Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

He Is My Destiny (3 of 4)


Tak perlu menunggu lama untuk Via segera menelpon rumah sakit terdekat dan meminta mereka mengirimkan ambulance sekarang juga. Setelah itu, Via juga menelpon Oik. Dan tentu saja, di mana ada Oik, di situ ada Cakka. Jadi Via ga perlu susah-susah menelpon Cakka. Selang beberapa menit, penjual bunga di kios seberang jalan datang dengan tergopoh-gopoh. Saat itu pula, ambulance datang. Penjual bunga tersebut pun membantu para tim medis untuk menggotong Alvin ke dalam ambulance. Via ikut masuk ke dalam ambulance.

Sebelumnya, Via sudah mengirimkan sebuah pesan singkat ada Oik agar Oik langsung saja datang ke rumah sakit. Di perjalanan, Via terus saja menangis sambil memegang tangan Alvin. Darah segar masih mengucur dari beberapa bagian tubuh Alvin. Setelah sampai di rumah sakit, Alvin segera dibawa ke Unit Gawat Darurat dan Via menungguinya di depan UGD. Oik dan Cakka datang dengan wajah panik. Oik langsung menghambur dalam pelukan Via. Via masih saja menangis. Oik duduk di sebelah Via dan Cakka duduk di sebelah Oik.

“Udah, Kak Alvin pasti ga bakal kenapa-kenapa kok” hibur Oik sambil mengusap pipi Via.

“Via masih sesenggukan. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Oik.Cakka mendengus melihatnya. Via pun menatap Cakka dengan tatapan sukurin-deh-lo-pasti-jealous-kan-liat-gue-bisa-nyender-di-bahunya-Oik. Cakka makin merengut. Tak seberapa lama, dokter yang tadi menangani Alvin di dalam, keluar dengan menunjukkan raut sedih. Dokter itu menghampiri Via, “Anda keluarga dari pasien?” tanyanya, tetap menunjukkan raut sedih. Via hanya menggeleng pelan. Kenyataan. Dia memang hanya pacar Alvin. Kakak Alvin pun tak merestui mereka berdua.

“Oh, baiklah. Saya menemukan dompet dan ponsel korban. Mungkin saya bisa mencari tau soal keluarganya dan menghubungi mereka untuk mengetahui kondisi korban” gumam dokter tersebut. Dokter tersebut berlalu pergi dari hadapan Via, Oik, dan Cakka sambil menimang-nimang dompet dan ponsel Alvin.

“Vi, lo pulang aja deh.. ” saran Cakka, yang juga diiyakan oleh Oik.

“Kakaknya Alvin pasti ke sini, kan?” tanya Via memastikan. Oik dan Cakka mengangguk lugas, “Oke, gue pulang. Gue mau nenangin diri dulu. Kalo gue udah baikan, gue bakal balik lagi ke sini. Kalo udah ga ada kakaknya Alvin, tentunya” gumamnya.

Oik mengajaknya berdiri dan mereka bertiga berjalan menuju parkiran. Cakka duduk di belakang kemudi. Oik dan Via duduk di belakang. Cakka sempat tak setuju, sebenarnya. Tapi karena Oik terus saja meminta agar dirinya boleh duduk di belakang bersama Via, akhirnya Cakka menyetujuinya dengan berat hati. Cakka segera melajukan mobilnya menuju rumah Oik. Via masih menginap di rumah Oik. Ia tak akan kembali ke rumahnya sebelum tantenya meminta maaf padanya, kata Via.

^^^

Seminggu berlalu dari insiden tabrakan Alvin. Sekarang hari Minggu. Tentu saja Cakka, Oik, dan Via sedang libur. Mana ada sekolah memutuskan meniadakan libur pada hari ini? Muris-murid pasti memprotes keputusan tersebut. Via sendiri, sudah baikan dengan tantenya. Tantenya sudah meminta maaf padanya dan memintanya kembali ke rumah. Sekarang, mereka bertiga sedang berada dalam mobil Cakka. Tentu saja Oik duduk di depan dan Via duduk di belakang. Mobil Cakka berhenti tepat di depan rumah seseorang.

“Beneran ini, Vi, rumah Kak Alvin?” tanya Cakka, masih tetap memperhatikan rumah itu.

Via menganggukkan kepalanya, “Beneran kok. Gue pernah ke sini.” Katanya. Ia segera turun dari mobil Cakka. Cakka dan Oik masih saling pandang di dalam mobil. Via mengetuk kaca mobil dan kaca tersebut terbuka, “Ngapain masih di dalem? Ayo, temenin gue masuk! Takutnya ada kakaknya Alvin. Gue takut disemprot!” ujar Via sambil bergidik.

Akhirnya, Oik dan Cakka turun dari mobil. Oik berjalan di samping Via. Sedangkan Cakka, hanya mengekor keduanya dari belakang sambil sesekali mendengus kesal. Ketiganya berjalan ke arah rumah Alvin. Rumah tersebut terlihat sepi. Mungkin masih pada istirahat, pikir Via. Mereka bertiga segera menggedor pagar rumah Alvin. Beberapa kali digedor, tetap tak ada jawaban dari dalam. Mereka sampai kesal dibuatnya. Tiba-tiba, muncul seorang laki-laki paruh baya memakai pakaian berwarna putih dan celana berwarna hitam datang menghampiri mereka bertiga dengan sepeda angin tumpangannya.

“Maaf, kalian bertiga sedang mencari siapa?” tanya laki-laki tersebut, satmpam kompleks.

Cakka menoleh sekilas pada rumah Alvin. Tetap tak ada reaksi dari dalam. Ia kembali mendongak menatap satpam tersebut, “Kita lagi nyari Alvin. Penghuni rumah ini” kata Cakka. Ia menunjuk rumah di belakangnya dengan jari telunjuknya, “Orangnya pada ke mana ya? Kita udah ngegedor dari tadi tapi tetep aja, ga ada jawaban dari dalem” keluhnya.

Kening satpam tersebut bertaut heran mendengar ucapan Cakka. Penghuni rumah? Bukannya rumah itu sudah seminggu kosong? Batinnya. Dengan sigap ia segera turun dari sepeda anginnya dan berdiri tepat di depan Cakka, Oik, dan Via, “Loh, kalian tidak tau? Rumah itu sudah seminggu kosong” jawabnya. Mereka bertiga terbeliak kaget. Sudah seminggu? Berarti sejak insiden itu! Pikir mereka bertiga.

“Seminggu? Oh, kami ga tau. Bapak tau ke mana mereka?” tanya Oik, berusaha tenang.

“Maaf saya ga tau. Kalian bisa tanya sama para tetangga. Saya permisi dulu. Saya harus keliling kompleks” pamitnya. Sekejap, satpam tersebut sudah menaiki kembali sepeda anginnya dan mengayuhnya menjauhi mereka. Mereka menghela napas berat, terutama Via. Pikirannya masih dipenuhi dengan Alvin dan rasa bersalahnya karena tak kunjung kembali ke rumah sakit tempat Alvin dirawat. Via memang belum kembali ke rumah sakit tempat Alvin dirawat sejak saat ia mengantar Alvin ke sana. Ia masih belum siap melihat Alvin tergeletak lemah di atas ranjang rumah sakit.

“Udah yuk, kita tanya sama tetangga-tetangga aja” aja Via dengan nada lemas.

Mereka bertiga berpencar. Cakka ke rumah sebelah kanan rumah Alvin, Oik ke rumahs ebelah kiri rumah Alvin, dan Via ke rumah seberang rumah Alvin. Bertanya-tanya tentang Alvin dan keluarganya pada mereka. Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke mobil Cakka dengan wajah kusut, “Ga ada yang tau Alvin ke mana” seru ketiganya bersamaan.

“Ya udahlah.. Mungkin udah takdir kalo gue ga bisa ketemu sama Kak Alvin lagi. Mungkin emang bukan dia takdir gue” gumam Via, ia memejamkan matanya sejenak dan menghirup udara kuat-kuat. Berharap semua rasa rindunya pada Alvin akan menguap dan musnah begitu saja. Tapi nihil. Dadanya makin terasa sesak. Bayangannya dan Alvin yang sedang bermain basket bersama tempo hari kembali berkelebat di benaknya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil Cakka.

Oik melongok ke belakang, tempat Via berada. Ia tersenyum miris melihat sahabatnya sekarang, “Jangan putus asa ya. Kita bakalan bantuin lo kok” sahutnya. Ia beralih pada Cakka yang duduk di belakang kemudi, “Kka, kita ke rumah sakit tempat Alvin dirawat tempo hari ya. Kalaopun dia udah ga dirawat di sana, kita masih bisa tanya sama receptionist kok” sarannya. Cakka mengangguk dan segera menyalakan mesin mobilnya. Mereka bertiga melesat menuju rumah sakit tempat Alvin dirawat tempo hari.

^^^

Mereka bertiga jalan dengan buru-buru menuju meja receptionist rumah sakit tersebut. Seorang perempuan muda berpakaian suster menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyumnya. Dengan sigap, Cakka segera berbicara bahwa mereka sedang mencari pasien di sana yang bernama Alvin. Alvin Jonathan Sindunata. Untuk beberapa menit, receptionist tersebut sibuk bergulat dengan catatan mengenai daftar pasien yang sedang dirawat maupun pernah dirawat di sana. Kedua matanya menyusuri setiap halaman buku catatannya dengan teliti.

“Alvin Jonathan Sindunata memang dirawat di sini. Seminggu yang lalu, tepatnya. Dan semenjak kakaknya perempuannya datang, Alvin dipindahkan menuju rumah sakit lain oleh kakaknya.. ” jawab receptionist tersebut sambil memandangi Cakka, Oik, dan Via.

Bahu Via terkulai lemas. Ia mengira bahwa Alvin masih dirawat di sana. Tapi ternyata tidak. Kakanya telah memindahkan Alvin menuju rumah sakit lain. Sejenak, Via sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menemukan sebuah ide, “Sus, kira-kira kakak perempuannya Alvin mindahin Alvin ke rumah sakit mana ya?” tanya Via. Berharap kalau kakak Alvin mengatakan ia memindahkan Alvin ke rumah sakit mana.

“Maaf, saya kurang tau” jawab receptionist tersebut.

Via kembali putus asa. Mereka bertiga berpandangan sesaat. Oik mengucapkan terima kasih kepada receptionist tersebut dan mereka bertiga berlalu dari rumah sakit tersebut. Cakka mengajak mereka berdua untuk makan siang terlebih dahulu. Sekarang sudah pukul 12.56 dan mereka belum makan siang. Apalagi, Oik memiliki penyakit maag yang dapat kambuh sewaktu-waktu. Oik dan Via setuju. Cakka membelokkan mobilnya menuju sebuah cafe yang biasa ia dan Oik datangi saat makan siang.

Mereka bertiga turun dari mobil Cakka dengan tak bersemangat. Mereka bertiga makan siang dalam diam. Tak ada yang berbicara sedikitpun. Sebenarnya, banyak yang Cakka dan Oik ingin obrolkan. Tapi mereka takut mengganggu Via. Via sendiri masih asyik dalam diam. Tak memperdulikan keadaan di sekitarnya. Setelah selesai makan siang, Cakka mengantar Via pulang dan setelah itu, mengantar Oik pulang. Ia mampir ke rumah Oik sebentar. Kebetulan, orang tua Oik sudah kembali dari Salatiga. Sudah lama ia tidak mengobrol dengan kedua orang tua Oik.

“Mama, papa, Oik pulang!” teriak Oik ketika menemui kedua orang tuanya sedang duduk-duduk di gazebo taman belakang rumahnya. Oik berlari dan menghambur dalam pelukan keduanya. Cakka tersenyum simpul melihat perilaku Oik. Maklum, anak tunggal. Cakka mengekor Oik.

“Eh, ada Cakka ya” sapa mama Oik ramah, “Ayo, sini Cakka! Duduk aja di situ” ajak mama Oik sambil menunjuk tempat kosong di sebelah Oik. Cakka mengangguk dan tersenyum formal lalu duduk di sebelah Oik.

“Apa kabar, Cakka? Lama ya kita ga ngobrol” kata papa Oik.

“Baik, om sendiri?” tanya Cakka. Papa Oik tersenyum lebar, “Iya om. Udah lama kita ga ngobrol” lanjutnya.

Tak lama, pembantu keluarga Oik datang dengan membawa nampan berisikan makanan ringan dan minuman kotak. Mereka berempat mengobrol lama. Terlihat sudah sangat akrab. Papa dan mama Oik sendiri, sudah tau sejak lama kalau Oik dan Cakka berpacaran. Dan mereka menyutujui keduanya. Hingga akhirnya, pembicaraan mereka terarah pada Via dan Alvin. Oik menceritakan dari awal tentang mereka berdua. Papa dan mamanya mendengarkan dengan seksama. Kadang-kadang, Cakka ikut menimpali perkataan Oik.

“Kan kebetulan besok libur, anak kelas 12 pada ujian. Jadi, Cakka mau ngajak Oik buat ngehibur Via, om, tante. Boleh kan?” tanya Cakka pada papa dan mama Oik.

Kedua orang tua Oik berpandangan sesaat dan akhirnya tertawa lepas, “Cakka, Cakka.. Sejak kapan sih kamu pacaran sama anak tante? Masa mau ngajak jalan keluar aja kudu izin sama tante sama om dulu? Kita pasti ngizinin kok. Apalagi ini nyangkut sahabat kalian” ujar mama Oik disela-sela tawa renyahnya.

Hari sudah lumayan malam. Setelah mereka berempat makan malam bersama di rumah Oik, Cakka pamit pulang. Takut ayah dan bundanya kelimpungan mencarinya. Mas El? Cakka yakin kalau Mas El tak mungkin bersusah-susah mencarinya. Mas El pasti tau kalau Cakka belum pulang sampai jam segini, berarti Cakka sedang ada di rumah Oik. Ayah dan bunda Cakka sendiri sebenarnya tau, hanya saja, mereka berdua terlalu melebih-lebihkan karena Cakka anak bontot mereka.

^^^

Keesokan harinya..

Cakka sudah siap dengan mobilnya. Ia segera berpamitan pada ayah dan bundanya. Tentu saja dengan sorakan keras dari Mas El, “Pacaran mulu lo, Cak! Urusin tuh pelajaran!” sorak Mas El. Cakka mendengus kesal. Ayah dan bundanya hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya. Setelah berpamitan, Cakka segera berlari ke garasi. Menaiki mobilnya dan melesat menuju rumah Oik. Untung saja jalanan Jakarta pagi itu tak seberapa ramai. Jam sudah menunjukkan pukul 08.36 ketika Cakka tiba di depan rumah Oik.

Langsung saja Cakka masuk dan menghampiri Oik beserta kedua orang tuanya di meja makan. Mereka sedang sarapan bersama. Papa Oik menyuruh Cakka untuk bergabung bersama mereka. Kebetulan, Cakka tak sempat sarapan di rumah. Candaan terdengar disela-sela sarapan mereka pagi itu. Setelah selesai sarapan, Cakka dan Oik segera menuju rumah Via. Di perjalanan menuju rumah Via, mereka berdua mengobrol tentang Alvin. Sudah seminggu tak ada kabar dari Alvin. Di sekolah pun Alvin tak terlihat batang hidungnya.

Pernah, sekali waktu, Cakka, Oik, dan Via mencoba datang ke Ruang Tata Usaha sekolah untuk mencari tau soal Alvin. Salah satu staff di sana mengatakan bahwa sudah dari beberapa hari yang lalu Alvin tak masuk sekolah, tanpa keterangan. Dan baru beberapa jam yang lalu, kakak perempuan Alvin mengurus kepindahan Alvin. Kakak perempuan Alvin tersebut sempat berkata bahwa ia dan adiknya akan pindah rumah. Sayangnya, ia tak menyebutkan ke mana mereka akan pindah.

Dalam waktu dua puluh menit, Cakka dan Oik sudah sampai di depan rumah Via. Mereka turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Via. Mereka disambut hangat oleh tante Via. Tante Via mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu. Sejenak, tante Via pergi ke dapur dan kembali dengan nampan berisikan dua gelas syrup berwarna oranye untuk Cakka dan Oik. Mereka berdua menggumamkan terima kasih untuk tante Via. Tante Via duduk di hadapan Cakka dan Oik.

“Ada apa kalian ke sini?” tanya tante Via dengan ramah.

“Kita mau ngajak Via jalan, tante. Sekalian mau ngehibur Via” jawab Oik dengan sopan.

“Menghibur? Memang Sivia kenapa?” tanya tantenya. Rupanya tantenya belum mengetahui tentang insiden yang menimpa Alvin seminggu lalu.

“Jadi gini tante, tante tau kan kalo Via deket sama Kak Alvin?” tanya Cakka. Tante Via mengangguk bingung, “Nah, seminggu yang lalu Kak Alvin kecelakaan. Via ngebawa Kak Alvin ke rumah sakit waktu itu. Dan kemarin, kita bertiga nyari Kak Alvin sampai ke rumahnya. Ternyata rumahnya Kak Alvin kosong. Tetangga sama satpam kompleks di sana ga ada yang tau Alvin ke mana. Waktu kita ke rumah sakit tempat Kak Alvin sempet dirawat pun, Kak Alvin udah ga ada di sana. Ga ada yang tau Kak Alvin ke mana.. Staff Tata Usaha sekolah juga ga tau, tante” lanjut Cakka.

Tante Via mengehela napas panjang mendengar penuturan Cakka. Ia sadar betapa berartinya Alvin bagi Via. Akhirnya hatinya luluh juga. Dulu, ia sempat tak merestui jika Via bersama dengan Alvin. Ia tersenyum, “Ya udah. Kalian susul Via aja. Dia masih di kamarnya. Mungkin masih tidur. Hibur dia ya” pesan tantenya.

Cakka dan Oik mengangguk riang. Tantenya segera berjalan masuk ke kamarnya. Cakka dan Oik segera berjalan menuju kamar Via. Ketika mereka berdua membuka pintu kamar Via, mereka mendapati Via sedang memandang ke arah jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Mereka prihatin dengan keadaan Via sekarang. Via tampak kacau. Mereka segera menghampiri Via dengan wajah riang. Oik duduk di sebelah Via dan Cakka tetap berdiri di dekat mereka berdua.

Via menolah ke arah Cakka dan Oik, “Kalian? Kok ke sini?” tanyanya.

“Kita mau ngajak lo jalan. Ikut yuk.. Kita kan udah lama ga jalan, Via” ajak Oik.

Via hanya mengangguk pasrah. Ia segera berjalan menuju lemarinya dan mengambil sepotong dress dan melangkah menuju kamar mandinya. Tak berapa lama, Via kembali dengan sudah mengenakan dress-nya. Oik tersenyum senang melihat Via. Via pun tersenyum. Oik menarik lengannya ke luar kamar. Dan, mereka bertiga melesat meninggalkan rumah Via. Mereka bertiga berencana akan pergi ke Pondok Indah Mall.

^^^

Suasana Pondok Indah Mall sedang ramai ketika mereka baru saja datang. Pertama-tama, mereka berjalan ke arah stan di mana mereka biasanya membeli ek krim. Via dengan es krim vanila, Oik dengan es krim coklat, dan Cakka dengan es krim strawberry. Sebenarnya Cakka ingin es krim coklat, tapi Oik melarangnya dan malah menyuruhnya membeli es krim strawberry. Setelah itu, mereka berjalan mengelilingi Pondok Indah Mall.

“Sivia Azizah!” panggil seseorang dari belakang mereka bertiga.

Mereka bertiga menoleh ke belakang bersamaan. Via kaget melihat sesosok laki-laki yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, “Rio? Mario Stevano?” tanyanya.

Laki-laki tersebut, yang ternyata bernama Rio, mengangguk senang dan langsung menghampiri ketiganya. Bersalaman dengan Cakka dan Oik terlebih dahulu. Ia lalu menatap Via, “Woy! Ke mane aje? Gua kangen!” serunya girang, Via tersenyum tipis.

^^^

Sekarang mereka bertiga sudah menduduki bangku kelas 12. Mereka mulai disibukkan dengan segala macam try out dan tes. Dalam jangka aktu ini jugalah, Via semakin dekat dengan Rio. Via juga telah mencoba melupakan Alvin. Semua barang dari Alvin ia buang jauh-jauh. Foto Alvin pun sudah tak ada lagi di kamarnya. Ia mengubur semua kenangan antara dirinya dan Alvin dalam-dalam. Ia takut hatinya akan semakin sakit jika ia terus menyimpan Alvin dalam pikirannya.

“Hay Via!” sapa Rio. Hari ini Rio datang ke rumahnya dengan membawa seuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

“Hay, Rio.. ” sapa Via balik, “Duduk sini” ajak Via, ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Rio pun segera berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Via. Ia masih menyembunyikan sesuatu untuk Via di belakang punggungnya. Via sendiri, berusaha melihat apa yang Rio sembunyikan. Mereka bergurau sejenak. Sampai akhirnya, Rio mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan itu dan menyerahkannya kepada Via.

Via menatap pemberian Rio tanpa ekspresi. Sebuket mawar merah yang masih segar. Tiba-tiba, ia mengambil pemberian Rio itu dan membuangnya ke lantai. Dengan cepat, Via berdiri dan menginjak-injak mawar tersebut tanpa perasaan. Setelah memastikan mawar tersebut hancur lebur, Via berlari masuk ke dalam rumahnya dan mengunci diri di kamar. Rio berlari menghampirinya. Via tetap tak mau membukakan pintu kamarnya.

“Vi, kenapa lo rusakkin mawar merah itu?” tanya Rio dari luar kamar Via.

“Pergi lo! Pergi! Pergi! Tinggalin gue sendiri!” teriak Via, suaranya terdengar parau.

Rio sendiri, segera angkat kaki dari rumah Via. Setaunya, Via sangat senang jika diberi mawar merah. Dulu. Sekarang? Via anti-pati dengan mawar merah! Apa yang membuatnya seperti itu? Pikiran-pikiran itu terus saja membayangi Rio. Ia sendiri tak habis pikir. Kenapa Via berubah secepat itu? Ia membuang pikiran itu jauh-jauh dan segera mengendarai motornya. Melaju meninggalkan rumah Via.

Di dalam kamarnya, Via menangis tersedu-sedu. Mawar merah. Ia masih ingat kalau hal terakhir pemberian dari Alvin adalah mawar merah. Dadanya kembali sesak dengan semuanya. Ia segera menghapus air matanya dan bangkit menuju jendela kamarnya. Rio sudah angkat kaki dari rumahnya. Baguslah. Ia tak perlu berteriak-teriak lagi agar Rio cepat-cepat meninggalkannya. Ia hanya butuh waktu untuk melupakan Alvin. Tapi Via sendiri sadar. Melupakan seseorang tidak berarti dia juga harus melupakan kenangannya bersama orang itu.

“He is my destiny, God. He isn’t Rio. He is.. Alvin. I can’t replace him by someone else” gumamnya disela-sela isak tangisnya.

Ia mengambil iPod di atas lacinya dan memasang earphone di kedia telinganya. Dengan acak, ia memutar lagu-lagu dalam iPod tersebut. Lagu pertama, White Horse dari Taylor Swift. Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia memejamkan matanya sejenak sampai lagu tersebut habis terputar. Muncul sedikit jeda ketika lagu berikutnya akan terputar.

Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry
call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet

Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
when you are sitting next to me
will bring life into my deepest hopes, What's your fantasy?
(What's your, what's your, what's your...)

Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home
(I know everything you wanted isn't anything you have)

Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
(I know everything you wanted isn't anything you have)

Your Call dari Secondhand Serenade. Lagu kenangannya bersama Alvin. Ia segera melepas eaphone dan melemparkan iPod tersebut ke sembarang tempat. Tak perduli kalau iPod tersebut akan hancur. Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingat kembali dengan sosok Alvin. Air matanya mulai luruh dari kedua matanya. Dan kali ini, ia membiarkan air matanya luruh dengan tak terkendali.

^^^

Hari kelulusan telah tiba. Via sedang merayakannya bersama Oik, Cakka, dan seluruh temannya. Menyemprotkan pilox ke seragam putih abu-abu mereka. Kabar gembiranya, mereka semua lulus dengan nilai yang memuaskan. Tak sia-sia perjuangan mereka selama ini. Ponsel Via bergetar ketika itu. Ia melirik sekilas ke layar ponselnya. Dari mama dan papanya di Amerika. Ia segera mengangkat telpon tersebut dengan riang.

*ONTHEPHONE:VIA-MAMA-PAPA*

M         : “Gimana, Via?”

P          : “Lulus kan, sayang?”

V          : “Lulus, pa, ma! Nilainya bagus-bagus pula! Haha.. ”

P          : “Baguslah kalau gitu”

M         : “Kita perlu bicara sama kamu, sayang”

V          : “Mau ngomong apa?”

P          : “Gimana kalo kamu nyusul kita ke sini? Ke Amerika?”

M         : “Kamu bisa kuliah di sini, sayang”

P          : “Universitas di sini bagus-bagus kok. Gimana?”

V          : “Via pikirin dulu ya, ma, pa..”

*ONTHEPHONE:END*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar