Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

JE T'AIME [03]







            “Kamu Mama antar aja, ya, Ik, berangkat sekolahnya?” Mama Oik memerhatikan gadis mungilnya yang sedang sarapan itu.

            Oik menggeleng cepat, “Ga usah, Ma. Nanti Mama capek. Sekolah aku, kan, jauh!”

            Kali ini ganti mamanya yang menggeleng, “Ga bisa. Nanti kamu bohongin Mama lagi! Bilang naik angkot tapi ternyata dibonceng cowok.”

            Oik memutar otaknya. Bagaimana pun caranya, dia harus berangkat sekolah sendiri. Jangan sampai Mamanya mengatarnya hingga ke sekolah. Ini semua gara-gara tante-tante yang tinggal di ujung kompleks itu. Bermulut besar sekali! Huh!

            “Ya udah, gini aja.. Mama nganterin aku sampai depan kompleks. Nungguin aku sampai dapat angkot juga boleh. Oke, Ma?” tawar Oik.

            Mama Oik pun mengangguk. Paling tidak, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Oik berangkat menggunakan angkot, tidak berboncengan dengan lelaki mana pun lagi. Beliau dapat menghela napas lega sekarang, begitu pula dengan Oik yang masih menyimpan rencananya rapat-rapat dengan senyum tertahan.

            Setelah selesai sarapan, mereka berdua pun beranjak meninggalkan rumah sederhana tersebut dengan terlebih dahulu mengunci pintunya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju depan kompleks. Oik masih juga belum menyadari sebuah ‘kesalahan’ kecilnya.

            “Kamu biasa nunggu angkot di mana, Ik?” tanya mamanya ketika mereka berdua telah sampai di depan kompleks.

            “Di sini aja, Ma.” Oik menjawab seraya mengedarkan pandangannya. Tepat ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah siluet laki-laki yang terduduk di atas motornya di bawah pohon akasia, Oik terkesiap.

            “Kenapa, Ik?” tanya mamanya, menyadari putrinya mendadak berkeringat dingin.

            Oik menggeleng perlahan, “Ga kenapa-kenapa, Ma.” Oik kembali mengedarkan pandangannya, menangkap bayangan angkot yang lewat. “Itu, Ma, angkotnya!”

            Oik melangkah ke tepi jalan dengan gelisah, ada Cakka di sana. Angkot itu pun berhenti, mempersilakan Oik masuk. Oik duduk di belakang. Beberapa detik kemudian, angkot pun melaju. Oik dapat melihat mamanya yang perlahan berbalik dan kembali ke rumah, serta Cakka yang mengikutinya menggunakan motor.

            Oik pun buru-buru memberi kode kepada sang sopir angkot begitu menyadari angkot telah berada di sebuah perempatan yang lumayan jauh dari kompleks rumahnya. Angkot berhenti, Oik turun, dan membayar. Oik melangkah menuju motor Cakka yang terparkir di depan sebuah halte.

            “Kka, kamu jemput aku?” tanya Oik, setelah Cakka menyadari kehadirannya dan melepaskan helm.

            Cakka mengangguk dengan bingung, “Iya, lah, Ik. Memang gini, kan, biasanya?”

            Oik kembali gelisah, “Aduh, Kka.. Semalem aku lupa ngasih tau kamu kalau hari ini kamu ga perlu jemput aku.”

            “Lho? Emang kenapa, Ik?”

            “Masalahnya---,” Belum sempat Oik menyelesaikan kalimatnya, sebuah motor berhenti di samping keduanya. Pengendara motor tersebut pun melepaskan helmnya setelah mematikan mesin motornya terlebih dahulu. “Papa...”

            “Mama kamu ga tau kalau kamu mau berangkat dianter Papa, kan, Ik?” tanya pengendara motor tersebut –yang ternyata adalah Papa Oik–.

            Oik menggeleng, “Ga, sih, Pa. Tapi...” Oik menggantungkan kalimatnya, menyenggol rusuk Cakka dengan lengannya.

            “Dia siapa, Ik?” tanya Papa Oik, mengedik ke arah Cakka.

            “Nah itu, Pa!” Oik menggaruk bagian kepalanya yang tak gatal. “Aku lupa ngasih tau Cakka kalau hari ini aku berangkat sama Papa.”

            “Pacar kamu?” tanya Papa Oik, menatap anaknya dengan senyum penuh arti.

            “Jangan marah tapi, Pa..” Oik mengangguk dengan ragu-ragu. Perlahan, Oik meremas tangan Cakka yang sedang menggenggamnya.

            “Kenapa harus marah, Ik?” Papanya mengusap lengan Oik penuh sayang.

            “Kan, Mama ga bolehin aku pacaran. Takutnya Papa juga ga ngebolehin. Makanya aku sama Cakka kalau berangkat sekolah bareng, ya, sembunyi-sembunyi gini, takut ketahuan Mama. Mama kemarin marah waktu tetangga bilang aku berangkat sekolahnya diboncengin cowok, bukan naik angkot.” Oik menjelaskan dengan perlahan.

            Papa Oik mengangguk mengerti, “Ya sudah..” Beliau menepuk bahu Cakka, “Kamu anter Oik sekolah, ya. Saya langsung balik ke Bekasi aja, takut Mama tirinya Oik tau kalau saya ke sini. Jaga Oik, ya.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, Papa Oik bergegas kembali melaju dengan motornya, meninggalkan Cakka dan Oik yang terbengong-bengong karenanya.

**

            Bel istirahat baru saja berbunyi. Oik, Pricilla, Ify, dan Sivia sudah duduk manis di salah satu spot paling nyaman di kantin. Oik dan Sivia tetap duduk, sedangkan Pricilla dan Ify kembali bangkit untuk memesan makanan.

            Setelah selesai memesan makanan, Ify kembali dengan membawa sebuah nampan yang terisi penuh oleh menu makan siang mereka berempat. Sedangkan Pricilla masih mengantri minuman. Ify, Oik, dan Sivia belum menyentuh makanan mereka karena masih menunggu Pricilla.

            Lima menit kemudian, Pricilla kembali dengan tiga gelas jus jeruk. Ia segera meletakkannya di meja.

            “Terus minuman lo mana, Pris?” tanya Sivia ketika menyadari Pricilla hanya membawa tiga gelas jus jeruk.

            “Gue pesen jus sirsak, masih dibuatin. Makanya gue mau balik sana lagi.” Pricilla pun kembali ke stan kantin tersebut untuk mengambil jus sirsaknya.

            Jus sirsak pesanan Pricilla telah jadi. Ia kembali berjalan ke arah tiga sahabatnya seraya mengacungkan gelas jusnya tinggi-tinggi dan tersenyum lebar. Ia sudah lama tak minum jus sirsak. Karenanya, ia tidak melihat jalan. Padahal lantai baru saja dipel.

            Bruk!

            Pricilla terpeleset. Jus sirsaknya tumpah-ruah kemana-mana. Kantin mendadak hening. Tapi tak ada seorang pun yang berani menertawakan Pricilla. Wajah gadis imut itu sudah merah padam karena malu.

            Dengan begitu saja, Pricilla meletakkan gelas kaca yang nyaris pecah itu pada meja terdekat. Pricilla hendak berdiri ketika sebuah tangan terulur kepadanya. Gadis itu mendongak, ada Gabriel di sana. Pricilla menatapnya berterima kasih. Pricilla pun menerima uluran tangan Gabriel lalu berdiri.

            “Jus sirsak kamu tumpah. Mau aku ganti?” tawar Gabriel, keduanya pun berjalan ke arah meja Pricilla. Kantin kembali ramai.

            “Boleh. Bener lo mau ganti?” tanya Pricilla tak yakin. Ia kembali menggunakan gue-lo karena ada Ify, Oik, dan Sivia di sampingnya.

            Gabriel mengangguk yakin, “Aku pesenin dulu, ya, Bar---,” Gabriel terkesiap. Hampir saja ia memanggil Pricilla dengan sebutan Barbie! “...Pricilla.” Gabriel pun berlalu. Meninggalkan Pricilla yang mulai disoraki oleh ketiga sahabatnya.

            “Tau, deh, Pris, yang dibantuin sama Pangeran Cupu, mah!” Oik mengedip-edipkan matanya pada Pricilla.

            “Kayaknya dia suka sama lo, deh, Pris!” Sivia tak henti-hentinya menyerang Pricilla dengan hipotesa abalnya.

            Ya iya, lah, dia suka sama gue! Gue, kan, pacarnya! Gimana ceritanya dia ga suka sama pacarnya sendiri?! Pricilla masih terus menggerutu dalam hati.

            Ify menyenggol Pricilla seraya tertawa lebar, “Pangeran Cupu lo, tuh, Pris!”

            Pricilla menggebrak meja dengan sebal, “Apaan, sih, kalian?! Bisa ga berhenti nyorakin gue sama Gabriel? Kita cuman temen!”

            Dan saat itu pula Gabriel datang. Tepat ketika Pricilla mengatakan bahwa dia dan dirinya hanya teman. Gabriel tersenyum sedih. Ia meletakkan segelas jus sirsak untuk Pricilla di meja begitu saja. Pricilla menatapnya dengan perasaan serba salah.

            Maaf, Gab..

            Aku yang harusnya minta maaf, Pris..

            Maaf udah bilang di depan mereka kalau kita cuman temen..

            Iya, ga apa-apa. Seperti kata kamu, kan.. Kita cuman backstreet.

            Jangan marah, Gab..

            Siapa yang marah, sih, Pris? Aku baik-baik aja.

            Aku janji aku bakal bilang ke mereka kalau kita pacaran, kok. Tunggu waktu yang tepat aja.

            Iya, terserah kamu. Yang penting kamu nyaman sama keadaannya aja.

            Makasih, Gab..

            Anything for you, Pris..

            “Heh!” Sivia menyenggol lengan Pricilla dengan ganasnya.

            Pricilla terkesiap, “Eh? Apa?” Gadis itu mengalihkan pandangannya kepada tiga sahabatnya yang menatapnya judes.

            “Dipanggilin dari tadi malah bengong aja sambil ngelihatin si Pangeran Cupu!” sungut Ify.

            “Eh?” Pricilla memandang mereka bertiga tak mengerti. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Gabriel. Ternyata lelaki itu telah melangkah pergi dengan kepala tertunduk. Pricilla menatapnya sedih. Maaf..

            “Lo kenapa, sih?” Oik menatap Pricilla lekat-lekat. “Kalau gue juga ga salah lihat, lo tadi mandang Gabrielnya gitu banget, Pris.”

            Pricilla menggeleng lemah, “Gue ga kenapa-kenapa, kok.”

            “Tuh, kan!” Ify memekik jengkel. “Sekarang lo malah ngelihatin punggung Gabriel dengan wajah sedih gitu!” Ify menggelengkan kepalanya tak mengerti.

**

            Ify sedang menunggu taxi yang lewat kala itu. Sekolah sudah sepi tapi tak kunjung ada taxi atau pun angkot yang lewat. Ify menggeram kesal. Pasalnya, Papanya sedang tak bisa menjemput karena lembur. Sedangkan Mamanya sedang di Bandung, ada urusan kata beliau.

            “Fy, belum pulang?” tanya sebuah suara. Ify seperti mengenalinya.

            Ify pun berbalik, “Rio? Shilla? Kalian ngapain?”

            Shilla mendelik pada Ify, “Harusnya gue yang nanya sama lo, Fy. Ngapain jam segini masih di sini?”

            “Nunggu taxi, angkot, gitu..” Ify kembali mengedik pada jalanan yang mulai lengang.

            “Kenapa ga bareng Sivia, Pricilla, atau Oik aja tadi?” tanya Rio.

            Ify mengedikkan bahu, “Mereka udah balik duluan, Yo.”

            “Sahabat macem apa, sih, mereka?” dengus Shilla. “Lo ga ada yang ngejemput, kok, malah balik duluan gitu.”

            Ify menatap Shilla dengan wajah tersinggung, “Kadar kesetiaan sahabat ga cuman diukur dari ini doang, Shill. Mereka, kan, juga punya urusan masing-masing.”

            “Iya, tapi---,”

            Belum sempat Shilla kembali menyelesaikan kalimatnya, Rio telah memotong, “Udah, ah. Intinya, lo mau balik bareng gue sama Shilla ga, Fy?”

            Ify menatap Rio dan Shilla dengan tak enak. Apalagi ketika menyadari kedua orang di hadapannya itu tengah saling bertaut tangan. Ify menggeleng perlahan dan tersenyum tipis, “Ga usah. Jadi kambing congek, dong, gue ntar.”

            “Ga akan, kok!” dengan cepat Shilla menimpali. “Mau, ya?”

            Ify kembali menggeleng, “Ga usah, makasih. Gue pasti ntar ngerecokin kalian berdua aja.” Ify tersenyum tipis diakhir kalimatnya.

            “Ya udah, Shill, ga usah dipaksa.” Rio kembali membuka mulutnya.

            “Tapi Ify kasihan, Yo. Masa dia nunggu taxi sendirian? Mending bareng kita aja, kan?” Shilla menatap Rio dengan wajah memohon supaya lelaki itu membantunya membujuk Ify.

            “Kita tungguin sampai Ify dapet taxi.” Rio menimpali dengan pendek, jelas, dan –tentunya– dapat membuat Ify terbang melayang karenanya.

            Shilla tersenyum lebar. Ketiganya pun duduk di samping pos satpam sekolah. Memandang jalanan dengan waspada, mungkin saja ada taxi lewat di depan mereka. Bukannya taxi, mereka malah mendapati penjual es krim keliling yang lewat.

            Rio pun berdiri, “Bang! Es krim!” panggilnya.

            Penjual es krim itu pun berhenti. Rio dengan segera menghampirinya. Ify dan Shilla saling pandang sesaat sebelum akhirnya mengikuti jejak Rio yang tengah memilih-milih es krim. Ify dan Shilla pun ikut memilih.

            “Mau rasa apa, Shill?” tanya Rio, tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan es krim di hadapannya.

            “Apa, ya?” gumam Shilla.

            “Coklat?” tanya Rio.

            Shilla menggeleng kesal dengan wajah cemberut, “Aku ga suka coklat, Yo! Coklat itu rasa favoritnya Ify, bukan aku. Ya, kan, Fy?”

            Ify mengangguk dengan senyum terkembang, “Aku ambil yang itu, deh, Yo..” Ify menunjuk sebatang es krim rasa coklat yang tengah digenggam Rio.

            Rio mengangguk dan menyerahkannya pada Ify. Ia kembali beralih pada Shilla. “Kamu yang mana, Shill?”

            “Terserah, deh..” Shilla mengedikkan bahunya dengan tak acuh.

            “Ngambek!” desis Rio sebal.

            “Kamu, sih! Siapa suruh malah nyebutin rasa favoritnya Ify, bukan aku!” dengus Shilla.

            “Ya mana aku tau, Shill!” balas Rio.

            Ify hanya menatap keduanya dengan melongo hebat. Hanya karena masalah sekecil ini saja Shilla ngambek pada Rio? Harusnya Shilla tau ia tak boleh menyia-nyiakan Rio. Apalagi sampai marah hanya karena hal kecil begini. Shilla beruntung memiliki Rio.

            “Jangan ngambek, dong, Shill. Rio, kan, ga sengaja tadi nyebut rasa favorit gue.” Ify memandang Shilla dengan tersenyum tipis.

            Shilla melengos sebal, “Jangan-jangan kamu suka, ya, sama Ify? Ngaku, deh!”

            “Apaan, sih, Shill?” gerutu Ify. Gadis berbehel itu segera mengalihkan pandangnnya agar kedua orang itu tak melihat wajahnya yang telah merah padam.

            “Yang pacar aku, tuh, kamu, Shill.” Rio menatap Shilla tak mengerti.

            “Udah, ah!” Saat itu pula ada taxi yang lewat. Shilla pun menyetopnya. “Fy, taxinya dateng. Pulang, gih!” suruh Shilla.

            Ify pun mengangguk. Setelah membayar es krimnya, Ify naik ke dalam taxi tersebut. Ia membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan pada Rio dan Shilla. “Duluan, ya!”

            Taxi pun melaju, meninggalkan Rio dan Shilla yang masih saja berdebat.

**

            “Sivia..” terdengar panggilan dari luar diiringi dengan suara ketukan pintu.

            Sivia menggeliat lalu menguap lebar, “Apa, Ma?” tanya Sivia dengan suara parau.

            “Ada tamu. Boleh masuk ga?” tanya Mama Sivia balik.

            “Siapa?” dahi Sivia berkerut heran. Ia merasa tak memiliki janji pada siapapun malam ini. Apalagi ia sedang demam dari sore tadi.

            “Alvin, Siv.” jawab mamanya.

            Dahi Sivia tampak berkerut heran. Untuk apa Alvin kemari malam-malam begini? Ini sudah jam tujuh lewat! Sivia pun menegakkan badannya, “Masuk aja.”

            Pintu pun terbuka. Sivia dapat melihat mamanya yang sedang berdiri berdampingan dengan Alvin. Sivia tersenyum lemah pada keduanya. Alvin pun masuk. Mamanya berlalu entah ke mana.

            “Ngapain ke sini, Vin? Mau nonton DVD lagi? Aduh, kapan-kapan aja, ya!” Baru saja Alvin duduk di kursi meja belajarnya ketika Sivia berceloteh ria.

            Alvin menggeleng dan tersenyum, “Ga, kok. Tadi Mama kamu bilang kamu sakit. Sakit apa?”

            “Demam doang, sih.” Sivia nyengir lebar di akhir kalimatnya.

            Alvin bergerak mendekat. Dirabanya dahi dan pipi Sivia. Panas. “Iya, demam..” gumamnya.

            “Gue bilang juga apa!” timpal Sivia. Pipinya sudah semerah tomat kala itu. Siapa suruh Alvin menjadi superperhatian begitu?

            “Eh, iya!” Alvin seakan teringat sesuatu, “Nih, gue bawain ramen. Suka ramen, kan, Siv?” tanya Alvin, ia lalu menyerahkan sebungkus ramen pada Sivia.

            Sivia menerimanya dengan senyum mengembang, “Suka, kok, Vin. Suka banget malah!” tangan Sivia perlahan membuka bungkusan tersebut. “Cuman satu?”

            Alvin mengangguk dengan bingung, “Iya, lah. Emang lo mau berapa? Dua? Satu aja ga kenyang, ya?”

            Sivia mendorong bahu Alvin dengan gemas, “Bukan gitu! Maksud gue, satu aja? Terus lo ga makan, gitu? Lo diem doang sambil ngelihatin gue makan?”

            Alvin membulatkan bibirnya, “Gue udah makan, kok. Buat lo aja itu.”

            Sivia mengangguk mengerti, “Gue makan dulu, ya.”

            Alvin mengangguk. Sivia pun membuka bungkusan ramen tersebut dan memakannya perlahan. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Alvin mengetuk-ketukkan jemarinya pada nakas Sivia dengan gelisah.

            Sivia mendongak menatap Alvin, “Lo kenapa, Vin?”

            Alvin menggeleng, “Ga, kok.”

            Sivia pun kembali melanjutkan makannya. Alvin juga kembali gelisah. Ia terus berpindah-pindah posisi duduk. Membuat Sivia bertanya-tanya dalam hati. Alvin kenapa, sih, hari ini? Aneh banget!

            “Siv, gue mau ngomong. Boleh?” Alvin pun bersuara.

            Sivia terkikik pelan, “Dari tadi, juga, lo udah ngomong, Vin!”

            Mau tidak mau, Alvin pun ikut tertawa garing karena kebodohannya sendiri. “Anu, Siv...”

            “Anu apa?” tanya Sivia santai, tak menyadari kegugupan Alvin.

            “Gue...”

            “Iya, lo kenapa?”

            “Gue suka sama...”

            “Ify? Oik? Pricilla?” tebak Sivia, menyebutkan satu-persatu nama sahabatnya.

            “Bukan, Siv!” Alvin menatap Sivia dengan gemas, seakan-akan Sivia adalah tikus yang harus diterkamnya.

            “Iya, iya!” Sivia pun tertawa kencang.

            “Serius, dong!” Alvin mulai hopeless karena cewek berpipi chubby di hadapannya itu.

            “Sok, atuh.. Katanya mau ngomong.” Sivia segera menghentikan laju tawanya.

            “Gue suka sama lo..” kata Alvin dengan volume sangat kecil. Biarpun begitu, Sivia masih tetap dapat mendengarnya.

            Sivia membeku ketika mendengar pernyataan Alvin. Sumpit yang membawa ramen dan hampir saja masuk ke dalam mulutnya, berhenti di udara. Sivia melongo hebat. Ia memandang Alvin tak berkedip.

            “Siv?” Alvin menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Sivia.

            “Eh?” Sivia pun tersadar. Ia mencoba santai. Ia habiskan ramen tersebut dengan kikuk.

            “Gimana?” tanya Alvin.

            Sivia mendesah keras, “Kok gue ngerasa ini terlalu cepet, ya?”

            “Tapi kalau gue udah nyaman sama lo, mau gimana lagi?” timpal Alvin.

            Sivia menatap Alvin lurus-lurus, “Lo yakin? Lo yakin udah nyaman sama gue? Gue anaknya pecicilan, lho.”

            “Gue nyaman sama lo apapun kondisinya, kok.” Kata Alvin, meyakinkan Sivia.

            “Oke.” Sivia mengangguk dan tersenyum lebar.

            “Kita jadian, nih?” tanya Alvin tak percaya.

            “Ga mau, nih? Gue, sih, bisa aja tarik kata-kata gue..” gumam Sivia, berlagak jual mahal.

            “Ga! Ga! Jangan!” Alvin mengusap puncak kepala Sivia dengan sayang. Akhirnya ia bisa mengatakan kalimat ajaib itu pada Sivia..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

환영합니다. mengatakan...

lanjutin dongg ceritanya lagi seruu nihh :)

Posting Komentar