Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label nova. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nova. Tampilkan semua postingan

SUPERGIRLS #08 [Oik's Story]

            Dengan menenteng tasnya, Oik masuk ke dalam rumahnya. Ia baru saja pulang sekolah. sang sopir pun masih memarkirkan mobil di depan sana. Oik semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari dalam sana. Di ruang tamu, ia bertemu dengan salah satu pembantunya yang menatap sedih kepadanya.

            Oik membeku di tempat saat itu juga. Wajahnya mengeras seiring dengan buir-bulir yang mulai merebak dari kedua matanya. Oik melihatnya. Baru pertama kali ini namun sudah entah pertengkaran keberapa yang dilakukan kedua orang tuanya. Mama dan papanya saling berhadapan dan saling menunjuk satu sama lain, berteriak satu sama lain.

            “Mama sama papa sedang apa?” tanya Oik, volume suaranya amat kecil.

            Keduanya menoleh bersamaan ke arah Oik, “Kami akan bercerai, Ik.” sahut papanya.

            “Besok sidangnya. Kamu boleh datang.” mamanya menimpali.

            Oik segera berlari menuju kamarnya. Bulir-bulir itu semakin berlomba untuk meluncur membasahi pipinya. Oik menangis tersedu, mengurung diri di kamarnya yang luas. Kebetulan, Ujian Nasional sudah ia lewati beberapa hari yang lalu. Jadilah kini Oik sudah terbebas dari tanggung jawab untuk masuk sekolah. Selama tiga hari, Oik mengurung diri di kamar, tidak keluar barang sejengkal pun. Kesembilan sahabatnya telah datang silih berganti, membujuknya agar keluar kamar, makan. Dan kesembilannya gagal. Tidak ada yang bisa mengeluarkan gadis itu dari kesedihannya, sangkar emasnya

^^^

            Kali ini, giliran Alvin yang datang ke rumah Oik. Ia disambut oleh salah seorang pembantu keluarga Oik di teras. Alvin pun melangkah menuju kamar Oik, ditemani oleh pembantu Oik. Begitu sampai di depan pintu kamar Oik, keduanya berhenti.

            “Saya tinggal, ya, Mas Alvin. Semoga berhasil bujuk Mba’ Oik keluar kamar. Sahabat-sahabatnya Mba Oik tidak ada yang berhasil, tinggal Mas ini satu-satunya harapan.”

            Alvin hanya mengangguk. Sepersekian detik setelahnya, ia telah termenung sendiri di depan daun pintu nan megah itu. Tangannya terulur untuk mengetuknya, mencoba membuat Oik keluar dari dalam. Atau, kalau bisa, gadis itu mempersilahkannya masuk ke dalam.

            “Ik, ini aku. Alvin. Bisa buka pintunya?” Alvin mulai membuka mulutnya.

            Tak ada jawaban.

            “Ik, kamu sudah empat hari di dalam. Kami semua khawatir.” Alvin kembali bersuara.

            Lagi-lagi, tak ada jawaban.

            “Ik, kamu masih bisa dengar aku, kan? Kami semua khawatir sama keadaan kamu. Aku, Ify, Acha, Angel, Sivia, Nova, Shilla, Keke, Zahra, dan Aren.” Alvin mulai menyebut nama kesembilan sahabat Oik.

            “Cuma kalian yang peduli sama aku. Mana kedua orang tuaku?” terdengar sebuah suara lirih dari dalam.

            Hati Alvin mencelos mendengarnya. Itu suara Oik. Tapi, bukan begini suara Oik yang biasa ia dengar, dulu. Suara Oik terdengar jernih dan merdu, dulu. Beberapa detik yang lalu, muncul suara Oik yang berat dan sendu. Hanya dalam waktu lima hari ia dapat merasakan perubahan Oik yang sebegitu drastisnya.

            “Mereka berdua sibuk, Ik---,”

            Terdengar suara benda yang jatuh dan pecah, “Mereka sibuk dengan egonya masing-masing! Mereka ga pernah peduli dengan aku! Mereka sibuk dengan perceraiannya! Mereka ga pernah berpikir kalau aku butuh mereka!” Oik berteriak histeris dari dalam sana.

            Hatinya kembali mencelos. Dengan cepat, Alvin mendobrak pintu kamar Oik. Hanya dengan sekali dobrak, Alvin sudah dapat melihat Oik yang terduduk lemas di lantai kamarnya, bersandar pada ranjangnya. Di dekatnya, berserakan pecahan cermin dari meja riasnya.

            Tunggu! Ada sesuatu yang ganjil.. Oik! Oik memegang sebuah pecahan cermin yang tajam pada ujungnya. Alvin segera berlari masuk, menjauhkan benda laknat itu dari dekat Oik. Menendang serpihan-serpihan itu ke sudut kamar Oik.

            “Kamu ngapain, Ik? Jangan begini, dong. Kami semua sayang kamu.” Alvin menarik gadis itu ke dalam pelukannya, menenangkannya, lalu mengecup puncak kepala Oik dengan lembut.

^^^

            Oik berjalan dengan tergesa. Bandara sore itu sedang ramai-ramainya. Pasalnya, sekarang adalah waktu liburan. Bandara ramai, stasiun ramai, terminal ramai. Orang-orang berbondong-bondong beepergian entah ke mana. Bersenang-senang di tempat tujuan. Berangkat dengan wajah sumringah.

            Tetapi, berbeda dengan Oik. Gadis itu tampak gelisah. Mondar-mandir ia di bandara, mencari dua orang tersayangnya yang meninggalkannya untuk beberapa tahun. Keduanya sudah mengiriminya pesan kemarin malam. Dan sampai sekarang, Oik belum kuasa untuk merelakan keduanya pergi.

            “Oik!” segerombolan orang di kejauhan memanggil namanya bersamaan, Oik menengok dan berlari menghampiri mereka semua.

            Begitu telah berada di antara gerombolan orang tersebut, Oik sontak memeluk seorang laki-laki dengan seabrek barang bawaannya. Keduanya lantas melepas pelukan masing-masing dan berjalan menjauh dari gerombolan itu, berbicara berdua, empat mata.

            “Vin, kamu benar-benar mau tinggalkan aku di sini?” Oik merengek pada laki-laki itu, Alvin.

            Alvin tersenyum sedih dan mulai mengucek puncak kepala Oik, “Oma sudah mendaftarkan aku jauh-jauh hari di Taruna Nusantara, Ik.”

            “Jadi... kita LDR?” tanya Oik.

            Mendadak Alvin menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Maaf, Ik..... Aku ga bisa LDR. LDR itu nyiksa. Lebih baik..... Kita putus saja.” Alvin berkata dengan lirih.

            Oik menelan ludah dengan susah payah, “Putus, Vin?”

            “Iya,” Alvin kembali menatap Oik, wajahnya nampak sangat muram, “Maaf. Tapi kita masih bisa jadi teman, kan?”

            Oik mengangguk, ia tersenyum miris, “Aku pikir kita akan langgeng sampai kakek-nenek, Vin.” Oik menghela napasnya dengan berat, “Jaga sahabat aku di sana, ya, Vin. Aku titip Sivia.” Oik mulai melepas genggaman tangan Alvin yang terasa semakin lembut di kedua telapak tangannya.

            “Iya.” Alvin mengangguk, “Mungkin ga sekarang waktu yang Tuhan sediakan untuk kita. Kalau memang kita jodoh, kita pasti akan dipersatukan kembali oleh-Nya. Jangan terus sedih, ya. Kamu bisa cari laki-laki lain yang lebih baik dari aku, Ik. Dan aku yakin kamu akan mendapatkannya.” Alvin mengatakannya dengan berat hati.

^^^

            Malam itu, Oik sedang memasukkan seluruh keperluannya untuk satu minggu mendatang bersama dengan kedelapan sahabatnya. Mereka semua membantu Oik beres-beres, sekaligus mencoba menahannya untuk tidak jadi pergi.

            “Ik, serius mau pergi?” tanya Acha, wajahnya terlihat sangat kusut.

            “Setelah Sivia yang pergi ke Jogja, sekarang giliran kamu yang ke Jakarta.” Angel menimpali seraya tersenyum sedih.

            “Minggu depan siapa lagi yang akan pergi?” Ify bertanya, setengah menyindir.

            “Mentang-mentang kita sudah lulus SMP dan akan sekolah di SMA yang berbeda, jadi pada terpisah gini.” Keke manatap Oik dengan sedih.

            Oik tersenyum menatap kedelapan sahabatnya, “Kalian ini kenapa? Aku di Jakarta hanya seminggu. Lagipula, aku kangen mama. Kalian lupa kalau mama dan papaku sudah bercerai? Sekarang mama tinggal di Jakarta, bersama eyang putri.”

            “Mau seminggu, mau sehari, mau setahun.. tapi tetap saja judulnya pergi meninggalkan kita berdelapan.” Nova menyahut dari dalam kamar mandi Oik.

            Shilla mengangkat kedua tangannya, “Sudahlah. Kalian mau sampai kapan merengek ke Oik? Oik pasti akan tetap pergi!” sentaknya.

            Zahra tersenyum kecut, “Supergirls bubar saja, ya?”

            “Ga! Ga boleh! Supergirls tetap ada. Ga ada yang bisa pisahkan kita. Jarak sekalipun!” Aren merentangkan tangannya, memeluk kedelapan sahabatnya satu-persatu.

^^^

            Oik merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang. Ia baru saja sampai di kediaman eyang putrinya. Tadi mamanya yang menjemput di bandara. Tepat ketika ia baru saja akan mencari taxi, mamanya memanggilnya. Keduanya lantas berpelukan erat, tak terpisahkan.

            Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Muncullah mama dengan pakaian rumahan, “Oik, makan siang, ya?” tawarnya.

            Oik menggeleng pelan, “Ga usah, Ma. Oik sedang ga lapar. Oik ngantuk, mau tidur saja. Nanti kalau sudah sore, bangunkan Oik saja. Ya?”

            Mamanya mengangguk dan tersenyum lembut, “Ya sudah.”

^^^

            Hari ini adalah hari terakhirnya berada di Jakarta. Besok ia sudah harus pulang ke Malang untuk mengurus kelulusannya, juga mengurus pendaftaran di SMA yang telah ia pilih sebelumnya.

            Pagi itu, Oik sarapan bersama dengan mama dan kedua eyangnya. Mereka semua sarapan dengan suasana yang hangat. Oik begitu menikmatinya. Sangat berbeda dengan suasana sarapannya di Malang bersama papa. Begitu dingin dan mencekam.

            “Ik, Mama ada sesuatu untuk kamu.” Mama Oik menyerahkan sebuah amplop besar berwarna putih kepada anak gadisnya.

            Oik menerimanya dengan bingung. Ia pun langsung membukanya saat itu juga. Sebuah tiket, “Tiket apa ini, Ma?”

            Beliau hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan sarapannya. Pertanda bahwa Oik harus membaca setiap huruf yang tertera di dalam tiket tersebut seorang diri. Oik mulai membacanya. Wajahnya berubah senang ketika selesai membaca.

            “AAAAA!! Thank you, Mommyyyyy!!” gadis itu bangkit dari duduknya dan mencium kedua pipi orang tuanya itu.

            Mamanya terkekeh. Begitupula dengan kedua eyangnya. Oik berteriak sangking senangnya. Gadis itu juga menari-nari sembarangan untuk meluapkan kegembiraannya.

            “Itu acaranya nanti malam di JCC. Mama bisa antar kamu ke sana.” Mamanya kembali bersuara.

            “Oke! Pokoknya nanti malam Mama harus antarkan aku ke konser ini!” mata Oik kembali berbinar melihat sebuah tiket dalam genggamannya, tiket konser Raisa!

^^^

            Sebuah Yaaris hitam baru saja sampai di pelataran JCC. Oik dan mamanya masih betah duduk di dalam. Mamanya mengelus puncak kepala Oik perlahan. Oik hanya tersenyum kecil diperlakukan begitu oleh mamanya.

            “Nanti kamu pulangnya naik taxi saja, ya?”

            Oik mengangguk pasti dan tersenyum lebar pada mamanya, “Oke!” setelah memastikan tiketnya sudah berada dalam tas, Oik pun melangkah turun, “Bye, Ma!”

            Oik melangkah meninggalkan mamanya. Setelah memastikan anak semata wayangnya telah masuk ke dalam dengan selamat, beliau pun mulai meninggalkan area JCC perlahan. Oik memandang kepergian mamanya dengan tersenyum dari dalam sana.

            BRUK!

            Oik mendongak. Matanya tajam menatap seorang gadis seumuran dengannya yang menabraknya barusan. Gadis itu langsung kabur entah kemana begitu menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi karenanya.

            Oik menggeram dalam hati. Mengumpat gadis itu habis-habisan. Ia pun menunduk sangking jengkelnya. Tunggu.. noda berwarna cokelat tiba-tiba saja muncul di gaun putihnya. Oik menutup matanya. Jari-jari tangannya mengepal. Rupanya gadis tadi juga menumpahkan minumannya pada gaunnya. Oik bergegas menuju toilet.

            Di dalam, Oik kembali menggerutu. Tak ia temukan tissue atau apapun yang dapat membantunya menghilangkan noda itu dari gaun yang ia kenakan. Sayangnya, ia juga tak membawa tissue. Dengan lunglai, Oik berjalan keluar dari dalam toilet. Ia bersandar pada dinding toilet dengan wajah sebal.

            Oik menengok kesana-kemari. Sepi. Rupanya konser telah dimulai. Sayup-sayup Oik mendengar suara Raisa yang mengalun merdu. Dan tak sengaja, pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang menatapnya dari kejauhan.

            “Kenapa? Ada yang salah?” Oik bertanya pada lelaki itu dengan ketus.

            Lelaki itu berjalan menghampirinya dengan ragu-ragu, “Butuh... sapu tangan?” tanyanya, tangan kanannya menyerahkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda pada Oik.

            Tatapan tajam Oik meredup dan perlahan hilang, digantikan dengan tatapan serta senyum penuh terima kasih. Oik segera mengambil sapu tangan itu dan membersihkan noda di gaunnya. Lumayan lah, sudah tidak terlalu terlihat.

            “Terima kasih.” Oik kembali tersenyum pada lelaki itu.

            “Sama-sama,” lelaki itu pun ikut tersenyum, tangan kanannya bergerak untuk kembali mengambil sapu tangan itu dari tangan Oik.

            Oik menepisnya, “Mau apa? Aku akan mencuci sapu tangan ini dulu, baru kukembalikan.”

            Lelaki itu mengedikkan bahunya, “Ya sudah. Kamu tidak masuk ke dalam?”

            Oik mengangguk, “Kita masuk bersama.”

            “Aku Cakka. Kamu?” lelaki itu mengulurkan tangan kanannya pada Oik.

            Oik menjabat tangan lelaki itu dengan tersenyum tipis, “Oik.”

            Keduanya pun masuk. Raisa baru saja selesai menyanyikan Cinta Sempurna. Kini, intro lagu Could It Be mulai mengalun indah di telinga keduanya dan ribuan penonton lainnya.

^^^

            Konser akbar itu baru selesai ketika jam berdentang dua belas kali. Ya, pukul dua belas malam ribuan penonton mulai berbondong-bondong keluar dari JCC. Oik dan Cakka termasuk dalam gerombolan itu. Keduanya berjalan beriringan.

            “Kamu membawa kendaraan sendiri?” tanya Cakka, melirik Oik sekilas.

            Oik menggeleng, “Mama menyuruhku pulang dengan taxi.”

            “Hah?” Cakka menoleh kaget ke arahnya, “Tidak baik seorang perempuan pulang sendiri malam-malam begini. Aku antar saja, ya?” tawar Cakka.

            “Aku bisa menolaknya?” tanya Oik balik.

            Cakka menggeleng seraya terkekeh pelan. Cakka pun segera menarik lengan Oik menuju motornya. Oik terlihat mematung untuk beberapa saat ketika melihat motor Cakka. CBR. Lagi-lagi. Seperti motor Alvin. Kenapa semuanya selalu saja dapat mengingatkannya akan sosok Alvin?

            “Ik?” Cakka menepuk pelan lengannya, Oik tersadar.

            Cakka mengedik pada boncengan motornya. Oik mengangguk kikuk, lalu segera naik ke atas motor Cakka. Keduanya pun melesat membelah kesunyian malam dan jalanan Jakarta yang mulai berangsur sepi. Oik mulai memberi petunjuk pada Cakka. Tak sampai dua puluh menit, keduanya telah sampai di depan kediaman eyang Oik.

            Oik turun dari atas motor Cakka dan tersenyum lebar pada lelaki itu, “Terima kasih sudah mengantarku malam-malam begini.”

            “Sama-sama.” Cakka juga balas tersenyum padanya.

            “Soal sapu tangan.....”

            “Untuk kamu saja. Lagipula besok aku sudah kembali ke Malang. Mungkin baru dua bulan lagi aku kemari. Pasti sapu tangan itu sudah membusuk.” Cakka kembali terkekeh.

            Oik mengerutkan keningnya, “Malang?” Cakka mengangguk, Oik pun tersenyum penuh arti, “Kamu tinggal di Malang?” lagi-lagi Cakka mengangguk, “Aku juga.”

            Cakka terbelalak kaget, “Serius?”

            Oik mengangguk dan tertawa nyaring. Hati Cakka berdesir dibuatnya, “Aku besok juga akan kembali ke Malang.”

            “Benar-benar kebetulan yang... entahlah. Aku sampai tidak bisa menggambarkannya.” Cakka tersenyum menatap Oik, keduanya sama-sama tak menyangka dengan seonggok fakta yang baru saja terlontar dari mulut masing-masing.

^^^

            Begitu sampai di Malang, Oik langsung membereskan seluruh keperluan untuk mendaftar di sekolah yang baru. Entah kenapa, hatinya benar-benar senang kali ini. Mungkin, karena ia sudah kembali ke Malang, ke kotanya tercinta. Atau... sudahlah. Kenapa bayangan Cakka selalu muncul?

            “Bibi! Oik mau langsung mendaftar di sekolah yang baru. Pak Ujang bisa antar aku?” Oik berjalan keluar dari kamarnya dengan berteriak.

            Seorang pembantunya berjalan menghampiri, “Bisa, Mba’. Sudah ditunggu Pak Ujang di depan.”

            Oik menatapnya sekilas dan tersenyum lebar. Lantas, gadis itu berjalan keluar, meninggalkan pembantunya yang sedang terheran-heran di tempat. Baru kali ini ia melihat Oik kembali tersenyum selebar itu setelah perceraian kedua orang tuanya..

^^^

            “Pak Ujang tunggu di sini saja dulu. Oik ga lama, kok.”

            Oik pun turun dari mobilnya. Menatap sekolah barunya dengan mata berbinar. Bisa dibilang, ini ada SMA terbaik di kota Malang dan Oik berhasil melalui serangkaian test tulis dan juga lisan yang diadakan sebagai syarat untuk menjadi siswa di sini. Oik tersenyum bangga dan melangkah masuk.

            Gadis itu melihat ke sekeliling. Sejauh matanya memandang, selalu saja ada sepasang orang tua dan anak yang berlalu-lalang di dekatnya. Oik tersenyum miris. Andai saja mamanya masih di sini, pasti beliau akan menemaninya mendaftar sekolah. Andai saja. Angan-angan yang akan selalu menjadi angan-angannya belaka.

            “Hey! Jangan sedih!” suara seseorang tiba-tiba saja terdengar dari tengkuk kepalanya, Oik menengok ke belakang dan muncullah semburat merah mudah di kedua pipinya, “Cakka! Sedang apa di sini?” pekiknya, kaget.

            Cakka tertawa pelan dan merangkul Oik, keduanya berjalan menyusuri lorong sekolah itu, “Orang tuaku kepala sekolah di sini.”

            “Kamu sekolah di sini?” tanya Oik.

            Cakka menggeleng, “Aku sudah kuliah.”

            Oik membulatkan bibirnya dan menganggukkan kepala tanda mengerti, “Aku ga pernah menyangka kalau kita akan ketemu lagi,” gumamnya.

            “Kenapa? Kangen aku, ya?” goda Cakka, ia menoel dagu Oik berkali-kali.

            Oik menepisnya jengah, “Cakka! Apa, sih?!”

            Keduanya pun lantas ribut sendiri, membuat beberapa pasang mata menengok dan menggelengkan kepala dengan maklum. Tak ada yang berani menegur, guru-guru dan staf sekolah sekalipun. Semuanya tau siapa Cakka, siapa orang tuanya. Rupanya hanya Oik yang baru tau siapa Cakka sebenarnya.

^^^

            Waktu terus bergulir. Kedekatan mereka pun semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Biasanya, Cakka akan segera meluncur ke sekolah Oik ketika mata kuliahnya telah selesai. Ia bisa menunggu di ruangan ayahnya sambil menunggu jam pulang Oik. Jika jam pulang sudah tinggal beberapa menit, Cakka akan berjalan menuju kelas Oik, tersenyum pada guru yang mengajar, dan berdiri dengan bersender pada pintu kelas Oik. Jika sudah begitu, guru yang mengajar pun akan cepat-cepat membereskan barangnya dan kembali ke ruang guru.

            Begitu juga kali ini, entah sudah keberapa kali Cakka mengusir secara halus guru yang mengajar di kelas Oik. Begitu guru keluar kelas, Oik langsung menghampiri Cakka dengan menyangklong tasnya. Kali ini, Oik meninju gemas lengan Cakka.

            Dahi Cakka berkerut, “Kenapa, sih?” tanyanya.

            “Kamu usir lagi guru-guru yang mengajar di kelasku!” Oik memelototi Cakka.

            “Siapa bilang? Lagipula aku sama sekali ga nyuruh mereka untuk berhenti mengajar, kok!” Cakka berkelit. Secepat kilat, ditariknya lengan Oik menuju parkiran, mobilnya sudah menunggu di sana.

            “Tumben pakai mobil? Mau ke mana memang?” tanya Oik, menatap Cakka yang berada di sampingnya, di balik kemudi.

            Cakka mengedikkan bahunya, “Lihat saja nanti.”

            Mobil pun melaju. Oik terus cemberut sepanjang perjalanan. Cakka membiarkannya begitu saja. Cakka mengemudikan mobilnya menuju sudut terdalam Kota Malang, memasukki jalan-jalan tikus yang kumuh, dan berbelok kesana-kemari. Setelah hampir satu jam mengemudi, Cakka akhirnya mematikan mesin mobilnya lalu turun, diikuti Oik.

            Oik memandang sekeliling. Sepi. Hanya ada mereka berdua, mobil Cakka, dan sebuah gubuk kecil yang berada di tengah-tengah halaman luas yang rumputnya telah tumbuh liar. Oik berjalan mendekat ke Cakka dan menggamit lengan lelaki di sampingnya itu.

            “Ini dimana, Kka? Kok sepi?” Oik berbisik di telinga Cakka, suaranya nyaris tak terdengar.

            Cakka tersenyum menenangkan, “Masuk ke sana, yuk,” Cakka menunjuk gubuk kecil itu.

            Mau tak mau, Oik mengikuti langkah Cakka. Keduanya pun masuk ke dalam gubuk kecil itu. Tak seperti yang Oik bayangkan sebelumnya, ternyata di dalam sini ramai sekali. Ada sekitar sepuluh anak kecil yang sedang bermain. Cakka menghampiri mereka dan ikut larut dalam candaan anak-anak kecil itu.

            Oik masih terbengong-bengong sendiri di tempatnya, beberapa langkah di belakang anak-anak kecil itu dan Cakka. Seorang anak kecil menarik-narik jemarinya, membuatnya menunduk menatap anak itu dan tersenyum kikuk padanya.

            “Kakak kenapa tidak ikut bermain bersama kami?” tanyanya.

            Oik tersenyum hambar, ia pun ikut duduk bersila di lantai, ikut bermain ular tangga bersama mereka semua.

            “Lihat.. Kamu masih lebih beruntung, Ik, daripada mereka.” Cakka berbisik padanya, Oik memang pernah menceritakan perihal perceraian kedua orang tuanya pada Cakka.

            “Mereka ini siapa?”

            “Mereka anak-anak yang biasa mengamen di jalanan. Orang tua mereka entah ada di mana sekarang.”

            Oik menahan napasnya. Ia menatap sendu anak-anak kecil itu. Oik mencoba tersenyum pada mereka semua. Ia baru sadar bahwa masih banyak orang di dunia ini yang tidak lebih beruntung daripadanya.

            “Kak Oik kalah!” teriak mereka semua.

            Oik segera berdiri. Berlari mengelilingi gubuk kecil itu. Ke mana pun. Yang penting mereka semua beserta Cakka tidak bisa menangkapnya. Jadilah, mereka semua saling kejar di dalam gubuk kecil itu hingga sore tiba dan malam menjelang.

^^^

            Malam itu udara berhembus dingin. Bintang-bintang di langit mulai membentuk gugus masing-masing. Bulan melengkapi indahnya malam itu. Gemerlap cahaya kecil nun jauh di sana memberikan kesan tersendiri. Bukit di samping kiri pun tampak indah walaupun pada malam hari.

            Cakka dan Oik terdiam, di gazebo taman belakang rumah megah itu. Cakka semakin mengeratkan pelukannya pada gadis mungil yang mulai menggigil kedinginan itu. Telapak tangan Cakka pun mulai membungkus telapak tangan Oik sekedar untuk menghangatkannya.

            “Gantung ya,” Oik buka suara.

            Cakka menatapnya sekilas, “Apanya?”

            “Aku. Kamu. Kita.”

            “Gantung gimana, sih, Ik?”

            “Kita sudah dekat. Lama. Dan itu sama sekali ga ada statusnya.” Oik tertawa hambar.

            Cakka melepaskan pelukannya, memaksa Oik untuk menghadap ke arahnya, “Jadi, kamu cuman butuh status?”

            Oik tersenyum miring, “Iya. Aku masih ingat gimana tatapan teman-temanku ke aku waktu mereka tanya soal kamu, soal kita.”

            “Buat aku, status itu ga penting, Ik. Yang penting itu, ini...” Cakka menggenggam tangan kanan Oik dan meletakkannya di dadanya, “Dan ini...” lalu, meletakkan tangan gadis itu di dadanya sendiri. Ia menatap gadis di hadapannya lembut.

            “Cakka ih! Bisa banget!” Oik melepas genggaman tangan Cakka, memeluk lelaki di hadapannya itu dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu ketika ia menyadari sudah semerah kepiting rebus wajahnya sekarang.

            Cakka terkekeh pelan, “Bisa banget apa, sayang?”

            “Ga usah panggil-panggil sayang!” Oik memekik pelan dari dalam pelukan Cakka, memukul dada lelaki itu seraya menyunggingkan senyum malu-malu.

            “Lho, katanya kamu butuh status. Gimana, sih, Ik?” Cakka semakin gencar saja menggoda gadis dalam pelukannya itu.

            “Iya tapi maksud aku bukan begitu!” Oik melepaskan pelukan Cakka dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

            “Maksud kamu, begini.....” Cakka menggenggam erat kedua tangan Oik dan menatapnya seraya tersenyum amat manis, “Jadi pacar aku, ya?”

            Oik cemberut, melepaskan genggaman tangan Cakka begitu saja. “Ga romantis! Ga mau!”

            “Terus maunya gimana, Ik?” tanya Cakka.

            “Ya, gimana, kek! Gimana aja! Kalau teman-teman aku, sih, ditembak di depan banyak orang.” Oik mulai nyerocos tiada henti.

            Cakka tersenyum geli, “Kalau aku tembak kamu di depan banyak orang, kan, ga bisa begini...” Cakka menggantungkan kalimatnya, perlahan ia mengecup pipi kanan Oik.

            “Ih! Cakka apa, sih?” Oik menggerutu, mendorong dada Cakka agar menjauh darinya, takut wajahnya semakin memerah karena laki-laki itu.

            “Kalau begini.....” Cakka mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam sakunya, membukanya, dan sebuah cincin tampak bertengger manis di dalamnya, “Gimana?”

            Semburat merah muda itu kembali muncul di pipi Oik, “Aku masih SMA, Kka!” pekiknya.

            “Memangnya kalau masih SMA kenapa, Ik? Ga boleh tunangan sama aku? Apa..... mau langsung kawin aja?” tanya Cakka dengan polosnya.

            “Cakka kenapa, sih? Godain mulu! Kesambet apa kamu, Kka?” tanya Oik heran.

            “Gimana? Mau?” tanya Cakka, tidak memedulikan perkataan Oik barusan.

            “Tau, deh!” Oik menjawab sekenanya.

            Cakka mengedikkan bahunya. Tanpa aba-aba, Cakka memasangkan cincin perak itu jari manis tangan kiri Oik dan tersenyum puas setelahnya, “Pokoknya mulai sekarang kamu punya aku, ya. Ga ada yang boleh ambil kamu dari aku, siapa pun itu.”

            Oik tersenyum tertahan. Ia kembali memeluk lelaki di hadapannya itu. Cakka pun balas memeluknya juga. Keduanya larut dalam kebersamaan mereka malam itu.

(Oik's Story - End)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SUPERGIRLS #07 [Aren's Story]

            Tak terasa, mereka semua kini telah menjadi siswi kelas 9 SMP Mariskova. Dan, sayangnya, kesepuluhnya tidak sekelas. Keke dan Sivia di kelas 9-B. Oik dan Nova di 9-D. Zahra dan Acha di 9-E. Ify di 9-G. Shilla dan Aren di 9-H. Angel di 9-J.

            Kini kesepuuhnya sedang berada di depan Ruang OSIS. Memandangi papan pengumuman soal pertukaran pelajar yang diadakan oleh Pemerintah Kota Malang ke Paris, Perancis akhir bulan nanti.

            “Ren, kamu mau ikut?” tanya Ify, Aren mengangguk bersemangat.

            “Aku daftar di mana, ya?” gumam Aren.

            “Coba ke Ruang Guru saja,” kata Sivia.

            “Nah!” Aren menjentikkan telunjuknya seraya tersenyum lebar.

            “Oik juga mau ikut mendaftar, kan?” celetuk Zahra.

            Aren mengangguk dengan alis yang terangkat sebelah, “Iya, Zah. Kenapa?”

            Angel melongo. Ia memukul pelan lengan Aren dengan gemas, “Nah terus, sekarang Oiknya mana? Kalian pasti mendaftar bareng, kan?”

            Aren balas memukul lengan Angel dan berkata, “Oik tadi ada di---,”

            “Ada yang manggil aku?” tanya sebuah suara.

            Kesembilan gadis itu pun menengok ke sumber suara. Ada Oik dan Alvin di sana. Tangan kiri Alvin menggenggan tangan Oik, sedangkan tangan kanannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Alvin tersenyum salah tingkah kepada kesembilannya.

            Oik melepaskan genggaman Alvin dan berjalan menuju kesembilan sahabatnya itu, “Ada apa manggil aku?” tanyanya dengan tersenyum lebar.

            Oik mendadak bingung ketika mendapati Acha menatapnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya, “Itu, Ik... Alvin... Kamu biarkan dia tetap berdiri di situ?”

            Oik menepuk jidatnya dan berbalik menatap Alvin, “Sudah, kamu baik aja! Aku, kan, mau mendaftar pertukaran pelajar itu dengan Aren.” Oik mengkibas-kibaskan tangannya pada Alvin.

            Alvin mengangguk, “Aku balik, ya.” pamitnya, sesaat Alvin tersenyum pada Oik dan berbalik lalu berjalan entah kemana.

^^^

            Pesawat yang ditumpangi oleh Aren, Oik, dan beberapa pelajar Kota Malang lainnya baru saja lepas landas. Untuk dua jam kedepan, mereka akan duduk berdiam di seat masing-masing hingga pesawat tersebut mendarat di Bandara Soekarno Hatta untuk transit.

            Tepat ketika pesawat tersebut telah mendarat, Aren dan Oik melepas seat belt masing-masing dan melenggang keluar dari pesawat lalu menuju waiting room untuk menunggu kedatangan pesawat yang akan membawa mereka ke Charles de Gaulle, Paris, Prancis.

            Aren dan Oik meletakkan koper di depan kursi masing-masing. Aren dan Oik serta dua orang lagi perwakilan dari Kota Malang sedang duduk di waiting room. Oik mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya dan larut di dalamnya. Aren mengedik padanya dan tersenyum jengah, merasa dicueki.

            “Hey!” seseorang menepuk pundak Aren dari belakang.

            Aren menengok ke belakang dan mendapati seorang laki-laki berambut gondrong sedang tersenyum ke arahnya, “Ada apa, ya?” tanya Aren dengan wajah bingung.

            “Kamu dan temanmu,” laki-laki itu menunjuk Oik dengan dagunya, “Perwakilan dari Malang juga?” tanyanya balik.

            Aren mengangguk, “Iya. Kamu juga?”

            Laki-laki itu juga mengangguk, “Dari sekolah mana?”

            “SMP Mariskova. Kamu?”

            “SMPN 227. Oh iya, aku Ray. Kamu?” laki-laki itu, Ray, mengulurkan tangan kanannya pada Aren.

            Aren menyambutnya dengan sebuah senyum yang membekukan laki-laki itu, “Aren,” Aren menyenggol pelan perut Oik hingga gadis itu meletakkan novelnya dan memandangnya penuh tanya, “Ini Oik, temanku..”

            Oik melihat Ray dan melambaikan tangannya pada Ray, “Aku Oik.”

            “Aku Ray. Ini temanku..” Ray merangkul seorang laki-laki yang duduk di sampingnya, “Nyopon.”

^^^

            Aren, Oik, Ray, dan Nyopon baru saja turun dari sebuah Volkswagen keluaran terbaru yang telah membawa mereka kemari dari Charles de Gaulle. 10 Avenue d'Lena, Paris. Seorang wanita staf Kedubes Indonesia untuk Paris mendampingi mereka. Kelimanya masuk ke dalam sebuah hotel berarsitektur klasik di dekat Eiffel Tower itu. Shangri-La Hotel, Paris.

            Setelah mengambil kunci kamar dari sang receptionist, kelimanya menuju lift dan naik ke lantai paling atas. Ketika pintu lift terbuka, wanita itu berjalan terlebih dahulu. Aren, Oik, Ray, dan Nyopong mengekornya. Ia berhenti di depan dua pintu kamar yang saling berhadapan.

            “Ini untuk Aren Nadya dan Oik Cahya,” wanita itu menyerahkan sebuah kunci kepada Aren, “Kamarnya yang sebelah sini.” dagunya menunjuk pintu kamar di samping kanannya.

            “Dan kamar yang di sini,” ia mengedik pada pintu kamar di sebelah kirinya, “Untuk kalian berdua.”

            Ray menerima kunci itu dengan senyum mengembang, “Terima kasih.”

            “Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Ini juga sudah larut,” wanita itu mengintip jam tangannya, “Sudah pukul sepuluh malam. Besok pagi saya jemput kalian di sini pukul delapan, ya.” Aren, Oik, Ray, dan Nyopon mengangguk, “Ya sudah, saya balik.”

            “Night, Ma’am!” sapa Nyopon.

            Begitu wanita itu hilang ditelan pintu lift, Aren segera membuka pintu kamarnya dan Oik langsung masuk ke dalam. Ray menyerahkan kunci kamarnya pada Nyopon dan membiarkan temannya kitu membukanya lalu masuk terlebih dahulu.

            “Ren,” panggil Ray.

            Aren, yang tadinya akan masuk juga, berbalik dan menatap Ray, “Apa, Ray?”

            Gutten Nacht. Sweet dream, ya.” Ray tersenyum setelahnya lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya.

            Aren masih terbengong-bengong sambil memegang handle pintu kamarnya. Beberapa detik setelahnya, ia menghembuskan napas dengan berat dan menggelengkan kepalanya, “Apa-apan Ray?!” gerutunya.

^^^

            Pagi itu, ketika Oik sedang membuka tirai kamarnya, terdengar suara erangan dari belakangnya. Oik menengok dan mendapati Aren yang sedang memincingkan matanya karena terkena silaunya sinar mentari pagi itu. Aren memanyunkan bibirnya.

            “Ini masih pagi sekali, Oik. Tutup saja tirainya!” dengus Aren.

            Oik tertawa kecil dan semakin lebar membuka tirai tersebut, “Iya, aku tau ini masih pagi. Tapi coba kamu lihat pemandangan di luar sana.” saran Oik.

            Aren kembali mendengus. Sambil mengucek matanya yang masih setengah terpejam, ia menyibak selimut yang menyelimuti tubuhnya dan berjalan menuju tempat Oik berdiri. Oik menatapnya dengan senyum. Aren kembali mengucek matanya, kali ini karena terlampau kaget dengan pemandangan yang tersaji di depannya.

            “EIFFEL!” pekik Aren dengan mata berbinar.

            “Nah! Apa aku bilang. Bagus, kan?” Oik kembali tersenyum dan berjalan menuju sebuah almari di sudut ruangan dan mengeluarkan peralatan mandinya, “Ren, aku mandi duluan, ya? Kamu puas-puaskan saja dulu lihat Eiffel.”

            “Iya.” Aren hanya mengangguk, tak memperdulikan Oik, dan terus menatap terpesona ke arah salah satu keajaiban dunia itu dengan mata berbinar.

            Hingga dua puluh menit kemudian, ketika Oik keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan pakaian formal, Aren masih menatap bengong tower terindah di dunia itu. Oik sampai geleng-geleng kepala. Lantas, Oik meletakkan kembali peralatan mandinya di dalam almari dan beranjak menghampiri Aren yang posisinya masih sama seperti dua puluh menit lalu.

            Oik menepuk pundak Aren, “Hey! Kagum, sih, kagum.. Tapi ini sudah pukul berapa? Ayo, mandi sana! Setelah itu, kita turun, ke resto and having breakfast there.” celoteh Oik.

            Aren mengangguk dengan malas. Dan, dengan berat hati gadis berbehel itu menuju kamar mandi. Oik menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menggeleng tak percaya.

            Untuk sekedar membunuh waktu –menunggu Aren yang tak kunjung selesai mandi-, Oik memutuskan untuk kembali membaca novelnya. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah novel tebal dari dalamnya. Dalam hitungan detik, ia telah tenggelam dan mengikuti alur novel tersebut.

            Tok tok tok..

            Oik tak cukup ‘sadar’ untuk mendengar ketukan pintu dari luar sana. Ia terlalu fokus dengan novelnya. Sampai-sampai.. “IK! BUKA PINTUNYA! AKU MASIH MANDI!” teriak Aren dari dalam kamar mandi.

            Sama sekali tak ada sahutan dari Oik. Di dalam sana, Aren berdecak kesal dan cepat-cepat memakai pakaiannya dan membungkus rambut basahnya dengan handuk lalu keluar dari dalam kamar mandi. Benar tebakannya, Oik sedang serius dengan novel yang baca.

            Aren menggeleng dan berlalu. Gadis itu membuka pintunya dan mendapati Ray sedang tersenyum canggung ke arahnya, “Ada apa, Ray?” tanyanya.

            Ray meringis, “Itu.. Staf Kedubes sudah menunggu di resto. Kamu cepat turun, ya.”

            “Aku?” dahi Aren kembali berkerut bingung, “Oik juga, kan?” tanyanya lagi.

            Ray kembali meringis dan menjentikkan telunjuknya, “Nah! Dengan Oik juga!”

            “Oke. Lima menit lagi kami turun.” Aren sudah bersiap-siap akan kembali menutup pintu kamarnya, sayangnya Ray masih betah berada di sana, “Hey! Kenapa masih di sini?”

            Ray seakan ‘tersadar’ dan langsung tersenyum malu, “Oh.. Oke. See you!”

            Aren menatap punggung Ray yang semakin menjauh dan masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup, Aren kembali mendapati Ray yang tersenyum ke arahnya. Aren langsung menutup pintu kamarnya begitu pintu lift itu tertutup dan membawa Ray ke lantai paling bawah.

            Aren berbalik lalu bergerak menuju kasurnya dan duduk. Ia menadang Oik dengan datar. Diambilnya sebuah bantal dan ia lemparkan tepat pada novel Oik, “Jangan baca novel terus, Ik! Tadi ada Ray ketuk pintu kamu ga dengar!” pekiknya.

            Oik gelagapan. Ia hanya menadang Aren dengan bersalah. Oik pun memasukkan novelnya ke dalam tas dan beranjak menuju meja rias, “Ray ngapain ke sini?” tanyanya.

            “Dia minta kita untuk cepat turun. Staf Kedubes sudah menunggu di resto.” jawab Aren.

            “Terus kenapa kamu masih duduk di kasurmu? Ayo siap-siap!” ajak Oik, ia menatap pantulan wajah Aren dari cermin di depannya.

            Aren mengangguk. Ia mengambil tasnya, begitupula Oik. Keduanya pun keluar dari kamar dan menuju resto dengan menggunakan lift. Begitu mendapati siluet tubuh Ray dan Nyopon, keduanya dengan segera menghampiri meja tempat mereka duduk.

            Morning, Ma’am..” sapa Oik, ia tersenyum pada wanita itu dan duduk di sampingnya.

            Eat your food, guys. We’re gonna go to Lycee Louis-le-Grand.” katanya.

            Oik mengangguk. Ia pun segera memakan makanannya. Ray, Nyopon, dan wanita itu kembali menglahap makanan masing-masing. Sedangkan Aren, menatap bingung sebuah lotus pink di samping peralatan makannya.

            Who have put this here?” gumamnya, mengambil lotus tersebut dan menatapinya bingung.

            “Not me!” kata Oik, Nyopon, dan wanita itu bersamaan.

            Aren menatapi ketiganya satu persatu. Dan menggeleng bingung. Tatapan Aren beralih pada Ray yang tengah sibuk melahap makanannya, “Did you?” tanya Aren.

            “Huh?” Ray mendongak menatapnya dengan wajah bingung dan kembali melahap makanannya.

            Aren mendengus, “Why lotus? Why not rose?” dumelnya.

            Diam-diam, Ray tersenyum kecut dan memasukkan kata ‘rose’ ke dalam memori otaknya tentang Aren. Apa? Ray? Ya. Memang dia yang meletakkan lotus itu di dekat peralatan makan Aren.

^^^

            Kelimanya turun dari Volkswagen itu. Lycee Louis-le-Grand berada tepat di depan mereka. Sekolah terbaik di Paris berada di depan mata mereka! Wanita itu kembali berjalan mendahului keempatnya. Ia berbicara dengan seorang laki-laki berpakaian security yang sedang berjaga di depan pintu utama Lycee Louis-le-Grand.

            Setelah beberapa menit berbicara, wanita itu menengok kepada Aren, Oik, Ray, dan Nyopong. Menyuruh keempatnya untuk kembali berjalan mengikutinya. Kelimanya masuk. Kemewahan sekolah itu jelas terlihat dari setiap bagian sudutnya. Keempatnya hanya mampu berdecak kagum.

            Mereka berlima pun mulai berjalan menyusuri setiap bagian Lycee Louis-le-Grand. Tentu saja dengan wanita itu sebagai ‘tour gide’nya.

            Begitu tiba di taman, di tengah-tengah bangunan itu, mata Ray tak sengaja terantuk pada tanaman rose di bawah pohon maple. Ray melihat wanita itu, Nyopon, Oik, dan Aren yang sedang duduk di bangku taman. Dengan cepat, Ray memetik sebuah rose dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

            Setelah itu, ia memaksa duduk di antara Nyopon dan Aren. Nyopon hanya meringis melihatnya. Sedangkan Aren, ia kembali bingung dengan tingkah aneh Ray ini. Pasalnya, tidak hanya kali ini saja Ray bertingkah aneh di depannya.

            Je t’aime..” bisik Ray seraya mengeluarkan rose dari balik punggungnya dan menyerahkannya pada Aren.

            Aren menatap Ray dengan sebal, “Are you kidding me, huh?” lantas tersenyum dan memasukkan rose pemberian Ray ke dalam tasnya, “But thanks for the rose.”

^^^

            Tak terasa, sudah seminggu mereka berempat berada di Paris. Saat ini, keempatnya baru saja turun dari pesawat yang sempat transit di Bandara Soekarno Hatta. Sudah ada kedelapan sahabat Aren dan Oik yang menunggu di lobby Bandara Adi Soecipto Malang. Keempatnya menggeret koper masing-masing menuju lobby.

            “Aren! Oik!” Nova memekik keras ketika melihat Aren dan Oik dari kejauhan.

            “Kalian!” Aren dan Oik balas memekik, keduanya pun berjalan kea rah mereka berdelapan dengan lebih cepat.

            Begitu sampai di di depan mereka berdelapan, langsung saja Aren dan Oik menjadi bulan-bulanan. Mulai dari dipeluk, dicubit, dicium, ditodong oleh-oleh, dll. Setelah itu, muncul seorang laki-laki dari belakang mereka berdelapan dan menghampiri Oik.

            “Alvin,” sapa Oik, gadis itu tersenyum lebar.

            Alvin tersenyum padanya dan menyerahkan sebuah bingkisan, “Welcome home, Ik.”

            Sementara itu, kedelapan sahabat Aren dan Oik mulai menggeledah tas keduanya untuk mencari oleh-oleh. Aren dan Oik membiarkannya. Oik sedang sibuk dengan Alvin. Sedangkan Aren, sedang sibuk dengan Ray dan Nyopon.

            “Kamu pulang dengan siapa, Ren?” tanya Ray seraya tersenyum kikuk.

            Aren kembali mengerutkan dahinya, “Kamu ga lihat sahabat-sahabatku?” Aren mengedik pada kedelapan sahabatnya, “Aku pulang dengan mereka, Ray. Kenapa?”

            Ray hanya menggeleng, “Ga. Hanya saja.. Kalau kamu ga tau mau pulang dengan siapa, kamu bisa bareng aku.”

            “Oh..” Aren mengangguk mengerti dan tersenyum berterima kasih, “Terima kasih tawarannya. Tapi mereka sudah menjemput aku dan Oik.”

^^^

            Pagi-pagi sekali, keesokan harinya, ketika Aren sedang memakai sepatu di teras rumahnya, ada seseorang yang berdiri di sana dengan membawa sebuket bunga. Aren memincingkan matanya bingung dan bangkit untuk membuka pagar.

            “Cari siapa, Mas?” tanya Aren seraya membuka pagar.

            Lelaki itu mengintip secarik kertas yang ia ambil dari sakunya, “Mba’ Arenmya ada?”

            Aren mengangguk dan menunjuk dirinya sendiri, “Iya, saya sendiri.”

            “Ini ada kiriman bunga,” lelaki itu mengangsurkan sebuket rose pada Aren lengkap dengan bolpoin dan tanda terima, “Sekalian ditanda tangani, ya, Mba’, tanda terimanya.”

            Aren menerima rose itu dan memeluknya dengan tangan kiri. Tangan kanannya sibuk membubuhkan tanda tangan. Setelah itu mengembalikan tanda terima beserta bolpoin kepada kurir itu.

            “Dari siapa, ya, Mas?” tanya Aren.

            Kurir itu menggeleng tak tau, “Mungkin di dalamnya ada suratnya, Mba’.”

            Aren mengangguk. Kurir itu pun beralih pergi. Aren menutup kembali pagar rumahnya dan masuk ke dalam. Ia bertemu mamanya di ruang tamu yang sedang bersiap akan mengantarnya. Aren membuka surat yang diselipkan di antara rose itu.

            Mata Aren meneliti setiap huruf yang tertera di sana, “Ray.” desah Aren.

^^^

            Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari sejam yang lalu. Dan sayangnya, tinggal Aren yang belum dijemput. Kesembilan sahabatnya telah pulang semenjak bermenit-menit yang lalu. Aren tertunduk lesu di depan gerbang SMP Mariskova.

            Aren menatap sekeliling dan kembali mendesah, “Mama ke mana, sih? Mama lupa jam menjemput aku, ya?” tanyanya, entah kepada siapa.

            Tiba-tiba saja, ketika Aren sedang memainkan ponselnya, sebuah motor berhenti di depannya. Aren pun mendongak. Seorang laki-laki sedang melepas helm fullfacenya. Aren terlihat kaget ketika mengetahui siapa yang kini tengah berada di hadapannya.

            “Ray?” pekik Aren.

            Ray tersenyum lebar lalu turun dari motornya, “Kenapa belum pulang, Ren?” tanyanya, lalu Ray mengeluarkan setangkai rose yang masih segar dan menyerahkannya pada Aren.

            “Terima kasih.” Aren kembali terlihat kesal ketika ingat mamanya tak kunjung menjemput, “Mamaku belum menjemput. Apa mungkin dia lupa jam menjemputku? Ditelpon juga ga bisa.” dumelnya.

            “Aku antar pulang, ya?” tawar Ray.

            Aren menggeleng, “Ga usah! Iya, ga usah! Mamaku sebentar lagi pasti datang.” pekiknya.

            Ray mengusap-usap telinganya, “Ga usah teriak, Ren.” Ray tertawa dibuatnya, “Yakin ga mau aku antar saja?” tawar Ray, sekali lagi.

            “Ga usah. Sudah, sana. Kamu pulang saja. Ini kan sudah sore.” Aren mendorong Ray untuk naik ke motornya dan memakaikan helmnya, “Bye, Ray!” Aren melambaikan tangannya pada Ray.

            “Mamamu ga bisa ditelpon, kan? Mau sampai kapan kamu menunggu di sini?” tanya Ray, mencoba membujuk Aren kembali.

            Aren terlihat sebal. Tanpa berkata apa-apa lagi, akhirnya Aren naik ke boncengan motor Ray. Ray pun melajukan motornya. Dengan senyum yang tersungging di balik helmnya ketika melihat wajah masam Aren melalui kaca spion.

^^^

            Keesokan harinya, kesepuluh sahabat karib itu sedang duduk-duduk di kantin sekolah. Kebetulan, bel pulang baru saja berbunyi. Langsung saja kesepuluhnya berlari menuju kantin karena tak sempat makan pada saat jam istirahat kedua tadi.

            Aren baru saja kembali dari toilet dan segera duduk di samping Shilla. Aren melihat kesembilan sahabatnya itu telah memesan makanan dan sibuk dengan makanan masing-masing. Aren pun mencubit pelan lengan Shilla.

            “Apa, sih, Ren?” Shilla mengalihkan pandangannya dari makanannya pada Aren.

            Aren menampakkan wajah sebalnya, “Kenapa sudah pesan makanan semua?”

            “Kamu lama, sih! Sudah, pesan makanan dulu sana. Keburu sore.” Shilla pun kembali sibuk dengan makanannya.

            Aren menatap sebal kesembilan sahabatnya itu dan bangkit untuk memesan makanan. Untung saja kantin saat itu tidak terlalu ramai. Jadi Aren tidak perlu mengantri lama dan membiarkan cacing di perutnya berteriak-teriak terus.

^^^

            Ray memarkirkan motornya di salah satu sudut parking area SMP Mariskova. Ia pun mematikan mesin motornya, melepas helmnya, dan berjalan menyusuri setiap sudut SMP Mariskova dengan masih mengenakan seragamnya yang terbalut dengan jaket berwarna biru tua. Alhasil, ia sukses menjadi tontonan siswa-siswi SMP Mariskova lainnya.

            Kebetulan, ketika ia melewati kantin, ia melihat Oik dan kedelapan sahabat Aren lainnya sedang melahap makanan. Dan, ada tas Aren di sana. Langsung saja Ray menghampiri kesembilannya dan menepuk bahu Oik.

            “Ray? Ada apa? Kok, ke sini?” tanya Oik.

            “Aren mana?” tanya Ray balik.

            Oik mengedik pada tempat memesan makanan, “Lagi pesan makanan. Cari Aren, ya?”

            Ray mengangkat bahunya dengan cuek. Ia mengeluarkan setangkai rose dari dalam tasnya dan memasukkannya pada tas Aren, “Ik, kalau Aren tanya ini rose dari siapa, bilang kalian ga tau, ya!”

            Oik dan kedelapan sahabat Aren itu pun mengangguk. Ray tersenyum lega. Setelahnya, ia membisikkan sesuatu kepada kesembilan gadis itu. Pada akhir bisikannya, ia tersenyum lebar yang disambut acungan jempol kesembilan gadis itu.

            “Oke. Aku duluan, ya!” pamit Ray, ia tersenyum pada kesembilan gadis itu dan berlalu pergi.

            Ray berjalan menuju parking area dan melajukan motornya ke suatu tempat. Sebuah nama tempat yang telah ia sebutkan tadi ketika membisikkan sesuatu kepada kesembilan sahabat Aren. Lagi-lagi, senyum tersungging dari bibirnya.

^^^

            “Aren beruntung, ya!” celetuk Acha.

            Ify membekap mulut Acha ketika mengetahui Aren tengah berjalan ke arah mereka dengan membawa makanan dan minumannya, “Sssstt!! Ada Aren!”

            Aren pun duduk di samping Shilla dan segera melahap makanannya. Ia tak menyadari bahwa kesembilan sahabatnya itu sedang saling lirik dan sesekali memandanginya penuh arti. Dalam sepuluh menit pun, makanan kesepuluhnya telah ludes.

            Aren membuka tasnya, ia mencari ponselnya. Tak sengaja, ia menemuka setangkai rose di sana. Ia mengambilnya keluar bersamaan dengan ponselnya. Ia menatapi kesembilan sahabatnya satu persatu dengan curiga.

            “Siapa yang taruh ini di tasku?” tanyanya, kesembilan sahabatnya hanya menggeleng, Aren mendengus kesal.

            Tiba-tiba saja, Zahra –yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya- angkat bicara, “Kalian mau ikut aku?” tanyanya.

            “Ke mana?” tanya Sivia.

            Zahra tersenyum lebar, “Ad ataman yang baru selesai dibangun. Dekat rumahku. Bagus, deh. Mau, ya?” ajak Zahra.

            “Boleh.” Aren mengangguk, kedelapan gadis lainnya pun ikut mengangguk.

^^^

            Aren dan yang lainnya memandang sekeliling. Taman di dekat rumah Zahra itu memang masih baru. Buktinya, belum ada sampah tercecer dimana-mana. Dan lagi, belum ada pengunjung lain selain mereka. Aren tersenyum lebar ketika mengetahui ada berbagai tanaman rose di salah satu sudut taman itu.

            “Ayo ke sana!” ajak Aren, kesepuluhnya pun melenggang.

            Ketika telah sampai di area khusus rose itu, Aren pun duduk di hamparan rerumputan dan memandangi rose-rose itu dengan mata berbinar. Kesembilan sahabatnya masih tetap berdiri di belakang Aren.

            Tak sengaja, mata Aren tertuju pada siluet seorang lelaki yang sedang memotret. Masalahnya, lelaki itu membelakanginya. Aren menatap lelaki tiu tak berkedip. Ia merasa mengenali siluet itu. Aren pun berdiri dan berjalan menghampiri siluet itu.

            Aren menepuk pundak laki-laki itu hingga membuatnya menengok pada Aren. Aren terlihat kaget bercampur senang, “Ray?”

            “Eh, ada Aren..” Ray pun menghentikan aktivitas memotretnya.

            Aren duduk lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya, “Duduk sini, Ray.” Ray pun duduk, “Motret apa?” tanya Aren.

            “Banyak. Kamu lihat saja sendiri.” kata Ray.

            Ray melepaskan kalungan camera dari lehernya dan mengangsurkannya pada Aren. Aren terlihat serius menatapi bidikan camera Ray. Ray melihatnya sekilas dan tersenyum. Lalu Ray kembali menatap lurus ke depan.

            Foto pertama. Hamparan rose berwarna kuning. Setelah Aren memincingkan matanya, ada rose berwarna merah di tengah hamparan rose kuning tersebut yang membentuk huruf ‘I’. Foto kedua membentuk huruf ‘L’ dan foto ketika membentuk huruf ‘Y’. Aren melirik Ray sekilas dan kembali melihat foto-foto selanjutnya.

            Masih ada lima belas foto lagi yang formatnya sama persis dengan tiga foto terdahulu. Aren mencoba merangkai huruf-huruf di kelima belas foto tersebut dengan dahi berkerut bingung.

            ‘W’ ‘O’ ‘U’ ‘L’ ‘D’ ‘Y’ ‘O’ ‘U’ ‘B’ ‘E’ ‘M’ ‘I’ ‘N’ ‘E’ ‘?’

            Would you be mine?

            “Ray..” Aren terperangah. Ia menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia mengerjap tak percaya. Beberapa detik kemudian, tangan kirinya ia turunkan dari mulutnya, “Kamu..”

            Ray mengalihkan pandangannya kepada Aren dengan santai, “Kenapa, Ren?”

            “Ini---,” Aren masih tak percaya.

            “Serius, kok. Gimana? Bagus?” tanya Ray.

            Aren mengerjap tak percaya, “Iya, bagus. Tapi, kamu tau, bukan itu yang ku maksud.”

            Ray mengangguk dan tersenyum tipis, “So, what’s tour answer?”

            Aren pun meletakkan camera Ray di sampingnya dan menatap Ray untuk sesaat. Berikutnya, Ray telah merasakan tangan gadis itu memeluknya.

            “Ray..” rengek Aren.

            “Apa ini artinya iya?” tanya Ray, sekedar untuk memastikan.

            Aren mengangguk. Semburat pink mulai muncul di kedua pipinya. Ray tersenyum lebar. Kesembilan sahabat Aren di belakang sana pun berteriak kegirangan. Pasalnya, mereka adalah bagian dari skenario yang Ray buat tadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS