Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label zevana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zevana. Tampilkan semua postingan

SESUATU YANG BARU [06] : Tentang Ify

           Begitu keluar dari cafeteria, Ify segera menuju library. Tak lupa juga ia memeriksa kembali keberadaan member card library yang tadi ia letakkan pada saku jubahnya. Ify telah berpesan kepada Oik untuk mengantarkan Alvin ke halaman depan sekolah. Seperti biasa, kereta kuda telah menunggu disana guna mengantarkan ke rumah sakit.
            Ify berjalan sendirian diantara lalu-lalang siswa-siswi lain. Memang, jalan menuju rumah pohon dan library menjadi satu. Pada ujung jalan, jika ke kanan akan menemukan jalan setapak menuju rumah pohon dan jika ke kiri maka akan bertemu library dan Kesekretariatan OSIS serta berbagai ekskul.
            Ify mendorong pintu library dan masuk. Setelah mengisi buku daftar pengunjung, ia menuju bagian timur library. Buku mengenai musik terletak pada rak-rak dibagian itu.
            Gadis berbehel itu berjalan diantara dua rak buku yang menjulang tinggi. Dengan mata yang menyusuri setiap judul buku disana, Ify bergerak pelan. Buku yang ia cari tak kunjung ia temukan.
            “Sedang mencari apa?” tanya sebuah suara bariton.
            “Eh?” Ify terkesiap. Ia tersenyum malu pada seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu rupanya juga sedang mencari-cari sesuatu. “Buku musik, untuk tugas.” Ify menyerahkan secarik kertas yang ia kantongi bersama member card library.
            Lelaki itu menerima secarik kertas dari Ify dengan alis bertaut. “Kamu anak kelas musik?” tanyanya.
            “Ya, begitulah. Kamu sendiri?” Ify mengerling pada lelaki itu dan kembali fokus pada rak buku.
            “Aku juga. Mungkin aku bisa membantu kamu cari buku ini.” Lelaki itu kembali melirik secarik kertas dari Ify. Ia seperti mengenali tulisan itu. “Ini tulisan tangan.....”
            “Nggak, nggak!” Ify mengibaskan kedua tangannya dengan panik. “Aku tahu tulisan itu memang jelek. Tapi, jangan salah. Itu bukan tulisanku.”
            Lelaki itu terkekeh. “Bukan itu maksudku. Aku seperti mengenali tulisan ini.”
            “Sudahlah. Bukan waktunya mengingat hal sepele seperti itu. Jadi membantuku mencari buku?” Ify tersenyum diujung kalimatnya.
            “Tentu!” Lelaki itu tersenyum riang dan mulai membantu Ify mencari buku yang dimaksud.
            “Buku ini susah sekali dicari,” gerutu Ify.
            “Sudahlah. Bukan waktunya menggerutu hal sepele seperti itu.”
            Ify berbalik dan menatap lelaki yang memunggunginya itu dengan berkacak pinggang dan senyum mengembang. “Hey! Kamu meniru ucapanku!”
            “Ya.” Lelaki itu mengangkat bahunya dengan cuek. Dan dalam sekejap, ia berbalik menghadap Ify dengan membawa sebuah buku. “Buku ini, kan, yang kamu cari?”
            Ify menahan napasnya tak kentara. Bukan karena gerakan cepat lelaki itu yang berbalik badan. Bukan. Melainkan jarak diantara mereka berdua yang sangat dekat. Dalam beberapa detik, Ify masih terpana. Lalu setelahnya, ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah padam.
            Ify mengambil buku dari tangan lelaki itu dan tersenyum kikuk. “Y-Ya, ini buku yang... aku cari.” Ify melirik sampul buku tebal tersebut. “Jadi, ini jilid pertama? Ya, ya. Dimana kamu menemukannya? Aku juga butuh jilid kedua untuk aku bawa ke rumah pohon.”
            Lelaki itu bergeser ke samping beberapa langkah, tangannya menunjuk rak buku yang tadinya berada di belakangnya.
            Tangan Ify terulur mengambil buku jilid kedua. “Ya, aku menemukannya.”
            “Baiklah. Aku permisi dulu.”
            Dan ketika Ify masih fokus membolak-balikkan halaman kedua buku itu, lelaki yang tadi membantunya telah melesat meninggalkan perpustakaan entah kemana. Begitu Ify selesai meneliti tiap halaman kedua buku itu, ia menengok ke samping.
            “Terima... kasih..... Eh? Kemana lelaki tadi?” Ify mengedarkan pandangannya pada seluruh penjurulibrary dan ia hanya menemukan pintu library yang bergoyang-goyang, pertanda baru saja ada yang masuk atau keluar.
            “Padahal aku belum sempat menyampaikan terima kasih.” Ify mengangkat bahunya dan membawa buku-buku itu kesebuah meja bundar ditengah-tengah library yang dikelilingi oleh empat kursi empuk.
            Ify meletakkan keduanya diatas meja dan menghempaskan tubuhnya pada kursi empuk itu. Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya, Ify membuka buku jilid pertama dengan bersemangat. Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit dan ia hanya punya waktu satu jam lebih lima menit sebelum library ditutup untuk menghafalkan not-not balok yang berada pada halaman paling akhir.
            Jemari Ify bergerak membalik halaman dengan hati-hati. Kedua buku ini adalah buku tua yang halamannya sudah menguning. Jika ia membalik halamannya dengan kasar, ia bisa saja membuat beberapa lembar terlepas dari bukunya.
            Mata Ify terbelalak lebar melihat sederet not balok dihadapannya.
            “Apa-apaan ini?!” Ify mengacak-acak rambutnya frustasi. “Not balok lagu klasik? Are you kidding me?!”
            Rangkaian not balok nan rumit inilah santapan malamnya. Ini tugas pertama dari guru pembimbingnya di kelas seni musik. Ify tak habis pikir dengan jalan pikiran beliau. Mereka ini –Ify dan teman-temannya di kelas seni musik– masih terbilang ‘bau kencur’. Mereka baru tiga hari mengenyam segala tetek-bengek seni musik dan sekarang sudah dihadapkan dengan musik klasik? Apa-apaan?!
            “Bagaimana aku bisa menghafalkan not-not ini dalam waktu satu jam?” Ify menatap halaman tersebut dengan lemas. “Terpaksa aku harus membawa kedua buku ini ke rumah pohon.”
            Satu jam yang menyiksa ini Ify habiskan dengan menghafalkan setiap not perlahan-lahan. Setelah dua puluh menit, Ify mulai menguap. Sepuluh menit kemudian, Ify dapat merasakan kadar kantuknya meningkat. Pukul sembilan kurang lima belas menit, Ify menelungkupkan wajahnya diatas meja.
            “Aku menyerah,” desahnya.
            “Menyerah apa?”
            Ify menegakkan badannya begitu mendengar sebuah suara yang menggelitik telinganya. Dan begitu ia menengok ke kanan, Ify terkesiap. “Kak Debo?”
            “Ya?” Debo menatap Ify lamat-lamat.
            “Sedang apa disini?” tanya Ify. “Library sudah hampir tutup.”
            “Sebenarnya cuma iseng. Tadi aku sama sekali nggak ada kegiatan di rumah pohon. Niatnya kesini, mencari majalah. Tapi ternyata malah menemukan kamu yang setengah desperate disini. Ada apa, Fy?” kini ganti Debo yang bertanya.
            Ify menggeleng lalu menutup buku di hadapannya. “Ada tugas menghafal not balok. Dan ternyata ini adalah not balok musik klasik.”
            “Wow,” Debo tertawa. “Pasti susah.”
            “Of course!” Ify mendesah pelan.
            “Besok, kan, hari Minggu. Kamu hafalkan saja di rumah pohon, Fy.”
            “Ya, ya, ya..” Ify mengangguk malas. “Itu berarti aku akan menghabiskan hari Minggu dengan kedua buku ini.” Ify menunjukkan kedua jilid buku itu pada Debo dan beranjak berdiri.
            “Sudah malam. Ayo, aku antar ke rumah pohon.” Debo pun ikut berdiri.
            Ify mengangguk. Ia berjalan menuju penjaga library yang terduduk dibelakang meja kebesarannya. Debo mengekornya dan memperhatikan setiap gerak yang Ify buat. Setelah urusan pinjam-meminjam buku usai, keduanya berjalan meninggalkan perpustakaan.
            Lampu taman yang berada disisi kanan dan kiri jalan setapak mulai menyala redup. Itu berarti, pemberlakuan jam malam sudah akan dimulai. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah pohon seraya mengobrol kecil.
            “Sudah mencoba kirim pesan menggunakan burung mungilmu?” tanya Debo.
            Ify meliriknya sekilas dan menggeleng. “Memang bisa?”
            “Jelas bisa, dong.” Debo terkikik menyadari kepolosan Ify dan dengan refleks ia mengacak-acak rambut gadis itu.
            “Kak Debo apa-apaan, sih?!” Ify menggerutu seraya tertawa dan merapikan kembali rambutnya. “Bagaimana caranya?”
            “Gampang saja. Tulis pesanmu untuk seseorang diselembar kertas. Beri juga blok rumah pohonnya. Setelah itu, lipat dan berikan pada burung mungilmu. Nanti burung mungilmu yang akan mengantarkan pada rumah pohon yang dituju.”
            “Wah, lucu sekali! Kalau begitu, besok aku akan coba mengirimkan pesan untuk kamu, Kak.” Ify berkata dengan antusias.
            “Boleh, boleh.” Debo membalas dengan tak kalah antusiasnya. “Blok rumah pohonku MA-09. Jangan lupa, itu berada di kawasan rumah pohon siswa tingkat kedua.”
            Ify mengangguk mengerti.
            “Oh, ya. Besok setelah dinner, jangan kemana-mana, ya.” Debo tersenyum penuh arti setelahnya.
            “Aku, Sivia, dan Oik memang nggak ada rencana untuk kemana-mana,” sahut Ify datar.
            “Akan ada kejutan dari kakak-kakak OSIS yang satu tingkat dengan aku.” Debo melirik Ify untuk melihat reaksi gadis itu.
            “Kejutan apa?” Ify mendadak antusias.
            “Lihat saja nanti. Bukan kejutan lagi namanya kalau kamu tahu sekarang.”
            “Oke!” Ify mengangguk bersemangat. “Awas saja kalau kejutannya nggak mengasyikan!”
            “Bagi kamu dan dua teman kamu mungkin nggak mengasyikan tapi pasti kalian bertiga akan dapat pengalaman baru.”
            “Hey! Kalian berdua!” Sebuah suara menggelegar terdengar dari belakang Ify dan Debo. Keduanya menengok serentak pada sumber suara. “Kenapa masih berduaan pada jam segini? Masih ingat pemberlakuan jam malam, kan?” Orang itu –yang ternyata sang Kepala Sekolah– kembali bersuara.
            Ify dan Debo mengangguk dalam-dalam.
            “Kalau begitu, segera kembali ke rumah pohon masing-masing!”
            Tanpa bersuara kembali, Ify dan Debo mempercepat langkahan kaki mereka menuju rumah pohon. Begitu berada dipersimpangan antara kawasan siswa tingkat pertama dan kedua, Ify menghentikan langkahnya.
            “Sudah, Kak Debo sampai disini aja mengantar aku.” Ify mencegah Debo masuk lebih dalam pada kawasannya.
            “Memangnya kenapa?”
            “Sudah malam, Kak. Tadi Kepala Sekolah juga sudah menegur. Semakin cepat kita berdua sampai di rumah pohon masing-masing, semakin bagus.”
            Debo pun mengangguk. Ia mengiyakan permintaan Ify dengan terpaksa. Awalnya, ia ingin mengantarkan Ify sampai di rumah pohonnya. Ini sudah pukul sembilan, lampu disisi jalan setapak mulai meredup dan ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ify.
            “Aku kembali ke rumah pohonku, ya. Kak Debo juga kembali saja.” Ify tersenyum kecil lalu berbalik dan meninggalkan Debo.
            Ify tak menyadari lelaki itu masih berdiam diri ditempat, menatap punggungnya lekat-lekat, dan baru berbalik badan juga ketika punggungnya telah hilang ditelan gelapnya malam.
            Begitu sampai dibawah rumah pohonnya, Ify langsung beranjak naik. Suara nyaring Oik terdengar sampai bawah. Ify terkekeh pelan begitu sampai diatas rumah pohonnya dan melihat Oik serta Sivia masih terjaga. Keduanya sedang bergosip, rupanya.
            “Menggosipkan apa malam-malam begini?” tanya Ify seraya meletakkan dua jilid buku yang tadi ditentengnya diatas meja belajar.
            “Kamu kelewatan banyak sekali, Ify! Tadi kita membicarakan soal Dokter Gabriel, Irsyad, Zevana, Cakka, Nadya.....”
            Ify tak lagi mendengar celotehan Oik dan kikikan Sivia karena ia beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit setelahnya, Ify keluar dengan mengenakan piyama. Ia pun berbaring diranjangnya dan mengamati kedua teman sekamarnya yang masih asyik bergosip.
            “Ify, bagaimana menurutmu? Oik bilang Agni itu cantik. Sedangkan menurutku, Agni itu manis. Ify? Fy?”
            Suara Sivia makin terdengar menjauh. Kesadarannya pun memudar. Ify rupanya telah memasuki alam mimpi, meninggalkan Sivia dan Oik yang masih berargumen mengenai Agni yang cantik atau Agni yang manis.

**

            Ify terbangun keesokan harinya ketika kamar telah kosong. Hanya menyisakan dirinya seorang. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, ia bangkit dan meregangkan tubuh. Ketika kesadarannya sudah pulih betul, ia melihat burung mungilnya tengah membawa secarik kertas berwarna pink. Seperti dari Oik.
            Burung mungil bercicit pelan ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Karena air yang pagi itu terasa amat dingin, akhirnya Ify memutuskan untuk mandi kilat. Tak sampai lima menit, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai.
            Ia terduduk di kursi belajarnya. Perlahan ia mulai memakan menu sarapannya. Kebetulan bubur ayam dan segelas teh hangat adalah menu sarapan kali ini. Ify mengerling pada burung mungilnya dan memanggilnya mendekat.
            “Ada pesan dari siapa?” tanya Ify.
            Ia meletakkan sendok serta garpunya terlebih dahulu dan mengambil secarik kertas yang digigit burung mungilnya. Ia membuka lipatannya dan mulai membaca.

Aq & Sivia sdh berada d Bukit Hijau.
Cpt susul kmri.
-Oik-

            Ify mengangguk mengerti dan membuang begitu saja secarik kertas tadi. Sebelum kertas tersebut menyentuh lantai, benda itu sudah terbakar dan asapnya hilang begitu saja. Ify mengernyit menatap cara kerja pesan singkat tersebut lalu mengangguk dalam diam.
            Sepuluh menit kemudian, Ify telah menghabiskan sarapannya. Ia bergegas meninggalkan rumah pohonnya untuk menyusul Sivia dan Oik di Bukit Hijau.
            Disepanjang jalan menuju Bukit Hijau, banyak sekali siswa-siswi Witchy School of Art yang dilihat Ify. Rupanya siswa tingkat kedua dan ketiga mempunyai kegiatan rutin setiap Minggu pagi. Senam bersama di Bukit Hijau! Ify mempercepat langkahnya meninggalkan kawasan rumah pohon.
            “Ify!” panggil seseorang.
            Ify menengok ke belakang dan mendapati Keke disana. “Hay, Ke!”
            “Mau kemana, Fy?” tanya Keke seraya menyamai langkahnya dengan Ify.
            “Bukit Hijau. Sivia dan Oik sudah disana. Kamu?” tanya Ify balik.
            “Sama.” Keke mengangguk.
            “Bagaimana tugasnya? Sudah hafal?” Ify kembali mengingat not-not balok sialan itu.
            Keke menggeleng sebal. “Belum. Susah sekali! Itu, kan, musik klasik. Benarkah kita akan benar-benar memainkannya dikelas pada hari Senin?”
            “Sepertinya iya.” Ify mengangguk tak yakin. “Sendirian saja, Ke, ke Bukit Hijau?”
            “Ah, ya!” Keke mendadak bersemangat. “Sebenarnya aku kemari mau menemui kakakku yang aku ceritakan waktu itu. Tapi terputus karena kamu pergi bersama kakak itu,” Keke menekankan pada akhir kalimat dengan bola mata berputar malas.
            Ify terkekeh. “Ya. Lalu? Kenapa ekspresimu seperti itu?”
            “Nggak. Hanya saja... Ya, kamu pasti nanti tahu sendiri.” Keke mengangkat bahunya tak perduli.
            “Baiklah. Kamu akan menceritakan tentang kakakmu, kalau aku tidak salah ingat.”
            “Iya! Iya!” Keke kembali bersemangat. “Kakakku ini laki-laki dan berada ditingkat kedua. Dia sedang senam bersama di Bukit Hijau. Aku akan mengenalkanmu pada kakakku.”
            Keduanya pun sampai di Bukit Hijau. Ify mengedarkan pandangannya, mencari Oik dan Sivia diantara kerumunan didepannya. Sedangkan Keke –tentu saja– mencari kakaknya.
            “Ah! Itu dia!” Keke mendadak berpekik senang.
            “Ya? Siapa?” sahut Ify, sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Keke.
            “Kakakku, Fy! Kakakku! Dia ada disana!” Keke menggoncang-goncangkan lengan Ify sesaat lalu menunjuk kearah siswa-siswi tingkat kedua dan ketiga yang tengah senam bersama.
            “Ya,” Ify hanya bergumam seadanya menanggapi antusiasme Keke.
            “Ayo! Aku akan mengajakmu berkenalan dengan kakakku sekarang juga!” Keke tiba-tiba saja menyeret lengan Ify menuju arah tertentu.
            Dapat! Itu mereka! Sivia dan Oik tengah berkerumun dengan siswa-siswi tingkat pertama lainnya. Mereka berada disisi utara Bukit Hijau. Dengan sedikit paksa, Ify melepaskan seretan tangan Keke dilengannya lalu berlari menghampiri kedua sahabatnya.
            “Ify! Ify! Mau kemana kamu, Fy? Ify!” Keke berteriak nyaring dari tempatnya.
            Ify hanya menengok sekilas kebelakang dan tersenyum meminta maaf pada Keke. Ify tidak mau berada diantara kakak-beradik yang –takutnya– tidak akan menghiraukan kehadirannya nantinya.
            Keke menunduk lesu. “Ya, lain kali saja aku kenalkan Ify pada kakak.”
            “Keke?”
            Keke mendongak dan mendapati kakaknya telah berdiri disampingnya. “Eh, Kakak. Sudah selesai senamnya?”
            “Belum.”
            “Lalu kenapa menghampiriku?” tanya Keke gemas.
            “Karena tadi aku lihat kamu langsung sedih begitu ditinggal temanmu.”
            “Oh,” Keke mengangguk.
            “Itu tadi temanmu, kan?” tanya kakaknya.
            “Iya.” Keke mengangguk lagi. “Teman sekelasku. Namanya Ify, Kak. Sebenarnya aku akan mengenalkan kalian berdua sekarang tapi ternyata dia malah menghampiri sahabat-sahabatnya.”
            “Ya sudahlah, lain kali saja.” Keke merasakan kakaknya mulai menepuk-nepuk puncak kepalanya dan membuatnya tersenyum. Ia suka sekali diperlakukan begini oleh kakaknya.
            “Dia berteman akrab dengan Kak Debo,” ujar Keke tak suka.
            Kakaknya mengerling padanya dan mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?”
            “Ya!” Keke mengangguk cepat.
            Kakaknya mengangguk mengerti. Ia mengamati punggung Ify dari jauh. “Aku seperti pernah melihatnya, Ke.”
            “Jelaslah, Kak! Kita, kan, satu sekolah!” ujar Keke seraya memukul lengan kakaknya.

**

            Sore itu, ketika Ify telah selesai menghafalkan seluruh not balok dari kedua jilid buku tersebut, ia mulai berpikir untuk mencoba mengirim pesan melalui burung mungilnya. Ia pun merobek secarik kertas dari buka coret-coretnya dan menuliskan sesuatu disana.

Hay, Kak!

            “Eh, tunggu! Blok rumah pohon Kak Debo apa, ya?” Ify mengetuk-ketukkan telunjuknya pada pelipis, berusaha mengais ingatan dari otaknya. “MA-09 bukan? Atau NA-09, ya? Aduh, aku lupa! Tapi seperti NA-09. Iya. NA-09.”
            Ify pun membubuhkan blok rumah pohon Debo pada sudut kanan bawah kertas lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu, ia menyerahkannya pada burung mungilnya. Ify menyaksikan burung mungilnya mulai keluar dari rumah pohon dan bergerak menjauh.
            Ia menunggu burung mungilnya untuk kembali dengan bersenandung kecil. Kelima jemari tangan kanannya mengetuk meja belajarnya sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan berisik.
            “Sedang apa, Ify?” tanya Sivia.
            Ify menengok pada Sivia dan menggeleng saja. “Bukan apa-apa, kok.”
            Sivia mengangguk. “Menunggu sesuatu?” tanyanya lagi.
            Ify kembali menggeleng. “Nggak juga.” Ia kembali menatap jendela rumah pohonnya. Burung mungilnya belum terlihat. “Oh, ya! Oik kemana, Siv?”
            “Ke minimarket sekolah, membeli satu set cat air baru untuk tugas melukisnya.” Sivia menjawab sekenanya lalu kembali larut dalam tumpukan lirik lagu dihadapannya.
            Lalu, tak lama kemudian, burung mungil Ify kembali membawa secarik kertas yang ia gigit. Ify mengambilnya perlahan, membukanya, lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Hay jg. Ini siapa? Knp mmnggilku kak?

            Ify mengerutkan keningnya lalu tertawa pelan. “Bisa saja Kak Debo ini.”

Ini Ify, Kak. Aq dr tgkt prtama. Lupa?

Ify? Tmn Keke?

Iy. Aq bru tw kalo Kak Debo knl Keke.

Debo? Km slh org!!

            Ify mengerjap bingung. Jadi kesimpulannya.. Ia salah orang, begitu? Pantas saja ia sudah merasa aneh sejak awal. Seharusnya jika orang yang ia kirimi pesan tadi benar-benar Debo, orang itu pasti akan langsung mengerti ketika mendapat pesan. Mereka berdua sudah membicarakan mengenai ini semalam.
            Ify menengok pada Sivia yang juga terduduk dikursi belajarnya. “Siv?”
            “Ya?” sahut Sivia tanpa menengok Ify sedikitpun.
            “Blok rumah pohon Kak Debo berapa, ya? Sepertinya aku––,”
            Belum sempat Ify menyelesaikan kalimatnya, Sivia sudah menghela napas dan menyela. “Jadi sedari tadi kamu berkirim pesan dengan dia?” tanya Sivia tak percaya.
            “Iya,” jawab Ify sekenanya. “Sepertinya aku salah menulis blok rumah pohon Kak Debo.”
            “Ify, sudahlah!” Sivia meletakka kumpulan lirik lagu miliknya dan melenggang keluar rumah pohon. “Kamu tahu sendiri aku nggak suka Kak Debo dan kenapa kamu masih saja membicarakan soal dia didepanku?!”
            Ify menatap kepergian Sivia dengan bingung. “Sensitif sekali kamu, Sivia.”
            Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tak akan mengirimkan pesan lagi jika belum yakin blok rumah pohon Debo. Biarlah nanti selagidinner ia akan mencari Debo dan menanyakan blok rumah pohonnya. Kali ini, ia akan mencatatnya agar tidak lupa.

**

            Malamnya, Ify bersama Oik serta Sivia sedang berjalan menuju cafetaria. Sudah waktunya dinner. Ketiganya berjalan santai sembari mengobrol. Kebetulan, jalan menuju cafetaria tak seberapa ramai karena sebagian besar siswa-siswi telah berada disana.
            Ify teringat perkataan Debo kemarin malam. “Setelah dinner kalian ada rencana kemana?”
            Oik melirik Sivia sebentar dan menggeleng. “Nggak kemana-mana.”
            “Memangnya kenapa, Fy?” tanya Sivia.
            “Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Ify pun hanya mampu tersenyum garing setelahnya.
            Ketika ketiganya telah tiba dimeja makan, rupanya kursi telah tersisa tiga. Ify melirik Alvin dan Zevana serta Cakka dan Nadya. Tumben sekali dua pasangan itu sampai di cafetaria tepat waktu? Ify, Sivia, dan Oik beranjak duduk pada kursi masing-masing.
            “Sivia, sudah menemukan lagu yang cocok untuk dinyanyikan solo Senin nanti?” tanya Agni begitu Sivia baru saja duduk.
            “Belum,” Sivia menggeleng. “Aku masih bingung. Kamu?”
            Agni juga menggeleng dengan tersenyum lebar. “Belum juga.”
            “Hey! Aku juga belum.” Irsyad menyela dari samping Agni.
            Ify terdiam melihat yang lainnya mulai berbicara secara kelompok. Sivia, Agni, dan Irsyad membicarakan mengenai lagu. Alvin dan Zevana entah membicarakan apa. Oik pun rupanya sudah mengajak Cakka dan Nadya ngobrol mengenai lukisan.
            Tiba-tiba saja ada yang mencolek bahu Ify dari belakang. Ia menengok dan mendapati Debo ada disana. “Kak Debo? Sedang apa?”
            “Aku––,”
            Belum sempat Debo menyelesaikan kalimatnya, bunyi dentuman besar dari langit-langit cafetariasudah terdengar. Dinner telah dimulai. Dengan berat hati, Debo pun kembali ke meja makannya.
            Tiga puluh menit setelahnya, seluruh siswa-siswi tingkat pertama telah berada di Bukit Hijau. Mereka semua berkelompok sesuai kelas sementara ketika MOS tempo hari. Ify, Sivia, dan Oik berada dalam kerumunan siswa-siswi kelas kedelapan.
            Setiap kelas membentuk kerumunan sendiri-sendiri disegala penjuru Bukit Hijau. Bagian tengah Bukit Hijau sengaja dibuat kosong karena ada beberapa siswa tingkat kedua yang berdiri disana.
            Ify melirik sebuah pohon akasia berukuran besar yang terletak tak jauh dari kerumunan kelasnya. Entah kenapa, ada sesuatu dari pohon itu yang membuatnya tertatik. Ify menajakmkan pengelihatannya dan ia menemukan Debo bersandar pada batangnya.
            Semua terasa begitu cepat. Rupanya kakak-kakak kelas didepan itu sedang mengumumkan nama-nama calon anggota OSIS Witchy School of Art. Tepat ditengah Bukit Hijau, ada sebuah botol yang akan mengeluarkan kembang api. Kembang api tersebut membentuk nama-nama calon anggota OSIS diatas sana. Persis seperti pembagian kelas beberapa hari yang lalu.
            Ify, Sivia, dan Oik hanya menopang dagu dengan mata hampir terpejam sampai ketika.....
            “Dari kelas kedelapan..”
            “Alvin Jonathan Sindunata,”
            “Alyssa Saufika Umari,”
            Ify terkaget-kaget melihat namanya dibentuk oleh kembang api diatas sana.
            “Oik Cahya Ramadlani,”
            Oik menegakkan tubuhnya. Kantuknya mendadak hilang melihat namanya muncul.
            “Sivia Azizah.”
            Sivia mengucek matanya beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Ketiganya lantas saling pandang dengan wajah terkejut masing-masing. Ketiganya lalu menggeleng tak mengerti dengan mata disipitkan, dan...
            “AAAARGH!!!” teriak ketiganya sebal.
            “Ulah siapa ini?!” pekik Oik tak terima.
            “Kita bertiga nggak mau jadi anggota OSIS!” sahut Sivia setelahnya.
            Ify terdiam, kembali mengingat perkataan Debo. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki dibawah pohon akasia itu. Ify melihatnya tersenyum penuh arti. Oh, jadi ini apa yang dimaksud Kak Debo kemarin malam..

**

            Istirahat kali itu, Ify menemani Keke ke cafetaria. Keke ingin membeli beberapa camilan dan menemui kakaknya disana. Begitu keduanya menginjakkan kaki di cafetaria, Keke langsung bergegas membeli camilan dan Ify duduk pada salah satu set meja makan yang terletak ditengah-tengah cafetaria.
            Ify menopang dagunya dengan tangan kanan dan mengedarkan pandangan kesetiap sudutcafetaria. Rupanya ramai juga tempat ini ketika istirahat. Maklum saja, ini pertama kalinya Ify kemari diluar jam lunch dan dinner.
            “Nih,”
            Tiba-tiba saja Ify merasakan dingin dipipinya. Ia mendongak dan mendapati Keke tengah menempelkan sekotak susu fermentasi rasa vanilla dipipinya. Ify menerimanya dan kemudian Keke duduk.
            “Aku sudah membeli banyak camilan untuk kita. Mungkin nanti kita ada jam kosong karena Madam Winda nggak masuk hari ini.” Ujar Keke setelah menelan roti bolunya.
            Ify menusukkan sedotan pada kotak susu tersebut dan meminumnya sedikit. “Benarkah? Untung saja, aku belum terlalu hafal dengan not-not balok menyebalkan itu.”
            “Ya, aku juga.” Keke kembali menggigit roti bolunya.
            “Kita masih akan terus disini atau kembali ke kelas?” tanya Ify setelah melihat Keke menghabiskan kue bolunya.
            “Tunggu sebentar. Aku, kan, sudah janji akan mengenalkan kamu dengan kakakku. Sebentar lagi kakakku kesini.” Keke membuka tas plastik berisi camilan.
            “Eh!” Tangan Ify mencegah Keke yang akan mengambil satu lagi camilan dari dalam tas plastik. “Sudah, jangan dihabiskan! Katanya untuk camilan kita waktu jam kosong nanti. Bagaimana, sih?”
            Keke hanya mengangguk cuek dan mencomot sebungkus roti bolu lagi. Ify menggeleng-geleng melihat temannya. Ify tidak akan heran mengapa pipi Keke sebulat itu begitu mengetahui bahwa Keke senang sekali makan. Ify pun kembali menopang dagunya.
            “Keke!”
            Ify dapat merasakan Keke yang beranjak berdiri. Begitu Ify melayangkan pandangan pada Keke dan kakaknya, rupanya keduanya sedang berpelukan sehingga tidak memungkinkan Ify melihat wajah kakaknya.
            “Duduk sini, Kak.” Keke beranjak duduk dan kebetulan kakaknya duduk dihadapan Ify.
            Akhirnya Ify dapat melihat wajah kakak Keke. Ify menahan napasnya saat itu juga.
            “Jadi ini yang namanya Ify?” tanya laki-laki itu.
            Keke mengangguk. “Iya, Kak. Ini yang aku mau kenalkan sama kakak.”    
            “Jadi kamu, ya, yang kemarin sore salah kirim pesan?” tanya laki-laki itu dengan menahan senyum.
            Ify tersenyum kikuk. “Iya, Kak. Jangan-jangan kakak, ya, yang menerima pesan itu?”
            “Ya.” Lelaki itu pun tertawa.
            “Lho? Pesan apa? Kalian sudah kenal?” tanya Keke bingung.
            “Belum.” Ify menyahut. “Kakak ini... yang membantu aku cari buku di library juga, kan?”
            Laki-laki itu mengangguk. “Kamu masih ingat juga ternyata.”
            “Bagaimana aku nggak ingat? Aku belum sempat berterima kasih sama kakak.” Ify tersipu menyadari kebodohannya.
            “Nggak apa-apa,” lelaki itu tersenyum maklum.
            “Kalian sudah berkenalan, belum?” tanya Keke yang dijawab gelengan kepala dari keduanya.
            Keke lantas menarik tangan kanan Ify yang berada dibawah meja dan menarik tangan kakaknya yang sudah berada diatas meja. Keke menautkan kedua tangan itu untuk saling berjabat dengan nyengir lebar.
            “Ayo, kenalan!” perintahnya.
            “Aku Ify, Kak,” Ify tersenyum kecil.
            “Hay, Ify. Aku Rio.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAPPY ENDING [Fourthquel of PROSES MELUPAKANMU]

#NowPlaying: Abdul & The Coffee Theory – Happy Ending

**

            Bunyi alarm menggema di sebuah kamar tidur. Seorang lelaki yang meringkuk dibawah selimut masih memejamkan matanya. Dengan tangan yang terulur sembarangan ke nightstand, ia mengambil ponselnya dan mematikan alarm. Beberapa detik kemudian, ia sudah duduk tegak diatas ranjangnya dengan senyum mengembang.
            Hari pertama di Jakarta!
            Dengan bersemangat, ia menyingkap selimutnya dan membereskan ranjangnya yang nampak berantakan. Dengan bersiul ceria, ia melangkah menuju almari di sudut ruangan dan mengambil sebuah celana jeans dan sebuah T-Shirt. Setelahnya, ia bergegas menuju kamar mandi yang masih terletak di dalam kamarnya.
            Sejak pertama ia membuka matanya tadi, hanya satu yang ia ingin lihat. DiaDia-lah alasan utamanya kembali kemari secepat mungkin, meninggalkan Singapura dan segala keistimewaan negara itu.
            Beberapa menit berselang, ia keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi. Ia menatap rambut sebentar dan melangkah keluar dari kamar sembari menenteng dompet, ponsel, dan kunci motor.
            Ketika ia membuka pintu kamarnya, ternyata seseorang juga sedang membukanya dari luar. Ia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat siapa yang kini berada di hadapannya.
            “Den Ca––,” perkataannya terhenti begitu melihat sosok yang sudah rapi itu.
            “Halo, Bi,” sapa lelaki itu, enteng. “Bibi nyiapin apa buat sarapan pagi ini?”
            Tanpa menunggu jawaban dari pembantunya, lelaki itu berjalan menuju ruang makan. Sudah ada kakak dan mamanya disana. Ia bersiul heboh dan menghempaskan tubuh pada sebuah kursi di hadapan keduanya.
            “Cakka?” panggil mamanya, bingung.
            “Ya, Ma?” Cakka melirik mamanya seraya mengolesi lembaran roti tawar tanpa kulit dengan selai coklat.
            “Mimpi apa lo, hari libur begini jam segini udah bangun?” samber kakaknya, Elang.
            Cakka memutar bola matanya, jengah. “Sirik aja lo, Kak.”
            Bel rumah berbunyi tepat ketika Cakka menggigit rotinya. Mamanya meliriknya penuh arti.
            Cakka menggeleng. “Biar bibi aja yang bukain,” tolaknya.
            “Cakka,” mamanya meletakkan sendok dan garpu diatas piringnya. “Bibi lagi cuci baju.”
            “Nggak mau. Cakka lagi makan.” Cakka tetap menggeleng.
            Mamanya menghela napas dan bangkit berdiri, melenggang menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Cakka teta pada posisinya dan menghabiskan roti berisi selai coklat yang hanya tinggal beberapa gigit lagi.
            “Dasar pemales!” sindir kakaknya.
            “Kenapa nggak lo aja yang bukain pintu?” sindir Cakka balik.
            “Cakka            ! Ini ada Shilla, cariin kamu.” Cakka mendengar suara lengkingan mamanya dari ruang tamu.
            “Hah? Shilla?” kening Cakka berkerut bingung. Cakka melirik Elang dengan sebal. “Elo, ya, yang kasih tahu dia kalau gue udah balik?” selidiknya.
            Elang hanya mengangkat bahunya dengan cuek, membuat Cakka melemparkan tisu makan miliknya dengan gemas.
            “Sialan lo!” maki Cakka.
            “Cakka! Cepetan sarapannya! Shilla udah nunggu, nih.” Lagi-lagi mamanya berteriak kencang dari ruang tamu, membuat Cakka bergidik ngeri.
            “Shit!” gumam Cakka.
            Ia melompat turun dari kursinya dan mengambil sebuah sepatu yang terletak di rak dekat pintu masuk dapur lalu memakainya. Cakka kembali ke meja makan dan meminum susu coklat yang sudah disediakan untuknya.
            “Gue pinjem mobil lo. Kalau mau pake motor gue, ambil aja kuncinya di kamar,” bisik Cakka.
            Dengan cepat, ia mengambil kunci mobil Elang yang tergeletak di meja makan dan keluar dari rumah melewati pintu samping untuk menghindari Shilla.
            “Cakka!” mamanya kembali memanggil.
            “Cakka kabur, Ma! Bawa mobil aku!” teriak Elang dari dapur.
            “Kak! Diem lo!” teriak Cakka dari garasi mobil.
            Cepat-cepat, Cakka menyalakan mesin mobil. Ketika ia melewati teras, ia melihat mamanya dan Shilla sedang berkacak pinggang menatapnya.
            “Cakka pergi dulu, Ma!” pamitnya, dengan nada mengejek.
            “Cakka! Mau kemana?” teriak mamanya, Cakka tak menghiraukannya dan melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
            Samar-samar, Cakka juga mendengar teriakan Shilla di belakangnya. “Cakka, aku kangen! Kenapa pergi lagi, sih?”
            Di dalam mobil, Cakka menirukan teriakan mamanya dan Shilla dengan gaya yang dibuat-buat kemudian tertawa nyaring setelahnya. Merasa telah berhasil kabur dari serangkaian gaya menyebalkan Shilla, Cakka memamerkan senyum kemenangannya.
            Tangan Cakka bergerak untuk menyalakan tape dan telinga Cakka mulai dipenuhi oleh lagi itu. Lagu kenangannya bersama dia. Otak Cakka mulai bekerja, mengais-ngais memori yang sudah tertumpuk dibawah sana. Memorinya bersama dia.
            Kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin, dan akan kuberikan lebih dan lebih sampai akhir hayat nanti...
            “Sial!” Cakka memukul kemudi mobilnya. “Aku makin kamu kamu... Ik,”
            Cakka membelokkan mobilnya memasuki sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Selatan. Ia masih hafal betul jalan menuju rumah itu. Begitu juga dengan pemiliknya, Cakka hafal diluar kepala apapun mengenai dia.
            Mobil Cakka berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan pagar setinggi pinggang orang dewasa. Cakka mematikan mesin mobilnya lalu keluar. Dengan menyunggingkan senyum lebarnya, ia berjalan menuju pagar rumah itu dan memencet belnya.
            Beberapa detik kemudian, muncul seorang wanita paruh baya yang Cakka kenali sebagai bunda daridia. Dengan mata memincing, wanita itu membukakan pagar untuk Cakka.
            “Oiknya ada, Tante?” tanya Cakka dengan sopan.
            “Cakka?”
            “Iya, Tante.” Cakka melebarkan senyumnya karena beliau masih mengingatnya. “Masih inget saya aja, Tante.”
            “Iya, nih. Bukannya kamu sekolah di Singapura? Oik bilang begitu.”
            “Udah pulang, Tante. Udah lulus juga. Ngapain lama-lama disana?” Cakka terkekeh pelan diakhir kalimatnya. “Jadi, Oiknya ada nggak, Tante?”
            “Wah, Oiknya nggak ada. Dia udah berangkat ke sekolah pagi-pagi buta tadi.”
            Cakka mengerucutkan bibirnya. “Ngapain, Tante? Bukannya libur, ya? Sudah pengumuman kelulusan juga, kan?”
            “Iya, sudah.” Bunda Oik mengangguk. “Persiapan buat prom night, katanya. Dia ketua panitianya, Kka.”
            “Oh,” Cakka mengangguk mengerti. “Pulangnya jam berapa kira-kira, Tante?”
            “Kurang tahu, Kka. Kalau seminggu ini Oik pulang sekitar jam sebelas. Nggak tahu lagi hari ini. Kan, gladi bersih. Prom night-nya besok, sih.”
            “Eh, Tante.. Nanti nggak usah bilang ke Oik kalau Cakka kesini, ya?” pinta Cakka dengan wajah memelas.
            “Kenapa memangnya?” tanya bunda Oik bingung.
            Cakka terlihat berpikir sebentar, mencari alasan yang pas. “Cakka mau kasih kejutan aja ke Oik, Tante. Iya. Kan, Oik belum tahu kalau Cakka balik kesini.”
            “Oh,” Bunda Oik mengangguk mengiyakan. “Baiklah.”
            “Ya udah, Tante. Cakka susul ke sekolah aja. Permisi, Tante.” Bunda Oik mengangguk dan tersenyum.
            Cakka melangkah menuju mobilnya dengan –sedikit– kecewa. Setelah sekali lagi tersenyum pada Bunda Oik, Cakka melajukan kembali mobilnya menuju sekolah lamanya. Cakka menyemangati dirinya sendiri. Setelah ini pasti Cakka bisa bertemu dengan dia, dengan Oik.
            Dalam perjalanan, Cakka melewati sebuah restoran cepat saji. Mengingat Oik sudah berangkat pagi buta, pasti gadis itu belum sarapan. Tanpa pikir panjang, Cakka memasuki restoran itu. Cakka memesan sebuah big burger dan coffee melalui drive thru. Begitu selesai membayar, Cakka kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah lamanya.
            Sepuluh menit kemudian, Cakka sampai di depan bangunan sekolahnya. Karena gerbang yang ditutup, Cakka memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dengan menenteng makanan untuk Oik, Cakka menghampiri pos satpam di sudut gerbang sekolah.
            “Pak Aji?” sapa Cakka.
            Sang satpam –yang merasa namanya disebut– menengok kearah Cakka. “Lho, Mas Cakka?” serunya kaget.
            “Iya, Pak.”             Satpam itu bergerak untuk membukakan gerbang. “Sudah pulang dari Singa... Singa mana, Mas?”
            “Singapur, Pak,” Cakka menjawab pendek dengan tawa tertahan.
            “Iya, itu. Sudah pulang dari Singapur, Mas?” tanyanya.
            “Udah.” Cakka mengangguk. “Lagi ada persiapan untuk prom, ya?” tanya Cakka balik.
            “Iya, Mas. Panitianya lagi sibuk. Mau masuk, Mas?” tawar Pak Aji.
            “Eh? Ada Oik nggak, Pak?” tanya Cakka lagi.
            Pak Aji menggeleng sopan. “Nggak ada, Mas. Barusan aja Mbak Oik keluar berdua sama Mas Rio. Mau cari alat buat dekor, katanya.”
            “Oh, gitu..” Cakka menyimpan informasi itu rapi-rapi diotaknya. “Saya nggak jadi masuk, deh. Ini aja...” Cakka menyerahkan makanan yang tadi ia beli pada Pak Aji. “Titip buat Oik. Tadi dia beum sarapan, Pak.”
            “Oh, iya, iya.” Pak Aji menerimanya. “Dari Mas Cakka?”
            “Bukan! Bukan!” Cakka menggeleng cepat. “Bilang aja itu kiriman dari bundanya. Nggak usah bilang kalau saya yang nganterin kesini, Pak.”
            Pak Aji mengangguk mengerti. “Oke, Mas Cakka.”
            “Ya udah, saya balik dulu. Salam buat yang lain, Pak.”
            Dan dengan diantarkan Pak Aji hingga memasuki mobilnya, Cakka kembali meluncur meninggalkan bangunan sekolah lamanya. Kali ini, Cakka sudah benar-benar kecewa. Tetapi, seberapapun kecewanya ia, ia masih tetap harus bersemangat. Agar dapat bertemu dengan Oik. Ya.
            Usaha kedua bertemu dengan Oik: gagal.

**

            Rio mengemudikan motornya memasuki pelataran sekolah. Oik turun dari boncengan motor Rio dengan menenteng masing-masing satu tas plastik besar dikedua tangannya. Gadis itu menunggu Rio yang masih mematikan mesin motor.
            “Mbak Oik!”
            Oik menengok kearah sumber suara. Pak Aji sedang berlari-lari kecil kearahnya seraya membawa sebuah bungkusan–yang entah apa isinya.
            “Kenapa, Pak Aji?” tanya Oik dengan tersenyum tipis.
            Rio –yang baru saja selesai mematikan mesin motornya– segera bergabung dengan Oik dan Pak Aji yang berdiri berhadapan tak jauh dari tempat motornya diparkir. Melihat Oik yang kesusahan membawa dua tas plastik besar, Rio mengambil alih salah satunya.
            “Makasih, Yo,” kata Oik singkat. Rio hanya mengangguk.
            “Ini, Mbak Oik. Ada kiriman makanan.” Pak Aji menyerahkan sebuah bungkusan itu kepada Oik.
            Oik menerimanya dengan wajah bingung. Ia menengok pada Rio dan yang ditengok hanya menggeleng tak tahu. “Dari siapa, Pak? Saya nggak delivery, kok.”
            “Dari...” Pak Aji terlihat bingung untuk beberapa saat, Oik semakin mengerutkan dahinya. “Dari bundanya Mbak Oik. Tadi pagi ngantar kesini.”
            “Oh,” Oik mengangguk dan melihat isi bungkusan tersebut. Big burger dan coffee. “Nggak biasanya bunda beliin yang big gini porsinya,” gumam Oik.
            “Nganterinnya kesini tadi pagi. Tapi Mbak Oik sudah keburu keluar sama Mas Rio.” Pak Aji kembali bercicit.
            Oik mengangguk kembali seraya tersenyum. “Ya udah, makasih. Saya sama Rio ke dalem dulu, Pak.” Pak Aji mengangguk dan kembali ke posnya.
            Oik hanya mengangguk tak acuh pada bungkusan itu karena ia memang belum lapar–dari tadi pagi. Ia pun menyeret Rio untuk segera menuju taman belakang sekolah. Prom nite kali ini bernuansakan pesta kebun. Taman belakang sekolah pun disulap oleh para panitia menjadi taman teromantis abad ini.
            Keduanya berhenti melangkah karena dering ponsel Rio. Oik berhenti menarik lengan Rio karena cowok itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Oik dapat melihat Rio yang mendadak kaget begitu membaca tulisan yang tertera dilayar ponselnya.
            Rio mendongak menatap Oik dan memamerkan cengiran lebarnya. “Lo duluan aja, Ik.”
            “Oh, oke.” Oik mengangguk dan melenggang meninggalkan Rio. Samar-samar, ia mendengar suara Rio yang tengah berbicara via telepon–entah dengan siapa.
            “Ya, Kka?”

**

            Cakka memarkirkan mobil Elang di garasi rumah mereka. Selama lima jam penuh tadi, Cakka hanya berputar-putar di daerah Jakarta. Melepaskan kangennya pada kota ini, membeli berbagai makanan yang tak ia temui di Singapura, dan membeli seporsi martabak manis untuk Elang karena sudah merelakan –dengan terpaksa– mobilnya untuk ia pakai.
            Cakka turun dari mobil dengan tangan kiri menenteng martabak manis dan tangan kanan yang mengutak-atik ponsel. Ia baru saja teringat informasi penting yang diberikan Pak Aji tadi. Tanpa menunggu lama, ia menelepon Rio.
            “Halo? Rio?” sapa Cakka begitu telepon diangkat.
            “Ya, Kka?” suara Rio terdengar lebih berat ketimbang setahun lalu.
            “Apa kabar lo?” tanya Cakka sembari berjalan memasuki rumahnya.
            “Baik-baik aja, kok. Lo sendiri? Kapan balik dari Spore?”
            “Baik juga.” Cakka terkekeh pelan. “Ini juga gue udah di Jakarta, woy!”
            “Serius lo?” Rio terdengar kaget.
            “Serius!” Cakka mengalihkan pandangannya sejenak pada sesosok wanita yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. Mamanya. “Tadi pagi gue ke sekolah. Ternyata elo lagi keluar sama... Oik.”
            “Eh? Iya. Eh, tapi gue sama Oik nggak ada apa-apa, kok. Swear!” Cakka yakin Rio sedang panik sendiri disana.
            Cakka berjalan menuju ruang keluarga dan tak menghiraukan mamanya yang sedang berceramah panjang-lebar karena ulahnya tadi pagi. “Apaan, sih, Yo? Nggak usah panik begitu, kali! Biasa aja. Gue sama Oik juga udah... putus.”
            “Iya, sih. Gue denger-denger juga, lo sekarang sama Shilla. Iya, Kka?”
            Cakka mengerutkan keningnya. “Kata siapa?”
            “Kata Shilla sendiri. Kalian udah berapa bulan emang?” tanya Rio blak-blakan.
            “Gila lo! Gue nggak jadian sama dia, Yo. Ngarang banget tuh orang.” Cakka menemukan Elang sedang menonton televisi. Ia meletakkan bungkusan berisi martabak manis itu dipangkuan Elang, juga dengan kunci mobilnya.
            “Lah? Gue harus percaya sama elo apa sama Shilla, nih? Seantero sekolah juga tahunya elo sama Shilla sekarang.” Rio mengungkapkan fakta yang dapat membuat Cakka mencekik Shilla saat itu juga.
            “Thanks, Kka!” seru Elang dari ruang keluarga.
            Cakka menengok kearahnya sejenak dan mengangkat tangan kirinya, pertanda mengerti. Cakka kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
            “Ya percaya sama gue, dong! Elo temen gue, kan? Bukan temen Shilla, kan?” Cakka mendadak sewot karenanya.
            “Gue juga temen Shilla, Kka.” Rio berkata dengan polos diujung sana.
            “Rese lo!” Cakka dapat mendengar Rio yang tengah terbahak-bahak. “Udah, udah. Lo bisa bantu gue nggak?”

**

            Oik berhenti di ujung koridor yang mengarah menuju taman. Sebuah panggung kecil di utara taman sudah hampir jadi. Backdrop pun sudah tinggal sedikit lagi dihias. Sebuah layar proyektor yang nantinya akan menampilkan perjalanan mereka selama tiga tahun sudah terpasang di samping panggung. Para anggota sie dokumentasi sedang berkumpul dibawah rimbunnya pohon akasia untuk mengedit video.
            Oik menghampiri Ify dan Sivia yang tengah menata meja dan kursi di depan panggung. Sudah disediakan lima puluh meja bundar dengan enam kursi yang mengitari masing-masing. Taplak meja dan kain pembungkus kursi dibuat dengan warna senada, merah marun.
            “Udah beres semua?” tanya Oik pada keduanya, ia meletakkan belanjaannya dan Rio diatas meja.
            Sivia melirik sekelilingnya. “Seperti yang lo lihat. Ini meja terakhir yang gue sama Ify dekor. Mungkin abis ini kita berdua mau ngedekor meja registrasi di ujung koridor.”
            “Iya.” Ify mengangguk. “Lo bantuin yang lainnya aja, Ik. Gue sama Sivia udah hampir kelar, kok.”
            “Oke.” Oik mengangguk mengerti.
            Setelah Sivia dan Ify selesai mendekor meja terakhir, keduanya bergegas menuju ujung koridor. Seperangkat meja registrasi sudah diletakkan disana. Keduanya hanya perlu mendekorasi agar tampak lebih manis. Oik pun melangkah menuju kerumunan panitia sie perlengkapan yang sedang merapikan area dancefloor.
            Di samping kiri panggung, disediakan sebuah meja disc jokey. Area barat taman pun sudah disulap menjadi dance floor. Sie acara menambahkan sub-acara pesta dansa pada prom kali ini.
            Oik sedang berbincang dengan Kiki, Lintar, dan Rizky ketika Rio datang menghampirinya. Rio –sebagai ketua pelaksana yang masih jobless– pun memutuskan untuk membantu sie perlengkapan.             “Udah pada oke semua? Atau masih ada yang kurang?” tanya Oik pada Kiki–koordinator sie perlengkapan.
            “Nggak ada, sih, Ik.” Kiki menggeleng dengan wajah lelah. “Tapi sie acara minta yang aneh-aneh.”
            “Aneh-aneh apanya?” sahut Oik langsung.
            “Si Shilla tadi SMS gue, minta tenda kerucut untuk basecamp guest star.” Kiki mengangkat bahunya tak mengerti.
            “Apa?” Oik berseru nyaring. “Bukannya gue udah bilang kalau basecamp panitia itu di Sekretariat OSIS aja? Kalian semua juga udah setuju, kan? Lagipula Sekretariat OSIS nggak seberapa jauh dari panggung, adem juga karena udah ada AC. Jadi kita nggak perlu buang-buang duit lagi untuk sewa itu semua.”
            “Sabar, Ik.” Rio menepuk-nepuk bahu Oik pelan.
            “Nggak bisa gitu, Yo. Itu sama aja buang-buang duit. Pengeluaran bisa membengkak. Emang dia pikir duit tinggal metik aja dari pohon?!” semprot Oik.
            “Ketua panitia nggak boleh gampang emosi.” Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, mendramatisir.
            “Gue perlu ngomong, nih, sama Shilla kalau gini caranya!” gumam Oik.
            Rio menoel bahu Oik dan melirik ujung koridor. “Tuh, si Shilla baru dateng.”
            “Keterlaluan jam segini baru dateng.” Oik menghampiri Shilla dengan wajah ditekuk.
            Keduanya terlibat diskusi –adu mulut, lebih tepatnya– panjang. Shilla tetap pada pendiriannya soal tenda kerucut dan AC portable sedangkan Oik ngotot menolaknya. Adu mulut itu berakhir setelah lima belas menit. Shilla harus mengalah jika tidak ingin dikeluarkan dari kepanitiaan.
            “Waktunya makan siang!” Acha dan Aren berteriak nyaring dari bawah pohon akasia. Keduanya meletakkan beberapa bungkusan makan siang untuk para panitia disana.
            Seluruh panitia pun berbondong-bondong menyerbu menu makan siang mereka. Seluruh panitia duduk melingkar dibawah pohon dan makan bersama. Oik melihat mereka semua dari jauh dan tersenyum tipis.
            “Gimana, Ik?” tanya Zahra.
            “Eh?” Oik terkesiap. Ia kembali membaca deretan huruf dihadapannya. “Boleh, sih. Tapi nggak efisien aja. Coba dirancang ulang aja susunan acaranya setelah makan siang. Ntar gue bantu.”
            Zahra mengangguk. “Berdua aja?” tanyanya.
            “Ya nggak, dong. Sie acara, kan, nggak cuman elo. Shilla, Febby, sama Zevana?” seru Oik.
            “Dari tadi jug ague doang, kali, Ik, yang ngerjain ini. Makanya nggak selesai-selesai.” Zahra menggerutu pelan.
            “Mereka bertiga pada kemana?” tanya Oik.
            “Shilla, seperti yang lo tahu, baru dateng. Katanya juga ntar sekitar jam dua dia mau balik pulang bentar buat ganti baju. Febby sama Zevana ngebantu anak dokumentasi bikin video.”
            Oik menggelengkan kepalanya sebal. “Ya udah, ntar biar gue tarik tuh anak tiga buat ngebantu elo.”
            Zahra pun berterima kasih pada Oik dan keduanya berjalan menghampiri panitia-panitia yang lain untuk makan siang bersama.

**

            Setelah makan malam, Cakka bergegas melajukan motornya menuju sekolah. Semoga saja kali ini ia dapat bertemu dengan Oik. Ia juga sudah membawakan Oik seporsi nasi uduk buatan mamanya.
            Begitu sampai di depan sekolahnya, Cakka mengernyit heran. Sekolahnya sepi sekali. Mengingat prom yang akan diadakan di taman belakang sekolah, Cakka memaklumi keadaan gedung utama yang sesepi ini.
            Cakka menuruni motornya dan berjalan menghampiri pos satpam. Pak Aji sedang menonton televisi. Cakka mengetuk pintu pos satpam sehingga Pak Aji menyadari kehadirannya dan bergerak menghampirinya.
            “Eh, Mas Cakka lagi. Kenapa, Mas?” tanya Pak Aji.
            “Ini.. Kok sepi, ya, Pak?” tanya Cakka, kepalanya menengok ke segala penjuru gedung utama sekolah.
            “Ya namanya juga sudah malem, Mas.” Pak Aji menjawab sekenanya.
            “Nggak, maksud saya.. Panitia prom. Kemana semua, Pak?”
            “Oh, itu. Sudah pada pulang, Mas. Mas Cakka nyari panitia prom apa nyari Mbak Oik?” goda Pak Aji.
            Cakka tersenyum malu-malu. “Nyari Oik, Pak. Kok udah pulang? Bukannya biasanya baru pada pulang sekitar jam sebelas?”
            “Nggak tahu juga, Mas Cakka. Tapi tadi Mbak Oik bilang persiapannya sudah selesai semua, makanya sudah pada pulang. Tapi Mbak Oik, Mbak Acha, sama Mbak Aren tadi ke tempat katering dulu, katanya. Mau fiksasi makanan untuk prom.”
            “Oh,” Cakka menatap bungkusan yang ia bawa dengan kecewa.
            “Kenapa toh, Mas Cakka?” tanya Pak Aji lagi.
            “Nggak, nggak apa-apa. Ini buat Pak Aji aja, deh.” Cakka menyerahkan bungkusan nasi uduk itu kepada Pak Aji.
            “Wah, makasih, Mas.” Pak Aji menerimanya dengan senyum mengembang.
            Lalu Cakka pun pamit untuk pulang. Ia mengendarai motornya dengan perasaan campur aduk. Sudah tiga kali ia mencoba untuk menemui Oik dan... gagal. Semesta sedang bersekongkol untuk itu. Ya, Cakka yakin.

**

            Oik menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia melirik jam yang tergantung didinding kamarnya. Baru pukul tujuh lebih sedikit dan Oik sudah siap dengan piyama tidurnya. Oik benar-benar lelah hari ini.
            Oik tiba di rumah selepas maghrib. Ia diantarkan oleh Acha dengan mobilnya. Terlebih dahulu Acha mengantarkan Aren. Ketiganya baru saja fiksasi mengenai makanan untuk prom besok. Begitu sampai, Oik langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah sholat, ia pun tergeletak diranjang.
            Matanya menatap langit-langit kamar. Lampu utama kamar telah ia matikan. Sebagai gantinya, dua buah lampu nightstand dikanan dan kiri ranjangnya ia nyalakan. Cahaya temaramnya membuat Oik semakin mengantuk.
            Lalu, tiba-tiba saja, Oik teringat perkataan Shilla tadi siang. Tepat pukul dua ketika ia berpamitan akan pulang sebentar.
            “Temen-temen, gue balik bentar, ya! Mau ke rumah Cakka, nih. Nemenin dia makan siang. Abis itu gue balik sini lagi, kok!”
            Jadi, Cakka sudah kembali ke Jakarta?
            Jadi, Cakka sekarang memang berpacaran dengan Shilla?
            Jadi, orang pertama yang Cakka temui selain keuarganya adalah Shilla?
            Jadi, Cakka tidak ingat dengannya?
            Jadi, Cakka lebih mementingkan bertemu Shilla daripada dirinya?
            Jadi––,
            “Ya iya, lah! Shilla, kan, ceweknya Cakka!” seru Oik frustasi.
            Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan singkat dari Sivia. Oik segera membukanya dan membacanya.

From: Sivia
Gk ush d pkrin kta2 shllz td.
Jdoh gk kmn kok:-)

            Oik tersenyum tipis. Ia segera membalas pesan singkat Sivia tersebut.

To: Sivia
Ttp aj gw k pkran. Slh gk sih klo gw kgn dy?

            Begitu pesan singkat untuk Sivia terkirim, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan singkat baru dari Ify. Oik terkikik. Kedua sahabatnya ini memang yang paling mengerti dirinya. Pasti Ify mengatakan hal yang sama dengan Sivia.

From: Ify
Ik, ini gw lg sm Rio. Nyari bunga.
Mnrt lo, bgsny pk bunga lili apa mwar bwt buket utk prom queen?

            Oik terbengong-bengong membaca isi pesan singkat dari Ify. Perkiraannya meleset. Ia memutar bola matanya dengan jengah. Ia kira Ify akan mengatakan juga apa yang tadi dikatakan Sivia. Eh, ternyata...

To: Ify
Trsrh. Gw cpek.

            Oik segera memilih option send dan terkirimlah pesan singkat tersebut untuk Ify. Suhu kamarnya yang sejuk karena AC telah dinyalakan pun tak urung membuatnya semakin mengantuk. Oik pun lama-kelamaan terlelap, dengan dahi yang berkerut gelisah.
            Aku... kangen kamu, Kka.

**

            Dalam perjalanan pulang, Cakka teringat sesuatu. Bukankah tadi Pak Aji bilang bahwa seluruh panitia prom telah pulang–ya, walaupun Oik dan kedua temannya itu mampir ke tukang catering terlebih dahulu? Itu berarti, Oik langsung pulang setelah itu. Dan Cakka tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menemui Oik di rumahnya.
            Cakka pun memutar balik motornya untuk menuju kediaman Oik. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Cakka memasuki kompleks perumahan Oik yang telah sepi itu.
            Ia memarkirkan motornya di depan rumah Oik. Lampu taman, teras, dan ruang tamu masih menyala. Harapan Cakka untuk bertemu dengan Oik kian melambung tinggi. Segera saja ia memencet bel rumah Oik dengan tidak sabar.
            Bunda Oik keluar dari dalam. “Cakka lagi, ya?”
            “Iya, Tante.” Cakka tersenyum sopan.
            “Cari Oik, kan?” tanya Bunda Oik.
            Beliau membukakan pagar untuk Cakka, mempersilahkan Cakka masuk, kemudian berjalan beriringan menuju teras. Akhirnya Cakka dapat kembali menginjakkan kakinya lagi disini. Dan Cakka bersyukur untuk itu.
            “Iya, Tante.” Cakka tertawa pelan. “Tadi saya udah ke  sekolah, kali aja Oik masih disana. Eh, ternyata udah pulang. Makanya saya kemari, Tante.”
            “Tante panggilin dulu, ya. Yuk, masuk,” ajak beliau.
            “Nggak usah, Tante.” Cakka menggelengkan kepalanya. “Saya tunggu disini aja.”
            Bunda Oik pun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam. Cakka sendiri segera duduk disalah satu kursi yang terletak di sudut teras. Tak seberapa lama menunggu, bunda Oik keluar dengan raut wajah meminta maaf.
            “Aduh, Cakka.. Oiknya udah tidur. Mau dibangunin aja atau gimana?”
            Cakka segera berdiri dan tersenyum kikuk. “Wah, udah tidur, Tante? Nggak usah dibangunin, deh. Pasti Oik capek. Besok saya kesini lagi aja, deh, Tante.”
            “Serius nggak usah Tante bangunin aja? Oik barusan, kok, tidurnya.”
            Cakka kembali menggeleng. “Nggak usah, Tante. Kasihan Oiknya nanti. Kalau gitu, saya pulang dulu, Tante.” Cakka pun bergerak untuk mencium punggung tangan bunda Oik.
            “Iya. Hati-hati, ya. Maaf, Cakka, Oiknya udah tidur.”
            Bunda Oik mengantarkan Cakka hingga pagar rumahnya. Setelah menyalakan mesin motornya dan memakai helm, Cakka melajukan motornya menuju rumahnya. Dalam perjalanan, ia kembali merasa kecewa. Usaha keempat untuk menemui Oik pun kembali gagal.

**

            Cakka terbangun ketika matahari tengah berada dipuncak tahtanya. Dengan mata sedikit terpejam, ia mengambil ponselnya dan melihat jam. Matanya mendadak terbelalak lebar ketika melihat pukul berapa saat ini.
            Ia bergegas mengambil pakaian dengan sembarangan dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak sampai lima menit kemudian, Cakka sudah keluar. Ia nampak berantakan dan ia tidak peduli dengan itu.
            Dalam hati ia masih mengutuk Elang yang semalam mengajaknya bermain playstation hingga dini hari. Jadilah ia baru bangun tengah hari begini. Ia bertemu dengan mamanya di ruang keluarga.
            “Baru bangun, Kka?” tanya mamanya.
            Cakka hanya mengangguk sambil berlalu. “Iya, Ma.”
            “Ada titipan dari Rio, tuh. Mama taruh dinightstand kamu.” Kata mamanya.
            Cakka kembali mengangguk. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Ia melihat sebuah bungkusan diatas nightstand. Cakka tersenyum miring dan kembali keluar. Ia berjalan menuju garasi lalu menyalakan mesin motornya, melaju menuju rumah Oik.
            Begitu sampai di depan rumah Oik, rupanya bunda Oik sedang menyiram tanaman di halaman. Cakka melepas helmnya lalu turun dari motor. Ia melangkah menuju pagar rumah Oik. Tak lupa, ia mengetuk-ketukkan jarinya pada pagar rumah Oik untuk menarik perhatian bunda Oik.
            “Tante Lani,” panggil Cakka pada bunda Oik.
            Bunda Oik menengok kearah Cakka dan tersenyum. Beliau berjingkat untuk mematikan kran. Setelah meletakkan selang begitu saja diatas rerumputan, beliau berjalan menghampiri Cakka seraya tersenyum.
            “Oiknya ada, Tante?” tanya Cakka.
            “Waduh,” bunda Oik tertawa pelan. “Lagi-lagi kamu dateng disaat yang nggak tepat, Kka.”
            “Memangnya kenapa, Tante?” tanya Cakka bingung, perasaannya mulai tak enak.
            “Oik baru aja dijemput Sivia. Mau ke rumah Ify. Dandan bareng, nyalon bareng, terus berangkat keprom.”
            Cakka menganggukkan kepalanya dengan lesu. Lagi-lagi ia gagal bertemu dengan Oik.
            “Tante juga lupa tadi nggak ngasih tahu Oik kalau semalem kamu kesini nyariin dia.” Bunda Oik tersenyum meminta maaf pada Cakka.
            “Iya. Nggak apa-apa, Tante. Saya... permisi dulu, Tante.” Cakka kembali mengangguk untuk berpamitan dan berlalu dari rumah Oik.
            Gagal untuk yang kelima kalinya.

**

            Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore ketika rapat akbar prom baru saja selesai. Seluruh panitia keluar dari Laboratorium Fisika –tempat rapat akbar dilaksanakan– lalu standby pada posisi masing-masing.
            Sie perlengkapan mulai menata Sekretariat OSIS untuk basecamp guest star, beberapa anggota sie acara bersama sie transportasi bergerak menjemput guest star sedangkan sisanya berkoordinasi dengan MC, sie dokumentasi mengedit video untuk slide, sie konsumsi bersama waitress dari katering menata makanan kecil dan minuman pada meja di dekat dance floor sedangkan makanan utama dihidangkan disetiap meja bundar, lalu Oik dan Rio sebagai ketua panitia dan ketua pelaksana berlalu-lalang untuk membantu setiap sie yang kesusahan.
            Jarum jam terus berputar, waktu terus berjalan, hingga tak terasa sekarang sudah pukul enam petang. Meja registrasi mulai dibuka, dua orang panitia yang ditugaskan menjaga meja registrasi pun sudah siap di tempat. Seluruh panitia pun sudah memakai topeng masing-masing. Ini ide dari Oik. Garden partydengan menggunakan topeng.
            Melihat dua orang panitia –entah siapa namanya Oik tahu karena mereka menggunakan topeng juga– yang kewalahan menjaga meja pendaftaran, akhirnya Oik menyeret Rio untuk menghampiri sekaligus membantu.
            Registrasi dibuka selama tiga puluh menit. Selama tiga puluh menit itu, seluruh teman seangkatan Oik registrasi dengan menulis nama beserta kelas pada buku tamu. Seluruh undangan diwajibkan sudah memakai topeng masing-masing ketika memasuki area sekolah.
            Pukul enam lebih tiga puluh, registrasi ditutup. Dua orang panitia penjaga meja registrasi memasuki area prom lalu duduk dikursi yang masih kosong, entah dengan siapa. Oik dan Rio saling pandang lalu duduk juga pada salah satu meja disudut taman. Oik ingat betul dress yang dikenakan Ify dan Sivia dan ia yakin betul dua orang lainnya yang duduk satu meja dengannya adalah mereka berdua.
            Pukul tujuh tepat, acara dimulai. MC naik ke atas panggung untuk cuap-cuap beberapa menit. Lalu, Oik dipanggil. Ia memberikan sedikit sambutan sebagai ketua panitia.
            “Selamat malam, teman-teman.” Oik sedikit membungkuk untuk memberikan salam.
            “Malam,” koor seluruh teman-temannya.
            “Saya –sebagai ketua panitia prom– mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kedatangannya. Terima kasih juga karena nggak telat datengnya.” Oik tertawa kecil, begitupula teman-temannya yang lain. “Untung mempersingkat waktu, acara prom angkatan 2009-2013 resmi dimulai.” Oik mengambil sebuah gelas beserta sendok yang diserahkan MC lalu mengetukkan sendok pada gelas, simbolis acara telah dimulai. “Selamat menikmati makan malam.”
            Oik turun dari panggung, kembali menuju kursinya. Seluruh teman-temannya pun mulai menyantap makanan masing-masing. Mereka makan malam diiringi dengan alunan musik dari band-band adik kelas yang silih berganti menunjukkan selera musik masing-masing.
            Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Waktunya turun ke dancefloor!
            Seluruh undangan pun berbondong-bondong menuju dance floor. DJ yang sudah siap di samping panggung mulai menunjukkan kebolehannya. Musik berirama cepat mulai terdengar di seluruh penjuru taman. Seluruh undangan menari mengikuti irama.
            Setelah setengah jam, musik mendadak berhenti. Lampu menyorot kepada MC yang sudah berdiri di samping sang DJ. “Yak! Kita main, yuk, sekarang?!”
            Terdengar berbagai macam respons dari seluruh undangan. Sang MC sama sekali tidak menghiraukan keluhan mereka-mereka yang menggerutu karena musik dihentikan.
            “Jadi, permainannya gini. Gue bakalan sekongkol sama DJ. DJ bakalan nyalain musiknya lagi lalu ntar gue suruh berhenti sewaktu-sewaktu, semau gue. Selama musik masih nyala, kalian harus berpindah-pindah tempat dan begitu musik berhenti kalian harus stay di tempat itu. Gimana? Setuju?”
            “Setuju!” tanpa menunggu lama, seluruh undangan berkoor.
            “Oke. Mulai!”
            DJ kembali menyalakan musik. Hingar-bingarnya membuat seluruh orang di dance floor bergerak kesana-kemari.
            “Stop!” Dan dalam sesaat, musik pun berhenti.
            Oik berhenti bergerak. Ia berdiri di tengah-tengah dance floor, berhadapan dengan seorang lelaki yang ia tak tahu siapa–tentu saja karena lelaki itu menggunakan topeng.
            “Please welcome.. Our guest star! Abdul and The Coffee Theory!” sang MC berteriak heboh, membuat seluruh kepala menengok pada panggung.
            Lelaki itu membungkukkan punggungnya, mengulurkan tangan kanannya kepada Oik. “May I dance with you?”
            “Of course.” Oik tersenyum dan menyambut uluran tangan lelaki itu.
            Beberapa lampu mulai diredupkan. Lampu menyorot pada sosok guest star di atas panggung. Musik mulai mengalun pelan. Seluruh undangan mulai berdansa berpasangan. Begitu juga Oik dan lelaki itu.
            Abdul and The Coffee Theory membawakan sepuluh lagu. Dimulai dengan Aku Suka Caramu, lalu Kucinta Kau Lebih dari yang Kemarin, Tersenyumlah, Amazing You, Indah, Mulailah dengan Cinta, Loveable, Dunia Ini Indah, Beauty is You, dan ditutup dengan Happy Ending.
Kaulah yang pertama ingin kulihat
Saat mentari mulai bersinar
Kaulah yang terakhir ingin kulihat
Saat kupejamkan mata
            Oik benar-benar merasa waktu berhenti. Berdansa dengan lelaki di hadapannya ini begitu menyenangkan. Lelaki itu sangat piawai berdansa. Sampai-sampai Oik yang tidak pernah berdansa pun sanggup mengikuti irama karena bimbingannya.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik tertawa pelan. Entah sudah berapa kali ia tak sengaja menginjak kaki lelaki ini. Ia tersenyum meminta maaf pada lelaki itu dan lelaki itu hanya mengangguk memaklumi.
Kaulah yang pertama ingin kulihat
Saat mentari mulai bersinar
Kaulah yang terakhir ingin kulihat
Saat kupejamkan mata
            Lelaki itu mengangkat tangannya yang bertautan dengan tangan Oik, mempersilahkan Oik berputar seperti layaknya dansa pada film-film. Oik kembali tertawa kecil. Kali ini, ia berhasil tidak menginjak –lagi– kaki lelaki itu.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik menggelengkan kepalanya tak kentara. Ia menetralisir hatinya. Bagaimana mungkin jantungnya berdegup kencang seperti ini hanya karena berdansa berdansa dengan lelaki yang tak ia tahu? Tidak boleh. Ia kembali menggeleng. Ia bertekad akan tetap terus setia pada Cakka. Hingga lelaki itu menemuinya kembali, nanti.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oh, sial! Usaha penetralan perasaannya gagal. Dan itu karena Oik yang menyadari tangan kiri lelaki itu masih memeluk erat pinggangnya. Bulu kuduknya meremang, merasakan kepakan ribuan sayap kupu-kupu dalam perutnya.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik menarik napasnya panjang-panjang. Satu hal lagi yang baru ia sadari. Ia familiar sekali dengan harumnya parfum ini. Oik merasa sesak napas seketika. Kepalanya berdenyut memikirkan siapa lelaki yang tengah berdansa dengannya kini.
            Musik mendadak berhenti, suara sang vokalis tak lagi terdengar, seluruh lampu meredup lalu mati total. Oik samar-samar mendengar pekikan kaget beberapa temannya.
            Kepalanya masih berdenyut-denyut hingga kedua tangan lelaki di hadapannya ini menangkup wajahnya. Entah siapa yang memulai duluan, keduanya mempersempit jarak yang memisahkan. Hingga, tiba-tiba saja, Oik merasakan sesuatu menempel pada bibirnya.
            “Yak! Waktunya pemilihan king dan queen prom!”
            Suara sang MC membuat keduanya melepaskan bibir masing-masing. Oik mendadak limbung. Untung saja, lengan lelaki itu menahannya. Lampu mulai menyala temaram, membuat Oik dapat melihat siluet lelaki itu.
            “Jadi, king dan queen kita malam ini adalah...” Gbukan drum terdengar nyaring, membuat seluruh orang berdegup jantungnya. Lampu utama mulai bergerak-gerak menyorot di dance floor.
            Lelaki itu melepaskan tangkupannya pada wajah Oik. Perlahan, ia membuka sedikit topengnya. Membiarkan Oik melihat wajahnya.
            Lampu berhenti menyorot pada... Oik dan lelaki itu.
            “Dan inilah king dan queen kita malam ini!” sang MC kembali berseru heboh dan Oik sama sekali tak menghiraukannya, matanya terpaku pada lelaki di hadapannya.
            Oik terkesiap begitu menyadari wajah siapa yang ada dibalik topeng.
            “Hei, Oik!” sapanya.
            “Cakka?”

**

            Semilir angin sore membuat lelaki berumur hampir tiga puluh tahun itu terkantuk-kantuk. Ia kembali berusaha memfokuskan matanya untuk membaca koran. Tangannya terulur ke samping, mengambil segelas teh hijau dan menyeruputnya.
            Dari balik korannya, ia dapat melihat seorang wanita yang sebaya dengannya tengah berjalan menghampirinya. Beberapa detik setelah itu, ia merasakan wanita itu telah duduk tepat di sampingnya. Kepala wanita itu bersandar pada bahunya.
            “Mereka nggak bisa diem banget,” keluh wanita itu.
            Lelaki itu terkekeh pelan. “Namanya juga masih kecil.” Tangan kanannya bergerak mengacak rambut wanita di sampingnya.
            “Cakka..” wanita itu mulai merengek memanggil nama sang lelaki, tangan kanannya menyentuh pipi lelaki itu dan menghadapkannya padanya.
            “Apa, sih, Oik?” tanya lelaki itu seraya mengangkat salah satu alisnya.
            Wanita itu tersenyum kecil lalu mengecup bibir lelaki di hadapannya.
            “Bundaaa! Dedek Oca nakal! Nggak mau gentian main ayunannya!” seru seorang bocah kecil.
            “Kakak Difa yang nakal, Ayah! Oca dipaksa berhenti main ayunan!” sebuah suara cempreng gadis kecil menyahut.
            Oik melepaskan bibirnya dari Cakka dan sedikit mendorong dada Cakka menjauh. Ia mengangkat tubuh Difa yang telah berada di hadapannya dan mendudukkannya dipangkuannya. Oik mencubit pipi bocah kecil itu dengan gemas.
            Tak ketinggalan, Oca –gadis kecil bersuara cempreng– langsung melompat kepangkuan Cakka dan memukul lengan Difa dengan sebal.
            “Eh, nggak boleh berantem!” kata Cakka. Ia meletakkan koran yang tadi ia baca dan memeluk gadis kecilnya.
            “Oca nggak boleh egois, dong. Mainnya gantian sama kakak. Ya?” Oik menepuk-nepuk puncak kepala Oca penuh sayang.
            Namanya juga anak kecil, kedua bocah itu kembali bertengkar karena masalah sepele. Cakka melirik Oik, wanita yang akan menghabiskan seluruh harinya dengannya. Tangan kanannya merangkul bahu Oik dan kembali menyadarkan kepala wanita itu pada pundaknya.
            Cakka berbisik ditelinga Oik, “Karena kamu happy endingku..”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS