Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

THE UNTITLED STORY [1 of 4]

            Bel pulang baru saja berbunyi ketika Oik melangkahkan kakinya menuju toilet sekolah. Oik mengeluh pelan. Dengan segera, ia bergegas memasuki salah satu bilik toilet dan mencuci mukanya menggunakan sabun cuci muka yang ia kantongi. Begitu selesai, ia berlari kecil menuju kelasnya.

            Koridor telah sepi. Sebagai gantinya, gerbang sekolah menjadi ramai. Oik langsung membereskan segala peralatan sekolahnya dan memasukannya ke dalam tas. Oik menengok sekilas ke pintu kelasnya, ada Ray di sana. Oik melambai seraya tersenyum pada lelaki gondrong itu.

            “Ayo balik, Ik!” ajak Ray.

            Oik berjalan ke arah Ray dengan tersenyum canggung, “Maaf, Ray. Aku ada rapat OSIS. Kamu balik duluan aja. Maaf udah bikin nunggu.”

            Ray menghela napas, “Ya udah, no prob, Ik.” Ray menampakkan wajah kecewanya.

            Keduanya pun berjalan beriringan. Kebetulan Sekretariat OSIS SMA Budi Mulya berada di bawah, tepat di samping tangga. Jadi, ketika Oik berbelok kanan menuju Sekretariat OSIS, Ray akan berbelok kiri menuju area parkir.

            “Eh, gimana kabar Aren?” Oik bertanya, memecah keheningan yang menyelimuti keduanya.

            “Ga usah bahas dia lagi, Ik. Udah cukup tau aja sama dia aku, sih.” Ray tertawa garing.

            “Meskipun udah putus, kan, ga berarti jadi musuh, Ray.” Oik tersenyum tipis.

            “Iya juga, sih..”

            Oik menahan napas. Bodoh! Harusnya aku ga bilang begitu! Bisa-bisa Ray balik lagi sama Aren. Emang kamu udah siap patah hati, Ik?

            Keduanya pun memijakkan kaki di lantai bawah, berpisah di koridor. Baru beberapa langkah, keduanya lalu bersamaan membalikkan badan. Begitu sama-sama menyadari hal tersebut, keduanya tertawa tanpa suara.

            “Hati-hati, Ray!” Oik tersenyum kikuk, melambaikan tangannya pada Ray.

            Ray mengangguk dan balas melambaikan tangannya, “Jangan pulang kesorean, Ik. Kalau rapatnya udah selesai, langsung balik.”

            Begitu Ray telah hilang dari pandangannya, Oik pun membuka pintu Sekretariat OSIS. Ketika Oik mendorongnya, seseorang juga tengah menariknya dari dalam. Oik kontan kaget. Setelah pintu terbuka lebar, Oik mendapati Rio –kakak kelasnya– tengah berdiri di hadapannya dengan jarak yang bisa dibilang dekat. Lagi-lagi, Oik tersenyum kikuk.

            “Ga ikut rapat persiapan MOS, Mas?” Oik bertanya.

            Rio pun keluar dan tersenyum lebar, “Ikut, kok, dek. Mau ke kantin bentar, beli minum. Mau titip?”

            Oik menggeleng, “Ga usah, Mas. Makasih.”

            Rio pun berlalu. Oik segera masuk ke dalam Sekretariat OSIS dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong, tepat di samping Sivia –sahabatnya–. Sivia, yang baru saja menyadari kehadirannya, langsung mengehentikan obrolannya bersama Pricilla –sahabatnya yang lain–.

            “Aku tadi papasan sama si Mas ganteng di depan.” Oik berbisik di telinga Sivia dan terkikik pelan.

            Sivia mendorong pelan bahu Oik dan memajukan bibirnya beberapa senti, “Iya, deh.. Tau! Pamer, doang, kan?”

            “Serius, tau!” Oik tertawa keras, “Iri, kan?” Oik memeletkan lidahnya pada Sivia.

            “Cukup tau aku, Ik!” Sivia mendadak bersidekap tangan.

            “Kenapa, sih?” tiba-tiba saja Pricilla melongok dari samping kanan Sivia.

            Oik menghentikan laju tawanya sesaat, “Sivia, nih.. Jealous! Aku cerita sama dia kalau aku baru aja papasan sama si Mas ganteng di luar.”

            Pricilla membelalakkan matanya, “Serius? Terus, terus? Dia bilang apa aja, Ik?”

            “Dia bilang mau kentin, beli minum sebentar. Sekalian nanyain aku mau titip apa ga, gitu..” Oik mengakhiri ceritanya dengan tersenyum penuh kemenangan.

            “Inget, Ik.. Dia udah punya pacar. Lihat, tuh, Mbak Ify! Kapten cheersnya SMA Pancasila. Cantik banget!” Sivia melirik sinis ke arah Oik.

            “Emang kenapa kalau si Mas ganteng udah punya cewek? Toh, aku cuma suka biasa. Aku cuma suka gantengnya aja. Salah?” Oik menaikan salah satu alisnya.

            Pricilla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya berdebar mengenai si Mas ganteng pujaan mereka bertiga, Mas Rio. Tepat ketika Oik dan Sivia mengakhiri debatnya, pintu Sekretariat OSIS terbuka. Mas Rio masuk dengan membawa sebotol air mineral dingin.

            “Nah, Rio udah dateng..” Zahra –yang kali ini memimpin rapat– langsung berdiri dan mempersilahkan Rio duduk.

            Kebetulan, bangku di seberang Oik kosong. Jadilah, Rio duduk di sana. Oik, Sivia, dan Pricilla cekikikan dibuatnya. Untung saja Rio tak menyadarinya, begitu pula dengan anggota OSIS SMA Budi Mulya yang lainnya.

            “Sssstt! Mbak Zahra udah mau mulai rapatnya, tuh!” Pricilla mengedik pada seorang gadis cantik berbehel di depan sana.

            “Rapat Persiapan MOS saya buka. Kali ini kita akan membicarakn teknis makro MOS sebulan lagi... Blablabla...”

**

            Rapat baru saja selesai. Para anggota OSIS yang sudah tidak memiliki keperluan lain pun segera meninggalkan Sekretariat OSIS dan pulang ke rumah masing-masing. Masih ada Oik dan Zahra di sini. Pasalnya, mereka berdua adalah Ketua Panitia dan Ketua Pelaksana MOS. Maka dari itu, mereka perlu berbicara lebih lanjut mengenai MOS bulan depan.

            “Gimana, Mbak? Udah bikin konsepnya?” tanya Oik.

            Zahra mengangguk, “Udah, kok, dek. Pokoknya kamu bantu aku, ya, selama tiga hari full!”

            Oik mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum lebar, “Sip, Mbak!”

            Zahra tersenyum tipis. Ia sibuk dengan kertas yang berserakan di meja. Kumpulan kertas-kertas yang nantinya akan dijilid dan diajukan pada Wakasek Kesiswaan mengenai MOS. Kebetulan, Sektretaris MOS sedang berhalangan hadir karena sakit. Jadilah Zahra dan Oik yang mengurusnya.

            “Gimana kabarnya si gondrong, Ik?” tanya Zahra, melirik adik kelasnya itu sekilas.

            Pipi Oik mendadak bersemu merah, “Biasa aja, Mbak. Dia PHP banget! Adem ayem aja, gitu. Ga bilang kalau dia suka sama aku. Tapi tingka lakunya itu, lho, udah kelihatan banget kalau dia suka aku. Temen-temenku aja sampai gemes sama dia! Ga punya nyali buat bilang ke aku!”

            “Kamu yakin banget, Ik, kalau dia suka sama kamu. Kali aja kamu cuman pelampiasan aja dari mantannya itu. Siapa namanya? Ara? Arin?” Zahra menahan senyumnya.

            “Aren, Mbak!” Oik mendengus sebal, “Apa aku move on aja, ya, Mbak?”

            “Emang bisa?” Zahra mencibir.

            Oik memukul lengan Zahra dengan jengkel, “Ya doain, kek! Seneng banget kayaknya kalau aku ngestuck di orang macem si gondrong itu?!”

            Zahra tertawa kencang, “Abis, kalian lucu! Udah tau pada sama-sama suka tapi malah diem-dieman gini. Jujur sama perasaan masing-masing aja, kok, susah?”

            Jleb! Oik mendelik kesal. Perkataan Zahra barusan benar-benar mengena di hatinya. Jadi, dia harus bersikap bagaimana pada Ray? Asal kalian tau aja, Ray ini first lovenya Oik! Wajar, kan, kalau Oik doesn’t know what to do right now...

**

            Sebulan kemudian.....

            Jam menunjukkan pukul lima pagi ketika Oik telah duduk manis di dalam mobil dengan menggenggam ponselnya. Bundanya yang menyetir mobil. Sesekali, Bundanya menengok ke arahnya dengan dahi mengerenyit dan wajah sebal.

            “MOS dimulai jam berapa, sih, Ik?” tanya beliau.

            “Jam setengah tujuh. Kenapa, Bun?” tanya Oik balik.

            “Ini masih jam lima tapi kamu udah nyuruh Bunda nganterin ke sekolah. Mana kamu juga nyuruh Bunda ngebut, pula!” beliau mendengus kesal.

            Oik mengedik pada Bundanya, “Kan, ada morning call. Bunda gimana, sih? Lupa?”

            Bundanya kembali mengomel panjang lebar. Dan Oik sama sekali tak mendengarkannya. Ponsel Oik telah bergetar terlebih dahulu karena ada sebuah pesan singkat masuk. Oik membukanya, membacanya, lalu membalasnya dengan hati berbunga-bunga.

From: MRP<3
Jd nge-mos hr ini? Hati2 ya!:-)

To: MRP<3
Jd, ray. Ini otw dianter bunda.
Kok udh bgn jm sgn? Tumben:-p

From: MRP<3
Knp? Gk blh? Pdhl cmn mau blg gt doang._.
Ya udh deh, aku lnjt tdr lg aja~

            Beberapa menit kemudian, mobil tersebut telah berhenti di depan gerbang SMA Budi Mulya. Oik segera turun setelah berpamitan dan mencium punggung tangan Bundanya. Setelah itu, dengan berlari kecil Oik menuju Sekretariat OSIS. Sudah banyak para panitia MOS yang telah datang. Oik nyengir lebar pada mereka semua.

            “Ketua pelaksana, kok, ngaret..” celetuk Pricilla.

            Oik melengos saja. Pricilla tertawa dalam hati. Oik pun duduk. Briefing pagi itu kembali dilanjutkan. Zahra sedang menjelaskan segala tetek-bengek mengenai MOS hari pertama ini. Oik dan yang lainnya mendengarkan dengan seksama.

            Zahra menepukkan tangannya, “Nah, briefing selesai! Yuk, ke depan. Yang SK –Sie Kedisiplinan– cepet baris di depan lapangan. Biar Sie Humas yang ngegiring adik-adiknya masuk. Panitia lainnya baris di belakangnya SK. Aku sama Oik gabung sama SK.”

            Para panitia itu pun keluar dari dalam Sekretariat OSIS dan berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Nova –Koordinator Sie Humas– segera memberikan kode pada satpam sekolah untuk membuka pintu gerbang. Para siswa-siswi baru SMA Budi Mulya yang masih mengenakan seragam putih-biru itu pun berbaris di tengah lapangan.

            “Kak OR, adik-adiknya disuruh baris yang rapi dulu.” Zahra mengerling pada Oik, Oik mengangguk.

            “Baris yang rapi dulu! Bareng-bareng sama temen SMPnya aja! Setelah ini baru kami bacakan satu-persatu nama dan kelas kalian!” Oik berteriak nyaring, ia berjalan mondar-mandir di depan barisan adik-adik kelasnya.

            “Oik sok galak, ya!” Pricilla tertawa pelan seraya berbisik-bisik dengan Sivia, ia menggunakan nametag bertuliskan AP.

            Sivia mengangguk, “Oik judes banget!” sedangkan Sivia, menggunakan nametag bertuliskan SA.

            Masing-masing panitia MOS mengenakan sebuah nametag berwarna hitam dengan tulisan inisal masing-masing. Untuk para SK, nametag diberi tanduk merah. Untuk Ketua Panitia, Ketua Pelaksana, dan Ketua OSIS, nametag diberi tambahan lingkaran berwarna merah. Untuk para PK –Pembimbing Kelas–, nametag diberi sayap dari kertas lipat berwarna putih. Sedangkan panitia lain diberi garis dengan kertas lipat berwarna hijau tua.

            “Kak AM, Kak AZ, langsung dibacakan aja susunan kelasnya.” Zahra melirik Angel dan Shilla.

            Angel dan Shilla segera membacakan susunan kelas secara bergantian. Angel adalah Koordinator SK dan Shilla adalah salah satu anggotanya yang bertampang paling judes. Setelah membacakan seluruh susunan kelas, para PK –masing-masing kelas terdapat dua PK– segera memasukki kelasnya masing-masing.

**

            Seluruh panitia –kecuali SK dan PK– sedang berkumpul di Sekretariat OSIS. Zahra dan Oik sudah duduk bersebelahan membahas teknis MOS hari kedua. Sivia dan Pricilla sedang menyiapkan bendera dan segala macam peralatan untuk upacara pembukaan.

            Tak lama kemudian, para SK datang dan langsung duduk di sekitar Zahra dan Oik. Angel dan Shilla lah yang bertampang paling sebal. Entah kenapa. Zahra melirik pada kedua orang berbeda angkatan itu dengan pandangan bertanya.

            “Mbak Angel kenapa?” tanya Oik.

            Angel memutar bola matanya dengan kesal, “Sebel, Ik! Adik-adik kelasnya pada bandel!”

            “Mereka nyolot banget pas kita nasehatin. Anak-anak X-7, tuh, yang paling bikin kesel. Mereka sama sekali ga ngehargain aku, Mbak Angel, sama SK yang lain.” Shilla bercerita dengan menggebu-gebu.

            “Kita ke sana, yuk?” Zahra mengajak Oik.

            “Berdua aja?” Oik bertanya dengan ragu.

            Zahra mengangguk pasti, “Kenapa? Takut?”

            Oik menggeleng mantap, “Ga akan!”

            Zahra dan Oik pun bangkit. Angel dan Shilla menatap keduanya dengan bingung.

            “Udah, kalian di sini aja. Biar aku sama Oik yang ke sana.” Zahra mencegah Angel dan Shilla yang akan berdiri.

            “Ya udah..” Angel hanya mengangkat bahunya.

            Zahra dan Oik pun berlalu, menuju ke kelas X-7. Angel, Shilla, dan para panitia lain bersiap-siap untuk mengadakan upacara pembukaan.

            Zahra mengetuk pintu kelas X-7. Gita –salah satu PK X-7– membukakan pintu. Oik tersenyum sekilas pada teman sekelasnya itu. Keduanya pun masuk, diikuti Gita yang mengekor keduanya. Zahra dan Oik berdiri di depan kelas dengan wajah judes.

            “Pagi.” Oik menyapa adik-adik kelasnya dengan dingin.

            “Pagi, Kak!” sapa mereka balik.

            Zahra bersidekap tangan, mulai mandir-mandir di depan kelas dengan wajah menyeramkan dan mata yang menatap tajam, “Saya dengar kalian melawan perkataan kakak-kakak SK. Iya?”

            Hening.

            “Jawab!” Oik membentak mereka semua.

            “Maaf, Kak.” sebuah suara terdengar.

            Zahra menengok ke sumber suara, “Kenapa cuman satu yang minta maaf? Jadi, cuman ada satu orang aja siswa di kelas ini? Wow!”

            “Maaf, Kak.” koor mereka semua.

            “Ngebeo temennya aja, bisanya! Ga punya inisiatif sendiri buat minta maaf!” Oik menatap satu-persatu adik kelasnya dengan tajam.

            Hening.

            “Kenapa pada diem semua? Mana suaranya? Tadi pada celometan, kan, waktu kakak-kakak SK ke sini?!” Zahra menggebrak meja paling depan dengan keras.

            “Udah? Ga ada yang mau argumen?” suara Oik terdengar menggelegar.

            Seorang laki-laki mengangkat tangannya dan berdiri, “Maaf, Kak. Kami ga akan ngelakuin itu lagi.”

            “Siapa nama kamu?” Zahra menatapnya tajam.

            “Cakka Kawekas Nuraga, Kak.” anak laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya.

            “Duduk!” perintah Oik. “Gini, ya.. Kami bukannya gila hormat atau apa. Kami cuman minta dihargain sama kalian semua! Kami ini kakak kelas kalian. Bisa, kan, dengerin omongan kami? Bisa, kan, ga ngejawab aja pas kami nasehatin?”

            “Bisa, Kak.” koor mereka, lagi.

            Lagi-lagi, seorang laki-laki mengangkat tangan kanannya dan berdiri perlahan, “Saya Alvin, Kak. Maaf, sebelumnya.. Yang saya tau, hanya beberapa aja yang bandel, bukan semuanya. Tapi kenapa semuanya ikut kena marah?” Alvin pun kembali duduk.

            “Kalian tau arti solidaritas ga, sih?” tanya Oik, ia menatap Alvin jengkel.

            “Udah, udah..” Zahra pun menggandeng tangan Oik keluar.

            Tepat ketika Zahra baru saja menutup pintu kelas, terdengar rebut-ribut dari dalam sana. Oik kembali membuka pintunya dengan kasar. Suasana kembali hening. Oik mengedarkan tatapan tajamnya ke seluruh penjuru kelas.

            “Kenapa langsung ramai gini waktu saya dan Kak ZD keluar?” bentak Oik, “Mau sok jadi jagoan yang ngelawan kakak kelasnya, hah?!”

            Hening.

            Tatapan Oik bertemu dengan Cakka. Cakka langsung menundukkan kepalanya. Terlihat wajah Alvin di belakang Cakka. Oik memelototinya hingga lelaki oriental itu juga menundukkan kepalanya. Oik langsung menutup pintu kelas dengan kasar hingga menimbulkan bunyi berdebam yang menggema di seluruh penjuru sekolah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [03]

            Pesta pernikahan Rio dan Ify dihelat di sebuah villa dengan halaman yang sangat luas di bilangan Bogor. Sebuah villa megah dengan jumlah kamar yang sebanding dengan jumlah para undangan. Pesta pernikahan formal telah digelar seminggu yang lalu di Jakarta. Pesta kali ini khusus digelar untuk orang-orang terdekat Rio dan Ify, seperti saudara dan sahabat –pengecualian untuk Cakka dan Shilla–.

            Halaman samping villa telah ramai. Kolam renang dihiasi oleh-oleh lilin-lilin kecil yang menyala redup dan dialasi oleh piring-piringan mungil berwarna putih gading. Para waitress sibuk menghidangkan makanan kecil dan cocktail pada para undangan, tak terkecuali waitress yang satu itu.

            Rio dan Ify berdiri berdampingan di atas sebuah podium kecil, menghadap para undangan yang tengah berbincang dan menikmati hidangan yang disajikan. Ekor mata Ify terus saja menguntit kemana pun siluet Oik pergi. Kali ini, gadis mungil itu tengah berkumpul bersama Alvin, Shilla, dan Cakka.

            Oik, yang merasa terus diperhatikan oleh seseorang, menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia mendapati Ify sedang menatapnya lurus, Oik tersenyum lebar dan mengangkat cocktail di tangannya pada Ify, Ify pun melakukan hal yang sama.

            “Pestanya bagus.” Shilla mulai berceloteh.

            Oik mengangguk, “Gue suka konsep garden party yang mereka pakai.”

            Cakka mengangkat cocktailnya di tengah-tengah mereka berempat, “Cheers!”

            Shilla dan Oik pun ikut mengangkat cocktail mereka, “Chee---,”

            “Tunggu! Cocktail gue habis.” Alvin memutar pandangannya. Ia menengok ke samping kanan, ada seorang waitress yang mengangsurkan segelas cocktail kepadanya. Alvin menerimanya dengan tersenyum sangat manis. “Nah, cheers!”

            Alvin, Cakka, dan Shilla pun menenggak cocktail masing-masing. Sedangkan Oik, ia terus menatap tajam punggung waitress tadi. Ia merasa mengenali postur tubuh itu. Tapi, siapa? Oik memutar otaknya. Tepat ketika pikirannya menemukan jalan buntu, waitress tadi menengok pada Oik, wajahnya yang tadi menunduk kini terlihat jelas. Oik terkesiap.

            Gadis itu lagi?! Gimana bisa dia ada di sini...

**

            Oik memasuki sebuah kamar di ujung lorong bersama Shilla. Kebetulan kamarnya berhadapan dengan kamar Alvin dan Cakka. Dengan cepat, Oik merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur berukuran single di samping jendela yang menghadap ke kolam renang.

            Oik menengok ke samping. Ia melihat Shilla sedang terduduk di atas kasur berukuran single satunya –yang dipisahkan oleh sebuah night stand dengan kasurnya– seraya membongkar koper meran marun milik gadis itu.

            “Lo cari apa, Shill?” tanya Oik.

            Shilla mengedik padanya sekilas, “Peralatan mandi gue. Gue ngerasa sudah masukin semua itu ke koper. Tapi sekarang... ga ada!” Shilla menghela napas berat.

            “Gue duluan yang mandi, ya?”

            Shilla hanya mengangguk. Oik pun segera membuka kopernya, mengambil baju ganti serta peralatan mandi, dan masuk ke dalam kamar mandi yang terletak tak jauh dari pintu kamarnya.

            Shilla terpekur sesaat. Ia alihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Dengan berjingkat, ia berjalan menghampiri koper Oik. Shilla melihat sebuah tas kecil di atas koper tersebut. Tangannya terulur, menyentuh sebuah gantungan kunci kecil yang melekat pada tas kecil milik Oik. Sebuah gantungan kunci kecil bergambar doraemon. Shilla membaliknya, membaca tulisan-tulisan mungil yang tertera di sana.

            “Astaga...” Shilla menggeleng tak percaya, kedua bola matanya membulat karena kaget.

**

            Lagi-lagi, gadis berambut pendek itu. Ia membawa sebuah lilin kecil. Setelah dirasa aman, ia kembali memasuki gudang di hadapannya. Dengan tanpa menyalakan saklar lampu, ia terus berjalan menuju tumpukan kardus di sudut gudang.

            Ia buka kardus yang paling atas. Tumpukan album foto usang. Gadis berambut pendek itu membuka halaman demi halaman album usang tersebut satu-persatu. Akhirnya, ia menemukan foto itu. Ada lima anak kecil yang sedang tersenyum lebar menghadap ke kamera. Jemarinya menyentuh satu-persatu wajah anak-anak kecil itu.

            Seorang anak laki-laki dengan pipi tembem, seorang anak perempuan dengan rambut sebahu, seorang anak laki-laki bermata sayu, seorang anak perempuan berambut ikal panjang, dan seorang anak perempuan berbibir tipis.

            Jemarinya berhenti pada wajah anak kecil terakhir. Wajahnya mengeras. Tanpa basa-basi, ia menyulutkan api dari lilinnya pada wajah anak perempuan itu. Dalam sekejap, wajah anak perempuan itu telah berubah menjadi hitam. Ia tersenyum miring.

            “Lo tau? Ini semua gara-gara lo! Lihat apa yang sudah lo perbuat! Hari ini tepat 16 tahun semenjak kejadian itu. Dan dalam kurung waktu itu, sakit di hati gue belum juga sembuh. Ini semua salah lo! Camkan itu baik-baik!”

**

            Oik baru saja keluar dari kamar mandi dengan menenteng pakaian kotor beserta peralatan mandinya. Ia segera meletakkannya di dalam kopernya. Ia mengedik menatap Shilla. Ia mendapati Shilla sedang menatap tas kecilnya tanpa berkedip.

            “Lo lihat apa, Shill?” tanya Oik.

            Shilla mengedipkan matanya dan berusaha menjadi Shilla yang seperti biasa, “Nothing. Gue hanya... suka gantungan kunci lo,”

            Dahi Oik berkerut heran. Ia mengambil gantungan kunci tersebut dan mengangsurkannya pada Shilla, “Ini?” Shilla mengangguk. “Ambil aja kalau lo mau.” Oik meletakkannya pada genggaman tangan Shilla.

            Shilla terdiam untuk beberapa detik. Ia merasa dewi fortuna sedang ada dipihaknya saat ini. “Serius? Boleh buat gue?” Oik mengangguk. “Wah! Thanks, Ik!”

            Oik hanya tersenyum tipis dan kembali membereskan pakaian kotornya, “Gimana peralatan mandi lo? Ada?”

            “Hilang. Atau mungkin, gue yang lupa bawa.” Shilla mengangguk kecil.

            “Mau pinjam punya gue?” Oik mengangkat tempat peralatan mandinya dan menunjukkannya pada Shilla.

            Shilla mengangguk cepat. “Boleh, deh!”

            Oik terus memperhatikan Shilla yang kini sedang mengambil pakaian bersihnya. Lalu, gadis itu membuka tempat peralatan mandi Oik dan mengeluarkan sabun milik Oik. Shilla menggenggamnya erat. Lagi-lagi, Oik menemukan Shilla sedang menatap kosong ke benda miliknya.

**

            “.....Ada apa?.....”

            “.....Gawat! Saya merasa familiar dengan wajah laki-laki itu.....”

            “.....Nanti saya MMS kamu foto laki-laki yang harus kalian jauhi. Laki-laki itu sendirian?.....”

            “.....Berdua dengan seorang perempuan.....”

            “.....Ya sudah, kamu jangan panik. Tetap jaga dia. Setelah ini saya langsung kirim fotonya ke kamu.....”

            “.....Iya.....”

**

            Alvin berjalan cepat menuju gerbang villa megah tersebut. Sesekali ia menengok ke belakang, sekedar memastikan tidak ada yang melihatnya saat ini. Alvin menangkap siluet seseorang yang tengah bersandar di balik gerbang. Alvin bergegas menghampiri siluet tersebut.

            “Hay!” Alvin menyapa siluet itu.

            Siluet itu pun balas tersenyum pada Alvin. Oh, ternyata siluet itu milik gadis berwajah riang tempo waktu. Gadis berwajah riang itu merentangkan lebar-lebar kedua tangannya dengan tersenyum simpul. Alvin pun memeluknya erat. Keduanya tertawa bersama.

            “Aku kangen kamu.” Alvin berbisik.

            Gadis dalam pelukan Alvin tersenyum dan melepaskan pelukan itu, “Aku juga.”

            “Aku kaget waktu tadi lihat kamu ada di partynya Rio sama Ify. Nyamar jadi waitress, pula!” Alvin menatap gadis di hadapannya tak percaya.

            “Apa, sih, yang ga buat kamu? Biar kamu ga kangen.” gadis itu mengusap pelan pipi Alvin.

            “Tapi, kan, aku takut kalau sampai ada yang lihat kamu tadi.” Alvin mendadak cemas.

“Ga usah cemas gitu, deh, Vin. Buktinya tadi ga ada yang mergokin aku, kan?” gadis itu tersenyum, mencoba menenangkan Alvin.

            Oh, rupanya gadis berwajah riang itu salah. Apa katanya? Tidak ada yang memergoki dirinya? Memang. Tapi, Oik menyadari kehadirannya. Oik selalu menyadari kehadiran gadis itu. Oik hanya tidak ingin buka mulut terlebih dahulu. Cepat atau lambat, jika Oik sudah siap, ia pasti akan buka mulut soal kehadiran gadis itu...

            Alvin kembali merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Keduanya tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi menatap lekat ke arah keduanya dari balik jendela. Sepasang mata itu kembali membulat sempurna mendapati Alvin memeluk gadis itu untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi, Alvin mendaratkan kecupannya di puncak kepala gadis itu. Tak tahan, sepasang mata itu menutup tirai jendela dengan kasar.

**

            Pagi pun menjelang. Kini Oik, Alvin, Cakka, Shilla, Rio, dan Ify tengah berada di halaman villa. Oik sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, begitupula dengan Cakka. Alvin, Shilla, Rio, dan Ify sedang mengobrol di depan mobil.

            “Ik..” Cakka melirik Oik sekilas.

            Oik menaikkan sebelah alisnya, “Hm?”

            “Alvin itu... pacar lo?” tanya Cakka.

            Oik mengangguk santai, “Kenapa?”

            “Yakin?”

            Oik mengangguk sebal, “Kenapa, sih? Lo ada masalah apa kalau Alvin itu cowok gue?”

            Cakka menggeleng. Belum waktunya. Cakka pun menutup pintu bagasi. Dengan tidak memedulikan Oik yang sedang berkacak pinggang, Cakka melangkah menuju depan mobil. Alvin, Shilla, Rio, dan Ify sudah ada di sana. Dengan kesal, Oik menyusul Cakka. Ia memandang lelaki itu dengan sebal.

            Alvin –yang menyadari ada yang tidak beres dengan Oik– segera merangkul Oik, “Kenapa, Ik?” tanyanya dengan lembut.

            Oik menggeleng sebal, “Bukan apa-apa. Hanya orang menyebalkan aja.”

            Cakka tak sengaja mendengar pembicaraan singkat Oik dan Alvin. Ia hanya mampu menghela napasnya. Apa, sih, yang salah dengan dirinya? Ia hanya bertanya sedikit tadi pada Oik. Lalu, kenapa gadis manis itu mendadak sebal? Apa karena Cakka yang tampak tidak yakin bahwa Alvin adalah pacar Oik?

            “Kalian langsung kembali ke Jakarta?” tanya Rio seraya memandang Oik, Alvin, Cakka, dan Shilla satu-persatu.

            Alvin menggeleng, “Oik pingin ke rumah orang tuanya sebentar. Mungkin singgah satu jam di sana. Itu pun kalau Cakka dan Shilla ga keberatan kami ajak ke Bandung.” Alvin mengedik pada Cakka dan Shilla.

            “Boleh! Boleh!” Cakka segera menyahut.

            Oik memandangnya tak suka. Ia makin mengeratkan rangkulannya pada Alvin. Melihat itu, Cakka mendadak mengerutkan keningnya. Entah kenapa, ia tak suka melihatnya. Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa ia jadi sebal begini?

            “Ya sudah, kami pamit dulu, Yo, Fy. Cepat kembali ke Jakarta, ya!” Alvin melambaikan tangannya pada Rio dan Ify.

            “Iya, hati-hati.” Ify tersenyum pada keempatnya.

            Setelah itu, mereka berempat pun masuk ke dalam mobil Alvin. Alvin duduk di balik kemudi, Oik di sampingnya, Cakka dan Shilla duduk di bangku belakang. Alvin pun mulai mengemudikan mobilnya menuju Bandung. Ketika ia melihat kaca spion tengahnya, tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan tatapan tajam milik Cakka.

**

            Setelah menempuh perjalan yang tidak terlalu lama, keempatnya sampai di sebuah pedesaan di pelosok Bandung. Kaca jendela mobil pun dibuka, AC dimatikan. Udara sejuk khas pedesaan mulai masuk ke dalam mobil. Rambut Oik dan Shilla menari-nari dibuatnya.

            Jalan berkelok-kelok di depan mereka masih alami, belum diaspal, masih berupa tanah. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau yang mereka temui. Sawah berada di kanan dan kiri mereka. Juga ada beberapa orang-orangan sawah yang sengaja dipasang untuk mengusir para burung-burung nakal.

            Jalan semakin menanjak. Mereka sudah tidak mendapati persawahan di kanan dan kiri jalan. Sawah-sawah bak permadani hijau muda itu digantikan oleh kebun teh yang aromanya membuat siapapun betah di sana. Ada pula para anak kecil yang sedang berlarian di antara tanaman teh itu.

            Alvin menepikan mobilnya, memasukki sebuah pekarangan rumah dengan halaman yang luas. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berarsitektur jaman Belanda yang sederhana.

            “Kita sudah sampai!” pekikan girang Oik menyadarkan Cakka dan Shilla dari keterpanaannya.

            Oik pun turun dari mobil, diikuti Alvin serta Cakka dan Shilla. Tanpa permisi, Oik masuk ke dalam rumah tersebut. Alvin, Cakka, dan Shilla duduk di teras. Kebetulan ada sebuah meja bundar yang dikelilingi enam kursi kayu. Alvin, Cakka, dan Shilla duduk bersebelahan. Alvin tersenyum memandang sekeliling. Cakka dan Shilla pun begitu.

            Tak lama kemudian, Oik keluar bersama seorang wanita paruh baya. Oik membantu wanita itu untuk duduk. Setelahnya, ia duduk di antara wanita itu dan Alvin.

            “Tadi kami baru dari acaranya Rio dan Ify di Bogor, Bunda.” Oik berkata pada wanita di sampingnya, Bundanya.

            Bunda Oik mengangguk. Beliau mengedik pada Cakka dan Shilla, “Mereka siapa?”

            “Saya Cakka, Tante.” Cakka menyalami Bunda Oik da tersenyum simpul.

            “Saya Ashilla.” Shilla pun mencium punggung tangan Bunda Oik.

            Raut wajah Bunda Oik mendadak berubah. Tak berapa lama kemudian, beliau bangkit dari duduknya.

            “Kalian makan siang sekarang, ya?” tawar beliau.

            Oik menengok ketiga orang lainnya dan akhirnya mengangguk, “Ayah di mana, Bunda?”

            “Masih ke rumah Pak Kepala Desa. Ya sudah, Bunda siapkan makan siang dulu. Kalian segera ke gazebo belakang saja. Kalian makan siang di sana.” Bunda Oik pun lekas melangkah menuju dapur.

            Oik menatap kepergian Bundanya dengan pandangan bertanya. Alvin yang menyadarinya langsung berdiri dan menggandeng tangan Oik. Oik mendongak dan mengangkat sebelah alisnya.

            “Ayo ke gazebo belakang..” ajak Alvin.

            Oik mengangguk. Ia pun berdiri, menyeret kakinya menuju gazebo belakang. Cakka dan Shilla mengekor keduanya. Begitu sampai di halaman belakang rumah Oik, keempatnya langsung duduk di gazebo, mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.

            Halaman belakang rumah Oik juga tak berpagar. Rupanya rumah Oik dikelilingin oleh kebun teh. Lihat saja, kebun the terhampar di sana. Sejauh mata memandang, hanya kebun teh yang terlihat. Cakka tersenyum. Ia suka alam. Ia suka apapun yang berhubungan dengan alam.

            “Rencananya nanti kembali jam berapa?” tanya Shilla.

            Oik mengangkat bahunya, “Terserah Alvin.”

            “Setelah makan siang langsung?” Alvin balik bertanya pada Shilla.

            Cakka menggeleng cepat, “Jangan!”

            Alvin dan Shilla menatap Cakka penuh tanya. Berbeda dengan Oik. Gadis manis itu menatap Cakka sebal. Apa-apaan lagi Cakka ini?

            “Aku ingin keliling kebun teh dulu. Boleh?” Cakka melirik Oik.

            “Tapi, Kka.. Aku butuh istirahat. Besok aku perform di pensinya SMA Al-Izhar!” Shilla menyela dengan cepat.

            “Kamu kalau mau pulang sekarang, ya silakan. Aku ingin keliling kebun teh dulu.” Cakka memandang Shilla dingin.

            Shilla bersedekap tangan, “Terserah kamu, deh!”

            “Aku juga ingin keliling kebun teh.” Oik berkata datar.

            Alvin menatapnya bingung, “Bukannya kamu takut masuk angin? Kamu pernah bilang ke aku kalau di kebun teh anginnya kencang.”

            “Ga mau! Lala mau di cini aja! Kalian aja yang keliling kebun teh. Lala di cini cendilian juga ga apa-apa. Lala takut sama anginnya, bikin kedinginan!”

            “Kka, aku di sini saja. Aku takut sama anginnya kebun teh, kencang banget.” Shilla mengusap-usap lengannya.

            Tak lama kemudian pembantu Oik datang, membawakan menu makan siang mereka. Setelah semua makanan tertata rapi di gazebo, pembantu Oik kembali ke dapur. Mereka berempat pun langsung melahap makanan yang telah dimasak Bunda Oik. Bunda Oik mengawasi mereka semua dari balik jendela dapur.

            Bunda Oik memasakkan kakap merah saus padang, masakan kesukaan Oik. Setelah mengambil sepotong ikan kakap masing-masing, mereka segera melahapnya, kecuali Oik. Gadis itu membuang duri-duri ikannya terlebih dahulu. Cakka meliriknya sekilas.

            “Lala ga cuka duli ikan. Takut ketelan telus tenggolokannya nanti jadi cakit.”

            Cakka menahan napasnya. Ia lalu melirik Shilla. Dilihatnya calon istrinya itu dengan cepat membuang duri-duri ikan kakapnya juga. Bedanya, Shilla sudah memakan sayur-mayurnya sedikit. Sedangkan Oik belum menyentuh sayur-mayurnya sama sekali.

            Cakka menatap keduanya bingung.

            Lala itu Shilla? Tapi... kenapa Oik benar-benar mirip Lala? Oh, bagus! Lalu, siapa lagi setelah ini yang berkelakuan seperti Lala?!

            Cakka menggeram frustasi. Ia benar-benar jengah jika dihadapkan dengan dua kemungkinan seperti ini. Apalagi, masih banyak kemungkinan lain. Masih banyak gadis di dunia ini dan tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada gadis-gadis lain lagi yang berkelakuan mirip Lala!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS