Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label debo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label debo. Tampilkan semua postingan

SESUATU YANG BARU [06] : Tentang Ify

           Begitu keluar dari cafeteria, Ify segera menuju library. Tak lupa juga ia memeriksa kembali keberadaan member card library yang tadi ia letakkan pada saku jubahnya. Ify telah berpesan kepada Oik untuk mengantarkan Alvin ke halaman depan sekolah. Seperti biasa, kereta kuda telah menunggu disana guna mengantarkan ke rumah sakit.
            Ify berjalan sendirian diantara lalu-lalang siswa-siswi lain. Memang, jalan menuju rumah pohon dan library menjadi satu. Pada ujung jalan, jika ke kanan akan menemukan jalan setapak menuju rumah pohon dan jika ke kiri maka akan bertemu library dan Kesekretariatan OSIS serta berbagai ekskul.
            Ify mendorong pintu library dan masuk. Setelah mengisi buku daftar pengunjung, ia menuju bagian timur library. Buku mengenai musik terletak pada rak-rak dibagian itu.
            Gadis berbehel itu berjalan diantara dua rak buku yang menjulang tinggi. Dengan mata yang menyusuri setiap judul buku disana, Ify bergerak pelan. Buku yang ia cari tak kunjung ia temukan.
            “Sedang mencari apa?” tanya sebuah suara bariton.
            “Eh?” Ify terkesiap. Ia tersenyum malu pada seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu rupanya juga sedang mencari-cari sesuatu. “Buku musik, untuk tugas.” Ify menyerahkan secarik kertas yang ia kantongi bersama member card library.
            Lelaki itu menerima secarik kertas dari Ify dengan alis bertaut. “Kamu anak kelas musik?” tanyanya.
            “Ya, begitulah. Kamu sendiri?” Ify mengerling pada lelaki itu dan kembali fokus pada rak buku.
            “Aku juga. Mungkin aku bisa membantu kamu cari buku ini.” Lelaki itu kembali melirik secarik kertas dari Ify. Ia seperti mengenali tulisan itu. “Ini tulisan tangan.....”
            “Nggak, nggak!” Ify mengibaskan kedua tangannya dengan panik. “Aku tahu tulisan itu memang jelek. Tapi, jangan salah. Itu bukan tulisanku.”
            Lelaki itu terkekeh. “Bukan itu maksudku. Aku seperti mengenali tulisan ini.”
            “Sudahlah. Bukan waktunya mengingat hal sepele seperti itu. Jadi membantuku mencari buku?” Ify tersenyum diujung kalimatnya.
            “Tentu!” Lelaki itu tersenyum riang dan mulai membantu Ify mencari buku yang dimaksud.
            “Buku ini susah sekali dicari,” gerutu Ify.
            “Sudahlah. Bukan waktunya menggerutu hal sepele seperti itu.”
            Ify berbalik dan menatap lelaki yang memunggunginya itu dengan berkacak pinggang dan senyum mengembang. “Hey! Kamu meniru ucapanku!”
            “Ya.” Lelaki itu mengangkat bahunya dengan cuek. Dan dalam sekejap, ia berbalik menghadap Ify dengan membawa sebuah buku. “Buku ini, kan, yang kamu cari?”
            Ify menahan napasnya tak kentara. Bukan karena gerakan cepat lelaki itu yang berbalik badan. Bukan. Melainkan jarak diantara mereka berdua yang sangat dekat. Dalam beberapa detik, Ify masih terpana. Lalu setelahnya, ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah padam.
            Ify mengambil buku dari tangan lelaki itu dan tersenyum kikuk. “Y-Ya, ini buku yang... aku cari.” Ify melirik sampul buku tebal tersebut. “Jadi, ini jilid pertama? Ya, ya. Dimana kamu menemukannya? Aku juga butuh jilid kedua untuk aku bawa ke rumah pohon.”
            Lelaki itu bergeser ke samping beberapa langkah, tangannya menunjuk rak buku yang tadinya berada di belakangnya.
            Tangan Ify terulur mengambil buku jilid kedua. “Ya, aku menemukannya.”
            “Baiklah. Aku permisi dulu.”
            Dan ketika Ify masih fokus membolak-balikkan halaman kedua buku itu, lelaki yang tadi membantunya telah melesat meninggalkan perpustakaan entah kemana. Begitu Ify selesai meneliti tiap halaman kedua buku itu, ia menengok ke samping.
            “Terima... kasih..... Eh? Kemana lelaki tadi?” Ify mengedarkan pandangannya pada seluruh penjurulibrary dan ia hanya menemukan pintu library yang bergoyang-goyang, pertanda baru saja ada yang masuk atau keluar.
            “Padahal aku belum sempat menyampaikan terima kasih.” Ify mengangkat bahunya dan membawa buku-buku itu kesebuah meja bundar ditengah-tengah library yang dikelilingi oleh empat kursi empuk.
            Ify meletakkan keduanya diatas meja dan menghempaskan tubuhnya pada kursi empuk itu. Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya, Ify membuka buku jilid pertama dengan bersemangat. Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit dan ia hanya punya waktu satu jam lebih lima menit sebelum library ditutup untuk menghafalkan not-not balok yang berada pada halaman paling akhir.
            Jemari Ify bergerak membalik halaman dengan hati-hati. Kedua buku ini adalah buku tua yang halamannya sudah menguning. Jika ia membalik halamannya dengan kasar, ia bisa saja membuat beberapa lembar terlepas dari bukunya.
            Mata Ify terbelalak lebar melihat sederet not balok dihadapannya.
            “Apa-apaan ini?!” Ify mengacak-acak rambutnya frustasi. “Not balok lagu klasik? Are you kidding me?!”
            Rangkaian not balok nan rumit inilah santapan malamnya. Ini tugas pertama dari guru pembimbingnya di kelas seni musik. Ify tak habis pikir dengan jalan pikiran beliau. Mereka ini –Ify dan teman-temannya di kelas seni musik– masih terbilang ‘bau kencur’. Mereka baru tiga hari mengenyam segala tetek-bengek seni musik dan sekarang sudah dihadapkan dengan musik klasik? Apa-apaan?!
            “Bagaimana aku bisa menghafalkan not-not ini dalam waktu satu jam?” Ify menatap halaman tersebut dengan lemas. “Terpaksa aku harus membawa kedua buku ini ke rumah pohon.”
            Satu jam yang menyiksa ini Ify habiskan dengan menghafalkan setiap not perlahan-lahan. Setelah dua puluh menit, Ify mulai menguap. Sepuluh menit kemudian, Ify dapat merasakan kadar kantuknya meningkat. Pukul sembilan kurang lima belas menit, Ify menelungkupkan wajahnya diatas meja.
            “Aku menyerah,” desahnya.
            “Menyerah apa?”
            Ify menegakkan badannya begitu mendengar sebuah suara yang menggelitik telinganya. Dan begitu ia menengok ke kanan, Ify terkesiap. “Kak Debo?”
            “Ya?” Debo menatap Ify lamat-lamat.
            “Sedang apa disini?” tanya Ify. “Library sudah hampir tutup.”
            “Sebenarnya cuma iseng. Tadi aku sama sekali nggak ada kegiatan di rumah pohon. Niatnya kesini, mencari majalah. Tapi ternyata malah menemukan kamu yang setengah desperate disini. Ada apa, Fy?” kini ganti Debo yang bertanya.
            Ify menggeleng lalu menutup buku di hadapannya. “Ada tugas menghafal not balok. Dan ternyata ini adalah not balok musik klasik.”
            “Wow,” Debo tertawa. “Pasti susah.”
            “Of course!” Ify mendesah pelan.
            “Besok, kan, hari Minggu. Kamu hafalkan saja di rumah pohon, Fy.”
            “Ya, ya, ya..” Ify mengangguk malas. “Itu berarti aku akan menghabiskan hari Minggu dengan kedua buku ini.” Ify menunjukkan kedua jilid buku itu pada Debo dan beranjak berdiri.
            “Sudah malam. Ayo, aku antar ke rumah pohon.” Debo pun ikut berdiri.
            Ify mengangguk. Ia berjalan menuju penjaga library yang terduduk dibelakang meja kebesarannya. Debo mengekornya dan memperhatikan setiap gerak yang Ify buat. Setelah urusan pinjam-meminjam buku usai, keduanya berjalan meninggalkan perpustakaan.
            Lampu taman yang berada disisi kanan dan kiri jalan setapak mulai menyala redup. Itu berarti, pemberlakuan jam malam sudah akan dimulai. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah pohon seraya mengobrol kecil.
            “Sudah mencoba kirim pesan menggunakan burung mungilmu?” tanya Debo.
            Ify meliriknya sekilas dan menggeleng. “Memang bisa?”
            “Jelas bisa, dong.” Debo terkikik menyadari kepolosan Ify dan dengan refleks ia mengacak-acak rambut gadis itu.
            “Kak Debo apa-apaan, sih?!” Ify menggerutu seraya tertawa dan merapikan kembali rambutnya. “Bagaimana caranya?”
            “Gampang saja. Tulis pesanmu untuk seseorang diselembar kertas. Beri juga blok rumah pohonnya. Setelah itu, lipat dan berikan pada burung mungilmu. Nanti burung mungilmu yang akan mengantarkan pada rumah pohon yang dituju.”
            “Wah, lucu sekali! Kalau begitu, besok aku akan coba mengirimkan pesan untuk kamu, Kak.” Ify berkata dengan antusias.
            “Boleh, boleh.” Debo membalas dengan tak kalah antusiasnya. “Blok rumah pohonku MA-09. Jangan lupa, itu berada di kawasan rumah pohon siswa tingkat kedua.”
            Ify mengangguk mengerti.
            “Oh, ya. Besok setelah dinner, jangan kemana-mana, ya.” Debo tersenyum penuh arti setelahnya.
            “Aku, Sivia, dan Oik memang nggak ada rencana untuk kemana-mana,” sahut Ify datar.
            “Akan ada kejutan dari kakak-kakak OSIS yang satu tingkat dengan aku.” Debo melirik Ify untuk melihat reaksi gadis itu.
            “Kejutan apa?” Ify mendadak antusias.
            “Lihat saja nanti. Bukan kejutan lagi namanya kalau kamu tahu sekarang.”
            “Oke!” Ify mengangguk bersemangat. “Awas saja kalau kejutannya nggak mengasyikan!”
            “Bagi kamu dan dua teman kamu mungkin nggak mengasyikan tapi pasti kalian bertiga akan dapat pengalaman baru.”
            “Hey! Kalian berdua!” Sebuah suara menggelegar terdengar dari belakang Ify dan Debo. Keduanya menengok serentak pada sumber suara. “Kenapa masih berduaan pada jam segini? Masih ingat pemberlakuan jam malam, kan?” Orang itu –yang ternyata sang Kepala Sekolah– kembali bersuara.
            Ify dan Debo mengangguk dalam-dalam.
            “Kalau begitu, segera kembali ke rumah pohon masing-masing!”
            Tanpa bersuara kembali, Ify dan Debo mempercepat langkahan kaki mereka menuju rumah pohon. Begitu berada dipersimpangan antara kawasan siswa tingkat pertama dan kedua, Ify menghentikan langkahnya.
            “Sudah, Kak Debo sampai disini aja mengantar aku.” Ify mencegah Debo masuk lebih dalam pada kawasannya.
            “Memangnya kenapa?”
            “Sudah malam, Kak. Tadi Kepala Sekolah juga sudah menegur. Semakin cepat kita berdua sampai di rumah pohon masing-masing, semakin bagus.”
            Debo pun mengangguk. Ia mengiyakan permintaan Ify dengan terpaksa. Awalnya, ia ingin mengantarkan Ify sampai di rumah pohonnya. Ini sudah pukul sembilan, lampu disisi jalan setapak mulai meredup dan ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ify.
            “Aku kembali ke rumah pohonku, ya. Kak Debo juga kembali saja.” Ify tersenyum kecil lalu berbalik dan meninggalkan Debo.
            Ify tak menyadari lelaki itu masih berdiam diri ditempat, menatap punggungnya lekat-lekat, dan baru berbalik badan juga ketika punggungnya telah hilang ditelan gelapnya malam.
            Begitu sampai dibawah rumah pohonnya, Ify langsung beranjak naik. Suara nyaring Oik terdengar sampai bawah. Ify terkekeh pelan begitu sampai diatas rumah pohonnya dan melihat Oik serta Sivia masih terjaga. Keduanya sedang bergosip, rupanya.
            “Menggosipkan apa malam-malam begini?” tanya Ify seraya meletakkan dua jilid buku yang tadi ditentengnya diatas meja belajar.
            “Kamu kelewatan banyak sekali, Ify! Tadi kita membicarakan soal Dokter Gabriel, Irsyad, Zevana, Cakka, Nadya.....”
            Ify tak lagi mendengar celotehan Oik dan kikikan Sivia karena ia beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit setelahnya, Ify keluar dengan mengenakan piyama. Ia pun berbaring diranjangnya dan mengamati kedua teman sekamarnya yang masih asyik bergosip.
            “Ify, bagaimana menurutmu? Oik bilang Agni itu cantik. Sedangkan menurutku, Agni itu manis. Ify? Fy?”
            Suara Sivia makin terdengar menjauh. Kesadarannya pun memudar. Ify rupanya telah memasuki alam mimpi, meninggalkan Sivia dan Oik yang masih berargumen mengenai Agni yang cantik atau Agni yang manis.

**

            Ify terbangun keesokan harinya ketika kamar telah kosong. Hanya menyisakan dirinya seorang. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, ia bangkit dan meregangkan tubuh. Ketika kesadarannya sudah pulih betul, ia melihat burung mungilnya tengah membawa secarik kertas berwarna pink. Seperti dari Oik.
            Burung mungil bercicit pelan ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Karena air yang pagi itu terasa amat dingin, akhirnya Ify memutuskan untuk mandi kilat. Tak sampai lima menit, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai.
            Ia terduduk di kursi belajarnya. Perlahan ia mulai memakan menu sarapannya. Kebetulan bubur ayam dan segelas teh hangat adalah menu sarapan kali ini. Ify mengerling pada burung mungilnya dan memanggilnya mendekat.
            “Ada pesan dari siapa?” tanya Ify.
            Ia meletakkan sendok serta garpunya terlebih dahulu dan mengambil secarik kertas yang digigit burung mungilnya. Ia membuka lipatannya dan mulai membaca.

Aq & Sivia sdh berada d Bukit Hijau.
Cpt susul kmri.
-Oik-

            Ify mengangguk mengerti dan membuang begitu saja secarik kertas tadi. Sebelum kertas tersebut menyentuh lantai, benda itu sudah terbakar dan asapnya hilang begitu saja. Ify mengernyit menatap cara kerja pesan singkat tersebut lalu mengangguk dalam diam.
            Sepuluh menit kemudian, Ify telah menghabiskan sarapannya. Ia bergegas meninggalkan rumah pohonnya untuk menyusul Sivia dan Oik di Bukit Hijau.
            Disepanjang jalan menuju Bukit Hijau, banyak sekali siswa-siswi Witchy School of Art yang dilihat Ify. Rupanya siswa tingkat kedua dan ketiga mempunyai kegiatan rutin setiap Minggu pagi. Senam bersama di Bukit Hijau! Ify mempercepat langkahnya meninggalkan kawasan rumah pohon.
            “Ify!” panggil seseorang.
            Ify menengok ke belakang dan mendapati Keke disana. “Hay, Ke!”
            “Mau kemana, Fy?” tanya Keke seraya menyamai langkahnya dengan Ify.
            “Bukit Hijau. Sivia dan Oik sudah disana. Kamu?” tanya Ify balik.
            “Sama.” Keke mengangguk.
            “Bagaimana tugasnya? Sudah hafal?” Ify kembali mengingat not-not balok sialan itu.
            Keke menggeleng sebal. “Belum. Susah sekali! Itu, kan, musik klasik. Benarkah kita akan benar-benar memainkannya dikelas pada hari Senin?”
            “Sepertinya iya.” Ify mengangguk tak yakin. “Sendirian saja, Ke, ke Bukit Hijau?”
            “Ah, ya!” Keke mendadak bersemangat. “Sebenarnya aku kemari mau menemui kakakku yang aku ceritakan waktu itu. Tapi terputus karena kamu pergi bersama kakak itu,” Keke menekankan pada akhir kalimat dengan bola mata berputar malas.
            Ify terkekeh. “Ya. Lalu? Kenapa ekspresimu seperti itu?”
            “Nggak. Hanya saja... Ya, kamu pasti nanti tahu sendiri.” Keke mengangkat bahunya tak perduli.
            “Baiklah. Kamu akan menceritakan tentang kakakmu, kalau aku tidak salah ingat.”
            “Iya! Iya!” Keke kembali bersemangat. “Kakakku ini laki-laki dan berada ditingkat kedua. Dia sedang senam bersama di Bukit Hijau. Aku akan mengenalkanmu pada kakakku.”
            Keduanya pun sampai di Bukit Hijau. Ify mengedarkan pandangannya, mencari Oik dan Sivia diantara kerumunan didepannya. Sedangkan Keke –tentu saja– mencari kakaknya.
            “Ah! Itu dia!” Keke mendadak berpekik senang.
            “Ya? Siapa?” sahut Ify, sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Keke.
            “Kakakku, Fy! Kakakku! Dia ada disana!” Keke menggoncang-goncangkan lengan Ify sesaat lalu menunjuk kearah siswa-siswi tingkat kedua dan ketiga yang tengah senam bersama.
            “Ya,” Ify hanya bergumam seadanya menanggapi antusiasme Keke.
            “Ayo! Aku akan mengajakmu berkenalan dengan kakakku sekarang juga!” Keke tiba-tiba saja menyeret lengan Ify menuju arah tertentu.
            Dapat! Itu mereka! Sivia dan Oik tengah berkerumun dengan siswa-siswi tingkat pertama lainnya. Mereka berada disisi utara Bukit Hijau. Dengan sedikit paksa, Ify melepaskan seretan tangan Keke dilengannya lalu berlari menghampiri kedua sahabatnya.
            “Ify! Ify! Mau kemana kamu, Fy? Ify!” Keke berteriak nyaring dari tempatnya.
            Ify hanya menengok sekilas kebelakang dan tersenyum meminta maaf pada Keke. Ify tidak mau berada diantara kakak-beradik yang –takutnya– tidak akan menghiraukan kehadirannya nantinya.
            Keke menunduk lesu. “Ya, lain kali saja aku kenalkan Ify pada kakak.”
            “Keke?”
            Keke mendongak dan mendapati kakaknya telah berdiri disampingnya. “Eh, Kakak. Sudah selesai senamnya?”
            “Belum.”
            “Lalu kenapa menghampiriku?” tanya Keke gemas.
            “Karena tadi aku lihat kamu langsung sedih begitu ditinggal temanmu.”
            “Oh,” Keke mengangguk.
            “Itu tadi temanmu, kan?” tanya kakaknya.
            “Iya.” Keke mengangguk lagi. “Teman sekelasku. Namanya Ify, Kak. Sebenarnya aku akan mengenalkan kalian berdua sekarang tapi ternyata dia malah menghampiri sahabat-sahabatnya.”
            “Ya sudahlah, lain kali saja.” Keke merasakan kakaknya mulai menepuk-nepuk puncak kepalanya dan membuatnya tersenyum. Ia suka sekali diperlakukan begini oleh kakaknya.
            “Dia berteman akrab dengan Kak Debo,” ujar Keke tak suka.
            Kakaknya mengerling padanya dan mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?”
            “Ya!” Keke mengangguk cepat.
            Kakaknya mengangguk mengerti. Ia mengamati punggung Ify dari jauh. “Aku seperti pernah melihatnya, Ke.”
            “Jelaslah, Kak! Kita, kan, satu sekolah!” ujar Keke seraya memukul lengan kakaknya.

**

            Sore itu, ketika Ify telah selesai menghafalkan seluruh not balok dari kedua jilid buku tersebut, ia mulai berpikir untuk mencoba mengirim pesan melalui burung mungilnya. Ia pun merobek secarik kertas dari buka coret-coretnya dan menuliskan sesuatu disana.

Hay, Kak!

            “Eh, tunggu! Blok rumah pohon Kak Debo apa, ya?” Ify mengetuk-ketukkan telunjuknya pada pelipis, berusaha mengais ingatan dari otaknya. “MA-09 bukan? Atau NA-09, ya? Aduh, aku lupa! Tapi seperti NA-09. Iya. NA-09.”
            Ify pun membubuhkan blok rumah pohon Debo pada sudut kanan bawah kertas lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu, ia menyerahkannya pada burung mungilnya. Ify menyaksikan burung mungilnya mulai keluar dari rumah pohon dan bergerak menjauh.
            Ia menunggu burung mungilnya untuk kembali dengan bersenandung kecil. Kelima jemari tangan kanannya mengetuk meja belajarnya sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan berisik.
            “Sedang apa, Ify?” tanya Sivia.
            Ify menengok pada Sivia dan menggeleng saja. “Bukan apa-apa, kok.”
            Sivia mengangguk. “Menunggu sesuatu?” tanyanya lagi.
            Ify kembali menggeleng. “Nggak juga.” Ia kembali menatap jendela rumah pohonnya. Burung mungilnya belum terlihat. “Oh, ya! Oik kemana, Siv?”
            “Ke minimarket sekolah, membeli satu set cat air baru untuk tugas melukisnya.” Sivia menjawab sekenanya lalu kembali larut dalam tumpukan lirik lagu dihadapannya.
            Lalu, tak lama kemudian, burung mungil Ify kembali membawa secarik kertas yang ia gigit. Ify mengambilnya perlahan, membukanya, lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Hay jg. Ini siapa? Knp mmnggilku kak?

            Ify mengerutkan keningnya lalu tertawa pelan. “Bisa saja Kak Debo ini.”

Ini Ify, Kak. Aq dr tgkt prtama. Lupa?

Ify? Tmn Keke?

Iy. Aq bru tw kalo Kak Debo knl Keke.

Debo? Km slh org!!

            Ify mengerjap bingung. Jadi kesimpulannya.. Ia salah orang, begitu? Pantas saja ia sudah merasa aneh sejak awal. Seharusnya jika orang yang ia kirimi pesan tadi benar-benar Debo, orang itu pasti akan langsung mengerti ketika mendapat pesan. Mereka berdua sudah membicarakan mengenai ini semalam.
            Ify menengok pada Sivia yang juga terduduk dikursi belajarnya. “Siv?”
            “Ya?” sahut Sivia tanpa menengok Ify sedikitpun.
            “Blok rumah pohon Kak Debo berapa, ya? Sepertinya aku––,”
            Belum sempat Ify menyelesaikan kalimatnya, Sivia sudah menghela napas dan menyela. “Jadi sedari tadi kamu berkirim pesan dengan dia?” tanya Sivia tak percaya.
            “Iya,” jawab Ify sekenanya. “Sepertinya aku salah menulis blok rumah pohon Kak Debo.”
            “Ify, sudahlah!” Sivia meletakka kumpulan lirik lagu miliknya dan melenggang keluar rumah pohon. “Kamu tahu sendiri aku nggak suka Kak Debo dan kenapa kamu masih saja membicarakan soal dia didepanku?!”
            Ify menatap kepergian Sivia dengan bingung. “Sensitif sekali kamu, Sivia.”
            Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tak akan mengirimkan pesan lagi jika belum yakin blok rumah pohon Debo. Biarlah nanti selagidinner ia akan mencari Debo dan menanyakan blok rumah pohonnya. Kali ini, ia akan mencatatnya agar tidak lupa.

**

            Malamnya, Ify bersama Oik serta Sivia sedang berjalan menuju cafetaria. Sudah waktunya dinner. Ketiganya berjalan santai sembari mengobrol. Kebetulan, jalan menuju cafetaria tak seberapa ramai karena sebagian besar siswa-siswi telah berada disana.
            Ify teringat perkataan Debo kemarin malam. “Setelah dinner kalian ada rencana kemana?”
            Oik melirik Sivia sebentar dan menggeleng. “Nggak kemana-mana.”
            “Memangnya kenapa, Fy?” tanya Sivia.
            “Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Ify pun hanya mampu tersenyum garing setelahnya.
            Ketika ketiganya telah tiba dimeja makan, rupanya kursi telah tersisa tiga. Ify melirik Alvin dan Zevana serta Cakka dan Nadya. Tumben sekali dua pasangan itu sampai di cafetaria tepat waktu? Ify, Sivia, dan Oik beranjak duduk pada kursi masing-masing.
            “Sivia, sudah menemukan lagu yang cocok untuk dinyanyikan solo Senin nanti?” tanya Agni begitu Sivia baru saja duduk.
            “Belum,” Sivia menggeleng. “Aku masih bingung. Kamu?”
            Agni juga menggeleng dengan tersenyum lebar. “Belum juga.”
            “Hey! Aku juga belum.” Irsyad menyela dari samping Agni.
            Ify terdiam melihat yang lainnya mulai berbicara secara kelompok. Sivia, Agni, dan Irsyad membicarakan mengenai lagu. Alvin dan Zevana entah membicarakan apa. Oik pun rupanya sudah mengajak Cakka dan Nadya ngobrol mengenai lukisan.
            Tiba-tiba saja ada yang mencolek bahu Ify dari belakang. Ia menengok dan mendapati Debo ada disana. “Kak Debo? Sedang apa?”
            “Aku––,”
            Belum sempat Debo menyelesaikan kalimatnya, bunyi dentuman besar dari langit-langit cafetariasudah terdengar. Dinner telah dimulai. Dengan berat hati, Debo pun kembali ke meja makannya.
            Tiga puluh menit setelahnya, seluruh siswa-siswi tingkat pertama telah berada di Bukit Hijau. Mereka semua berkelompok sesuai kelas sementara ketika MOS tempo hari. Ify, Sivia, dan Oik berada dalam kerumunan siswa-siswi kelas kedelapan.
            Setiap kelas membentuk kerumunan sendiri-sendiri disegala penjuru Bukit Hijau. Bagian tengah Bukit Hijau sengaja dibuat kosong karena ada beberapa siswa tingkat kedua yang berdiri disana.
            Ify melirik sebuah pohon akasia berukuran besar yang terletak tak jauh dari kerumunan kelasnya. Entah kenapa, ada sesuatu dari pohon itu yang membuatnya tertatik. Ify menajakmkan pengelihatannya dan ia menemukan Debo bersandar pada batangnya.
            Semua terasa begitu cepat. Rupanya kakak-kakak kelas didepan itu sedang mengumumkan nama-nama calon anggota OSIS Witchy School of Art. Tepat ditengah Bukit Hijau, ada sebuah botol yang akan mengeluarkan kembang api. Kembang api tersebut membentuk nama-nama calon anggota OSIS diatas sana. Persis seperti pembagian kelas beberapa hari yang lalu.
            Ify, Sivia, dan Oik hanya menopang dagu dengan mata hampir terpejam sampai ketika.....
            “Dari kelas kedelapan..”
            “Alvin Jonathan Sindunata,”
            “Alyssa Saufika Umari,”
            Ify terkaget-kaget melihat namanya dibentuk oleh kembang api diatas sana.
            “Oik Cahya Ramadlani,”
            Oik menegakkan tubuhnya. Kantuknya mendadak hilang melihat namanya muncul.
            “Sivia Azizah.”
            Sivia mengucek matanya beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Ketiganya lantas saling pandang dengan wajah terkejut masing-masing. Ketiganya lalu menggeleng tak mengerti dengan mata disipitkan, dan...
            “AAAARGH!!!” teriak ketiganya sebal.
            “Ulah siapa ini?!” pekik Oik tak terima.
            “Kita bertiga nggak mau jadi anggota OSIS!” sahut Sivia setelahnya.
            Ify terdiam, kembali mengingat perkataan Debo. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki dibawah pohon akasia itu. Ify melihatnya tersenyum penuh arti. Oh, jadi ini apa yang dimaksud Kak Debo kemarin malam..

**

            Istirahat kali itu, Ify menemani Keke ke cafetaria. Keke ingin membeli beberapa camilan dan menemui kakaknya disana. Begitu keduanya menginjakkan kaki di cafetaria, Keke langsung bergegas membeli camilan dan Ify duduk pada salah satu set meja makan yang terletak ditengah-tengah cafetaria.
            Ify menopang dagunya dengan tangan kanan dan mengedarkan pandangan kesetiap sudutcafetaria. Rupanya ramai juga tempat ini ketika istirahat. Maklum saja, ini pertama kalinya Ify kemari diluar jam lunch dan dinner.
            “Nih,”
            Tiba-tiba saja Ify merasakan dingin dipipinya. Ia mendongak dan mendapati Keke tengah menempelkan sekotak susu fermentasi rasa vanilla dipipinya. Ify menerimanya dan kemudian Keke duduk.
            “Aku sudah membeli banyak camilan untuk kita. Mungkin nanti kita ada jam kosong karena Madam Winda nggak masuk hari ini.” Ujar Keke setelah menelan roti bolunya.
            Ify menusukkan sedotan pada kotak susu tersebut dan meminumnya sedikit. “Benarkah? Untung saja, aku belum terlalu hafal dengan not-not balok menyebalkan itu.”
            “Ya, aku juga.” Keke kembali menggigit roti bolunya.
            “Kita masih akan terus disini atau kembali ke kelas?” tanya Ify setelah melihat Keke menghabiskan kue bolunya.
            “Tunggu sebentar. Aku, kan, sudah janji akan mengenalkan kamu dengan kakakku. Sebentar lagi kakakku kesini.” Keke membuka tas plastik berisi camilan.
            “Eh!” Tangan Ify mencegah Keke yang akan mengambil satu lagi camilan dari dalam tas plastik. “Sudah, jangan dihabiskan! Katanya untuk camilan kita waktu jam kosong nanti. Bagaimana, sih?”
            Keke hanya mengangguk cuek dan mencomot sebungkus roti bolu lagi. Ify menggeleng-geleng melihat temannya. Ify tidak akan heran mengapa pipi Keke sebulat itu begitu mengetahui bahwa Keke senang sekali makan. Ify pun kembali menopang dagunya.
            “Keke!”
            Ify dapat merasakan Keke yang beranjak berdiri. Begitu Ify melayangkan pandangan pada Keke dan kakaknya, rupanya keduanya sedang berpelukan sehingga tidak memungkinkan Ify melihat wajah kakaknya.
            “Duduk sini, Kak.” Keke beranjak duduk dan kebetulan kakaknya duduk dihadapan Ify.
            Akhirnya Ify dapat melihat wajah kakak Keke. Ify menahan napasnya saat itu juga.
            “Jadi ini yang namanya Ify?” tanya laki-laki itu.
            Keke mengangguk. “Iya, Kak. Ini yang aku mau kenalkan sama kakak.”    
            “Jadi kamu, ya, yang kemarin sore salah kirim pesan?” tanya laki-laki itu dengan menahan senyum.
            Ify tersenyum kikuk. “Iya, Kak. Jangan-jangan kakak, ya, yang menerima pesan itu?”
            “Ya.” Lelaki itu pun tertawa.
            “Lho? Pesan apa? Kalian sudah kenal?” tanya Keke bingung.
            “Belum.” Ify menyahut. “Kakak ini... yang membantu aku cari buku di library juga, kan?”
            Laki-laki itu mengangguk. “Kamu masih ingat juga ternyata.”
            “Bagaimana aku nggak ingat? Aku belum sempat berterima kasih sama kakak.” Ify tersipu menyadari kebodohannya.
            “Nggak apa-apa,” lelaki itu tersenyum maklum.
            “Kalian sudah berkenalan, belum?” tanya Keke yang dijawab gelengan kepala dari keduanya.
            Keke lantas menarik tangan kanan Ify yang berada dibawah meja dan menarik tangan kakaknya yang sudah berada diatas meja. Keke menautkan kedua tangan itu untuk saling berjabat dengan nyengir lebar.
            “Ayo, kenalan!” perintahnya.
            “Aku Ify, Kak,” Ify tersenyum kecil.
            “Hay, Ify. Aku Rio.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HARAPAN KOSONG [Cerpen]

            Gadis itu berkali-kali melihat ke arah jam tangan putihnya. Keadaannya kacau. Rambut tak disisir, baju seragam tak rapi, dan tas yang tercangklong seadanya di bangkunya.
            Ia langsung melompat turun ketika ia sampai di depan bangunan sekolahnya dengan gerbang yang nyaris tertutup.
            “Makasih, Bang!”
            Ia memberikan selembar lima ribuan kepada sang tukang ojek dan langsung berlari menuju gerbang sekolah. Gadis itu sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat menyelinap masuk ke dalam. Ia nyengir lebar pada sang satpam sekolah.
            “Peace, Mang Udiiiiiiiinnn!!!”
            Gadis itu kembali berlari meninggalkan sang satpam yang hanya geleng-geleng menatapnya.
            Ia patut menghela napas lega karena dapat masuk ke dalam area sekolah setelah bel berbunyi nyaring. Juga karena ia tidak melihat satu pun guru piket yang berdiri berjajar di koridor utama sekolah.
            Dengan gesit ia menaiki satu-persatu anak tangga dan akhirnya sampailah ia di depan kelas barunya. Ya, hari ini memang hari pertama masuk setelah liburan kenaikan kelas. Para siswa-siswi yang sedang MOS rupanya telah berada di kelas masing-masing juga bersama pendamping kelasnya.
            Gadis itu mendorong pintu kelas dengan tergesa-gesa karena melihat guru-guru telah keluar dari ruangannya dan sedang berjalan menuju kelas-kelas. Ia mengedarkan pandangannya pada kelas barunya yang amat gaduh itu.
            “Penuh semua?! What the..... Pakai acara telat bangun, sih, gue! Mana lagi home alone, pula! Dapat ojek, kok, ya, yang leletnya minta ampun?!” gerutunya.
            Eh, tunggu! Rupanya ada sebuah bangku kosong di dekat tembok, barisan kedua dari depan. Gadis itu langsung berlari kecil ke arahnya dengan wajah lega.
            “Gue duduk sini, ya? Boleh, kan? Oke, deh!”
            Ia nyerocos sendiri setelah mencolek bahu seorang gadis lain yang duduk pada bangku itu. Tanpa melihat reaksi calon teman sebangku barunya itu, ia langsung melemparkan tasnya ke arah meja dan duduk dengan lemas.
            “Oik?”
            Gadis itu menengok ke teman sebangkunya yang baru –yang sedang menatapnya aneh–.
            “Eh, Ify.” Oik –gadis itu– langsung nyengir lebar ketika mengetahui teman sebangku barunya adalah Ify.
            Ify menggelengkan kepalanya dengan dramatis. “Abis kena tornado, Neng?”
            Hah? Oik menatap Ify dengan bingung. Telminya kembali kumat.
            Ini apa lagi, sih? Oik menengok ke belakang ketika merasakan seseorang menarik-narik ujung rambutnya yang masih berantakan.
            Dua orang lelaki duduk di belakangnya. Seorang lelaki manis dan jangkung sedang menatapnya dan tersenyum lebar. Rupanya dialah tersangka penarikan ujung rambut Oik. Dan seorang lelaki lagi dengan wajah kalem yang seperti pernah Oik lihat sebelumnya.
            “Gabriel! Biang kerok banget, dasar! Lo ngapain narik-narik ujung rambut gue, sih?!” Oik pun langsung memukul-mukul tangan Gabriel dengan ganas.
            “Baru juga hari pertama udah teriak-teriak,” Ify menatap keduanya dengan iba.
            “Ya siapa suruh itu rambut berantakan banget? Ga malu sama Cakka?” Gabriel pun tertawa terpingkal-pingkal.
            Oik menguncir rambutnya dengan kilat sambil bergumam. “Cakka? Kayak pernah denger..”
            “Telmi banget lo, dasar!” Gabriel menjitak kepala Oik dengan tak sabar. “Dia ini Cakka! Cakka Kawekas Nuraga!” Gabriel menunjuk teman sebangkunya yang sedang tersenyum geli menatap Oik.
            “Oh, elo!” Oik mengangguk-angguk menatap sosok Cakka. “Kok gue kayak pernah ngelihat elo, ya?”
            Ify dan Gabriel sudah gemas sendiri dibuatnya. Oik telmi banget, gitu! Ingin pingsan saja Ify dan Gabriel saat ini.
            “Gue anak baru. Pindah ke sini semester dua kelas satu kemarin. Kita, kan, satu kelas di X-8, Oik.” Cakka menjelaskan dengan senyum tertahan.
            “Astaga! Kok gue bisa lupa, ya? Pantesan aja kayak pernah lihat elo, gitu!” Oik memekik histeris.
            “Elo, sih, mikirin si sipit terus!” ujar Ify seraya memutar bola matanya dengan malas.
            “Ga pakai teriak juga bisa kali, ya!” sindir Gabriel.
            “Sewot aja, sih, lu?!” Oik mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada Gabriel.
            “Adaaww!! Sakit, Ik! Kira-kira, kek, kalau ngebogem!” Gabriel mengusap-usap pipinya dengan jengkel.
            “Emang sipit siapa, sih?” tanya Cakka.
            Oik menatap Cakka keki, “Cakka kepo banget! Ga usah kepo bisa kali. Ngefans sama gue, sih, bilang aja!” ujar Oik dengan heboh.
            “Ik, pinjem charger, dong!” Tiba-tiba saja sebuah suara muncul. Seorang gadis berambut lurus sepinggang sedang berdiri di sebelah meja Oik.
            “Lo kelas sini juga, Shill?” tanya Oik.
            “Iya, Ik.” Shilla –gadis itu– tersenyum tipis.
            “Nih,” Oik menyerahkan sebuah charger kepada Shilla dengan sebuah senyuman lebar.
            “Thanks! Gue pinjem dulu, ya?” Dan, Oik pun hanya bisa mengangguk.
            Seperginya Shilla, Oik jelas-jelas melihat Gabriel yang sedang tertawa melihat Cakka. Hey! Kenapa wajah Cakka jadi semerah tomat begitu?
            “Lo kenapa, Kka?” tanya Ify dengan wajah keki berat.
            “Cakka, kan, naksir Shilla!” jawab Gabriel seenaknya.
            Cakka menggeleng cepat. Ia segera membekap mulut Gabriel dan meninju lengan teman sebangkunya itu berkali-kali.

**

            Suasana kantin ketika istirahat memang selalu ramai. Begitu pula dengan kantin SMA Soedirman ini. Oik dan Ify akhirnya harus rela membungkus makan siang mereka dan memakannya di kelas karena tak ada tempat kosong lagi di kantin.
            “Bete! Bete! Bete!” Oik menghentak-hentakkan kakinya dengan sebal seraya berjalan keluar dari kantin.
            Ify meliriknya sekilas dan tersenyum. “Elo, mah, emang selalu bete, Ik!”
            Ify dapat merasakan Oik yang terdiam kaku di tempat, menahan napas, dan meletakkan fokus pandangannya pada sesosok manusia saja. Ify pun mengikuti arah pandang Oik.
            “Fy, ada si sipit!” gumam Oik.
            “Alvin, Ik! Bukan sipit!” Ify terkikik pelan.
            Oik menoleh padanya dengan tampang sangar. “Sssstttt! Jangan sebut merk bisa kali! Bahaya, nih, kalau ada yang tau gue suka si Alv--- sipit!”
            “Iya, deh, iya!”

**

            Gabriel dan Cakka sedang terduduk lemas di pinggir lapangan basket petang itu. Tim basket Soedirman memang biasa berlatih di lapangan basket sekolah hingga malam menjelang. Gabriel, Cakka, dan para pemain basket kelas XI serta XII lainnya sedang beristirahat sejenak.
            Cakka meletakkan botol air mineralnya ketika pandangannya tertuju pada sebuah sudut lapangan basket. Ada seorang gadis dan seorang lelaki di sana. Mereka sedang tertawa bersama. Cakka memandangnya tak suka.
            “Ga usah jealous gitu, kali, Kka!” ejek Gabriel.
            Cakka menatap Gabriel tajam dan menggeleng. “Gue ga jealous!”
            “Jelas-jelas lo jealous!” Gabriel tertawa mengejek. “Ga usah over, Kka! Shilla sama Bang Debo, kan, kakak-adik. Wajar kalau akrab.”

**

            Oik dan Ify baru saja keluar dari Sekretariat OSIS. Keduanya berjalan berbarengan menuju lapangan parkir sekolah. Oik mengantarkan Ify mengambil motornya.
            “Lo balik bareng gue aja, ya?” tawar Ify.
            Oik menggeleng. “Yang biasa jemput gue udah balik sini, kok. Abis ini juga gue dijemput.”
            Ify menghela napas berat dan kemudian mengangguk mengerti.
            Lapangan parkir petang itu tampak lengang. Hanya ada dua motor yang terparkir di sana. Motor Ify dan satu lagi motor yang terparkir di depan motor Ify. Seorang laki-laki duduk di atas motor tersebut.
            Ify sudah berada di atas motornya. Mesinnya pun sudah dinyalakan. Ify pun memakai helm.
            “Yakin ga bareng gue aja? Udah malem, Ik!”
            Oik kembali menggeleng. “Abis ini juga dijemput, Fy. Tenang aja.”
            “Bareng gue ke depan gerbang depan, mau ga?”
            Oik menggeleng untuk yang ketiga kalinya.
            Ify pun hanya dapat mengangkat bahunya. Beberapa detik kemudian, Ify sudah melesat dengan motornya meninggalkan Oik.
            Oik kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan parkir. Lelaki di atas motor itu rupanya telah turun. Ia melepas helmnya. Oik merasa mengenali postur tubuh itu. Oik mengangkat bahunya dengan acuh dan berjalan perlahan menuju gerbang depan sekolah.
            “Ik?”
            Suara itu! Oik berjingkat di depannya, kaget.
            “Alvin?” Oik terperkur sesaat ketika sosok itu telah berada di sampingnya.
            Lelaki itu tersenyum tipis. “Ga pulang, Ik?” tanyanya.
            “Nunggu dijemput, sih. Kenapa, Vin?”
            Alvin terdiam sejenak. “Mau balik bareng... gue?”
            Oik tersenyum berterimakasih dengan jantung berdebar kencang. “Ga usah, Vin. Makasih. Abis ini juga dijemput, kok.”
            “Oke. Gue ke dalem dulu, ya. Ngampirin Gabriel, Cakka, dan yang lain.”
            Oik mengangguk saja. Alvin melambaikan tangan padanya dan Oik membalasnya. Setelah bayangan tubuh Alvin menghilang di antara kegelapan, Oik berseru senang seraya melompat-lompat kegirangan.
            “Payah! Harusnya gue ga minta dijemput tadi biar bisa balik bareng si sipit!” Oik mengeluh pelan.

**

            Pagi itu, Oik sedang melamun menatap keluar melalui jendela kelasnya. Kelasnya memang sedang jam kosong. Maka dari itu, Oik berani menyingkap gorden kelasnya dan menatap keluar dengan leluasa.
            “Mandangin si sipitnya biasa aja, Ik!” Ify berbisik pelan di telinganya sambil terkekeh.
            Oik mengalihkan pandangannya sejenak kepada Ify dengan pipi bersemu merah. “Apa, sih, Fy?!”
            Oik pun kembali memandangi sosok Alvin yang sedang bermain sepak bola bersama teman-teman sekelasnya yang lain di lapangan. Kelas Alvin memang sedang pelajaran olah raga sekarang ini.
            Dalam ketenangannya mengamati sosok bermata sipit di luar sana, tiba-tiba saja sebongkah kertas telah melayang mengenai dahinya. Oik menggeram jengkel. Ketika ia melihat ke belakang, Cakka sedang nyengir lebar menatapnya.
            “Sorrysorry! Ga sengaja, Ik!” akunya.
            Oik kembali melemparkannya pada Cakka. “Ganggu banget, sih, lo?! Dasar!”
            “Ganggu apa?” tanya Cakka dengan polosnya.
            “Si Oik, kan, lagi ngelihatin si sipit!” Ify pun tertawa terpingkal-pingkal.
            “Emang ada si sipit di luar?” Cakka pun melongok ke luar.
            Oik segera menutup gorden kelasnya dengan cepat. “Ga ada! Kepo lo, Kka! Bete gue!”
            Gabriel tersenyum misterius. “Jangan marah-marah, dong, Ik. Kasihan Cakkanya.”
            “Iya!” sela Cakka cepat.
            “Dia, kan, suka sama lo.” Gabriel kembali berucap.
            “Iya!” Cakka kembali menyela.
            “Hah?!” Oik terkaget-kaget sendiri. “Ngarang lo! Cakka, kan, sukanya sama Shilla!”
            “Ga! Ga! Gue ga suka Shilla, kok! Gue sukanya sama lo! Serius!” Cakka memandang Oik sungguh-sungguh.
            Oik tertawa pelan. “Shilla, mah, Shilla aja!”
            Shilla –yang merasa namanya disebut– pun menengok ke arah mereka berempat dengan wajah merona malu. “Apa, sih, Oik?”
            “Cakka suka sama kamu katanya, Shill,”  Oik menjawab dengan wajah polosnya.
            Cakka menengok ke arah Shilla dan menggeleng santai. “Ga, kok. Oik bohong.”
            “Tuh, Ik.. Cakka suka sama lo. Move on, gih, ke dia.” Ify memandang Oik dengan jail.
            “Apaan, sih, Fy? Sekali sipit, tetet sipit!” elak Oik.
            “Lo mau bikin Cakka nunggu sampai kapan, Ik?” tanya Gabriel dengan serius.
            “Ga lucu banget kalian ini!” Oik mendumel tak suka.
            “Ga ada yang bilang ini lucu, Ik.” Cakka memandang Oik lekat-lekat.
            “Udah dari kapan, sih, lo suka sama sipit-sipit itu?” tanya Gabriel.
            Oik menerawang. “Dari September... tahun lalu.”
            “Dan lo digantungin gitu aja? Bego! Nih, ada Cakka!” Gabriel menggeleng tak percaya.
            “Sipit udah bikin lo nunggu lama, tuh. Move on ke Cakka, gih!” kata Ify dengan senyum tertahan.
            “Kalian apaan, sih?!” gerutu Oik.
            “Tuh, Kka!” Gabriel merangkul pundak Cakka. “Ada sinyal positif dari Oik. Tembak, gih!”
            Cakka tersenyum tipis. “Iya, ntar..”
            “121212 bagus, tuh, Kka,” ucap Ify.
            “Iya. Tunggu aja.” Cakka tersenyum misterius ke arah Oik.
            Oik membeku. Ia dapat merasakan debaran jantungnya yang mulai berdetak kencang.
            Apa-apaan, sih?! Inget Alvin, Ik! Ga pakai acara move on ke Cakka, deh! Eh, tapi Alvin lempeng-lempeng aja! Setahun lebih gantung. Ada Cakka, Ik! Eh, tapi gimana sama Shilla? Apalagi kalau inget dulu gue sempet naksir sama kakaknya Shilla, Bang Debo. Duh!

**

            Oik berjalan sendirian menuju kelas Alvin. Bukan untuk menemui Alvin tapi untuk menemui Patton, Ketua OSIS yang baru. Oik harus mengadakan koordinasi dengan Patton untuk acara tahunan sekolah mereka.
            Kebetulan kelas Alvin dan Patton sedang jam kosong. Sedangkan Oik membolos pelajaran Fisika kali ini. Untunglah ia dapat mengobrol dengan Patton dengan leluasa.
            Oik terdiam sejenak di pintu kelas. Patton sebangku dengan Alvin!
            Setelah dirasa siap, Oik pun melangkah menuju bangku Patton dan Alvin.
            “Vin,” Oik mencolek bahu Alvin. “Gue mau ngobrol sama Patton. Bisa minggir?”
            Alvin tersenyum tipis pada Oik dan perlahan menyingkir. Oik membalas senyuman Alvin dengan sedikit bingung. Debaran itu... sudah tidak ada. Tak bersisa sedikit pun.
            Oik memekik dalam hati. Secepet itukah Cakka ngubah perasaan gue?

**

            Oik kembali ke kelasnya dengan pikiran kosong. Benarkah? Kenapa debaran itu sudah benar-benar lenyap tak bersisa? Apa ini semua karena Cakka? Lalu, bagaimana dengan Shilla?
            Oik memasukki kelasnya yang berantakan dengan lesu dan duduk begitu saja di bangkunya tanpa menghiraukan Ify, Gabriel, dan Cakka yang sedang mengobrol heboh.
            Cakka memandangi punggung Oik dengan bingung. Biasanya Oik tak selesu ini. Biasanya Oik suka berteriak-teriak sendiri. Biasanya Oik suka melafalkan lirik-lirik lagu Taylor Swift dengan kencang dan tanpa tahu malu.
            Cakka memandang Ify dan member syarat pada gadis berdagu tirus mengenai keadaan Oik. Ify menggeleng tak tahu, begitu pula dengan Gabriel.
            Cakka bangkit dari duduknya dengan membawa sebuah cutter. Ia beranjak menuju sudut belakang kelas. Banyak gabus sisa percobaan Kimia mengenai Termokimia teronggok di sana. Cakka memakai cutteryang ia bawa tadi untuk memotongnya.
            Setelah dirasa pas, Cakka membawa sebuah gabus berbentuk huruf O kembali ke bangkunya. Tanpa banyak bicara, Cakka menghiasnya dengan menggunakan spidol.
            “Jadi juga akhirnya..” Cakka memandangi hasil karyanya dengan bangga.
            “Buat apa?” tanya Ify.
            “Buat Shilla? Atau, buat Oik?” tanya Gabriel dengan malas.
            Cakka tak menjawab. Sebagai gantinya, ia mencolek bahu Oik dari belakang. Dan ketika Oik menengok ke arahnya dengan wajah masam, Cakka memamerkan senyum terbaiknya.
            “Buat lo,” Cakka menyerahkan gabus berbentuk O yang telah ia hias tadi pada Oik. “O untuk Oik.”
            Oik tersenyum menerima pemberian Cakka. “Makasih.”
            Cakka mengangguk dan kembali tersenyum.
            “Ciiiiiieeeeeeeee!!!!!” Gabriel dan Ify sudah berkoar-koar heboh dengan tertawa kencang memandang Cakka serta Oik.
            Tanpa keempatnya sadari, Shilla menatap mereka dengan mata yang tak lagi berbinar seperti biasanya.

**

@OikCR27: High fever :&
@cakkaNRG: Gws :)
@OikCR27: Kode bgt sih =))
@gabrielstev: @OikCR27 ik baca! -> RT @cakkaNRG: Gws :)
@gabrielstev: @cakkaNRG bwt lo kka -> RT @OikCR27: Kode bgt sih =))
@Ifyalyssa: Kode2an aj trs ya kalian! Empet lhtny -_- @cakkaNRG @OikCR27

**

            Akhirnya Oik diperbolehkan ayah dan bundanya untuk masuk sekolah hari ini. Pasalnya, dua hari kemarin Oik demam tinggi. Ayah dan bundanya pun melarangnya untuk masuk sekolah. Oik jadi bosan sendiri di rumah terus.
            Selama dua hari ini pun Oik merindukan sekolahnya, merindukan kelas barunya, merindukan Ify, merindukan Gabriel –si biang kerok–, dan juga merindukan... wangi parfum Cakka. Oik baru menyadari bahwa wangi parfum Cakka begitu maskulin dan Oik benar-benar menyukainya. Oik serasa ingin terus menghirup wangi itu.
            “Akhirnya Oik masuk juga, Bung!” Gabriel langsung berlagak ala komentator sepak bola ketika Oik memasukki kelas pagi itu.
            “Kangen gue lo?” Oik tersenyum tipis.
            “Bukan Gabriel yang kangen, tapi si Cakka!” seloroh Ify.
            Oik menggeleng. Juga menetralkan debaran jantungnya yang mulai tak terkendali. “Cakka, mah, kangennya sama Shilla!”
            Cakka tersenyum kecut mendengar perkataan Oik.
            “Oke, oke.. Atau mungkin elo yang kangen Cakka?” timpal Gabriel.
            “Gue kangennya sama si sipit, tau!” Oik dengan cepat berbohong dan secepat itu pula Oik menimpuk Gabriel dengan map tebalnya.
            “Ik, gue mau ke kantin. Mau titip?” Shilla tau-tau saja sudah berada di antara mereka berempat.
            “Gue ga. Cakka, tuh, kali aja mau titip.” Oik tertawa pelan karena kepintarannya menutupi perasaan.
            Shilla hanya tersenyum tipis dan berlalu.

**

            Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu. Kelas Oik pun sudah terbebas dari Bu Ira sang guru Kimia.
            Oik dan Ify memutar kursi mereka sehingga saling berhadapan dengan Gabriel dan Cakka. Keempatnya mengeluarkan bekal makanan masing-masing. Kebetulan keempatnya sama-sama sedang malas mengantri makanan di kantin.
            Setelah selesai memakan bekal masing-masing dan membereskannya, keempatnya mulai mengobrol seru soal Ulangan Harian pertama yang akan diadakan minggu depan.
            “Eh, tunggu bentar!”
            Cakka bangkit dari duduknya dan berlalu menuju bangku Obiet. Terlihat mereka bercakap-cakap sebentar. Setelah itu, Cakka membawa gitar Obiet bersamanya dan kembali duduk di tempatnya.
            “Mau nyanyi, Kka?” tanya Oik.
            Cakka mengangguk. “Lagu apa, nih?”
            “Nyanyi buat Oik, nih, ceritanya?” sela Gabriel seraya menahan deraian tawanya.
            “Tembak sekalian, dong, Kka! Ga gentle banget lo!” ejek Ify.
            “Hari ini tanggalnya jelek. Tunggu 121212 aja.” Cakka menjawab dengan santai.
            “Tuh, Ik! Dengerin!” Gabriel menengok pada Oik. “Cakka ga PHP –Pemberi Harapan Palsu– nih. Dia nunggu tanggal bagus aja buat nembak lo!”
            Oik hanya menggelengkan kepalanya, –berusaha– acuh. Oik pun mengalihkan pandangannya pada jendela kelas dan melongok keluar. Seperti biasa, Alvin sedang bermain sepak bola di lapangan. Lagi-lagi, Oik tak merasakan debaran yang dulu selalu hadir ketika ia melihat Alvin.
Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
            Cakka mulai memetik gitar yang berada di pangkuannya. Ia mulai menyanyikan lirik demi lirik lagu bertajuk Dia oleh Maliq N d’Essentials itu. Matanya dalam memandang Oik. Hingga akhirnya Oik membalas tatapannya dan tersenyum kikuk.
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
            Gabriel terbatuk-batuk karenanya. “Aduh, Cakka, Oik! Dunia milik berdua banget ini, sih! Gue, Ify, sama yang lainnya ngontrak doang!”
            Cakka benar-benar tak menghiraukannya. Ia masih menatap Oik dalam-dalam.
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
            Wajah Oik telah merah padam. “Lo ngapain, sih, Kka? Nyanyi buat Shilla? Percuma! Shilla lagi ke kantin!”
            Ify menoyor kepala Oik dengan gemas. “Dia nyanyi buat lo, dodol!”
            Makian kecil Ify tadi sukses membuat Oik terdiam dengan wajah memerah dan senyum yang terkulum malu-malu.
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia disini memberi cintaku
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia disini memberi cintaku harapan
            “Stop! Nyanyi lagu yang lain, kek, Kka! Gue lebih suka yang The Untitled!” pekik Oik untuk menutupi salah tingkahnya.
            “Lo bego apa bloon, sih?” tanya Gabriel dengan keki. “The Untitled itu lagu orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan, bego! Lo sama Cakka, kan, ga!”
            Lagi-lagi, Oik terdiam dengan wajah yang semakin memerah.
Give me your love
Now so come on and love me
Give me your love
Now so come on and love me
            Cakka tersenyum kecil melihat Oik yang semakin salah tingkah di hadapannya. Apalagi ketika Ify dan Gabriel melontarkan kalimat-kalimatnya pada Oik tadi.
Nothing in this world could come baby love to me
I would tell the world when you give your love to me
            “Tuh, Ik! Move on aja ke Cakka. Lupain, tuh, si sipit. Ga capek digantungin setahun lebih?” sorak Gabriel dengan hebohnya.
            “Iya,” Ify mengangguk cepat. “Si sipit aja belum tentu juga suka sama lo. Nih, ada Cakka di depan mata. Jangan disia-siain gitu aja, dong.”
            “Kalian ngomong apa, sih? Ga jelas banget!” Oik melirik Ify dan Gabriel dengan sinis.
            “Ciiiiiiiieeeeee!!!!! Sekarang Cakka sama Oik, nih! Ga sama Shilla lagi!” teman-teman sekelas Oik pun mulai ikut berteriak heboh.
            “Awesome and Zany... that’s so much you.” Cakka kembali memandang Oik dengan senyum tipisnya.
            Dan, saat itu pula, Shilla masuk ke dalam kelas bersama Zevana.

**

@OikCR27: 03.03 PM :$
@zevanarga: Cakka :p RT @OikCR27: 03.03 PM :$
@OikCR27: @zevanarga bkn tw -_-
@zevanarga: @OikCR27 trs siapa dong :p
@OikCR27: @zevanarga cipit! :$
@zevanarga: @OikCR27 ciyee skrg udh pnya pnggilan kesygan bwt cakka ya :p

**

            Sial! Hari ini Oik datang terlalu pagi! Kalau begini caranya, ia lama-lama menjadi seperti Ify. Bel masuk berbunyi pukul tujuh tetapi datang pukul enam! Tipikal anak rajin kesayangan para guru sekali.
            “Fy, keluar aja, yuk? Kali aja ntar kecengan lo lewat gitu..” bujuk Oik.
            Ify bisa apalagi kecuali mengangguk dan mengiyakan ajakan Oik? Keduanya pun keluar. Ada Zevana yang entah sedang apa di koridor. Ify dan Oik pun menghampirinya.
            “Hey!” sapa Ify.
            Zevana tersenyum pada mereka berdua. Baru saja ia akan membalas sapaan Ify, tiba-tiba saja dua sosok yang dikenalnya datang bersamaan. “Cakka! Shilla!”
            Hati Oik mencelos ketika melihat Cakka dan Shilla jalan berdampingan. “Ciiiiieeeeee berangkat bareng, nih?” gurau Oik. Bibirnya memang tersenyum, tetapi tidak dengan mata dan hatinya.
            Shilla menggeleng cepat dengan pipi bersemu merah. “Ga, kok! Kebetulan aja tadi datengnya barengan! Gue, mah, selalu sama Bang Debo!”
            “Alah, ngeles aja lo!” Oik tertawa.
            “Elo, tuh! Nih, si kosong-tiga-kosong-tiga!” ejek Shilla balik, matanya melirik Cakka.
            “Oik, mah, malu-malu kucing! Siapa coba yang kemarin ngetweet kosong-tiga-kosong-tiba?” timpal Zevana.
            “Ik?” Ify menatap Oik penuh tanya.
            “Cipit! Sipit, Fy! Bukan Cakka!” elak Oik. Benar-benar berbohong. “Shill, please, deh.. Lo tahu sendiri sipit itu siapa.”
            Cakka tersenyum kecut. Tanpa mengindahkan tatapan meminta maaf dari Oik, Cakka berlalu masuk ke dalam kelas.

**

            Siang itu, Agni berjalan ke bangku Cakka untuk mendiskusikan masalah basket. Maklum, keduanya adalah anggota tim basket sekolah. Keduanya pun mengobrol seru. Juga tidak menghiraukan Oik yang duduk termenung sendiri di tempatnya.
            “Agni! Benalu banget lo?! Jangan ganggu Cakka sama Oik, dong!” teriak Obiet dari bangkunya.
            “Hah?” Agni menatap Obiet tak mengerti.
            “Cakka sama Oik tadi, tuh, lagi pacaran, tau!” sela Deva dengan gemas.
            Agni mengangguk mengerti. Dan, dengan setengah hati, ia meninggalkan bangku Cakka.
            Oik menoleh malas. Ia sedang malas berbicara banyak hari ini. Maka dari itu, ia memilih menyingkir dan duduk di samping Ray.
            “Sekarang malah si Ray, nih, yang jadi benalu.” Deva berkata demikian seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.
            “Lihat, tuh, si Cakka. Diem aja, kan? Lagi jealous berat, tuh, pasti!” timpal Obiet.
            Oik menggelengkan kepalanya dan menatap Deva serta Obiet dengan sangar. Ia memberikan isyarat kepada Ray agar tak mendengarkan racauan Deva dan Obiet yang tidak jelas sama sekali tadi.
            Ini kenapa jadi gini?! Kenapa semuanya pada ngeklaim kalau gue ini ceweknya Cakka dan Cakka itu cowok gue? Eh, tapi ga apa-apa, deh! Eh? No! Gue beneran suka Cakka?

**

@OikCR27: What time is it? Where you are? I miss you more than anything.
@gabrielstev: @cakkaNRG -> RT @OikCR27: What time is it? Where you are? I miss you more than anything.
@OikCR27: @gabrielstev @cakkaNRG it lagu gab -_-
@gabrielstev: @OikCR27 @cakkaNRG iy, lagu. Bwt cakka :p
@OikCR27: @gabrielstev @cakkaNRG KAMPREEEETTT!!!!

**

            “Gabrieeeeelll!!! Itu penggaris gue! Balikin ga?!” Oik memekik jengkel ketika menyadari penggarisnya telah lenyap.
            “Penggaris doang, Ik! Pelit amat lo?” Gabriel menimpali dengan santai.
            “Iya, tapi balikin! Gue mau ngerjain tugas dari Mr Dave, nih!” pekik Oik kembali.
            “Ambil sendiri, dong,” balas Gabriel.
            “Gue bilangin sipit, nih!” ancam Oik.
            Cakka berdecak kesal. “Sipit lagi, sipit lagi!”
            “Cakka jealous, tuh, Ik,” Ify tertawa lebar ketika melihat ekspresi Cakka.
            Oik hanya menggelengkan kepalanya tak peduli. Tanpa menengok ke belakang –meja Gabriel dan Cakka–, Oik mengambil penggarisnya. Namun tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu...
            “Mau pegang tangannya Cakka, mah, biasa aja. Pakai sok-sokan ga ngelihat, pula! Alay lo, Ik!” ejek Gabriel.
            Oik tersentak. Ia segera menengok ke belakang dan mendapati Cakka sedang menatapnya dengan tersenyum lebar. Cepat-cepat Oik lepaskan pegangannya pada telapak tangan Cakka.

**

            “Fy, kayaknya gue beneran udah move on, deh..” Oik berbisik pelan di telinga Ify ketika pelajaran Mr Dave sedang berlangsung.
            Ify menengok kaget ke arah Oik dengan mata melebar. “Serius lo?”
            Oik mengangguk lemas. “Dua-rius malah, Fy!”
            “Gimana ceritanya?” Ify mendadak panik karena jawaban Oik barusan.
            “Ga ngerti,” Oik menggeleng dengan wajah polosnya. “Tapi, yang pasti, kemarin gue udah biasa aja waktu papasan sama si sipit. Udah ga deg-degan kayak biasanya lagi.”
            Ify sampai melongo dibuatnya. Pasalnya, Oik ini tipikal cewek setia yang tak gampang move on. Sudah satu tahun lebih hubungannya dengan Alvin gantung pun, Oik masih setia menyimpan perasaannya. Lalu, sekarang?
            “Emangnya lo move on ke siapa?” tanya Ify sekalem mungkin.
            Oik menahan napasnya ketika ia dengan sengaja melirik Cakka yang sedang mengerjakan soal di depan kelas.
            Ify kembali melongo kaget. “Ca...?”
            “Ssssttt!!!” Oik meletakkan jari telunjuknya di bibir. Setelahnya, ia mengangguk lemas. Saat itu pula ia membenamkan kepalanya dalam telapak tangannya.

**

            Oik sedang home alone malam itu. Seluruh keluarganya sedang mendatangi sebuah acara di daerah Bekasi. Dan, Oik malas kalau harus bepergian malam-malam begini. Lebih baik di rumah, membuka jejaring social atau apapun itu asalkan tidak ke luar kota malam-malam.
            Ngomong-ngomong soal jejaring sosial, Oik teringat akan akun twitternya. Segera diambilnya ponsel yang terletak di atas meja belajar, lalu kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Oik pun membuka aplikasi UberSocial miliknya.
            Oik masih setia membaca setiap tweets yang berada di timelinenya. Jemarinya berhenti mengscrolltimeline ke bawah ketika ia membaca sebuah tweet yang mampu membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
@cakkaNRG: AZ
            “Awesome and Zany. Dasar! Masih inget aja lo, Kka. Gue kira cuman gue yang inget kalau lo pernah ngomong begitu ke gue. Awesome and Zany.” Oik tertawa kecil.
            Oik pun merefresh timelinenya. Hatinya mencelos ketika membaca dua buah tweets baru yang muncul.
@Rayprasetya227: Ashilla Zahrantiara :p cpt ditmbk dong kka :p RT @cakkaNRG: AZ
@cakkaNRG: Halo bro :D RT @Rayprasetya227: Ashilla Zahrantiara :p cpt ditmbk dong kka :p RT @cakkaNRG: AZ
            Oik pun mulai mengetikkan sesuatu. Dan, setelahnya, ia segera mengsend tweet tersebut.
            “Jadi... itu buat Shilla. Oh.” Oik tertawa miris. Ia mendongakkan kepalanya, mencegah agar butiran Kristal itu tak jatuh dari kedua matanya.
            “Jadi gini... semuanya ga ada artinya apa-apa, ya? Lo nyanyi pakai gitar itu pun bener-bener ga ada yang spesial, ya? Soal yang 121212 itu berarti juga omong kosong aja.” Oik mulai merasakan napasnya yang tak beraturan.
            Gawat! Asmanya kambuh!
@OikCR27: Oh jd gt ya. Ok. Gpp. Hehehe. :’)
@gabrielstev: @cakkaNRG bngst lo! :@

**

            Cakka hari ini benar-benar berubah! Entahlah, Oik merasakannya. Tetapi, kenapa?
            Memang, hari ini Cakka tetap berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Tetapi ia sama sekali tidak mengajak bicara Oik. Ia seperti menganggap Oik tak ada. Semenjak bel masuk berbunyi hingga sekarang –istirahat kedua–, Cakka sama sekali tak menghiraukan Oik. Bahkan ketika Oik mencoba ikut mengobrol bersama Cakka, Gabriel, dan Ify pun Cakka langsung berlalu pergi.
            Kali ini kelas sedang benar-benar sepi. Hanya Ify dan Oik yang berada di dalam kelas. Entah ke mana perginya teman-teman sekelas mereka yang lain.
            Oik memutar badannya agar ia dan Ify berhadap-hadapan. “Fy... kok, gue ngerasa Cakka hari ini berubah, ya?”
            Ify mengangguk dengan wajah prihatin. “Iya, gue juga. Padahal biasanya dia semangat banget kalau ngobrol sama lo. Di mana ada elo, di sana ada dia. Tapi sekarang...”
            “Iya,” Oik mengangguk sedih.
            “Yang sabar aja, Ik.” Ify mengelus bahu Ify dengan tersenyum getir. “Padahal baru kemarin gue tau kalau lo move on ke dia. Kalian cocok. Tapi sekarang malah gini.”
            Ify beranjak berdiri.
            “Mau ke mana, Fy?” tanya Oik.
            “Buang sampah,” Ify menunjukkan segenggam bungkus permen bekas mereka untuk mengisi kebosanan pelajaran fisika tadi pagi.
            Oik terkikik pelan dan mengambil alih bungkus-bungkus permen tersebut. “Sini, biar gue aja yang buang.”
            Oik pun beranjak meninggalkan Ify yang kembali duduk di bangkunya. Ketika Oik membuka pintu kelas dan akan keluar, rupanya ada sesosok lelaki pula yang sedang memegang gagang pintu dari luar dan akan masuk. Cakka.
            Mereka terdiam sejenak. Cakka memandang Oik lekat-lekat. Oik menaikkan sebelah alisnya, member isyarat untuk Cakka segera berbicara kalau-kalau lelaki itu akan berbicara.
            Setelah hampir semenit menunggu dan Cakka tak kunjung membuka mulutnya. Oik melengos. Ia melirik Ify sekilas dan tersenyum getir. Oik segera keluar kelas dan membuang sampah. Begitu ia masuk kembali ke dalam kelas, ia melihat Cakka telah duduk di tempatnya seraya menatapnya lekat-lekat. Oik bergeming. Ia menutup pintu kelas keras-keras hingga meninggalkan bunyi berdebam.

**

@OikCR27: Aduh! Kmptr rsk n di rmh gak ada org. Bisa gak ya gw bnrin ini sndr -_-
@cakkaNRG: Pasti bisa :) dicba dl mknya :)
@OikCR27: Please jgn kyk gn. Dia ya dia. Gw ya gw! :@
@cakkaNRG: Maaf

**

            Oik tersenyum dalam hati. Hari ini Cakka telah kembali menjadi Cakka yang dulu. Cakka sudah mengajak Oik ngobrol. Cakka juga sudah tidak lantas berlalu lagi jika Oik masuk ke dalam percakapannya bersama Ify dan Gabriel, seperti saat ini.
            “Udah tanggal sebelas, nih, Kka.” Gabriel menggumam.
            “Terus?” Cakka memandang Gabriel dengan alis terangkat sebelah.
            “Besok tanggal dua belas, bego!” Ify menjitak dahi Cakka dengan keras. “Gimana sama janji lo waktu itu?”
            “Janji yang mana, sih?” tantang Cakka, ia menatap Ify dengan menahan senyum.
            “Jadi lo mau nembak Shilla atau Oik besok?” goda Ify.
            Cakka sudah tertawa lebar. Ia memandang Oik dan Shilla bergantian.
            Saat itu pula, Oik menginjak kaki Ify dan tersenyum puas melihat Ify yang meringis menahan sakit. Siapa suruh langsung to the point begitu?
            “Shilla, dong! Ya, kan, Kka?” ujar Oik. “Gue sama Shilla, ya, mending Shilla! Dia, kan, cantik. Adiknya Mas Debo, pula. Nah, gue?” Oik mencibir diakhir kalimatnya.
            “Oke, kalau itu mau lo..” lirih Cakka.
            Ify melirik Oik. Terlihat jelas sekali jika Oik tidak benar-benar tertawa lepas. Gadis berdagu tirus itu dapat melihat dengan jelas bahwa binar mata Oik mulai menghilang seiring dengan menjadi keruhnya wajah Cakka.

**

            Bel pulang sudah berbunyi semenjak setengah jam yang lalu tetapi Oik, Ify, Gabriel, dan Cakka masih berada di dalam kelas. Mereka mendapat hukuman dari Bu Winda untuk membersihkan kelas karena mereka bereempat terlambat masuk ketika jam pelajaran Bu Winda.
            Akhirnya, setelah membagi tugas dan menjalankannya selama kurang lebih setengah jam, mereka berempat selesai juga membersihkan kelas. Keempatnya pun langsung membereskan barang masing-masing dan memasukkannya ke dalam tas. Keempatnya berjalan keluar dari kelas dengan dipimpin Gabriel. Ify, Cakka, dan Oik mengikuti di belakang Gabriel.
            “Ini, mah, harusnya kerjaannya cleaning service!” gerutu Gabriel.
            “Ya siapa suruh tadi kita telat masuk? Lo, sih, ngajak ke kantin dulu! Biang kerok emang lo!” Ify melotot memandang Gabriel.
            Gabriel dan Ify sudah ada di luar sedangkan Cakka masih berdiri di ambang pintu kelas, serta Oik masih berdiri di belakang Cakka. Oik mengernyit memandang tubuh jangkung Cakka di hadapannya.
            “Minggir kenapa, sih, Kka?” bentaknya.
            Cakka menengok ke Oik dan memamerkan wajah mengejeknya. “Terserah gue.”
            “Iya tapi, kan, gue mau keluaaaaarrr!!!” Oik sudah mencak-mencak sendiri di belakang Cakka.
            “Ya udah, keluar aja.” balas Cakka.
            Oik mendorong Cakka dari belakang dengan sekuat tenaga tetapi tubuh Cakka tak kunjung bergeser. “Elo, kan, tinggi gede! Gimana bisa gue lewat kalau lo masih ngendon di pintu gini?!”
            Di luar kelas, Gabriel dan Ify sudah meledak tawanya karena keusilan Cakka itu. Ify menaik-turunkan alisnya seraya memandang Oik. Oik membalasnya dengan menggembungkan pipinya dan mimik wajah cemberut.
            “Minggir, dong! Gue mau balik, nih!”
            “Ga mau!”
            Oik beralih pada Gabriel dan memasang wajah merana. “Gab, Cakka suruh minggir... please!”
            “Dia, mah, modus, Ik! Berdiri di situ biar lo dorong-dorong dia. Biar lo pegang-pegang dia. Modus banget, kan?” Gabriel berkata dengan wajah serius. Meledaklah lagi tawa Ify.
            “Tuh... dengerin Gabriel, Ik!” Ify pun ikut-ikut memasang wajah seriusnya.
            Oik tertawa lebar. Ia tetap berusaha mendorong tubuh Cakka agar bergeser dari ambang pintu. Namun, sekuat apapun usahanya untuk mendorong Cakka, tubuh Cakka tak kunjung bergeser juga. Oik terlalu mungil untuk mendorong tubuh jangkung Cakka sendirian.
            Oik melirik Ify sekilas dengan tersenyum malu-malu. Kini tubuhnya benar-benar dekat dengan tubuh Cakka dan, tentu saja, wangi parfum Cakka kembali menari-nari di hidungnya. Oik kembali tertawa untuk sekedar menutupi salah tingkahnya.
            Apa ini artinya... lo milih gue?

**

            Pagi itu, Oik datang di sekolah ketika sekolah sudah ramai. Dengan melangkah penuh senyuman dan headset yang masih terpasang di telinganya, Oik menuju kelasnya. Betapa bingungnya Oik ketika ia mendapati seluruh teman-teman sekelasnya yang sudah datang sedang berkumpul mengelilingi sesuatu di bangku belakang.
            Setelah meletakkan tasnya dan kembali mengantongi iPodnya, Oik berjalan menuju kerumunan tersebut. Terdengar sorakan yang menggema di ruang kelasnya. Oik menyeruak ke dalam kerumunan seraya mengecilkan volume iPodnya.
            “Aku suka sama kamu, Shill. Kamu mau, kan, jadi cewek aku?”
            Deg!
            Oik mengenali suara itu. Sangat mengenalinya.
            “Cakka?” Oik bergumam tak percaya.
            Oik berusaha mengendalikan dirinya. Tangannya yang sudah gemetar segera ia masukkan ke dalam saku rok. Ia paksakan senyuman lebar terukir di bibirnya. Oik pun menegakkan kepalanya dan menatap sumber sorakan teman-temannya dengan menahan sakit di hatinya.
            “Terima, Shiiiillll!!!” sorak teman-temannya.
            “Ciiiieeeee!!! Pantesan aja pagi-pagi udah ramai. Ternyata calon best couple sekolah, toh..” sorak Oik dengan senyum palsunya.
            Ify menengok ke arah Oik. Wajah gadis berdagu tirus itu sudah merah padam karena menahan amarahnya pada seorang lelaki di tengah-tengah mereka semua yang sedang berlutut di hadapan calon gadisnya. Tatapan Ify melunak melihat kedua bola mata Oik yang berkabut.
            Ify tersenyum sedih pada Oik. Oik membalasnya dengan cengiran lebar dan menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan Ify. Tak ada yang tahu bahwa mata Oik telah berkaca-kaca. Ya, hanya Ify yang tahu.
            “Terima, dong, Shill,” kata Oik, tepat saat pandangannya dan pandangan Shilla bertemu.
            Shilla masih menimang-nimang dengan wajah merona merah. Oh, cukup. Oik sudah tak tahan lagi.
            “Terima, Shill! Gue tinggal dulu, ya. Panggilan alam, nih!” Oik kembali berkata pada Shilla. Dipaksakannya kembali cengiran lebar untuk Shilla.
            Tanpa menunggu lama, Oik menjauh dari kerumunan itu dengan air mata yang telah meleleh dan tubuh yang berguncang hebat karena menahan tangis sedari tadi. Keluar dari kelas. Tanpa ia sadari, ekor mata Cakka terus menatapnya hingga ia menghilang di balik pintu kelas.
            Ify menggeleng tak percaya pada Cakka. Ia menatap Cakka ketika Cakka telah selesai menatap punggung Oik lamat-lamat. Ify mengacungkan jari tengahnya pada Cakka dengan wajah penuh amarah.
            “Fuck you!” desis Ify. Dan Ify yakin Cakka dapat membaca gerak bibirnya.
            Ify pun ikut membubarkan diri dari kerumunan itu. Ia berlari mencari Oik dan menemukannya sedang berjalan terseok-seok seraya menghapus lelehan air matanya menuju toilet sekolah.
            “Maafin gue dan Gabriel yang udah comblangin elo sama Cakka, Ik. Ini salah kami.” lirihnya.
            Oik menengok ke belakang dan kaget mendapati Ify di sana. Ia tersenyum tipis. “Ga apa-apa. Cakka, kan, emang sukanya sama Shilla. Lagi pula, masih ada sipit. Iya, kan, Fy?” tukas Oik. Tawanya berderai seiring dengan air matanya yang semakin deras menetes.
            Ify tak tahan lagi. Kedua matanya pun telah berkaca-kaca. Segera saja ia berlari menuju Oik dan merengkuh tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Tangis Oik pun pecah, begitu juga dengan Ify.
            “Masih ada Alvin, Fy. Gue sukanya sama dia, kok. Bukan sama Cakka. Mungkin gue jarang ketemu Alvin aja, makanya seolah-olah gue kayak udah move on dari dia. Padahal belum.” Oik mulai meracau dalam tangisnya, membuat Ify melontarkan sumpah serapahnya pada Cakka dalam hati.
            Terima kasih untuk semuanya. Thanks for all the memories you’ve given.. Kita mulai dari nol lagi, ya, Kka. Seolah-olah kita baru aja kenal. Lo tau? Kita udah bikin banyak momen-momen indah yang ga akan pernah bisa gue lupain. And now... let me bring you out of my heart, let me forget about this feeling. Yang terakhir, terima kasih karena sudah pernah singgah di hidupku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS