Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SUPERGIRLS #08 [Oik's Story]

            Dengan menenteng tasnya, Oik masuk ke dalam rumahnya. Ia baru saja pulang sekolah. sang sopir pun masih memarkirkan mobil di depan sana. Oik semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari dalam sana. Di ruang tamu, ia bertemu dengan salah satu pembantunya yang menatap sedih kepadanya.

            Oik membeku di tempat saat itu juga. Wajahnya mengeras seiring dengan buir-bulir yang mulai merebak dari kedua matanya. Oik melihatnya. Baru pertama kali ini namun sudah entah pertengkaran keberapa yang dilakukan kedua orang tuanya. Mama dan papanya saling berhadapan dan saling menunjuk satu sama lain, berteriak satu sama lain.

            “Mama sama papa sedang apa?” tanya Oik, volume suaranya amat kecil.

            Keduanya menoleh bersamaan ke arah Oik, “Kami akan bercerai, Ik.” sahut papanya.

            “Besok sidangnya. Kamu boleh datang.” mamanya menimpali.

            Oik segera berlari menuju kamarnya. Bulir-bulir itu semakin berlomba untuk meluncur membasahi pipinya. Oik menangis tersedu, mengurung diri di kamarnya yang luas. Kebetulan, Ujian Nasional sudah ia lewati beberapa hari yang lalu. Jadilah kini Oik sudah terbebas dari tanggung jawab untuk masuk sekolah. Selama tiga hari, Oik mengurung diri di kamar, tidak keluar barang sejengkal pun. Kesembilan sahabatnya telah datang silih berganti, membujuknya agar keluar kamar, makan. Dan kesembilannya gagal. Tidak ada yang bisa mengeluarkan gadis itu dari kesedihannya, sangkar emasnya

^^^

            Kali ini, giliran Alvin yang datang ke rumah Oik. Ia disambut oleh salah seorang pembantu keluarga Oik di teras. Alvin pun melangkah menuju kamar Oik, ditemani oleh pembantu Oik. Begitu sampai di depan pintu kamar Oik, keduanya berhenti.

            “Saya tinggal, ya, Mas Alvin. Semoga berhasil bujuk Mba’ Oik keluar kamar. Sahabat-sahabatnya Mba Oik tidak ada yang berhasil, tinggal Mas ini satu-satunya harapan.”

            Alvin hanya mengangguk. Sepersekian detik setelahnya, ia telah termenung sendiri di depan daun pintu nan megah itu. Tangannya terulur untuk mengetuknya, mencoba membuat Oik keluar dari dalam. Atau, kalau bisa, gadis itu mempersilahkannya masuk ke dalam.

            “Ik, ini aku. Alvin. Bisa buka pintunya?” Alvin mulai membuka mulutnya.

            Tak ada jawaban.

            “Ik, kamu sudah empat hari di dalam. Kami semua khawatir.” Alvin kembali bersuara.

            Lagi-lagi, tak ada jawaban.

            “Ik, kamu masih bisa dengar aku, kan? Kami semua khawatir sama keadaan kamu. Aku, Ify, Acha, Angel, Sivia, Nova, Shilla, Keke, Zahra, dan Aren.” Alvin mulai menyebut nama kesembilan sahabat Oik.

            “Cuma kalian yang peduli sama aku. Mana kedua orang tuaku?” terdengar sebuah suara lirih dari dalam.

            Hati Alvin mencelos mendengarnya. Itu suara Oik. Tapi, bukan begini suara Oik yang biasa ia dengar, dulu. Suara Oik terdengar jernih dan merdu, dulu. Beberapa detik yang lalu, muncul suara Oik yang berat dan sendu. Hanya dalam waktu lima hari ia dapat merasakan perubahan Oik yang sebegitu drastisnya.

            “Mereka berdua sibuk, Ik---,”

            Terdengar suara benda yang jatuh dan pecah, “Mereka sibuk dengan egonya masing-masing! Mereka ga pernah peduli dengan aku! Mereka sibuk dengan perceraiannya! Mereka ga pernah berpikir kalau aku butuh mereka!” Oik berteriak histeris dari dalam sana.

            Hatinya kembali mencelos. Dengan cepat, Alvin mendobrak pintu kamar Oik. Hanya dengan sekali dobrak, Alvin sudah dapat melihat Oik yang terduduk lemas di lantai kamarnya, bersandar pada ranjangnya. Di dekatnya, berserakan pecahan cermin dari meja riasnya.

            Tunggu! Ada sesuatu yang ganjil.. Oik! Oik memegang sebuah pecahan cermin yang tajam pada ujungnya. Alvin segera berlari masuk, menjauhkan benda laknat itu dari dekat Oik. Menendang serpihan-serpihan itu ke sudut kamar Oik.

            “Kamu ngapain, Ik? Jangan begini, dong. Kami semua sayang kamu.” Alvin menarik gadis itu ke dalam pelukannya, menenangkannya, lalu mengecup puncak kepala Oik dengan lembut.

^^^

            Oik berjalan dengan tergesa. Bandara sore itu sedang ramai-ramainya. Pasalnya, sekarang adalah waktu liburan. Bandara ramai, stasiun ramai, terminal ramai. Orang-orang berbondong-bondong beepergian entah ke mana. Bersenang-senang di tempat tujuan. Berangkat dengan wajah sumringah.

            Tetapi, berbeda dengan Oik. Gadis itu tampak gelisah. Mondar-mandir ia di bandara, mencari dua orang tersayangnya yang meninggalkannya untuk beberapa tahun. Keduanya sudah mengiriminya pesan kemarin malam. Dan sampai sekarang, Oik belum kuasa untuk merelakan keduanya pergi.

            “Oik!” segerombolan orang di kejauhan memanggil namanya bersamaan, Oik menengok dan berlari menghampiri mereka semua.

            Begitu telah berada di antara gerombolan orang tersebut, Oik sontak memeluk seorang laki-laki dengan seabrek barang bawaannya. Keduanya lantas melepas pelukan masing-masing dan berjalan menjauh dari gerombolan itu, berbicara berdua, empat mata.

            “Vin, kamu benar-benar mau tinggalkan aku di sini?” Oik merengek pada laki-laki itu, Alvin.

            Alvin tersenyum sedih dan mulai mengucek puncak kepala Oik, “Oma sudah mendaftarkan aku jauh-jauh hari di Taruna Nusantara, Ik.”

            “Jadi... kita LDR?” tanya Oik.

            Mendadak Alvin menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Maaf, Ik..... Aku ga bisa LDR. LDR itu nyiksa. Lebih baik..... Kita putus saja.” Alvin berkata dengan lirih.

            Oik menelan ludah dengan susah payah, “Putus, Vin?”

            “Iya,” Alvin kembali menatap Oik, wajahnya nampak sangat muram, “Maaf. Tapi kita masih bisa jadi teman, kan?”

            Oik mengangguk, ia tersenyum miris, “Aku pikir kita akan langgeng sampai kakek-nenek, Vin.” Oik menghela napasnya dengan berat, “Jaga sahabat aku di sana, ya, Vin. Aku titip Sivia.” Oik mulai melepas genggaman tangan Alvin yang terasa semakin lembut di kedua telapak tangannya.

            “Iya.” Alvin mengangguk, “Mungkin ga sekarang waktu yang Tuhan sediakan untuk kita. Kalau memang kita jodoh, kita pasti akan dipersatukan kembali oleh-Nya. Jangan terus sedih, ya. Kamu bisa cari laki-laki lain yang lebih baik dari aku, Ik. Dan aku yakin kamu akan mendapatkannya.” Alvin mengatakannya dengan berat hati.

^^^

            Malam itu, Oik sedang memasukkan seluruh keperluannya untuk satu minggu mendatang bersama dengan kedelapan sahabatnya. Mereka semua membantu Oik beres-beres, sekaligus mencoba menahannya untuk tidak jadi pergi.

            “Ik, serius mau pergi?” tanya Acha, wajahnya terlihat sangat kusut.

            “Setelah Sivia yang pergi ke Jogja, sekarang giliran kamu yang ke Jakarta.” Angel menimpali seraya tersenyum sedih.

            “Minggu depan siapa lagi yang akan pergi?” Ify bertanya, setengah menyindir.

            “Mentang-mentang kita sudah lulus SMP dan akan sekolah di SMA yang berbeda, jadi pada terpisah gini.” Keke manatap Oik dengan sedih.

            Oik tersenyum menatap kedelapan sahabatnya, “Kalian ini kenapa? Aku di Jakarta hanya seminggu. Lagipula, aku kangen mama. Kalian lupa kalau mama dan papaku sudah bercerai? Sekarang mama tinggal di Jakarta, bersama eyang putri.”

            “Mau seminggu, mau sehari, mau setahun.. tapi tetap saja judulnya pergi meninggalkan kita berdelapan.” Nova menyahut dari dalam kamar mandi Oik.

            Shilla mengangkat kedua tangannya, “Sudahlah. Kalian mau sampai kapan merengek ke Oik? Oik pasti akan tetap pergi!” sentaknya.

            Zahra tersenyum kecut, “Supergirls bubar saja, ya?”

            “Ga! Ga boleh! Supergirls tetap ada. Ga ada yang bisa pisahkan kita. Jarak sekalipun!” Aren merentangkan tangannya, memeluk kedelapan sahabatnya satu-persatu.

^^^

            Oik merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang. Ia baru saja sampai di kediaman eyang putrinya. Tadi mamanya yang menjemput di bandara. Tepat ketika ia baru saja akan mencari taxi, mamanya memanggilnya. Keduanya lantas berpelukan erat, tak terpisahkan.

            Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Muncullah mama dengan pakaian rumahan, “Oik, makan siang, ya?” tawarnya.

            Oik menggeleng pelan, “Ga usah, Ma. Oik sedang ga lapar. Oik ngantuk, mau tidur saja. Nanti kalau sudah sore, bangunkan Oik saja. Ya?”

            Mamanya mengangguk dan tersenyum lembut, “Ya sudah.”

^^^

            Hari ini adalah hari terakhirnya berada di Jakarta. Besok ia sudah harus pulang ke Malang untuk mengurus kelulusannya, juga mengurus pendaftaran di SMA yang telah ia pilih sebelumnya.

            Pagi itu, Oik sarapan bersama dengan mama dan kedua eyangnya. Mereka semua sarapan dengan suasana yang hangat. Oik begitu menikmatinya. Sangat berbeda dengan suasana sarapannya di Malang bersama papa. Begitu dingin dan mencekam.

            “Ik, Mama ada sesuatu untuk kamu.” Mama Oik menyerahkan sebuah amplop besar berwarna putih kepada anak gadisnya.

            Oik menerimanya dengan bingung. Ia pun langsung membukanya saat itu juga. Sebuah tiket, “Tiket apa ini, Ma?”

            Beliau hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan sarapannya. Pertanda bahwa Oik harus membaca setiap huruf yang tertera di dalam tiket tersebut seorang diri. Oik mulai membacanya. Wajahnya berubah senang ketika selesai membaca.

            “AAAAA!! Thank you, Mommyyyyy!!” gadis itu bangkit dari duduknya dan mencium kedua pipi orang tuanya itu.

            Mamanya terkekeh. Begitupula dengan kedua eyangnya. Oik berteriak sangking senangnya. Gadis itu juga menari-nari sembarangan untuk meluapkan kegembiraannya.

            “Itu acaranya nanti malam di JCC. Mama bisa antar kamu ke sana.” Mamanya kembali bersuara.

            “Oke! Pokoknya nanti malam Mama harus antarkan aku ke konser ini!” mata Oik kembali berbinar melihat sebuah tiket dalam genggamannya, tiket konser Raisa!

^^^

            Sebuah Yaaris hitam baru saja sampai di pelataran JCC. Oik dan mamanya masih betah duduk di dalam. Mamanya mengelus puncak kepala Oik perlahan. Oik hanya tersenyum kecil diperlakukan begitu oleh mamanya.

            “Nanti kamu pulangnya naik taxi saja, ya?”

            Oik mengangguk pasti dan tersenyum lebar pada mamanya, “Oke!” setelah memastikan tiketnya sudah berada dalam tas, Oik pun melangkah turun, “Bye, Ma!”

            Oik melangkah meninggalkan mamanya. Setelah memastikan anak semata wayangnya telah masuk ke dalam dengan selamat, beliau pun mulai meninggalkan area JCC perlahan. Oik memandang kepergian mamanya dengan tersenyum dari dalam sana.

            BRUK!

            Oik mendongak. Matanya tajam menatap seorang gadis seumuran dengannya yang menabraknya barusan. Gadis itu langsung kabur entah kemana begitu menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi karenanya.

            Oik menggeram dalam hati. Mengumpat gadis itu habis-habisan. Ia pun menunduk sangking jengkelnya. Tunggu.. noda berwarna cokelat tiba-tiba saja muncul di gaun putihnya. Oik menutup matanya. Jari-jari tangannya mengepal. Rupanya gadis tadi juga menumpahkan minumannya pada gaunnya. Oik bergegas menuju toilet.

            Di dalam, Oik kembali menggerutu. Tak ia temukan tissue atau apapun yang dapat membantunya menghilangkan noda itu dari gaun yang ia kenakan. Sayangnya, ia juga tak membawa tissue. Dengan lunglai, Oik berjalan keluar dari dalam toilet. Ia bersandar pada dinding toilet dengan wajah sebal.

            Oik menengok kesana-kemari. Sepi. Rupanya konser telah dimulai. Sayup-sayup Oik mendengar suara Raisa yang mengalun merdu. Dan tak sengaja, pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang menatapnya dari kejauhan.

            “Kenapa? Ada yang salah?” Oik bertanya pada lelaki itu dengan ketus.

            Lelaki itu berjalan menghampirinya dengan ragu-ragu, “Butuh... sapu tangan?” tanyanya, tangan kanannya menyerahkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda pada Oik.

            Tatapan tajam Oik meredup dan perlahan hilang, digantikan dengan tatapan serta senyum penuh terima kasih. Oik segera mengambil sapu tangan itu dan membersihkan noda di gaunnya. Lumayan lah, sudah tidak terlalu terlihat.

            “Terima kasih.” Oik kembali tersenyum pada lelaki itu.

            “Sama-sama,” lelaki itu pun ikut tersenyum, tangan kanannya bergerak untuk kembali mengambil sapu tangan itu dari tangan Oik.

            Oik menepisnya, “Mau apa? Aku akan mencuci sapu tangan ini dulu, baru kukembalikan.”

            Lelaki itu mengedikkan bahunya, “Ya sudah. Kamu tidak masuk ke dalam?”

            Oik mengangguk, “Kita masuk bersama.”

            “Aku Cakka. Kamu?” lelaki itu mengulurkan tangan kanannya pada Oik.

            Oik menjabat tangan lelaki itu dengan tersenyum tipis, “Oik.”

            Keduanya pun masuk. Raisa baru saja selesai menyanyikan Cinta Sempurna. Kini, intro lagu Could It Be mulai mengalun indah di telinga keduanya dan ribuan penonton lainnya.

^^^

            Konser akbar itu baru selesai ketika jam berdentang dua belas kali. Ya, pukul dua belas malam ribuan penonton mulai berbondong-bondong keluar dari JCC. Oik dan Cakka termasuk dalam gerombolan itu. Keduanya berjalan beriringan.

            “Kamu membawa kendaraan sendiri?” tanya Cakka, melirik Oik sekilas.

            Oik menggeleng, “Mama menyuruhku pulang dengan taxi.”

            “Hah?” Cakka menoleh kaget ke arahnya, “Tidak baik seorang perempuan pulang sendiri malam-malam begini. Aku antar saja, ya?” tawar Cakka.

            “Aku bisa menolaknya?” tanya Oik balik.

            Cakka menggeleng seraya terkekeh pelan. Cakka pun segera menarik lengan Oik menuju motornya. Oik terlihat mematung untuk beberapa saat ketika melihat motor Cakka. CBR. Lagi-lagi. Seperti motor Alvin. Kenapa semuanya selalu saja dapat mengingatkannya akan sosok Alvin?

            “Ik?” Cakka menepuk pelan lengannya, Oik tersadar.

            Cakka mengedik pada boncengan motornya. Oik mengangguk kikuk, lalu segera naik ke atas motor Cakka. Keduanya pun melesat membelah kesunyian malam dan jalanan Jakarta yang mulai berangsur sepi. Oik mulai memberi petunjuk pada Cakka. Tak sampai dua puluh menit, keduanya telah sampai di depan kediaman eyang Oik.

            Oik turun dari atas motor Cakka dan tersenyum lebar pada lelaki itu, “Terima kasih sudah mengantarku malam-malam begini.”

            “Sama-sama.” Cakka juga balas tersenyum padanya.

            “Soal sapu tangan.....”

            “Untuk kamu saja. Lagipula besok aku sudah kembali ke Malang. Mungkin baru dua bulan lagi aku kemari. Pasti sapu tangan itu sudah membusuk.” Cakka kembali terkekeh.

            Oik mengerutkan keningnya, “Malang?” Cakka mengangguk, Oik pun tersenyum penuh arti, “Kamu tinggal di Malang?” lagi-lagi Cakka mengangguk, “Aku juga.”

            Cakka terbelalak kaget, “Serius?”

            Oik mengangguk dan tertawa nyaring. Hati Cakka berdesir dibuatnya, “Aku besok juga akan kembali ke Malang.”

            “Benar-benar kebetulan yang... entahlah. Aku sampai tidak bisa menggambarkannya.” Cakka tersenyum menatap Oik, keduanya sama-sama tak menyangka dengan seonggok fakta yang baru saja terlontar dari mulut masing-masing.

^^^

            Begitu sampai di Malang, Oik langsung membereskan seluruh keperluan untuk mendaftar di sekolah yang baru. Entah kenapa, hatinya benar-benar senang kali ini. Mungkin, karena ia sudah kembali ke Malang, ke kotanya tercinta. Atau... sudahlah. Kenapa bayangan Cakka selalu muncul?

            “Bibi! Oik mau langsung mendaftar di sekolah yang baru. Pak Ujang bisa antar aku?” Oik berjalan keluar dari kamarnya dengan berteriak.

            Seorang pembantunya berjalan menghampiri, “Bisa, Mba’. Sudah ditunggu Pak Ujang di depan.”

            Oik menatapnya sekilas dan tersenyum lebar. Lantas, gadis itu berjalan keluar, meninggalkan pembantunya yang sedang terheran-heran di tempat. Baru kali ini ia melihat Oik kembali tersenyum selebar itu setelah perceraian kedua orang tuanya..

^^^

            “Pak Ujang tunggu di sini saja dulu. Oik ga lama, kok.”

            Oik pun turun dari mobilnya. Menatap sekolah barunya dengan mata berbinar. Bisa dibilang, ini ada SMA terbaik di kota Malang dan Oik berhasil melalui serangkaian test tulis dan juga lisan yang diadakan sebagai syarat untuk menjadi siswa di sini. Oik tersenyum bangga dan melangkah masuk.

            Gadis itu melihat ke sekeliling. Sejauh matanya memandang, selalu saja ada sepasang orang tua dan anak yang berlalu-lalang di dekatnya. Oik tersenyum miris. Andai saja mamanya masih di sini, pasti beliau akan menemaninya mendaftar sekolah. Andai saja. Angan-angan yang akan selalu menjadi angan-angannya belaka.

            “Hey! Jangan sedih!” suara seseorang tiba-tiba saja terdengar dari tengkuk kepalanya, Oik menengok ke belakang dan muncullah semburat merah mudah di kedua pipinya, “Cakka! Sedang apa di sini?” pekiknya, kaget.

            Cakka tertawa pelan dan merangkul Oik, keduanya berjalan menyusuri lorong sekolah itu, “Orang tuaku kepala sekolah di sini.”

            “Kamu sekolah di sini?” tanya Oik.

            Cakka menggeleng, “Aku sudah kuliah.”

            Oik membulatkan bibirnya dan menganggukkan kepala tanda mengerti, “Aku ga pernah menyangka kalau kita akan ketemu lagi,” gumamnya.

            “Kenapa? Kangen aku, ya?” goda Cakka, ia menoel dagu Oik berkali-kali.

            Oik menepisnya jengah, “Cakka! Apa, sih?!”

            Keduanya pun lantas ribut sendiri, membuat beberapa pasang mata menengok dan menggelengkan kepala dengan maklum. Tak ada yang berani menegur, guru-guru dan staf sekolah sekalipun. Semuanya tau siapa Cakka, siapa orang tuanya. Rupanya hanya Oik yang baru tau siapa Cakka sebenarnya.

^^^

            Waktu terus bergulir. Kedekatan mereka pun semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Biasanya, Cakka akan segera meluncur ke sekolah Oik ketika mata kuliahnya telah selesai. Ia bisa menunggu di ruangan ayahnya sambil menunggu jam pulang Oik. Jika jam pulang sudah tinggal beberapa menit, Cakka akan berjalan menuju kelas Oik, tersenyum pada guru yang mengajar, dan berdiri dengan bersender pada pintu kelas Oik. Jika sudah begitu, guru yang mengajar pun akan cepat-cepat membereskan barangnya dan kembali ke ruang guru.

            Begitu juga kali ini, entah sudah keberapa kali Cakka mengusir secara halus guru yang mengajar di kelas Oik. Begitu guru keluar kelas, Oik langsung menghampiri Cakka dengan menyangklong tasnya. Kali ini, Oik meninju gemas lengan Cakka.

            Dahi Cakka berkerut, “Kenapa, sih?” tanyanya.

            “Kamu usir lagi guru-guru yang mengajar di kelasku!” Oik memelototi Cakka.

            “Siapa bilang? Lagipula aku sama sekali ga nyuruh mereka untuk berhenti mengajar, kok!” Cakka berkelit. Secepat kilat, ditariknya lengan Oik menuju parkiran, mobilnya sudah menunggu di sana.

            “Tumben pakai mobil? Mau ke mana memang?” tanya Oik, menatap Cakka yang berada di sampingnya, di balik kemudi.

            Cakka mengedikkan bahunya, “Lihat saja nanti.”

            Mobil pun melaju. Oik terus cemberut sepanjang perjalanan. Cakka membiarkannya begitu saja. Cakka mengemudikan mobilnya menuju sudut terdalam Kota Malang, memasukki jalan-jalan tikus yang kumuh, dan berbelok kesana-kemari. Setelah hampir satu jam mengemudi, Cakka akhirnya mematikan mesin mobilnya lalu turun, diikuti Oik.

            Oik memandang sekeliling. Sepi. Hanya ada mereka berdua, mobil Cakka, dan sebuah gubuk kecil yang berada di tengah-tengah halaman luas yang rumputnya telah tumbuh liar. Oik berjalan mendekat ke Cakka dan menggamit lengan lelaki di sampingnya itu.

            “Ini dimana, Kka? Kok sepi?” Oik berbisik di telinga Cakka, suaranya nyaris tak terdengar.

            Cakka tersenyum menenangkan, “Masuk ke sana, yuk,” Cakka menunjuk gubuk kecil itu.

            Mau tak mau, Oik mengikuti langkah Cakka. Keduanya pun masuk ke dalam gubuk kecil itu. Tak seperti yang Oik bayangkan sebelumnya, ternyata di dalam sini ramai sekali. Ada sekitar sepuluh anak kecil yang sedang bermain. Cakka menghampiri mereka dan ikut larut dalam candaan anak-anak kecil itu.

            Oik masih terbengong-bengong sendiri di tempatnya, beberapa langkah di belakang anak-anak kecil itu dan Cakka. Seorang anak kecil menarik-narik jemarinya, membuatnya menunduk menatap anak itu dan tersenyum kikuk padanya.

            “Kakak kenapa tidak ikut bermain bersama kami?” tanyanya.

            Oik tersenyum hambar, ia pun ikut duduk bersila di lantai, ikut bermain ular tangga bersama mereka semua.

            “Lihat.. Kamu masih lebih beruntung, Ik, daripada mereka.” Cakka berbisik padanya, Oik memang pernah menceritakan perihal perceraian kedua orang tuanya pada Cakka.

            “Mereka ini siapa?”

            “Mereka anak-anak yang biasa mengamen di jalanan. Orang tua mereka entah ada di mana sekarang.”

            Oik menahan napasnya. Ia menatap sendu anak-anak kecil itu. Oik mencoba tersenyum pada mereka semua. Ia baru sadar bahwa masih banyak orang di dunia ini yang tidak lebih beruntung daripadanya.

            “Kak Oik kalah!” teriak mereka semua.

            Oik segera berdiri. Berlari mengelilingi gubuk kecil itu. Ke mana pun. Yang penting mereka semua beserta Cakka tidak bisa menangkapnya. Jadilah, mereka semua saling kejar di dalam gubuk kecil itu hingga sore tiba dan malam menjelang.

^^^

            Malam itu udara berhembus dingin. Bintang-bintang di langit mulai membentuk gugus masing-masing. Bulan melengkapi indahnya malam itu. Gemerlap cahaya kecil nun jauh di sana memberikan kesan tersendiri. Bukit di samping kiri pun tampak indah walaupun pada malam hari.

            Cakka dan Oik terdiam, di gazebo taman belakang rumah megah itu. Cakka semakin mengeratkan pelukannya pada gadis mungil yang mulai menggigil kedinginan itu. Telapak tangan Cakka pun mulai membungkus telapak tangan Oik sekedar untuk menghangatkannya.

            “Gantung ya,” Oik buka suara.

            Cakka menatapnya sekilas, “Apanya?”

            “Aku. Kamu. Kita.”

            “Gantung gimana, sih, Ik?”

            “Kita sudah dekat. Lama. Dan itu sama sekali ga ada statusnya.” Oik tertawa hambar.

            Cakka melepaskan pelukannya, memaksa Oik untuk menghadap ke arahnya, “Jadi, kamu cuman butuh status?”

            Oik tersenyum miring, “Iya. Aku masih ingat gimana tatapan teman-temanku ke aku waktu mereka tanya soal kamu, soal kita.”

            “Buat aku, status itu ga penting, Ik. Yang penting itu, ini...” Cakka menggenggam tangan kanan Oik dan meletakkannya di dadanya, “Dan ini...” lalu, meletakkan tangan gadis itu di dadanya sendiri. Ia menatap gadis di hadapannya lembut.

            “Cakka ih! Bisa banget!” Oik melepas genggaman tangan Cakka, memeluk lelaki di hadapannya itu dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu ketika ia menyadari sudah semerah kepiting rebus wajahnya sekarang.

            Cakka terkekeh pelan, “Bisa banget apa, sayang?”

            “Ga usah panggil-panggil sayang!” Oik memekik pelan dari dalam pelukan Cakka, memukul dada lelaki itu seraya menyunggingkan senyum malu-malu.

            “Lho, katanya kamu butuh status. Gimana, sih, Ik?” Cakka semakin gencar saja menggoda gadis dalam pelukannya itu.

            “Iya tapi maksud aku bukan begitu!” Oik melepaskan pelukan Cakka dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

            “Maksud kamu, begini.....” Cakka menggenggam erat kedua tangan Oik dan menatapnya seraya tersenyum amat manis, “Jadi pacar aku, ya?”

            Oik cemberut, melepaskan genggaman tangan Cakka begitu saja. “Ga romantis! Ga mau!”

            “Terus maunya gimana, Ik?” tanya Cakka.

            “Ya, gimana, kek! Gimana aja! Kalau teman-teman aku, sih, ditembak di depan banyak orang.” Oik mulai nyerocos tiada henti.

            Cakka tersenyum geli, “Kalau aku tembak kamu di depan banyak orang, kan, ga bisa begini...” Cakka menggantungkan kalimatnya, perlahan ia mengecup pipi kanan Oik.

            “Ih! Cakka apa, sih?” Oik menggerutu, mendorong dada Cakka agar menjauh darinya, takut wajahnya semakin memerah karena laki-laki itu.

            “Kalau begini.....” Cakka mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam sakunya, membukanya, dan sebuah cincin tampak bertengger manis di dalamnya, “Gimana?”

            Semburat merah muda itu kembali muncul di pipi Oik, “Aku masih SMA, Kka!” pekiknya.

            “Memangnya kalau masih SMA kenapa, Ik? Ga boleh tunangan sama aku? Apa..... mau langsung kawin aja?” tanya Cakka dengan polosnya.

            “Cakka kenapa, sih? Godain mulu! Kesambet apa kamu, Kka?” tanya Oik heran.

            “Gimana? Mau?” tanya Cakka, tidak memedulikan perkataan Oik barusan.

            “Tau, deh!” Oik menjawab sekenanya.

            Cakka mengedikkan bahunya. Tanpa aba-aba, Cakka memasangkan cincin perak itu jari manis tangan kiri Oik dan tersenyum puas setelahnya, “Pokoknya mulai sekarang kamu punya aku, ya. Ga ada yang boleh ambil kamu dari aku, siapa pun itu.”

            Oik tersenyum tertahan. Ia kembali memeluk lelaki di hadapannya itu. Cakka pun balas memeluknya juga. Keduanya larut dalam kebersamaan mereka malam itu.

(Oik's Story - End)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [02]

            “Oke. Sampai nanti!” Alvin mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum manis.

            Kaca mobil pun tertutup. Sebelumnya, gadis berwajah riang itu pun melemparkan senyumnya pada Alvin. Alvin mundur beberapa langkah, memberikan jalan pada sang gadis berwajah riang untuk mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir Oicagraph.

            Alvin memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana. Ia terus berdiri di sana sampai mobil sang gadis riang tertelan oleh puluhan mobil lain di jalanan. Begitu memastikan mobil gadis berwajah riang itu telah hilang, Alvin pun berbalik dan masuk kembali ke dalam Oicagraph Studio.

            Alvin mendapati Oik yang masih bersandar pada bahu Ify, dengan bibir seputih kapas. Alvin pun duduk di samping Rio, terpisah oleh sebuah meja dengan Oik dan Ify. Ia melirik Oik, gadis mungil itu tampak sedang memikirkan sesuatu.

            “Memikirkan apa, Ik?” tanya Alvin, ia kibaskan tangan kanannya di depan wajah Oik.

            Oik tersadar dan kemudian menggeleng, “Ga, ga lagi memikirkan apa-apa.” Oik menghembuskan napas dengan berat, “Tadi kamu bicara dengan siapa, Vin?”

            Alvin mendadak kikuk. Ia berusaha tersenyum senormal mungkin kepada Oik, “Bukan siapa-siapa. Cuma orang yang tanya alamat. Iya, tanya alamat.”

            “Oh,” Oik membulatkan bibirnya, “Kok lama?” tanyanya lagi.

            “Dia tanya petunjuknya arah dan tetek-bengek lainnya. Mungkin dia orang baru di sini.” Alvin mengedikkan bahunya, berusaha secuek mungkin.

            “Cantik, ya?” cecar Oik.

            “Apa, sih, Ik?” Alvin terlihat tidak senang dengan cercaan Oik barusan. Lantas, ia mengambil undangan perkawinan Rio dan Ify yang tergeletak di meja lalu membukanya, “Pestanya besok, Fy, Yo?” Alvin memandang Rio dan Ify bergantian.

            Rio dan Ify mengangguk bersamaan dan tersenyum lebar. Sedangkan Oik, gadis itu melengos malas ketika menyadari Alvin sedang mengalihkan pembicaraan. Ada apa sebenarnya? Siapa gadis berwajah riang tadi?

            “Lalu, kenapa kalian masuk kerja? Kenapa ga siap-siap untuk acara besok?” Alvin menggeleng tak percaya.

            “Tadi niatnya ke sini cuma untuk ngantar undangan saja. Eh, ternyata ada klien dan studio lagi sepi. Ya sudah, aku yang menangani kliennya.” Ify menjelaskan dengan wajah malas.

            “Kenapa ga pulang saja sekarang?” tanya Oik, mulai masuk ke dalam pembicaraan.

            “Ini juga kami akan pulang.” Rio menyahut bersemangat.

            Rio pun berdiri. Menengadahkan tangan kanannya kepada Ify. Ify menerimanya, gadis itu pun kemudian berdiri. Dengan tangan kiri, Ify mengambil tasnya. Setelahnya, tangan kanan Ify mulai menggamit lengan Rio erat-erat.

            “Kami balik dulu, Ik, Vin. Jangan lupa datang besok malam! Awas kalau sampai kalian ga datang. Sipa-siap saja aku damprat!” pamit Ify, Rio terkekeh di sebelahnya.

            Alvin tersenyum tipis. Keduanya menatap Rio dan Ify yang sudah masuk ke dalam mobil Rio. Mobil itu pun melesat, meninggalkan Oicagraph Studio beserta Oik, Alvin, dan karyawan lainnya. Oik kembali menghembuskan napasnya, kali ini untuk menarik perhatian Alvin.

            Alvin menengok padanya dan tersenyum lucu, “Apa? Sudah ga tanya-tanya lagi soal orang tadi?” godanya.

            “Terus saja goda aku!” Oik meninjukan kepalan tangannya ke lengan Alvin, “Aku ga jadi masak, ah, kalau kamu nyebelin begini.”

            “Eh, jangan!” Alvin mendadak berteriak kencang, “Ya sudah, ayo pulang, peri kecil.” Alvin berdiri, lalu menghampiri Oik dan membantunya berdiri.

            “Ga usah sok baik. Nanti juga kalau masakannya sudah selesai aku masak langsung berubah nyebelin lagi!” sindir Oik.

            Alvin tertawa tepat di telinga Oik. Oik kontan menutup telinganya dan melepaskan pegangannya pada lengan Alvin. Setelah Alvin berhenti tertawa, Oik menghujani perut lelaki oriental itu dengan cubitan-cubitan tak kenal ampun.

^^^

            Cakka dan Shilla baru saja keluar dari sebuah cake shop di bilangan Jakarta Selatan. Keduanya baru saja memesan sebuah wedding cake bertingkat sembilan –tanggal dan bulan jadian mereka– di sana. Begitu sampai di depan mobil Shilla, Cakka segera melemparkan kunci mobil kepada Shilla.

            “Kamu saja yang menyetir. Aku capek, Shill. Ya?” Cakka merayu Shilla dengan menaik-turunkan kedua alisnya.

            Shilla melengos dan tersenyum jengah, “Ya sudah. Tidur saja kamu, biar aku yang menyetir.” katanya, mengalah.

            Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Kali ini, Shilla yang duduk di balik kemudi. Mesin dinyalakan, Shilla segera mengemudikannya ke sebuah butik –tempat mereka akan fitting–.

            Cakka melongok ke luar jendela. Ini bukan jalan pulang ke rumahnya. Ia menengok pada Shilla yang sedang menyetir, “Mau ke mana kita, Shill? Ini bukan jalan pulang ke rumahku.”

            Shilla meliriknya sekilas dan tersenyum, “Kita ke butik, fitting baju dulu. Kenapa?”

            Cakka mendengus, “Aku capek, Shill. Kita pulang saja. Aku mau istirahat beberapa jam. Nanti sore kita fitting baju. Ya?”

            “Oke, oke,” Shilla memutuskan untuk mengalah. Lagipula, jika nanti Cakka tidur, ia bisa banyak bercerita dengan Mbak Agni.

            Shilla memutar kemudinya, tidak jadi ke butik. Cakka pun akhirnya terlelap begitu menyadari Shilla akan membawanya pulang ke rumah. Shilla melirik lelaki di sampingnya. Begitu beruntungnya dia memiliki lelaki seperti Cakka. Gadis itu tersenyum penuh arti.

^^^

            Alvin dan Oik kini telah sampai di pelataran apartemen mereka. Setelah memarkirkan mobil, keduanya pun turun. Alvin dan Oik bergandengan memasukki gedung apartemen tersebut. Begitu sampai di depan minimarket di dalam gedung apartemen tersebut, keduanya melepaskan gandengan tangan mereka.

            “Kamu mau aku temani berbelanja atau bagaimana?” tanya Alvin, menatap Oik.

            Oik terlihat berpikir sejenak dan kemudian menggeleng, “Kamu duluan ke kamar saja. Minimarket lagi ramai,” Oik mengedik ke dalam, “Nanti takutnya kamu capek nunggu aku.”

            Alvin tersenyum dan mengacak rambut Oik, “Ya sudah, aku tinggal. Kamu cari aku di apartemenku, ya, nanti.”

            Oik mengangguk dan tersenyum lebar, “Oke. Sudah, sana! Hus hus!”

            Alvin tertawa. Ia pun akhirnya berbalik dan berjalan menuju lift dengan senyuman penuh arti. Begitu melihat Alvin telah masuk ke dalam lift, Oik segera masuk ke dalam minimarket. Mengambil sebuah keranjang kecil dan berjalan menuju lorong makanan.

            Siang ini ia akan memasak nasi goreng superpedas dan pudding cokelat untuk penutupnya. Setelah memasukkan seluruh bahan untuk membuat hidangan utamanya, Oik bergegas mencari bahan untung pudding cokelatnya.

            Tangan Oik terulur untuk mengambel sesachet bubuk pudding cokelat ketika sebuah tangan lagi terulur untuk mengambil sachet yang sama. Oik terperanjat. Kepalanya terangkat untuk melihat tangan siapakah itu.

            “Eh, Oik,” sapa orang tersebut.

            “Mau membuat pudding juga, Gab?” sapa Oik balik pada orang itu, Gabriel.

            Gabriel mengangguk, “Iya. Patton lagi ngidam pudding. Biasanya mamanya membuatkannya pudding setiap minggu.”

            Oik melirik rak tempat bubuk pudding itu terpajang, “Gab, bubuk pudding yang cokelat tinggal ini saja,” Oik menyerahkannya pada Gabriel, “Untuk kamu dan yang lainnya saja.”

            “Eh?” Gabriel mendadak salah tingkah, “Ga usah, Ik. Untuk kamu saja.” Gabriel menyerahkan kembali sachet tersebut.

            Oik tersenyum tipis menerimanya, “Benar? Boleh?”

            “Iya.” Gabriel mengangguk, “Aku bisa ambil varian rasa lainnya, kok.”

            “Terima kasih!” Oik melebarkan senyumnya dan memasukkan sesachet bubuk pudding itu ke dalam keranjang belanjaannya, “Aku duluan, Gab!”

            Oik berjalan menjauh. Hatinya sedikit berdesir ketika tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan milik Gabriel tadi. Lagi-lagi bola mata hitam legam itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi, siapa?

            Gabriel hanya mengangguk menatap kepergian Oik. Tatapannya benar-benar sulit diartikan. Lelaki itu hanya menghembuskan napas dan kembali berkeliling minimarket untuk membeli bahan-bahan keperluan sehari-hari lainnya.

^^^

            Mobil Shilla baru saja berhenti di depan rumah Cakka. Shilla segera mematikan mesin mobilnya. Gadis itu menengok ke samping, Cakka belum juga bangun. Ia hanya menggelengkan kepalanya, menyadari betapa kebonya Cakka.

            “Kka, udah sampai. Bangun.” Shilla menepuk pelan pipi Cakka.

            “Hn,” Cakka mengulat, kemudian kembali terlelap.

            “Bangun, dong, Kka. Ini sudah di depan rumah kamu.” Shilla kembali menepuk pipinya.

            “Iya,” Cakka menjawab dengan suara parau, lagi-lagi ia kembali terlelap.

            Shilla kembali menggeleng jengah. Ia bergerak pelan untuk mengecup pipi Cakka. Setelahnya, ia menepuk lengan Cakka dengan keras, “Bangun, dong! Ih! Kebo banget kamu, Kka!”

            “Iya, iya..” Cakka menguap lebar, lalu duduk dengan tegak dan tersenyum lebar ke arah Shilla.

            Keduanya pun turun dari mobil. Cakka berjalan menuju kamarnya dan kembali terlelap. Sedangkan Shilla, ia melangkah menuju kamar Agni. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan calon kakak iparnya itu.

            “Mbak Agni,” Shilla memanggil namanya seraya mengetuk daun pintu kamar tersebut.

            “Iya!” terdengar sahutan dari dalam, juga suara –seperti memindahkan sesuatu­–. Perlahan, terdengar langkah kaki yang semakin mendekat dan bunyi membuka kunci, “Ada apa, Shill?”

            Shilla menatap Agni dengan aneh, “Tumben, Mbak, pakai dikunci segala kamarnya.”

            Agni mengedik, “Tadi... habis ganti pakaian.”

            Shilla menatap Agni menyelidik. Ganti pakaian? Pakaian Agni masih sama saja dengan yang ia pakai ketika pagi tadi Shilla ke sini. Shilla hanya mengedikkan bahunya dengan cuek. Ia masuk ke dalam kamar Agni dan rebahan di ranjangnya. Agni segera menutup pintu kamarnya dan berbaring di samping Shilla.

            “Mbak, gue mau tanya sesuatu..” gumam Shilla.

            Agni menengoknya sekilas dan tersenyum tipis, “Mau tanya apa, Shill?”

            “Cakka... masih suka menyebut-nyebut Lala ga, Mbak?” tanya Shilla, ragu-ragu.

            “Aduh, gimana, ya.. Lo janji ga akan kesal, ya?” Agni menyodorkan kelingkingnya pada Shilla, keduanya pun saling bertautan kelingking untuk beberapa saat. “Cakka masih suka sebut-sebut Lala.”

            “Lala itu gue atau.....” Shilla menggantungkan kalimatnya.

            Agni menghembuskan napas berat, “Setelah dia sebut-sebut soal Lala, gue selalu bilang kalau Lala itu lo. Tapi dia langsung melengos malas.”

            Shilla merubah posisinya menjadi duduk, “Dia... masih menyimpan Lala dalam ingatannya..” Shilla bergumam sedih.

            “Tenang saja, Shill.. Gue cuma merestui kalau Cakka sama lo, bukan dengan yang lainnya.” Agni bangkit dan mengusap pelan pundak Shilla dengan sayang.

            “Makasih, Mbak.” Shilla tersenyum miris kepada sang calon kakak ipar.

^^^

            Setelah membayar seluruh belanjaannya, Oik bergegas naik melalui lift. Begitu lift sampai di lantai yang dituju, Oik pun keluar. Ia berpapasan dengan seorang gadis yang sedang menunduk dalam-dalam yang akan masuk ke dalam lift.

            Oik pun keluar dari lift. Berdiri sejenak di depan lift karena pintunya belum juga tertutup. Oik terus memandangi gadis itu lekat-lekat. Begitu pintu lift sudah hampir tertutup, gadis itu mendongakkan kepalanya. Oik tersentak kaget.

            Dia lagi. Gadis itu lagi. Dia, kan, yang tadi ada di halaman parkir Oicagraph bersama Alvin..

            Oik menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia pun membalikkan badannya dan menyusuri lorong gedung apartemen itu. Ketika ia tiba di depan ruang apartemen miik Alvin, ia mengetuk pintunya perlahan. Ia terus menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan bayangan wajah gadis itu dan soal bola mata hitam legam milik Gabriel.

            “Oik, ya?” terdengar sahutan dari dalam.

            Oik mengangguk, “Iya!” Oik balas berteriak.

            “Masuk saja, peri kecil! Pintunya ga aku kunci!” Alvin kembali berseru.

            Oik mengedik cuek. Ia pun masuk ke dalam. Dilihatnya ruang tamu Alvin kosong. Ia pun berjalan menuju dapur. Oik bersandar pada kulkas di sudut dapur, menatap Alvin yang berdiri membelakanginya. Lelaki itu sedang mencuci dua gelas di tempat mencuci piring.

            “Gelas siapa, Vin?” tanya Oik, tatapannya tak lepas dari punggung Alvin.

            Alvin menengok perlahan padanya, “Gelasku, dong, Ik. Gelas siapa lagi?”

            “Kenapa ada dua?”

            “Iya, tadi temanku ke sini.”

            “Perempuan?”

            Alvin terdiam sejenak, “Bukan, laki-laki.”

            Oik melengos malas. Jelas-jelas ia tidak berpapasan dengan seorang laki-laki pun tadi di lorong. Ia hanya berpapasan dengan seorang gadis. Gadis berwajah riang itu. Gadis yang sama dengan yang ia lihat sedang mengobrol dengan Alvin di studio tadi pagi. Oik melengos malas menyadari Alvin membohonginya, menutupi sesuatu darinya.

            “Aku capek, Vin..” lirih Oik.

            Alvin baru saja selesai mencuci kedua gelas tersebut. Ia berbalik dan menghampiri Oik lalu mengusap pelan pipinya, “Istirahat saja, Ik. Biar aku yang masak.”

            “Kamu ga bakalan pernah ngerti.” Oik kembali membuka mulutnya.

            Alvin mengambil sekantung plastik belanjaan dari tangan Oik dan melihatnya, “Kamu mau memasak apa?”

            “Nasi goreng superpedas dan pudding cokelat.” Oik menjawab seadanya.

            “Kamu tidur saja di kamarku.” Alvin mengantarkan Oik ke dalam kamarnya. Membantu Oik merebahkan tubuhnya di ranjang, dan menyelimutinya dengan sebuah selimut tipis, “Nanti kalau masakannya sudah matang, aku bangunkan.”

            Oik mengangguk dengan setengah hati. Alvin pun bangkit untuk menyalakan pendingin ruangan. Setelahnya, ia keluar dan menutup pintunya. Oik sayup-sayup mendengar langkah Alvin yang mulai menjauh. Setelah dirasa Alvin telah sampai di dapur, Oik menyibak selimutnya dan memeriksa kamar Alvin.

            Oik mulai membuka satu-persatu laci Alvin. Dan, pada laci keempat, Oik menemukan berlembar-lembar foto. Mulai dari pose konyol hingga pose mesra, ada dalam lembar-lembar foto tersebut. Oik terduduk di ranjang Alvin dengan sebelah tangan menutupi mulutnya.

            “Alvin... dengan gadis tadi..” lirih Oik.

^^^

            Shilla mengedik pada sebuah jam yang tergantung di dekat lemari pakaian milik Agni. Ia terkesiap. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dan, karena terlalu asyik mengobrol dengan Agni, ia sampai lupa membangunkan Cakka yang kelewat kebo itu! Gawat!

            “Kenapa, Shill?” tanya Agni, mengalihkan pandangannya dari majalah fashion terbaru.

            Shilla segera turun dari ranjang Agni dan merapikan rambutnya, mematut bayangan dirinya di cermin milik Agni. Setelahnya, ia mengambil tasnya dan mengecup pipi kanan dan kiri Agni, “Gue lupa bangunin Cakka, Mbak. Kami bakal fitting pakaian.”

            Agni hanya mengangguk, “Ati-ati, Shill!”

            Shilla tersenyum pada Agni dan berlalu menuju kamar Cakka. Shilla memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar Cakka. Ia yakin pasti Cakka belum bangun. Dan, benar saja. Ketika ia memasukki kamar Cakka, lelaki itu masih tertidur lelap. Shilla pun menghampirinya.

            “Cakk---,” omongan Shilla terputus. Ia menyadari bibir Cakka bergerak pelan, seperti menyebut-nyebut sesuatu.

            Shilla pun mendekatkan dirinya pada Cakka. Sekarang, Shilla akhirnya mengerti apa yang Cakka igaukan. Shilla menahan napas untuk beberapa detik. Ia mendadak gelisah karenanya. Pasalnya, Cakka terus saja memanggil-manggil nama tersebut.

            “Lala... Lala... Lala... Lala...”

            Shilla mundur beberapa langkah. Ia menggeleng pelan, tak percaya. Ternyata benar kata Agni, Cakka masih terus menyebut nama tersebut. Lala. Shilla cemas, khawatir, gelisah. Hal yang paling ia takutkan akhirnya terjadi juga.

            Shilla bersandar pada dinding kamar Cakka. Ia merasakan sesuatu di punggungnya. Begitu ia berbalik, ia melihat sebuah bingkai dengan foto lama di dalamnya. Shilla memejamkan matanya. Cakka pun masih menyimpan foto usang itu.

            Shilla berusaha menata hatinya, menata pikirannya. Ia rapikan penampilannya. Tak lupa, ia ukirkan sebuah senyum lebar di bibirnya. Ia berlaku seolah-olah tak mendengar igauan Cakka barusan. Tak ada Lala lain selain dirinya. Iya. Pasti. Pasti yang Cakka igaukan tadi adalah dirinya. Lala. Shilla. Ashilla. Ashilla Zahrantiara.

            Shilla pun kembali mendekat ke ranjang Cakka, ia tepuk pelan lengan Cakka, “Bangun, Kka. Sudah sore. Kita jadi fitting, kan?” bisik Shilla.

            Cakka menggeliat. Tak lama kemudian, lelaki itu telah menyibakkan selimut tebalnya dan kembali dari alam mimpi. Cakka tersenyum tipis menatap Shilla. Tanpa berkata apa-apa lagi, Cakka masuk ke dalam kamar mandinya.

            Shilla terduduk di ranjang Cakka dengan pikiran kosong. Matanya menerawang entah ke mana. Lima belas menit setelahnya, Cakka keluar dari kamar mandi. Keduanya pun segera berangkat menuju butik yang telah Shilla pilih untuk membuat gaun pengantinnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS