Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

THE UNTITLED STORY [2 of 4]

            Seminggu kemudian..

            Oik berjalan dengan tergesa-gesa menuju Sekretariat OSIS. Pasti rapat mengenai LDKS yang akan diselenggarakan besok sudah dimulai. Ini semua gara-gara Sivia dan Pricilla! Kedua sahabatnya itu tadi mengajaknya makan di kantin. Mentang-mentang keduanya tidak mencalonkan sebagai anggota OSIS lagi, mereka jadi semena-mena menculik Oik saat rapat digelar! Huh!

            Oik mengetuk pintu Sekretariat OSIS dengan hati-hati. Setelah itu, ia membukanya. Seluruh pasang mata di dalamnya memandang tajam ke arahnya. Oik masuk seraya tersenyum kikuk, lalu mengambil tempat duduk di samping Keke –adik kelasnya–.

            Oik mengerling ke depan. Para senior OSIS sedang memimpin rapat. Ada Zahra, Angel, Rio, Kiki –Ketua OSISnya–, Lintar –Wakil Ketua OSIS–, Irva –Ketua Panitia LDKS–, dan Rahmi –Bendahara I OSIS–.

            Oik mengedarkan pandangannya. Rupanya Cakka dkk itu juga mencalonkan sebagai anggota OSIS. Oik menggerutu dalam hati. Mau jadi apa OSIS tahun ini kalau anggotanya kayak mereka ini?

            “Ya sudah, rapat saya tutup. Setelah ini langsung pulang, jaga kesehatan. Besok kita berangkat ke daerah Trawas, Mojokerto. Barang-barangnya juga jangan sampai ada yang ga dibawa.” Angel menutup rapat dengan senyum sinisnya.

            Angel, Rio, Kiki, Lintar, dan Rahmi langsung keluar dari Sekretariat OSIS. Sedangkan Zahra dan Irva menunggu sampai seluruh adik-adiknya keluar. Pasalnya, Zahra yang membawa kunci ruangan ini. Jadi, dia yang akan menguncinya.

            “Ik! Oik!”

            Oik menengok ke belakang sambil membenahi dasinya. Ada Shilla yang berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Cakka cs. Oik mengangkat salah satu alisnya, membuat Shilla serta Cakka cs datang menghampirinya.

            “Hay, Kak.” Alvin tersenyum lebar seraya agak menganggukkan kepalanya, Oik hanya menatapnya datar.

            “Halo, Mbak!” Cakka mengangkat tangan kanannya, bermaksud untuk berhigh five dengan Oik tapi sama sekali tak diperdulikan olehnya.

            Shilla memandang Alvin, Cakka, Deva dan Ozy – teman keduanya– dengan tersenyum kecil, lalu beralih pada Oik, “Ikut LDKS, kan, Ik?”

            Oik mengangguk, “Iya. Kenapa, Shill?”

            “Jangan jutek-jutek, dong, Mbak.” celetuk Deva dan dia berhasil mendapatkan pelototan tajam dari Oik.

            “Kamu tadi, kan, ga dateng rapat dari awal. Nanti aku SMSin ke kamu aja, ya, barang-barang apa yang harus dibawa?” tawar Shilla.

            “Ga usah,” Oik menggeleng dan tersenyum berterima kasih. “Aku udah tau, kok, Shill. Aku, kan, juga ikut LDKS tahun lalu... ga kayak kamu. Aku juga bisa tanya Mbak Irva.”

            Shilla hanya mengangguk mengerti dan tersenyum kikuk.

**

            Keesokan harinya..

            Para peserta LDKS telah siap di barisan masing-masing. Dan, sialnya, Oik harus berbaris di dekat Cakka cs. Satu hal lagi yang membuat Oik kesal adalah sinar matahari yang menyengat itu membuatnya agak sedikit limbung. Oik memang tidak bisa berada di bawah sinar matahari dalam waktu yang lama. Ia bisa pingsan dibuatnya.

            “Kenapa, Kak?” Alvin melongokkan kepalanya pada Oik.

            Oik menggeleng lemah, “Ga kenapa-kenapa. Cuman kepanasan.”

            “Aku bawa jaket, Mbak. Mau pinjem?” tawar Cakka, lagi-lagi ia tersenyum lebar.

            “Aku juga bawa.” Oik melirik Cakka dingin.

**

            Seluruh peserta LDKS beserta para senior OSIS turun dari dalam bus. Mereka semua dihadapakan dengan barisan bukit yang hijau. Para peserta LDKS kembali berbaris, dipimpin oleh beberapa orang dari event organizer yang disewa oleh para seniornya. Senior-senior itu mengawasi mereka dari bawah teduhnya pepohonan. Oik menatap kakak-kakaknya dengan raut wajah sebal.

            Oik berbaris di dekat Gita dan Nova –teman seangkatannya–. Para peserta LDKS pun mulai berjalan, menaiki dan menuruni perbukitan di depannya. Zahra, Irva, Rahmi, Angel, Kiki, Lintar, dan Rio mengikuti mereka dari belakang. Zahra sudah berjaga-jaga membawa Oxycan –Oxygen Can– untuk Oik.

            Dan, benar saja, baru beberapa kilometer berjalan, Oik sudah lemas. Wajahnya sudah sepucat mayat hidup, bibirnya sudah seputih kapas. Akhirnya ia dibopong oleh Zahra dan Irva. Rahmi dan Angel mengipasi Oik. Rio membawakan Oxycan Oik. Kiki dan Lintar tetap berjalan bersama para peserta LDKS yang lain.

            “Sok-sokan ikut pendakian, sih, Ik..” cibir Rahmi.

            “Mbak Rahmi, nih... ngeselin!” Oik merajuk dengan suara manjanya. “Kan, biar bareng-bareng sama yang lainnya juga. Masa aku langsung ke perkemahan, sih? Sendirian, dong!”

            “Butuh Oxycan, Ik?” tanya Rio.

            Oik menggeleng cepat, “Masih kuat, kok, Mas!”

            Akhirnya Oik kembali berdiri. Tangan kanannya digandeng oleh Zahra dan tangan kirinya digandeng oleh Angel. Rahmi dan Rio berjalan di depannya. Perlahan, mereka berlima menyusun rombongan lainnya yang sudah jauh di depan.

            “Mbak, calon anggota OSISnya, kok, gini semua, sih?” Oik memperhatikan adik-adik kelasnya dengan prihatin.

            “Cakka cs, ya?” tanya Rahmi.

            Oik mengangguk, “Iya, Mbak. Gitu, kok, ya, diterima..”

            Irva mengangkat bahunya, “Tanya Ketua OSISmu aja, Ik. Dia bilang Cakka c situ kurang diasah aja kemampuannya.”

            “Udah jelas-jelas nakal gitu, kok! Buktinya, waktu MOS, kan, mereka jadi troublemaker, Mbak.” Oik menimpali dengan kesal.

            “Tenang... Cakka, Alvin, Deva, sama Ozy itu takut sama aku.” Rio menyombongkan dirinya.

            Angel menyoraki Rio dengan hebohnya. Ia sampai mendorong bahu Rio karena gemas dengan percaya dirinya yang selangit itu. Oik pun tertawa. Tak terasa, asmanya sudah mulai sembuh. Tumben sekali asmanya kumat tidak berlangsung lama.

**

            Seluruh rombongan pendakian sampai di area perkemahan dengan peluh yang menetes deras. Para peserta LDKS duduk melingkar di depan tenda. Oik menyusul dan duduk di samping Shilla karena hanya tempat itulah yang masih kosong.

            “Asma kambuh, Ik?” tanya Shilla.

            Oik mengangguk dan tersenyum jengah, “Iya, tapi udah mendingan. Ini udah ga kenapa-kenapa, kok.”

            Shilla mengangguk mengerti. Gadis itu kembali meluruskan kakinya. Begitupula dengan Oik. Mereka berdua terlibat pembicaraan seru seputar MOS seminggu yang lalu. Apalagi ketika Oik mendapatkan banyak surat yang menyatakan bahwa dialah panitia MOS yang paling galak.

            “Dek!” Angel berdiri di tengah lingkaran bersama dengan Rio. “Ini air mineral gelasnya setiap orang dapet jatah satu. Cepetan diminum. Setelah ini, kita ada games di sungai belakang.” Angel mengedik ke belakang tenda. Ada sungai berair jernih di sana.

            Dengan cepat, Rio membagikan kepada adik-adiknya segelas air mineral. Setelah itu, para senior dan beberapa orang dari event organizer segera menuju sungai untuk mempersiapkan peralatan games.

            “Mbak, gamesnya nanti ngapain?” tanya Cakka pada Shilla.

            Shilla menggeleng dan tersenyum masam, “Ga tau, dek. Tanya Mbak Oik aja. Aku, kan, tahun lalu ga ikut LDKS.”

            Cakka mengangguk dan kemudian beralih pada Oik, “Mbak, gamesnya nanti ngapain?”

            “Pipa bocor.” Oik menjawab pendek.

            Cakka kembali menengok pada Alvin, Deva, dan Ozy. “Dev, Zy, dulu di SMP Permata games LDKSnya apa, ya?”

            Deva, Ozy, dan Cakka adalah alumnus SMP Permata. Dulu –semasa SMP– ketiganya merupakan anggota OSIS juga. Deva pada Sekbid 2 yang menangani soal Pendidikan, Ozy pada Sekbid 7 soal Olah Raga, dan Cakka pada Sekbid 8 yang merupakan spesialis Kesenian. Sedangkan Alvin adalah alumnus SMP Langit Jingga.

            Ozy mengedik pada Deva dan menjawab, “Lupa, Kka. Udah lama juga..”

            Shilla menengok pada ketiga adik kelasnya itu dengan raut wajah kaget, “Kalian alumnusnya SMP Permata?” ketiganya mengangguk bersamaan. “Ik, kamu alumnus SMP Permata juga, kan?”

            “Mbak Oik alumnus SMP Permata?” tanya Cakka dengan mata berbinar.

            “Iya.” Oik kembali menjawab dengan pendek dan dingin.

            “Tapi aku ga pernah lihat Mbak Oik, lho..” Ozy juga terlihat kaget.

            Oik memandang tajam ketiga adik kelasnya itu, “Kalian pikir aku pernah lihat kalian waktu SMP? Emang penting? Buang-buang waktu aja.”

            Oik bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju sungai. Cakka, Alvin, Deva, dan Ozy dibuat melongo oleh keketusan Oik barusan. Ketiganya tak menyangka bahwa Oik akan tetap menjadi senior yang ketus seperti ketika MOS. Shilla hanya memandang Oik dengan menggelengkan kepalanya, memaklumi.

            “Mungkin Mbak Oik masih kebawa suasana MOS.” Shilla mencoba menjelaskan.

            “Tapi Mbak Shilla udah ga kebawa suasana MOS, kan? Kok Mbak Oik masih kebawa?” tanya Deva dengan raut wajah –agak– sebal.

            “Mbak Shilla yang pas MOS jadi SK aja bisa baik ke kita. Mbak Oik yang cuman panitia biasa, kok, tetep jahat?” Ozy ikut menimpali.

            “Hus!” Alvin menoyor kepala Ozy. “Ceplas-ceplos banget kamu! Mbak Oik itu pas MOS pegang jabatan double, tau! Sekretaris sekaligus bendahara!”

            “Kamu tau dari mana, Vin?” tanya Cakka dengan pandangan tak suka.

            “Dari Mbak Shilla.” Alvin pun memamerkan cengiran lebarnya pada Cakka, Deva, dan Ozy.

            “Udah, ah. Ga baik ngomongin orang terus. Ntar Mbak Oiknya tau, kalian bisa dimarahin.” Shilla pun bangkit berdiri lalu membersihkan rok pramukanya yang kotor karena rerumputan. “Ke sungai belakang sekarang, yuk!”

            Cakka, Deva, dan Ozy berdiri pula tanpa banyak bicara. Hanya Alvin yang masih duduk dan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia mengulurkan tangannya ke atas, bermaksud ingin dibantu berdiri. Cakka, Deva, dan Ozy menatapnya malas. Shilla memandangnya dengan tersenyum simpul.

            “Ayo, sini.. Berdiri!” Shilla membalas uluran tangan Alvin.

            Cepat-cepat Alvin menjauhkan tangannya dari Shilla dan menampakkan wajah malaikatnya, “Maaf, Kak.. Kita bukan muhrim.” Alvin menjawab dengan kalem.

            Shilla pias. Ia kembali menarik uluran tangannya kemudian berbalik dan melangkah menuju sungai. Meninggalkan keempat adik kelasnya itu dengan diselimuti kebingungan.

            “Kamu, sih, Vin! Mbak Shilla ngambek, tuh!” Deva mengulurkan tangannya untuk membantu Alvin berdiri dengan malas.

            “Ya, kan, aku cuman bercanda. Kak Shilla aja yang terlalu serius nanggepinnya.” bantah Alvin.

            Keempatnya pun berjalan menuju sungai dengan cepat. Pasalnya, para peserta LDKS yang lainnya telah melenggang menuju sungai sejak lima menit yang lalu. Begitu mereka sampai di bantaran sungai, mereka melihat para peserta lain telah berbaris membentuk lima banjar.

            “Kalian berempat!” Angel berteriak dari depan. “Kenapa telat kemari?”

            “Maaf, Kak.” Alvin, Cakka, Deva, dan Ozy hanya mampu menundukkan kepala mereka.

            “Udah, cepet baris! Jangan buang-buang waktu.” Rahmi menimpali.

            Keempatnya segera berbaris. Kebetulan, banjar paling kanan baru terisi oleh tiga orang, kurang empat lagi. Jadilah mereka semua berbaris pada banjar paling kanan tersebut. Rupanya mereka sebanjar dengan Oik, serta dua teman seangkatan mereka lainnya –Dea dan Agni–.

            Alvin –yang berbaris di depan ketiga temannya yang lain– mencolek bahu Agni dari belakang, “Games pipa bocor, Ag?” tanyanya.

            Agni mengangguk, “Iya. Ssstt!” Gadis itu menyilangkan telunjuknya di depan bibir. “Bilangin Cakka, Deva, sama Ozy.. Jangan rame! Nanti kalian ga denger penjelasan dari Kak Angel, tau!”

            Alvin mengangguk. Ia memberikan kode kepada ketiga temannya itu agar jangan berbicara sendiri dan mendengarkan penjelasan tentang permainan pertama ini dengan baik. Cakka, Deva, dan Ozy pun diam. Mereka semua menyimak penjelasan dari Angel dengan seksama.

            “Nah! Kelompoknya dibagi menurut banjar masing-masing, ya! Satu banjar, satu kelompok!” Angel mengakhiri penjelasannya.

            Oik, yang berbaris paling depan, segera menengok ke belakang. Ia kaget bukan main ketika mendapati bahwa ia akan sekelompok dengan keempat adik-adik troublemaker itu. Ia menggeram dalam hati dan kembali menghadap ke depan.

            Kelima kelompok tersebut segera masuk ke dalam sungai. Alhasil, seragam pramuka mereka menjadi basah kuyup. Kelompok pertama berada di tengah-tengah sungai, kelompok kedua di sebelah utara kelompok pertama, kelompok ketiga di sebelah timur kelompok pertama, kelompok keempat berada di sebelah selatan kelompok pertama, dan kelompok kelima berada di sebelah barat kelompok pertama.

            “Mbak, masuk sungai ga bikin asmanya kambuh lagi, kan?” tanya Cakka khawatir.

            Oik menggeleng dan tersenyum tipis, “Ga, kok. Ga selebay itu juga, lah, asmaku!”

            “Wah! Mbak Oik bisa senyum!” Cakka memekik heboh.

            “Kamu pikir Kak Oik itu robot?” Alvin menginjak kaki Cakka hingga temannya itu mengaduh kesakitan.

            “Ya! Di tengah-tengah kalian semua sudah ada sebuah pipa yang memiliki lubang di mana-mana. Di dalamnya ada sebuah bola kecil. Tugas kalian adalah mengisinya dengan air sungai hingga bola kecil itu keluar dari dalam pipa.”

            Begitu peluit dibunyikan, seluruh kelompok tersebut mulai sibuk sendiri mengisi masing-masing pipa dengan air sungai. Ada yang bertugas menutup lubang-lubangnya dan ada juga yang bertugas menimba air lalu menuangkannya ke dalam pipa.

            “Ga ngaruh, nih!” seru Agni dengan sebal.

            “Ya sabar, Ag!” Ozy menimpali dengan tak kalah kesalnya.

            “Logika kalian jalan ga, sih? Yang ditutup jangan cuman lubang-lubang yang ini, dong!” Oik pun ikut berseru dengan kesal.

            “Terus yang mana lagi, Mbak?” tanya Ozy. Ia bertugas menimba air dan memasukkannya ke dalam pipa.

            “Yang di bawah masih bolong!” pekik Alvin, seakan baru menyadari sesuatu.

            Oik mengangguk. Rupanya logika anak-anak troublemaker ini berjalan juga. Oik tersenyum dalam hati. Akhirnya, Dea yang menutup lubang bawah pipa yang mengangalebar. Ozy pun melanjutkan pekerjaannya.

            Perlahan, bola kecil itu mulai muncul dan akhirnya keluar dari dalam pipa. Kelompok Oik bersorak senang. Akhirnya mereka pun diperbolehkan kembali ke bantaran sungai dan duduk-duduk di bawah pepohonan sambil menunggu kelompok lain yang tak kunjung berhasil mengeluarkan bolanya.

            “Mbak, Mbak Oik jangan jutek-jutek, dong..” rajuk Dea.

            “Siapa yang jutek? Ga ada.” Oik terkekeh pelan setelahnya.

            “Ya Mbak Oik yang jutek!” Agni cemberut. “Waktu MOS jutek. Ini tadi juga jutek. Tapi, kok, tadi bisa senyum, Mbak?”

            “Lagi bete aja kemarin-kemarin.” Oik kembali tersenyum simpul.

            “Tuh, kan, senyum lagi!” Cakka kembali memekik dengan heboh.

            “Berisik, Kka!” Deva menempeleng wajah Cakka dengan tidak berperasaan.

            “Berarti kalau Mbak Oik jutek itu Mbak Oik lagi badmood?” tanya Dea, memastikan.

            Oik mengangguk, “Iya, Dek.”

            “Kak Oik berarti sering badmood, ya..” gumam Alvin seraya tersenyum simpul

            “Udah takdir, Vin, kalau aku sering badmood.” Oik tertawa kencang.

            “Jangan badmood lagi, ya, Mbak..” kata Cakka. Ia menatap Oik lurus-lurus dan tersenyum tulus padanya.

            Oik kembali tersenyum. Ia mulai nyaman berada di antara mereka. Semangat, Oik! Ia masih akan menjalani dua hari kedepan dalam kegiatan LDKS dengan mereka-mereka ini. Oik tak menyangka mereka adalah adik kelas yang menyenangkan begini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar