Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Classmate (Part 5)

Matahari sudah muncul di ufuk timur sedari tadi. Dengan cepat, Cakka berlari keluar dari rumahnya. Kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala. Cakka pun segera menyalakan mesin motornya, “Cakka berangkat ya! Assalamualaikum!” teriaknya. Dalam sekejap, Cakka sudah menghilang dari pandangan kedua orang tuanya. Cakka menjalankan motornya dengan kecepatan penuh. Jam menunjukkan pukul enam lewat lime belas sekarang. Kalau lima belas menit lagi ia belum sampai di sekolah, dapat dipastikan bahwa hari ini ia akan menjalani pembelajaran di ruangan khusus seperti kemarin-kemarin.

SMP Ranvas memang memiliki cara tersendiri untuk menghukum para siswanya yang terlambat datang. Kalau sebelumnya siswa yang terlambat datang akan disuruh pulang, kali ini berbeda. Mereka-mereka yang terlambat datang akan dikarantina di ruangan khusus. Mereka akan berada di sana sampai bel pulang berdering. Mereka tetap akan menjalani pembelajaran, tapi dengan cara lain. Setiap bel pergantian pelajaran berbunyi, mereka-mereka yang terlambat akan datang ke kelas masing-masing sambil membawa selembar kertas. Mereka kemudian menanyakan tugas apa saja yang guru mata pelajaran tersebut berikan serta meminta tanda tangan beliau. Setelah itu, mereka kembali ke ruangan khusus tersebut dan mengerjakan tugasnya. Begitu terus sampai bel pulang berbunyi. Penjaga ruangan khusus tersebut pun tidak memperbolehkan mereka-mereka yang terlambar ke luar ruangan ketika jam istirahat tiba.

Enam lewat dua puluh lima. Cakka bisa menghela napas lega. Ia baru saja sampai di sekolahnya. Ia pun memarkirkan motornya dan berjalan ke arah ruang kelasnya. Sekolah sudah ramai rupanya. Ketika ia melewati koridor 9.8, ia melihat Agni di depan pintu kelas. Agni melambai riang ke arahnya, Cakka balas tersenyum. Agni pun berjalan menghampiri Cakka dan bergelayut manja di lengannya. Cakka tersenyum masam. Cakka dan Agni berjalan ke kelas Cakka, 9.5 dengan tetap bergandengan. Cakka menelan ludah ketika ia menyadari Agni masih menggamit lengannya sedangkan mereka telah sampai di kelas Cakka. Cakka berusaha melepas tangan Agni dari lengannya, gagal. Agni tetap memaksa untuk terus menggamit lengannya. Cakka berdecak kesal.

Dengan langkah berat, Cakka memasukki kelasnya, masih dengan lengannya yang digamit oleh Agni. Agni menebarkan senyumnya ke arah seluruh penjuru 9.5, Cakka pun segera berlalu ke arah bangkunya. Sepasang bola mata bening yang sedang sibuk dengan PR yang belum sempat ia kerjakan di rumah, memandang Cakka dan Agni dengan miris. Rupanya kejadian kemarin cuman angin lalu ya, Cakk, buat lo, gumam sang pemilik bola mata bening tersebut. Sang pemilik bola mata bening tersebut segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah setumpuk buku di hadapannya ketika Cakka menatapnya lekat. Cakka makin kesal saja dengan Agni. Agni sendiri, masih asyik duduk di bangku sebelah Cakka yang notabenenya adalah bangku Ozy. Terang saja Agni duduk santai di sana, Ozy ternyata sedang mengerjakan PR pula bersama sang pemilik bola mata bening tadi. Cakka berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya.

Agni mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru 9.5 dan kemudian mengangguk mengerti, “Cakka, Shilla ga masuk ya?” tanyanya semangat. Cakka menanggapinya dengan ogah-ogahan. Cakka pun mengedarkan pandangannya, persis seperti yang Agni lakukan barusan. Dahi Cakka berkerut heran. Tumben saja Shilla tak masuk tanpa mengabarinya sebelumnya. Padahal biasanya, Shilla selalu mengabarinya ketika gadis cantik tersebut tidak masuk sekolah keesokan harinya. Cakka menjawab pertanyaan Agni dengan anggukan malas, Agni melengos kesal. Gadis manis itu kembali mengedarkan pandangannya. Pandangannya tertuju pada seorang gadis mungil yang duduk selisih satu bangku di depan Cakka, Oik. Agni memutar bola matanya malas, “Ah, tapi biarin deh. Kalo dia ga lagi ngerjain PR bareng Ozy pasti Cakka bakalan nyamperin dia dan ngacangin gue” gumamnya. Cakka sempat mendengar gumaman Agni barusan. Ingin rasanya ia mengusir Agni jauh-jauh darinya. Rupanya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Bel berdering, terpaksa Agni kembali ke kelasnya.

Bu Ira masuk ke kelas 9.5 dengan menenteng sebuah buku bacaan di tangan kanannya. Beliau pun duduk di kursi guru. Deva, sang ketua kelas, segera memberi aba-aba temannya agar memberi salam kepada beliau, “Selamat pagi, bu!” koor mereka semua. Ozy sudah kembali ke bangkunya. Sivia pun sudah kembali duduk di samping Oik. Untuk tiga puluh menit kedepan memang belum ada pelajaran. SMP Ranvas memiliki sebuah tradisi. Setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis, seluruh siswa diperintahkan untuk membawa sebuah buku bacaan dan membacanya pada tiga puluh menit awal. Dan jika ada yang tidak membawa dan kebetulan sedang dijaga oleh guru yang disiplin, mereka-mereka yang tidak membawa akan digiring ke Ruang BP dan akan dicatat namanya serta poinnya dikurangi.

Kebetulan, Bu Ira adalah seorang guru yang disiplin. Beliau berjalan mengitari kelas untuk memeriksa siapa-siapa saja yang tidak membawa buku bacaan. Beberapa siswa tersebut disuruhnya terlebih dahulu untuk maju ke depan kelas. Lumayan banyak. Gabriel, Sivia, Oik, Ozy, Ray, Cakka, Angel, dan Deva. Sang ketua kelas pun ternyata juga tak membawa buku bacaan. Bu Ira masih asyik memelototi mereka berdelapan yang sedang berdiri di depan kelas, “Kenapa kalian tak membawa buku bacaan?” tanyanya tegas. Mereka berdelapan menelan ludah. Bu Ira kembali mengajukan pertanyaan, “Lupa?” tanyanya. Semuanya mengangguk bersamaan. Bu Ira mendecakkan lidahnya, “Penyakit remaja” desisnya. Beliau pun segera menggiring mereka menuju Ruang BP. Siswa-siwa yang berada di kelas, yang membawa buku bacaan, menghela napas lega. Beberapa dari mereka bahkan saling bisik, membicarakan bagaimana nasib mereka berdelapan yang tidak membawa buku bacaan.

^^^

Bel pertanda budaya baca telah selesai berdering. Para siswa pun segera memasukkan buku bacaan masing-masing dan menggantikannya dengan buku mata pelajaran pertama mereka hari ini. Gabriel, Sivia, Oik, Ozy, Ray, Cakka, Angel, dan Deva pun baru saja kembali dari Ruang BP. Gabriel masih saja dengan gaya sok cool, Sivia dengan tampang lesunya, Oik dengan wajah kesalnya, Ozy dengan headset yang masih setia menempel di telinganya, Ray dengan wajah lucunya, Cakka dengan mood-nya yang langsung down, dan dengan Angel yang terlihat santai-santai saja. Mereka berdelapan memasukki kelas bersamaan. Ada yang beda kali ini. Gabriel menatap tajam ke arah Oik dan Cakka! Oik dan Cakka yang merasa sedang ditatap tajam oleh seseorang pun berusaha tak memikirkannya dan membuang perasaan tak enak tersebut jauh-jauh. Mereka berdelapan segera duduk di bangku masing-masing karena Pak Duta sudah datang. Beliau merupakan guru mata pelajaran Biologi.


Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Dengan santai, Pak Duta berdiri dan membagikan selembar kertas soal kepada seluruh siswa. Mereka semua memucat seketika. Ulangan dadakan! Setelah selesai membagikan kertas soal, Pak Duta pun kembali duduk di kursinya dan mengamati seluruh siswanya yang masih diam mematung, “Kenapa kalian masih diam? Ayo kerjakan! Ini sebagai nilai Ulangan Harian kedua! Waktu hanya empat puluh menit!” serunya. Kelas menjadi ramai seketika. Seluruh penghuni 9.5 segera mengeluarkan kotak pensil dan kertas ulangan masing-masing. Mereka mengerjakan ulangan dalam diam. Kasihan Shilla, pasti dia ikut ulangan susulan di Ruang Guru, batin mereka semua.

^^^


Bel istirahat telah berbunyi. Para siswa 9.5 semakin frustasi saja. Soal ulangan kali ini memang sangat susah! Pak Duta sudah beranjak dari kursinya dan hendak kembali ke Ruang Guru. Seluruh siswa 9.5 pun mengumpulkan kertas ulangan masing-masing dengan pasrah. Bagaimana tidak? Seratus soal isian haru selesai dalam waktu empat puluh menit! Bisa gila mereka! Tak mau berlama-lama larut dalam frustasi, seluruhnya pun segera ngacir menuju surganya sekolah, kantin. Kebetulan kantin sedang sepi. Pasti para siswa kelas lain masih ada tambahan di kelasnya. Akhirnya, siswa-siswi 9.5 pun seolah ‘menguasai’ kantin. Oik, Sivia, Deva, dan Ray sudah duduk manis di salah satu bangku kantin yang lumayan nyaman. Mereka berempat memang sudah seperti saudara, ke mana-mana bersama. Cakka, Ozy, dan Gabriel juga sudah duduk manis di bangku kantin yang terbilang jauh dari tempat Oik, Sivia, Deva, dan Ray.

Cakka sesekali melirik ke arah Oik, Sivia, Deva, dan Ray. Sesekali pula, pandangan Cakka dan Oik bertemu. Oik pun segera memalingkan wajahnya menuju Deva dan Ray. Cakka jadi bingung sendiri. Ozy hanya geleng-geleng kepala saja melihat sahabatnya hanya bisa saling lirik dengan Oik. Sedangkan Gabriel, ia baru saja datang dengan membawa tiga mangkuk soto dan tiga gelas es teh. Gabriel menyodorkannya pada Cakka dan Ozy. Cakka dan Ozy tersenyum membalasnya. Gabriel pun duduk menghadap Cakka dan Ozy tetapi ia masih bisa melihat ke arah Oik. Gabriel segera mengalihkan pembicaraan, “Eh Cakka, lo ngeliatin cewek gue?” todong Gabriel.

Cakka terpaku sesaat, “Maksudnya? Sivia? Bukan kok!” elak Cakka. Gabriel berdecak kesal seraya menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Cewek lo bukan Sivia? Terus?” tanya Cakka. Gabriel hanya mengedikkan bahunya ke arah gadis mungil di sebelah Sivia. Cakka dan Ozy terbelalak kaget. Sangking kagetnya, Ozy sampai menyemburkan makanan dalam mulutnya ke arah Gabriel. Gabriel kembali berdecak dan cepat-cepat mengusap sisa-sisa makanan Ozy di wajahny dengan tissue, “Maksudnya? Cewek lo? Dia? Oik?” tanya Cakka dengan suara tertahan. Gabriel tak menjawab pertanyaan Cakka dengan sepatah kata pun, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan semangat. Bahu Cakka terkulai lemas.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Gabriel pun mengeluarkan ponselnya. Cakka dan Ozy saling pandang bingung, “Kalian ga percaya kan kalo gue udah jadian sama Oik?” tanyanya. Seolah linglung, Cakka dan Ozy menganggukkan kepalanya bersamaan, “Nih, kalian baca aja.. Itu chat gue sama Oik kemarin” jelasnya. Gabriel pun mengangsurkan ponselnya pada Cakka dan Ozy. Dengan teliti, bola mata mereka berdua menyusuri setiap huruf yang tertera di sana. Beberapa kali Cakka menghela napasnya dengan berat. Cakka mengakhiri sesi membaca chat Gabriel dengan Oik tadi seraya tersenyum miris. Cakka kembali melirik ke arah Oik, tepat saat Oik meliriknya pula. Oik pun sudah bersusah payah untuk memberikan senyum manisnya pada Cakka. Tapi Cakka sama sekali tak menggubrisnya. Tak sengaja Acha lewat di dekat mereka, “Acha! Sini!” panggil Cakka. Acha kontan menoleh ke arah Cakka. Dengan senyum mengembang, ia menghapiri Cakka dan duduk di sebelahnya.

“Cha, gue laper nih.. Suapin dong!” pinta Cakka, dengan terpaksa. Acha pun menyuapinya dengan senang hati. Oik melihat adegan tersebut dari sudut matanya. Susah payah ia menyembunyikan butiran kristal yang hampir luruh itu dibalik kaca mata minusnya. Deva dan Ray yang tak sengaja melihat Cakka sedang suap-suapan dengan Acha langsung berseloroh, “Woy! Kalo pacaran jangan di sini!” teriak mereka berdua. Acha mesam-mesem saja. Cakka pun mengalihkan pandangannya, tak kuat melihat mata bening itu yang kini berair. Oik pun segera melahap habis makanannya dan segera kembali ke kelas. Ketika ia sedang melewati tempat Cakka dkk, ia mempercepat langkahnya. Sebuah pertanyaan muncul di kepala Ozy, “Kalo Gabriel sama Oik udah pacaran, kok Oik ga nyapa Gabriel sih?” gumamnya, untung saja Gabriel tak mendengarnya.

^^^

Cakka baru saja tiba di rumahnya. Ia segera berlari ke arah kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Cukup lama ia tatap langit-langit kamarnya. Sampai akhirnya, ia segera berganti pakaian dan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Dengan cepat ia ambil laptop dan menyalakannya. Ia pun segera menghubungkan laptopnya tersebut dengan jaringan internet melalui modemnya. Tak lama ia sudah terhubung dengan jaringan internet. Cakka pun membuka web browser dan membuka salah satu situs jejaring sosial serta log in dengan akunnya. Matanya sudah menyusuri nama setiap temannya yang sedang online juga. Pandangannya terantuk pada sebuah akun dengan nama Oik Cahya Ramadlani.


Cakka Kawekas Nuraga: Halo ceweknya sobat gue :p
Oik Cahya Ramadlani:
Salah greet ya lo? -_-
Cakka Kawekas Nuraga:
Apaan sih? Ya ga dong!
Oik Cahya Ramadlani:
Abis ngelantur amat omongan lo!
Cakka Kawekas Nuraga:
Ngelantur apanya?
Oik Cahya Ramadlani:
Ya itu, ‘cceweknya sobat gue’
Cakka Kawekas Nuraga:
Lah? Kan emang bener!
Oik Cahya Ramadlani:
Salah! Lo kira gue ceweknya Ozy?! -.- Cakka Kawekas Nuraga: Bukan Ozy! Sok ga tau deh lo~
Oik Cahya Ramadlani:
Beneran deh, gue single cuy!
Cakka Kawekas Nuraga:
Boong ah lo.. Orang Gabriel yang bilang
Oik Cahya Ramadlani:
Gabriel bilang kalo gue ceweknya dia?
Cakka Kawekas Nuraga:
Iya dong.. Kalian emang jadian kan? --a
Oik Cahya Ramadlani:
Ga! Boong! Sobat lo bullshit!

Cakka pun segera mematikan laptopnya dan mengembalikannya ke tempat semula. Perasaannya campur aduk sekarang. Sedih karena ingat kalau Gabriel adalah pacar Oik, senang karena Oik tak mengakui hubungannya dengan Gabriel, dan bingung karena keduanya tampak tak akrab. Karena malas di rumah sendirian, Cakka pun memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan sebentar. Sekedar jalan-jalan ke taman kompleksnya. Kebetulan taman juga sedang sepi. Tak ada seorangpun di sana. Cakka merasa nyaman dengan sepinya taman ini. Ia segera duduk di bangku taman dan mengeluarkan ponselnya. Tiba-tiba saja, ponselnya bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari Shilla. Segera ia angkat panggilan dari gadis cantik tersebut.

***ONTHEPHONE:CAKKA-SHILLA***

C    : “Ya, kenapa, Shill?”
S    : “Kok kayak ogah-ogahan gitu sih?”
C    : “Ga deh, biasa aja ini”
S    : “Oh.. Tadi sekolah gimana?”
C    : “Ada ulangan biologi.. ”
S    : “Yah.. Gue susulan dong?”
C    : “Iya, mau gimana lagi lo?”
S    : “Ah, lo ga kesian ama ayang lo ini?”
C    : “Ayang? Apaan sih lo!”
S    : “Ah, sok ga mau lo ama gue”
C    : “Udah deh, ga minta bercanda gue!”
S    : “Ya udah deh sih, ga pake bantak juga”
C    : “Ya lo ga usah gitu juga ama gue!”
S    : “Ya deh, maap ah. Lo sensi amat, kenape?”
C    : “Oik jadian ama Gabriel”
S    : “Nah terus?”
C    : “Ga papa.. Udahan, gue tutup ya!”

***ONTHEPHONE:END***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar