Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label irsyad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label irsyad. Tampilkan semua postingan

SESUATU YANG BARU [06] : Tentang Ify

           Begitu keluar dari cafeteria, Ify segera menuju library. Tak lupa juga ia memeriksa kembali keberadaan member card library yang tadi ia letakkan pada saku jubahnya. Ify telah berpesan kepada Oik untuk mengantarkan Alvin ke halaman depan sekolah. Seperti biasa, kereta kuda telah menunggu disana guna mengantarkan ke rumah sakit.
            Ify berjalan sendirian diantara lalu-lalang siswa-siswi lain. Memang, jalan menuju rumah pohon dan library menjadi satu. Pada ujung jalan, jika ke kanan akan menemukan jalan setapak menuju rumah pohon dan jika ke kiri maka akan bertemu library dan Kesekretariatan OSIS serta berbagai ekskul.
            Ify mendorong pintu library dan masuk. Setelah mengisi buku daftar pengunjung, ia menuju bagian timur library. Buku mengenai musik terletak pada rak-rak dibagian itu.
            Gadis berbehel itu berjalan diantara dua rak buku yang menjulang tinggi. Dengan mata yang menyusuri setiap judul buku disana, Ify bergerak pelan. Buku yang ia cari tak kunjung ia temukan.
            “Sedang mencari apa?” tanya sebuah suara bariton.
            “Eh?” Ify terkesiap. Ia tersenyum malu pada seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu rupanya juga sedang mencari-cari sesuatu. “Buku musik, untuk tugas.” Ify menyerahkan secarik kertas yang ia kantongi bersama member card library.
            Lelaki itu menerima secarik kertas dari Ify dengan alis bertaut. “Kamu anak kelas musik?” tanyanya.
            “Ya, begitulah. Kamu sendiri?” Ify mengerling pada lelaki itu dan kembali fokus pada rak buku.
            “Aku juga. Mungkin aku bisa membantu kamu cari buku ini.” Lelaki itu kembali melirik secarik kertas dari Ify. Ia seperti mengenali tulisan itu. “Ini tulisan tangan.....”
            “Nggak, nggak!” Ify mengibaskan kedua tangannya dengan panik. “Aku tahu tulisan itu memang jelek. Tapi, jangan salah. Itu bukan tulisanku.”
            Lelaki itu terkekeh. “Bukan itu maksudku. Aku seperti mengenali tulisan ini.”
            “Sudahlah. Bukan waktunya mengingat hal sepele seperti itu. Jadi membantuku mencari buku?” Ify tersenyum diujung kalimatnya.
            “Tentu!” Lelaki itu tersenyum riang dan mulai membantu Ify mencari buku yang dimaksud.
            “Buku ini susah sekali dicari,” gerutu Ify.
            “Sudahlah. Bukan waktunya menggerutu hal sepele seperti itu.”
            Ify berbalik dan menatap lelaki yang memunggunginya itu dengan berkacak pinggang dan senyum mengembang. “Hey! Kamu meniru ucapanku!”
            “Ya.” Lelaki itu mengangkat bahunya dengan cuek. Dan dalam sekejap, ia berbalik menghadap Ify dengan membawa sebuah buku. “Buku ini, kan, yang kamu cari?”
            Ify menahan napasnya tak kentara. Bukan karena gerakan cepat lelaki itu yang berbalik badan. Bukan. Melainkan jarak diantara mereka berdua yang sangat dekat. Dalam beberapa detik, Ify masih terpana. Lalu setelahnya, ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah padam.
            Ify mengambil buku dari tangan lelaki itu dan tersenyum kikuk. “Y-Ya, ini buku yang... aku cari.” Ify melirik sampul buku tebal tersebut. “Jadi, ini jilid pertama? Ya, ya. Dimana kamu menemukannya? Aku juga butuh jilid kedua untuk aku bawa ke rumah pohon.”
            Lelaki itu bergeser ke samping beberapa langkah, tangannya menunjuk rak buku yang tadinya berada di belakangnya.
            Tangan Ify terulur mengambil buku jilid kedua. “Ya, aku menemukannya.”
            “Baiklah. Aku permisi dulu.”
            Dan ketika Ify masih fokus membolak-balikkan halaman kedua buku itu, lelaki yang tadi membantunya telah melesat meninggalkan perpustakaan entah kemana. Begitu Ify selesai meneliti tiap halaman kedua buku itu, ia menengok ke samping.
            “Terima... kasih..... Eh? Kemana lelaki tadi?” Ify mengedarkan pandangannya pada seluruh penjurulibrary dan ia hanya menemukan pintu library yang bergoyang-goyang, pertanda baru saja ada yang masuk atau keluar.
            “Padahal aku belum sempat menyampaikan terima kasih.” Ify mengangkat bahunya dan membawa buku-buku itu kesebuah meja bundar ditengah-tengah library yang dikelilingi oleh empat kursi empuk.
            Ify meletakkan keduanya diatas meja dan menghempaskan tubuhnya pada kursi empuk itu. Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya, Ify membuka buku jilid pertama dengan bersemangat. Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit dan ia hanya punya waktu satu jam lebih lima menit sebelum library ditutup untuk menghafalkan not-not balok yang berada pada halaman paling akhir.
            Jemari Ify bergerak membalik halaman dengan hati-hati. Kedua buku ini adalah buku tua yang halamannya sudah menguning. Jika ia membalik halamannya dengan kasar, ia bisa saja membuat beberapa lembar terlepas dari bukunya.
            Mata Ify terbelalak lebar melihat sederet not balok dihadapannya.
            “Apa-apaan ini?!” Ify mengacak-acak rambutnya frustasi. “Not balok lagu klasik? Are you kidding me?!”
            Rangkaian not balok nan rumit inilah santapan malamnya. Ini tugas pertama dari guru pembimbingnya di kelas seni musik. Ify tak habis pikir dengan jalan pikiran beliau. Mereka ini –Ify dan teman-temannya di kelas seni musik– masih terbilang ‘bau kencur’. Mereka baru tiga hari mengenyam segala tetek-bengek seni musik dan sekarang sudah dihadapkan dengan musik klasik? Apa-apaan?!
            “Bagaimana aku bisa menghafalkan not-not ini dalam waktu satu jam?” Ify menatap halaman tersebut dengan lemas. “Terpaksa aku harus membawa kedua buku ini ke rumah pohon.”
            Satu jam yang menyiksa ini Ify habiskan dengan menghafalkan setiap not perlahan-lahan. Setelah dua puluh menit, Ify mulai menguap. Sepuluh menit kemudian, Ify dapat merasakan kadar kantuknya meningkat. Pukul sembilan kurang lima belas menit, Ify menelungkupkan wajahnya diatas meja.
            “Aku menyerah,” desahnya.
            “Menyerah apa?”
            Ify menegakkan badannya begitu mendengar sebuah suara yang menggelitik telinganya. Dan begitu ia menengok ke kanan, Ify terkesiap. “Kak Debo?”
            “Ya?” Debo menatap Ify lamat-lamat.
            “Sedang apa disini?” tanya Ify. “Library sudah hampir tutup.”
            “Sebenarnya cuma iseng. Tadi aku sama sekali nggak ada kegiatan di rumah pohon. Niatnya kesini, mencari majalah. Tapi ternyata malah menemukan kamu yang setengah desperate disini. Ada apa, Fy?” kini ganti Debo yang bertanya.
            Ify menggeleng lalu menutup buku di hadapannya. “Ada tugas menghafal not balok. Dan ternyata ini adalah not balok musik klasik.”
            “Wow,” Debo tertawa. “Pasti susah.”
            “Of course!” Ify mendesah pelan.
            “Besok, kan, hari Minggu. Kamu hafalkan saja di rumah pohon, Fy.”
            “Ya, ya, ya..” Ify mengangguk malas. “Itu berarti aku akan menghabiskan hari Minggu dengan kedua buku ini.” Ify menunjukkan kedua jilid buku itu pada Debo dan beranjak berdiri.
            “Sudah malam. Ayo, aku antar ke rumah pohon.” Debo pun ikut berdiri.
            Ify mengangguk. Ia berjalan menuju penjaga library yang terduduk dibelakang meja kebesarannya. Debo mengekornya dan memperhatikan setiap gerak yang Ify buat. Setelah urusan pinjam-meminjam buku usai, keduanya berjalan meninggalkan perpustakaan.
            Lampu taman yang berada disisi kanan dan kiri jalan setapak mulai menyala redup. Itu berarti, pemberlakuan jam malam sudah akan dimulai. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah pohon seraya mengobrol kecil.
            “Sudah mencoba kirim pesan menggunakan burung mungilmu?” tanya Debo.
            Ify meliriknya sekilas dan menggeleng. “Memang bisa?”
            “Jelas bisa, dong.” Debo terkikik menyadari kepolosan Ify dan dengan refleks ia mengacak-acak rambut gadis itu.
            “Kak Debo apa-apaan, sih?!” Ify menggerutu seraya tertawa dan merapikan kembali rambutnya. “Bagaimana caranya?”
            “Gampang saja. Tulis pesanmu untuk seseorang diselembar kertas. Beri juga blok rumah pohonnya. Setelah itu, lipat dan berikan pada burung mungilmu. Nanti burung mungilmu yang akan mengantarkan pada rumah pohon yang dituju.”
            “Wah, lucu sekali! Kalau begitu, besok aku akan coba mengirimkan pesan untuk kamu, Kak.” Ify berkata dengan antusias.
            “Boleh, boleh.” Debo membalas dengan tak kalah antusiasnya. “Blok rumah pohonku MA-09. Jangan lupa, itu berada di kawasan rumah pohon siswa tingkat kedua.”
            Ify mengangguk mengerti.
            “Oh, ya. Besok setelah dinner, jangan kemana-mana, ya.” Debo tersenyum penuh arti setelahnya.
            “Aku, Sivia, dan Oik memang nggak ada rencana untuk kemana-mana,” sahut Ify datar.
            “Akan ada kejutan dari kakak-kakak OSIS yang satu tingkat dengan aku.” Debo melirik Ify untuk melihat reaksi gadis itu.
            “Kejutan apa?” Ify mendadak antusias.
            “Lihat saja nanti. Bukan kejutan lagi namanya kalau kamu tahu sekarang.”
            “Oke!” Ify mengangguk bersemangat. “Awas saja kalau kejutannya nggak mengasyikan!”
            “Bagi kamu dan dua teman kamu mungkin nggak mengasyikan tapi pasti kalian bertiga akan dapat pengalaman baru.”
            “Hey! Kalian berdua!” Sebuah suara menggelegar terdengar dari belakang Ify dan Debo. Keduanya menengok serentak pada sumber suara. “Kenapa masih berduaan pada jam segini? Masih ingat pemberlakuan jam malam, kan?” Orang itu –yang ternyata sang Kepala Sekolah– kembali bersuara.
            Ify dan Debo mengangguk dalam-dalam.
            “Kalau begitu, segera kembali ke rumah pohon masing-masing!”
            Tanpa bersuara kembali, Ify dan Debo mempercepat langkahan kaki mereka menuju rumah pohon. Begitu berada dipersimpangan antara kawasan siswa tingkat pertama dan kedua, Ify menghentikan langkahnya.
            “Sudah, Kak Debo sampai disini aja mengantar aku.” Ify mencegah Debo masuk lebih dalam pada kawasannya.
            “Memangnya kenapa?”
            “Sudah malam, Kak. Tadi Kepala Sekolah juga sudah menegur. Semakin cepat kita berdua sampai di rumah pohon masing-masing, semakin bagus.”
            Debo pun mengangguk. Ia mengiyakan permintaan Ify dengan terpaksa. Awalnya, ia ingin mengantarkan Ify sampai di rumah pohonnya. Ini sudah pukul sembilan, lampu disisi jalan setapak mulai meredup dan ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ify.
            “Aku kembali ke rumah pohonku, ya. Kak Debo juga kembali saja.” Ify tersenyum kecil lalu berbalik dan meninggalkan Debo.
            Ify tak menyadari lelaki itu masih berdiam diri ditempat, menatap punggungnya lekat-lekat, dan baru berbalik badan juga ketika punggungnya telah hilang ditelan gelapnya malam.
            Begitu sampai dibawah rumah pohonnya, Ify langsung beranjak naik. Suara nyaring Oik terdengar sampai bawah. Ify terkekeh pelan begitu sampai diatas rumah pohonnya dan melihat Oik serta Sivia masih terjaga. Keduanya sedang bergosip, rupanya.
            “Menggosipkan apa malam-malam begini?” tanya Ify seraya meletakkan dua jilid buku yang tadi ditentengnya diatas meja belajar.
            “Kamu kelewatan banyak sekali, Ify! Tadi kita membicarakan soal Dokter Gabriel, Irsyad, Zevana, Cakka, Nadya.....”
            Ify tak lagi mendengar celotehan Oik dan kikikan Sivia karena ia beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit setelahnya, Ify keluar dengan mengenakan piyama. Ia pun berbaring diranjangnya dan mengamati kedua teman sekamarnya yang masih asyik bergosip.
            “Ify, bagaimana menurutmu? Oik bilang Agni itu cantik. Sedangkan menurutku, Agni itu manis. Ify? Fy?”
            Suara Sivia makin terdengar menjauh. Kesadarannya pun memudar. Ify rupanya telah memasuki alam mimpi, meninggalkan Sivia dan Oik yang masih berargumen mengenai Agni yang cantik atau Agni yang manis.

**

            Ify terbangun keesokan harinya ketika kamar telah kosong. Hanya menyisakan dirinya seorang. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, ia bangkit dan meregangkan tubuh. Ketika kesadarannya sudah pulih betul, ia melihat burung mungilnya tengah membawa secarik kertas berwarna pink. Seperti dari Oik.
            Burung mungil bercicit pelan ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Karena air yang pagi itu terasa amat dingin, akhirnya Ify memutuskan untuk mandi kilat. Tak sampai lima menit, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai.
            Ia terduduk di kursi belajarnya. Perlahan ia mulai memakan menu sarapannya. Kebetulan bubur ayam dan segelas teh hangat adalah menu sarapan kali ini. Ify mengerling pada burung mungilnya dan memanggilnya mendekat.
            “Ada pesan dari siapa?” tanya Ify.
            Ia meletakkan sendok serta garpunya terlebih dahulu dan mengambil secarik kertas yang digigit burung mungilnya. Ia membuka lipatannya dan mulai membaca.

Aq & Sivia sdh berada d Bukit Hijau.
Cpt susul kmri.
-Oik-

            Ify mengangguk mengerti dan membuang begitu saja secarik kertas tadi. Sebelum kertas tersebut menyentuh lantai, benda itu sudah terbakar dan asapnya hilang begitu saja. Ify mengernyit menatap cara kerja pesan singkat tersebut lalu mengangguk dalam diam.
            Sepuluh menit kemudian, Ify telah menghabiskan sarapannya. Ia bergegas meninggalkan rumah pohonnya untuk menyusul Sivia dan Oik di Bukit Hijau.
            Disepanjang jalan menuju Bukit Hijau, banyak sekali siswa-siswi Witchy School of Art yang dilihat Ify. Rupanya siswa tingkat kedua dan ketiga mempunyai kegiatan rutin setiap Minggu pagi. Senam bersama di Bukit Hijau! Ify mempercepat langkahnya meninggalkan kawasan rumah pohon.
            “Ify!” panggil seseorang.
            Ify menengok ke belakang dan mendapati Keke disana. “Hay, Ke!”
            “Mau kemana, Fy?” tanya Keke seraya menyamai langkahnya dengan Ify.
            “Bukit Hijau. Sivia dan Oik sudah disana. Kamu?” tanya Ify balik.
            “Sama.” Keke mengangguk.
            “Bagaimana tugasnya? Sudah hafal?” Ify kembali mengingat not-not balok sialan itu.
            Keke menggeleng sebal. “Belum. Susah sekali! Itu, kan, musik klasik. Benarkah kita akan benar-benar memainkannya dikelas pada hari Senin?”
            “Sepertinya iya.” Ify mengangguk tak yakin. “Sendirian saja, Ke, ke Bukit Hijau?”
            “Ah, ya!” Keke mendadak bersemangat. “Sebenarnya aku kemari mau menemui kakakku yang aku ceritakan waktu itu. Tapi terputus karena kamu pergi bersama kakak itu,” Keke menekankan pada akhir kalimat dengan bola mata berputar malas.
            Ify terkekeh. “Ya. Lalu? Kenapa ekspresimu seperti itu?”
            “Nggak. Hanya saja... Ya, kamu pasti nanti tahu sendiri.” Keke mengangkat bahunya tak perduli.
            “Baiklah. Kamu akan menceritakan tentang kakakmu, kalau aku tidak salah ingat.”
            “Iya! Iya!” Keke kembali bersemangat. “Kakakku ini laki-laki dan berada ditingkat kedua. Dia sedang senam bersama di Bukit Hijau. Aku akan mengenalkanmu pada kakakku.”
            Keduanya pun sampai di Bukit Hijau. Ify mengedarkan pandangannya, mencari Oik dan Sivia diantara kerumunan didepannya. Sedangkan Keke –tentu saja– mencari kakaknya.
            “Ah! Itu dia!” Keke mendadak berpekik senang.
            “Ya? Siapa?” sahut Ify, sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Keke.
            “Kakakku, Fy! Kakakku! Dia ada disana!” Keke menggoncang-goncangkan lengan Ify sesaat lalu menunjuk kearah siswa-siswi tingkat kedua dan ketiga yang tengah senam bersama.
            “Ya,” Ify hanya bergumam seadanya menanggapi antusiasme Keke.
            “Ayo! Aku akan mengajakmu berkenalan dengan kakakku sekarang juga!” Keke tiba-tiba saja menyeret lengan Ify menuju arah tertentu.
            Dapat! Itu mereka! Sivia dan Oik tengah berkerumun dengan siswa-siswi tingkat pertama lainnya. Mereka berada disisi utara Bukit Hijau. Dengan sedikit paksa, Ify melepaskan seretan tangan Keke dilengannya lalu berlari menghampiri kedua sahabatnya.
            “Ify! Ify! Mau kemana kamu, Fy? Ify!” Keke berteriak nyaring dari tempatnya.
            Ify hanya menengok sekilas kebelakang dan tersenyum meminta maaf pada Keke. Ify tidak mau berada diantara kakak-beradik yang –takutnya– tidak akan menghiraukan kehadirannya nantinya.
            Keke menunduk lesu. “Ya, lain kali saja aku kenalkan Ify pada kakak.”
            “Keke?”
            Keke mendongak dan mendapati kakaknya telah berdiri disampingnya. “Eh, Kakak. Sudah selesai senamnya?”
            “Belum.”
            “Lalu kenapa menghampiriku?” tanya Keke gemas.
            “Karena tadi aku lihat kamu langsung sedih begitu ditinggal temanmu.”
            “Oh,” Keke mengangguk.
            “Itu tadi temanmu, kan?” tanya kakaknya.
            “Iya.” Keke mengangguk lagi. “Teman sekelasku. Namanya Ify, Kak. Sebenarnya aku akan mengenalkan kalian berdua sekarang tapi ternyata dia malah menghampiri sahabat-sahabatnya.”
            “Ya sudahlah, lain kali saja.” Keke merasakan kakaknya mulai menepuk-nepuk puncak kepalanya dan membuatnya tersenyum. Ia suka sekali diperlakukan begini oleh kakaknya.
            “Dia berteman akrab dengan Kak Debo,” ujar Keke tak suka.
            Kakaknya mengerling padanya dan mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?”
            “Ya!” Keke mengangguk cepat.
            Kakaknya mengangguk mengerti. Ia mengamati punggung Ify dari jauh. “Aku seperti pernah melihatnya, Ke.”
            “Jelaslah, Kak! Kita, kan, satu sekolah!” ujar Keke seraya memukul lengan kakaknya.

**

            Sore itu, ketika Ify telah selesai menghafalkan seluruh not balok dari kedua jilid buku tersebut, ia mulai berpikir untuk mencoba mengirim pesan melalui burung mungilnya. Ia pun merobek secarik kertas dari buka coret-coretnya dan menuliskan sesuatu disana.

Hay, Kak!

            “Eh, tunggu! Blok rumah pohon Kak Debo apa, ya?” Ify mengetuk-ketukkan telunjuknya pada pelipis, berusaha mengais ingatan dari otaknya. “MA-09 bukan? Atau NA-09, ya? Aduh, aku lupa! Tapi seperti NA-09. Iya. NA-09.”
            Ify pun membubuhkan blok rumah pohon Debo pada sudut kanan bawah kertas lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu, ia menyerahkannya pada burung mungilnya. Ify menyaksikan burung mungilnya mulai keluar dari rumah pohon dan bergerak menjauh.
            Ia menunggu burung mungilnya untuk kembali dengan bersenandung kecil. Kelima jemari tangan kanannya mengetuk meja belajarnya sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan berisik.
            “Sedang apa, Ify?” tanya Sivia.
            Ify menengok pada Sivia dan menggeleng saja. “Bukan apa-apa, kok.”
            Sivia mengangguk. “Menunggu sesuatu?” tanyanya lagi.
            Ify kembali menggeleng. “Nggak juga.” Ia kembali menatap jendela rumah pohonnya. Burung mungilnya belum terlihat. “Oh, ya! Oik kemana, Siv?”
            “Ke minimarket sekolah, membeli satu set cat air baru untuk tugas melukisnya.” Sivia menjawab sekenanya lalu kembali larut dalam tumpukan lirik lagu dihadapannya.
            Lalu, tak lama kemudian, burung mungil Ify kembali membawa secarik kertas yang ia gigit. Ify mengambilnya perlahan, membukanya, lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Hay jg. Ini siapa? Knp mmnggilku kak?

            Ify mengerutkan keningnya lalu tertawa pelan. “Bisa saja Kak Debo ini.”

Ini Ify, Kak. Aq dr tgkt prtama. Lupa?

Ify? Tmn Keke?

Iy. Aq bru tw kalo Kak Debo knl Keke.

Debo? Km slh org!!

            Ify mengerjap bingung. Jadi kesimpulannya.. Ia salah orang, begitu? Pantas saja ia sudah merasa aneh sejak awal. Seharusnya jika orang yang ia kirimi pesan tadi benar-benar Debo, orang itu pasti akan langsung mengerti ketika mendapat pesan. Mereka berdua sudah membicarakan mengenai ini semalam.
            Ify menengok pada Sivia yang juga terduduk dikursi belajarnya. “Siv?”
            “Ya?” sahut Sivia tanpa menengok Ify sedikitpun.
            “Blok rumah pohon Kak Debo berapa, ya? Sepertinya aku––,”
            Belum sempat Ify menyelesaikan kalimatnya, Sivia sudah menghela napas dan menyela. “Jadi sedari tadi kamu berkirim pesan dengan dia?” tanya Sivia tak percaya.
            “Iya,” jawab Ify sekenanya. “Sepertinya aku salah menulis blok rumah pohon Kak Debo.”
            “Ify, sudahlah!” Sivia meletakka kumpulan lirik lagu miliknya dan melenggang keluar rumah pohon. “Kamu tahu sendiri aku nggak suka Kak Debo dan kenapa kamu masih saja membicarakan soal dia didepanku?!”
            Ify menatap kepergian Sivia dengan bingung. “Sensitif sekali kamu, Sivia.”
            Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tak akan mengirimkan pesan lagi jika belum yakin blok rumah pohon Debo. Biarlah nanti selagidinner ia akan mencari Debo dan menanyakan blok rumah pohonnya. Kali ini, ia akan mencatatnya agar tidak lupa.

**

            Malamnya, Ify bersama Oik serta Sivia sedang berjalan menuju cafetaria. Sudah waktunya dinner. Ketiganya berjalan santai sembari mengobrol. Kebetulan, jalan menuju cafetaria tak seberapa ramai karena sebagian besar siswa-siswi telah berada disana.
            Ify teringat perkataan Debo kemarin malam. “Setelah dinner kalian ada rencana kemana?”
            Oik melirik Sivia sebentar dan menggeleng. “Nggak kemana-mana.”
            “Memangnya kenapa, Fy?” tanya Sivia.
            “Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Ify pun hanya mampu tersenyum garing setelahnya.
            Ketika ketiganya telah tiba dimeja makan, rupanya kursi telah tersisa tiga. Ify melirik Alvin dan Zevana serta Cakka dan Nadya. Tumben sekali dua pasangan itu sampai di cafetaria tepat waktu? Ify, Sivia, dan Oik beranjak duduk pada kursi masing-masing.
            “Sivia, sudah menemukan lagu yang cocok untuk dinyanyikan solo Senin nanti?” tanya Agni begitu Sivia baru saja duduk.
            “Belum,” Sivia menggeleng. “Aku masih bingung. Kamu?”
            Agni juga menggeleng dengan tersenyum lebar. “Belum juga.”
            “Hey! Aku juga belum.” Irsyad menyela dari samping Agni.
            Ify terdiam melihat yang lainnya mulai berbicara secara kelompok. Sivia, Agni, dan Irsyad membicarakan mengenai lagu. Alvin dan Zevana entah membicarakan apa. Oik pun rupanya sudah mengajak Cakka dan Nadya ngobrol mengenai lukisan.
            Tiba-tiba saja ada yang mencolek bahu Ify dari belakang. Ia menengok dan mendapati Debo ada disana. “Kak Debo? Sedang apa?”
            “Aku––,”
            Belum sempat Debo menyelesaikan kalimatnya, bunyi dentuman besar dari langit-langit cafetariasudah terdengar. Dinner telah dimulai. Dengan berat hati, Debo pun kembali ke meja makannya.
            Tiga puluh menit setelahnya, seluruh siswa-siswi tingkat pertama telah berada di Bukit Hijau. Mereka semua berkelompok sesuai kelas sementara ketika MOS tempo hari. Ify, Sivia, dan Oik berada dalam kerumunan siswa-siswi kelas kedelapan.
            Setiap kelas membentuk kerumunan sendiri-sendiri disegala penjuru Bukit Hijau. Bagian tengah Bukit Hijau sengaja dibuat kosong karena ada beberapa siswa tingkat kedua yang berdiri disana.
            Ify melirik sebuah pohon akasia berukuran besar yang terletak tak jauh dari kerumunan kelasnya. Entah kenapa, ada sesuatu dari pohon itu yang membuatnya tertatik. Ify menajakmkan pengelihatannya dan ia menemukan Debo bersandar pada batangnya.
            Semua terasa begitu cepat. Rupanya kakak-kakak kelas didepan itu sedang mengumumkan nama-nama calon anggota OSIS Witchy School of Art. Tepat ditengah Bukit Hijau, ada sebuah botol yang akan mengeluarkan kembang api. Kembang api tersebut membentuk nama-nama calon anggota OSIS diatas sana. Persis seperti pembagian kelas beberapa hari yang lalu.
            Ify, Sivia, dan Oik hanya menopang dagu dengan mata hampir terpejam sampai ketika.....
            “Dari kelas kedelapan..”
            “Alvin Jonathan Sindunata,”
            “Alyssa Saufika Umari,”
            Ify terkaget-kaget melihat namanya dibentuk oleh kembang api diatas sana.
            “Oik Cahya Ramadlani,”
            Oik menegakkan tubuhnya. Kantuknya mendadak hilang melihat namanya muncul.
            “Sivia Azizah.”
            Sivia mengucek matanya beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Ketiganya lantas saling pandang dengan wajah terkejut masing-masing. Ketiganya lalu menggeleng tak mengerti dengan mata disipitkan, dan...
            “AAAARGH!!!” teriak ketiganya sebal.
            “Ulah siapa ini?!” pekik Oik tak terima.
            “Kita bertiga nggak mau jadi anggota OSIS!” sahut Sivia setelahnya.
            Ify terdiam, kembali mengingat perkataan Debo. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki dibawah pohon akasia itu. Ify melihatnya tersenyum penuh arti. Oh, jadi ini apa yang dimaksud Kak Debo kemarin malam..

**

            Istirahat kali itu, Ify menemani Keke ke cafetaria. Keke ingin membeli beberapa camilan dan menemui kakaknya disana. Begitu keduanya menginjakkan kaki di cafetaria, Keke langsung bergegas membeli camilan dan Ify duduk pada salah satu set meja makan yang terletak ditengah-tengah cafetaria.
            Ify menopang dagunya dengan tangan kanan dan mengedarkan pandangan kesetiap sudutcafetaria. Rupanya ramai juga tempat ini ketika istirahat. Maklum saja, ini pertama kalinya Ify kemari diluar jam lunch dan dinner.
            “Nih,”
            Tiba-tiba saja Ify merasakan dingin dipipinya. Ia mendongak dan mendapati Keke tengah menempelkan sekotak susu fermentasi rasa vanilla dipipinya. Ify menerimanya dan kemudian Keke duduk.
            “Aku sudah membeli banyak camilan untuk kita. Mungkin nanti kita ada jam kosong karena Madam Winda nggak masuk hari ini.” Ujar Keke setelah menelan roti bolunya.
            Ify menusukkan sedotan pada kotak susu tersebut dan meminumnya sedikit. “Benarkah? Untung saja, aku belum terlalu hafal dengan not-not balok menyebalkan itu.”
            “Ya, aku juga.” Keke kembali menggigit roti bolunya.
            “Kita masih akan terus disini atau kembali ke kelas?” tanya Ify setelah melihat Keke menghabiskan kue bolunya.
            “Tunggu sebentar. Aku, kan, sudah janji akan mengenalkan kamu dengan kakakku. Sebentar lagi kakakku kesini.” Keke membuka tas plastik berisi camilan.
            “Eh!” Tangan Ify mencegah Keke yang akan mengambil satu lagi camilan dari dalam tas plastik. “Sudah, jangan dihabiskan! Katanya untuk camilan kita waktu jam kosong nanti. Bagaimana, sih?”
            Keke hanya mengangguk cuek dan mencomot sebungkus roti bolu lagi. Ify menggeleng-geleng melihat temannya. Ify tidak akan heran mengapa pipi Keke sebulat itu begitu mengetahui bahwa Keke senang sekali makan. Ify pun kembali menopang dagunya.
            “Keke!”
            Ify dapat merasakan Keke yang beranjak berdiri. Begitu Ify melayangkan pandangan pada Keke dan kakaknya, rupanya keduanya sedang berpelukan sehingga tidak memungkinkan Ify melihat wajah kakaknya.
            “Duduk sini, Kak.” Keke beranjak duduk dan kebetulan kakaknya duduk dihadapan Ify.
            Akhirnya Ify dapat melihat wajah kakak Keke. Ify menahan napasnya saat itu juga.
            “Jadi ini yang namanya Ify?” tanya laki-laki itu.
            Keke mengangguk. “Iya, Kak. Ini yang aku mau kenalkan sama kakak.”    
            “Jadi kamu, ya, yang kemarin sore salah kirim pesan?” tanya laki-laki itu dengan menahan senyum.
            Ify tersenyum kikuk. “Iya, Kak. Jangan-jangan kakak, ya, yang menerima pesan itu?”
            “Ya.” Lelaki itu pun tertawa.
            “Lho? Pesan apa? Kalian sudah kenal?” tanya Keke bingung.
            “Belum.” Ify menyahut. “Kakak ini... yang membantu aku cari buku di library juga, kan?”
            Laki-laki itu mengangguk. “Kamu masih ingat juga ternyata.”
            “Bagaimana aku nggak ingat? Aku belum sempat berterima kasih sama kakak.” Ify tersipu menyadari kebodohannya.
            “Nggak apa-apa,” lelaki itu tersenyum maklum.
            “Kalian sudah berkenalan, belum?” tanya Keke yang dijawab gelengan kepala dari keduanya.
            Keke lantas menarik tangan kanan Ify yang berada dibawah meja dan menarik tangan kakaknya yang sudah berada diatas meja. Keke menautkan kedua tangan itu untuk saling berjabat dengan nyengir lebar.
            “Ayo, kenalan!” perintahnya.
            “Aku Ify, Kak,” Ify tersenyum kecil.
            “Hay, Ify. Aku Rio.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SESUATU YANG BARU [05] : Tentang Sivia

            Sivia baru saja tiba di rumah pohonnya. Ketika itu, Ify dan Oik sedang berbincang heboh seraya saling melempar bantal. Lalu, tiba-tiba saja, kepala Sivia muncul dari pintu rumah pohon mereka. Setelahnya, Sivia pun bergegas menuju ranjangnya dan langsung mengehempaskan badan, tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.

            Oik kembali melemparkan sebuah bantal ke arah Ify. Ify pun menengok. Oik menunjuk Sivia dengan dagunya, Ify otomatis mengerti dan membalikkan tubuhnya pada Sivia.

            “Baru selesai berlatih, Siv?” tanya Ify, hanya terdengar sebuah gumaman tak jelas dari Sivia dan anggukkan samar gadis berambut pendek itu.

            “Sudah makan malam?” tanya Ify lagi, tak terdengar jawaban, Sivia menggeleng perlahan.

            Oik terlonjak kaget. Gadis berbehel itu pun segera berdiri dan berkacak pinggang menatap Sivia, “Sudah minum obat?” tanyanya dengan lantang.

            Sivia berbalik, menatap Ify dan Oik bergantian secara sekilas dan kembali menutup wajahnya dengan selimut, “Belum.” gumamnya.

            “Lalu, kenapa tidak minum obat sekarang?” pekik Oik.

            Sivia menurunkan selimut dari wajahnya. Ia ambil sebuah bantal dan ia lemparkan tepat di wajah Oik, “Bagaimana, sih, kamu?! Kan, tidak boleh minum obat kalau belum makan!”

            Ify menutup telinganya ketika mendengar pekikan Oik dan Sivia, “Sssstt!! Ya sudah, makan sekarang saja, Siv..”

            “Aku sudah mengantuk!” jawab Sivia, pendek.

            Ify dan Oik hanya mampu berdecak menghadapi perilaku Sivia. Sivia langsung tenggelam dalam selimutnya dan tertidur, tidak menghiraukan Ify dan Oik yang khawatir akan keadaannya. Perlahan, Ify dan Oik dapat memaklumi perilaku Sivia yang cenderung menyebalkan itu. Mungkin karena gadis itu terlampau lelah.

^^^

            Pagi-pagi sekali, keributan jelas terdengar dari dalam kamar mandi. Mulai dari suara gemericik air dari shower, bunyi benda-benda yang terjatuh, dan suara melengking seorang gadis yang sedang mengatur temperatur showernya. Ya, dia Sivia. Ia sudah bangun pagi buta tadi.

            Beberapa menit kemudian, ketika sinar sang mentari baru saja menyembul masuk ke dalam rumah pohon, Sivia keluar dari dalam kamar mandi dengan sudah mengenakan seragamnya.

            Sivia pun bergegas menuju meja belajarnya dan menyiapkan keperluannya bersekolah dengan cepat. Lagi-lagi, banyak barang berjatuhan karenanya. Dan karenanya, Ify terbangun dengan kaget. Sivia sukses membangunkan sang ratu tidur itu hanya dalam sekejap.

            “Sivia? Sedang apa?” tanya Ify, matanya belum terbuka sempurna ketika itu.

            Sivia mengedik padanya beberapa saat dan kembali sibuk dengan keperluan sekolahnya, “Mau cepat-cepat ke kelas. Latihan lagi sama Aren, Agni, Irsyad, dan Alvin.” katanya.

            Karena penasaran, dan karena Sivia yang berdiri membelakanginya, Ify menyibak selimutnya dan berdiri lalu melangkah ke arah meja belajar Sivia. Sebelumnya, ia telah menggoyang-goyangkan kaki Oik agar gadis mungil itu juga terbangun. Sadar akan Oik yang mulai beranjak dari mimpinya, Ify kembali melangkah menuju tempat Sivia saat ini.

            “Nah! Aku duluan, Fy, Ik!”

            Baru saja Ify membuka mulutnya untuk kembali bertanya, Sivia sudah berbalik ke arahnya seraya menggendong tasnya. Ify menatapnya bingung. Tepat ketika Sivia telah sampai di bawah sana, Oik menyentuh pundak Sivia dengan salah satu alis terangkat.

            “Sivia, kok, tumben sudah berangkat?” tanya Oik.

            Ify menggeleng tak mengerti seraya mengangkat bahunya, “Ga tau.” Ify tak sengaja menengok pada American breakfast milik Sivia yang masih utuh, “Sivia ga sarapan?!” desahnya.

            Oik menggeleng. Ia pun bergegas menuju jendela dan membukanya. Terlihat Sivia yang belum jauh dari rumah pohonnya, “SIVIA! GA SARAPAN SAJA DULU?” teriak Oik.

            Sivia berbalik dan mendongak menatap Oik. Ia menggeleng pelan, “GA USAH!”

            Sebelah alis Oik kembali terangkat, “GA MINUM.....” Oik sengaja menggantungkan kata-katanya.

            Sivia terlihat bingung untuk beberapa detik. Lalu akhirnya ia kembali menggeleng dan tersenyum tipis kepada Oik, “GA USAH. I’LL BE FINE, IK.” teriak Sivia, lagi.

^^^

            Begitu sampai di Kelas Seni Suara, Sivia mendapati keempat teman sekelompoknya tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Aren dan Agni yang sedang melahap American breakfastnya. Irsyad dan Alvin yang tengah berkutat dengan lima kertas bertuliskan lirik lagu Jet Lag.

            “Hay!” sapa Sivia ketika ia baru saja duduk di antara Aren dan Irsyad.

            “Eh, Sivia..” sapa Agni balik, ketika ia baru saja selesai mengunyah omelettenya.

            Sementara Aren, ia hanya mengangkat tangan kanannya sekedar untuk berhigh five dengan Sivia. Sivia menyambutnya dengan tertawa lebar.

            “Sudah.. Lanjutkan saja dulu sarapannya, Ren, Ag.” kata Sivia, ketika ia melihat kedua temannya itu baru saja membuka mulut lagi untuk mengobrol dengannya.

            Aren dan Agni mengangguk. Sivia lalu beralih pada Irsyad dan Alvin. Keduanya masih saja sibuk dengan kertas yang sudah dicoret-coret untuk pembagian suara dll. Sivia menepuk pundak Irsyad dan ikut melongok pada kertas-kertas itu.

            “Sudah selesai pembagiannya?” tanya Sivia, masih terpaku pada kertas yang digenggam Irsyad.

            Alvin dan Irsyad mengangguk. Sivia pun mengangguk mengerti, “Kertasku yang mana?” tanya Sivia, tangannya mengobrak-abrik ketiga kertas yang tercecer di depan Irsyad dan Alvin.

            “Yang ini..” Sivia mendongak dan tersenyum lebar ketika ia mendapati Alvin tengah menyodorkan sebuah kertas.

            Sivia menerimanya, “Merci..”

^^^

            “Dan kelompok terakhir yang akan maju adalah Agni and friends..” ucap Madam Eva.

            Agni menghirup udara sebanyak-banyaknya. Akhirnya, ia pun berdiri. Diikuti oleh Sivia, Aren, Irsyad, dan Alvin. Kelimanya berjalan menuju depan kelas. Pertama-tama, kelimanya berbaris sejajar memanjang menghadap teman-temannya dengan saling bergandengan tangan. Lalu, sedikit membungkuk untuk member hormat. Dan kemudian, siap pada posisi masing-masing.

What time is it? Where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waiting for the phone to ring

It’s getting, lonely living upside down
I don’t even wanna be in this town
Trying to figure out the time zones
Making me crazy

You say good morning when it’s midnight
Going out of my head alone in this bed
I wake up to your sunset, and it’s driving me mad
I miss you so bad and my heart, heart, heart is so jet lagged, so jet lagged

What time is it? Where you are?
Five more days and I’ll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone

I’ve been keeping busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Trying to figure out the time zones
Making me crazy

You say good morning when it’s midnight
Going out of my head alone in this bed
I wake up to your sunset, and it’s driving me mad
I miss you so bad and my heart, heart, heart is so jet lagged, so jet lagged

I miss you so bad
I wanna share your horizon
And see the same sun rising
Turn the hour hand back to
When you were holding me

You say good morning when it’s midnight
Going out of my head alone in this bed
I wake up to your sunset, and it’s driving me mad
I miss you so bad and my heart, heart, heart is so jet lagged, so jet lagged

(Jet Lag – Simple Plan ft Natasha Bedingfield)

            Tepukan tangan mulai terdengar. Semakin bergerumuh dengan seiring berakhirnya lagu yang mereka berlima bawakan. Madam Eva pun ikut bertepuk tangan dan tersenyum tipis. Mereka kembali saling bergandengan tangan dan sedikit membungkuk. Tepuk tangan kembali terdengar. Kelimanya tersenyum lebar dan kembali duduk.

            “Thank God! Kita bisa!” kata Alvin, setengah tak percaya.

            Sivia hanya tersenyum. Perlahan tapi pasti, sakit mulai menjalari lengannya –yang didiami tumor itu- dan juga kepalanya. Pandangan Sivia mulai kabur, ia meremas tangan Agni yang –kebetulan- berada di dekatnya. Hingga akhirnya... Gelap.

            “Madaaam! Sivia pingsaaan!” teriak Agni.

^^^

            Madam Eva dan sang kepala sekolah baru saja tiba di rumah sakit tempat Sivia biasa check up. Dua orang suster segera memindahkan Sivia ke sebuah bed dan mendorongnya menuju ruang periksa. Madam Eva dan sang kepala sekolah menunggu di luar dengan perasaan khawatir.

            Beberapa menit kemudian, seorang dokter laki-laki yang masih cukup muda pun keluar lalu menghampiri keduanya, “Sivia dehidrasi. Kurang istirahat juga. Tapi perlu ada serangkaian tes yang harus ia jalani dan mengharuskan ia untuk opname beberapa hari.” Jelas dokter tersebut, tanpa ditanya.

            “Tapi tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan, kan, Dok?” tanya Madam Eva.

            Dokter itu menggeleng, “Tidak. Tenang saja. Kalian bisa kembali ke sekolah. Biar nanti saya yang mengabari orang tuanya.”

            Madam Eva dan sang kepala sekolah mengangguk. Keduanya pun berjabat tangan dengan sang dokter dan berlalu setelahnya.

^^^

            Perlahan, kelopak mata Sivia mulai terbuka. Ketika itu, dua orang suster sedang ada bersamanya. Seorang suster yang memasang infusnya, dan seorang lagi yang sedang membereskan peralatan pemeriksaan.

            Sivia menggeram kecil ketika menyadari ia telah berada di rumah sakit. Suster yang telah selesai memasang infusnya pun tersenyum padanya.

            “Kamu dehidrasi, Sivia..” katanya.

            Setelahnya, dua orang suster itu pun meninggalkannya. Selang beberapa menit, seorang dokter masuk untuk menengok keadaan Sivia. Sivia terlihat agak bingung ketika melihat dokter itu, bukan dokter yang biasa menanganinya.

            “Dokter Wirya sudah dipindah tugaskan ke rumah sakit lainnya,” kata dokter itu. Ia tersenyum lembut pada Sivia, “Saya dokter barumu. Gabriel.” Dokter Gabriel mengulurkan tangannya pada Sivia.

            Sivia mengangguk dan membalas uluran tangan dokter barunya itu dengan senyuman tipis, “Saya Sivia. Kalau boleh saya tau.. Kenapa saya bisa ada di sini, Dok?”

            Gabriel tersenyum. Ia mengambil sebuah kursi plastik yang tak jauh darinya dan meletakkannya tepat di samping bed Sivia. Ia dudukki kursi itu, “Panggil saya Gabriel saja. Saya dokter baru di sini.”

            “Iya, tapi saya sudah pernah melihat kamu bersama Dokter Wirya..” seru Sivia.

            Gabriel menjentikkan jarinya, “Kamu masih ingat rupanya. Dan, oh ya. Soal kamu yang telah berada di sini, tadi dua orang dari sekolahmu membawamu ke sini dalam keadaan pingsan. Tapi mereka berdua sudah kembali ke sekolahmu. Tanpa mengetahui penyakitmu.”

            Sebelah alis Sivia terangkat, “Lalu?”

            Mimik wajah Gabriel berubah, “Ada berita buruk.”

            “Apa?” tanya Sivia lagi.

            Gabriel menatap Sivia dalam. Seolah-olah itu adalah salah satu cara paling ampuh untuk menguatkan hati seseorang, “Saya baru saja melihat hasil tes yang baru saja kamu jalani. Dan hasilnya..... Buruk.”

            “Seburuk apa, dok... Eh, maksud saya... Seburuk apa, Gab?” Sivia masih saja sempat tersenyum.

            “Tumor di lenganmu itu... Telah berubah menjadi kanker. Beberapa centi tulangmu pun sudah hampir lapuk karena kanker itu. Jadi, kamu harus menjalani operasi dalam beberapa hari kedepan.”

            Sivia sudah menutup mulutnya dengan tangan. Ia terlampau kaget dengan berita yang baru saja ia dengar. Badannya mulai bergetar hebat karena menahan tangis.

            Gabriel jadi serba salah. Ia hanya mempu menggenggam tangan kiri Sivia erat-erat, “Tenang. Besok sore kamu sudah dioperasi. Tulang lenganmu yang sudah lapuk itu akan kami ganti dengan tulang dari panggulmu.”

            “Lalu? Bagaimana dengan panggulku?” tanya Sivia dengan suara bergetar.

            “Panggulmu akan baik-baik saja. Tulang di sana nanti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Karena ini merupakan operasi besar, setelah operasi kamu harus benar-benar bed rest selama satu hari penuh.”

            Sivia mengangguk mengerti. Getaran tubuhnya pun mulai berangsur menghilang. Redaman isakannya juga sudah mulai tak terdengar. Gabriel kembali manatpnya dalam dan tersenyum.

            “Kamu tidak mau memberitahu orang tuamu dan kedua temanmu itu?” tanyanya.

            Sivia mengangguk saja.

^^^

            Pagi-pagi sekali, Sivia sudah selesai membersihkan badannya. Sarapan yang telah disediakan oleh rumah sakit pun langsung ia lahap. Begitupula obat-obatan yang diperuntukan baginya. Pukul tujuh tepat, Sivia sudah selesai melahap semuanya.

            Sivia kembali berbaring di bednya. Tangan kanannya terulur untuk mengambil sebuah apel merah yang tak jauh darinya. Ia memakan apel itu, tanpa mengupas ataupun memotong-motongnya terlebih dahulu.

            Tiba-tiba saja, terdengar ketukan dari luar sana. Beberapa detik kemudian, kepala seseorang menyembul dari luar. Gabriel. Sivia tersenyum lebar padanya. Gabriel pun masuk dan menghampiri Sivia.

            “Ayo, cepat mandi!” perintah Gabriel.

            “Sayang sekali, dokter.. Aku sudah mandi,” balas Sivia, lalu kembali menggigit apelnya.

            “Ya sudah.. Ayo makan, lalu minum obat.” perintah Gabriel lagi.

            Sivia meliriknya dan tersenyum mengejek, “Sudah juga,”

            Gabriel terlihat kaget. Ia hanya tersenyum samar, “Baiklah, baiklah. Cepat habiskan apelmu karena sebentar lagi aku akan mengajakmu berkeliling rumah sakit.”

            Sivia tiba-tiba saja mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya berbinar, “Benar? Oke!”

            Dengan cepat, Sivia menghabiskan apelnya. Gabriel tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Setelah itu, Sivia pun turun dari bednya dan mengenakan sebuah sandal yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.

            “AYO!!” ajak Sivia, dengan bersemangat.

            Gabriel mengernyit bingung melihat Sivia yang sudah berdiri di hadapannya. Dan itu membuat Sivia semakin kesal. Memangnya tadi siapa yang mengajaknya berkeliling rumah sakit? Dan sekarang, siapa yang membuat rencana itu terhambat?

            “Kenapa lagi, Gabriel?” Sivia merengek, “Ayo kita berkeliling rumah sakit!” Sivia sampai menarik-narik lengan Gabriel karenanya.

            “Kamu mau berkeliling dengan jalan kaki? Serius?” tanya Gabriel.

            Sivia melengos, “Ya iya, Gab! Mau bagaimana lagi? Masa iya kamu menggendongku?!”

            Gabriel gelagapa, “Bukan! Bukan itu maksudku! Kamu pakai kursi roda!”

            Sivia melotot kaget. Lalu, Gabriel mengambil sebuah kursi roda yang sedari tadi berada di sudut ruang rawat Sivia. Gabriel mendorongnya menuju tempat Sivia terkaget-kaget.

            “Tunggu apa lagi? Katanya mau berkeliling rumah sakit..” goda Gabriel.

            Sivia cemberut lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “Kenapa harus pakai kursi roda, sih?!”

            “Sudah. Duduk saja. Mau jalan-jalan ga?” ujar Gabriel.

            Sivia melengos malas untuk yang kedua kalinya. Tapi akhirnya, ia duduk juga di atas kursi roda itu. Gabriel tertawa. Gabriel pun mendorong kursi roda tersebut mengelilingi rumah sakit. Menjelajahi setiap sudut salah satu rumah sakit terbaik itu bersama seorang pasien barunya.

            “Itu apa, Gab?” tanya Sivia, tangannya menunjuk sebuah pondok bamboo kecil yang terletak di tengah-tengah salah satu taman rumah sakit.

            Gabriel mengikuti arah jemari Sivia, “Tempat main anak kecil. Biasanya pasien anak-anak suka bermain di situ ketika sore hari.”

            “Kalau pagi-pagi begini, pasien anak-anak biasanya di mana?” tanya Sivia, ia mendongak menatap Gabriel.

            Gabriel terlihat berpikir sebentar, “Mungkin mereka ada di perpustakaan. Tepat di samping kantin. Kamu mau ke sana?” tawarnya.

            Sivia mengangguk bersemangat, “Boleh! Ayo kita ke sana! Tapi nanti traktir aku di kantin, ya, Gab..” bujuk Sivia, Gabriel mengangguk saja.

^^^

            Gabriel membuka pintu perpustakaan dan mendorong kursi roda Sivia masuk. Sivia langsung tersenyum lebar ketika melihat sekelompok anak kecil sedang menggambar di salah satu sudut perpustakaan yang dihampari oleh karpet berwarna merah marun.

            Sivia pun menggerakan kursi rodanya menuju sekelompok anak itu. Gabriel membiarkannya. Tepat ketika Sivia telah sampai di sana, Gabriel berangsur duduk di salah stau kursi yang dekat dengan rak-rak berisikan buku pengetahuan. Gabriel mengambil salah satunya dan membacanya.

            Sivia perlahan turun dari kursi rodanya dan duduk di samping seorang anak kecil yang sedang menggambar dengan mimik serius.

            “Gambar apa, dek?” tanya Sivia, ia mengintip gambaran anak kecil itu.

            Anak kecil itu mengedik ke arah Sivia dan tersenyum lucu, “Ini gambal lumah cakit, kakak.”

            Sivia kembali tersenyum dan ikut larut dalam dunia mereka. Hingga tanpa disadarinya, hari sudah beranjak siang. Kalau tidak karena Gabriel yang menghampirinya dan mengajak makan siang, mungkin ia akan di sini terus bersama anak-anak kecil itu.

            “Kamu traktir aku, lho, Gab. Tadi kamu sudah janji!” seru Sivia, matanya memelototi setiap makanan yang tersaji di kantin rumah sakit itu.

            Gabriel mengangguk, “Ya sudah. Kamu mau makan apa?” tanyanya.

            Sivia berdecak pelan, bingung memilih makanan, “Terserah, deh. Aku bingung mau piluh yang mana. Pilihkan yang paling enak saja.”

            Lagi-lagi Gabriel hanya mengangguk. Ia menyebutkan beberapa nama makanan kepada sang pramusaji dan, kemudian, mendorong kursi roda Sivia ke sebuah meja yang kosong. Beberapa menit kemudian, makanan sudah tersaji di meja mereka. Mereka melahapnya ketika itu juga.

^^^

            Begitu Sivia membuka matanya sore itu, Ify dan Oik sudah berada di samping bednya. Kedua sahabatnya itu sedang tersenyum lebar kepadanya. Sivia tertawa. Apalagi ketika keduanya menyodorkan sebuket mawar merah kepadanya.

            “Kalian ngapain bawa mawar, sih?” tanya Sivia, disela-sela laju tawanya.

            Oik menggeleng tak tau, “Tanya Ify saja. Tadi dia yang memaksa bawa mawar buat kamu.”

            Sivia memberikan tatapan menyelidiknya pada Ify. Ify hanya tersenyum lebar dengan jari telunjuk dan tengah yang terangkat, “Sorry, Siv. Habis aku ga tau bunga apa yang biasa dibawa untuk orang yang lagi sakit.”

            “Dasar Ify,” lirih Sivia, kepalanya menggeleng pelan, “Selalu ga jelas.” lanjutnya.

            Ify melotot, “Apa, Siv? Selalu ga jelas?” dan dengan brutalnya, Ify mencubiti lengan Sivia hingga memerah dan Sivia yang tertawa nyaring sekali.

            “Ada apa ini?” suara seseorang terdengar menggema di ruang perawatan Sivia, ketiga gadis itu langsung menengok ke sumber suara.

            Ify dan Oik hanya saling pandanga dengan tatapan bingung. Sedangkan Sivia melambaikan tangannya pada laki-laki di ambang pintu tersebut, “Gab! Sini!” oh, Gabriel.

            Gabriel berjalan ke arah ketiganya dengan senyum mengembang menatap Ify dan Oik. Ify dan Oik menyikut Sivia dan bertanya kepada Sivia siapakah laki-laki itu dengan gerakan bibir. Sivia hanya mengedik pada Gabriel, tanpa memberikan penjelasan apapun.

            “Halo! Saya Gabriel, dokter barunya Sivia.” ujar Gabriel, menyalami Ify dan Oik bergantian. Ify dan Oik mengangguk mengerti.

            Gabriel pun beralih pada Sivia, “Suster akan ke sini sebentar lagi. Kamu operasi 30 menit lagi, ya?”

            “Oke,” Sivia menganggung, “Ify dan Oik bisa menunggu di ruang tunggu, kan?” tanyanya balik, Gabriel pun mengangguk.

            Tepat saat itu juga, dua orang suster memasukki ruang rawat Sivia. Salah satunya pun mulai menyuntikkan obat bius untuk Sivia. Perlahan, rasa kantuk mulai menyergap Sivia hingga gadis itu tertidur pulas. Rombongan itu pun mendorong bed Sivia masuk ke dalam ruang operasi dan menyisakan Ify dan Oik di ruang tunggu.

^^^

            Keesokan harinya, ketika seorang suster sedang memeriksa infuse Sivia, Sivia terbangun. Suster itu pun segera memeriksa Sivia. Beruntung, operasi kemarin berjalan lancer dan tidak terjadi komplikasi dalam tubuh gadis itu.

            “Sarapan, Sivia?” tawar suster itu.

            “Iya, sus. Aku lapar.” jawab Sivia dengan lirih.

            Suster itu pun bergegas keluar untuk mengambilkan makanan. Lima menit tak kunjung kembali, Sivia agak sedikit menegakkan tubuhnya. Sayangnya, badannya terlalu lemah untuk melakukannya sendirian. Tepat saat itu, seseorang berangsur masuk dan berteriak kaget ketika melihat Sivia berusaha untuk duduk.

            Sivia menoleh sebal pada orang tersebut, “Ini masih pagi, Gabriel! Jangan berteriak seperti itu!” dumelnya.

            Gabriel berdecak. Ia segera meletakkan sebuah nampan berisikan menu makanan Sivia pagi ini di atas sebuah meja dan menghampiri bed Sivia, “Kamu ini masih terlalu lemah, Sivia. Kamu, kan, bisa panggil suster.” kata Gabriel, seraya membantu Sivia untuk duduk.

            “Terlalu lama! Suster yang mau ngambilkan aku makanan saja ga kembali-kembali dari beberapa menit yang lalu!” sewotnya.

            Gabriel kembali mengambil nampan itu dan duduk di kursi samping bed Sivia, “Ini makanan kamu,” Gabriel mengacungkannya pada Sivia, “Suster tadi dipanggil dokter senior, makanya aku langsung ngambil alih nampan makanan kamu.”

            Sivia melunak, ia menatap Gabriel dengan datar, “Ya sudah. Taruh bed saja makananku. Aku mau makan. Lapar!” desisnya.

            Kening Gabriel terlihat berkerut, “Mau makan sendiri? Lupa kalau kamu masih terlalu lemah? Biar aku yang suapi!”

            “Genit! Aku bisa makan sendiri, Gab!” ujar Sivia, ia mencubit keras-keras lengan Gabriel.

            Gabriel meringis kesakitan dan meniup-niup bekas cubitan Sivia dengan sesekali melirik melas pada gadis yang menatapnya tanpa ekspresi itu, “Siapa yang genit, Siv? Suster tadi bilang ke aku kalau kamu belum boleh makan sendiri. Rencananya, ya, suster tadi yang mau suapi kamu. Tapi ternyata--,”

            “Oke, oke. Fine! Ayo, suapi aku sekarang. Aku lapar!” Sivia mengangkat kedua tangannya, menghentikan laju ucapan Gabriel.

            “Nah!” Gabriel mengacungkan jempolnya pada Sivia dan tersenyum lebar.

            Gabriel pun perlahan menyuapi Sivia. Tentu saja dengan Sivia yang tak mau berhenti berbicara tentang apapun kalau saja Gabriel tidak kembali menyendokkan makanan untuknya. Dan sekarang, Gabriel tau seberapa cerewetnya pasien barunya ini.

^^^

            Jam makan malam telah tiba. Seluruh siswa-siswi Witchy School of Art pun berbondong-bondong menuju Caffetaria. Begitu pula dengan Ify dan Oik. Keduanya menyeruak di antara ratusan siswa-siswi lainnya dengan terburu-buru. Begitu sampai di meja mereka, keduanya pun duduk dan mengatur napas terlebih dahulu.

            “Oik? Kenapa?” tanya Cakka, begitu menyadari gadis mungil itu mengatur napas dengan diliputi keresahan luar biasa.

            Nadya menyenggol pelan perut Cakka. Cakka menengok padanya dan meringis. Sekarang, ganti Nadya yang bertanya, “Ada apa, Fy?”

            “Kita berdua.. Hhh.. Lagi bingung.. Hhh..” ujar Ify.

            “Kita.. Hhh.. Ga bisa.. Hhh.. Jemput Sivia.. Hhh..” lanjut Oik.

            “Terus, siapa yang jemput Sivia di rumah sakit?” tanya Zevana.

            “Ik, kita ada tugas kelompok sama Cakka dan Nadya. Jangan lupa. Setelah makan malam.” seloroh Lintar.

            Oik mengedik pada Lintar dan mengangguk, “Iya, aku ingat. Makanya aku bilang kalau aku dan Ify ga bisa jemput Sivia malam ini.”

            Agni mengaduk jusnya dengan bingung, “Lalu, Ify kenapa juga ga bisa jemput?”

            “Aku belum menghafalkan not-not balok sama sekali. Ini tugas. Apalagi not-notnya susah dihafal!” dumel Ify.

            Cakka menatap Oik, “Kamu, kan, tau kalau aku dan Nadya juga ga bisa jemput Sivia. Kita berdua dan kamu serta Lintar ada tugas kelompok.”

            Oik mengangguk, “Iya, aku tau..” lirihnya.

            Zevana memandang Oik dan Ify bergantian dengan tatapan memohon maaf, “Maaf, aku juga ga bisa bantu kalian berdua. Ada korea yang harus aku hafalkan untuk besok.”

            Ify pun tersenyum untuk sekedar menenangkan Zevana dari rasa bersalahnya, “Iya, aku tau. Kelasmu sangat sibuk. Ga apa-apa, kok. Mungkin yang lainnya bisa menggantikan aku dan Oik untuk jemput Sivia.”

            “Maaf, Fy, Ik.. Aku belum selesai mengerjakan tugas. Maaf banget.” kata Irsyad.

            “Aku juga belum..” Agni ikut mengiyakan perkataan Irsyad.

            Alvin meletakkan sendok serta garpunya dan menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi, “Kebetulan tugasku sudah selesai. Jam berapa aku bisa jemput Sivia?” tanyanya. Sungguh, nadanya benar-benar datar.

            Ify melotot tak percaya, “Bener, Vin? Sungguh? Oke! Kamu bisa jemput Sivia setelah makan malam selesai. Kereta kudanya ada di gate depan. Aku dan Oik sudah izinkan ke kepala sekolah, kok.”

            Alvin hanya mengangguk.

            “Makasih, Vin! Thanks! Merci! Sankyu! Xie xie! Matur nuwun! Hatur nuhun!” Oik berkata dengan hebohnya seraya mengatupkan kedua telapak tangannya rapat-rapat di depan dada dan membungkuk dalam-dalam pada Alvin.

            Nadya, Zevana, Ify, Agni, Lintar, dan Irsyad tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sedangkan Alvin, menahan tawanya agar tidak melaju keluar karena tindakan Oik ini. Cakka? Menatap gadis mungil itu dengan senyum yang amat sangat tipis.

^^^

            Alvin turun dari kereta kuda milik sekolahnya dan berjalan masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu. Ia mengikuti petunjuk Oik dan Ify yang ditulis pada secarik kertas yang ia genggam. Ia mengikuti arah yang tertera di sana. Sampai akhirnya, ia tiba di dengan sebuah kamar inap dan masuk ke dalamnya.

            Alvin melongok. Ia mendapati Sivia duduk di atas bednya. Dan seorang lagi, mengenakan pakaian dokter, yang duduk membelakanginya.

            “Ehmm..” Alvin berdehem kecil.

            Sivia menengok ke arahnya dan nampak kaget. Perlahan, bibir gadis itu mulai tersenyum kikuk padanya, “Hay, Alvin! Sini!” Sivia menepuk-nepuk sebuah kursi lagi di samping sosok dokter itu.

            Alvin balik tersenyum dan berdiri di samping kursi itu, “Makasih. Tapi aku Cuma mau jemput kamu. Ify dan Oik sedang ada banyak tugas.”

            Sivia hanya mengangguk. Ia pun beralih pada sosok dokter di samping Alvin, “Gab, aku sudah boleh pulang, kan?” tanyanya.

            Gabriel mengangguk dan berangsur berdiri, “Boleh. Obatnya jangan lupa diminum. Jangan dehidrasi dan terlalu lelah lagi, ya.” pesannya, Sivia mengangguk.

            Perlahan, Sivia turun dari bednya dengan dibantu Alvin dan Gabriel. Setelahnya, Alvin merangkulnya dan membantunya berjalan mengambil tas pakaiannya. Gabriel tetap saja mengekor ke mana pun mereka berdua bergerak.

            Sivia menengok ke belakang dan tersenyum pada Gabriel dalam rangkulan Alvin, “Gab, aku pulang dulu, ya! Minggu depan, kan, jadwal check upku?”

            “Iya. Jangan mangkir lagi dari jadwal check up, Siv, kalau kamu ga mau dehidrasi dan terlalu lelah lagi!” seloroh Gabriel.

            Sivia menahan senyumnya. Gadis itu mengepalkan sebuah tangannya dan memperlihatkannya kepada Gabriel. Gabriel hanya tertawa. Disusul dengan tawa Sivia. Setelah itu, Alvin mulai menuntun Sivia untuk keluar dari ruang rawatnya, rumah sakit itu, dan masuk ke dalam kereta kuda.

            “Tadi itu siapa, Siv?” tanya Alvin.

            Sivia meliriknya sekilas, “Gabriel, dokterku.”

            “Oh,”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS