Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label irva. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label irva. Tampilkan semua postingan

THE UNTITLED STORY [2 of 4]

            Seminggu kemudian..

            Oik berjalan dengan tergesa-gesa menuju Sekretariat OSIS. Pasti rapat mengenai LDKS yang akan diselenggarakan besok sudah dimulai. Ini semua gara-gara Sivia dan Pricilla! Kedua sahabatnya itu tadi mengajaknya makan di kantin. Mentang-mentang keduanya tidak mencalonkan sebagai anggota OSIS lagi, mereka jadi semena-mena menculik Oik saat rapat digelar! Huh!

            Oik mengetuk pintu Sekretariat OSIS dengan hati-hati. Setelah itu, ia membukanya. Seluruh pasang mata di dalamnya memandang tajam ke arahnya. Oik masuk seraya tersenyum kikuk, lalu mengambil tempat duduk di samping Keke –adik kelasnya–.

            Oik mengerling ke depan. Para senior OSIS sedang memimpin rapat. Ada Zahra, Angel, Rio, Kiki –Ketua OSISnya–, Lintar –Wakil Ketua OSIS–, Irva –Ketua Panitia LDKS–, dan Rahmi –Bendahara I OSIS–.

            Oik mengedarkan pandangannya. Rupanya Cakka dkk itu juga mencalonkan sebagai anggota OSIS. Oik menggerutu dalam hati. Mau jadi apa OSIS tahun ini kalau anggotanya kayak mereka ini?

            “Ya sudah, rapat saya tutup. Setelah ini langsung pulang, jaga kesehatan. Besok kita berangkat ke daerah Trawas, Mojokerto. Barang-barangnya juga jangan sampai ada yang ga dibawa.” Angel menutup rapat dengan senyum sinisnya.

            Angel, Rio, Kiki, Lintar, dan Rahmi langsung keluar dari Sekretariat OSIS. Sedangkan Zahra dan Irva menunggu sampai seluruh adik-adiknya keluar. Pasalnya, Zahra yang membawa kunci ruangan ini. Jadi, dia yang akan menguncinya.

            “Ik! Oik!”

            Oik menengok ke belakang sambil membenahi dasinya. Ada Shilla yang berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Cakka cs. Oik mengangkat salah satu alisnya, membuat Shilla serta Cakka cs datang menghampirinya.

            “Hay, Kak.” Alvin tersenyum lebar seraya agak menganggukkan kepalanya, Oik hanya menatapnya datar.

            “Halo, Mbak!” Cakka mengangkat tangan kanannya, bermaksud untuk berhigh five dengan Oik tapi sama sekali tak diperdulikan olehnya.

            Shilla memandang Alvin, Cakka, Deva dan Ozy – teman keduanya– dengan tersenyum kecil, lalu beralih pada Oik, “Ikut LDKS, kan, Ik?”

            Oik mengangguk, “Iya. Kenapa, Shill?”

            “Jangan jutek-jutek, dong, Mbak.” celetuk Deva dan dia berhasil mendapatkan pelototan tajam dari Oik.

            “Kamu tadi, kan, ga dateng rapat dari awal. Nanti aku SMSin ke kamu aja, ya, barang-barang apa yang harus dibawa?” tawar Shilla.

            “Ga usah,” Oik menggeleng dan tersenyum berterima kasih. “Aku udah tau, kok, Shill. Aku, kan, juga ikut LDKS tahun lalu... ga kayak kamu. Aku juga bisa tanya Mbak Irva.”

            Shilla hanya mengangguk mengerti dan tersenyum kikuk.

**

            Keesokan harinya..

            Para peserta LDKS telah siap di barisan masing-masing. Dan, sialnya, Oik harus berbaris di dekat Cakka cs. Satu hal lagi yang membuat Oik kesal adalah sinar matahari yang menyengat itu membuatnya agak sedikit limbung. Oik memang tidak bisa berada di bawah sinar matahari dalam waktu yang lama. Ia bisa pingsan dibuatnya.

            “Kenapa, Kak?” Alvin melongokkan kepalanya pada Oik.

            Oik menggeleng lemah, “Ga kenapa-kenapa. Cuman kepanasan.”

            “Aku bawa jaket, Mbak. Mau pinjem?” tawar Cakka, lagi-lagi ia tersenyum lebar.

            “Aku juga bawa.” Oik melirik Cakka dingin.

**

            Seluruh peserta LDKS beserta para senior OSIS turun dari dalam bus. Mereka semua dihadapakan dengan barisan bukit yang hijau. Para peserta LDKS kembali berbaris, dipimpin oleh beberapa orang dari event organizer yang disewa oleh para seniornya. Senior-senior itu mengawasi mereka dari bawah teduhnya pepohonan. Oik menatap kakak-kakaknya dengan raut wajah sebal.

            Oik berbaris di dekat Gita dan Nova –teman seangkatannya–. Para peserta LDKS pun mulai berjalan, menaiki dan menuruni perbukitan di depannya. Zahra, Irva, Rahmi, Angel, Kiki, Lintar, dan Rio mengikuti mereka dari belakang. Zahra sudah berjaga-jaga membawa Oxycan –Oxygen Can– untuk Oik.

            Dan, benar saja, baru beberapa kilometer berjalan, Oik sudah lemas. Wajahnya sudah sepucat mayat hidup, bibirnya sudah seputih kapas. Akhirnya ia dibopong oleh Zahra dan Irva. Rahmi dan Angel mengipasi Oik. Rio membawakan Oxycan Oik. Kiki dan Lintar tetap berjalan bersama para peserta LDKS yang lain.

            “Sok-sokan ikut pendakian, sih, Ik..” cibir Rahmi.

            “Mbak Rahmi, nih... ngeselin!” Oik merajuk dengan suara manjanya. “Kan, biar bareng-bareng sama yang lainnya juga. Masa aku langsung ke perkemahan, sih? Sendirian, dong!”

            “Butuh Oxycan, Ik?” tanya Rio.

            Oik menggeleng cepat, “Masih kuat, kok, Mas!”

            Akhirnya Oik kembali berdiri. Tangan kanannya digandeng oleh Zahra dan tangan kirinya digandeng oleh Angel. Rahmi dan Rio berjalan di depannya. Perlahan, mereka berlima menyusun rombongan lainnya yang sudah jauh di depan.

            “Mbak, calon anggota OSISnya, kok, gini semua, sih?” Oik memperhatikan adik-adik kelasnya dengan prihatin.

            “Cakka cs, ya?” tanya Rahmi.

            Oik mengangguk, “Iya, Mbak. Gitu, kok, ya, diterima..”

            Irva mengangkat bahunya, “Tanya Ketua OSISmu aja, Ik. Dia bilang Cakka c situ kurang diasah aja kemampuannya.”

            “Udah jelas-jelas nakal gitu, kok! Buktinya, waktu MOS, kan, mereka jadi troublemaker, Mbak.” Oik menimpali dengan kesal.

            “Tenang... Cakka, Alvin, Deva, sama Ozy itu takut sama aku.” Rio menyombongkan dirinya.

            Angel menyoraki Rio dengan hebohnya. Ia sampai mendorong bahu Rio karena gemas dengan percaya dirinya yang selangit itu. Oik pun tertawa. Tak terasa, asmanya sudah mulai sembuh. Tumben sekali asmanya kumat tidak berlangsung lama.

**

            Seluruh rombongan pendakian sampai di area perkemahan dengan peluh yang menetes deras. Para peserta LDKS duduk melingkar di depan tenda. Oik menyusul dan duduk di samping Shilla karena hanya tempat itulah yang masih kosong.

            “Asma kambuh, Ik?” tanya Shilla.

            Oik mengangguk dan tersenyum jengah, “Iya, tapi udah mendingan. Ini udah ga kenapa-kenapa, kok.”

            Shilla mengangguk mengerti. Gadis itu kembali meluruskan kakinya. Begitupula dengan Oik. Mereka berdua terlibat pembicaraan seru seputar MOS seminggu yang lalu. Apalagi ketika Oik mendapatkan banyak surat yang menyatakan bahwa dialah panitia MOS yang paling galak.

            “Dek!” Angel berdiri di tengah lingkaran bersama dengan Rio. “Ini air mineral gelasnya setiap orang dapet jatah satu. Cepetan diminum. Setelah ini, kita ada games di sungai belakang.” Angel mengedik ke belakang tenda. Ada sungai berair jernih di sana.

            Dengan cepat, Rio membagikan kepada adik-adiknya segelas air mineral. Setelah itu, para senior dan beberapa orang dari event organizer segera menuju sungai untuk mempersiapkan peralatan games.

            “Mbak, gamesnya nanti ngapain?” tanya Cakka pada Shilla.

            Shilla menggeleng dan tersenyum masam, “Ga tau, dek. Tanya Mbak Oik aja. Aku, kan, tahun lalu ga ikut LDKS.”

            Cakka mengangguk dan kemudian beralih pada Oik, “Mbak, gamesnya nanti ngapain?”

            “Pipa bocor.” Oik menjawab pendek.

            Cakka kembali menengok pada Alvin, Deva, dan Ozy. “Dev, Zy, dulu di SMP Permata games LDKSnya apa, ya?”

            Deva, Ozy, dan Cakka adalah alumnus SMP Permata. Dulu –semasa SMP– ketiganya merupakan anggota OSIS juga. Deva pada Sekbid 2 yang menangani soal Pendidikan, Ozy pada Sekbid 7 soal Olah Raga, dan Cakka pada Sekbid 8 yang merupakan spesialis Kesenian. Sedangkan Alvin adalah alumnus SMP Langit Jingga.

            Ozy mengedik pada Deva dan menjawab, “Lupa, Kka. Udah lama juga..”

            Shilla menengok pada ketiga adik kelasnya itu dengan raut wajah kaget, “Kalian alumnusnya SMP Permata?” ketiganya mengangguk bersamaan. “Ik, kamu alumnus SMP Permata juga, kan?”

            “Mbak Oik alumnus SMP Permata?” tanya Cakka dengan mata berbinar.

            “Iya.” Oik kembali menjawab dengan pendek dan dingin.

            “Tapi aku ga pernah lihat Mbak Oik, lho..” Ozy juga terlihat kaget.

            Oik memandang tajam ketiga adik kelasnya itu, “Kalian pikir aku pernah lihat kalian waktu SMP? Emang penting? Buang-buang waktu aja.”

            Oik bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju sungai. Cakka, Alvin, Deva, dan Ozy dibuat melongo oleh keketusan Oik barusan. Ketiganya tak menyangka bahwa Oik akan tetap menjadi senior yang ketus seperti ketika MOS. Shilla hanya memandang Oik dengan menggelengkan kepalanya, memaklumi.

            “Mungkin Mbak Oik masih kebawa suasana MOS.” Shilla mencoba menjelaskan.

            “Tapi Mbak Shilla udah ga kebawa suasana MOS, kan? Kok Mbak Oik masih kebawa?” tanya Deva dengan raut wajah –agak– sebal.

            “Mbak Shilla yang pas MOS jadi SK aja bisa baik ke kita. Mbak Oik yang cuman panitia biasa, kok, tetep jahat?” Ozy ikut menimpali.

            “Hus!” Alvin menoyor kepala Ozy. “Ceplas-ceplos banget kamu! Mbak Oik itu pas MOS pegang jabatan double, tau! Sekretaris sekaligus bendahara!”

            “Kamu tau dari mana, Vin?” tanya Cakka dengan pandangan tak suka.

            “Dari Mbak Shilla.” Alvin pun memamerkan cengiran lebarnya pada Cakka, Deva, dan Ozy.

            “Udah, ah. Ga baik ngomongin orang terus. Ntar Mbak Oiknya tau, kalian bisa dimarahin.” Shilla pun bangkit berdiri lalu membersihkan rok pramukanya yang kotor karena rerumputan. “Ke sungai belakang sekarang, yuk!”

            Cakka, Deva, dan Ozy berdiri pula tanpa banyak bicara. Hanya Alvin yang masih duduk dan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia mengulurkan tangannya ke atas, bermaksud ingin dibantu berdiri. Cakka, Deva, dan Ozy menatapnya malas. Shilla memandangnya dengan tersenyum simpul.

            “Ayo, sini.. Berdiri!” Shilla membalas uluran tangan Alvin.

            Cepat-cepat Alvin menjauhkan tangannya dari Shilla dan menampakkan wajah malaikatnya, “Maaf, Kak.. Kita bukan muhrim.” Alvin menjawab dengan kalem.

            Shilla pias. Ia kembali menarik uluran tangannya kemudian berbalik dan melangkah menuju sungai. Meninggalkan keempat adik kelasnya itu dengan diselimuti kebingungan.

            “Kamu, sih, Vin! Mbak Shilla ngambek, tuh!” Deva mengulurkan tangannya untuk membantu Alvin berdiri dengan malas.

            “Ya, kan, aku cuman bercanda. Kak Shilla aja yang terlalu serius nanggepinnya.” bantah Alvin.

            Keempatnya pun berjalan menuju sungai dengan cepat. Pasalnya, para peserta LDKS yang lainnya telah melenggang menuju sungai sejak lima menit yang lalu. Begitu mereka sampai di bantaran sungai, mereka melihat para peserta lain telah berbaris membentuk lima banjar.

            “Kalian berempat!” Angel berteriak dari depan. “Kenapa telat kemari?”

            “Maaf, Kak.” Alvin, Cakka, Deva, dan Ozy hanya mampu menundukkan kepala mereka.

            “Udah, cepet baris! Jangan buang-buang waktu.” Rahmi menimpali.

            Keempatnya segera berbaris. Kebetulan, banjar paling kanan baru terisi oleh tiga orang, kurang empat lagi. Jadilah mereka semua berbaris pada banjar paling kanan tersebut. Rupanya mereka sebanjar dengan Oik, serta dua teman seangkatan mereka lainnya –Dea dan Agni–.

            Alvin –yang berbaris di depan ketiga temannya yang lain– mencolek bahu Agni dari belakang, “Games pipa bocor, Ag?” tanyanya.

            Agni mengangguk, “Iya. Ssstt!” Gadis itu menyilangkan telunjuknya di depan bibir. “Bilangin Cakka, Deva, sama Ozy.. Jangan rame! Nanti kalian ga denger penjelasan dari Kak Angel, tau!”

            Alvin mengangguk. Ia memberikan kode kepada ketiga temannya itu agar jangan berbicara sendiri dan mendengarkan penjelasan tentang permainan pertama ini dengan baik. Cakka, Deva, dan Ozy pun diam. Mereka semua menyimak penjelasan dari Angel dengan seksama.

            “Nah! Kelompoknya dibagi menurut banjar masing-masing, ya! Satu banjar, satu kelompok!” Angel mengakhiri penjelasannya.

            Oik, yang berbaris paling depan, segera menengok ke belakang. Ia kaget bukan main ketika mendapati bahwa ia akan sekelompok dengan keempat adik-adik troublemaker itu. Ia menggeram dalam hati dan kembali menghadap ke depan.

            Kelima kelompok tersebut segera masuk ke dalam sungai. Alhasil, seragam pramuka mereka menjadi basah kuyup. Kelompok pertama berada di tengah-tengah sungai, kelompok kedua di sebelah utara kelompok pertama, kelompok ketiga di sebelah timur kelompok pertama, kelompok keempat berada di sebelah selatan kelompok pertama, dan kelompok kelima berada di sebelah barat kelompok pertama.

            “Mbak, masuk sungai ga bikin asmanya kambuh lagi, kan?” tanya Cakka khawatir.

            Oik menggeleng dan tersenyum tipis, “Ga, kok. Ga selebay itu juga, lah, asmaku!”

            “Wah! Mbak Oik bisa senyum!” Cakka memekik heboh.

            “Kamu pikir Kak Oik itu robot?” Alvin menginjak kaki Cakka hingga temannya itu mengaduh kesakitan.

            “Ya! Di tengah-tengah kalian semua sudah ada sebuah pipa yang memiliki lubang di mana-mana. Di dalamnya ada sebuah bola kecil. Tugas kalian adalah mengisinya dengan air sungai hingga bola kecil itu keluar dari dalam pipa.”

            Begitu peluit dibunyikan, seluruh kelompok tersebut mulai sibuk sendiri mengisi masing-masing pipa dengan air sungai. Ada yang bertugas menutup lubang-lubangnya dan ada juga yang bertugas menimba air lalu menuangkannya ke dalam pipa.

            “Ga ngaruh, nih!” seru Agni dengan sebal.

            “Ya sabar, Ag!” Ozy menimpali dengan tak kalah kesalnya.

            “Logika kalian jalan ga, sih? Yang ditutup jangan cuman lubang-lubang yang ini, dong!” Oik pun ikut berseru dengan kesal.

            “Terus yang mana lagi, Mbak?” tanya Ozy. Ia bertugas menimba air dan memasukkannya ke dalam pipa.

            “Yang di bawah masih bolong!” pekik Alvin, seakan baru menyadari sesuatu.

            Oik mengangguk. Rupanya logika anak-anak troublemaker ini berjalan juga. Oik tersenyum dalam hati. Akhirnya, Dea yang menutup lubang bawah pipa yang mengangalebar. Ozy pun melanjutkan pekerjaannya.

            Perlahan, bola kecil itu mulai muncul dan akhirnya keluar dari dalam pipa. Kelompok Oik bersorak senang. Akhirnya mereka pun diperbolehkan kembali ke bantaran sungai dan duduk-duduk di bawah pepohonan sambil menunggu kelompok lain yang tak kunjung berhasil mengeluarkan bolanya.

            “Mbak, Mbak Oik jangan jutek-jutek, dong..” rajuk Dea.

            “Siapa yang jutek? Ga ada.” Oik terkekeh pelan setelahnya.

            “Ya Mbak Oik yang jutek!” Agni cemberut. “Waktu MOS jutek. Ini tadi juga jutek. Tapi, kok, tadi bisa senyum, Mbak?”

            “Lagi bete aja kemarin-kemarin.” Oik kembali tersenyum simpul.

            “Tuh, kan, senyum lagi!” Cakka kembali memekik dengan heboh.

            “Berisik, Kka!” Deva menempeleng wajah Cakka dengan tidak berperasaan.

            “Berarti kalau Mbak Oik jutek itu Mbak Oik lagi badmood?” tanya Dea, memastikan.

            Oik mengangguk, “Iya, Dek.”

            “Kak Oik berarti sering badmood, ya..” gumam Alvin seraya tersenyum simpul

            “Udah takdir, Vin, kalau aku sering badmood.” Oik tertawa kencang.

            “Jangan badmood lagi, ya, Mbak..” kata Cakka. Ia menatap Oik lurus-lurus dan tersenyum tulus padanya.

            Oik kembali tersenyum. Ia mulai nyaman berada di antara mereka. Semangat, Oik! Ia masih akan menjalani dua hari kedepan dalam kegiatan LDKS dengan mereka-mereka ini. Oik tak menyangka mereka adalah adik kelas yang menyenangkan begini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CRUIFFIN part 20 (Ify : "Cowok bukan cuman Debo aja")

Ify POV



Lo pada, tau ga sih sekarang hari apa? Hari Selasa kan ya? Wah.. Keajaiban dunia ini sih namanya! ‘Keajaiban dunia apanya’ kata lo? Hey! Hari ini gue berhasil bangun pagi tanpa jam weker gue harus teriak nyaring dulu! Kurang ajaib apa coba hari ini? :p

Sekarang gue udah di parkiran SMA Gallner. Errr, masih di dalem mobil tapi sih -_-v Gue pun langsung turun dari mobil dan menebar senyum ke mana-mana *ngibasngibasinrambut* Maklum, gue kan cantik :))))

Tau-tau kaca mobilnya kebuka. Dan oknum yang telah membukanya adalah….. Kak Kiki! Siapa lagi? -_-

“Apa deh kak?” Tanya gue, super jutek. Dikarenakan gue belom ngerjain PR Kimia dan gue kudu cepet-cepet ‘ngerebut’ PR-nya Acha sebelom itu buku muterin satu kelas -.-

“Jangan lupa, ntar yang jemput lo itu bukan gue. Irva yang ntar jemput lo! Baik-baik ya lo sama calon kakak ipar! Awas kalau sampek ada laporan ga enak dari Irva! Gue gorok lu!” ancemnya. Ih, emang gue takut? :p

Gue ngibasin tangan ke Kak Kiki dengan maksud biar dia cepet-cepet musnah dari hadapan gue. Berhasil! Kak Kiki nyalain mesin mobilnya dan pergi-entah-ke-mana-dan-gue-sama-sekali-ga-perduli-itu-malahan-gue-bersyukur-kalau-dia-kagak-balik *pletak*

Apa lo kate? Kalo Kak Kiki ga balik berarti ga bakalan ada yang nyomblangin gue sama Debo? Astagaaaaa!! Gue sampek lupa! Oh Tuhan, jangan ambil kakak gue tersayang *padahalbohong*

“Ify!”

Eh? Kok berasa ada yang manggil gue ya? Bukannya sekolah masih sepi? Tuh kan! Jam tangan gue aja masih nunjukkin jam enam kurang beberapa menit! Terus? Itu tadi siapa yang manggil gueee? Setan? Ghost!

Baru aja gue mau lari, pundak gue udah ada yang nepuk dari belakang, “Mau ke mane lo?” Tanya suara-yang-tangannya-itu-nepuk-bahu-gue.

Menurut lo? Setan bukan sih? Bukan ya? Eh iya.. Mana bisa setan megang gue yang super beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa ini :p

Gue pun noleh ke belakang. Astaganaga! “Acha! Bikin kaget aje sih lo?!” teriak gue ga kenal volume.

Si Acha malah cengengesan ga jelas sambil garuk-garuk kepala yang gue yakin kalau kepalanya ga gatel -_- “Eh, Fy! Tumbenan lo jam segini udah dateng? Biasanya kan mepet-mepet bel masuk! Rajin ya lo sekarang!” cerocos Acha.

“Cha, lo niat ngeledek gue apa muji gue?” Tanya gue dengan wajah super datar.

“Dua-duanya kok Fy..” jawab Acha dengan polosnya dan minta di….. Di-apa? Ditimpuk! -_-

“Udah ah! Ayo masuk! Ntar gue pinjem PR Kimia lo! Gue belom ngerjain! Semalem gue keasyikan nge-game!” ajak gue.

Gue pun ngegandeng, lebih tepatnya nyeret, tangannya Acha masuk ke kelas tercintrong ._. Ternyata kelas juga masih sepi. Helo?! Ify ini pinter-pinter tapi kok bego ya (?) Liat jam dan pikirkan apa mungkin jam segini temen-temen lo udah pada duduk manis di bangku masing-masing -_____-

Iya sih.. Masih jam enam ya. Bel masuk kan jam tujuh kurang lima belas menit. Mana mungkin jam segini mereka udah duduk manis -_- Gue pun cepet-cepet duduk di bangku kesayangan gue dan naruh tas gue.

Lagi asyik-asyiknya melongo liat pemandangan taman lewat pintu kelas dari tempat duduk gue eh malah ada tiga orang pengganggu pemandangan. Errr, sebenernya yang ngeganggu sih cuman dua. Yang satu mah pemandangan indah banget :*

“Agni, ntar sore kita jalan ya?”

“Hah? Mau jalan ke mana, Deb? Terus Zahra gimana?”

“Lo ngapain mikirin gue sih, Ag? Nge-date aje lu sono sama Debo!”

“Tuh, Ag! Zahra sendiri loh yang bilang, bukan aku..”

“Aduh.. Gimana ya, Deb? Gue ga enak sama Zahra!”

“Laga lu, Ag! Biasanya juga lu main ninggal gue aja kalau udah ama Debo!”

“Si Zahra buka rahasia amat ya. Cukup tau ya, Zah!”

“Jadi gimana, Ag? Mau kan?”

“Iye deh.. Boleh. Mau jalan ke mana?”

“Terserah kamu aja..”

Oke! Lo mau pengakuan apa dari gue, pemirsa sekalian? Cemburu? Jealous? Iri? Envy? Gue cemburu-jealous-iri-envy sama Agni yang selalu diperhatiin sama Debo! Sedangkan ke gue? Mana pernah si Debo sampek segitunya? Marah-marah mah iya! :(

“Gue mah cukup tau aja ngeliat mereka berdua..” lirih gue.

“Apa, Fy?” tanya Acha, gue ngegelengin kepala.

Ify! Kenapa lo jadi lembek begini? Ke mana Ify yang biasanya teriak ga kenal volume saking cerianya? Masa cuman gara-gara seorang Debo aja lo jadi lembek begini sih?! Ga banget! Ayo! Semangat!

“Gue tau lo kenapa.. Yang sabar aja, Fy” kata Acha, dia ngelirik sinis loh kea rah Agni sama Zahra ._.

“Udah! Udah! Ga usah ngelirik sinis ke mereka. Biarin aja. Cowok bukan cuman Debo aja. Ya kan?” ujar gue, sok-sok berusaha senyum padahal mah ati gue ancur lebur!

Si Acha nyerahin buku PR Kimia-nya ke gue, “Nih! Cepetan salin sebelom buku gue dibooking sama yang lain” lo tau ga? Acha lagi kedip-kedip ga jelas ke arah gue -_-

Alihin pandangan dari Acha! Kalo diladenin mah gue bisa-bisa lesbong mendadak gara-gara Acha -_- Gue cepet-cepet ngambil buku PR Kimia gue yang masih kosong melompong dan iPod warna pink gue dari dalem tas.

Oiya! Kotak pensil! Gue pun masang headset di kuping gue dan muter lagu sekenceng-kencengnya biar ga bisa ngedengerin kelanjutan obrolan tiga makhluk tak undang itu -_- Tiga puluh menit lagi bel masuk bunyi. Go, Ify! Ayo salin PR-nya Acha! (?)

Lagi asyik-asyiknya nyalin PR, Dea dateng sambil senyum-senyum ga jelas dan langsung duduk di bangkunya. Dia duduk sama Acha. Bodo amat! Gue kudu cepet nyalin PR ini! Go, Ify! :D

Lima menit kemudian, ganti Oik yang dateng. Dia dateng bareng Zevana. Kayaknya sih mereka tadi ketemu di gerbang. Ga mungkin aja Oik jemput Zevana di rumahnya. Secara ya rumah mereka itu dari ujung ke ujung!

Ga lama, Aren dateng. Oke, gue muak liat dia. Gue muak karena dia sekarang komplotan sama Agni dan Zahra. Mau dia masuk kek, enggak kek, y ague ga perduli! Ayo, Ify! Nyalin PR-nya tinggal dikit lagi! Go, Ify, go, Ify, go! (?)

Terakhir.. Angel dateng dan langsung ngagetin gue, “Angel! Najis lu mah! Untung gue ga jantungan! Kalo jantung gue copot emangnya lu mau ganti, hah?!” maki gue, sok jutek :p

Angel malah ketawa ngakak dan langsung duduk di bangkunya, “Minta ganti si Debo aja, Fy”

“Sadar diri kek! Mana sudi Debo sama lo, hah?! Debo itu sama Agni! Makan tuh sakit ati!” teriak Zahra kenceng dari tempatnya. Sumpah ya.. Minta ditelen itu anak satu! -_-

“Jaga mulut lo ya!” teriak Oik balik.

“Hah? Buat apa? Emang gue takut apa sama lo?!” tantang Zahra.

“Eh, lo itu cuman bertiga! Kita bertujuh! Jelas menang kita! Kita bisa aja ya langsung gantung lo bertiga di tiang bendera!” teriak Dea. Sumpah ini sadis banget! Pake mau ngegantung di tiang bendera segala -_-

Zahra diem. Agni diem. Aren diem. Debo menghilang entah ke mana dan gue pikir kayaknya dia lagi di ‘alamnya’. Great! Dea emang top banget kalo soal bikin orang kicep! Lopeklopek deh lo, Dea! :*

^^^

Hari ini kerasa cepet banget deh. Masa ini udah waktunya pulang aja. Dan, Sivia? Dia ga keliatan sama sekali ini hari ini. HP-nya juga ga aktif. Anak-anak Cruiffin (kayaknya si Aren udah ga masuk itungan) kangen banget deh sama dia.. :(((

“Fy, lo pulang bareng siapa?” tanya Angel.

“Dijemput Kak Irva..” ya kalo Kak Irva inget sih -_-v

“Oh.. Oke. Gue duluan ya, Fy! Mau ada kebaktian di gereja sama Obiet. Bye, Ify!” pamit Angel. Kita berdua langsung cipika-cipiki dan Angel ngibrit ke parkiran, udah dijemput sama Obiet.

“Fy.. Gue juga duluan, ya! Nyokap udah mencak-mencak nyuruh gue balik nih! Bye, Ipong!” pamit Dea, gue cuman senyum dan ngangguk.

“Ify, duluan ya! Nasib nih kalo numpang orang! Orangnya udah ngomel-ngomel di parkiran. Bye, cantik!” pamit Oik. Dia langsung ngeloyor gitu aja. Maklum deh gue -_-

“Zev, si Oik bareng siapa sih?” tanya gue ke Zevana. Kali aja Zevana tau. Kan tadi Oik datengnya barengan sama Zeze.

Zevana noleh gue dan balik ngelanjutin acara beres-beres barangnya, “Bareng Cakka..” sahut Zevana, datar.

What?! Zevana bisa ngomong sedatar itu soal Oik sama Cakka?! Ckck.. “Fy, duluan ya!” pamit Zevana.

Zevana juga langsung ngeloyor gitu aja. Mukanya pucet pasi gitu. Tapi gue tau kalo dia lagi ga sakit, sehat-sehat aja. Kayak takut gitu lah. Takut sama apa? Mana gue tau~

“Fy, beneran lo pulang sama Kak Irva?” tanya Acha, satu-satunya anak Cruiffin selain gue yang belom pulang dan masih betah ngendon di kelas.

Gue ngangkat bahu ga tau, “Ya itu pun kalo Kak Irva inget dia kudu jemput gue..”

“Maaf banget nih, Fy. Sebenernya gue pingin nganterin lo pulang. Tapi gue ada les. Udah mepet waktunya! Ga kenapa-kenapa kan, Fy?” tanya Acha.

“I’m fine, Cha” jawab gue sambil senyum ke Acha.

Acha senyum lebar. Dia pun cepet-cepet nyengklak tasnya dan lari ke parkiran. Gue tau Acha ga bohong. Gue tau Acha emang biasa les jam segini. Dan yang terakhir, gue tau kalo Acha sekarang rutin dianter-jemput sama Ozy :p

“Fy, beneran lo pulang sama Kak Irva?” tanya Acha, satu-satunya anak Cruiffin selain gue yang belom pulang dan masih betah ngendon di kelas.

Gue ngangkat bahu ga tau, “Ya itu pun kalo Kak Irva inget dia kudu jemput gue..”

“Maaf banget nih, Fy. Sebenernya gue pingin nganterin lo pulang. Tapi gue ada les. Udah mepet waktunya! Ga kenapa-kenapa kan, Fy?” tanya Acha.

“I’m fine, Cha” jawab gue sambil senyum ke Acha.

Acha senyum lebar. Dia pun cepet-cepet nyengklak tasnya dan lari ke parkiran. Gue tau Acha ga bohong. Gue tau Acha emang biasa les jam segini. Dan yang terakhir, gue tau kalo Acha sekarang rutin dianter-jemput sama Ozy :p

Kelas udah sepi. Tinggal gue doing. Mendingan gue nunggu Kak Irva di gerbang aja kali ya? Biar ga ngerepotin-ngerepotin amat gitu. Biar Kak Irva ga usah ribet nyari gue ke kelas dan biar gue cepet sampek di rumah :p

Gue cepet-cepet ngambil tas gue dan jalan santai ke gerbang utama SMA Gallner. Ghost! Dammit! Ada Debo sama Agni di sana! Gue kudu apa ini? Tuhan, gue pingin nangis kalo kayak gini caranya! :((((

Gue tarik napas dalem-dalem dan ngembusin pelan-pelan. Oke, Ify.. Lo bisa ngadepin ini! Lo tinggal jalan ngelewatin mereka dan duduk di bangku yang seberangan sama mereka-berdua-yang-lagi-ngobrol-mesra-ga-kenal-tempat.

Ga lama setelah gue duduk dengan (ga) tenang, mobilnya Kak Irva muncul. Debo sama Agni langsung sumringah. Rasa-rasanya sih Debo lagi ga bawa motor sendiri. Kayaknya mereka berdua bakalan nebeng Kak Irva (dan gue) buat ke mall.

Kak Irva turun dari mobil dan langsung ngampirin gue. Kita cipika-cipiki. Gue lirik Agni sekilas. Dia ngeliat sinis ke gue. Mampus! Makan tuh! Mana bisa lo seakrab ini sama Kak Irva? :p

“Sorry ya lama.. Tadi macet, Fy!” kata Kak Irva, gue ngangguk dan senyum, “Debo! Ayo pulang!” ajak Kak Irva.

Kayaknya sih Kak Irva belom nyadar kalo Debo lagi sama Agni. Debo ngegeleng sambil masang tampang cemberut. Oke, Ify.. Lo harus kuatin iman biar ga luluh cuman gara-gara Debo masang tampang cemberut!

“Kak, gue sama Agni nebeng dong! Kita mau jalan ke Central Park. Ya?” rayu Debo.

You know what? Wajahnya Kak Irva langsung berubah garang! “Ga ada acara jalan bareng dia! Pokoknya sekarang lo kudu pulang bareng gue sama Ify!” bentak Kak Irva.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CRUIFFIN part 16 (Ify : "Lo yang waktu itu ngajak tiga setan itu ke rumah Oik kan?")

Ify POV


Waktu kita lagi enak-enaknya makan nih ya, dateng empat orang . Tiga orang paling ga diharepin buat dateng dan satu orang paling (gue) harepin dateng. Hey! Dia di sini! Dia! Cowok charming itu! Kok Oik bisa kenal dia? Oh God! :D

“Hey, selamat atas kepindahannya ya!” cowok itu nyalamin tangan Oik. Kok dia ga nyalamin gue sih?! -_-

“Oh, iya.. Makasih” jawab Oik kikuk. Dia sebentar-sebentar noleh ke tiga cewek di sebelah cowok itu. Ga cuman Oik sih, anak-anak Cruiffin lainnya jugak (minus Aren).

“Kenapa? Kok ngeliatin mereka?” tanya cowok itu ke kita semua sambil ngelirik tiga cewek di sebelahnya.

“Lo ngapain ngajak mereka?” tanya Acha dengan nada meninggi, mampus lu dijudesin Acha! Salah sendiri bawa itu setan tiga kemari! Cukup lo doang kali yang diundang Oik! *sotoy*

“Lah? Emangnya kenapa? Salah ya kalau gue ngajak Agni, Zahra, sama Aren?” tanya cowok itu lagi denga tampang super polos dan ga tau apa-apanya.

“Salah banget! Mereka bertiga itu tamu yang paling ga gue harepin!” seru Oik kesel.

Oik, Acha, Angel, Zevana, Sivia, sama Dea langsung melengos gitu aja ninggalin gue, Ozy, Alvin, Ray, Cakka, Agni, Zahra, Aren, sama cowok itu. Gue natap tajem matanya itu cowok sambil geleng-geleng ga percaya.

Gue maju dan nunjuk wajahnya itu cowok, “Gila lo ya ngajak mereka bertiga!”

Setelahnya, gue ngikutin anak-anak Cruiffin yang lain, masuk ke kamarnya Oik. Ga tau deh gimana Ozy, Cakka, Alvin, sama Ray. Bodo amat! Ga mau ada urusan gue sama Zahra, Agni, Aren! Ngeselin!

“Kok Debo bisa ajak mereka bertiga sih Ik?” tanya Zevana jengkel. Anak-anak Cruiffin yang lainnya juga pada jengkel sama cowok itu, Debo.

“Ya kan gue ga tau kalau si Debo ngajak mereka bertiga! Mana tau gue kalau Debo deket sama mereka bertiga!” ujar Oik, sumpah tampangnya Oik nyeremin kalau lagi marah ._.v

Tiba-tiba, pintu kamar Oik kebuka. Kita bertujuh noleh bareng-bareng ke arah pintu. Eyak! Gue kirain siapa! Eh ternyata si Ozy, Cakka, Alvin, sama Ray! Mereka bertiga langsung ngampirin kita-kita sambil masang wajah masem.

“Ngapain ke sini?” tanya Oik sambil liat mereka berempat gentian.

“Cakk, ga ngajak Kak Shilla sama Nadya sekalian lo? Biar gue makin empet liatnya” sindir Dea.

“Idih, ngapain gue ngajak Kak Shilla? Ga guna amat!” balas Cakka heboh.

Pluk! Dengan santainya Oik ngelempar boneka kelincinya ke si Cakka. Tepat sasaran! Mampus lu! Salah sendiri heboh banget! :p Cakka langsung ngambil boneka Oik tadi dan ngelempar balik ke Oik.

“Resek ya lo!” sungut Oik.

Huahaha! Genti ekspresi nih si Oik! Jadi cemberut! Kocak, lucu, unyu, kayak anak kecil! Anak-anak langsung ketawa lebar liat ekspresi Oik, begitu jugak gue. Oik makin manyun aja -_-

“Unyu ya lo!” kata Cakka (heboh) sambil nyubit pipinya Oik. Ups! :-o

Oik cepet-cepet minggirin tangannya Cakka dari pipinya, “Apa banget sih lo!”

“Sssstt!! Udah! Eh, kalian tau ga kenapa Debo ngajak itu setan tiga kemari?” tanya Sivia ke Alvin, Ray, Cakka, sama Ozy.

Ray, Cakka, sama Ozy dengan polosnya ngegelengin kepala. Sedangkan Ray, senyum-senyum -_- “Gue tau loh, hehe. Kalian ga tanya gue?” tantang Ray sambil senyum lucu :p

“Kenapa?” tanya anak-anak Cruiffin kompak.

“Lah? Kabar lama ini! Masa pada belom tau sih?” seru Ray kaget, heboh, lebay -_-

Anak-anak Cruiffin kompak ngegeleng sambil pasang wajah super penasaran. Apalagi gue! Penasaran banget sama si cowok charming itu! :D Ray geleng-geleng kepala ga percaya *pletak*

“Astaga! Ternyata anak-anak Cruiffin itu kuper ya! Masa kabar kayak gini aja ga tau” seru Ray sambil ngejek kita-kita. Beneran minta ditabok ya ini anak satu :@

“Apaan sih Ray? Kasih tau ga?” ancem Angel sambil ngepalin tangannya di depan wajah Ray :p

“Iya iya.. Jadi, Debo itu kan suka sama Agni! Gimana sih? Masa ga tau? Kuper ah!” kata Ray dengan santainya.

Kita semua melotot kaget. Termasuk Alvin, Cakka, Ozy. Swear lo Ray? Debo? Naksir Agni? Menohok hati gue sekali itu kata-kata lo! Ah! Najis sumpah! Agni sama Zahra sukses bikin gue kebakaran jenggot!

“Serius lo?” tanya gue, Ray ngangguk mantep.

“Astaga! Matanya Debo ke mana sih?! Ckck.. Cantikan Ify ke mana-mana kali! Ya kan?” seru Acha berapi-api, yang lainnya ngangguk setuju :-o

“Lah? Kenapa nyambungnya ke gue sih?” tanya gue, wajah gue pasti udah merah -_-

“Kan lo suka sama Debo. Ya kan?” lanjut Oik dengan polosnya. Oik mah -_-

^^^

Minggu pagi yang cerah! Gue pun cepet-cepet bangun dan mandi. Hari ini kakak gue ngajak jogging! Asyik! Eh, ada tapinya.. Kakak gue ngajak ceweknya! Gue pasti bakalan dikacangin! Huh -_-

“Hoy! Ify! Lelet amat lu?! Cepetan! Cewek gue udah nunggu di bawah sama adeknya!” teriak kakak gue, Kak Kiky, dari depan kamar gue.

Gue pun keluar kamar dengan pakaian santai. Pletak! Gue jitak iti jidatnya kakak gue, “Santai dong ngomongnya! Kagak usah pake toa! Resek!” ujar gue dengan ekspresi datar.

“Ya udah, ayo turun!” Kak Kiky pun nyeret gue ke teras, katanya sih udah ditungguin.

Gue ngeliat ada dua orang di teras, “Kak, kok ada dua sih? Cewek sama cowok tuh! Pacar lo dua ya kak? Cewek-cowok?” tanya gue sok polos.

Gue sih kayak kenal sama siluetnya yang cowok. Ntaran deh. Kan pasti gue liat jugak itu tampangnya. Hah? Oh iya, itu siluet dua ngebelakangin posisi gue sama Kak Kiky.

Kak Kiky noyor kepala gue, “Bego lu! Pacar gue cuman satu! Irva! Itu mah adiknya! Lo kira gua homo, hah?” ujar Kak Kiky super jutek ._.v

“Irva!” sapa Kak Kiky riang waktu gue sama dia udah ada di teras.

Kak Irva noleh, si cowok satu itu enggak tapi, “Hey! Kiky!” mereka langsung cipika-cipiki. Envy gue! Gue kan ga punya cowok -_-

“Oh, hey! Ada Ify! Ify ikut ya?” tanyanya, gue ngangguk dan senyu manis :)

“Eh Ir, adek kamu kelas berapa? Kali aja seumuran sama Ify” tanya Kak Kiky.

“Sssstt! Sini, kenalan dulu sama adeknya cowok gue!” kata Kak Irva ke cowok itu, yang katanya adeknya.

Cowok itu pun noleh dan..... Kaget gue! Sumpah! Eh astaga! Sumpah ini dia? “Kenalin, ini Debo. Adek gue. Kelas 1 SMA dia. Calon saudara ipar lo Ik” Kak Irva ngenalin adeknya ke gue.

Gue mendadak pucet. Ebuset! Kenapa jadi gini sih?! Debo bakalan jadi saudara ipar gue? Ahelah! Gimana bisa gue married sama dia ntaran? Mana boleh, coba?! Kacau! Kacau! -_-

“Oh, elo ya.. Temennya Oik kan?” sapa Debo ke gue, gue ngangguk males.

“Lo yang waktu itu ngajak tiga setan itu ke rumah Oik kan? Zahra, Agni, Aren?” bales gue jutek, dia ngangguk.

“Loh? Kalian udah kenal?” tanya Kak Kiky, kita berdua ngangguk, “Wah! Bagus! Berarti kalian bakalan jadi saudara ipar yang rukun!” seru Kak Kiky girang. Pale lu peyang! -_-

“Apa Fy? Agni? Ke rumah Oik?” ulang Kak Irva, “Nakal lo ye! Bilangnya belajar kelompok eh malah pacaran sama Agni!” seru Kak Irva jengkel sambil ngejewer kupingnya si Debo.

Mampus lu! Salah sendiri pacaran sama Agni! Eh? Apa? Pacaran? Sama Agni? Debo? “Apa kak? Debo pacaran sama Agni?” tanya gue ragu, siap-siap patah hati deh gue -_-

Kak Irva noleh ke gue sambil senyum aneh, “Iya. Tapi gue ga suka! Dia jadi bandel sejak pacaran sama Agni! Tau deh kenapa” rasain lo! Ga direstuin sama kakak sendiri! :p

“Kak! Ga pacaran gue sama Agni! Temenan doang!” bantah Debo.

“Alesan lu! Tapi lu suka kan?” seru Kak Irva, Debo ngangguk malu-malu -_-

“Kenape sih kak? Kakak ga suka amat ye ama si Agni!” ujar Debo keki.

“Emang ga suka gue! Mending lo sama Ify!” ceplos Kak Irva dan sukses bikin gue blushing! :-$

“Lah? Emang boleh ya Ir?” tanya Kak Kiky. Bagus! Gue jugak mau nanya begitu!

“Boleh kok! Bukan saudara kandung kan?” jawab Kak Irva. Yeay! Gue bisa sama Debo! :D *jogetjogetaneh*

“Udah ah! Jadi jogging ga? Keburu panas nih!” ujar gue, biar kita ga makin ngomongin Debo sama Agni. Males banget gue denger nama tuh orang! -_-

“Ya udah yuk”

Kita berempat pun jogging di kompleks rumah gue. Kebetulan jugak, di kompleks rumah gue ada taman yang pasti rame sama orang-orang yang lagi olah raga minggu-minggu pagi gini. Kita pun ke sana.

Seperti apa yang gue bilang tadi, gue dikacangin sama Kak Kiky sama Kak Irva! Mereka berdua asyik jogging di depan gue sambil ketawa-ketiwi! Gue gimana dong? Ngobrol sama Debo? Ogah! Masa gue duluan yang ngajak ngomong?! :p

“Eh, sarapan bubur ayam dulu yuk?” ajak Kak Irva. Huah! Kak Irva mang baik! :D

“Mau!” jawab gue sama Debo barengan :-o

“Ayo! Mumpung sepi itu abang yang jual bubur ayamnya!” seru Kak Irva.

Kita berempat pun pesen empat porsi bubur ayam. Kebetulan satu meja itu pas ditempatin empat orang. Seperti biasa, Kak Kiky duduk di samping Kak Irva -_- Dan gue duduk di samping Debo.

Pesenan pun dateng. Kita berempat sibuk makan bubur ayam masing-masing. Setelah makan, kita numpang duduk-duduk dulu di sini. Kak Irva masih ngebayar sih. Tapi begitu selese ngebayar, Kak Irva duduk di sebelah Kak Kiky lagi.

“Eh, kok kalian bisa kenal sih?” tanya Kak Irva ke gue dan Debo.

“Kan satu sekolah” jawab Debo santai, gue ngangguk.

“Oh.. Terus? Satu kelas ga?” tanya Kak Irva lagi.

”Ga” jawab gue singkat, “Kenapa emangnya kak?” tanya gue balik.

“Gue pengen aja nyomblangin kalian berdua” jawab Kak Irva santai dan sukses bikin gue sama Debo melotot kaget.

“Hah? Ogah ah kak! Gue kan udah sama Agni!” tolak Debo langsung. Jlep! -_-

“Apanya yang lo sama Agni? Ga jadian kan? Belom married kan? Bodo amat! Pokoknya gue tetep bakal jodohin kalian berdua!” ujar Kak Irva tegas sambil senyum penuh arti ke gue.

“Ga usah kak..” tolak gue jugak, gue ga enak ah sama Debo ._.v

“Ga ada alesan! Gue sama Irva tetep bakal jodohin kalian!” lanjut Kak Kiky. Sekongkol ye nih orang dua -_-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS