Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 27)

Oik segera memakai sendal berkepala kelinci miliknya dan keluar dari kamarnya. Ia berbelok ke kamar Dea dan mengetuk beberapa kali pintu kamar tesebut. Karena tak kunjung ada jawaban, Oik kembali mengetuk
pintu kamar Dea dengan kerasnya.


“Buka aja! Ga dikunci!” terdengar sahutan dari dalam.

“Ih! Parau amat suaranya?! Lagi molor, nih, pasti si Dea!” gumam Oik.

Oik segera membuka pintu kamar Dea dan melongok ke dalam. Benar saja. Rupanya Dea sedang bergulat dengan selimutnya. Oik geleng-geleng kepala
dan kemudian masuk ke dalam.


“Ehem..” Oik berdehem keras dari bibir ranjang Dea.

Dea segera menurunkan selimut dari wajahnya dan menatap Oik dengan mata yang masih merem-melek, “Apa, Ik? Ngantuk, nih, gue” sahut Dea, ia lalu
bergegas duduk dan mengucek pelan kedua matanya.


“Yeh! Baru, juga, jam segini kok udah tidur?! Gue mau cerita, nih!” ujar Oik dengan bibir yang dimajukan beberapa centi.

Dea menguap lebar, “Mau cerita apa, sih, lo?” tanya Dea dengan sabar.

“Tadi si Cakka nge-BM gue. Katanya, dia lihat Alvin sama Sivia di mall. Berdua!” cerita Oik, Oik menundukkan kepalanya sambil memain-mainkan
ujung pakaiannya.


Dea mengangkat sebelah alisnya dan menaruh kedua tangannya di depan dada, “Alvin sama Sivia? Jalan berdua? Di mall? Sebelumnya, Alvin ga bilang dulu kalau ma jalan sama Sivia?”
tanya Dea beruntun, Oik menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Terus, lo ngerasanya gimana?” tanya Dea, untuk yang kesekian kalinya.

Oik mengangkat bahunya tak mengerti, “Biasa aja”

Dea menghela napas seolah ia tau hasilnya akan begini, “Nah, kan! Harunya, kalau lo itu sayang sama Alvin, lo bakalan ga terima waktu denger Alvin
sama Sivia lagi jalan di mall!”


“Terus gue harus gimana, dong? Ga ngerti, ah, gue!” seru Oik keki.

“Ya diselesaiin sama Alvin, Sivia. Kalau perlu, Cakka juga ikut. Tapi jangan coba sekali-kali ngajak Shilla! Mumpung besok hari Jumat, tuh!
Pulangnya rada awal, kan? Lo ajak mereka nongkrong. Di Starbucks, kek.
Di J.Co, kek. Di mana aja, lah! Yang nyaman. Abis itu, baru lo ajak
ngomong. Bisa? Ngerti?” jelas Dea panjang lebar.


Oik melongo mendengar penjelasan Dea. Panjang banget! Oik hanya mengangguk (sok) mengerti. Dea berdecak kesal, “Ga ngerti, kan?! Ck! Iya deh, besok
gue temenin kalian ngomong!” kata Dea akhirnya.


Oik berlonjak kegirangan dan segera memeluk Dea, “Makasih, Dea!” serunya riang.

Dea melepaskan pelukan Oik pelan-pelan, “Siniin BB lo! Biar gue SMS satu-satu mereka. Besok, kan? Mau di mana? J.Co aja, ya?” Dea
menodongkan tangannya pada Oik.


Oik segera mengambil ponsel BlackBerry miliknya yang ada di saku dan segera mengangsurkannya pada Dea. Dea menerimanya dengan senang hati. Begitu menerimanya, Dea
langsung mengutak-atik ponsel milik Oik tersebut.


“Hmm.. Ngirimnya ke Sivia, Alvin, sama Cakka, kan? Oke!” gumam Dea riang.

To: Sivia, Alvin, Cakka

Guys! Besok ke Senayan, yuk! J.Co, ya! Pulang sekolah! Tenang, gue traktir! ;)

Selesai mengetik pesan singkat tersebut dan mengirimkannya, Dea mengembalikan ponsel dalam genggamannya tersebut kepada pemiliknya, “Nih, Ik! Oh ya,
gue bilang kalau lo bakalan traktir mereka. Ga pa-pa, kan?” tanya Dea,
Oik mengagguk cepat.


“Oke! Gue balik ke kamar dulu, ya! Makasih, De!” pamit Oik.

Oik langsung keluar dari kamar Dea dan kembali ke kamarnya sendiri. Tiba-tiba saja, ketika Oik sedang asyik merebahkan tubuhnya di ranjang,
seseorang mengetuk pintu kamarnya. Oik mendesah kesal dan berjingkat ke
pintu kamarnya.


Begitu ia membuka pintu kamarnya, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi tak suka, “Ngapain lo, kak?” tanya Oik pada manusia di depan kamarnya tersebut.

Manusia tersebut menoyor kepala Oik dan berdecak, “Mau bilang aje kalau besok gue ga bisa jemput lo sama Dea! Mau ada acara di kampus. Oke?” kata manusia
tersebut.


“Ya udah deh sih.. Besok gue juga mau jalan sama anak-anak ke Senayan. Pulangnya bisa naik taxi. Lo udah ngomong sama Dea?” tanya Oik lagi pada manusia tersebut, Rio.

Wajah Rio langsung pias. Ia segera berbalik badan, “Lo aja yang ngasih tau Dea! Gue sibuk! Mau belajar, besok ada kuis di kampus!” teriak Rio seraya
berlari ke kamarnya.


“Dasar lo, kak! Bisa banget bikin alesan!” teriak Oik balik. Sejujurnya, ia sedang menahan ledakan tawanya ketika melihat respons Rio barusan.

^^^

Di saat yang bersamaan, ponsel Sivia dan Alvin bergetar. Keduanya segera mengambil ponselnya dan membuka sebuah pesan singkat yang baru saja
masuk. Sivia terlihat bingung dengan isi SMS Oik. Sedangkan Alvin, ia
terlihat kaget.


Setelah membacanya, keduanya kembali meletakkan ponsel masing-masing dan akan melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terhenti karena masuknya SMS Oik barusan.

“SMS dari Oik?” tanya keduanya bersamaan, sesaat mereka berdua tertawa bersama.

“Kira-kira Oik ngapain, ya, ngajak ke Senayan?” tanya Alvin bingung.

Sivia mengangkat bahunya seraya tersenyum samar, “Mana gue tau. Ya besok lo coba aja buat ngomong sama dia. Soal lo sama dia. Oke?” tawar Sivia,
Alvin mengangguk dan tersenyum padanya.


^^^

Cakka baru saja keluar dari kamar mandinya ketika ponselnya bergetar. Ia segera menuju ranjangnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di
sana. SMS dari Oik. Cepat-cepat ia buka dan baca SMS tersebut.


“Oik ngajak jalan! Yeay!” seru Cakka kegirangan.

Seperti orang gila saja dia. Bayangkan! Hanya mendapat sebuah SMS dari Oik yang berisi ajakan untuk pergi bersama-sama ke salah satu pusat perbelanjaan
saja dia sampai lompat-lomat di atas ranjangnya!


“Cakka! Apa-apan kamu?!” teriak bundanya dari pintu kamarnya.

Cakka tersenyum lebar dan menggeleng perlahan, “Ga apa-apaan, bunda” jawabnya kalem.

“Turun kamu! Bunda ga mau denger kasur kamu rusak cuman gara-gara kayak gini!” seru bundanya dengan kesal.

Cakka kembali tersenyum lebar dan cepat-cepat turun dari kasurnya. Bundanya mengangguk dan keluar dari kamarnya. Setelah memastikan bundanya sudah
tak melihat, Cakka kembali naik ke atas ranjangnya dan kembali
melompat-lompat di atasnya.


^^^

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Siswa-siswi SMP Ranvas segera membereskan buku serta alat tulis masing-masing dan memasukkannya ke dalam tas. Tak
lama kemudian, doa dimulai dan ketika doa selesai, kebanyakan siswa
sudah melesat menuju lapangan parkir sekolah.


“Oik! Jadi, kan?” tanya Cakka dengan mata berbinar-binar.

Oik mengangguk sekilas padanya dan kembali membereskan barang-barangnya. Sivia hanya melihat adegan tersebut dari sudut matanya seraya tersenyum
geli. Tak lama, seorang gadis dengan tubuh bongsornya datang ke kelas
9.5 dan menghampiri Oik.


“Sekarang, Ik?” tanyanya. Oik mengedik padanya dan kembali mengangguk.

“Yo! Mamen! Gue duluan, ya! Mau jalan sama Acha!” pamit Ozy sambil bertos ria dengan Deva, Ray, dan Cakka bergantian.

“Yo! Ati-ati lu!” teriak Deva pada Ozy yang sudah berlari menjauh.

Cakka geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya tersebut, “Makin lengket aja si Ozy sama Acha. Ckck..” gumamnya yang juga diamini oleh
Deva dan Ray.


“Hay, Oik!” sapa seseorang, Oik menoleh padanya dan tersenyum lebar. Seseorang tadi pun mendekat ke Oik dan mengucek pelan puncak kepala gadis manis tersebut, “Kamu berangkat sama
siapa?” tanyanya.


“Numpang mobilnya Sivia aja, sama Dea juga” jawabnya, kini Oik beralih pada Sivia, “Boleh, kan, Siv?” tanya Oik, meminta persetujuan kepada sang empunya kendaraan.

Sivia menggelengkan kepalanya dan tersenyum lucu, “No, no, no.. Dea boleh bareng sama gue. Tapi ga buat lo! Lo sama Alvin aje sono! Boncengan
berdua!” suruh Sivia dengan santainya. Sejujurnya, Sivia sangat berat
mengatakannya.


Sivia pun segera menarik lengan Dea agar mereka cepat-cepat menuju parkiran. Karena tentu saja, menggunakan mobil akan lebih lama sampai ketimbang menggunakan motor. Tepat ketika Sivia
berpapasan dengan Alvin, ia membisikkan sesuatu.


“Jangan sia-siain kesempatan ini! Kalau ntar lo jadi buat ngomong sama dia, berarti sekarang itu kesempatan terakhir lo barengan sama Oik dengan
status pacar!” bisik Sivia, Alvin mengangguk samar.


“Ik! Gue sama Sivia duluan, ya!” pamit Dea. Oik, Alvin, dan Cakka mengangguk serempak.

Dea serta Sivia pun segera berlalu menuju lapangan parkir, “Eh, barengan ke parkiran, ya!” teriak Deva dan Ray. Kedua laki-laki itu segera menyusul
Sivia dan Dea ke parkiran.


“Ik, terus gua berangkatnya gimana?” tanya Cakka dengan polosnya.

Oik berdecak kesal, “Lo, kan, bawa motor! Ya lo pake motor lo aja” ujar Oik dengan keki.

Tiba-tiba saja seorang gadis semampai sudah berada di antara mereka bertiga dan bergelayut manja di lengan Cakka, “Cakk, mau ke mana? Gue boleh ikut,
kan?” tanyanya dengan nada sangat manis.


Cakka memutar bola matanya malas. Ia segera menyingkirkan lengan gadis semampai itu dari lengannya, “Ya mana gue tau! Orang, bukan gue yang punya acara,
tuh!” seru Cakka keki.


“Udah, yuk! Ayo berangkat!” ajak Alvin. Oik dan Cakka pun mengangguk.

Mereka bertiga segera melenggang meninggalkan gadis semampai tadi, Shilla, yang masih berdiri mematung di tempat dengan wajah keras. Terlihat
sekali kalau gadis semampai itu sedang menahan marah.


^^^

Mobil milik Sivia, yang dikemudikan oleh sopirnya, ternyata sedang terjebak lampu merah di sebuah perempatan. Dea dan Sivia duduk bersebelahan di
jog belakang. Sebentar-sebentar, Dea melirik Sivia dari sudut matanya.


Sivia yang merasa rishi dengan ‘lirikan’ Dea pun akhirnya angkat bicara, “Kenapa, sih, lo dari tadi ngelirikin gue mulu?” tanya Sivia dengan
sedikit jengkel.


Dea menghela napas sejenak, “Jujur, deh.. Lo suka Alvin, kan?” tanya Dea balik.

Sivia cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan menatap pemandangan di luar sana dari kaca jendela mobilnya, “Ga” jawabnya dingin.

“Jujur aja sama gue. Gue ga akan marah, kok. Gue cuman pingin tau aja.. Ya?” rayu Dea.

“Bukan urusan lo” timpal Sivia, masih tetap mempertahankan aura dinginnya.

“Ya udah..” gumam Dea, akhirnya ia menyerah untuk membujuk Sivia.

^^^

Kelima muda-mudi tersebut bertemu di depan J.Co dan segera melangkah masuk berbarenga. Mereka memilih tempat yang cozy dan agak ke sudut ruangan.
Sedikit menjaga jarak dengan pengunjung lainnya siang itu.


Mereka berlima segera duduk. Sivia, Dea, dan Oik duduk berseberangan dengan Alvin dan Cakka. Lalu, tiba-tiba saja, Oik berdiri, “Kalian mau pesen
apa? Biar gue yang mesenin” ujarnya.


“J.Cool aja. Toppingnya pakai blueberry” ujar Sivia.

“Mona Pisa sama Choco Forest Freeze” ujar Alvin.

“Why Nut, minumnya sama kayak Alvin” ujar Dea.

“Alcapone, minumnya sama kayak Alvin sama Dea” ujar Cakka.

Oik mengangguk kecil dan bergegas menuju meja pemesanan.  Terlihat ia sedang berbincang denga pramusaji cafĂ© tersebut. Tak beberapa lama,
pesanan mereka semua telah beres dan diletakkan pada dua nampan berbeda.


Oik mengangsurkan sebuah ATM kepada pramusaji tersebut dan menoleh pada keempat sahabatnya di sudut ruangan itu. Terasa sekali aura kecanggungan
di antara mereka, “Harus selesai hari ini” gumam Oik.


Tepat ketika Oik baru saja memasukkan kembali ATM-nya, seseorang telah berdiri di sampingnya dan membawakan salah satu nampan pesanannya, “Biar
gue bantu” ujar suara tersebut.


Oik mengedik padanya dan balas tersenyum, “Makasih, Cakk”

Mereka berdua pun melenggang menuju meja mereka dan meletakkan kedua nampan tadi di atas meja. Cakka dan Oik kembali duduk. Kali ini, Cakka terlihat
bingung dengan pesanan mereka.


“Kenapa, Cakk?” tanya Sivia sambil menyendokki J.Cool miliknya.

“Perasaan gue pesen satu Alcapone, deh. Kok ini ada dua, ya?” tanya Cakka, ia menggarukki bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

Oik merengut kesal, “Yang satu, punya gue!” sungutnya.

“Oh, hehe. Kirain lo beliin gue dua. Gue, kan, suka Alcapone-nya, hehe” sahut Cakka.

“Emang cuman lo aja yang suka Alcapone? Gue juga, kali!” seru Oik tak terima.

Dea baru saja menggigit Why Nut miliknya, “Ssstt!! Ga pakai berantem! Kita bakalan ngobrol serius, nih!” ingatnya, yang lainnya hanya mengangguk
kaku.


“Emang mau ngomong apaan, sih?” tanya Alvin sok santai, tangan kanannya sedang asyik mengaduk Choco Forest Freeze miliknya.

Dea menghela napas panjang ketika Why Nut miliknya telah ludes. Ia memandangi Sivia, Alvin, Oik, dan Cakka bergantian, “Gue mau kalian
nyelesaiin semuanya hari ini” ujarnya santai. Sedangkan keempat objeknya
tengah melotot ke arahnya.


Dea pun menyenggol pelan lengan Oik. Begitu pula Sivia yang menyenggol pelan lengan Alvin, “Oik..” panggil Alvin, Oik yang merasa namanya dipanggil pun menoleh
kepada Alvin.


“Apa, Vin?” tanyanya dengan lembut.

“Errr.. Aku sayang sama kamu” lirih Alvin.

Oik mengangguk mengerti, “Aku tau.. Aku juga sayang sama kamu”

“Tapi beda, Ik! Aku yakin kamu pasti sayang sama aku sebagai sahabat. Iya, kan?” samber Alvin.

Oik menundukkan kepalanya, merasa tak enak, “Iya” jawabnya dengan volume sangat kecil.

“Langsung to the point aja, deh!” seru Dea yang mulai gemas dengan Alvin dan Oik.

Oik melotot tak suka pada Dea. Kini Oik kembali menatap Alvin yang duduk tepat di hadapannya, “Mending kita putus aja, Ik” kata Alvin dengan
ragu-ragu.


Oik menghela napas lega, begitu pula Dea. Sedangkan Sivia, ia menghela napas lega secara diam-diam, “Aku tadi juga mau ngomong kayak gitu” ujar Oik dengan senyum tipis di bibirnya.

Alvin menyodorkan tangan kanannya pada Oik, “Kita masih bisa temenan, kan?” tanyanya.

Oik menerima uluran tangan Alvin dengan senang hati, “Tentu! Mungkin emang lebih baik kayak gini. Gue ga tega juga lama-lama ngobohongin lo” ceplos
Oik.


Alvin pun beranjak dari duduknya, “Oke! Gue duluan, ya!” pamitnya.

Tanpa menunggu jawaban dari sahabat-sahabatnya, Alvin sudah melenggang meninggalkan keempat sahabatnya dan melangkah menuju tempat parkir
dengan hati yang berserakan. Untuk terakhir kalinya, ia menoleh ke
belakang dan mendapati Oik yang sedang tersenyum tak enak padanya.


“Kejar Alvin! Tenangin dia! Gue tau lo sayang sama dia!” suruh Oik pada Sivia.

Sivia masih diam di tempat, “Lo nunggu apa lagi? Gue udah putus sama Alvin! Kejar dia!” suruh Oik lagi. Sivia menoleh pada Oik dan memeluk
sahabatnya itu sekilas. Sivia pun berfiri dan melenggang mengejar Alvin.


“Alvin! Tunggu!” teriak Sivia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar