Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SEKEDAR CERITA [01]

            Mata kuliah pertama baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Kini Oik beserta keempat sahabatnya sedang menyantap makan siang di kantin kampus. Sivia, Pricilla, Alvin, dan Ray. Kelimanya telah bersahabat semenjak pertama kali menjejakkan kaki di fakultas ini, tepatnya tiga tahun yang lalu.
            “Jadi, bagaimana keadaan Gabriel?” tanya Sivia setelah bersusah payah menelan pangsit ayamnya.
            Oik tersenyum lesu. “Masih seperti seminggu lalu, Siv.”
            Alvin –yang duduk tepat di saping Oik–  meremas lembut jemari Oik, seakan membagikan kekuatannya pada gadis itu. “Gabriel pasti sadar dari komanya. Believe that.”
            “Iya, tapi kapan?” Oik tersenyum sinis menatap Alvin.
            “Gini ya, Ik..” Pricilla menatap mata Oik dalam-dalam. “Walaupun Gabriel sedang terbaring koma di rumah sakit dan nggak bisa ada disisi kamu, tapi kami berempat ada disini. Kami ada untuk kamu, Ik. Selalu.”
            “Makasih, Pris,” lirih Oik. “Tapi kalian semua sudah memiliki porsi masing-masing disini,” Oik menunjuk dadanya dengan tersenyum tipis. “Jadi walaupun kalian berkata bahwa kalian ada disini untuk aku, kalian tetap nggak bisa mengisi kekosongan yang diciptakan Gabriel.”
            “Percaya kalau Gabriel akan sadar, Ik.” Ray menepuk pelan punggung tangan Oik. Seperti Alvin, ia berusaha membagikan kekuatannya pada Oik.

**

            Oik turun dari boncengan motor Gabriel. Keduanya kini tengah berada di pelataran kediaman Damanik di kawasan Kertajaya Indah. Oik melepas helmnya dan menyerahkannya pada Gabriel. Gadis itu sesekali melirik rumah megah bergaya klasik di hadapannya.
            “Kamu yakin mau membawa aku masuk ke dalam?” tanya Oik ragu.
            Gabriel tersenyum lebar. “Tentu.”
            Gabriel memarkirkan motornya terlebih dahulu di garasi rumahnya dan kembali menemui Oik beberapa menit kemudian. Lelaki bertubuh jangkung itu menggandeng tangan Oik dan menuntunnya melankah masuk ke istananya.
            “Papa, mama, dan Angel dimana?” tanya Oik, melirik Gabriel sekilas. Angel adalah adik Gabriel satu-satunya.
            “Mereka mungkin––,”
            “Kami mungkin dimana, Gabriel?” sahut sebuah suara yang berhasil memotong ucapan Gabriel.
            Gabriel dan Oik menengok ke belakang. Kedua orangtua Gabriel beserta Angel berdiri dengan angkuh tepat di pintu yang masih terbuka. Gabriel merangkul bahu Oik dan membimbingnya menghampiri mereka bertiga.
            “Oom, Tante, Angel..” Oik membungkukkan sedikit punggungnya, sekedar memberi salam pada keluarga kecil kekasihnya itu.
            Mama Gabriel melengos dan menatap tajam putranya. “Kami mungkin dimana, Gabriel?” ulang beliau.
            “Kalian mungkin masih di gereja,” Gabriel mengangkat bahunya, asal menebak.
            “Kami memang baru saja pulang dari gereja,” Papa Gabriel menatap Oik tak suka.
            “Dan kenapa Mas Gabriel nggak ikut kami ke gereja?” tanya Angel dengan nada tajam.
            Gabriel menggelengkan kepalanya, kecewa. “Aku, kan, sudah memberitahu kalian bahwa aku ikut ibadah malam. Aku––,”
            “Jadi Mas lebih memilih bersama perempuan ini, ketimbang ke gereja bersama kami?” tanya Angel lagi. Memberikan penekanan pada ‘perempuan ini’ dan melirik Oik tajam.
            “Bukan begitu––,”
            “Apalagi, Gabriel?” teriak mamanya, frustasi.
            Oik terdiam. Kali ini ia benar-benar merasakan penolakan keras dari keluarga Gabriel atas hubungannya dengan lelaki itu. Dan Oik tahu betul alas an dibalik penolakan tersebut. Klise memang, tetapi benar adanya. Alasan perbedaan keyakinan tidak akan bisa diganggu gugat.

**

            “Oik! Ik! Oik! Oik Cahya Ramadlani!”
            Oik mengerang jengkel. Seseorang tengah dengan kasar menepuk-nepuk lengannya. Oik menarik napas panjang dan perlahan membuka matanya. Bayangan kabur wajah Sivia menyambutnya. Oik langsung duduk tegak begitu menyadari ruang kuliahnya sudah kosong.
            “Mata kuliah baru saja selesai,” ujar Sivia, menjawab pertanyaan bodoh dalam Oik mengenai ruangan yang mendadak sepi.
            “Jam berapa, Siv?” tanya Oik dengan suara parau.
            Sivia melirik jam tangannya dan berdiri. “Jam empat lewat.”
            “Mau kemana?” tanya Oik lagi, tangan kirinya menghalangi Sivia yang berlalu sementara tangan kanannya sibuk mengucek mata.
            “Pulang,” Sivia menatap Oik tak percaya. “Ini sudah jam empat lewat dan kamu masih ingin berada disini?”
            “Oh,” Oik terkesiap. “Aku harus menjenguk Gabriel sekarang.”
            Sivia memperhatikan Oik yang kini sedang sibuk membereskan agenda dan alat tulisnya dengan sedih. Oik menjadi seorang gadis linglung semenjak Gabriel koma sebulan yang lalu. Sivia tenggelam dalam lamunannya dan kembali ditarik ke realita ketika Oik berdiri di hadapannya dan memandangnya datar.
            “Mau keluar bareng?” tawar Oik, Sivia mengangguk.
            Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari ruang kuliah, menyusuri koridor fakultas, melewati lapangan voli, dan sampai di lapangan parkir. Hanya mobil milik Sivia yang masih tersisa disini.
            “Langsung menjenguk Gabriel, Ik?” tanya Sivia.
            Oik mengangguk. “Ya sudah, aku duluan.”
            Oik pun melangkah meninggalkan Sivia. Sivia mengurungkan niatnya untuk mengantar Oik menjenguk Gabriel ketika dilihatnya wajah Oik yang menyiratkan tidak ingin ditemani oleh siapa pun. Sivia hanya mampu menghela napas dan masuk kedalam mobilnya.

**

            Oik berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Dengan otomatis, kakinya menuntunnya menuju ruang rawat Gabriel. Hari masih sore dan keluarga Gabriel tidak mungkin sudah datang menjenguknya. Setelah sampai di depan ruang rawat Gabriel, Oik segera mendorong pintunya dan masuk ke dalam.
            “Gabriel..”
            Oik terkesiap ketika menyadari ruangan itu kosong. Ranjang tepat Gabriel biasa terbaring lemah pun sudah rapi. Oik melihat sekeliling ruangan. Tak ada tanda-tanda bahwa Gabriel masih ada disini. Lalu, kemana Gabriel?
            “Gabriel, kamu dimana?” lirihnya. Lidahnya kelu karena terus mengucapkan sebuah kalimat tanya tersebut.
            Seperti orang kesetanan, Oik berlari menuju lift. Ia menerobos antrian yang berdiri di depan lift. Ketika pintu lift terbuka, Oik segera masuk ke dalamnya dan memencet tombol untuk segera menutup pintulift. Ia tak perduli dengan makian kesal orang-orang yang serobot. Tangan Oik memencet tombol bertuliskan L –Lobby– dengan gemetar.
            Kemana Gabriel? Kenapa ia menghilang begitu saja dari ruang rawatnya? Sebuah pikiran buruk muncul dibenak Oik. Apakah keluarga Gabriel membawanya untuk berobat di luar negeri? Apalagi mengingat teknologi di luar sana yang lebih canggih. Oik menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Tidak boleh. Oik masih membutuhkan Gabriel disini. Oik membutuhkan Gabriel seperti Gabriel membutuhkannya.
            Begitu pintu lift terbuka, Oik langsung keluar dan berlari menuju meja receptionist. Oik menghabiskan lima detiknya untuk mengatur napas. Seorang suster yang berdiri di belakang mejareceptionist tersenyum memandangnya.
            “Ada yang––,”
            “Gabriel Stevent Damanik... Kamar 743... Koma... Ruangannya kosong... Kemana?” Oik memotong ucapan suster tersebut dengan terbata-bata.
            “Sebentar, saya cek dulu.”
            Oik mengangguk dan membiarkan suster tersebut memeriksa daftar pasien yang dirawat disana. Oik harap-harap cemas menunggu. Oik berusaha mengenyahkan pikiran bahwa Gabriel dibawa orangtuanya––,
            “Pasien bernama Gabriel Stevent Damanik dipindahkan ke ICCU karena kritis.”
            Oik merasakan lututnya yang mendadak lemas. “ICCU dimana, Sus?”
            Dan, beberapa menit kemudian, Oik telah mendapati dirinya melangkah menuju ICCU sesuai dengan petunjung suster tadi. Oik memincingkan matanya ketika mendapati tiga orang yang sedang berdiri gusar di depan ICCU Gabriel.
            Ada kedua orangtua Gabriel beserta Angel. Oik berhenti melangkah dan tersenyum pahit. Jadi, ia harus menunggu agar ketiga orang itu berlalu barulah ia bisa masuk ke dalam dan menemui Gabriel? Rupanya ia sudah harus puas hanya dengan menatap daun pintu ruang ICCU Gabriel yang tertutup rapat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar