Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [03]

            Pesta pernikahan Rio dan Ify dihelat di sebuah villa dengan halaman yang sangat luas di bilangan Bogor. Sebuah villa megah dengan jumlah kamar yang sebanding dengan jumlah para undangan. Pesta pernikahan formal telah digelar seminggu yang lalu di Jakarta. Pesta kali ini khusus digelar untuk orang-orang terdekat Rio dan Ify, seperti saudara dan sahabat –pengecualian untuk Cakka dan Shilla–.

            Halaman samping villa telah ramai. Kolam renang dihiasi oleh-oleh lilin-lilin kecil yang menyala redup dan dialasi oleh piring-piringan mungil berwarna putih gading. Para waitress sibuk menghidangkan makanan kecil dan cocktail pada para undangan, tak terkecuali waitress yang satu itu.

            Rio dan Ify berdiri berdampingan di atas sebuah podium kecil, menghadap para undangan yang tengah berbincang dan menikmati hidangan yang disajikan. Ekor mata Ify terus saja menguntit kemana pun siluet Oik pergi. Kali ini, gadis mungil itu tengah berkumpul bersama Alvin, Shilla, dan Cakka.

            Oik, yang merasa terus diperhatikan oleh seseorang, menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia mendapati Ify sedang menatapnya lurus, Oik tersenyum lebar dan mengangkat cocktail di tangannya pada Ify, Ify pun melakukan hal yang sama.

            “Pestanya bagus.” Shilla mulai berceloteh.

            Oik mengangguk, “Gue suka konsep garden party yang mereka pakai.”

            Cakka mengangkat cocktailnya di tengah-tengah mereka berempat, “Cheers!”

            Shilla dan Oik pun ikut mengangkat cocktail mereka, “Chee---,”

            “Tunggu! Cocktail gue habis.” Alvin memutar pandangannya. Ia menengok ke samping kanan, ada seorang waitress yang mengangsurkan segelas cocktail kepadanya. Alvin menerimanya dengan tersenyum sangat manis. “Nah, cheers!”

            Alvin, Cakka, dan Shilla pun menenggak cocktail masing-masing. Sedangkan Oik, ia terus menatap tajam punggung waitress tadi. Ia merasa mengenali postur tubuh itu. Tapi, siapa? Oik memutar otaknya. Tepat ketika pikirannya menemukan jalan buntu, waitress tadi menengok pada Oik, wajahnya yang tadi menunduk kini terlihat jelas. Oik terkesiap.

            Gadis itu lagi?! Gimana bisa dia ada di sini...

**

            Oik memasuki sebuah kamar di ujung lorong bersama Shilla. Kebetulan kamarnya berhadapan dengan kamar Alvin dan Cakka. Dengan cepat, Oik merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur berukuran single di samping jendela yang menghadap ke kolam renang.

            Oik menengok ke samping. Ia melihat Shilla sedang terduduk di atas kasur berukuran single satunya –yang dipisahkan oleh sebuah night stand dengan kasurnya– seraya membongkar koper meran marun milik gadis itu.

            “Lo cari apa, Shill?” tanya Oik.

            Shilla mengedik padanya sekilas, “Peralatan mandi gue. Gue ngerasa sudah masukin semua itu ke koper. Tapi sekarang... ga ada!” Shilla menghela napas berat.

            “Gue duluan yang mandi, ya?”

            Shilla hanya mengangguk. Oik pun segera membuka kopernya, mengambil baju ganti serta peralatan mandi, dan masuk ke dalam kamar mandi yang terletak tak jauh dari pintu kamarnya.

            Shilla terpekur sesaat. Ia alihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Dengan berjingkat, ia berjalan menghampiri koper Oik. Shilla melihat sebuah tas kecil di atas koper tersebut. Tangannya terulur, menyentuh sebuah gantungan kunci kecil yang melekat pada tas kecil milik Oik. Sebuah gantungan kunci kecil bergambar doraemon. Shilla membaliknya, membaca tulisan-tulisan mungil yang tertera di sana.

            “Astaga...” Shilla menggeleng tak percaya, kedua bola matanya membulat karena kaget.

**

            Lagi-lagi, gadis berambut pendek itu. Ia membawa sebuah lilin kecil. Setelah dirasa aman, ia kembali memasuki gudang di hadapannya. Dengan tanpa menyalakan saklar lampu, ia terus berjalan menuju tumpukan kardus di sudut gudang.

            Ia buka kardus yang paling atas. Tumpukan album foto usang. Gadis berambut pendek itu membuka halaman demi halaman album usang tersebut satu-persatu. Akhirnya, ia menemukan foto itu. Ada lima anak kecil yang sedang tersenyum lebar menghadap ke kamera. Jemarinya menyentuh satu-persatu wajah anak-anak kecil itu.

            Seorang anak laki-laki dengan pipi tembem, seorang anak perempuan dengan rambut sebahu, seorang anak laki-laki bermata sayu, seorang anak perempuan berambut ikal panjang, dan seorang anak perempuan berbibir tipis.

            Jemarinya berhenti pada wajah anak kecil terakhir. Wajahnya mengeras. Tanpa basa-basi, ia menyulutkan api dari lilinnya pada wajah anak perempuan itu. Dalam sekejap, wajah anak perempuan itu telah berubah menjadi hitam. Ia tersenyum miring.

            “Lo tau? Ini semua gara-gara lo! Lihat apa yang sudah lo perbuat! Hari ini tepat 16 tahun semenjak kejadian itu. Dan dalam kurung waktu itu, sakit di hati gue belum juga sembuh. Ini semua salah lo! Camkan itu baik-baik!”

**

            Oik baru saja keluar dari kamar mandi dengan menenteng pakaian kotor beserta peralatan mandinya. Ia segera meletakkannya di dalam kopernya. Ia mengedik menatap Shilla. Ia mendapati Shilla sedang menatap tas kecilnya tanpa berkedip.

            “Lo lihat apa, Shill?” tanya Oik.

            Shilla mengedipkan matanya dan berusaha menjadi Shilla yang seperti biasa, “Nothing. Gue hanya... suka gantungan kunci lo,”

            Dahi Oik berkerut heran. Ia mengambil gantungan kunci tersebut dan mengangsurkannya pada Shilla, “Ini?” Shilla mengangguk. “Ambil aja kalau lo mau.” Oik meletakkannya pada genggaman tangan Shilla.

            Shilla terdiam untuk beberapa detik. Ia merasa dewi fortuna sedang ada dipihaknya saat ini. “Serius? Boleh buat gue?” Oik mengangguk. “Wah! Thanks, Ik!”

            Oik hanya tersenyum tipis dan kembali membereskan pakaian kotornya, “Gimana peralatan mandi lo? Ada?”

            “Hilang. Atau mungkin, gue yang lupa bawa.” Shilla mengangguk kecil.

            “Mau pinjam punya gue?” Oik mengangkat tempat peralatan mandinya dan menunjukkannya pada Shilla.

            Shilla mengangguk cepat. “Boleh, deh!”

            Oik terus memperhatikan Shilla yang kini sedang mengambil pakaian bersihnya. Lalu, gadis itu membuka tempat peralatan mandi Oik dan mengeluarkan sabun milik Oik. Shilla menggenggamnya erat. Lagi-lagi, Oik menemukan Shilla sedang menatap kosong ke benda miliknya.

**

            “.....Ada apa?.....”

            “.....Gawat! Saya merasa familiar dengan wajah laki-laki itu.....”

            “.....Nanti saya MMS kamu foto laki-laki yang harus kalian jauhi. Laki-laki itu sendirian?.....”

            “.....Berdua dengan seorang perempuan.....”

            “.....Ya sudah, kamu jangan panik. Tetap jaga dia. Setelah ini saya langsung kirim fotonya ke kamu.....”

            “.....Iya.....”

**

            Alvin berjalan cepat menuju gerbang villa megah tersebut. Sesekali ia menengok ke belakang, sekedar memastikan tidak ada yang melihatnya saat ini. Alvin menangkap siluet seseorang yang tengah bersandar di balik gerbang. Alvin bergegas menghampiri siluet tersebut.

            “Hay!” Alvin menyapa siluet itu.

            Siluet itu pun balas tersenyum pada Alvin. Oh, ternyata siluet itu milik gadis berwajah riang tempo waktu. Gadis berwajah riang itu merentangkan lebar-lebar kedua tangannya dengan tersenyum simpul. Alvin pun memeluknya erat. Keduanya tertawa bersama.

            “Aku kangen kamu.” Alvin berbisik.

            Gadis dalam pelukan Alvin tersenyum dan melepaskan pelukan itu, “Aku juga.”

            “Aku kaget waktu tadi lihat kamu ada di partynya Rio sama Ify. Nyamar jadi waitress, pula!” Alvin menatap gadis di hadapannya tak percaya.

            “Apa, sih, yang ga buat kamu? Biar kamu ga kangen.” gadis itu mengusap pelan pipi Alvin.

            “Tapi, kan, aku takut kalau sampai ada yang lihat kamu tadi.” Alvin mendadak cemas.

“Ga usah cemas gitu, deh, Vin. Buktinya tadi ga ada yang mergokin aku, kan?” gadis itu tersenyum, mencoba menenangkan Alvin.

            Oh, rupanya gadis berwajah riang itu salah. Apa katanya? Tidak ada yang memergoki dirinya? Memang. Tapi, Oik menyadari kehadirannya. Oik selalu menyadari kehadiran gadis itu. Oik hanya tidak ingin buka mulut terlebih dahulu. Cepat atau lambat, jika Oik sudah siap, ia pasti akan buka mulut soal kehadiran gadis itu...

            Alvin kembali merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Keduanya tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi menatap lekat ke arah keduanya dari balik jendela. Sepasang mata itu kembali membulat sempurna mendapati Alvin memeluk gadis itu untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi, Alvin mendaratkan kecupannya di puncak kepala gadis itu. Tak tahan, sepasang mata itu menutup tirai jendela dengan kasar.

**

            Pagi pun menjelang. Kini Oik, Alvin, Cakka, Shilla, Rio, dan Ify tengah berada di halaman villa. Oik sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, begitupula dengan Cakka. Alvin, Shilla, Rio, dan Ify sedang mengobrol di depan mobil.

            “Ik..” Cakka melirik Oik sekilas.

            Oik menaikkan sebelah alisnya, “Hm?”

            “Alvin itu... pacar lo?” tanya Cakka.

            Oik mengangguk santai, “Kenapa?”

            “Yakin?”

            Oik mengangguk sebal, “Kenapa, sih? Lo ada masalah apa kalau Alvin itu cowok gue?”

            Cakka menggeleng. Belum waktunya. Cakka pun menutup pintu bagasi. Dengan tidak memedulikan Oik yang sedang berkacak pinggang, Cakka melangkah menuju depan mobil. Alvin, Shilla, Rio, dan Ify sudah ada di sana. Dengan kesal, Oik menyusul Cakka. Ia memandang lelaki itu dengan sebal.

            Alvin –yang menyadari ada yang tidak beres dengan Oik– segera merangkul Oik, “Kenapa, Ik?” tanyanya dengan lembut.

            Oik menggeleng sebal, “Bukan apa-apa. Hanya orang menyebalkan aja.”

            Cakka tak sengaja mendengar pembicaraan singkat Oik dan Alvin. Ia hanya mampu menghela napasnya. Apa, sih, yang salah dengan dirinya? Ia hanya bertanya sedikit tadi pada Oik. Lalu, kenapa gadis manis itu mendadak sebal? Apa karena Cakka yang tampak tidak yakin bahwa Alvin adalah pacar Oik?

            “Kalian langsung kembali ke Jakarta?” tanya Rio seraya memandang Oik, Alvin, Cakka, dan Shilla satu-persatu.

            Alvin menggeleng, “Oik pingin ke rumah orang tuanya sebentar. Mungkin singgah satu jam di sana. Itu pun kalau Cakka dan Shilla ga keberatan kami ajak ke Bandung.” Alvin mengedik pada Cakka dan Shilla.

            “Boleh! Boleh!” Cakka segera menyahut.

            Oik memandangnya tak suka. Ia makin mengeratkan rangkulannya pada Alvin. Melihat itu, Cakka mendadak mengerutkan keningnya. Entah kenapa, ia tak suka melihatnya. Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa ia jadi sebal begini?

            “Ya sudah, kami pamit dulu, Yo, Fy. Cepat kembali ke Jakarta, ya!” Alvin melambaikan tangannya pada Rio dan Ify.

            “Iya, hati-hati.” Ify tersenyum pada keempatnya.

            Setelah itu, mereka berempat pun masuk ke dalam mobil Alvin. Alvin duduk di balik kemudi, Oik di sampingnya, Cakka dan Shilla duduk di bangku belakang. Alvin pun mulai mengemudikan mobilnya menuju Bandung. Ketika ia melihat kaca spion tengahnya, tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan tatapan tajam milik Cakka.

**

            Setelah menempuh perjalan yang tidak terlalu lama, keempatnya sampai di sebuah pedesaan di pelosok Bandung. Kaca jendela mobil pun dibuka, AC dimatikan. Udara sejuk khas pedesaan mulai masuk ke dalam mobil. Rambut Oik dan Shilla menari-nari dibuatnya.

            Jalan berkelok-kelok di depan mereka masih alami, belum diaspal, masih berupa tanah. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau yang mereka temui. Sawah berada di kanan dan kiri mereka. Juga ada beberapa orang-orangan sawah yang sengaja dipasang untuk mengusir para burung-burung nakal.

            Jalan semakin menanjak. Mereka sudah tidak mendapati persawahan di kanan dan kiri jalan. Sawah-sawah bak permadani hijau muda itu digantikan oleh kebun teh yang aromanya membuat siapapun betah di sana. Ada pula para anak kecil yang sedang berlarian di antara tanaman teh itu.

            Alvin menepikan mobilnya, memasukki sebuah pekarangan rumah dengan halaman yang luas. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berarsitektur jaman Belanda yang sederhana.

            “Kita sudah sampai!” pekikan girang Oik menyadarkan Cakka dan Shilla dari keterpanaannya.

            Oik pun turun dari mobil, diikuti Alvin serta Cakka dan Shilla. Tanpa permisi, Oik masuk ke dalam rumah tersebut. Alvin, Cakka, dan Shilla duduk di teras. Kebetulan ada sebuah meja bundar yang dikelilingi enam kursi kayu. Alvin, Cakka, dan Shilla duduk bersebelahan. Alvin tersenyum memandang sekeliling. Cakka dan Shilla pun begitu.

            Tak lama kemudian, Oik keluar bersama seorang wanita paruh baya. Oik membantu wanita itu untuk duduk. Setelahnya, ia duduk di antara wanita itu dan Alvin.

            “Tadi kami baru dari acaranya Rio dan Ify di Bogor, Bunda.” Oik berkata pada wanita di sampingnya, Bundanya.

            Bunda Oik mengangguk. Beliau mengedik pada Cakka dan Shilla, “Mereka siapa?”

            “Saya Cakka, Tante.” Cakka menyalami Bunda Oik da tersenyum simpul.

            “Saya Ashilla.” Shilla pun mencium punggung tangan Bunda Oik.

            Raut wajah Bunda Oik mendadak berubah. Tak berapa lama kemudian, beliau bangkit dari duduknya.

            “Kalian makan siang sekarang, ya?” tawar beliau.

            Oik menengok ketiga orang lainnya dan akhirnya mengangguk, “Ayah di mana, Bunda?”

            “Masih ke rumah Pak Kepala Desa. Ya sudah, Bunda siapkan makan siang dulu. Kalian segera ke gazebo belakang saja. Kalian makan siang di sana.” Bunda Oik pun lekas melangkah menuju dapur.

            Oik menatap kepergian Bundanya dengan pandangan bertanya. Alvin yang menyadarinya langsung berdiri dan menggandeng tangan Oik. Oik mendongak dan mengangkat sebelah alisnya.

            “Ayo ke gazebo belakang..” ajak Alvin.

            Oik mengangguk. Ia pun berdiri, menyeret kakinya menuju gazebo belakang. Cakka dan Shilla mengekor keduanya. Begitu sampai di halaman belakang rumah Oik, keempatnya langsung duduk di gazebo, mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.

            Halaman belakang rumah Oik juga tak berpagar. Rupanya rumah Oik dikelilingin oleh kebun teh. Lihat saja, kebun the terhampar di sana. Sejauh mata memandang, hanya kebun teh yang terlihat. Cakka tersenyum. Ia suka alam. Ia suka apapun yang berhubungan dengan alam.

            “Rencananya nanti kembali jam berapa?” tanya Shilla.

            Oik mengangkat bahunya, “Terserah Alvin.”

            “Setelah makan siang langsung?” Alvin balik bertanya pada Shilla.

            Cakka menggeleng cepat, “Jangan!”

            Alvin dan Shilla menatap Cakka penuh tanya. Berbeda dengan Oik. Gadis manis itu menatap Cakka sebal. Apa-apaan lagi Cakka ini?

            “Aku ingin keliling kebun teh dulu. Boleh?” Cakka melirik Oik.

            “Tapi, Kka.. Aku butuh istirahat. Besok aku perform di pensinya SMA Al-Izhar!” Shilla menyela dengan cepat.

            “Kamu kalau mau pulang sekarang, ya silakan. Aku ingin keliling kebun teh dulu.” Cakka memandang Shilla dingin.

            Shilla bersedekap tangan, “Terserah kamu, deh!”

            “Aku juga ingin keliling kebun teh.” Oik berkata datar.

            Alvin menatapnya bingung, “Bukannya kamu takut masuk angin? Kamu pernah bilang ke aku kalau di kebun teh anginnya kencang.”

            “Ga mau! Lala mau di cini aja! Kalian aja yang keliling kebun teh. Lala di cini cendilian juga ga apa-apa. Lala takut sama anginnya, bikin kedinginan!”

            “Kka, aku di sini saja. Aku takut sama anginnya kebun teh, kencang banget.” Shilla mengusap-usap lengannya.

            Tak lama kemudian pembantu Oik datang, membawakan menu makan siang mereka. Setelah semua makanan tertata rapi di gazebo, pembantu Oik kembali ke dapur. Mereka berempat pun langsung melahap makanan yang telah dimasak Bunda Oik. Bunda Oik mengawasi mereka semua dari balik jendela dapur.

            Bunda Oik memasakkan kakap merah saus padang, masakan kesukaan Oik. Setelah mengambil sepotong ikan kakap masing-masing, mereka segera melahapnya, kecuali Oik. Gadis itu membuang duri-duri ikannya terlebih dahulu. Cakka meliriknya sekilas.

            “Lala ga cuka duli ikan. Takut ketelan telus tenggolokannya nanti jadi cakit.”

            Cakka menahan napasnya. Ia lalu melirik Shilla. Dilihatnya calon istrinya itu dengan cepat membuang duri-duri ikan kakapnya juga. Bedanya, Shilla sudah memakan sayur-mayurnya sedikit. Sedangkan Oik belum menyentuh sayur-mayurnya sama sekali.

            Cakka menatap keduanya bingung.

            Lala itu Shilla? Tapi... kenapa Oik benar-benar mirip Lala? Oh, bagus! Lalu, siapa lagi setelah ini yang berkelakuan seperti Lala?!

            Cakka menggeram frustasi. Ia benar-benar jengah jika dihadapkan dengan dua kemungkinan seperti ini. Apalagi, masih banyak kemungkinan lain. Masih banyak gadis di dunia ini dan tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada gadis-gadis lain lagi yang berkelakuan mirip Lala!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JE T'AIME [01]

            “Mama! Oik berangkat dulu, ya!” Oik berteriak dari teras rumahnya, ia baru saja selesai memakai sepatunya.

            Terdengar bunyi benda jatuh dari dalam sana, “Aduh, kamu bikin mama kaget aja, Ik! Iya, iya. Mau diantar? Eh tapi mama masih masak.”

            Oik terkikik pelan, “Ga usah, Ma! Oik bisa naik metromini. Kan, ini masih pagi. Oik bisa nunggu di depan kompleks.”

            “Ya udah. Hati-hati, Ik!” Mamanya kembali berteriak.

            Oik pun segera membuka pagar rumahnya, keluar, dan kembali menutupnya. Gadis itu berjalan santai menuju depan kompleks. Kuncir kudanya bergerak kesana-kemari karena ditiup angin. Oik bersiul pelan sambil sesekali menengok ke belakang, memastikan Mamanya tidak mengikutinya.

            Di rumah sederhana yang nyaman itu, Oik hanya tinggal berdua dengan Mamanya karena ia adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya telah bercerai semenjak ia masih duduk di bangku TK. Papanya sekarang telah menikah dengan seorang wanita yang –menurut Oik– menyebalkan dan memiliki seorang anak laki-laki yang umurnya berbeda sekitar Sembilan tahun dengan Oik. Sedangkan Mama Oik lebih memilih hidup sendiri dan mengurus Oik tanpa bantuan siapapun.

            Oik telah sampai di depan kompleks perumahannya. Ia bersandar pada sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh di bawah plang penunjuk nama jalan. Oik melirik jam tangannya sekilas. Seharusnya jam segini dia sudah menjemputnya.

            Dia? Iya, dia. Oik memang kerap kali berbohong pada Mamanya. Gadis itu sering berkata pada Mamanya bahwa ia akan berangkat sekolah menaiki metromini yang biasa berhenti di depan kompleks perumahannya. Tapi nyatanya, Oik selalu diantar-jemput oleh dia.

            Oik terkesiap. Ia mendengar seseorang membunyikan klakson motornya berkali-kali. Oik menengok pada sumber suara. Ada dia di sana, di atas motornya, tersenyum geli ke arahnya. Dahi Oik mengernyit heran. Apa? Ada yang salah dengan dirinya pagi ini?

            “Ga ada yang salah sama kamu, kok.” Dia seolah bisa membaca pikiran Oik. “Kamu mau sampai kapan ngelamun di situ? Ga ke sekolah, Ik?”

            Oik mendengus sebal, “Cakka! Apa, sih?!”

            Cakka kembali tertawa. Oik segera naik ke boncengan motor Cakka dan mencubiti pinggang laki-laki di hadapannya itu dengan keras. Cakka mengaduh kesakitan, semakin membuat Oik mengeraskan cubitannya pada pinggang Cakka.

            “Mau nyubitin aku sampai kapan? Nanti kalau Mama nyamperin ke sini, gimana? Terus Mama tau kalau kamu ga naik metromini ke sekolah, gimana?” Cakka mulai menakut-nakuti Oik.

            Oik manyun, “Ya udah! Cepetan jalan!”

            Cakka pun melajukan motornya menuju sekolah Oik.

            Ya, dia adalah Cakka. Mereka berdua merupakan teman sekolah ketika SMP. Lalu ketika lulus SMP, mereka mendaftar di sekolah yang berbeda. Oik lebih memilih mendaftar di sebuah SMA yang benar-benar terletak di pusat kota dan Cakka mendaftar di sekolah yang ekskul basketnya sedang berkembang pesat. Sekolah mereka berdua hanya berjarak sekitar 2km. Maka dari itu, Cakka tak keberatan jika harus mengantar-jemput Oik setiap harinya.

            Mereka berpacaran semenjak setahun yang lalu, ketika mereka masih duduk di bangku SMP. Selama setahun itu pula, Oik menyembunyikan hubungannya dengan Cakka dari Mamanya. Walaupun begitu, Oik dan Cakka masih tetap bisa go public di sekolah. Kedua orang tua Cakka juga sebenarnya sudah mengetahui perihal hubungan mereka. Jadi, hanya Mama Oik yang masih belum tau-menahu.

            Oik bergegas turun dari motor Cakka. Gerbang sekolahnya nyaris ditutup. Mereka berdua tadi terjebak macet di dekat rel kereta api. Oik pun menyerahkannya helmnya pada Cakka.

            “Udah! Sana kamu ke sekolah. Pasti telat, deh! Aku aja hampir telat gini.” Oik mengedik pada gerbang sekolahnya.

            Cakka hanya mengangguk, “Aku duluan, ya. Nanti aku jemput. Jangan kemana-mana kalau aku belum nyampai.”

            Kini giliran Oik yang mengangguk. Cakka pun menyalakan mesin motornya. Oik mengibas-kibaskan tangannya pada Cakka, mengusir laki-laki di hadapannya itu. Cakka tertawa, mengaca poni Oik sekilas, lalu melajukan motornya menuju sekolahnya. Meninggalkan Oik yang terkikik pelan seraya merapikan poninya.

            Oik berbalik, ikut mengantri untuk masuk. Kalau sudah mepet jam masuk begini, gerbang sekolahnya memang dibuka sedikit. Jadi, siswa harus berjalan satu-persatu. Tak berjarak jauh dari gerbang, sudah ada guru piket yang berbaris. Biasanya beliaulah yang sering member hukuman pada siswa-siswi yang tidak mematuhi tata tertib sekolah. Pagi-pagi begini adalah jadwal beliau untuk pemeriksaan.

            Oik mulai mencium tangan beliau, “Oik ini... selalu diantar-jemput pacarnya, ya.” beliau berkomentar seraya tersenyum lebar.

**

            Jam istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kini Ify, Oik, Pricilla, dan Sivia tengah berada di kantin. Mereka memang biasa sarapan bersama pada saat jam istirahat pertama. Seperti saat ini. Keempatnya sedang mengobrol heboh sambil sesekali melahap sarapan mereka ketika seorang gadis berbehel menghampiri mereka lalu duduk di samping Ify.

            “Ify!” sapa gadis itu, menyenggol pelan tubuh Ify.

            Ify menengok ke arahnya dan tersenyum lebar, “Hay, Shill!”

            “Hay!” gadis berbehel itu –Shilla– melambaikan tangannya pada Oik, Pricilla, dan Sivia yang disambut anggukan dari ketiga gadis popular itu.

            Shilla. Dia adalah salah satu gadis popular juga di sekolah. tapi, tetap saja, kepopuleran Ify, Oik, Pricilla, dan Sivia tidak dapat ditandingi. Shilla sendiri adalah teman les Ify. Mereka berdua biasa bergosip bersama di tempat les. Mereka juga sering berbagi cerita. Tapi biasanya Shilla-lah yang akan bercuap-cuap, lalu Ify akan menjadi pendengar setia.

            “Ngapain, Shill, ngampirin aku?” tanya Ify.

            Shilla menggeleng, gadis itu menyerobot minuman Ify dan menyeruputnya. “Pingin curhat lagi, sih. Tapi di sini rame, ga enak.”

            “Emang mau curhat soal apa? Soal cowok itu lagi?” Ify meliriknya sekilas.

            Shilla mengangguk bersemangat, “Iya, Fy! Tadi malem dia telepon aku! Kita ngobrol sampai larut malem! Rasanya seneng banget, Fy!”

            Ify tersedak. Gadis itu segera meminum jus jeruknya diiringi tatapan aneh dari Shilla. Ify hanya menggelengkan kepalanya dan mengisyaratkan pada teman lesnya itu bahwa ia tidak apa-apa, hanya tersedak biasa. Sungguh.. Hanya Oik, Pricilla, dan Sivia yang tau segalanya. Bukan Shilla.

            “Ya udah, Fy. Aku cuman mau cerita itu aja.” Shilla bangkit dari duduknya. “Aku balik ke kelas duluan ya!”

            Keempat gadis itu mengangguk pada Shilla. Secepat pudarnya senyum keempat gadis itu lah Shilla menghilang di koridor. Oik, Pricilla, dan Sivia hanya menatap Ify tak mengerti. Ify membalas tatapan ketiganya dengan tatapan paling polos sedunia.

            “Ada yang salah?” Ify bersuara.

            “Kamu bakalan tetep nyembunyiin perasaanmu?” tanya Pricilla, Ify mengangguk lugas.

            Sivia menggeleng tak terima, “Fy, yang bener aja! Kamu, kan---,”

            Ify menggeleng perlahan dan tersenyum tipis, “Udahlah. Jodoh ga ke mana, guys.” Ify pun berdiri lalu menggamit lengan Oik. “Balik kelas, yuk?”

            Sivia dan Pricilla hanya mampu mengangguk lemas. Ify ini memang kelewat keras kepala. Kelewat berkorban juga. Untuk apa, sih, melakukan semua itu? Menutup-nutupinya? Sebenarnya Oik juga tak habis pikir dengan Ify. Tapi, mau bagaimana lagi?

            Keempatnya berjalan beriringan menuju kelas. Kebetulan, kelas mereka berada di lantai atas, maka dari itu mereka harus melewati tangga. Di sekolah ini ada dua tangga. Satu tangga biasa dijadikan tempat nongkrong oleh anak kelas 12 IPS yang terkenal bandel dan satu lagi... tepat berada di depan mereka!

            Nyaris saja keempatnya melewatkan momen itu. Keempatnya menengok bersamaan kepada sumber teriakan. Tepat di pinggir lapangan, seorang laki-laki sedang berteriak kepada seseorang yang berada di koridor lantai atas. Ify menyipitkan matanya, memastikan bahwa laki-laki di pinggir lapangan itu adalah dia.

            “SHILLA!” laki-laki itu berteriak kembali.

            “Dia, Fy.” Oik mengeratkan gandengannya pada Ify. Sivia dan Pricilla kontan melongo hebat menyaksikan ‘pertunjukan’ di hadapannya.

            “SHILL, AKU SUKA SAMA KAMU!” dia berteriak seraya tersenyum lembut pada seseorang di atas sana, Shilla.

            Terdengar sorakan yang membahana dari segara penjuru sekolah. Seolah-olah mereka menertawakan perasaan Ify yang ia tutup rapat-rapat. Seolah-olah mereka menyalahkan Ify karena telah mengunci perasaan itu di sudut terdalam hatinya, tak membiarkan dia tau akan hal itu.

            “KAMU MAU JADI PACAR AKU, KAN, SHILL?” dia berlutut di pinggir lapanga, tangan kanannya menengadah ke arah Shilla di atas sana.

            “Terima! Terima! Terima!” sorakan-sorakan semacam itu semakin membuat lutut Ify melemas.

            “SURE, I WILL, MARIO!” Shilla balas berteriak dan tersenyum lebar.

            Dan, dengan secepat kilat, Shilla turun lalu menghampiri lelaki yang telah berlutut padanya –Mario, atau yang lebih akrab disapa Rio–. Keduanya berhadapan, tersenyum malu-malu. Sorakan kembali terdengar. Ify terisak. Menyesali kebodohannya karena menutupi perasaannya sendiri.

**

            Untung saja ini adalah hari Jumat. Sekolah pulang lebih cepat. Menjelang adzan dhuhur, bel pulang telah berbunyi. Hanya dalam waktu lima menit pun, kelas-kelas telah ditinggalkan penghuninya. Berbeda dengan teman-temannya, keempat gadis itu masih berada di dalam kelas. Oik, Pricilla, dan Sivia masih menemani Ify yang mendadak mogok pulang.

            Pricilla sedari tadi terlihat gelisah. Ia berpindah posisi duduk terus sejak bel pulang berbunyi. Entah ada apa dengan si Barbie satu itu. Hingga akhirnya, ia ngibrit keluar kelas.

            “Ke mana, Cill?” tanya Ify.

            “Toilet!” gadis itu menjawab singkat.

            Pricilla berhenti berlari. Ia sudah lumayan jauh dari kelasnya. Ketiga sahabatnya itu pun pasti tak akan melihatnya. Toilet berada di ujung koridor, tapi ia malah berbelok ke samping dan memasuki Laboratorium Kimia. Pricilla mengedarkan pandangannya. Bagus! Sepi.

            Gadis imut itu menghampiri seorang lelaki yang sedang berkutat dengan percobaannya. Pricilla berdehem pelan. Alhasil, lelaki –yang kini telah berada di sampingnya– itu menengok padanya. Lelaki itu tersenyum, menunjukkan deretan gigi putihnya.

            “Kamu ga pulang?” tanya Pricilla.

            “Kamu sendiri?” dia balik bertanya.

            Pricilla tertawa singkat, “Masih nungguin Ify. Dia lagi patah hati.” Pricilla mengarahkan pandangannya pada sebuah percobaan yang sedang dilakukan lelaki itu. “Ga bisa dilanjutin besok itu eksperimennya?”

            Lelaki itu menggeleng, “Kenapa? Kamu mau aku anter pulang?”

            “Ga. Tapi ini, kan, udah sore. Apa ntar kamu pulangnya ga terlambat?” Pricilla memandangi wajah manis di sampingnya.

            Lelaki itu pun membereskan alat-alat percobaannya dan melepas jas laboratorium yang ia kenakan. Pricilla masih terus memandangi lelaki itu dengan senyum mengembang. Setelah selesai membereskan seluruhnya, lelaki itu kembali menghampiri Pricilla dan tertawa pelan.

            “Ap-Apa?” Pricilla mendadak was-was.

            Lelaki itu menggeleng, “Rambut kamu berantakan banget!” desisnya.

            Dalam sekejap, lelaki itu sudah menyibakkan beberapa helai rambut Pricilla yang jatuh di dekat pipi gadis itu. Ia menyibakkannya ke belakang daun telinga Pricilla. Pricilla kontan menunduk malu. Masalahnya, ini adalah kali pertama lelaki itu melakukannya! Kemajuan, ya? Biasanya, kan, mereka hanya duduk-duduk saja berdua.

            Pricilla memandangi lelaki manis itu dari sudut matanya. Ia memperhatikan lelaki itu yang mengambil tasnya, menyangklongnya, mengambil sebuah kunci dari atas meja guru, dan berjalan menuju pintu laboratorium

            “Kamu ga mau keluar, Cill? Betah di laboratorium?” tanyanya.

            Pricilla tersenyum geli dan menggeleng cepat, “Kamu, sih, ga ngajakin aku keluar!”

            Pricilla akhirnya ikut keluar. Ia menunggu lelaki itu mengunci pintu laboratorium. Setelahnya, mereka berdua pun berbalik dan berjalan beriringan. Tidak ada acara gandengan tangan. Jalan beriringan begini saja Pricilla sudah senang.

            “Kamu mau pulang jam berapa, Cill?” tanyanya.

            Pricilla mengedikkan bahu, “Ga tau, deh. Tergantung Oik sama Sivia juga mau balik jam berapa. Mereka masih nenangin Ify, mungkin.”

            “Oh..” lelaki itu hanya mengangguk.

            Pricilla menengok ke arahnya dan berbubah keki. Hanya mengangguk? Pada pacarnya sendiri? Yang benar saja! Kadang-kadang Pricilla juga merutuki dirinya sendiri karena mau saja berpacaran dengan robot. Apa? Robot? Apalagi sebutan yang pantas untuk lelaki yang secuek itu dengan pacarnya sendiri?

            “Ya udah, kamu tunggu di tempat biasa aja. Nanti aku nyusul.” Pricilla tersenyum jengah.

            Lelaki itu kembali mengangguk. Pricilla terus memandang punggung lelaki yang beranjak menjauh darinya itu. Dandanannya sangat culun. Celana seragam yang dinaikan hingga perut, baju yang selalu rapi, dasi yang tidak pernah longgar, sabuk yang selalu pada tempatnya, sebuah kaca mata tebal, dan rambut yang ditata rapi. Pricilla menghela napas.

            Gadis itu mengangkat tangannya, melambaikan tangan pada lelaki itu. Ya, walaupun ia sendiri tau kalau lelaki itu tak mungkin melihat lambaian tangannya karena ia membelakangi Pricilla.      

            “Bye, Gabriel!” lirihnya.

**

            Ify, Oik, Pricilla, dan Sivia baru saja sampai di gerbang sekolah. Sudah lumayan sepi. Keempatnya duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di depan pos satpam sekolah. Keempatnya akhirnya memutuskan untuk pulang ketika Ify sudah mulai tenang dan tangisnya mereda.

            “Pulang sama siapa, Siv?” tanya Oik.

            “Sama---,”

            Tiba-tiba saja, terdengar suara klakson. Sivia menengok. Seorang lelaki baru saja melepas helmnya dan Sivia mengenali wajah itu. Sivia melambai ke arahnya dan tersenyum lebar. Dengan cepat, Sivia menggendong tasnya.

            Sivia tersenyum pada ketiga sahabatnya, “Sama Duto.”

            Tanpa berpamitan pada ketiganya, Sivia berlari kecil menghampiri Duto. Tak lama setelah itu, keduanya telah melaju menuju sebuah tempat makan tak jauh dari sekolah Sivia. Kebetulan, ini sudah jamnya makan siang. Tak heran jika tempat makan yang mereka kunjungi tengah ramai-ramainya.

            Sivia dan Duto memilih untuk duduk di salah satu sudut tempat makan itu yang sedikit lebih sepi. Keduanya duduk berhadapan. Tak lama, seorang waitress datang dan memberikan mereka daftar menu.

            “Nasi rames sama es jeruk manis aja, deh.” Duto pun mengedik pada Sivia yang masih serius memilih makanan.

            Sivia bergumam pelan, “Nasi goreng sama jus mangga.”

            Waitress tersebut pun menyingkir. Sivia dan Duto kembali mengobrol seraya menunggu pesanan mereka datang. Ini sudah kesekian kalinya mereka jalan berdua. Tapi, entah sampai kapan mereka akan betah tanpa status apapun.

            “Jadi, gimana sekolah kamu?” tanya Duto.

            “Biasa aja. Temennya asyik-asyik, kok. Kamu sendiri? Ada kakak kelas yang cantik ga?” goda Sivia, berniat memancing lelaki di hadapannya itu.

            Duto tertawa renyah, “Kamu tetep yang paling cantik, kok, Siv.”

            “Gombal!” sergahnya, pipi Sivia telah semerah tomat sekarang.

            Lalu, tiba-tiba saja Duto bersin. Refleks, lelaki itu menutupi hidungnya. Dengan segera, Sivia mengangsurkannya sebuah tissue yang ia ambil dari dalam tasnya. Duto menerimanya dengan senyum tipis, Sivia menahan tawanya saat itu juga.

            “Kamu memang sahabat aku yang paling oke, Siv.” Duto bergumam pelan.

            Hah? Apa?

            “Apa? Sahabat?” ulang Sivia, kali-kali saja ia tadi salah dengar.

            Duto mengangguk. Ia mendadak pucat pasi. Ia tatap wajah Sivia. Ia tau betul gadis cantik itu sedang menggeram kesal, menahan laju amarahnya karena kata-kata yang ia lontarkan barusan. Duto keceplosan!

            “Jadi, selama ini kamu cuman nganggep aku sahabat, ga lebih?” cecar Sivia.

            Duto menunduk, “Maaf.”

            Sivia menggeleng tak percaya, “Kenapa ga bilang dari awal, sih, kalau kamu cuman nganggep aku sahabat? Kenapa baru bilang sekarang setelah aku mulai ngarep kita bakalan lebih dari sahabat?”

            “Aku juga maunya gitu, Siv. Aku maunya kita lebih dari sahabat. Kamu itu cewek yang tipeku banget. Kamu cantik, kamu baik, kamu perhatian sama aku. Tapi ternyata, ga tau kenapa, aku ga ada rasa sama kamu, Siv.” Duto mengakui semuanya.

            “Kenapa baru bilang sekarang, Duto? Kamu tau sendiri aku udah capek diginiin. Aku udah capek selalu di PHP sama cowok-cowok. Aku udah pernah cerita, kan, ke kamu?” nada suara Sivia mulai terdengar meninggi.

            “Maaf.” Duto berkata lirih.

            “Aku pikir kamu beda dari yang lain. Tapi ternyata aku salah. Kamu bahkan lebih buruk daripada cowok-cowok yang udah nyakitin aku. Aku udah cerita semuanya ke kamu. Semuanya, Duto. Tapi kamu malah...”

            Sivia bangkit dari duduknya. Ia sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. Sedih, marah, kecewa, jengkel, sakit semuanya jadi satu. Sivia berlalu, meninggalkan Duto. Duto hanya mampu memandang punggung Sivia dengan penuh penyesalan. Seharusnya ia tidak asal ceplos tadi. Seharusnya ia tidak mengatakannya. Seharusnya ia tidak...

**

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS