Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

He Is My Destiny (2 of 4)


Seharian itu Via tetap berada di taman dekat lapangan basket bersama Alvin. Alvin pun membiarkan Via menangis di bahunya. Entah sudah beraba banyak air mata Via yang terus menetes di bahu Alvin. Sesekali, Via menghapus luruhan air matanya itu dengan sapu tangan milik Alvin. Dan sesekali, Alvin mengusap-usap lembut punggung Via dengan maksud memberikan ketenangan pada gadis berwajah oriental di sampingnya itu. Masalah pernyataan bahwa Alvin menyayangi Via dan begitu pula sebaliknya? Mereka jadian? Belum mungkin. Karena tadi hanyalah pernyataan dari Alvin, bukan pertanyaan. Dan luckily, Via juga menyayanginya.

“Kak, sekarang jam berapa sih?” tanya Via, agak mendongakka kepalanya karena Alvin memang lebih tinggi darinya.

Sekilas Alvin melirik jam tangan berwarna putih yang terpasang di tangan kirinya, “Jam 13.45, Vi. Kenapa emangnya?” tanya Alvin.

“Ga sih.. Kita udah ngelewatin empat mata pelajaran berarti” gumam Via.

“Ya udahlah, ntar kamu pinjem bukunya Oik aja” saran Alvin. Oops, kamu? Sejak kapan ia berani memakai aku-kamu pada Via? It’s the first time.

Jam tangan milik Alvin menunjukkan pukul satu siang ketika terdengar bel berbunyi sebanyak empat kali. Bel pulang. Baru saja Via akan bangkit dari duduknya, Alvin sudah menahan lengannya terlebih dahulu. Memberinya instruksi agar duduk kembali di sampingnya. Via hanya tersenyum samar dan kembali duduk di tempatnya semula. Untuk sesaat mereka berdua saling diam. Sampai akhirnya, terdengar suara derap langkah beberapa orang yang seakan mendekat ke arah mereka. Via dan Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut taman, mencari asal suara tadi.

“Via, kok lo ga masuk kelas sih?” tanya Oik yang sekarang sudah berada di depan Via. Cakka berada di belakangnya, membawakan tasnya dan beberapa barang bawaan Oik lainnya. Sedangkan Oik sendiri, ia membawa tas dan beberapa barang bawaan Via.

“Ehehe.. Makasih” ucap Via sambil menerima barangnya yang telah dibawakan oleh Oik, “Ga papa sih. Pengen di sini aja” jawab Via sambil cengengesan.

“Udah yuk Ik, pulang aja” ajak Cakka, ia menarik-narik pelan lengan Oik.

Oik mendengus kesal. Childish banget sih nih cowok, batinnya. Ia melengos pada Via, “Via, gue pulang dulu ya. Nih bocah satu udah ngerengek minta pulang soalnya” pamit Oik, sekilas melirik Cakka ketika mengucapkan ‘Nih bocah satu’. Via mengangguk. Oik dan Cakka berlalu pergi dari hadapan Via dan Alvin. Kini, Via dan Alvin kembali berdua di taman dekat lapangan basket. Alvin bangkit dari duduknya dan berjalan santai ke arah lapangan basket yang terbilang dekat dengan tempatnya dan Via duduk tadi.

“Kak, Kak Alvin mau ke mana?” tanya Via, setengah berteriak.

Dari kejauhan, Alvin membalikkan badannya, menghadap ke arah Via sambil tersenyum dengan manisnya, “Mau main basket, kenapa? Mau ikutan?” tanya Alvin. Belum sempat Via menjawab pertanyaannya, Alvin sudah berjalan kembali menuju lapangan basket dan mengambil sebuah bola basket yang tergeketak di pinggir lapangan.

Via mengangguk semangat dan segera menyusul Alvin menuju lapangan basket. Ia dan Alvin berhadap-hadapan di lapangan basket. Keduanya menyunggingkan senyuman masing-masing. Alvin segera mendribble bola dan membuat lay-up manis. Via merebut bola tersebut. Baru saja ia akan men-shoot bola tersebut ke dalam ring, datang dua makhluk tak diundang yang menyusul ia dan Alvin. Kedua makhluk tersebut tersenyum lebar melihat Alvin dan Via.

“Ngapain lo berdua?” tanya Alvin cuek.

“Kok balik lagi? Katanya tadi mau pulang aja?” sindir Via, ia kembali fokus dan men-shoot bolanya ke dalam ring. Sayangnya, lemparan bolanya terlalu pelan. Bola tersebut malah melenceng dan mendarat di kepala salah satu dari dua makhluk tak diundang barusan.

“Adaaaawww!!” teriaknya, ia memegangi kepalanya yang sedikit benjol karena bola Via.

“Oik! Sorry sorry, gue ga sengaja.. ” kata Via. Ia segera menghampiri makhluk itu –yang ternyata sahabatnya beserta pacarnya- dan melihat benjolan di kepala gadis mungil itu, “Yah Ik, benjol tuh. Rada merah pula. Gimana dong?” tanya Via, nada suaranya terdengar sangat panik. Kalang-kabut ia mengobrak-abrik tasnya untuk mencari sesuatu yang dapat sedikit menyembuhkan benjolan sahabatnya itu.

Setelah membongkar tasnya cukup lama, Via menemukan sepack tissue. Segera ia menghampiri Oik, “Nih, Ik, tissuenya” katanya, tanpa melihat Oik.

“Eh ga usah, makasih” tolak Oik halus.

Via segera mengangkat kepalanya dan mendapati tangan Cakka sedang mengompres benjolan kepala Oik dengan es batu, “Ish, Cakka! Bilang dari tadi kek kalo lo udah nemuin sesuatu yang bisa rada nyembuhin benjolan cewek lo tersayang” desis Via kesal.

“Idih, salah lo sendiri dong. Lo kayak ga tau gue aja. Gue, kan, sedia setiap saat buat peri kecil gue” cibir Cakka sambil menjulurkan lidahnya pada Via, mengejeknya.

“Ehehe.. Sorry ya, Vi. Gue juga ga tau kalo si Cakka bawa es batu” sahut Oik.

Via menghela berat napasnya dan menaruh sepack tissuenya tadi di saku roknya. Alvin kembali mendribble bola. Cakka mulai ikut dalam permainan. Berusaha merebut bola dari Alvin. Men-shoot dan.. Masuk! Oik bersorak heboh dari pinggir lapangan. Via tersenyum melihat Alvin. Via pun mulai ikut dalam permainan. Disusul Oik. Walaupun Via dan Oik masih mengenakan rok seragam mereka, mreka berdua tetap bermain dengan lincah. Cakka-Oik vs Alvin-Via. Setelah permainan berlangsung sekitar dua puluh menit, mereka memutuskan untuk mengakhirinya. Skor seri. Cakka dan Oik segera duduk di bangku tempat mereka meletakkan tasnya. Alvin dan Via duduk di tengah-tengah lapangan basket. Tangan kanan Alvin masih memutar-mutar bola basket tersebut.

Via segera bangkit dari duduknya dan mengambil botol air mineral yang berada di dalam tasnya. Tinggal setengahnya memang. Dari pada Kak Alvin ga minum apa-apa, pikirnya. Setelah mengambil sebotol air mineral tadi, Via kembali ke posisinya semula, di sebelah Alvin. Via menyodorkan air mineral tadi. Alvin menyambutnya dengan senyum tulus. Via sempat membeku melihat Alvin tersenyum. Alvin jarang sekali tersenyum. Apa lagi pada perempuan. Wow..

“Vi, pulang sama siapa?” tanya Oik. Oik sendiri masih ribet dengan Cakka. Cakka memintanya untuk mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Alvin dan Via menelan ludah melihat perilaku manja Cakka.

Sejenak, Via melihat Alvin. Alvin menganggukkan kepalanya. Pandangan Via beralih pada Oik, “Gue sama Kak Alvin kok” jawabnya, “Males banget kalo kudu bareng sama lo dan Cakka. Bisa jadi obat nyamuk gue!” lanjutnya. Di benaknya, terbayang kembali saat ia menumpang mobil Cakka ketika pulang sekolah. Ia duduk di belakang. Dan tentunya, Oik duduk di depan, bersama Cakka. Sepnjang berjalanan saat itu, Cakka dan Oik terus saja mengobrol tanpa menghiraukan Via. Via jadi kesal sendiri. Dan sekarang, Via suka tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian itu. Salah gue sih, ngapain juga nebeng orang pacaran, batinnya.

“Idih, suka-suka dong. Gue kan emang pacarnya Oik.. ” sahut Cakka, “Beda sama lo. Kalo ntaran Oik pulang bareng lo dan Kak Alvin, baru itu aneh. Kalian berdua belom pacaran tapi udah berasa pacaran” cibir Cakka. Dengan santai, ia menggenggam lembut tangan Oik dan mengajaknya pulang. Meninggalkan Via dan Alvin di lapangan basket yang masih memikirkan omongan Cakka barusan.. Kalian berdua belom pacaran tapi udah berasa pacaran.. Dibuangnya jauh-jauh perkataan Cakka tadi dari pikiran mereka berdua. Mereka teman dan mungkin tidak akan menjadi ‘teman’.

Alvin bangkit dari duduknya. Melenggang meninggalkan lapangan basket. Dengan cepat, Via mengambil tasnya dan mengikuti Alvin dari belakang. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Alvin. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mensejajarkan langkahnya dengn langkah Alvin. Alvin berbelok menuju kelasnya. Menyuruh Via menunggu di depan kelasnya sebentar. Dengan sigap, Alvin membereskan buku-bukunya dan memasukkannya menuju tasnya. Setelah itu, ia kembali keluar kelas. Berjalan berdampingan dengan Via menuju ke lapangan parkir, tempat ia memarkirkan motornya.

^^^

Setelah sampai di rumah Via, Via segera turun dari boncengan motor Alvin dan mengembalikan helm milik Alvin yang ia pinjam sebelumnya. Via sekilas melirik ke arah jendela rumahnya. Terlihat siluet seorang wanita di sana. Wanita yang berdiri mematung dan melihat ke arahnya. Via kembali memalingkan wajahnya, kembali menatap Alvin. Alvin sendiri sedang melihatnya dengan wajah bingung. Melihatnya dan siluet di jendela rumah Via bergantian. Bukannya mamanya Via ada di Amerika ya? Batin Alvin.

“Oh, dia tante aku” sela Via, seakan mengerti isi kepala Alvin.

“Oh.. Oke, besok mau berangkat bareng?” tawar Alvin, kali ini dengan menatap lurus Via.

“Boleh. Jam enam ya!” jawab Via.

Alvin segera menyalakan mesin motornya dan perlahan-lahan meninggalkan Via yang masih mematung memandangi punggungnya sampai tak terlihat lagi. Via menhela napas sebentar sebelum akhirnya ia memasukki rumahnya. Langit sudah mulai gelap. Matahari pun sudah kembali ke peraduannya. Digantikan oleh bulan yang terlihat bersinar di antara benda langit yang lainnya. Via melirik pada jam tangannya. Sudah pukul 18.12, biasanya ia pulang pukul 15.30. Oke, mungkin tantenya akan memarahinya kali ini. Salah gue sini sih, batinnya. Dengan berat hati, ia membuka pintu rumahnya.

Tantenya sudah menungguinya sejak tadi. Duduk di sofa dekat jendela sambil memasang wajah murka. Baru saja Via akan menyalami tangannya, sudah ia kibaskan lebih dulu tanggannya, tak mau Via menyentuhnya. Tantenya langsung bangkit dan berkacak pinggang tepat di depan Via. Via belum menyiapkan mentalnya soal ini. Karena memang baru kali ini ia pulang lebih lama dari biasanya. Via hanya menundukkan kepalanya dan meremas-remas tasnya. Menyerukan nama omnya dalam hati. Sayangnya, omnya belum pulang kerja. Siapa lagi yang bisa nyelametin gue dari omelan tante kecuali om?! Batinnya.

“Dari mana saja kamu, Via?” tanya tantenya dengan menahan luapan emosinya.

“Dari sekolah, tante” jawab Via lirih, tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Pulang bareng siapa tadi?” tantenya bertanya dengan nada tinggi, membentak tepatnya.

“Sama.. Sama Kak Alvin” jawab Via sekenanya.

“Mau jadi apa kamu, hah?! Pulang jam segini bareng cowok?! Mau bilang apa tante sama para tetangga kalo mereka nanya soal kamu?! Bilang kamu baru pulang sekolah? Semalam ini? Mereka pasti berpikiran buruk tentang kamu, Sivia!!” maki tantenya. Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Via. Tantenya pun, masih memandanginya dengan sinis.

Via segera menghapus air mata yang baru akan luruh tersebut dan berlari ke lantai atas, menuju kamarnya. Menutup kamarnya dengan keras. Tantenya sempat terlonjak kaget mendengar Via menutup pintu sekeras itu. Tak menunggu lama, Via segera mengepak barang-barangnya dalam sebuah koper. Setelah itu, ia kembali keluar dari kamarnya dan mengendap-endap keluar dari rumahnya. Untung saja tantenya sudah kembali ke kamar. Ia keluar rumah dan berjalan menuju jalan raya yang tak jauh dari sana. Menyetop sebuah taxi dan menyebutkan sebuah alamat. Meninggalkan tantenya sendirian di rumah tanpa berpamitan.

^^^

Tok tok tok.. Via mengetuk pintu rumah bergaya minimalis itu. Tak ada jawaban. Ia mengetuknya sekali lagi. Terdengar sahutan dari dalam. Tak lama, keluarlah seorang wanita paruh baya dengan sunggingan senyumnya, “Cari siapa ya, Non?” tanyanya.

“Oiknya ada?” tanya Via balik.

“Ada, lagi di kamarnya. Saya panggilkan sebentar ya.. Masuk dulu, Non” kata orang tersebut. Pembantu di keluarga Oik. Oik? Ya, Via datang ke rumah Oik malam ini. Via segera masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Membawa serta kopernya. Bibi langsung masuk ke dalam dan menuju lantai atas untuk memanggil Oik. Kemudian, Oik turun dengan mengenakan gaun tidurnya. Setelah melihat Via, Oik segera mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Via yang sedang duduk di sofanya.

“Oik, sorry ya gue ganggu” kata Via dengan suara bergetar.

Oik langsung memeluknya dari samping. Menyadari satu hal. Via membawa koper yang penuh dengan barang-barangnya, “Oke, gue ngerti. Ngomongin di kamar gue aja ya” saran Oik, ia menarik Via menuju kamarnya.

Mereka berdua memasukki kamar Oik. Oik meletakkan koper Via di sudut kamarnya. Mereka berdua duduk di atas kasur Oik. Via masih menundukkan kepalanya. Perlahan, Oik mengangkat dagu Via dengan telunjuknya. Tersenyum pada sahabatnya itu. Via membalasnya dengan.. Senyum sedih, “Lo kenapa? Cerita aja sama gue.. ” bujuk Oik.

Via menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Oik tersenyum miris mendengar penuturan Via. Keterlaluan banget sih tantenya, batin Oik. Oik segera mengambil tissue dan mengangsurkannya pada Via. Via menggumamkan terima kasih dan mengelap air matanya yang kembali berjatuhan, “Udah, lo telpon Kak Alvin aja. Suruh dia jemput lo di sini. Mungkin Kak Alvin belom tidur” saran Oik.

Via mengangguk. Baru saja ia akan menelpon Alvin, ia urungkan niatnya. Takut mengganggu Alvin jika ia sedang tertidur. Akhirnya, ia memutuskan untuk meng-SMS Alvin saja. Setelah itu, ia segera merebahkan tubuhnya di sebelah Oik. Mereka berdua tertidur pulas malam itu. Via tak tau bahwa di rumah, tantenya kelimpungan mencarinya.

^^^

“Vi, sarapan dulu yuk.. ” ajak Oik pagi itu. Mereka baru saja selesai membereskan perlengkapan sekolahnya. Sudah mandi tentunya. Via mengangguk dan mengikuti Oik ke bawah dengan membawa tasnya, begitupula Oik.

Ruang makan Oik terlihat sepi sekali pagi itu. Hanya ada Via dan Oik. Karena memang, orang tua Oik masih berada di Salatiga. Mereka berdua segera duduk dan memakan sarapan mereka pagi itu. Roti tawar beroleskan selai. Via dengan selai strawberry dan Oik dengan selai cokelat. Mereka sarapan dengan santai pagi ini. Jam masih menunjukkan pukul 06.01 ketika terdengar deru suara mobil memasukki pekarangan rumah Oik. Tak lama setelah itu, muncullah seorang laki-laki dengan senyum mengembang. Dan senyumnya langsung pudar begitu melihat Via ada di depan Oik.

“Hay! Duduk sini! Pasti belom sarapan, kan? Sarapan bareng yuk.. ” celoteh Oik.

Orang itu pun segera duduk di sebelah Oik sambil menatap Via dengan sinisnya. Via pun menatap dia dengan sinis. Oik mengambilkan selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai cokelat. Mengangsurkannya pada laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menerimanya dengan senyum mengembang. Setelah itu, ia kembali menatap Via dengan sinis. Oik yang baru menyadari hal itu hanya geleng-geleng kepala. Melihat sahabat dan.. Pacarnya main pelototan.

“Ik, kok dia bisa ada di rumah kamu sih?” tanya Cakka, laki-laki tersebut.

“Bukan urusan lo!” sahut Via dengan juteknya, mengalihkan pandangannya dari Cakka.

“Dia nginep sini. Kenapa emangnya?” tanya Oik balik.

“Ga papa sih. Terus, dia berangkat sama siapa?” tanya Cakka dengan mulut penuh roti.

“Sama Kak Alvin! Ogah gue bareng lo!” sela Via.

“Idih, gue juga ogah ngasih lo tumpangan!” balas Cakka.

“Udah udah.. Cak, udah selesai makannya? Mau berangkat sekarang?” lerai Oik.

“Oke, yuk” Cakka bangkit dari duduknya dan menggandeng Oik keluar rumah.

“Gue gimana woy?!” teriak Via, mengikuti mereka dari belakang.

“Tuh, Kak Alvin kan udah dateng” jawab Oik seraya mengedikkan dahunya ke arah seorang laki-laki dengan motornya, tepat di depan rumah Oik.

Via tersenyum senang mendapati Alvin sudah ada di sana. Yeay, gue ga jadi kambing congeknya Cakka ama Oik lagi, teriaknya dalam hati. Ia segera menghambur menuju Alvin. Alvin menyerahkan helm dan Via segera memakainya. Mereka berdua melesat meninggalkan rumah Oik. Oik dan Cakka menaikki mobil Cakka, tepat di belakang motor Alvin. Oik tersenyum geli melihat Alvin dan Via.

^^^

Via dan Alvin baru saja memasukki gerbang sekolah. Alvin segera memarkirkan motornya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. Alvin berniat untuk mengantar Via terlebih dahulu ke kelasnya. Sekaligus ingin mengetahui siapa yang telah lancang membaca diary milik Via. Deva, Ray, Ozy. Alvin hanya tau nama mereka. Gampanglah, kan pada pake ID card, batinnya. Di jalan menuju kelas, mereka berdua berpapasan dengan Cakka dan Oik. Kelas Cakka hanya berjarak dua kelas dari kelas Oik. Oik dan Via di 11 IPA 5, sedankan Cakka di 11 IPA 2. Alvin? 12 IPS 1. Alvin memang tidak terlalu menyukai pelajaran IPA.

Ketika sampai di depan kelas Via, Alvin pun ikut masuk ke dalamnya. Menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Di salah satu bangku, terlihat tiga laki-laki sedang membicarakan sesuatu. Dari ID card, Alvin mengetahui bahwa merekalah yang membaca diary Via dengan lancangnya. Ahmad Fauzy Adriansyah, Muhammad Raynald Prasetya, dan Anak Agung Ngurah Deva Ekada Saputra. Buset, itu nama apa gerbong kereta?! Batin Alvin ketika membawa nama lengkap Deva.

Alvin sendiri sempat ragu kalau merekalah yang berbuat jahil terhadap Via. Dilihat dari wajahnya, mereka terlihat polos. Alvin segera membuang pikirannya jauh-jauh. Berpamitan kepada Via dan segera berlalu menuju kelasnya sendiri. Tidak berpamitan pada Oik? Takut mengganggu. Oik sedang mengobrol di salah satu bangku kelasnya dengan Cakka. Setelah sampai di kelasnya, Alvin segera meletakkan tasnya dan duduk di tempatnya. Bel berbunyi nyaring. Pelajaran pertama, Sejarah. Membosankan! Alvin segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah SMS.

To: Viazizah
Vi, lagi ngerjain tugas ga?

From: Viazizah
Ga kok. Gurunya lagi ga ada..

To: Viazizah
Oh, boleh ngomong ga?

From: Viazizah
Boleh aja.. Ngomong apa?

To: Viazizah
Tapi jangan ngetawain gue ya!

From: Viazizah
Iye iye, ngomong ape?

To: Viazizah
Gue sayang sama lo.

From: Viazizah
Oh, itu pernyataan atau pertanyaan?

To: Viazizah
Pertanyaan dong.. Mau ga?

Fom: Viazizah
Mau apaan?

To: Viazizah
Jadi cewek gue dong. Apa lagi?!

From: Viazizah
Ohehe.. Mau kok.

To: Viazizah
Oke. Ntar pas istirahat, gue nembak lo lagi ya. Face to face. Di kantin. Waktu ada Oik sama Cakka.

From: Viazizah
Sip!

^^^

Bel istirahat baru saja berbunyi. Alvin segera menuju kantin dan menempati salah satu meja kantin yang jauh dari keramaian. Tak lama setelah itu, Via datang bersama Oik dan Cakka. Via segera duduk di sebelah Alvin. Oik dan Cakka duduk bersebelahan di hadapan mereka. Alvin segera melancarkan rencananya. Menyatakan perasaannya pada Via di depan Cakka dan Oik, face to face. Oik dan Cakka hanya tersenyum geli melihatnya. Dan siang itu, mereka telah menjadi sepasang kekasih.

Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit di kantin, bel masuk berdering. Tapi anehnya, bel berdering empat kali. Seperti bel pulang. Padahal seharusnya, mereka baru pulang pukul 15.00. Dan sekarang, baru saja pukul 09.45. Alat pengeras suara di kantin tiba-tiba berbunyi. Sepertinya akan ada pengumuman dari para guru. Kantin mendadak sepi. Mereka semua serius mendengarkan pengumuman dari para guru.

“Anak-anak, hari ini kalian dapat pulang lebih awal karena para guru akan menghadiri rapat di Dinas Pendidikan Kota” kantin kembali riuh dengan sorakan para muridnya.

Alvin, Via, Cakka, dan Oik segera kembali ke kelas masing-masing untuk mengambil tas. Oik dan Cakka akan langsung pulang. Ke rumah Oik, lebih tepatnya. Sedangkan Via dan Alvin, mereka akan mendatangi rumah Alvin. Kebetulan, di rumah Alvin hanya ada kakak perempuannya. Mungkin saja, Via dapat akrab dengan kakak perempuannya tersebut. Setelah mengambil tas, Alvin dan Via segera menuju parkiran dan melesat menuju rumah Alvin. Cakka dan Oik? Sudah pulang sedari tadi.

^^^

“Kak, gue pulang!” teriak Alvin seraya membuka pintu rumahnya.

Alvin mengajak Via masuk ke dalam. Via segera duduk di ruang tamu dan Alvin masuk ke kamar kakaknya, Acha. Alvin memintanya untuk menemani Via di ruang tamu. Dengan malas, Acha berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi yang berbeda dengan Via. Matanya menatap Via dengan sangat sinis. Via jadi bingung sendiri. Rasa-rasanya gue ga ada salah sama dia deh, batinnya. Bertemu saja baru kali ini, bagaimana bisa mempunyai salah? Alvin sendiri, belum kembali dari kamarnya.

“Lo ceweknya Alvin, ya?” tanya Acha dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat.

“Iya kak, aku Sivia..” Via menyodorkan tangan kanannya pada Acha. Acha menatapnya tanpa ekspresi. Menyadari uluran tangannya tidak disambut oleh Acha, Via kembali menarik tangannya dan salah tingkah.

Akhirnya Alvin kembali dari kamarnya. Ia segera duduk di sebelah Via. Acha menatap mereka berdua dengan sinis, “Oh, ini ya pacar lo?” tanya Acha ke Alvin. Alvin menganggukkan kepalanya dengan semangat, “Yang nyokap sama bokapnya kerja di luar negeri dan ternyata cuman jadi TKI itu?” lanjut Acha sambil tersenyum sinis.

“Lo ga berhak ngomong gitu, kak!” bentak Alvin.

Acha tetap memandang mereka berdua dengan sinisnya. Alvin bangkit. Ditariknya tangan Via untuk keluar dari rumahnya dan pergi begitu saja meninggalkan kakaknya. Alvin rasa kakaknya sudah keterlaluan. Via pun sudah sekuat tenaga menahan agar air matanya tak jatuh di depan Alvin. Alvin segera menyalakan mesin motornya dan meninggalkan rumahnya bersama Via di boncengan motornya. Acha sendiri, ia masih tak habis pikir dengan adik laki-lakinya. Bisa-bisanya adik laki-lakinya memilih Via sebagai pacarnya? Bukankah masih ada ribuan perempuan yang sederajat dengan mereka di luar sana?

^^^

Via dan Alvin sampai di sebuah taman di pinggiran Jakarta. Mereka berdua segera turun dan melangkah menuju danau yang tak jauh dari tempat parkir tersebut. Mereka duduk bersebelahan di sana. Jalanan lumayan sepi. Oleh karena itu, sering terjadi beberapa penyalahgunaan. Beberapa pemuda tak bertanggung jawab, sering mengadakan balapan liar di daerah itu. Dan sudah banyak korban yang jatuh karena tertabrak salah satu dari pebalap liar itu.

Kebetulan, di seberang jalan tersebut ada sebuah kios bunga. Alvin tau bahwa Via sangat menyukai bunga. Terutama mawar merah. Alvin pun pamit sebentar untuk membelikannya bunga. Via hanya mengangguk. Alvin berjalan menyeberangi jalanan sepi itu. Setelah sampai di kios bunga tersebut, ia segera membeli sebuket bunga mawar kesukaan Via. Ia kembali ke tempat di mana Via menunggunya. Tanpa melihat ke kiri dan kanan, ia menyeberang jalan. Dan tanpa ia tau, seorang pebalap liar sedang mengendarai motornya ke arahnya dengan kecepatan penuh.

“Via!” teriak Alvin.

Via pun menoleh dan berjalan menghampiri Alvin ke jalan raya. Baru saja Alvin akan sampai tepat di depan Via, BRAK! Pebalap liar tadi menabrak Alvin dan langsung kabur. Via berteriak histeris dan menyusul Alvin di jalanan. Tubuh Alvinsempat terpental beberapa meter ke belakang. Mawar merah yang tadi ia beli untuk Via pun sudah berceceran di jalanan. Darah mengalir deras dari kepalanya.

“ALVIN!!” teriak Via dengan kencangnya..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar