Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label obiet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obiet. Tampilkan semua postingan

LOVE WILL FIND ITS WAY [Side Story of LOVE HURTS]

            Terdengar bunyi-bunyian yang memekakkan telinga dari dalam studio. Sebuah band beraliran heavy rock sedang berlatih di dalam dengan didampingi managernya. Jam dinding telah menunjuk angka sebelas dengan jarum panjangnya dan angka satu dengan jarum pendeknya. Di luar sedang turun hujan, membuat malam itu semakin dingin.
            Bunyi-bunyi berisik berangsur hilang. Studio perlahan menjadi senyap. Keempat anggota band yang sedang naik daun itu beristirahat untuk sementara, sang manager memperhatikan dalam diam. Jadwal latihan mereka memang semakin padat menjelang konser keliling Indonesia yang mereka gelar pada pertengahan bulan nanti.
            Rockability. Itulah mereka. Sebuah band dengan empat lelaki bertampang diatas rata-rata yang tergabung didalamnya. Cakka yang sudah nyaman sebagai vocalist, Gabriel dengan bass, Ozy dengan gitar, dan Ray bersama drum. Dan keempatnya berada dibawah kuasa penuh sang manager, Ashilla–atau yang lebih akrab disapa Shilla.
            Mereka berempat sedang meminum soft drink masing-masing ketika salah satu ponsel yang tergeletak di sudut ruangan meraung-raung pertanda sebuah pesan telah masuk. Kelimanya saling lirik.
            “Biar gue yang cek.” Ray melangkah untuk mengecek keempat ponsel tersebut dan mengambil salah satunya. “Punya lo, Kka.” Ray mengacungkannya pada Cakka lalu melemparkannya.
            Cakka dengan sigap menangkap. “Thanks, Ray!”

From: Oik
Kt ptus

            “Wh–––Are you kidding me?!” Cakka memekik kaget.
            Gabriel menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Got problem, Bro?” tanyanya penasaran. Cakka hanya mengangkat salah satu tangannya dan kembali fokus memelototi layar ponsel.

To: Oik
We’re just fine n u... Why?

            “Kka?” Ozy memanggil Cakka dan tak dihiraukan sedikit pun oleh sang obyek.

From: Oik
Aq bsn sm qm

            Cakka mengacak rambutnya frustasi. Dengan segera, ia mengantongi ponselnya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas berlari ke parkiran. Ia sama sekali tak memerdulikan ketiga sahabatnya dan seorang managernya yang berteriak kencang dari dalam studio menanyakan ada apa padanya.
            Ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan ke wilayah Menteng, tempat dimana dorm Diamond –girlband Oik– berada. Hanya dalam waktu sepuluh menit –yang dalam keadaan normal Cakka harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih– ia sudah memarkirkan mobilnya asal-asalan di halaman depan dorm Diamond.
            Cakka turun dari mobilnya. Ia mengangguk sekilas pada seorang satpam paruh baya yang berjaga di pos. Dengan langkah lebar-lebar, Cakka berjalan menuju bangunan utama dorm. Tangannya menggedor pintu dengan keras.

**

            Kelima anggota Diamond sedang berada di kamar Oik di lantai dua ketika suara gedoran pintu yang dapat menulikan telinga itu terdengar. Sivia, yang sedang mengecat kukunya dengan kuteks motif leopard berwarna tosca-putih, berteriak nyaring karena cairan kuteks tersebut luntur hingga keibu jarinya.
            “Siapa, sih, malam-malam begini ngegedor pintu seperti orang kesurupan?!” Ify berkata sewot dari balik laptopnya.
            Acha melirik keempat partnernya dengan curiga, “Elo berempat nggak lagi delivery sesuatu, kan?”
            “Nggak!” Pricilla menggeleng kecil. Kemudian gadis itu kembali larut dalam majalah fashion yang ia baca.
            “Biar gue aja yang buka,” kata Oik.
            Gadis bergigi gingsul itu segera turun dari ranjangnya, mengenakan sandal boneka, dan pasti sudah keluar dari kamar ketika kakinya tidak sengaja mengantuk sebuah kotak berukuran sedang di bawah ranjang.
            Keadaan mendadak sunyi. Sivia berhenti mengoleskan kuteks kekukunya. Ify menutup laptopnya. Acha berhenti mengunyah jeruk. Pricilla meletakkan majalahnya. Oik memandang ngeri kearah boks tersebut.
            Dengan sigap, Sivia kembali mendorong boks tersebut ke bawah ranjang Oik tanpa memperhatikan kuteksnya yang masih basah.
            “Come on, Oik! Elo nggak pingin ngebuat orang kesetanan yang sedang ngetuk pintu itu makin kesetanan lagi, kan, karena elo nggak ngebukain?” Sivia mendorong punggung Oik menuju pintu kamar dan memaksa gadis itu turun.
            Oik mengangguk pelan tanpa melihat ekspresi keempatnya. Perlahan, ia pun turun. Meninggalkan keempat sahabatnya yang –tanpa mereka sadari– sedang menahan napas semenjak kaki Oik tidak sengaja mengantuk boks itu.
            Oik terlebih dahulu mengintip sesosok bayangan hitam yang sedang menggedor pintu dormnya itu melalui kaca jendela. Sialnya, lampu depan sudah padam semua dan Oik hanya bisa melihat siluet itu. Siluet laki-laki.
            Oik membuka pintu. Ia tersentak kaget begitu mendapati Cakka tengah berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Oik segera menutup kembali pintunya. Wajahnya pucat pasi. Tapi sayangnya, tangan kokoh Cakka berhasil mencegah Oik melakukannya.
            “Buka, Oik!” suara Cakka terdengar frustasi di luar sana.
            “Nggak! Kamu ngapain malam-malam begini ke dorm?” Oik menyahut dari dalam.
            “Arrrggghh!!” Cakka mendorong pintu dorm Oik hingga membuat gadis mungil itu agak mundur. “For God’s sake, Oik! Buka pintunya! Kita perlu bicara.”
            Oik menggeleng dengan peluh yang sudah menetes dari dahinya. “Nggak mau. Sebaiknya kamu pulang aja.”
            “Please, Oik...” Cakka berkata pelan. “Sekali ini aja. Setelah itu, aku nggak akan ganggu kamu lagi.”
            “Janji?” tanya Oik dengan suara bergetar.
            Cakka memejamkan matanya. Mengapa suara Oik terdengar bergetar? Cakka memijat keningnya membayangkan ia akan menghabiskan sisa umurnya tanpa bayangan Oik. “IYA! OKE!” Cakka menggeram.
            Perlahan, Cakka merasakan pintu yang ia dorong tak lagi ditahan dari dalam. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cakka dapat melihat wajah Oik yang pucat pasi dari balik daun pintu. Dengan tak sabar, Cakka mendorong pintu tersebut supaya terbuka lebar. Oik beringsut masuk ke dalam dorm.
            “Why were you doing this to me?” tanya Cakka dengan suara memohon.
            “Doing what?” tanya Oik balik dengan terbata-bata.
            “Look at me, Oik!” Cakka mengangkat dagu Oik agar pandangan mereka bertemu. “Kenapa, Ik?” tanya Cakka lagi, terdengar seperti suara orang kesakitan.
            Oik kembali melarikan pandangannya ke samping. “Ak––Gue bosen sama lo.”
            Cakka jatuh terduduk dikaki Oik. Menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Setetes air mata Oik jatuh ketika melihat lelaki itu begitu tersiksa karenanya. Cepat-cepat ia hapus air mata itu sebelum Cakka melihatnya.
            Cakka mendongak menatap Oik, “Can you think about it again? I’ll wait for it. ‘Til the end of time. Just... don’t leave me. Please.” Cakka memohon.
            Oik menggeleng, tetap pada keputusannya. “Ini udah malam, Kka. Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Sukses buat konser keliling Indonesia Rockability.”
            Cakka menggeleng lesu. Oik sudah menutup pintunya keras-keras. Satu yang Cakka tak tahu, Oik juga terduduk di balik pintu. Ia tak tahu gadis itu juga sama tersiksanya dengan dirinya.
            “Ik, buka...” lirih Cakka.
            “Pulang, Kka!” bentak Oik.
            “Nggak.” Cakka menggeleng frustasi.
            “Pak satpam! Suruh dia pulang!” Oik berteriak dari dalam.
            Oik bangkit. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Ia menyeret kakinya, memaksanya menaiki tangga. Telinganya mendengar Cakka dan satpamnya yang tengah berdebat diluar. Oik semakin lemas saja.
            Begitu sampai di kamarnya, Oik langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Sivia, Ify, Pricilla, dan Acha saling pandang.
            “Tadi siapa, Ik, yang datang?” tanya Acha seraya mengusap punggung Oik dengan lembut.
            “Ca...kka...”
            Keempatnya terpekik. Sivia melongokkan kepalanya ke bawah sana melalui jendela. Mobil Cakka meninggalkan pelataran dorm. Ia mengantar kepergian Cakka dengan alis terangkat sebelah. Sivia melirik kearah ranjang Oik. Ify, Pricilla, dan Acha tengah memeluk Oik bersamaan. Sivia menatap Oik kasihan.
            “Be strong, Oik.”

**

            Keesokan paginya, Diamond bertolak menuju kantor management mereka. Mereka sampai disana sekitar pukul sepuluh pagi. Lobby kantor terlihat ramai oleh penyanyi yang diorbitkan oleh TS-Entertainment. Kelima member Diamond segera menuju hall untuk menemui manager mereka–Zahra.
            “Mbak Zahra!” sapa Pricilla ketika kelimanya baru saja memasuki hall.
            “Hey!” Zahra menengok kearah mereka berlima, menyuruh mereka untuk menghampirinya. “Sudah lama datengnya?”
            “Belum, Mbak.” Acha menjawab dengan tersenyum lebar.
            Zahra menengok pada Oik, menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan artisnya itu. “Mata kamu sembab, Ik?”
            Oik terperangah kaget mengetahui Zahra menyadari matanya yang supersembab. Ia kemudian menggeleng lemas. “Nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur aja.”
            Baru saja Zahra akan kembali bertanya macam-macam pada Oik, Sivia sudah mendahuluinya. Ia tak mau Oik gelagapan menjawab pertanyaan manager mereka. “Itu siapa, Mbak?” tanya Sivia, melirik seorang lelaki di samping Zahra.
            Oik melirik Sivia. Ia tersenyum kikuk pada Sivia. Sivia hanya mengacungkan jempolnya tak kentara. Oik menghela napasnya. Bagaimanapun juga, Oik masih agak kikuk jika berbicara dengan gadis itu. Apalagi kalau bukan karena kejadian itu?
            “Oh, iya!” Zahra seakan baru mengingat bahwa ada seseorang di sampingnya. “Ini Alvin. Penyanyi baru orbitan TS-Entertainment.”
            Alvin tersenyum pada kelima member Diamond. Kelimanya pun mulai menyalami Alvin.
            “Penyanyi solo, member boyband, apa personel band?” tanya Pricilla.
            “Kebetulan penyanyi solo.” Alvin menjawab dengan disertai senyum manisnya. Kelima member Diamond mengangguk mengerti.
            “Oik!!!” Oik mendengar suara bass yang cukup ia kenali tengah mamanggil namanya. Oik menengok ke samping dan menemukan salah satu staf TS-Entertainment telah berada di sampingnya.
            “Kenapa, Biet?” tanya Oik pada lelaki itu–Obiet.
            “Kenapa lo nggak cerita ke kita, sih, Darling?” Obiet menatap Oik dengan mata sayunya. Ia sudah menganggap Oik sebagai adiknya sendiri.
            “Cerita apa?” tanya Oik balik.
            Obiet menghela napasnya. “Gue barusan lihat acara gossip di TV. Managernya Rockability, tuh... siapa?”
            “Shilla!” jawab Sivia cepat. Ia melirik Oik dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa sama Shilla, Bang?”
            “Shilla bikin pernyataan kalau Cakka lagi frustasi, depresi, dan semacamnya. Gara-gara elo, Darling.” Obiet menatap Oik dalam-dalam. “Lo putus sama Cakka?”
            Oik memejamkan matanya. Ia sadar berita ini akan cepat menyebar. Tetapi ia tak mengira kalau akan secepat ini media mengendus hubungannya dan Cakka yang telah berakhir. Padahal baru semalam ia dan Cakka resmi putus.
            “Kamu putus, Ik? Itu yang bikin mata kamu sembab begini?” tanya Zahra was-was.
            Oik tersenyum jengah. “Padahal baru semalam gue dan Cakka putus.”
            Sivia bergerak mendekati Oik. Ia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Sivia merangkul Oik. Oik berdiri diam dalam rangkulannya. Suasana mendadak senyap karena pernyataan singkat Oik barusan.
            “Oik?” Alvin memanggil gadis itu. “Maaf sebelumnya. Mau minum hot chocolate bareng? Banyak orang bilang kalau coklat bisa menimbulkan efek tenang.”
            Oik mengangguk kikuk. Ia melepaskan diri dari rangkulan Sivia dan berjalan bersama Alvin menuju coffee shop yang terletak di lobby kantor management mereka. Keempat member Diamond lainnya beserta Zahra dan Obiet menatap kepergian Oik dengan lesu.
            “Gue makin merasa bersalah sama Oik,” ujar Sivia lirih.

**

            Sore itu Oik beserta Ify tengah menandatangani beratus-ratus lembar foto Diamond yang akan dijadikan souvenir dalam peluncuran album terbaru mereka besok. Acha, Pricilla, dan Sivia sudah membubuhkan tandatangan mereka dalam foto-foto itu. Hanya Oik dan Ify yang belum.
            “Acha, Sivia, sama Pricilla kemana, Fy?” tanya Oik.
            Ify menggeleng tak tahu. “Sivia, sih, tadi lagi keluar. Nggak tahu kalau Acha sama Prissy. Lagi molor, kali. Itu anak dua, kan, pada kebo semua.” Oik tertawa.
            Ditengah-tengah kegiatan mereka membubuhkan tandatangan, terdengar keributan kecil dari luar dorm. Keduanya mendengar jelas keributan kecil antara dua gadis tersebut karena Oik dan Ify sedang berada di ruang tamu. Sepertinya keributan kecil itu berlangsung di teras dorm mereka.
            “Siapa?” tanya Oik bingung.
            “Nggak tahu. Biar gue aja yang cek.” Ify memberikan isyarat agar Oik tetap duduk saja.
            Ify bangkit dari duduknya. Baru saja ia akan membuka pintu, pintu sudah terlebih dahulu dibuka dari luar. Tubuh Sivia menyeruak masuk. Dengan cepat, Sivia kembali menutup pintu dorm. Ify menatapnya curiga.
            “Oik––,” Sivia membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Ia bingung akan berbicara apa.
            “Apa, Siv?” tanya Oik dengan alis terangkat sebelah.
            Ify berusaha mendorong tubuh Sivia agar menyingkir dari pintu. Ify ingin sekali melihat siapakah yang kini tengah berada di teras dorm. “Itu siapa, sih, Siv?”
            Sivia makin gelagapan saja. Melihat Sivia yang tengah bingung dengan pikirannya sendiri, Ify segera mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga agar menyingkir dari pintu. Ify segera membuka pintu dorm dan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di teras dorm dengan wajah merah padam.
            Ify terkesiap begitu menyadari siapa gadis itu. Ify pun kembali menutup pintu dan berbisik pada Sivia. “Kenapa orang itu bisa ada di sini, Siv? Lo hutang penjelasan sama gue.”
            “Ada siapa, Fy, di luar?” tanya Oik penasaran.
            “Nggak tahu. Nggak kelihatan. Sivia, nih, nggak mau minggir, gue jadi nggak bisa ngebuka pintunya.” Ify pun melangkah meninggalkan Oik dan Sivia.
            “Fy! Mau ke mana?” tanya Oik lagi.
            “Ke dapur!” jawab Ify cepat. “Haus gue. Lo mau gue ambilin minum juga?”
            “Nggak usah, deh.” Oik membalas dengan berteriak.
            “Ik..” panggil Sivia pelan. “Ada yang mau ketemu sama lo.” Sivia menggigit bibirnya gugup ketika melihat ekspresi penasaran yang memancar jelas dari wajah Oik.
            “Siapa?” tanya Oik penasaran. “DiAddict? Atau OikLovers?”
            “Sepupu gue,” jawab Sivia takut-takut.
            Oik berdiri ketika Sivia mulai membuka pintu dorm. Seorang gadis masuk kemudian berdiri di hadapan Oik. Gadis itu berwajah merah padam karena marah. Ia menggenggam beberapa lembar foto yang sudah lecek karena ia genggam terlalu keras.
            “Hay, Oik..” sapanya sinis.
            “Shilla?” suara Oik terdengar bergetar karena takut. Oik pun beralih pada Sivia. Rupanya gadis itu tengah menatapnya dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa bisa ada dia di sini, Siv? Mana sepupu lo?”
            “Gue sepupunya Sivia,” ujar Shilla dengan senyum sinisnya.
            “Lo nyari Cakka, Shil? Cakka nggak di sini, kok.” Oik menatap Shilla dengan gemetar.
            “Gue nggak nyari Cakka,” Shilla berkata perlahan seraya berjalan semakin dekat kearah Oik. Wajahnya mendadak berubah sengit. Ia melemparkan lembaran foto yang ia genggam tadi tepat kearah wajah Oik. “Lihat foto itu!” teriaknya bengis.
            Oik terkesiap kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Shilla. Ia beringsut mengambil beberapa lembar foto yang terjatuh dilantai. Oik memperhatikan keempat foto itu dengan seksama.
            “Gara-gara foto itu semuanya jadi kacau, Oik!” suara Shilla mulai terdengar berbahaya.
            “Kacau...?” Oik bergumam tak mengerti.
            “Gara-gara empat foto itu RockaFriends, terutama C~LUVers, pada ngamuk di twitter! Gara-gara foto itu! Gara-gara elo!” teriak Shilla sebal.
            Oik kembali memperhatikan empat foto tersebut. Keempatnya menunjukkan gambar dirinya dan Cakka. Cakka tengah mencium pipinya dengan latar belakang Menara Petronas, Kuala Lumpur. Oik ingat betul bahwa foto itu diambil seminggu yang lalu ketika ia dan Cakka menghabiskan waktu berdua di Malaysia.
            “Gimana bisa foto-foto ini ada di twitter?” tanya Oik tak mengerti.
            “Bukan Oik yang upload foto itu di twitter, Shil!” ujar Sivia.
            Shilla menatap Sivia tajam kemudian menatap Oik dengan pandangan membunuh. “Iya, gue tahu. Cakka yang upload foto itu––,”
            “Terus kenapa elo nyalahin gue?!” teriak Oik balik dengan suara bergetar antara marah dan ingin menangis karena gadis di hadapannya itu dari dulu tak pernah menyetujui hubungannya dengan Cakka.
            “Terus gue harus nyalahin siapa? Cakka?” tanya Shilla dengan senyum meremehkan.
            “Cakka yang upload foto itu. Bukan gue. Jangan salahin gue!” teriak Oik lagi.
            Shilla menatap Oik tak suka. “Lo berani sama gue?” tanya Shilla tak suka. Tangannya melayang akan menampar Oik. Tapi sayangnya, Sivia sudah menahannya terlebih dahulu.
            “Mending lo balik aja, Shil. Lo emang sepupu gue, tapi bukan berarti gue ngedukung apapun yang lo lakuin.” Sivia menatap Shilla dingin kemudian mendorong gadis itu agar cepat-cepat angkat kaki dari dorm Diamond.
            Selepas kepergian Shilla, Oik terduduk lemas pada sofa ruang tamu dorm Diamond. Oik terisak. Sivia bergerak untuk memeluk Oik tetapi ditepis olehnya. Sivia hanya mampu menatap Oik sedih. Ify, Pricilla, dan Acha datang tak lama kemudian. Oik sama sekali tak menolak ketika ketiganya memeluknya.

**

            “Jadi gitu ceritanya,” ujar Oik, mengakhiri ceritanya.
            Alvin mengangguk mengerti. “Jadi, Sivia itu sepupunya Shilla?” ulang Alvin.
            “Iya. Dan gue masih kikuk aja kalau ngomong sama Sivia. Masih kebayang-bayang gimana waktu itu dia ngebawa Shilla ke dorm Diamond aja.” Oik tersenyum tipis. “Eh, maaf, ya. Kita baru aja kenal tapi gue udah cerita nggak penting gini ke elo.”
            “Nggak apa-apa, kali.” Alvin tersenyum maklum. “Daripada elo pendem semuanya sendirian dan akhirnya jadi gila. Iya, kan?”
            Oik tertawa kecil. “Makasih banget, Vin.”
            “Lo nggak ada niatan untuk perbaikin hubungan lo sama Sivia? Takutnya ntar malah kecium media dan bakalan ada gossip nggak jelas.”
            “Asal Sivia nggak pernah bawa Shilla ke hadepan gue lagi, sih..” Oik mengerling.

**

            Hari itu, Oik kembali menjadi bintang tamu dalam acara Hitam Putih. Bedanya, kali ini ia tidak datang bersama Diamond, namun bersama Cakka. Keduanya duduk berdampingan sementara sang host –Dedy– menatap keduanya iri.
            “Jadi, kalian kapan resmi balikan?” tanya Dedy sembari menatap Cakka dan Oik bergantian.
            “Resminya tiga bulan lalu, Om,” Oik menjawab dengan tersenyum malu-malu sehingga membuat Cakka tertawa dan menariknya kedalam pelukan lelaki itu.
            “Terus sekarang udah main tunangan aja?!” tanya Dedy kaget.
            Cakka tertawa. “Kan, aslinya kita berdua udah dari lama, Om. Cuman sempet putus aja beberapa bulan lalu. Jadinya waktu kita balikan, ya, langsung dibawa kejenjang yang lebih serius aja.”
            “Kalian berdua waktu itu putusnya kenapa, sih? Waktu itu Oik juga sempet pacaran sama Alvin, kan? Ya, meskipun sebentar doang.” Dedy kembali berceloteh.
            “Nggak, Om. Aku sama Alvin nggak pacaran, kok. Kita berdua sahabat deket. Deket banget. Sampai sekarang masih sahabatan, kok. Isu yang bilang Alvin pernah nembak Oik juga nggak bener.” Oik kembali teringat isu bahwa ia dan Alvin pacaran kemudian tertawa bingung.
            “Bukannya waktu itu temen-temen kamu dari Diamond sendiri yang bilang kalau kamu sama Alvin pacaran?” tuntut Dedy.
            “Nggak!” Oik menggeleng keras. “Bercandaan doang itu, Om. Sekarang juga Alvin udah punya cewek, kali. Jangan sebut-sebut Alvin pacarku, dong. Lagian Om Dedy nggak bisa diajak bercandaan amat. Udah tua, sih.” Studio pun kembali riuh oleh tawa penonton.
            Dedy memandang Oik keki karena telah mengatainya sudah tua. “Putus, putus. Kalian putusnya kenapa waktu itu?”
            Cakka dan Oik berpandangan penuh arti. “Itu biar jadi rahasia kita berdua aja, Om,” jawab Cakka.
            Dedy menatap kamera lalu memasang wajah jengkelnya. “Begini ini bintang tamu minta diusir. Ditanyain malah sok main rahasia-rahasiaan.”
            “Om, nggak nanya kita nikahnya kapan?” tanya Oik dengan wajah polosnya.
            “Iya, iya! Kapan kalian berdua nikah?” tanya Dedy balik dengan terlampau bersemangat.
            “Tahun depan, Om!” jawab Cakka dan Oik berbarengan yang memancing gelak tawa penonton seisi studio.


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ESPECIALLY FOR YOU [Cerpen #4thAnnivCaikersFamily]

Salatiga, 7 Juni 2013

            Hay, Cakka! Bagaimana Jogja? Kamu juga... baik-baik saja, kan? Saat ini sedang musim pancaroba. Kamu jaga kesehatan, ya. Aku nggak mau kamu sakit. Buktinya saja, ini aku sedang flu. Kemarin baru saja kehujanan, sepulang dari toko buku. Jangan lupa juga untuk selalu istirahat cukup. Jangan mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam.
            And I take this time to say this... Happy 4th anniversaryMy Cakka! I hope our relationship will last foreverStay romantic, Cakka! Peluk-cium dari Salatiga, Kka.
            Oh, ya.. Baca surat dariku ini sambil mendengarkan lagu Especially For You dari MYMP, ya. Itu lagu yang paling cocok untuk kamu, Kka. Dari aku.
            Kamu tahu, Kka? Sebelum kita bertemu, aku benar-benar nggak percaya dengan cinta. Tentu kamu tahu apa penyebabnya. Obiet. Iya, siapa lagi kalau bukan dia? Obiet benar-benar memupuskan semua kepercayaanku terhadap cinta waktu itu.
            Satu yang nggak kamu tahu. Bagaimana cara Obiet melakukan itu semua. Aku hancur waktu itu, Kka. Obiet seolah membawaku terbang tinggi menuju langit ketujuh dan menghempaskanku begitu saja dalam waktu singkat. Selama berbulan-bulan aku masih hidup dalam bayang-bayangnya. Menanti janji-janji manisnya yang tak kunjung datang.
            Ketika itu, sebuah petang dalam bulan Maret, Obiet datang ke rumahku setelah sekian lama kami dekat. Kami berdua sudah dekat selama empat bulan dan dalam kurun waktu itu Obiet terus saja menolak jika aku ajak bermain ke rumah. Belum siap, katanya. Betapa bodohnya aku ketika itu, percaya begitu saja padanya. Hingga hari itu pun tiba, Obiet bertandang ke rumahku dan berbincang hangat denganku dan Ayah. Ibuku sedang berada di luar kota saat itu.
            Kami bertiga duduk bersila di gazebo halaman belakang rumahku. Aku ingat betul, aku juga membuatkan wedang jahe untuk kami bertiga. Kami bertiga berbincang hingga larut malam. Ayah terus saja menggodaku dan Obiet. Apalagi ketika Ayah mengetahui kami belum juga pacaran. Obiet pun hanya tersenyum menanggapinya. Aku mengartikannya sebagai sinyal-sinyal positif.
            Aku mendengar percakapan Ayah dan Obiet, Kka. Ketika aku izin untuk mengambil makanan kecil di dapur, keduanya membicarakan tentang hubunganku dan Obiet. Ayah terus menyemangati Obiet untuk menyatakan perasaannya padaku. Aku pun hanya tersipu malu mendengarkannya. Satu kata yang selalu terngiang dibenakku, Kka. Obiet berkata ‘Ya’ pada Ayah. Sejak saat itu, duniaku mulai jungkir balik.
            Seiring berjalannya waktu, aku dan Obiet mulai tak terpisahkan. Kemana-mana berdua. Sampai-sampai, para sahabatku protes akan hal itu. Aku jadi nggak punya waktu untuk berkumpul bersama mereka. Semua waktuku kuhabiskan bersama Obiet seorang. Perlahan, para sahabatku mulai menjauh. Saat itu aku berpikir, toh nggak masalah. Aku masih memiliki Obiet yang selalu ada di sisiku.
            Kami berdua layaknya orang pacaran. Aku sudah senang walaupun hubungan kami tanpa status. Itu semata-mata karena aku tidak mau Obiet menjauh ketika aku tanya soal status hubungan ini. Itu yang aku takutkan.
            Hingga suatu hari, Obiet mulai berubah. Memang, dia masih berada di sampingku setiap saat tetapi aku merasakan ada yang berbeda. Perasaan perempuan itu peka, Kka. Aku sadar Obiet mulai sering melamun. Itu semua dimulai pada akhir bulan Mei, setelah kami melewati Ujian Nasional. Awalnya, aku hanya berpikir Obiet terlalu lelah dengan kegiatan basketnya. Aku nggak mau berpikiran negatif saat itu.
            Pada awal bulan Juni itu, Obiet menjanjikan akan membawaku ke rumah neneknya di Bandung. Ia juga berjanji akan mengajakku berkeliling Bandung dan berwisata kuliner disana. Aku benar-benar senang karena merasa Obiet telah kembali menjadi ia yang dulu, Obiet yang nggak pemurung dan senang melamun.
            Setelah pengumuman kelulusan tiba, aku mulai berpikir mengapa Obiet tak pernah menghubungiku. Pikiran-pikiran buruk mulai menguasaiku. Terakhir kali kami bertemu, Obiet terlihat pucat. Aku berpikir Obiet jatuh sakit. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Obiet.
            Bagai disambar petir disiang bolong, aku terkaget-kaget di halaman rumah Obiet. Pintu rumah Obiet terbuka lebar dan aku dapat melihat dengan jelas pemandangan indah didalam sana. Obiet sedang tertawa-tawa bersama seorang gadis berambut pendek dalam pelukannya. Obiet memeluknya dari belakang. Bahkan, ia pun tak pernah memperlakukanku seperti itu.
            Setelah bertanya pada pembantu rumah tangga Obiet mengenai gadis berkulit hitam manis itu, aku mengetahui semuanya. Gadis itu bernama Agni. Dia sahabat Obiet dari kecil yang baru saja kembali dari Manado. Sebelum Agni pindah dua tahun yang lalu, Obiet dan Agni sangatlah dekat. Bahkan, melebihi kedekatanku dan Obiet saat itu.
            Saat itu, semua mulai terlihat jelas. Obiet yang pemurung, Obiet yang senang melamun, dan juga perasaan anehku. Dari pembantu rumah tangga Obiet pun aku tahu mengenai Obiet yang berencana akan melanjutkan kuliah di Jakarta, bersama Agni. Bahkan, Obiet nggak pernah merencanakan akan berkuliah di universitas yang sama denganku.
            Hatiku remuk redam. Duniaku seakan berbalik. Dengan tubuh gemetar, aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah Obiet untuk menemuinya. Tepat ketika aku memanggil namanya, kedua manusia itu menengok serempak padaku. Lihat, mereka memang kompak. Begitu melihat aku yang sedikit kacau, Obiet langsung salah tingkah. Ia melepaskan pelukannya pada Agni lalu menghampiriku.
            Aku berkata padanya bahwa aku sudah mengetahui segalanya. Obiet terdiam di tempat. Agni beranjak masuk lebih dalam ke rumah Obiet, memberiku dan Obiet waktu untuk berbicara berdua.
            Obiet mengatakan segalanya padaku. Ia mengira hari itu nggak akan pernah datang. Aku tersenyum tipis menanggapinya. Setinggi apa pun tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Obiet mendadak pucat pasi ketika aku menanyakan kelanjutan hubungan kami. Insting wanitaku mulai bekerja dengan tak terkendali.
            Tapi ternyata instingku nggak sepenuhnya benar. Obiet hanya berkata ia meminta waktu untuk berpikir. Ia dilema diantara aku dan Agni. Lagi-lagi, aku hanya mampu tersenyum tipis. Aku pun berlalu dari rumah Obiet, membiarkannya berdua bersama Agni. Dari pagar rumah Obiet, aku mendengar ia berteriak padaku. Ia akan datang padaku disaat yang tepat jika ia memilihku.
            Selama sebulan aku menunggu kedatangannya. Aku menyibukkan diri dengan mencari universitas terbaik di Salatiga agar aku nggak ingat pada janjinya. Nyatanya semua usahaku gagal. Aku masih memikirkan janjinya. Oh, bukan. Aku hanya berharap terlalu tinggi andai saja ia memilihku, bukan memilih Agni. Saat itu aku tak sadar bahwa kita nggak boleh berharap terlalu tinggi.
            Sudah dua bulan lewat semenjak kejadian yang melibatkan aku, Obiet, dan Agni. Obiet nggak kunjung menemuiku. Itu berarti, Obiet memilih Agni. Hatiku hancur untuk yang kedua kalinya. Lalu, aku mendengar desas-desus bahwa Obiet berkuliah di Jakarta. Ya, aku tahu. Pasti bersama Agni. Nggak dapat kupungkiri, hatiku kembali hancur.
            Aku mulai berintrospeksi. Selama sebulan penuh, aku memikirkan hidupku. Aku yang awalnya dekat dengan para sahabatku, lalu kedatangan Obiet, kedekatan kami yang membuat para sahabatku menjauh, dan Obiet yang juga menjauh karena gadis pilihannya. Aku sadar aku membutuhkan para sahabatku. Dan aku sadar aku nggak seharusnya membuat mereka menjauhiku.
            Pada awal Oktober, aku mulai menata hidupku kembali dengan susah payah. Aku berusaha mendekati para sahabatku lagi. Awalnya mereka memang menolakku mentah-mentah. Tapi lama-kelamaan kamu kembali dekat seperti dulu, sebelum Obiet hadir dalam hidupku.
            Aku menceritakan semuanya pada mereka. Dan mereka hanya mampu menghiburku. Aku selalu berpura-pura bahwa aku sudah melupakan Obiet jika didepan mereka. Padahal Obiet masih tersimpan rapat-rapat dihatiku.
            Aku menyetujui rencana pencomblangan mereka entah dengan siapa pun itu. Aku hanya nggak ingin mereka khawatir. Aku nggak mau mereka tahu soal aku yang masih hidup dalam bayang-bayang Obiet. Biarlah waktu yang menghapus bayangnya dari hidupku.
            Mereka mencomblangkanku dengan hampir semua laki-laki yang mereka kenal. Mulai dari sepupu, tetangga, teman kecil, hingga kenalan mereka dari sebuah lembaga bimbingan belajar. Dan aku pun akhirnya bertemu dengan kamu.
            Kamu masih ingat bagaimana pertemuan pertama kita? Aku masih ingat, Kka. Kita membuat janji akan bertemu di sebuah kafe dekat rumahku. Aku ingat betul kamu adalah sepupu dari sahabatku. Kebetulan, kamu sedang ada urusan di Salatiga dan kita berdua dicomblangkan.
            Aku mengendarai motorku menuju tempat janjian kita. Dan ditengah jalan, hujan turun dengan derasnya. Aku kehujanan, sedangkan kamu sudah sampai di kafe itu. Belum lagi, bajuku terkena noda coklat hasil cipratan mobil yang melaju di sampingku. Sepuluh menit kemudian, aku sampai di kafe dengan keadaan basah kuyup dan kotor.
            Aku langsung menghampirimu yang terduduk di dekat kaca jendela bening. Kamu sedang menatap hujan di luar sana tanpa berkedip. Aku mengagetkanku dengan duduk secara tiba-tiba di hadapanmu. Aku mengenali wajahmu, tentu saja. Apalagi kalau bukan karena sahabatku yang merangkap menjadi sepupumu itu sering menunjukkan fotomu padaku?
            Dengan badan menggigil karen basah kuyup, kita berjabat tangan. Bahkan pada jabatan tangan pertama kita pun instingku sudah mengatakan bahwa kamu berbeda. Kamu berbeda dengan Obiet. Sayangnya, aku memilih tidak menghiraukan instingku itu karena kepercayaanku yang masih hilang pada cinta. Apalagi cinta pada pandangan pertama.
            Melihat aku yang menggigil, kamu pun melepaskan jaketku dan membungkus tubuhku dengan itu. Saat itu aku berpikir bahwa kamu hanya seorang lelaki yang suka sok perhatian. Dan, lagi-lagi, aku salah. Kamu memang sangat perhatian padaku, Kka.
            Sejak awal pun sebenarnya aku sadar bahwa kamu adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Hanya saja, aku menutupinya. Aku tetap bertingkah cuek di hadapanmu. Lagi-lagi, itu karena aku nggak percaya pada cinta. Aku tahu kamu menganggapku lebih dari teman sejak awal pertemuan kita. Tetapi aku nggak mau menjalin hubungan dengan kamu hanya sebagai pelampiasan.
            Selama tiga bulan kita terus berkomunikasi lewat jejaring sosial. Benar kataku, kamu memang perhatian. Buktinya saja, ketika kita sedang mengobrol, kamu selalu mendahulukan aku. Menanyai kabarku, apakah aku sudah makan atau belum, bagaimana kondisiku, dll. Aku hanya tersenyum ketika menyadari hatiku yang perlahan mulai terbuka untuk kamu.
            Aku masih ingat hari itu. Suatu Minggu pagi yang cerah pada awal Juni 2009. 7 Juni 2009, tepatnya. Aku kaget bukan kepalang ketika itu. Tepat saat aku keluar dari kamar sekitar pukul sembilan, aku mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Seperti suara Ayah. Dan aku menemukan Ayah sedang berbincang hangat dengan kamu. Akhirnya, tanpa mandi terlebih dahulu atau pun mencuci muka, aku ikut bergabung dalam obrolan kalian.
            Lagi-lagi, Ayah menggodaku. Tapi bedanya, kali ini Ayah menggodaku dengan kamu, bukan dengan Obiet. Obiet sudah kubuang jauh-jauh dan kuletakkan pada sudut terdalam hatiku entah sejak kapan. Hanya satu hal yang aku tahu. Aku memercayaimu untuk menjaga hatiku.
            Melihat aku dan kamu yang memerah wajahnya, Ayah semakin gencar menggoda kita. Hingga akhirnya tiga kata ajaib itu terlontar dari mulutnya. Iya. Tiga kata ajaib itu. Aku cinta kamu. Kamu mengatakannya tepat di hadapan Ayahku. Sejak saat itu aku benar-benar yakin bahwa dan Obiet berbeda. Kamu dewasa. Kamu berani menyatakan perasaanmu di depan Ayahku. Dan berkat itu, Ayah merestui hubungan kita. Saat ini pun, Ayah menyuruhku cepat-cepat membicarakan soal pernikahan dengan kamu. Bagaimana hubungan kita kedepannya. Tetapi aku pikir perbincangan mengenai hal itu masih terlalu dini untuk kita.
            Kamu tahu, Kka? Aku merasa seperti anak SMA. Kamu tahu, kan, bagaimana rasanya berpacaran saat SMA? Semua menjadi hiperbola. Berpisah sebentar dengan pacarnya, sudah kangen. Nggak berkomunikasi dalam sehari, sudah ingin bertemu saja. Seperti itulah aku saat ini. Tentu saja, itu perasaanku untuk kamu. Aku kangen kamu, Kka. Ya, ya.. Aku tahu kita baru saja bertemu minggu lalu. Tapi, apa salah kalau aku kangen kamu?
            Selama empat tahun ini, perasaanku tetap sama. Aku sayang kamu. Dari dulu sampai sekarang. Hari ini adalah 7 Juni kita yang keempat dan itu semua sama sekali nggak bikin perasaanku untuk kamu memudar. Yang ada, aku makin sayang kamu.
            Kalau saja kamu tahu, jauh sebelum kita berpacaran, aku sudah merasakan ini. Aku ingat tanggal tepatnya. 14 Februari 2009. Ya. Tepat saat hari valentine. Kado valentine yang kamu kirim dari Jogjakarta itu masih aku simpan sampai saat ini. Aku letakkan dimeja riasku agar aku dapat melihatnya setiap hari, mengingat bahwa benda itu adalah pemberianmu. Aku suka teddy bear dan aku yakin kamu mengetahuinya dari sepupumu itu.
            Hari itu, pagi-pagi sekali pintu kamarku sudah diketuk dari luar. Ternyata Ayah. Beliau menyerahkan sebuah bingkisan padaku. Begitu melihat namamu sebagai nama pengirim, jantungku langsung berpacu kencang nggak terkendali. Aku juga nggak tahu kenapa. Yang aku tahu, aku mulai menyadari perasaan ini.
            Bersama kamu, aku nggak takut lagi untuk berharap. Aku menggantungkan harapanku setinggi-tingginya bersama kamu. Puluhan harapan kucoba untuk meraihnya satu-persatu. Ya walaupun nggak dapat dipungkiri kalau ada beberapa harapan yang gagal kuraih. Tapi aku tahu itu hanya batu loncatan. Itu yang selalu kamu bilang, kan?
            Aku sempat berandai-andai, Kka. Kalau saja harapanku itu adalah sayap, aku pasti sudah bisa menggunakannya untuk terbang ke tempat kamu berada saat ini, Jogjakarta. Aku tahu jarak antara Salatiga dan Jogjakarta tidak jauh, tetapi... Bagaimana, ya, rasanya terbang kesana dengan memakai sayap harapan ini?
            Bersama kamu, aku nggak takut untuk bermimpi. Kamu juga membantuku mewujudkan impian itu. Sekolah darurat yang kita bangun di tanah lapang kompleks rumahku masih ada hingga saat ini. Setiap harinya aku dan teman serta sahabatku bergantian mengajar disana. Dan khusus untuk hari ini, aku cuti. Aku ingin menghabiskan 7 Juni kita yang keempat ini di kamarku. Nostalgia bagaimana kita empat tahun yang lalu hingga saat ini.
            Kamu pernah menasehatiku agar aku nggak perlu merasa bahwa aku sendirian. Aku masih ingat nasehat itu sampai sekarang. Nasehat kamu waktu itu memang benar-benar menancap dipikiranku. Aku nggak sendiri, aku masih punya banyak orang yang menyayangiku, dan aku nggak perlu merasa kalau aku nggak berguna untuk orang lain. Ada kamu, teman-teman, sahabat-sahabat, dan keluargaku. Mereka menyayangiku. Dan seseorang pasti punya arti untuk orang lain. Semua orang sudah memiliki tugasnya sendiri-sendiri selama mereka mereka hidup. Iya, kan?
            Kamu juga mengajari aku untuk nggak lagi berharap pada Obiet. Itu yang kamu lakukan diawal-awal pertemuan kita. Kamu menyuruhku untuk melepaskan semuanya, rasa sakit hatiku. Kamu bilang perasaan semacam itu nggak pantas untuk terus disimpan. Iya, aku menyadarinya. Dan berkat kamu, semua perasaan dan sakit hati itu lenyap. Semuanya berkat kamu, Kka. Aku nggak tahu bagaimana jadinya aku kalau kita nggak dipertemukan. Mungkin sampai sekarang aku masih terpuruk, berharap Obiet akan memilihku. Tapi sekarang aku sadar, aku beruntung punya kamu.
            Aku nggak tahu kenapa aku bisa sesayang ini sama kamu. Mungkin karena kita berdua sudah bersama sejak awal. Saat aku terpuruk waktu itu, kamu yang membuat aku bangkit lagi. Ya, mungkin karena itu. Kita merasakan asam-manisnya cinta dari nol. Terima kasih karena sudah mau berada disisiku sejak saat itu hingga sekarang.
            Kamu punya arti tersendiri untuk aku. Kamu bisa jadi teman, sahabat, pacar, bahkan kakak aku.You mean nothing but the world to me. Aku nggak tahu bagaimana cara mendeskripsikan seberapa berartinya kamu untuk aku. Nggak ada kata yang pas untuk itu. Intinya, aku benar-benar bersyukur karena aku mengenalmu. Our love was meant to be, Kka. Kamu merubah hidupku dan kamu mengajariku arti cinta yang sesungguhnya.
            Aku janji aku nggak akan menyia-nyiakan kamu, juga perasaan ini. Aku janji aku akan jadi pacar yang baik, yang nggak suka menuntut. Aku janji perasaan ini nggak akan berubah. Aku janji untuk selalu jadi yang terbaik untuk kamu. Kamu juga mau janji, kan, sama aku?
            Sekali lagi, happy anniversary!
            Semoga kita langgeng sampai kakek-nenek. Semoga tugas kuliah kamu cepat-cepat selesai agar kita bisa bertemu. Ayah mencari kamu terus, Kka. Beliau ingin mengobrol empat mata dengan kamu. Sepertinya ingin membicarakan soal hal itu.
            And all the love I have is especially for you..

With love,
Oik

P.S: Jangan lupa kabari aku dulu kalau kamu akan ke Salatiga. Aku sudah belajar memasak selama sebulan ini dan aku akan memasakkan makanan spesial untuk kamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HARAPAN KOSONG [Cerpen]

            Gadis itu berkali-kali melihat ke arah jam tangan putihnya. Keadaannya kacau. Rambut tak disisir, baju seragam tak rapi, dan tas yang tercangklong seadanya di bangkunya.
            Ia langsung melompat turun ketika ia sampai di depan bangunan sekolahnya dengan gerbang yang nyaris tertutup.
            “Makasih, Bang!”
            Ia memberikan selembar lima ribuan kepada sang tukang ojek dan langsung berlari menuju gerbang sekolah. Gadis itu sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat menyelinap masuk ke dalam. Ia nyengir lebar pada sang satpam sekolah.
            “Peace, Mang Udiiiiiiiinnn!!!”
            Gadis itu kembali berlari meninggalkan sang satpam yang hanya geleng-geleng menatapnya.
            Ia patut menghela napas lega karena dapat masuk ke dalam area sekolah setelah bel berbunyi nyaring. Juga karena ia tidak melihat satu pun guru piket yang berdiri berjajar di koridor utama sekolah.
            Dengan gesit ia menaiki satu-persatu anak tangga dan akhirnya sampailah ia di depan kelas barunya. Ya, hari ini memang hari pertama masuk setelah liburan kenaikan kelas. Para siswa-siswi yang sedang MOS rupanya telah berada di kelas masing-masing juga bersama pendamping kelasnya.
            Gadis itu mendorong pintu kelas dengan tergesa-gesa karena melihat guru-guru telah keluar dari ruangannya dan sedang berjalan menuju kelas-kelas. Ia mengedarkan pandangannya pada kelas barunya yang amat gaduh itu.
            “Penuh semua?! What the..... Pakai acara telat bangun, sih, gue! Mana lagi home alone, pula! Dapat ojek, kok, ya, yang leletnya minta ampun?!” gerutunya.
            Eh, tunggu! Rupanya ada sebuah bangku kosong di dekat tembok, barisan kedua dari depan. Gadis itu langsung berlari kecil ke arahnya dengan wajah lega.
            “Gue duduk sini, ya? Boleh, kan? Oke, deh!”
            Ia nyerocos sendiri setelah mencolek bahu seorang gadis lain yang duduk pada bangku itu. Tanpa melihat reaksi calon teman sebangku barunya itu, ia langsung melemparkan tasnya ke arah meja dan duduk dengan lemas.
            “Oik?”
            Gadis itu menengok ke teman sebangkunya yang baru –yang sedang menatapnya aneh–.
            “Eh, Ify.” Oik –gadis itu– langsung nyengir lebar ketika mengetahui teman sebangku barunya adalah Ify.
            Ify menggelengkan kepalanya dengan dramatis. “Abis kena tornado, Neng?”
            Hah? Oik menatap Ify dengan bingung. Telminya kembali kumat.
            Ini apa lagi, sih? Oik menengok ke belakang ketika merasakan seseorang menarik-narik ujung rambutnya yang masih berantakan.
            Dua orang lelaki duduk di belakangnya. Seorang lelaki manis dan jangkung sedang menatapnya dan tersenyum lebar. Rupanya dialah tersangka penarikan ujung rambut Oik. Dan seorang lelaki lagi dengan wajah kalem yang seperti pernah Oik lihat sebelumnya.
            “Gabriel! Biang kerok banget, dasar! Lo ngapain narik-narik ujung rambut gue, sih?!” Oik pun langsung memukul-mukul tangan Gabriel dengan ganas.
            “Baru juga hari pertama udah teriak-teriak,” Ify menatap keduanya dengan iba.
            “Ya siapa suruh itu rambut berantakan banget? Ga malu sama Cakka?” Gabriel pun tertawa terpingkal-pingkal.
            Oik menguncir rambutnya dengan kilat sambil bergumam. “Cakka? Kayak pernah denger..”
            “Telmi banget lo, dasar!” Gabriel menjitak kepala Oik dengan tak sabar. “Dia ini Cakka! Cakka Kawekas Nuraga!” Gabriel menunjuk teman sebangkunya yang sedang tersenyum geli menatap Oik.
            “Oh, elo!” Oik mengangguk-angguk menatap sosok Cakka. “Kok gue kayak pernah ngelihat elo, ya?”
            Ify dan Gabriel sudah gemas sendiri dibuatnya. Oik telmi banget, gitu! Ingin pingsan saja Ify dan Gabriel saat ini.
            “Gue anak baru. Pindah ke sini semester dua kelas satu kemarin. Kita, kan, satu kelas di X-8, Oik.” Cakka menjelaskan dengan senyum tertahan.
            “Astaga! Kok gue bisa lupa, ya? Pantesan aja kayak pernah lihat elo, gitu!” Oik memekik histeris.
            “Elo, sih, mikirin si sipit terus!” ujar Ify seraya memutar bola matanya dengan malas.
            “Ga pakai teriak juga bisa kali, ya!” sindir Gabriel.
            “Sewot aja, sih, lu?!” Oik mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada Gabriel.
            “Adaaww!! Sakit, Ik! Kira-kira, kek, kalau ngebogem!” Gabriel mengusap-usap pipinya dengan jengkel.
            “Emang sipit siapa, sih?” tanya Cakka.
            Oik menatap Cakka keki, “Cakka kepo banget! Ga usah kepo bisa kali. Ngefans sama gue, sih, bilang aja!” ujar Oik dengan heboh.
            “Ik, pinjem charger, dong!” Tiba-tiba saja sebuah suara muncul. Seorang gadis berambut lurus sepinggang sedang berdiri di sebelah meja Oik.
            “Lo kelas sini juga, Shill?” tanya Oik.
            “Iya, Ik.” Shilla –gadis itu– tersenyum tipis.
            “Nih,” Oik menyerahkan sebuah charger kepada Shilla dengan sebuah senyuman lebar.
            “Thanks! Gue pinjem dulu, ya?” Dan, Oik pun hanya bisa mengangguk.
            Seperginya Shilla, Oik jelas-jelas melihat Gabriel yang sedang tertawa melihat Cakka. Hey! Kenapa wajah Cakka jadi semerah tomat begitu?
            “Lo kenapa, Kka?” tanya Ify dengan wajah keki berat.
            “Cakka, kan, naksir Shilla!” jawab Gabriel seenaknya.
            Cakka menggeleng cepat. Ia segera membekap mulut Gabriel dan meninju lengan teman sebangkunya itu berkali-kali.

**

            Suasana kantin ketika istirahat memang selalu ramai. Begitu pula dengan kantin SMA Soedirman ini. Oik dan Ify akhirnya harus rela membungkus makan siang mereka dan memakannya di kelas karena tak ada tempat kosong lagi di kantin.
            “Bete! Bete! Bete!” Oik menghentak-hentakkan kakinya dengan sebal seraya berjalan keluar dari kantin.
            Ify meliriknya sekilas dan tersenyum. “Elo, mah, emang selalu bete, Ik!”
            Ify dapat merasakan Oik yang terdiam kaku di tempat, menahan napas, dan meletakkan fokus pandangannya pada sesosok manusia saja. Ify pun mengikuti arah pandang Oik.
            “Fy, ada si sipit!” gumam Oik.
            “Alvin, Ik! Bukan sipit!” Ify terkikik pelan.
            Oik menoleh padanya dengan tampang sangar. “Sssstttt! Jangan sebut merk bisa kali! Bahaya, nih, kalau ada yang tau gue suka si Alv--- sipit!”
            “Iya, deh, iya!”

**

            Gabriel dan Cakka sedang terduduk lemas di pinggir lapangan basket petang itu. Tim basket Soedirman memang biasa berlatih di lapangan basket sekolah hingga malam menjelang. Gabriel, Cakka, dan para pemain basket kelas XI serta XII lainnya sedang beristirahat sejenak.
            Cakka meletakkan botol air mineralnya ketika pandangannya tertuju pada sebuah sudut lapangan basket. Ada seorang gadis dan seorang lelaki di sana. Mereka sedang tertawa bersama. Cakka memandangnya tak suka.
            “Ga usah jealous gitu, kali, Kka!” ejek Gabriel.
            Cakka menatap Gabriel tajam dan menggeleng. “Gue ga jealous!”
            “Jelas-jelas lo jealous!” Gabriel tertawa mengejek. “Ga usah over, Kka! Shilla sama Bang Debo, kan, kakak-adik. Wajar kalau akrab.”

**

            Oik dan Ify baru saja keluar dari Sekretariat OSIS. Keduanya berjalan berbarengan menuju lapangan parkir sekolah. Oik mengantarkan Ify mengambil motornya.
            “Lo balik bareng gue aja, ya?” tawar Ify.
            Oik menggeleng. “Yang biasa jemput gue udah balik sini, kok. Abis ini juga gue dijemput.”
            Ify menghela napas berat dan kemudian mengangguk mengerti.
            Lapangan parkir petang itu tampak lengang. Hanya ada dua motor yang terparkir di sana. Motor Ify dan satu lagi motor yang terparkir di depan motor Ify. Seorang laki-laki duduk di atas motor tersebut.
            Ify sudah berada di atas motornya. Mesinnya pun sudah dinyalakan. Ify pun memakai helm.
            “Yakin ga bareng gue aja? Udah malem, Ik!”
            Oik kembali menggeleng. “Abis ini juga dijemput, Fy. Tenang aja.”
            “Bareng gue ke depan gerbang depan, mau ga?”
            Oik menggeleng untuk yang ketiga kalinya.
            Ify pun hanya dapat mengangkat bahunya. Beberapa detik kemudian, Ify sudah melesat dengan motornya meninggalkan Oik.
            Oik kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan parkir. Lelaki di atas motor itu rupanya telah turun. Ia melepas helmnya. Oik merasa mengenali postur tubuh itu. Oik mengangkat bahunya dengan acuh dan berjalan perlahan menuju gerbang depan sekolah.
            “Ik?”
            Suara itu! Oik berjingkat di depannya, kaget.
            “Alvin?” Oik terperkur sesaat ketika sosok itu telah berada di sampingnya.
            Lelaki itu tersenyum tipis. “Ga pulang, Ik?” tanyanya.
            “Nunggu dijemput, sih. Kenapa, Vin?”
            Alvin terdiam sejenak. “Mau balik bareng... gue?”
            Oik tersenyum berterimakasih dengan jantung berdebar kencang. “Ga usah, Vin. Makasih. Abis ini juga dijemput, kok.”
            “Oke. Gue ke dalem dulu, ya. Ngampirin Gabriel, Cakka, dan yang lain.”
            Oik mengangguk saja. Alvin melambaikan tangan padanya dan Oik membalasnya. Setelah bayangan tubuh Alvin menghilang di antara kegelapan, Oik berseru senang seraya melompat-lompat kegirangan.
            “Payah! Harusnya gue ga minta dijemput tadi biar bisa balik bareng si sipit!” Oik mengeluh pelan.

**

            Pagi itu, Oik sedang melamun menatap keluar melalui jendela kelasnya. Kelasnya memang sedang jam kosong. Maka dari itu, Oik berani menyingkap gorden kelasnya dan menatap keluar dengan leluasa.
            “Mandangin si sipitnya biasa aja, Ik!” Ify berbisik pelan di telinganya sambil terkekeh.
            Oik mengalihkan pandangannya sejenak kepada Ify dengan pipi bersemu merah. “Apa, sih, Fy?!”
            Oik pun kembali memandangi sosok Alvin yang sedang bermain sepak bola bersama teman-teman sekelasnya yang lain di lapangan. Kelas Alvin memang sedang pelajaran olah raga sekarang ini.
            Dalam ketenangannya mengamati sosok bermata sipit di luar sana, tiba-tiba saja sebongkah kertas telah melayang mengenai dahinya. Oik menggeram jengkel. Ketika ia melihat ke belakang, Cakka sedang nyengir lebar menatapnya.
            “Sorrysorry! Ga sengaja, Ik!” akunya.
            Oik kembali melemparkannya pada Cakka. “Ganggu banget, sih, lo?! Dasar!”
            “Ganggu apa?” tanya Cakka dengan polosnya.
            “Si Oik, kan, lagi ngelihatin si sipit!” Ify pun tertawa terpingkal-pingkal.
            “Emang ada si sipit di luar?” Cakka pun melongok ke luar.
            Oik segera menutup gorden kelasnya dengan cepat. “Ga ada! Kepo lo, Kka! Bete gue!”
            Gabriel tersenyum misterius. “Jangan marah-marah, dong, Ik. Kasihan Cakkanya.”
            “Iya!” sela Cakka cepat.
            “Dia, kan, suka sama lo.” Gabriel kembali berucap.
            “Iya!” Cakka kembali menyela.
            “Hah?!” Oik terkaget-kaget sendiri. “Ngarang lo! Cakka, kan, sukanya sama Shilla!”
            “Ga! Ga! Gue ga suka Shilla, kok! Gue sukanya sama lo! Serius!” Cakka memandang Oik sungguh-sungguh.
            Oik tertawa pelan. “Shilla, mah, Shilla aja!”
            Shilla –yang merasa namanya disebut– pun menengok ke arah mereka berempat dengan wajah merona malu. “Apa, sih, Oik?”
            “Cakka suka sama kamu katanya, Shill,”  Oik menjawab dengan wajah polosnya.
            Cakka menengok ke arah Shilla dan menggeleng santai. “Ga, kok. Oik bohong.”
            “Tuh, Ik.. Cakka suka sama lo. Move on, gih, ke dia.” Ify memandang Oik dengan jail.
            “Apaan, sih, Fy? Sekali sipit, tetet sipit!” elak Oik.
            “Lo mau bikin Cakka nunggu sampai kapan, Ik?” tanya Gabriel dengan serius.
            “Ga lucu banget kalian ini!” Oik mendumel tak suka.
            “Ga ada yang bilang ini lucu, Ik.” Cakka memandang Oik lekat-lekat.
            “Udah dari kapan, sih, lo suka sama sipit-sipit itu?” tanya Gabriel.
            Oik menerawang. “Dari September... tahun lalu.”
            “Dan lo digantungin gitu aja? Bego! Nih, ada Cakka!” Gabriel menggeleng tak percaya.
            “Sipit udah bikin lo nunggu lama, tuh. Move on ke Cakka, gih!” kata Ify dengan senyum tertahan.
            “Kalian apaan, sih?!” gerutu Oik.
            “Tuh, Kka!” Gabriel merangkul pundak Cakka. “Ada sinyal positif dari Oik. Tembak, gih!”
            Cakka tersenyum tipis. “Iya, ntar..”
            “121212 bagus, tuh, Kka,” ucap Ify.
            “Iya. Tunggu aja.” Cakka tersenyum misterius ke arah Oik.
            Oik membeku. Ia dapat merasakan debaran jantungnya yang mulai berdetak kencang.
            Apa-apaan, sih?! Inget Alvin, Ik! Ga pakai acara move on ke Cakka, deh! Eh, tapi Alvin lempeng-lempeng aja! Setahun lebih gantung. Ada Cakka, Ik! Eh, tapi gimana sama Shilla? Apalagi kalau inget dulu gue sempet naksir sama kakaknya Shilla, Bang Debo. Duh!

**

            Oik berjalan sendirian menuju kelas Alvin. Bukan untuk menemui Alvin tapi untuk menemui Patton, Ketua OSIS yang baru. Oik harus mengadakan koordinasi dengan Patton untuk acara tahunan sekolah mereka.
            Kebetulan kelas Alvin dan Patton sedang jam kosong. Sedangkan Oik membolos pelajaran Fisika kali ini. Untunglah ia dapat mengobrol dengan Patton dengan leluasa.
            Oik terdiam sejenak di pintu kelas. Patton sebangku dengan Alvin!
            Setelah dirasa siap, Oik pun melangkah menuju bangku Patton dan Alvin.
            “Vin,” Oik mencolek bahu Alvin. “Gue mau ngobrol sama Patton. Bisa minggir?”
            Alvin tersenyum tipis pada Oik dan perlahan menyingkir. Oik membalas senyuman Alvin dengan sedikit bingung. Debaran itu... sudah tidak ada. Tak bersisa sedikit pun.
            Oik memekik dalam hati. Secepet itukah Cakka ngubah perasaan gue?

**

            Oik kembali ke kelasnya dengan pikiran kosong. Benarkah? Kenapa debaran itu sudah benar-benar lenyap tak bersisa? Apa ini semua karena Cakka? Lalu, bagaimana dengan Shilla?
            Oik memasukki kelasnya yang berantakan dengan lesu dan duduk begitu saja di bangkunya tanpa menghiraukan Ify, Gabriel, dan Cakka yang sedang mengobrol heboh.
            Cakka memandangi punggung Oik dengan bingung. Biasanya Oik tak selesu ini. Biasanya Oik suka berteriak-teriak sendiri. Biasanya Oik suka melafalkan lirik-lirik lagu Taylor Swift dengan kencang dan tanpa tahu malu.
            Cakka memandang Ify dan member syarat pada gadis berdagu tirus mengenai keadaan Oik. Ify menggeleng tak tahu, begitu pula dengan Gabriel.
            Cakka bangkit dari duduknya dengan membawa sebuah cutter. Ia beranjak menuju sudut belakang kelas. Banyak gabus sisa percobaan Kimia mengenai Termokimia teronggok di sana. Cakka memakai cutteryang ia bawa tadi untuk memotongnya.
            Setelah dirasa pas, Cakka membawa sebuah gabus berbentuk huruf O kembali ke bangkunya. Tanpa banyak bicara, Cakka menghiasnya dengan menggunakan spidol.
            “Jadi juga akhirnya..” Cakka memandangi hasil karyanya dengan bangga.
            “Buat apa?” tanya Ify.
            “Buat Shilla? Atau, buat Oik?” tanya Gabriel dengan malas.
            Cakka tak menjawab. Sebagai gantinya, ia mencolek bahu Oik dari belakang. Dan ketika Oik menengok ke arahnya dengan wajah masam, Cakka memamerkan senyum terbaiknya.
            “Buat lo,” Cakka menyerahkan gabus berbentuk O yang telah ia hias tadi pada Oik. “O untuk Oik.”
            Oik tersenyum menerima pemberian Cakka. “Makasih.”
            Cakka mengangguk dan kembali tersenyum.
            “Ciiiiiieeeeeeeee!!!!!” Gabriel dan Ify sudah berkoar-koar heboh dengan tertawa kencang memandang Cakka serta Oik.
            Tanpa keempatnya sadari, Shilla menatap mereka dengan mata yang tak lagi berbinar seperti biasanya.

**

@OikCR27: High fever :&
@cakkaNRG: Gws :)
@OikCR27: Kode bgt sih =))
@gabrielstev: @OikCR27 ik baca! -> RT @cakkaNRG: Gws :)
@gabrielstev: @cakkaNRG bwt lo kka -> RT @OikCR27: Kode bgt sih =))
@Ifyalyssa: Kode2an aj trs ya kalian! Empet lhtny -_- @cakkaNRG @OikCR27

**

            Akhirnya Oik diperbolehkan ayah dan bundanya untuk masuk sekolah hari ini. Pasalnya, dua hari kemarin Oik demam tinggi. Ayah dan bundanya pun melarangnya untuk masuk sekolah. Oik jadi bosan sendiri di rumah terus.
            Selama dua hari ini pun Oik merindukan sekolahnya, merindukan kelas barunya, merindukan Ify, merindukan Gabriel –si biang kerok–, dan juga merindukan... wangi parfum Cakka. Oik baru menyadari bahwa wangi parfum Cakka begitu maskulin dan Oik benar-benar menyukainya. Oik serasa ingin terus menghirup wangi itu.
            “Akhirnya Oik masuk juga, Bung!” Gabriel langsung berlagak ala komentator sepak bola ketika Oik memasukki kelas pagi itu.
            “Kangen gue lo?” Oik tersenyum tipis.
            “Bukan Gabriel yang kangen, tapi si Cakka!” seloroh Ify.
            Oik menggeleng. Juga menetralkan debaran jantungnya yang mulai tak terkendali. “Cakka, mah, kangennya sama Shilla!”
            Cakka tersenyum kecut mendengar perkataan Oik.
            “Oke, oke.. Atau mungkin elo yang kangen Cakka?” timpal Gabriel.
            “Gue kangennya sama si sipit, tau!” Oik dengan cepat berbohong dan secepat itu pula Oik menimpuk Gabriel dengan map tebalnya.
            “Ik, gue mau ke kantin. Mau titip?” Shilla tau-tau saja sudah berada di antara mereka berempat.
            “Gue ga. Cakka, tuh, kali aja mau titip.” Oik tertawa pelan karena kepintarannya menutupi perasaan.
            Shilla hanya tersenyum tipis dan berlalu.

**

            Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu. Kelas Oik pun sudah terbebas dari Bu Ira sang guru Kimia.
            Oik dan Ify memutar kursi mereka sehingga saling berhadapan dengan Gabriel dan Cakka. Keempatnya mengeluarkan bekal makanan masing-masing. Kebetulan keempatnya sama-sama sedang malas mengantri makanan di kantin.
            Setelah selesai memakan bekal masing-masing dan membereskannya, keempatnya mulai mengobrol seru soal Ulangan Harian pertama yang akan diadakan minggu depan.
            “Eh, tunggu bentar!”
            Cakka bangkit dari duduknya dan berlalu menuju bangku Obiet. Terlihat mereka bercakap-cakap sebentar. Setelah itu, Cakka membawa gitar Obiet bersamanya dan kembali duduk di tempatnya.
            “Mau nyanyi, Kka?” tanya Oik.
            Cakka mengangguk. “Lagu apa, nih?”
            “Nyanyi buat Oik, nih, ceritanya?” sela Gabriel seraya menahan deraian tawanya.
            “Tembak sekalian, dong, Kka! Ga gentle banget lo!” ejek Ify.
            “Hari ini tanggalnya jelek. Tunggu 121212 aja.” Cakka menjawab dengan santai.
            “Tuh, Ik! Dengerin!” Gabriel menengok pada Oik. “Cakka ga PHP –Pemberi Harapan Palsu– nih. Dia nunggu tanggal bagus aja buat nembak lo!”
            Oik hanya menggelengkan kepalanya, –berusaha– acuh. Oik pun mengalihkan pandangannya pada jendela kelas dan melongok keluar. Seperti biasa, Alvin sedang bermain sepak bola di lapangan. Lagi-lagi, Oik tak merasakan debaran yang dulu selalu hadir ketika ia melihat Alvin.
Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
            Cakka mulai memetik gitar yang berada di pangkuannya. Ia mulai menyanyikan lirik demi lirik lagu bertajuk Dia oleh Maliq N d’Essentials itu. Matanya dalam memandang Oik. Hingga akhirnya Oik membalas tatapannya dan tersenyum kikuk.
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
            Gabriel terbatuk-batuk karenanya. “Aduh, Cakka, Oik! Dunia milik berdua banget ini, sih! Gue, Ify, sama yang lainnya ngontrak doang!”
            Cakka benar-benar tak menghiraukannya. Ia masih menatap Oik dalam-dalam.
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
            Wajah Oik telah merah padam. “Lo ngapain, sih, Kka? Nyanyi buat Shilla? Percuma! Shilla lagi ke kantin!”
            Ify menoyor kepala Oik dengan gemas. “Dia nyanyi buat lo, dodol!”
            Makian kecil Ify tadi sukses membuat Oik terdiam dengan wajah memerah dan senyum yang terkulum malu-malu.
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia disini memberi cintaku
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia disini memberi cintaku harapan
            “Stop! Nyanyi lagu yang lain, kek, Kka! Gue lebih suka yang The Untitled!” pekik Oik untuk menutupi salah tingkahnya.
            “Lo bego apa bloon, sih?” tanya Gabriel dengan keki. “The Untitled itu lagu orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan, bego! Lo sama Cakka, kan, ga!”
            Lagi-lagi, Oik terdiam dengan wajah yang semakin memerah.
Give me your love
Now so come on and love me
Give me your love
Now so come on and love me
            Cakka tersenyum kecil melihat Oik yang semakin salah tingkah di hadapannya. Apalagi ketika Ify dan Gabriel melontarkan kalimat-kalimatnya pada Oik tadi.
Nothing in this world could come baby love to me
I would tell the world when you give your love to me
            “Tuh, Ik! Move on aja ke Cakka. Lupain, tuh, si sipit. Ga capek digantungin setahun lebih?” sorak Gabriel dengan hebohnya.
            “Iya,” Ify mengangguk cepat. “Si sipit aja belum tentu juga suka sama lo. Nih, ada Cakka di depan mata. Jangan disia-siain gitu aja, dong.”
            “Kalian ngomong apa, sih? Ga jelas banget!” Oik melirik Ify dan Gabriel dengan sinis.
            “Ciiiiiiiieeeeee!!!!! Sekarang Cakka sama Oik, nih! Ga sama Shilla lagi!” teman-teman sekelas Oik pun mulai ikut berteriak heboh.
            “Awesome and Zany... that’s so much you.” Cakka kembali memandang Oik dengan senyum tipisnya.
            Dan, saat itu pula, Shilla masuk ke dalam kelas bersama Zevana.

**

@OikCR27: 03.03 PM :$
@zevanarga: Cakka :p RT @OikCR27: 03.03 PM :$
@OikCR27: @zevanarga bkn tw -_-
@zevanarga: @OikCR27 trs siapa dong :p
@OikCR27: @zevanarga cipit! :$
@zevanarga: @OikCR27 ciyee skrg udh pnya pnggilan kesygan bwt cakka ya :p

**

            Sial! Hari ini Oik datang terlalu pagi! Kalau begini caranya, ia lama-lama menjadi seperti Ify. Bel masuk berbunyi pukul tujuh tetapi datang pukul enam! Tipikal anak rajin kesayangan para guru sekali.
            “Fy, keluar aja, yuk? Kali aja ntar kecengan lo lewat gitu..” bujuk Oik.
            Ify bisa apalagi kecuali mengangguk dan mengiyakan ajakan Oik? Keduanya pun keluar. Ada Zevana yang entah sedang apa di koridor. Ify dan Oik pun menghampirinya.
            “Hey!” sapa Ify.
            Zevana tersenyum pada mereka berdua. Baru saja ia akan membalas sapaan Ify, tiba-tiba saja dua sosok yang dikenalnya datang bersamaan. “Cakka! Shilla!”
            Hati Oik mencelos ketika melihat Cakka dan Shilla jalan berdampingan. “Ciiiiieeeeee berangkat bareng, nih?” gurau Oik. Bibirnya memang tersenyum, tetapi tidak dengan mata dan hatinya.
            Shilla menggeleng cepat dengan pipi bersemu merah. “Ga, kok! Kebetulan aja tadi datengnya barengan! Gue, mah, selalu sama Bang Debo!”
            “Alah, ngeles aja lo!” Oik tertawa.
            “Elo, tuh! Nih, si kosong-tiga-kosong-tiga!” ejek Shilla balik, matanya melirik Cakka.
            “Oik, mah, malu-malu kucing! Siapa coba yang kemarin ngetweet kosong-tiga-kosong-tiba?” timpal Zevana.
            “Ik?” Ify menatap Oik penuh tanya.
            “Cipit! Sipit, Fy! Bukan Cakka!” elak Oik. Benar-benar berbohong. “Shill, please, deh.. Lo tahu sendiri sipit itu siapa.”
            Cakka tersenyum kecut. Tanpa mengindahkan tatapan meminta maaf dari Oik, Cakka berlalu masuk ke dalam kelas.

**

            Siang itu, Agni berjalan ke bangku Cakka untuk mendiskusikan masalah basket. Maklum, keduanya adalah anggota tim basket sekolah. Keduanya pun mengobrol seru. Juga tidak menghiraukan Oik yang duduk termenung sendiri di tempatnya.
            “Agni! Benalu banget lo?! Jangan ganggu Cakka sama Oik, dong!” teriak Obiet dari bangkunya.
            “Hah?” Agni menatap Obiet tak mengerti.
            “Cakka sama Oik tadi, tuh, lagi pacaran, tau!” sela Deva dengan gemas.
            Agni mengangguk mengerti. Dan, dengan setengah hati, ia meninggalkan bangku Cakka.
            Oik menoleh malas. Ia sedang malas berbicara banyak hari ini. Maka dari itu, ia memilih menyingkir dan duduk di samping Ray.
            “Sekarang malah si Ray, nih, yang jadi benalu.” Deva berkata demikian seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.
            “Lihat, tuh, si Cakka. Diem aja, kan? Lagi jealous berat, tuh, pasti!” timpal Obiet.
            Oik menggelengkan kepalanya dan menatap Deva serta Obiet dengan sangar. Ia memberikan isyarat kepada Ray agar tak mendengarkan racauan Deva dan Obiet yang tidak jelas sama sekali tadi.
            Ini kenapa jadi gini?! Kenapa semuanya pada ngeklaim kalau gue ini ceweknya Cakka dan Cakka itu cowok gue? Eh, tapi ga apa-apa, deh! Eh? No! Gue beneran suka Cakka?

**

@OikCR27: What time is it? Where you are? I miss you more than anything.
@gabrielstev: @cakkaNRG -> RT @OikCR27: What time is it? Where you are? I miss you more than anything.
@OikCR27: @gabrielstev @cakkaNRG it lagu gab -_-
@gabrielstev: @OikCR27 @cakkaNRG iy, lagu. Bwt cakka :p
@OikCR27: @gabrielstev @cakkaNRG KAMPREEEETTT!!!!

**

            “Gabrieeeeelll!!! Itu penggaris gue! Balikin ga?!” Oik memekik jengkel ketika menyadari penggarisnya telah lenyap.
            “Penggaris doang, Ik! Pelit amat lo?” Gabriel menimpali dengan santai.
            “Iya, tapi balikin! Gue mau ngerjain tugas dari Mr Dave, nih!” pekik Oik kembali.
            “Ambil sendiri, dong,” balas Gabriel.
            “Gue bilangin sipit, nih!” ancam Oik.
            Cakka berdecak kesal. “Sipit lagi, sipit lagi!”
            “Cakka jealous, tuh, Ik,” Ify tertawa lebar ketika melihat ekspresi Cakka.
            Oik hanya menggelengkan kepalanya tak peduli. Tanpa menengok ke belakang –meja Gabriel dan Cakka–, Oik mengambil penggarisnya. Namun tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu...
            “Mau pegang tangannya Cakka, mah, biasa aja. Pakai sok-sokan ga ngelihat, pula! Alay lo, Ik!” ejek Gabriel.
            Oik tersentak. Ia segera menengok ke belakang dan mendapati Cakka sedang menatapnya dengan tersenyum lebar. Cepat-cepat Oik lepaskan pegangannya pada telapak tangan Cakka.

**

            “Fy, kayaknya gue beneran udah move on, deh..” Oik berbisik pelan di telinga Ify ketika pelajaran Mr Dave sedang berlangsung.
            Ify menengok kaget ke arah Oik dengan mata melebar. “Serius lo?”
            Oik mengangguk lemas. “Dua-rius malah, Fy!”
            “Gimana ceritanya?” Ify mendadak panik karena jawaban Oik barusan.
            “Ga ngerti,” Oik menggeleng dengan wajah polosnya. “Tapi, yang pasti, kemarin gue udah biasa aja waktu papasan sama si sipit. Udah ga deg-degan kayak biasanya lagi.”
            Ify sampai melongo dibuatnya. Pasalnya, Oik ini tipikal cewek setia yang tak gampang move on. Sudah satu tahun lebih hubungannya dengan Alvin gantung pun, Oik masih setia menyimpan perasaannya. Lalu, sekarang?
            “Emangnya lo move on ke siapa?” tanya Ify sekalem mungkin.
            Oik menahan napasnya ketika ia dengan sengaja melirik Cakka yang sedang mengerjakan soal di depan kelas.
            Ify kembali melongo kaget. “Ca...?”
            “Ssssttt!!!” Oik meletakkan jari telunjuknya di bibir. Setelahnya, ia mengangguk lemas. Saat itu pula ia membenamkan kepalanya dalam telapak tangannya.

**

            Oik sedang home alone malam itu. Seluruh keluarganya sedang mendatangi sebuah acara di daerah Bekasi. Dan, Oik malas kalau harus bepergian malam-malam begini. Lebih baik di rumah, membuka jejaring social atau apapun itu asalkan tidak ke luar kota malam-malam.
            Ngomong-ngomong soal jejaring sosial, Oik teringat akan akun twitternya. Segera diambilnya ponsel yang terletak di atas meja belajar, lalu kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Oik pun membuka aplikasi UberSocial miliknya.
            Oik masih setia membaca setiap tweets yang berada di timelinenya. Jemarinya berhenti mengscrolltimeline ke bawah ketika ia membaca sebuah tweet yang mampu membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
@cakkaNRG: AZ
            “Awesome and Zany. Dasar! Masih inget aja lo, Kka. Gue kira cuman gue yang inget kalau lo pernah ngomong begitu ke gue. Awesome and Zany.” Oik tertawa kecil.
            Oik pun merefresh timelinenya. Hatinya mencelos ketika membaca dua buah tweets baru yang muncul.
@Rayprasetya227: Ashilla Zahrantiara :p cpt ditmbk dong kka :p RT @cakkaNRG: AZ
@cakkaNRG: Halo bro :D RT @Rayprasetya227: Ashilla Zahrantiara :p cpt ditmbk dong kka :p RT @cakkaNRG: AZ
            Oik pun mulai mengetikkan sesuatu. Dan, setelahnya, ia segera mengsend tweet tersebut.
            “Jadi... itu buat Shilla. Oh.” Oik tertawa miris. Ia mendongakkan kepalanya, mencegah agar butiran Kristal itu tak jatuh dari kedua matanya.
            “Jadi gini... semuanya ga ada artinya apa-apa, ya? Lo nyanyi pakai gitar itu pun bener-bener ga ada yang spesial, ya? Soal yang 121212 itu berarti juga omong kosong aja.” Oik mulai merasakan napasnya yang tak beraturan.
            Gawat! Asmanya kambuh!
@OikCR27: Oh jd gt ya. Ok. Gpp. Hehehe. :’)
@gabrielstev: @cakkaNRG bngst lo! :@

**

            Cakka hari ini benar-benar berubah! Entahlah, Oik merasakannya. Tetapi, kenapa?
            Memang, hari ini Cakka tetap berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Tetapi ia sama sekali tidak mengajak bicara Oik. Ia seperti menganggap Oik tak ada. Semenjak bel masuk berbunyi hingga sekarang –istirahat kedua–, Cakka sama sekali tak menghiraukan Oik. Bahkan ketika Oik mencoba ikut mengobrol bersama Cakka, Gabriel, dan Ify pun Cakka langsung berlalu pergi.
            Kali ini kelas sedang benar-benar sepi. Hanya Ify dan Oik yang berada di dalam kelas. Entah ke mana perginya teman-teman sekelas mereka yang lain.
            Oik memutar badannya agar ia dan Ify berhadap-hadapan. “Fy... kok, gue ngerasa Cakka hari ini berubah, ya?”
            Ify mengangguk dengan wajah prihatin. “Iya, gue juga. Padahal biasanya dia semangat banget kalau ngobrol sama lo. Di mana ada elo, di sana ada dia. Tapi sekarang...”
            “Iya,” Oik mengangguk sedih.
            “Yang sabar aja, Ik.” Ify mengelus bahu Ify dengan tersenyum getir. “Padahal baru kemarin gue tau kalau lo move on ke dia. Kalian cocok. Tapi sekarang malah gini.”
            Ify beranjak berdiri.
            “Mau ke mana, Fy?” tanya Oik.
            “Buang sampah,” Ify menunjukkan segenggam bungkus permen bekas mereka untuk mengisi kebosanan pelajaran fisika tadi pagi.
            Oik terkikik pelan dan mengambil alih bungkus-bungkus permen tersebut. “Sini, biar gue aja yang buang.”
            Oik pun beranjak meninggalkan Ify yang kembali duduk di bangkunya. Ketika Oik membuka pintu kelas dan akan keluar, rupanya ada sesosok lelaki pula yang sedang memegang gagang pintu dari luar dan akan masuk. Cakka.
            Mereka terdiam sejenak. Cakka memandang Oik lekat-lekat. Oik menaikkan sebelah alisnya, member isyarat untuk Cakka segera berbicara kalau-kalau lelaki itu akan berbicara.
            Setelah hampir semenit menunggu dan Cakka tak kunjung membuka mulutnya. Oik melengos. Ia melirik Ify sekilas dan tersenyum getir. Oik segera keluar kelas dan membuang sampah. Begitu ia masuk kembali ke dalam kelas, ia melihat Cakka telah duduk di tempatnya seraya menatapnya lekat-lekat. Oik bergeming. Ia menutup pintu kelas keras-keras hingga meninggalkan bunyi berdebam.

**

@OikCR27: Aduh! Kmptr rsk n di rmh gak ada org. Bisa gak ya gw bnrin ini sndr -_-
@cakkaNRG: Pasti bisa :) dicba dl mknya :)
@OikCR27: Please jgn kyk gn. Dia ya dia. Gw ya gw! :@
@cakkaNRG: Maaf

**

            Oik tersenyum dalam hati. Hari ini Cakka telah kembali menjadi Cakka yang dulu. Cakka sudah mengajak Oik ngobrol. Cakka juga sudah tidak lantas berlalu lagi jika Oik masuk ke dalam percakapannya bersama Ify dan Gabriel, seperti saat ini.
            “Udah tanggal sebelas, nih, Kka.” Gabriel menggumam.
            “Terus?” Cakka memandang Gabriel dengan alis terangkat sebelah.
            “Besok tanggal dua belas, bego!” Ify menjitak dahi Cakka dengan keras. “Gimana sama janji lo waktu itu?”
            “Janji yang mana, sih?” tantang Cakka, ia menatap Ify dengan menahan senyum.
            “Jadi lo mau nembak Shilla atau Oik besok?” goda Ify.
            Cakka sudah tertawa lebar. Ia memandang Oik dan Shilla bergantian.
            Saat itu pula, Oik menginjak kaki Ify dan tersenyum puas melihat Ify yang meringis menahan sakit. Siapa suruh langsung to the point begitu?
            “Shilla, dong! Ya, kan, Kka?” ujar Oik. “Gue sama Shilla, ya, mending Shilla! Dia, kan, cantik. Adiknya Mas Debo, pula. Nah, gue?” Oik mencibir diakhir kalimatnya.
            “Oke, kalau itu mau lo..” lirih Cakka.
            Ify melirik Oik. Terlihat jelas sekali jika Oik tidak benar-benar tertawa lepas. Gadis berdagu tirus itu dapat melihat dengan jelas bahwa binar mata Oik mulai menghilang seiring dengan menjadi keruhnya wajah Cakka.

**

            Bel pulang sudah berbunyi semenjak setengah jam yang lalu tetapi Oik, Ify, Gabriel, dan Cakka masih berada di dalam kelas. Mereka mendapat hukuman dari Bu Winda untuk membersihkan kelas karena mereka bereempat terlambat masuk ketika jam pelajaran Bu Winda.
            Akhirnya, setelah membagi tugas dan menjalankannya selama kurang lebih setengah jam, mereka berempat selesai juga membersihkan kelas. Keempatnya pun langsung membereskan barang masing-masing dan memasukkannya ke dalam tas. Keempatnya berjalan keluar dari kelas dengan dipimpin Gabriel. Ify, Cakka, dan Oik mengikuti di belakang Gabriel.
            “Ini, mah, harusnya kerjaannya cleaning service!” gerutu Gabriel.
            “Ya siapa suruh tadi kita telat masuk? Lo, sih, ngajak ke kantin dulu! Biang kerok emang lo!” Ify melotot memandang Gabriel.
            Gabriel dan Ify sudah ada di luar sedangkan Cakka masih berdiri di ambang pintu kelas, serta Oik masih berdiri di belakang Cakka. Oik mengernyit memandang tubuh jangkung Cakka di hadapannya.
            “Minggir kenapa, sih, Kka?” bentaknya.
            Cakka menengok ke Oik dan memamerkan wajah mengejeknya. “Terserah gue.”
            “Iya tapi, kan, gue mau keluaaaaarrr!!!” Oik sudah mencak-mencak sendiri di belakang Cakka.
            “Ya udah, keluar aja.” balas Cakka.
            Oik mendorong Cakka dari belakang dengan sekuat tenaga tetapi tubuh Cakka tak kunjung bergeser. “Elo, kan, tinggi gede! Gimana bisa gue lewat kalau lo masih ngendon di pintu gini?!”
            Di luar kelas, Gabriel dan Ify sudah meledak tawanya karena keusilan Cakka itu. Ify menaik-turunkan alisnya seraya memandang Oik. Oik membalasnya dengan menggembungkan pipinya dan mimik wajah cemberut.
            “Minggir, dong! Gue mau balik, nih!”
            “Ga mau!”
            Oik beralih pada Gabriel dan memasang wajah merana. “Gab, Cakka suruh minggir... please!”
            “Dia, mah, modus, Ik! Berdiri di situ biar lo dorong-dorong dia. Biar lo pegang-pegang dia. Modus banget, kan?” Gabriel berkata dengan wajah serius. Meledaklah lagi tawa Ify.
            “Tuh... dengerin Gabriel, Ik!” Ify pun ikut-ikut memasang wajah seriusnya.
            Oik tertawa lebar. Ia tetap berusaha mendorong tubuh Cakka agar bergeser dari ambang pintu. Namun, sekuat apapun usahanya untuk mendorong Cakka, tubuh Cakka tak kunjung bergeser juga. Oik terlalu mungil untuk mendorong tubuh jangkung Cakka sendirian.
            Oik melirik Ify sekilas dengan tersenyum malu-malu. Kini tubuhnya benar-benar dekat dengan tubuh Cakka dan, tentu saja, wangi parfum Cakka kembali menari-nari di hidungnya. Oik kembali tertawa untuk sekedar menutupi salah tingkahnya.
            Apa ini artinya... lo milih gue?

**

            Pagi itu, Oik datang di sekolah ketika sekolah sudah ramai. Dengan melangkah penuh senyuman dan headset yang masih terpasang di telinganya, Oik menuju kelasnya. Betapa bingungnya Oik ketika ia mendapati seluruh teman-teman sekelasnya yang sudah datang sedang berkumpul mengelilingi sesuatu di bangku belakang.
            Setelah meletakkan tasnya dan kembali mengantongi iPodnya, Oik berjalan menuju kerumunan tersebut. Terdengar sorakan yang menggema di ruang kelasnya. Oik menyeruak ke dalam kerumunan seraya mengecilkan volume iPodnya.
            “Aku suka sama kamu, Shill. Kamu mau, kan, jadi cewek aku?”
            Deg!
            Oik mengenali suara itu. Sangat mengenalinya.
            “Cakka?” Oik bergumam tak percaya.
            Oik berusaha mengendalikan dirinya. Tangannya yang sudah gemetar segera ia masukkan ke dalam saku rok. Ia paksakan senyuman lebar terukir di bibirnya. Oik pun menegakkan kepalanya dan menatap sumber sorakan teman-temannya dengan menahan sakit di hatinya.
            “Terima, Shiiiillll!!!” sorak teman-temannya.
            “Ciiiieeeee!!! Pantesan aja pagi-pagi udah ramai. Ternyata calon best couple sekolah, toh..” sorak Oik dengan senyum palsunya.
            Ify menengok ke arah Oik. Wajah gadis berdagu tirus itu sudah merah padam karena menahan amarahnya pada seorang lelaki di tengah-tengah mereka semua yang sedang berlutut di hadapan calon gadisnya. Tatapan Ify melunak melihat kedua bola mata Oik yang berkabut.
            Ify tersenyum sedih pada Oik. Oik membalasnya dengan cengiran lebar dan menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan Ify. Tak ada yang tahu bahwa mata Oik telah berkaca-kaca. Ya, hanya Ify yang tahu.
            “Terima, dong, Shill,” kata Oik, tepat saat pandangannya dan pandangan Shilla bertemu.
            Shilla masih menimang-nimang dengan wajah merona merah. Oh, cukup. Oik sudah tak tahan lagi.
            “Terima, Shill! Gue tinggal dulu, ya. Panggilan alam, nih!” Oik kembali berkata pada Shilla. Dipaksakannya kembali cengiran lebar untuk Shilla.
            Tanpa menunggu lama, Oik menjauh dari kerumunan itu dengan air mata yang telah meleleh dan tubuh yang berguncang hebat karena menahan tangis sedari tadi. Keluar dari kelas. Tanpa ia sadari, ekor mata Cakka terus menatapnya hingga ia menghilang di balik pintu kelas.
            Ify menggeleng tak percaya pada Cakka. Ia menatap Cakka ketika Cakka telah selesai menatap punggung Oik lamat-lamat. Ify mengacungkan jari tengahnya pada Cakka dengan wajah penuh amarah.
            “Fuck you!” desis Ify. Dan Ify yakin Cakka dapat membaca gerak bibirnya.
            Ify pun ikut membubarkan diri dari kerumunan itu. Ia berlari mencari Oik dan menemukannya sedang berjalan terseok-seok seraya menghapus lelehan air matanya menuju toilet sekolah.
            “Maafin gue dan Gabriel yang udah comblangin elo sama Cakka, Ik. Ini salah kami.” lirihnya.
            Oik menengok ke belakang dan kaget mendapati Ify di sana. Ia tersenyum tipis. “Ga apa-apa. Cakka, kan, emang sukanya sama Shilla. Lagi pula, masih ada sipit. Iya, kan, Fy?” tukas Oik. Tawanya berderai seiring dengan air matanya yang semakin deras menetes.
            Ify tak tahan lagi. Kedua matanya pun telah berkaca-kaca. Segera saja ia berlari menuju Oik dan merengkuh tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Tangis Oik pun pecah, begitu juga dengan Ify.
            “Masih ada Alvin, Fy. Gue sukanya sama dia, kok. Bukan sama Cakka. Mungkin gue jarang ketemu Alvin aja, makanya seolah-olah gue kayak udah move on dari dia. Padahal belum.” Oik mulai meracau dalam tangisnya, membuat Ify melontarkan sumpah serapahnya pada Cakka dalam hati.
            Terima kasih untuk semuanya. Thanks for all the memories you’ve given.. Kita mulai dari nol lagi, ya, Kka. Seolah-olah kita baru aja kenal. Lo tau? Kita udah bikin banyak momen-momen indah yang ga akan pernah bisa gue lupain. And now... let me bring you out of my heart, let me forget about this feeling. Yang terakhir, terima kasih karena sudah pernah singgah di hidupku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS