Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label agni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agni. Tampilkan semua postingan

BRING BACK MEMORIES [Cerpen]

            Seluruh siswa kelas 12 IPA 4 serentak menghela napas lega ketika guru matematika mereka mengakhiri pendalaman materi untuk UNAS. Begitu Bu Winda –sang guru matematika– keluar, para siswa 12 IPA 4 pun berhamburan keluar.
            Begitu pula dengan Oik dan Sivia. Keduanya segera mengambil dompet masing-masing dan menentengnya menuju kantin. Kantin kala itu tengah sepi karena hanya kelas mereka saja yang sedang beristirahat.
            Oik duduk disalah satu meja dan membiarkan Sivia yang memesan makanan–sebelumnya ia telah memberikan selembar sepuluh ribu pada gadis berpipi chubby itu.

**

            “Halo, Dek. Kita dari ekskul mading. Kita lagi cari anggota baru.” Seorang laki-laki bermata sayu tengah berdiri di hadapan seluruh siswa 10-4 yang sedang menjalani OSPEK itu.
            Oik dan Sivia saling lirik melihat tiga orang kakak kelasnya yang tengah mengoceh mengenai kelebihan mengikuti ekskul mading. Keduanya tersenyum penuh arti. Rupanya dua gadis yang baru kenal sehari lalu ini memang sehati dalam –hampir– segala hal.
            “Oh iya, saya Zahra.” Ujar kakak kelasnya yang berbehel. “Ini Agni.” Ia menunjuk seorang gadis yang terlihat agak tomboy di sampingnya. “Dan ini Cakka.” Terakhir, ia menunjuk seorang laki-laki bermata sayu itu.
            Sivia menengok kearah Oik dan tersenyum lucu. “Oh.. namanya Cakka, Ik!”
            “Iya, Siv.” Oik mengangguk-angguk bersemangat. “Ganteng, ya!”
            Oik dan Sivia pun tertawa cekikikan sambil sesekali mencuri pandang pada Cakka. Keduanya pun sepakat untuk mengikuti ekskul mading bersama. Hanya demi Cakka. Ya, hanya demi lelaki itu.
            “Jadi, siapa yang minat ikut ekskul mading?” Tanya Agni dengan senyum terukir lebar.
            “Kita, Kak!!” Oik dan Sivia mengacungkan tangan dengan bersemangat sembari berseru bersama.
            Melihat tingkah Oik dan Sivia, Cakka tertawa gemas. Oik dan Sivia saling pandang dengan wajah bersemu merah. Kakak kelasnya ini memang super ganteng!!

**

            Sivia kembali dengan dua mangkuk soto ayam dan dua botol air mineral dingin. Ia menggelengkan kepalanya begitu menyadari Oik tengah melamun. Ia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman itu di depan Oik dengan keras, membuat gadis mungil itu mengerjap kaget.
            Oik menatap Sivia sengit dengan bibir yang maju beberapa senti. “Apaan sih, Siv?!”
            “Elo sih, ngelamun aja.” Sivia tertawa nyaring. “Ngelamunin apa sih, Ik?”
            Oik menggeleng. “Kak Cakka gimana kabarnya ya, sekarang? Dia nggak pernah dateng kalau kita ngadaian kumpul bareng sama anggota mading.”
            “Mungkin dia lagi sibuk, Ik. Namanya juga awal-awal kuliah. Kenapa, sih? Lo kangen, ya?” seloroh Sivia.
            “Nggak!!” Oik memalingkan mukanya yang telah bersemu merah, membuat sahabatnya itu kembali tertawa.

**

            Beberapa hari setelah OSPEK selesai, ekskul mading mengadakan pertemuan bersama para anggota baru di secretariat ekskul. Pertemuan sudah dimulai semenjak lima belas menit yang lalu ketika Oik dan Sivia baru keluar dari kelas.
            “Aduh! Kita telat, Ik!” seru Sivia seraya merapikan barang-barangnya.
            Setelah merapikan barang dengan asal-asalan, keduanya segera berlari menuju secretariat ekskul mading. Dilihat dari luar saja sudah tampak penuh. Pasti banyak sekali yang ingin menjadi anggotanya.
            Oik memberanikan diri mengetuk pintu. Seketika itu juga seluruh mata yang ada segera menumpukan fokusnya pada Oik dan Sivia.
            “Maaf terlambat. Kelasnya baru bubaran soalnya.” Oik bercicit pelan. Takut juga dia begitu melihat Zahra dan Agni yang memandangnya tanpa ekspresi.
            “Sini, sini.. masuk aja.” Cakka melambaikan tangan pada mereka berdua dan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
            Oik dan Sivia pun masuk dengan bersemangat. Keduanya segera duduk di samping Cakka. Lebih tepatnya, Oik lah yang benar-benar duduk di samping Cakka. Sedangkan Sivia, ia duduk di sisi Oik yang lainnya.
            “Aduh, Kak. Maaf banget, terlambat!” Oik mengatupkan kedua tangannya didepan dada, membuat Cakka tertawa.
            “Iya, nggak apa-apa.” Cakka tersenyum menenangkan seraya mengusap puncak kepala Oik.

**

            “Ah, yakin lo nggak kangen Kak Cakka? Gue sih, nggak munafik, ya. Gue ngakuin kalau gue kangen Kak Cakka.” Seloroh Sivia hingga membuat sahabatnya itu melotot.
            “Eh, gila aja lo! Alvin mau lo taruh mana?!” cecar Oik tanpa ampun, lagi-lagi Sivia tertawa.
            “Alvin tetep dihati gue dong, Ik. Nah elo, si itu mau lo taruh mana kalau lo masih mikirin Kak Cakka terus? Gagal move on banget, deh.” Ejek Sivia.
            Tanpa Sivia sadari, Oik termenung mendengar perkataannya. Oik menghela napas, membuyarkan lamunan mengenai Cakka yang kembali hinggap diotaknya. Walaupun sudah hampir setahun ia tak bertemu dengan lelaki itu, ingatannya mengenai dia tak terhapuskan.

**

            Petang itu, Oik dan Cakka baru saja selesai sholat berjamaah berdua di mushola sekolah mereka. Beberapa anggota ekskul mading tengah bekerja rodi menyelesaikan mading yang setiap dua minggu sekali haru diganti.
            Begitu Oik selesai membereskan mukenah milik sekolah, keduanya berjalan beriringan menuju sekretariat ekskul.
            “Kak Cakka tumben nggak nganterin Kak Agni pulang?” Tanya Oik.
            Cakka hanya tersenyum tipis. “Emang lo pikir gue ojek langganannya sampai-sampai tiap hari harus nganterin dia pulang?”
            Oik menggeleng malu. “Ya kan, aku pikir Kak Cakka sama Kak Agni itu... pacaran,”
            “Hah?!” Cakka menengok kearah Oik dengan ekspresi bingung lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Kok lo mikirnya gitu, sih?”
            Pipi Oik semakin bersemu merah saja. “Abisnya Kak Cakka sama Kak Agni deket banget kayak amplop sama perangko, nggak kepisahin.”
            “Gue sama Agni udah sahabatan dari kecil, Ik. Kami satu sekolah dari TK sampai sekarang. Jelas aja kami deket banget.” Jeda sebentar sampai Cakka kemudian memasang wajah konyol dan memandang Oik. “Lo jealous, ya?”
            “Nggak! Nggak, ih! Kak Cakka apaan, sih?! Nggak, aku nggak jealous! Ngapain juga aku harus jealous?!” Oik langsung gelagapan sendiri dan mengoceh tidak jelas sambil mempercepat langkahnya, meninggalkan Cakka yang berjalan santai di belakangnya.
            Dengan wajah bersemu merah, Oik merapikan barang-barangnya di sekretariat ekskul. Rupanya seluruh teman-temannya anggota ekskul mading sudah pulang. Langkah kakinya berderap menuju halaman depan, menunggu ayahnya menjemput.
            Berkali-kali diliriknya jam tangan tetapi ayahnya tak kunjung muncul. Hingga akhirnya seseorang yang tengah duduk diatas motornya berhenti di dekatnya.
            “Belum dijemput, Ik?” Tanya orang itu–Cakka.
            “Belum, Kak.” Jawab Oik singkat. Oik masih malu jika mengingat kejadian barusan.
            “Mau gue anter aja?” tawar Cakka yang disambut gelengan kepala dari Oik. “Ya udah, gue tungguin sampai elo dijemput.” Cakka turun dari motornya dan lekas duduk bersama Oik dibangku sekolah.
            “Kak Cakka pulang duluan aja. Ayah masih lama jemputnya, macet.” Usir Oik halus.
            “Nggak.” Cakka menggeleng. “Ini udah hampir malem. Gue nggak akan ngebiarin lo nunggu sendirian. Apalagi bokap lo masih lama kan, jemputnya.”

**

            “Eh, Ik.. gue denger mau ada reuni alumnus tahun lalu, deh. Angkatannya Kak Cakka kan, berarti?” Tanya Sivia dengan mulut penuh.
            Oik langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar nama Cakka disebut-sebut. “Serius lo?! Denger dari siapa?” Tanya Oik histeris.
            “Dari Alvin. Biasa.. dia kan, banyak kenalan kakak kelas. Hari ini katanya, sih. Tapi gue nggak tahu lagi. Dan gue berani taruhan kalau lo pingin banget Kak Cakka dateng.”
            “You got me, Siv.” Kata Oik lirih.
            “Hey, Oik!” sebuah suara menyapa, membuat sang empunya nama menengok dan mendapati salah satu temannya disana. “Happy anniv, ya! Semoga kalian langgeng sampai kakek-nenek.”
            Oik hanya menanggapi dengan tersenyum hambar. “Makasih, ya.”

**

            Oik tengah berkutat dengan laptop ketika Cakka datang. Melihat keadaan sekretariat yang lengang dan hanya ada Oik membuat lelaki itu mendengus. Dengusannya rupanya mengagetkan Oik yang tengah berkonsentrasi penuh mencari artikel untuk mading minggu depan.
            “Kak Cakka ngagetin aja,” seru Oik dongkol. Gadis itu pun kembali memfokuskan matanya pada layar laptop.
            Cakka meringis dan beringsut duduk di samping Oik. “Lagi ngapain, sih? Serius amat kayaknya. Berasa gue ganggu elo banget, deh.”
            “Iya, nih.” Oik menghela napasnya. “Lagi cari artikel, Kak. Tema minggu depan kan,something yang tradisional gitu. Aku masih nggak ngerti mau ngebahas apa.”
            “Lho?” Cakka mengernyit. “Yang ngurusin artikel kan, nggak cuman kamu. Yang lainnya pada kemana? Agni juga.. dia kemana?”
            “Nggak tau, Kak. Aku suntuk banget. Nggak ngerti harus gimana.” Oik menelungkupkan kepalanya diatas laptop. “Aku lagi nggak mood dan mereka semua nggak tau pada kemana.”
            Cakka jadi bingung sendiri begitu melihat Oik yang mulai terisak. Ia menggaruk tengkuknya, bingung. Melihat sebuah sapu yang teronggok disudut sekretariat, ia bergegas mengambilnya.
            “Tiap kali ku melihatmu, sesak napas dan kehilangan arah. Tolong, tolong, tolong bantulah aku berdiri tegak dengan dua kakiku.”
            Oik mengangkat kepalanya. Kedua tangannya menghapus lelehan air mata dipipinya. Ia melihat Cakka tengah bernyanyi dengan menggunakan sapu sebagaimicrophone. Tak ayal, tingkah berlebihan lelaki itu ketika membawakan lagu membuat Oik sedikit tersenyum.
            “Kak Cakka ngapain?” Tanya Oik dengan suara serak.
            “Nyanyi, dong! Banyak yang bilang gue mirip sama vokalisnya The Finest Tree, sih.”
            Oik semakin melebarkan senyumnya ketika mendengar ucapan Cakka barusan. “Makasih ya, Kak. I really mean it..”
            “Iya. Jangan sedih lagi, ya.” Cakka tersenyum tipis.

**

            Sivia baru saja menghabiskan sotonya. Ia meletakkan sendok beserta garpunya dengan posisi tertelungkup. Tangannya terulur untuk mengambil sebotol air mineralnya. Ia menenggaknya sambil menatap satu fokus.
            “Ik, Oik..” panggilnya.
            “Apa, sih?” Tanya Oik tak mengerti. Sivia tiba-tiba saja mendadak kaku.
            “Look who’s coming..” Ucap Sivia, ia mengedik pada koridor.
            Oik menggelengkan kepalanya tak mengerti lalu menengok kearah koridor. Napasnya tercekat begitu mengetahui siapa yang tengah berjalan menuju kantin–tempat mereka saat ini. Ia melirik Sivia. Rupanya sahabatnya itu sama terpananya dengan dirinya.
            “Gue nggak salah lihat, kan?” Tanya Oik dengan suara berbisik.
            Lama-kelamaan sosok itu semakin dekat dengan Oik dan Sivia. Semakin jelaskan spekulasi mereka mengenai siapakah sosok itu.
            “Hay, Oik! Hay, Sivia!” sapa sosok itu–tentu saja dengan suara beratnya.
            “Kak Cakka..”

**

            Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar satu jam yang lalu. Tetapi Cakka dan Oik masih berada di area sekolah. Semalam Cakka meminta tolong gadis itu untuk membantunya membuat figur doraemon dari tanah liat yang telah diolah sebelumnya.
            “Artikelnya udah siap, Ik?” Tanya Cakka. Ia melirik gadis yang tengah duduk disampingnya itu dengan tersenyum.
            “Udah, Kak.” Oik mengangguk. “Mau dibantuin nggak?”
            “Nggak usah. Nanti tangan lo kotor. Gue aja harus pakai sarung tangan.” Tolak Cakka. “Udah, lo duduk manis aja disamping gue.”
            Oik menghela napasnya. “Terus apa gunanya aku disini kalau Kak Cakka nggak mau aku bantuin? Kan, Kak Cakka yang semalem minta dibantuin.”
            “Bukan gitu,” Cakka tertawa melihat gadis disampingnya itu cemberut.
            “Gini, deh.” Cakka berbalik badan, menghadap Oik sepenuhnya dan menyodorkan kedua tangannya pada Oik. “Lepasin sarung tangan gue dulu.”
            “Lepas aja sendiri!” seru Oik sebal.
            “Nggak bisa, Oik.” Balas Cakka. “Ayo, lepasin. Tolong.”
            Dengan wajah yang masih cemberut, Oik membantu melepaskan sarung tangan dari kedua tangan lelaki itu. Lalu ia letakkan kedua benda itu disampingnya.
            “Terus? Apa?” Tanya Oik bingung.
            Cakka memegang kedua tangan Oik perlahan-lahan. “Gue nggak mau tangan lo jadi kotor. Ini kerjaan cowok. Ntar tangan lo bisa kotor dan nggak halus lagi.”
            Oik menahan napasnya. Begitu ia mendongak, ia mendapati Cakka tengah menatapnya dalam. Ia segera mengalihkan pandangannya. Apapun. Apapun asal jangan kedua bola mata yang memandangnya lekat itu.
            Oik hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merona merah.

**

            “Ik, gue ke kelas duluan, ya. Alvin nyariin gue.” Sivia langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Oik serta Cakka berdua.
            Oik menundukkan kepalanya sekilas. Ia merutuki Sivia karena telah membiarkannya berada pada momen yang canggung seperti ini bersama Cakka. Begitu ia mendongakkan kepalanya, ia melihat Cakka telah duduk manis di hadapannya.
            “Apa kabar, Ik?” Tanya Cakka dan seutas senyum.
            “Baik, Kak.” Oik tersenyum kikuk. “Kak Cakka sendiri, gimana?”
            “Baik juga. Aku sekarang ambil manajemen, Ik.” Ujar Cakka. Oik hanya mengangguk mengerti.
            Keduanya lantas terdiam untuk waktu yang cukup lama.

**

Cakka Nuraga: Ik, bsk jgn lupa bawa artikelny ya:-)
Oik: Siap kak!!^^
Cakka Nuraga: Udh siap semua kn?
Oik: Udh ko. Ini udh diprint jg hehe.
Cakka Nuraga: Ya udh. Ini udh mlm jg. Lo cpt tidur gih sana:-)
Oik: Gak bs tidur kak. Laper:-(
Oik: Ini msh mau ngerebis mie:-(
Cakka Nuraga: Waduh sama! Tp gue gak bs masak mie=))
Oik: Wah sehati ya kita:))
Cakka Nuraga: Wah cocok dong kl gt:-P
Oik: Iy nih, cocok bgt kak=))
Cakka Nuraga: Cpt jadian aja kl gt. Udh sehati sih:-P
Oik: Ih apaan jadian2??? Ditembak aja gak:-P
Cakka Nuraga: Oh km mau aku tembak?
Oik: Jgn dong, ntar aku mati:”(
Cakka Nuraga: Gmn sih? Serius nih._.
Cakka Nuraga: Ya udh, gini aja.........
Cakka Nuraga: Oik, aku suka sm kamu:-)
Cakka Nuraga: PING!!
Oik: Iy kak:-) aku jg:-)
Cakka Nuraga: Tp aku mau fokus ujian dl. Gpp kn ik?:-(
Cakka Nuraga: Ik? Oik?
Cakka Nuraga: Km udh tidur ya?:-(
Cakka Nuraga: Ya udh deh. Sleep tight ya:-)

**

            “Ik, kita bisa ngomongin soal itu, kan?” Tanya Cakka penuh harap.
            “Ngomongin apalagi sih, Kak?” Tanya Oik jengah. Ia segera mengalihkan pandangannya dari lelaki di hadapannya. Ia lelah.
            “Sejak itu kamu nggak pernah bales BBM aku lagi. Kamu juga kayak ngehindar. Iya, kan? Kamu kenapa sih, Ik?” Tanya Cakka memelas.
            Oik menghela napasnya. “Nggak ada lagi yang perlu diomongin.”
            Oik menggelengkan kepalanya melihat Cakka yang masih menatapnya penuh harap. Oik sebenarnya mengerti betul apa yang Cakka inginkan. Kini lelaki itu tengah menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.
            “Aku capek nunggu, Kak. Apalagi waktu itu Kakak bilang kalau Kakak mau fokus ujian. Iya, kan? Oke, aku turutin. Aku nggak pernah gangguin Kakak semenjak itu. Aku bukan menghindari. Aku cuman coba nurutin permintaan Kakak.” Oik membuang napasnya yang lama tertahan diparu-paru.
            “Kita sama sekali nggak berhubungan sampai Kakak selesai ujian. Sampai Kakak masuk universitas, malah. Sebelum Kakak bilang kalau Kakak masuk manajemen, aku nggak tau. Aku nggak tau harus ngapain, Kak.” Oik mulai terisak.
            “Ik..” Cakka mengulurkan tangannya, mencoba menghapus lelehan air mata gadis itu.
            “Nggak usah. Makasih.” Oik menepis tangan Cakka dengan kasar.
            “Sampai berbulan-bulan setelahnya pun aku nggak menghubungi Kakak sama sekali. Karena aku mikir kalau awal-awal jadi mahasiswa pasti sibuk. Tapi sampai awal tahun ini pun Kakak nggak ngehubungin aku.”
            Oik menundukkan kepalanya. Begitu ia mendongak, Cakka menemukan gadis itu tengah memasang wajah dinginnya. “Aku capek nunggu, Kak. Aku capek nunggu kamu. Kamu nggak pernah ada kabar.”
            “So, why should I hold on to something.. something doesn’t exist?” Tanya Oik sarkastik.
            “Ik, aku nggak bermaksud begitu. Aku...”
            “Kamu apa, Kak?” tantang Oik.
            “Kasih aku satu kesempatan lagi.”
            Oik menggeleng tegas. Bibirnya bergetar menahan tangis. “Nggak bisa, Kak. Kamu dateng diwaktu yang nggak tepat.”
            Cakka menatap Oik bingung. Juga, tidak terima.
            “Hay, Ik.” Sapa sebuah suara. “Happy anniv, Sayang.”
            Oik tersenyum menatap lelaki gondrong yang tengah mengulurkan tangan dihadapannya. “Happy anniv juga, Ray.”
            Oik menyambut uluran tangan Ray. Oik berdiri, berjalan beriringan dengan Ray setelah berpamitan kepada Cakka sebelumnya.
            “Kasih aku satu kesempatan lagi, Ik..”

THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [07]

            Pagi itu, Oik sudah siap dengan blouse biru muda dan celana jeansnya. Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam shoulder bag berwarna senada, Oik melangkah keluar dari apartemennya. Ray dan Gabriel sudah menunggu di apartemen mereka.
            Setelah memastikan ruang apartemennya terkunci, Oik bergegas menuju apartemen Ray dan Gabriel. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Ray muncul dengan kemeja kotak-kotaknya. Lelaki berambut cepak itu pun segera memanggil Gabriel. Ketiganya melangkah menuju basement dengan beriringan.
            “Lo mau jenguk siapa, Ik?” tanya Ray dengan alis bertaut bingung. Semalam Oik sudah mengiriminya sebuah pesan singkat berisi alamat tujuan mereka saat ini.
            “Saudara, Ray. Lo kaget?” tanya Oik balik.
            Ray menggeleng seraya mengangkat bahunya. “Nggak juga. Gue pernah kesana sebelumnya. Lo harus tahu, Ik.. Salah satu dokter disana ada yang cantik banget!” seru Ray dengan semangat.
            “Serius lo?” Oik tertawa. Matanya melirik Gabriel yang berjalan di sebelah kanannya –sementara Ray di sebelah kirinya–. “Lo kok, diem aja?”
            Gabriel terkesiap. Ia menatap Oik dari ekor matanya dan segera menunduk, menghalangi bertatap mata langsung dengan gadis itu. “Nggak. Nggak apa-apa. Cuman... ngantuk aja.”
            Ketiganya telah sampai di samping mobil Oik. Oik segera mengambil kunci mobil dari dalam tasnya dan melemparkannya pada Ray. “Lo aja yang nyetir. Gabriel masih ngantuk.”
            Setelah melihat Ray mengangguk dan membuka kunci mobilnya, Oik segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di bangku belakang, membiarkan Gabriel untuk duduk di depan menemani Ray. Tak lama kemudian, Ray sudah mengendarai mobil Oik menuju sebuah tempat. Gabriel bergerak-gerak gelisah di tempatnya.

**

            Alvin baru saja kembali dari dapur untuk membuat kopi ketika ia melihat ponselnya yang tergeletak diatas sofa ruang tengah bergetar. Ia segera meletakkan secangkir kopinya diatas meja dan beralih pada ponselnya. Ada sebuah pesan singkat masuk.

     From: Honeyy
     Maaf, vin. Aq gk bs skrg.
     Mnddk dimintain tlg bwt gntiin dkter yg jaga pg.
     Gnti ntar mlm aj ya? :-)

            Alvin menghela napasnya, kecewa. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya sedetail mungkin dan gadis itu membatalkannya begitu saja. Dengan perasaan yang berangsur memburuk, Alvin membalas pesan singkat tersebut.

     To: Honeyy
     Ok. Nnti mlm km lsg ke tmpt jnjian qt aj ya.
     Aq tkt oik tw kl km ke apartmnku dl.

            Alvin melirik sebuah kotak beludru yang tergeletak diatas meja–di samping kopinya. Ia mengambilnya lalu membukanya. Sebuah cincin bertahtakan berlian murni menyilaukan mata Alvin. Namanya terukir dalam cincin tersebut.
            Alvin menatap tangan kirinya. Sebuah cincin tersemat dijari manisnya. Sebuah cincin yang sama persis dengan cincin dalam kotak beludru tersebut. Hanya satu perbedaannya. Dalam cincin yang dipakai Alvin, nama yang terukir adalah... nama gadis itu. Alvin tersenyum menatapnya.

**

            Cakka terlambat bangun pagi ini. Ini semua gara-gara Bundanya yang tak kunjung pulang dari Solo bersama Ayahnya. Cakka berjalan menuju kamar Agni sambil merapikan kemejanya. Dasi tak berbentuk tergantung dilehernya.
            “Mbak Agni!” panggil Cakka. Tangannya bergerak membuka pintu kamar Agni.
            Cakka terdiam diambang pintu kamar Agni. Kakaknya itu berdiri mematung di hadapan meja yang berisikan berbingkai-bingkai foto. Fokus matanya tertuju pada satu bingkai. Bingkai foto dengan sosok dua orang bocah kecil yang masing-masing menggenggam sebuah lollipop dan tersenyum pada kamera.
            Cakka berjalan pelan menghampiri Agni. “Mbak..” Cakka menepuk bahu Agni dari belakang.
            Agni terkesiap kaget. Ia menengok ke belakang dan memijit keningnya begitu mengetahui Cakkalah tersangka utama yang membuatnya terkesiap. “Apa, Kka?” tanyanya dengan nada lelah.
            “Dasi..” lirih Cakka. Ia melirik dasi yang tergantung sembarangan dilehernya.
            Agni tersenyum tipis dan maju selangkah, tangannya mulai merapikan dasi Cakka. Membentuk simpul-simpul –yang menurut Cakka– rumit. Beginilah keseharian Cakka bila tak ada Bundanya. Ia belum bisa memasang dasinya sendiri.
            “Kangen Mas Debo, Mbak?” tanya Cakka. Matanya menatap tajam mata Agni yang seperti menghindarinya.
            Agni menggeleng kecil. “Sudah sarapan?”
            “Mbak, nggak perlu mengalihkan topik pembicaraan.” Cakka mulai menatap Agni lembut. Kedua tangannya ia letakkan dibahu Agni. “Mbak Agni, kangen Mas Debo?”
            “Iya,” jawab Agni singkat. “Selalu.”
            Cakka menghembuskan napasnya berat. “Mbak Agni masih nggak bisa terima kematian Mas Debo? Udah hampir dua puluh tahun, Mbak.”
            “Debo nggak mati, Kka.” Agni mengangkat wajahnya dari dasi Cakka. Ia menatap Cakka tajam. Nada bicaranya mendadak dingin begitu Cakka menyinggung soal kematian Debo enam belas tahun silam.
            “Terima kenyataan, Mbak! Mbak Agni nggak bisa hidup dalam masa lalu terus. Hidup ada untuk dijalani, Mbak.” Cakka benci melihat kakaknya rapuh. Cakka benci melihat Agni yang seolah ikut mati jika seseorang membicarakan kematian Debo.
            “Mbak masih dendam... dengan gadis kecil itu?” tanya Cakka ragu.
            “Itu sudah jelas. Lo nggak perlu tanya lagi.” Agni telah selesai memasangkan dasi Cakka. Gadis itu berbalik, memunggungi Cakka. Ia tak ingin Cakka meneruskan pembicaraan mengenai hal ini.
            Cakka kembali menghela napas. “Gue ngantor, Mbak,” pamitnya.

**

            Plang besar bertuliskan RS Khusus Jiwa Dharma Graha menyambut kedatangan Oik, Ray, dan Gabriel pagi itu. begitu memasuki area parkir mobil dan mendapatkan tempat kosong, Ray langsung memarkirkan mobil Oik disana. Setelah itu, ketiganya turun dari mobil.
            “Saudara lo namanya siapa, Ik?” tanya Gabriel dengan suara tercekat.
            Oik bergumam tidak jelas kemudian berlari-lari kecil, meninggalkan Ray dan Gabriel di belakangnya. Gadis itu tampak sedang bercakap-cakap dengan seorang suster di belakang meja resepsionis. Gabriel memandang Ray dengan tatapan yang sulit diartikan.
            “Gab...?” tanya Ray bingung. “Maksud lo... yang ini?”
            Gabriel mengangguk lesu. “Iya.”
            Tak lama kemudian, Oik kembali menghampiri keduanya bersama dengan seorang suster. “Ayo! Kita bakal dianter suster ini ke ruang rawat saudara gue.” Oik menarik-narik lengan Ray dan Gabriel agar cepat-cepat mengekor suster tersebut yang sudah memasukki lorong-lorong rumah sakit.
            “Saudara lo? Kakak? Adik? Sepupu?” tanya Ray penasaran.
            “Adik gue sih, sebenernya. Namanya Raissa Safanah Arif. Gue biasa panggil dia Acha.” Oik mulai bercerita sambil berjalan mengikuti suster tersebut.
            Ray mengangguk mengerti. Ia kembali melirik Gabriel yang hanya menatap lurus ke depan–kearah suster tersebut. “Kenapa dia bisa masuk sini?”
            Oik tersenyum miris. “Gara-gara pacarnya meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu. Gue sama Acha juga ada disana waktu itu. Kami berdua juga kecelakaan bareng pacarnya Acha. Tapi keadaan pacarnya Acha waktu itu parah banget. Dia meninggal di tempat.”
            Tiba-tiba suster tersebut berhenti di depan sebuah ruang rawat yang pintunya tertutup. Ada sebuah papan kecil bertuliskan nama pasien yang tergantung dipintu. Nama Acha terukir disana, beserta penjelasan keadaannya secara singkat.
            Suster itu perlahan membuka pintu kamar Acha dan melongokkan kepalanya, melihat keadaan di dalam. Lalu ia kembali menatap Oik beserta Ray dan Gabriel. “Tunggu sebentar, ya. Nona Raissa masih diperiksa dokter. Nanti setelah sarapan, kalian boleh jenguk. Takutnya Nona Raissa mengamuk lagi seperti tadi malam.”
            “Acha ngamuk?” tanya Gabriel dengan napas tertahan.
            “Iya.” Suster di hadapannya mengangguk. “Tadi malam ada suster baru disini. Waktu suster itu mengantarkan Nona Raissa untuk tidur, suster itu lantas juga mengambil boneka beruang yang selalu ia peluk.”
            Oik mengangguk mengerti. “Jadi kita tunggu di lobby aja?”
            “Iya. Mari, saya antar ke lobby lagi.”
            Ketiganya kembali melangkah menuju lobby, beserta sang suster. Baru saja ketiganya berjalan beberapa langkah, terdengar suara pintu dibuka kemudian ditutup dan disusul suara lembut seseorang. “Sus!”
            Sang suster menengok ke belakang dan mendapati dokter yang tadi memeriksa Acha. “Kalian bertiga ke lobby saja duluan. Tahu jalannya, kan?” Setelah mendapat anggukan dari Ray, suster itu berbalik badan untuk menemui sang dokter.
            Sementara Oik, Ray, dan Gabriel kembali ke lobby, suster tersebut berbincang dengan dokter muda itu. “Siapkan sarapan untuk pasien Raissa, ya. Saya periksa pasien yang lainnya dulu.”
            Oik berhenti melangkah. Ia menengok ke belakang, penasaran seperti apa wajah dokter yang senantiasa memeriksa adiknya. Tapi yang didapatinya ketika ia telah menengok ke belakang hanyalah siluet seorang dokter wanita yang tengah memasukki ruang rawat lainnya.

**

            “Bagaimana keadaannya?”
            “Baik. Sudah nggak pernah menyinggung-nyinggung lagi soal kejadian itu. Sudah nggak pernah bertanya-tanya juga.”
            “Bagus. Tetap jaga dia. Jangan sampai orang itu kembali masuk kedalam kehidupannya. Saya nggak mau itu terjadi.”
            “Kenapa?”
            “Saya nggak mau dia menderita lagi. Seperti dulu. Orang itu nggak baik.”
            “Tapi menurut penglihatan saya, dia baik-baik saja.”
            “Turuti ucapan saya!”
            “Baik.”
            “Satu lagi. Jangan ceritakan apapun dulu padanya.”
            “Itu pasti.”

**

            Udara Bandung sore itu terbilang sejuk. Seorang gadis yang baru saja lulus dari bangku Sekolah Dasar, tengah meniup-niup soap bubbles di pekarangan rumahnya yang luas. Deru suara kendaraan bermotor yang lalu-lalang di jalanan depan rumahnya sama sekali tak ia hiraukan.
            “Lala! Lala!”
            Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkannya. Gadis kecil itu segera meletakkan botol beserta peniup soap bubblesnya disebuah meja di teras rumahnya dan berjalan menghampiri sumber suara, seorang lelaki beserta gadis kecil lainnya yang berdiri di belakang pagar rumahnya.
            “Aga? Cila? Kalian lulus juga, kan?” tanya Lala sembari membuka pagar rumahnya.
            Lelaki kecil di hadapannya mengangguk dengan bersemangat. “Iya! Kita berdua juga lulus. Kamu mau lanjut sekolah dimana, La?”
            “Aga!” Gadis kecil di samping lelaki itu mulai merajuk. “Aga nggak boleh panggil dia Lala lagi! Lala itu aku, Ga. Nggak boleh ada Lala lainnya.”
            “Tapi kamu nama kamu kan, Cila... bukan Lala.” Lala –yang merasa namanya disebut-sebut– ikut angkat suara. Ia menatap Cila sebal. “Lala itu aku!”
            Kedua gadis kecil itu mulai berdebat –lebih tepatnya, bertengkar– hanya karena masalah sepele. Aga mulai kebingungan memisah kedua gadis itu. Dengan paksa, ditariknya lengan Cila menjauh dari Lala.
            “Cil, kita pulang aja, yuk?! Aku nggak suka kamu bertengkar cuman karena nama aja,” Aga menatap Cila sebal kemudian beralih pada Lala. “La, kami pulang dulu. Dadah!”
            Setelah kembali menutup pagarnya, Lala mendengar kedua orangtuanya memanggilnya. Dengan berlari, gadis itu masuk ke dalam rumah. Seluruh barang-barang sudah masuk kedalam kardus. Kedua orangtuanya juga sudah siap.
            “Kita berangkat sekarang, Ma, Pa?” tanya gadis kecil itu dengan raut wajah sedih. “Aku mau disini aja. Nggak mau pindah. Lala udah punya banyak teman disini.”
            “Papa nggak nyaman tinggal disini. Kita pindah ke rumah yang lebih besar, dekat kebun teh. Mau, ya?” bujuk Papanya. Akhirnya gadis itu hanya dapat mengangguk pasrah.

**

            Sudah lima belas menit terduduk bosan di sofa lobby tetapi sang suster tak kunjung memperbolehkan mereka menjenguk Acha. Sudah tak terhitung Oik menguap berapa kali selama menunggu di lobby. Kebosanan dan kantuk menyergapnya.
            Ketika Oik telah mendongakkan kepalanya, ia melihat siluet seorang gadis yang mengenakan jas putih bersih tengah berdiri membelakanginya–bercakap-cakap dengan seorang suster. Oik merasa mengenali siluet tubuh tersebut.
            “Sus, saya keluar sebentar, ya. Nanti sebelum makan siang saya pasti kembali lagi. Pasien Raissa juga sudah selesai sarapan. Ada yang mau jenguk dia, kan?” celoteh gadis itu.
            “Iya, Dok. Tadi ada tiga kerabatnya mau menjenguk.”
            “Ya udah, saya pamit dulu.”
            Gadis itu berbalik, hendak keluar menuju area parkir. Sekelebat, Oik dapat melihat wajahnya. Wajah itu sangat dikenalnya. Oik mendadak sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai Ray dan Gabriel menarik lengannya untuk mengikuti suster tersebut menuju ruang rawat Acha.
            Nggak mungkin. Itu... gadis yang biasa gue lihat sama Alvin, kan? Jadi.. Dia dokter? Dan dia kerja disini? Dan dia sebut-sebut nama Acha? Itu berarti... dia dokter yang merawat Acha.
            Oik menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Ini pasti salah. Tidak mungkin gadis yang biasa ia lihat di sekitar Alvin itu adalah dokter. Terlebih lagi, dokter yang merawat Acha. Dunia memang selebar daun kelor.
            “Kenapa, Ik?” bisik Gabriel. Ia menangkap gelagat aneh Oik semenjak beberapa menit yang lalu.
            Oik menggelengkan kepalanya. “Sus?” panggilnya pada suster yang berjalan di depannya.
            “Ya?” Suster tersebut menengok kepada Oik dengan alis terangkat sebelah.
            “Itu tadi dokter yang ngerawat Acha?” tanya Oik ragu-ragu.
            “Iya. Dia dokter muda tapi sudah dipercaya para senior untuk merawat Nona Raissa. Dia dokter muda kesayangan para senior.” Suster tersebut tersenyum dan kembali menghadap depan.
            Oik merasakan dunianya mendadak runtuh.

**

     From: Honeyy
     Vin, aq otw ya.
     Ini sdh bs keluar RS. Tp sbntr aj.
     Sblm jm mkn siang aq sdh hrs kmbli.

     To: Honeyy
     Ok. Km ke apartmnku aj. Kbtln oik gak ada.
     Dy ke rmh skt, jnguk acha. Km smpt ktmu dy?

**

            Gadis berwajah riang itu baru saja turun dari mobilnya. Ia memarkirkan mobilnya di pelataran depan apartemen Alvin. Ia pun bergegas memasuki bangunan apartemen megah di hadapannya. Setelah tersenyum pada seorang satpam paruh baya yang berjaga dipintu masuk, gadis itu segera berlari menuju lift.
            Tak sampai lima menit, ia telah sampai di depan pintu ruang apartemen Alvin. Akhirnya ia bisa leluasa berada dalam apartemen lelaki bermata sipit itu karena Oik sedang tidak ada. Ia patut menghela napas lega karena itu.
            Secarik kertas yang menempel pada pintu ruang apartemen Alvin menyambutnya. Tangannya terulur untuk mengambil secarik kertas yang hanya tertempel seadanya dengan selotip tersebut. Ia tersenyum. Itu tulisan tangan Alvin.

     Masuk aja. Pintu nggak dikunci :-)

            Gadis itu mendorong pintu di hadapannya. Dalam sekejap, ia telah berada dalam ruang apartemen Alvin. Keadaan di dalam benar-benar gelap. Tak ada penerangan dari apapun. Begitu pintu ditutup, semakin gelaplah ruangan itu.
            “Vin?” panggil gadis itu. Tak ada sahutan.
            Gadis itu melangkah. Tiba-tiba saja kakinya mengantuk sesuatu. Ia berjongkok, mengambil barang yang telah mengantuk kakinya. Sebuah senter kecil dan –lagi-lagi– secarik kertas. Ia menyalakan senter dan menyorotkan cahayanya pada secarik kertas itu.

     Jalan terus, ke kamarku ya.
     Jangan lupa arahkan terus senternya ke dinding di sebelah kanan kamu ;-)

            Gadis itu tersenyum. Jadi ini yang dimaksud Alvin dengan kejutan?
            Menuruti kata-kata Alvin dalam secarik kertas barusan, ia menyorotkan cahaya senter yang digenggamnya pada dinding di sebelah kanannya. Hal pertama yang ia lihat adalah foto. Fotonya bersama Alvin. Ia menyorotkan senternya pada sepanjang dinding menuju kamar Alvin. Ada dua puluh tiga foto yang tertempel disana. Masing-masing dengan tagline yang berbeda pada pojok bawah kiri foto.
            Seluruhnya adalah fotonya bersama Alvin. Mulai dari perayaan anniversary satu bulan hubungan mereka, hingga bulan ke-dua puluh tiga. Tak terasa, sudah dua puluh tiga bulan ia menjalin hubungan bersama Alvin–tanpa sepengetahuan Oik.
            Akhirnya ia pun tiba di depan pintu kamar Alvin. Ada secarik kertas yang tertempel didaun pintu tersebut. Gadis itu kembali menyorotkan cahaya senternya pada tulisan tangan Alvin yang tertera disana.

     Matikan aja senternya ;-)

            Gadis itu kembali menurut. Ia mematikan senternya. Setelah itu, ia membuka pintu kamar Alvin perlahan-lahan. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya didepa dada. Merasa tersanjung dengan perlakuan Alvin padanya.
            Kamar Alvin telah dihias sedemikian rupa. Ranjang yang tadinya hanya berisi bantal, guling, dan selimut kini telah penuh dengan kelopak bunga mawar merah. Jalan menuju ranjang Alvin pun telah dilengkapi dengan lilin.
            Gadis itu menundukkan kepalanya. Ada barisan lilin di kanan dan kirinya yang membimbingnya menuju ranjang Alvin. Dengan wajah merona bahagia, ia mengikuti cahaya lilin tersebut dan duduk diatas ranjang Alvin.
            “Alvin?” panggilnya lagi.
            Tiba-tiba saja terdengar derap langkah pelan seseorang. Siluet tubuh seorang lelaki kini berada di hadapan gadis itu. Dengan bantuan cahaya temaram dari lilin-lilin kecil itu, gadis itu dapat mengenali bahwa lelaki di hadapannya kini adalah Alvin.
            Siluet lelaki di hadapannya itu tengah membawa sebuket bunga mawar pada tangan kanannya dan sesuatu –entah apa– ditangan kirinya.
            “Happy two years anniversary, Sayang..” ujar Alvin seraya menyerahkan buket bunga mawar tersebut pada gadis berwajah ceria itu.
            Lalu, tiba-tiba saja, Alvin berjongkok. Ia memindahkan sesuatu yang ternyata sebuah kotak beludru itu ketangan kanannya. Perlahan, ia membukanya. Sebuah cincin bertahtakan berlian itu kini telah berada dalam tangan Alvin.

            “Would you marry me, Sivia?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS