue sama dia. Dia aja tega ngunciin Oik sama nyerempet Oik gitu” Acha bergidik ngeri dari samping Ozy.

Rio mengalihkan pandangannya pada Acha. Ia mengulum senyum tipis, “Tenang aja, dek. Program beasiswa basket itu lama kok. Dia bakalan tiga tahun di sana. Dan, mereka-mereka yang dapet beasiswa di sana, ga bisa keluar dari sana sebelum program beasiswanya abis. Jadi, lo ga bakalan lihat dia buat tiga tahun kedepan”

Ray, Ozy, Deva, Sivia, Acha, dan Alvin bersorak senang. Oik masih saja berekspresi datar. Baginya, ada Agni atau tidak, tidak berpengaruh apapun terhadapnya. Tak akan merubah apapun.

Cakka masih menahan luapan perasaan cemburunya. Hingga akhirnya, ia tak tahan. Ia bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruang rawat Oik. Acha buru-buru menyusulnya. Oik memandang kepergian Cakka dengan muram. Ingin sekali ia menyusul Cakka. Tapi, mau bagaimana lagi? Ada Alvin di sisinya.

“Cakka kenape tuh?” tanya Deva, sok polos.

^^^

Cakka terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ia terus berjalan tak tau arah. Sebuah taman yang asri terhampar di hadapannya. Hatinya panas. Sejurus kemudian, ia telah duduk di kursi taman dengan menelungkupkan wajahnya dalam telapak tangannya. Napasnya tak beraturan. Terlihat sekali kalau ia sedang mengatur emosinya.

Acha duduk di sampingnya. Tangannya mengelus punggung Cakka dengan lembut. Cakka masih pada posisi awal. Acha tau bahwa Cakka cemburu dengan kedekatan Alvin dan Oik. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan laki-laki di sebelahnya itu. Ia pesimis bahwa ia dapat menggantikan posisi Oik di hati Cakka. Mau bagaimana lagi? Ia kasmaran. Hanya Cakka yang ia mau.

“Thanks udah mau nemenin gue di sini. Sumpeh gue di sana. Gue ga suka lihat mereka. Mereka bener-bener ga ngerti perasaan gue. Emang, sih, gue punya salah sama mereka semua. Tapi, kan, ga gini cara mereka ngebales gue” lirih Cakka. Suaranya terdengar seperti sedang menahan tangis.

Acha kembali menepuk-nepuk punggung Cakka, “Iya, gue tau. Lagipula, kalau gue kudu jujur, ini emang salah lo dari awal. Gue emang ga bisa nyalahin lo karena gue ga ikut andil dalam masalah ini. Tapi, kan... Ya seharusnya, lo ngertilah kalau Oik udah sama Alvin” balas Acha.

Dalam hati, Acha ketar-ketir. Takut kalau-kalau Cakka menimpali perkataannya dengan sinis. Apalagi ia sempat mengatakan bahwa Oik sekarang telah bersama Alvin. Tiba-tiba saja Cakka memeluknya. Acha tersentak kaget. Sembunyi-sembunyi ia mengulum senyum. Walaupun Cakka hanya menganggapnya sahabatpun, tak apa.

“Sorry gue peluk lo sembarangan. Ga ada yang bisa gue peluk, sih, di sini. Gue pengen peluk Oik sebenernya. Tapi karena di sini yang ada cuman lo, ya lo yang gue peluk. Sorry” Cakka berbisik di telinga Acha. Ia tak sadar kalau wajah Acha sudah merah padam sekarang. Cakka tau kalau Acha telah lama menyukainya. Hanya saja, ia tak peduli dengan Acha yang dulu. Acha yang centil, Acha yang dulu.

“Lo berubah, ya, Cha? Tapi, jujur, gue suka sama sikap lo yang sekarang. Eits! Jangan mikir yang ga-ga dulu. Maksud gue, semua orang suka sikap lo yang sekarang. Lo yang dewasa. Bukan lo yang dulu, manja dan centil abis” Cakka masih betah memeluk Acha. Ia membayangkan bahwa Acha, yang sedang ia peluk, adalah Oik.

^^^

Seorang gadis manis turun dari sebuah mobil. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Ia berjalan menuju meja receptionist. Terlihat ia sedang berbincang-bincang dengan sang receptionist. Tak lama kemudian, ia berlalu dari hadapan sang receptionist dan menghilang dan balik belokan.

Ia berjalan menuju sebuah ruang rawat. Ia membawa sebuah keranjang kayu berisikan buah-buahan. Ia berhenti di depan sebuah ruang rawat berlabel VVIP. Ia tengok sebentar secarik kertas yang ada pada saku celananya. Benar. Ini tempatnya. Ini ruangannya. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

Terdengar sahutan dari dalam. Ia pun masuk ke dalam dengan senyuman hangat. Pandangannya tertuju pada seorang gadis mungil yang sedang duduk di bibir ranjangnya. Ia berjalan ke arahnya dan mengangsurkan keranjang yang penuh dengan buah-buahan itu kepadanya.

“Eh, Dea.. Tau dari mana kalau Oik dirawat di sini?” tanya Sivia dari tempatnya.

Gadis manis itu, Dea, beralih pada Sivia yang sedang duduk di sofa. Ia berjalan menghampiri Sivia dan duduk di sebuah sofa kosong. Itu tadi tempat Acha dan Ozy. Keduanya telah keluar. Acha menyusul Cakka dan Ozy menyusul keduanya atas perintah Rio dan yang lainnya. Dea menghela napas beberapa saat.

“Tau dari temen-temen. By the way, maaf banget, ya, soal insiden ini. Gue minta maaf atas nama sepupu gue. Dan gue janji, Oik ga bakalan dapet perlakuan kayak tempo hari lagi dari sepupu gue” Dea menjawab seraya menatap Oik dengan sangat pilu. Oik jadi tak tega melihatnya.

Seluruh manusia yang berada di dalam ruang rawat Oik dibuat bingung oleh perkataan Dea. Oik, Sivia, Alvin, Deva, Ray, dan Rio saling pandang sejenak, “Lo bilang apa tadi? Sepupu lo? Emang sepupu lo siapa? Kita ga tau siapa sepupu lo!” ucap Ray seraya menatap Dea dengan alis berkerut.

Dea ganti memandang mereka dengan alis berkerut pula, “Loh? Kalian ga tau kalau Agni itu sepupu gue? Gue kira kalian semua udah tau kalau Agni itu sepupu gue. Makanya gue malu kalau deket-deket sama kalian. Apalagi kalau inget apa yang udah Agni bikin!”

Keenamnya memandang Dea kaget, “Sumpah? Lo sepupunya Agni? Kok dia beda banget, sih, sama lo? Lo, kan, baik begini. Nah dia? Naudzubillah deh” seru Alvin kaget.

Dea hanya mengangguk sambil tersenyum. Kali ini benar-benar mengerti betapa buruknya kesan Agni dari mereka semua. Dan kali ini pula, ia harus menyetujuinya. Karena, ya, ia telah melihat sendiri bagaimana Agni melakukannya. Benar-benar tak menyangka ia.

^^^

Ozy terus berputar-putar mencari Acha dan Cakka. Diam-diam dongkol sendiri karena ia mau saja disuruh oleh Rio untuk mencari kedua temannya itu. Kakinya melangkah tak tentu arah. Sampai akhirnya, ia berhenti di dekat sebuah taman. Ia mengucek-ucek matanya beberapa kali. Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

“Cakka? Pelukan sama Acha? Bukannya Cakka anti banget, ya, sama Acha? Kok sekarang? Mereka ada apaan sih?” gumam Ozy.

Tanpa Ozy sadari, wajahny berubah merah. Dan, hatinya panas melihat Cakka dan Acha masih berpelukan. Ia berusaha mendekat ke arah keduanya agar dapat mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Karena Ozy melihat mulut Cakka yang berkomat-kamit mengucapkan sesuatu.

Akhirnya, Ozy berjalan dan bersembunyi di balik sebuah pohon yang berukuran lumayan besar. Dari sana ia bisa mendengar apa yang Cakka dan Acha bicarakan. Ia terus berdiri dalam diam. Sesekali ia melirik keduanya. Rupanya wajah Acha telah memerah. Hatinya mencelos melihat Acha, yang sepertinya, sangat senang dipeluk oleh Cakka.

“Cha, gue bener-bener males lihat Alvin sama Oik. Gue sayang Oik. Gue ga mau dia sama yang lain. Gue mau dia sama gue. Ga ada yang boleh ambil Oik dari gue. Alvin sekalipun!” Cakka terdengar bersikeras dengan omongannya. Acha pias. Wajah gadis imut itu mendadak murung.

Acha terkesan sangat tak rela Cakka mengatakan hal barusan. Ia mencoba bersabar dan menahan luapan cemburunya, persis yang Cakka lakukan tadi. Ozy tak tega melihat Acha seperti itu. Satu yang Ozy sadari. Acha sudah tak semanja dan secentil dulu. Ozy kembali mengintip keduanya. Acha tersenyum. Ozy tau betul bahwa itu merupakan senyum terpaksa.

Acha terlihat kembali mengusap punggung Cakka. Sekedar memberi kekuatan pada laki-laki pujaannya itu, “Iya, Cakk, gue tau. Tapi, mau gimana lagi? Lo tau, kan, kalau Oik kelihatan seneng sama Alvin? Perasaan emang ga bisa bohong, Cakk. Biar semuanya terjadi seperti kehendak-Nya” nasihat Acha.

Cakka segera melepaskan pelukannya pada Acha. Cakka terlihat sangat berseri-seri, “Makasih, Cha, lo udah mau nmeenin gue. Gue sadar kalau gue sayang Oik, banget. Dan gue sadar kalau Oik, harusnya, juga masih sayang sama gue. Makasih, sekali lagi”

Cakka menepuk pipi Acha pelan dan bangkit berdiri. Ozy kembali merapatkan tubuhnya ke pepohonan, takut-takut Cakka melihatnya ketika Cakka berjalan melewatinya. Ozy patut bernapas lega. Pasalnya, Cakka sama sekali tak menyadari keberadaannya. Ia dan Acha tau betul bahwa Cakka akan kembali ke ruang rawat Oik.

Cakka telah berlalu. Ozy kembali beralih pada Acha. Dilihatnya gadis itu sedang menangis tersedu-sedu. Tak menunggu lama, Ozy keluar dari persembunyiannya dan melangkah menuju kursi taman. Ozy duduk tepat di tempat Cakka sebelumnya. Ia memberikan sebuah sapu tangan berwarna biru pada Acha.

“Makasih” ujar Acha, masih dengan menangis tersedu-sedu dan tanpa melihat siapa pemberi sapu tangan itu.

Lama keduanya tak saling bicara. Hanya tangisan kecil dari mulur Acha yang terdengar memenuhi taman itu. Setelah dirasa cukup, Acha selesai menangis. Ia menghapus seluruh buliran-buliran yang berjatuhan dari kedua matanya itu dengan sapu tangan Ozy. Acha menoleh ke samping dan mendapati Ozy ada di sana.

“Ozy? Lo? Ngapain di sini? Sejak kapan? Lo lihat gue nangis? Lo denger apa yang gue sama Cakka omongin?” tanya Acha beruntun.

Ozy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, “Udah, nangis aja. Gue tau lo suka Cakka. Dan gue tau kalau lo tau Cakka sayang Oik. Bertepuk sebelah tangan, right?” Acha mengangguk kecil, “Jangan berhenti mencoba. Lo tau dong kalau Oik udah sama Alvin. Udah ga ada Agni sama Shilla pula. Kali aja ini kesempatan lo buat rebut hatinya Cakka”

Ozy kembali tersenyum, begitupula Acha. Ozy merasakan hal aneh dalam hatinya. Ia seperti tak rela mengucapkan perkataannya barusan. Hey! Mengapa?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar