Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 12)

Ketujuhnya kemudian melanjutkan langkahan kakinya menuju kelas 9.5. Tepat ketika ketujuhnya sampai di depan kelas tersebut, bel berbunyi empat kali, menandakan bahwa sekarang sudah waktunya pulang. Deva, Ray, Ozy, dan Sivia segera masuk ke dalam kelas sebelum ketahuan oleh guru-guru lainnya. Sedangkan Rio, ia duduk di bangku panjang berwarna merah marun di depan kelas tersebut.

“Ik, aku ke kelas dulu, ya! Ntar balik sini lagi kok, mau ada doa dulu, kan?” kata Alvin.

Oik menganggukkan kepalanya dengan segera, “Ya udah, ntar balik sini lagi, ya! Aku pulangnya bareng kamu aja. Kak Rio kayaknya bakalan balik ke kampus soalnya” balas Oik seraya tersenyum tipis.

Alvin berbalik badan dan bergegas kembali ke kelasnya. Oik kembali mengulum senyum tipisnya dan berbalik ke munuju kelasnya. Tepat di pintu kelas, ia berpapasan dengan Cakka yang akan membuang sampah. Senyum Oik langsung memudar begitu ada Cakka. Cakka tersenyum kecut.

Oik condong ke kiri, Cakka ikut condong ke kiri. Oik agak ke kanan, begitupula Cakka. Oik sampai menggerutu kesal. Rio berpaling ke keduanya dan menatap Cakka tajam. Cakka pias. Oik pun kembali berjalan menuju bangkunya. Dan Cakka, cepat-cepat membuang sampah lalu kembali duduk di tempatnya.

Setelah selesai doa bersama, seluruh siswa SMP Ranvas segera menarik tas masing-masing dan mencengklongnya. Buru-buru mereka keluar dari kelas. Sebagian menuju lapangan tempat mereka dijemput dan sebagian menuju parkiran bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri.

Cakka, Ray, Ozy, Deva, Oik, dan Sivia masih berada di dalam kelas. Setelah kerumunan di depan kelas lebih berkurang, terlihat Rio masuk dan duduk di meja Oik. Ia memandang sekeliling. Oh, tatapannya tertuju pada Cakka. Cepat-c epat Cakka mengajak Ozy berbicara agar tidak terus-menerus dipandang sinis oleh Rio.

Tak lama, Alvin datang dengan wajah kusut. Sepertinya ia baru saja melewati debat panjang dengan seseorang. Dan benar saja. Tak selang lama, Agni ikut masuk ke dalam 9.5 dengan wajah yang tak kalah kusutnya dengan Alvin. Semuanya memandang malas ke arah Agni. Tak terkecuali Cakka.

Rio ganti memandang sinis ke Agni. Tanpa mereka semua sadari, seorang gadis manis mengintip dari balik jendela kelas. Dia Dea, sepupu Agni. Dea sudah ketar-ketir di luar sana. Ia tahu kalau Rio dendam kesumat dengan sepupunya itu. Bagaimana tidak? Agni sudah mengurung adiknya satu-satunya dalam ruangan yang sangat menyeramkan!

Rio bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Agni. Cakka masih sibuk berbicara dengan Ozy. Sedangkan Deva dan Ray, keduanya masih membereskan barang-barang mereka ke dalam tas. Sivia sedang mendengarkan music melalui iPod. Alvin dan Oik terlihat cemas memandang Rio dan Agni, seperti Dea.

Rio tersenyum sinis ke Agni, “Oh, lo yang namanya Agni? Haha.. Kampret lo!” seru Rio emosi.

Oik sudah menahan napasnya sejak tadi. Agni maju selangkah di hadapan Rio. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap tajam kea rah Rio. Jemarinya mendorong kasar bahu kanan Rio, “Kalau iya, emang kenapa? Urusan lo? Lo yang kampret!” seru Agni balik.

Rio tersentak kaget. Rupanya gadis ini menantangnya. Agni memang tidak tahu mengenai Rio yang sering juara karate. Tidak muluk-muluk, Rio memang sangat jago karate. Dan jika keduanya bertanding karate, sudah pasti Rio yang akan menang. Walaupun Agni juga terbilang piawai karate, kemampuannya tak ada apa-apanya jika dibanding Rio.

“Gue ga pakai dorong, ya!” seru Rio. Ia berbalik mendorong Agni. Tak keras tapi dapat membuat Agni jatuh tersungkur ke belakang.

Agni bangkit dan kembali menantang Rio, “Lo cowok, kan? Haha.. cemen! Cuman berani ngedorong gue, ya? Dasar cupu! Lo pasti kalah sama gue! Gua jago karate!” ujar Agni dengan penakanan di akhir kalimatnya. Terdengar sombong memang.

Rio tersenyum meremehkan. Muncul ide di otaknya. Ia kembali memandang Agni sinis. Kali ini Cakka, Ozy, Deva, Ray, Alvin, dan Sivia memandangi keduanya dengan cemas. Mereka semua sudah tahu-menahu soal kepandaian Rio dalam karate. Deva dan Ray terlihat berbisik-bisik seraya menunjuk-nunjuk Agni dengan santai.

Rio mengangkat tangannya ke atas. Plak! Tangan kanannya baru saja menampar pipi mulus Agni. Agni terlihat mengaduh kesakitan. Pipinya memerah. Tak dapat dipungkiri bahwa tamparan Rio barusan sangat keras. Bahlan terlampau keras. Mata Agni terlihat berkaca-kaca.

Ray, Deva, dan Ozy segera keluar. Rupanya mereka bertiga ada janji akan mengerjakan tugas bersama. Sivia pun mengikuti ketiganya, dirinya sudah dijemput sedari tadi. Rio pun berbalik keluar kelas dengan Alvin dan Oik di belakangnya.

“Itu balesan karena lo udah nyoba nyelakain adek gue! Ga seberapa emang. Tapi kalau lo nyoba buat ngelakuin itu lagi, gue bisa kirim lo ke neraka saat itu juga!” teriak Rio dari kejauhan.

Baru saja Cakka akan mengikuti langkah ketujuhnya, tangan kanan Agni menahannya untuk tinggal. Ide-ide lainnya mulai berkembang dalam kepala Agni. Ia kembali tersenyum sinis. Ia melepaskan lengan Cakka, “Jangan coba-coba buat ngelakuin itu lagi. Lo tahu? Kak Rio jago karate, ga ada apa-apanya lo kalau dibanding dia” gertak Cakka.

Agni menganggukkan kepalanya. ia pun mengambil tasnya yang jatuh ketika ia tersungkur tadi, “Anterin gue pulang. Hari ini gue ga dijemput” suruh Agni pada Cakka.

Cakka menganggukkan kepalanya malas. Mereka berdua pun melenggang meninggalkan kelas. Sebelumnya, Dea sudah cepat-cepat bersembunyi agar tidak terpergok oleh mereka semua. Cakka berjalan kea rah motornya, Agni masih mengekornya.

“Cakka, Cakka..” panggil Agni.

Cakka menoleh. Agni tersenyum sok manis padanya. Agni segera merebut kunci motor Cakka dari tangan laki-laki itu, “Ajarin gue ngendarain motor, ya! Please.. Sekali ini aja. Janji deh!” mohon Agni. Cakka terlihat menimang-nimang ajakannya.

“Oke, kali ini aja. Ga lama-lama, ya!” Cakka menyetujui permohonan Agni dengan setengah hati.

Agni segera menaikki motor Cakka. Cakka duduk di belakangnya. Mesin motor dihidupkan. Agni segera menjalankan motor tersebut. Perlahan-lahan, mereka berdua keluar dari wilayah SMP Ranvas. Jalanan di depan SMP Ranvas terlihat sangat sepi. Hanya ada mereka berdua serta Rio, Alvin, dan Oik di sana. Rio, Alvin, dan Oik sedang berada di pinggir jalan, bersenda-gurau bersama.

Agni mengemudikan motor Cakka ke arah mereka semua. Hanya satu tujuannya. Agni menatap lekat-lekat gadis mungil yang sedang tertawa lebar di hadapan Alvin dan Rio tersebut. Agni pun mempercepat laju motornya. Cakka masih tak bereaksi, karena dia memang tak tahu apa yang sedang Agni ingin lakukan.

Brum brum brum.. Agni menggas motor Cakka. Dan, brak! Agni sukses menyerempet tubuh mungil Oik! Rio, Alvin, dan Cakka tersentak kaget. Rio dan Alvin segera memapah tubuh Oik. Sedangkan Cakka, ia segera turun dari boncengan motornya dan ikut menolong Oik. Ketiga laki-laki itu sempat menatap Agni dengan sangat sinisnya.

Agni bersorak kegirangan ketika melihat banyak darah mengucur dari kepala Oik. Alvin segera menelpon rumah sakit terdekat dan minta dikirimkan ambulance ke sana. Cakka melihat keadaan Oik sebentar dan kembali berbalik pada Agni. Mereka berdua terlibat debat yang sangat seru.

Tak lama, ambulance datang. Ambulance datang tepat ketika langit mulai menumpahkan airnya. Hujan turun dengan lebatnya. Oik segera digotong ke dalam ambulance oleh perawat. Alvin dan Rio mengemudikan motor masing-masing, mengikuti ambulance tersebut ke rumah sakit.

Cakka dan Agni terlihat telah selesai dengan debatnya. Cakka pun mengambil kunci motornya dari tangan Agni dengan paksa. Cakka segera mendorong tubuh Agni agar lekas turun dari motornya. Cakka menyalakan mesin motornya dan mengikuti Rio dan Alvin serta ambulance yang membawa tubuh Oik.

Agni masih terdiam di tempat. Air hujan mengguyurnya dengan cepat. baju seragam dan seluruh barang bawaannya sudah basah oleh air. Tiba-tiba Agni tertawa dengan kerasnya. Dea mengintip keadaan sepupunya itu dari balik kaca mobilnya. Setelah itu, mobil yang dinaikki Dea terlihat berjalan semakin menjauh dari tempat Agni sekarang.

Agni masih tertawa dengan kerasnya. Tak seorangpun tahu bahwa air mata juga menamani deraian tawa dari mulutnya. Air matanya berlomba-lomba untuk jatuh dan bertemu dengan air hujan. Agni jatuh dan duduk bersimpuh di jalanan. Ia pun menangis tersedu-sedu di sana.

“Haha.. Gue berhasil nyelakain Oik lagi! Gue bakal tagih janji abangnya besok. Dia bilang kalau dia bakalan ngirim gue ke neraka, kan, kalau gue nyelakain adiknya lagi? Haha!” Agni kembali tertawa di tengah tangisan sendunya. Matanya menatap kosong ke jalanan yang terhampar di depannya.

^^^

Rio, Alvin, dan Cakka segera memarkirkan motornya di pelataran rumah sakit. Tubuh Oik sudah dibawa ke UGD oleh perawat-perawat di sini. Ketiganya berjalan beriringan menuju UGD. Rio dan Alvin sempat menatap Cakka sebentar. Keduanya menatap Cakka dengan sinis.

“Iya, gue tahu kalian ga suka sama gue. Tapi, please, biarin gue ikut nungguin Oik di sini!” mohonnya. Rio dan Alvin hanya mengangguk samar.

Ketiganya sampai di depan UGD setelahnya. Rio terlihat sibuk menelpon kedua orang tuanya. Alvin terlihat sibuk menelpon Sivia. Sedangkan Cakka, ia terlihat sibuk menelpon Sivia, Deva, Ray, dan Ozy. Tak lama, seorang perempuan dewasa dengan jubbah dokter keluar dari dalam UGD. Terlihat sekali guratan-guratan lelah di wajahnya.

Rio segera menghampiri dokter tersebut. Begitupula dengan Alvin dan Cakka. Mereka bertiga terlihat sangat cemas dengan keadaan Oik di dalam, “Dok, gimana keadaan adik saya? Dia baik-baik aja, kan?” tanya Rio dengan cepat.

Dokter tersebut hanya tersenyum tipis. Dia mengelus pundak Rio dengan pelan, “Tenang saja. Adik kamu sudah tidak kenapa-kenapa. Keadaannya sudah mulai membaik. Tapi sebaiknya dia dirawat dulu di sini sampai besok. Kondisinya belum begitu stabil karena tadi banyak darah yang keluar dari luka di kepalanya”

Rio, Alvin, dan Cakka terlihat lebih tenang sekarang. Setidaknya, mereka sudah tahu bahwa keadaan Oik perlahan-lahan mulai membaik. Cakka segera duduk di bangku yang telah tersedia di sana. Rio dan Alvin mengikutinya. Keduanya memandang Cakka dengan malas. Maklum saja, pacar Cakka-lah yang telah membuat Oik celaka, untuk yang kedua kalinya!

Terlihat tiga siluet laki-laki dan satu siluet perempuan sedang berjalan tergesa-gesa ke arah ketiganya. Mereka bertiga sudah jelas tahu bahwa siluet-siluet tersebut adalah milik Deva, Ray, Ozy, dan Sivia. Benar saja.. Deva, Ray, Ozy, dan Sivia sudah berada di hadapan ketiganya dengan wajah cemas. Sesekali mereka bertiga menoleh khawatir ke arah pintu UGD yang masih tertutup rapat.

Alvin tersenyum tipis ke keempatnya, “Udah, kalian tenang aja. Duduk sini dulu, gih” saran Alvin.

Deva, Ray, dan Ozy menurut. Mereka bertiga duduk berjejer di sebelah Alvin. Sivia masih berdiri menatap pintu UGD dengan khawatir, “Vin! Oik kenapa? Kenapa bisa sampai ketabrak? Siapa yang nabrak dia?” tanya Sivia dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya pertahanannya jebol. Air mata mengalir dari kedua matanya dan membanjiri wajah ayunya.

Deva memeluknya pundaknya dari samping dan memapahnya agar duduk di sebelahnya. Akhirnya Sivia pun duduk. Ia kembali menatap Alvin, seakan ia kembali menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tadi telah terlontar dari mulutnya. Alvin hanya menhgedikkan bahunya dan menunjuk Cakka dengan dagunya. Sivia kini beralih pada Cakka.

“Cakka! Oik kenapa? Kenapa bisa sampai ketabrak? Siapa yang nabrak dia?” Sivia kembali melontarkan pertanyaan yang sama. Bedanya, kali ini ia bertanya pada Cakka, bukan pada Alvin.

Cakka mengangkat kepalanya dan menoleh lesu kepada Sivia, “Oik ketabrak. Tadi ditabrak sama Agni” jawabnya dengan lirih. Jelas sekali terdengar suara paraunya.

Sivia kembali bangkit berdiri, “Agni lagi? Itu cewek lo kenapa sih? Psycho banget jadi orang! Sekali lagi dia nyelakain Oik, gue bakalan kirim dia ke neraka!” seru Sivia dengan berapi-api.

“Udah, calm down. Gue yang bakalan kirim dia ke ‘neraka’. Kalian lihat aja besok. Lihat apa yang bisa gue lakuin buat cewek psycho itu” Rio menyahut dari tempatnya seraya tersenyum simpul.

^^^

Sekarang baru jam pertama pelajaran. Seorang staff sekolah dengan perawakan tinggi-kurus datang ke kelas Agni dengan tiba-tiba. Sebagian besar siswa SMP Ranvas mengenalnya dengan nama Pak Duta. Beliau berjalan ke depan kelas dan berbincang sebentar dengan sang guru. Terlihat keduanya mengangguk dan saling tersenyum.

“Permisi.. Ada yang namanya Agni di sini?” tanya beliau dengan sopan. Matanya beredar keliling kelas.

Agni tersentak. Tak menyangka namanya akan disebut. Akhirnya ia mengangkat tangannya dengan ragu, “Saya Agni, pak. Ada apa?” tanya Agni balik.

“Kamu dipanggil ke Ruang Kepala Sekolah sekarang” balasnya.

Mendadak kelas menjadi riuh dengan bisik-bisik. Agni segera bangkit dari duduknya dan mengikuti staff tersebut ke Ruang Kepala Sekolah. Kelas kembali sepi. Agni sempat ketar-ketir juga. Ia berpikiran bahwa ini ada hubungannya dengan insiden penabrakannya kemarin. Toh, Rio sendiri bilang bahwa ia akan mengirim Agni ke neraka.

Agni sampai di depan Ruang Kepala Sekolah. Ia mengetuk beberapa kali pintunya. Terdengar sahutan dari dalam. Agni segera masuk dan mendapati Kepala Sekolahnya sedang duduk dan tersenyum ke arahnya. Agni membalas senyumannya dan berangsur duduk di hadapan Kepala Sekolahnya tersebut.

“Permisi.. Bapak tadi memanggil saya?”

“Iya.. Saya langsung to the point saja, ya?”

“Iya, pak. Silahkan..”

“Ini.. Ada tawaran beasiswa untuk yang piawai bermain basket. Sekolah khusus basket di Bali. Kamu mau?”

“Kenapa harus saya, pak? Kenapa bukan Alvin? Dia, kan, kapten tim basket putra”

“Tidak bisa, Universitas Ranvas hanya memberikan beasiswa ini untuk siswa putri”

“Oh.. Ini bantuan dari universitas, pak?”

“Iya betul.. Saya harap kamu mau menerimanya”

“Maaf, pak, saya tidak bisa. Saya lebih senang di Jakarta”

“Tidak bisa, Agni. Nama kamu sudah tercantum dalam beasiswa ini. Kamu yang harus berangkat ke Bali”

“Tapi, pak---”

“Tidak ada tapi-tapian. Kamu berangkat sore ini juga ke Bali”

Kepala Sekolahnya mengasurkan sebuah tiket pesawat berjadwalkan sore ini kepada Agni. Agni menerimanya dengan pasrah. Ia tak bisa menolaknya. Universitas Ranvas? Bukankah itu universitas tempat Rio berkuliah?

“Shit! Pasti abangnya Oik yang nyantumin nama gue di sini!” erangnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar