Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label osa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label osa. Tampilkan semua postingan

SEKEDAR CERITA [06]

            Matahari baru saja tenggelam diufuk barat dan Alvin masih tetap setia duduk diatas motornya di pelataran tempat kos Oik. Matanya menatap jendela kamar Oik. Sudah sejam lebih ia memandang jendela tersebut dan ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa Oik ada di dalam.
            “Mas, cari siapa?” tanya sebuah suara dari belakangnya.
            Alvin cepat-cepat menengok ke belakang dan mendapati seorang gadis mungil berkulit sawo matang tengah menatapnya curiga. “Oiknya ada?” tanya Alvin balik.
            “Ada,” jawab gadis itu dengan alis berkerut. “Mas ini siapa?”
            Alvin segera turun dari motornya dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. “Aku Alvin. Teman kuliah Oik. Kamu teman kos Oik?”
            Gadis itu mengangguk sambil menerima ulura tangan Alvin. Keduanya berjabat tangan untuk beberapa detik. “Aku Osa. Mari, Mas..” Osa memberi kode pada Alvin untuk mengikutinya berjalan menuju teras.
            “Sa, Oiknya ada?” tanya Alvin lagi.
            Osa duduk pada sebuah kursi kayu di teras kosnya. “Ada, Mas. Tadi sekitar jam sembilan Oik udah pulang kuliah. Tapi keadaannya berantakan.”
            Alvin –yang telah duduk di hadapan Osa– menghela napasnya dengan lesu. “Dia belum keluar kamar dari pagi tadi?”
            “Belum, Mas,” Osa menggeleng kecil. “Dia tadi pagi belum sarapan juga sebelum berangkat kuliah. Mungkin tadi siang dia juga nggak makan. Kan, Oik nggak keluar kamar sama sekali. Ibu kos tadi juga tanya tapi nggak saya jawab, saya nggak tahu.”
            Alvin bangkit dari duduknya. “Kamu coba bujuk Oik keluar kamar, ya. Aku minta tolong. Aku keluar dulu, carikan makan buat Oik.”
            Osa mengangguk patuh dan Alvin pun melangkah meninggalkannya. Setelah melihat Alvin yang berlalu menggunakan motornya, Osa pun berdiri hendak menuju kamar Oik. Pintu kamar Oik masih tertutup rapat.
            “Oik, kamu kenapa lagi?” gumamnya sedih.
            Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar Oik. Sudah hampir lima menit ia mengetuk pintu kamar Oik tapi tak ada jawaban dari dalam. “Oik! Buka pintunya, dong. Aku tahu kamu di dalam.”
            Osa berhenti mengetuk pintu kamar Oik setelah menyadari jemarinya telah memerah karena mengetuk daun pintu di hadapannya. “Ik, buka pintunya. Aku nggak bisa ketuk pintu kamu lagi, tanganku udah merah-merah karena ketuk pintu kamu terus dari tadi.”
            Osa mendengar bunyi benda jatuh dari dalam, disusul dengan suara saklar lampu yang ditekan. Ia dapat melihat cahaya lampu berpendar dari celah-celah pintu kamar Oik. Benar. Oik ada di dalam.
            “Ik, buka, dong. Tadi ada temanmu kesini. Namanya Alvin. Kamu kenapa, Ik?”
            Pintu mendadak dibuka dari dalam. Muncul Oik dengan rambut berantakan dan mata yang berair serta memerah. “Alvin kesini, Sa?” tanyanya dengan suara serak.
            “Iya.” Osa mengangguk. “Ayo, cuci muka dulu.”
            Osa menuntun Oik menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah kos tersebut. Oik membasuh wajahnya dengan air, merapikan penampilannya, lalu keluar dari kamar mandi. Rupanya Osa masih menungguinya.
            “Alvin sekarang mana, Sa?” tanya Oik lagi.
            “Udah ada di dalam kamarmu. Barusan dia sampai waktu kamu di dalam. Aku suruh masuk ke kamarmu tadi.”
            Keduanya pun berjalan menuju bangunan utama rumah kos tersebut. Osa berhenti di depan pintu kamarnya dan segera masuk, meninggalkan Oik yang berjalan menuju kamarnya seorang diri. Ia melihat pintu kamarnya terbuka.
            “Vin?” sapa Oik pada seorang lelaki yang tengah duduk diatas ranjangnya.
            “Sini, Ik..” Alvin menepuk-nepuk tempat di sampingnya, menyuruh agar Oik duduk di situ. Oik melangkah dan duduk di sebelah Alvin.
            “Kamu kenapa kesini?” tanya Oik sambil menatap Alvin bingung.
            “Aku khawatir sama kamu.” Alvin menyerahkan sebuah kantung plastik berwarna hitam pada Oik. “Ini nasi padang kesukaan kamu. Kamu makan dulu, ya.”
            Oik mengangguk. Ia membuka bungkusan makanan tersebut dan mulai melahapnya. Ia melirik Alvin yang tengah berdiri menatap seluruh penjuru kamarnya. Tak ia hiraukan lelaki itu yang mulai berceloteh mengenai betapa berantakannya kamarnya.
            “Kamu makan aja, biar aku yang bereskan kamarmu.”
            Alvin mulai dengan mengumpulkan bungkus-bungkus makanan yang berserakan dilantai kamar Oik. “Aku tadi udah ngomong dengan Pricilla. Dia bilang dia sama sekali nggak tahu soal perjodohannya dengan Gabriel.”
            Oik menelan nasi padangnya. “Iya. Jangan salahkan Pricilla seperti tadi lagi, Vin. Aku sadar perjodohan itu sepenuhnya orangtua mereka yang ngatur, bukan Gabriel dan Pricilla sendiri.”
            Alvin tersenyum. Ia membuang seluruh bungkus makanan ditangannya pada sebuah tong sampah di sudut kamar Oik. “Pricilla juga minta maaf soal ini. Dia masih belum berani bilang ke kamu langsung, takut kamu histeris, katanya.”
            “Sampaikan ke dia kalau aku juga minta maaf.” Oik tersenyum tipis, pandangannya menerawang.
            Alvin menepuk bahu Oik sambil terkekeh. “Jangan ngelamun terus, Oik. Ayo, lanjutkan makannya!” perintahnya.
            Oik pun kembali melahap makanannya, sedangkan Alvin kembali merapikan kamar Oik. Lelaki itu kini tengah merapikan meja belajar Oik yang dipenuhi buku-buku dalam keadaan berantakan.
            “Kamu ngobrol apalagi sama Pricilla, Vin?” tanya Oik penasaran.
            Alvin menghentikan aktivitasnya. “Tadi Pricilla langsung telepon Mamanya...”
            “Iya. Terus?” tanya Oik gemas. Pasalnya Alvin tak kunjung melanjutkan kalimatnya. Instingnya mengatakan Alvin akan mengatakan sesuatu yang akan membuatnya sakit hati lagi.
            “Beliau bilang pertunangan Gabriel dan Pricilla akan dilaksanakan secepatnya. Mungkin bulan depan.” Alvin membalikkan badannya, melihat reaksi Oik.
            Oik telah selesai melahap nasi padangnya. Ia kemudian membuang bungkus makanannya pada tong sampah dan kembali duduk diatas ranjang. “Aku udah coba merelakan Gabriel buat Pricilla tapi itu bukan berarti aku sanggup datang ke acara pertunangan mereka.”
            Alvin tersenyum tipis. Dalam sekejap Alvin sudah berada dalam pelukannya. Alvin mengelus puncak kepala gadis itu dengan sayang. “Kamu kuat, Ik. Kamu bener-bener kuat. Dan kamu memang harus kuat.”
            “Rasanya lega, Vin. Aku memang belum merelakan mereka sepenuhnya tapi, paling nggak, aku udah merelakan keputusan Gabriel untuk putus. Itu pun rasanya udah lega banget. Seperti ada beban yang diangkat.”
            Alvin melepaskan pelukannya, membiarkan Oik kembali bernapas setelah sebelumnya –ia yakin– gadis itu sulit bernapas karena dekapan eratnya. “You’re fine, aren’t you?”
            “Aku baik-baik aja,” ujar Oik seraya tersenyum ragu-ragu. “No. I’m not fine at all.”
            Alvin sudah berancang-ancang akan kembali memeluknya jika saja Oik tidak menahannya. “Stop, Vin. Berhenti peluk aku. Aku susah napas!” serunya lalu terkekeh pelan.
            Alvin ikut tertawa karena Oik sudah bisa tertawa kembali. Lelaki itu kembali mengusap puncak kepala Oik. Dan Oik, senang sekali diperlakukan begitu oleh Alvin. Entah mengapa, Oik senang jika ada yang mau mengelus puncak kepalanya. Itu seperti mengalirkan energy tersendiri padanya.
            “Vin,” panggil Oik, suaranya mulai terdengar serius. “Jangan salahkan Pricilla seperti tadi, ya. Aku nggak mau para sahabatku jadi musuhan cuma gara-gara aku.”
            Alvin mengangguk mantap. “Aku janji aku nggak akan menyalahkan Pricilla seperti tadi. Kamu bisa pegang janjiku, Oik.”
            Oik bergerak-gerak gelisah di tempatnya. Ia sudah memikirkan hal ini dari tadi pagi tapi ia tak punya cukup keberanian untuk menanyakannya langsung pada Alvin. Ia takut hal ini benar adanya.
            “Kenapa, Ik? Mau ngomong sesuatu?” tanya Alvin. Oik menggeram, Alvin terlampau mengenal dirinya.
            “Aku mau tanya sesuatu..” Oik melirik Alvin takut-takut. Melihat Alvin yang mengangkat sebelah alisnya –mempersilahkannya untuk melanjutkan perkataan–, Oik pun kembali berujar. “Kenapa reaksi kami sebegitu marahnya begitu tahu Pricilla dijodohkan dengan Gabriel?”
            Alvin terdiam di tempat. Tak menyangka pertanyaan macam itu terlontar dari bibir mungil Oik. Alvin segera mengalihkan pandangannya dari Oik. “Aku...”
            “Selama ini kamu anggep aku apa, Vin? Cuma sahabat, kan? Nggak lebih, kan? Ataupun kalau lebih, kamu anggap aku sebagai adik kamu. Iya, kan?” cecar Oik. Rupanya gadis itu telah menemukan keberaniannya untuk mengemukakan hal yang berkecamuk dihatinya.
            “Aku...” Alvin tidak menemukan kata-kata yang pas untuk mengatakannya pada Oik.
            “Kamu nggak menyimpan rasa buat aku, kan?” tanya Oik. Kali ini tepat menohok ulu hati Alvin.
            “Aku anggap kamu adik,” ujar Alvin dalam satu helaan napas. Rasa nyeri langsung menyergap hatinya.
            “Untung aja perkiraanku sejak tadi pagi salah.” Oik tersenyum senang dan segera menghambur dalam pelukan Alvin. “Aku nggak ngebayangin gimana jadinya kalau kamu nyimpen rasa buat aku, Vin.”
            “Iya.” Alvin mengangguk dengan berat hati. “Lagipula, kita berdua beda. Sama seperti kamu dan Gabriel. Nggak akan pernah jadi satu.”
            “Iya!” Oik mengangguk dengan bersemangat. “Pasti reaksi Oma kamu sama seperti reaksi kedua orangtua Gabriel jika tahu kita berpacaran. Sama sekali nggak lucu.” Oik tertawa geli.
            Alvin benci perbedaan. Alvin benci ada sekat pembeda yang menghampar abstrak tetapi tak tertembus antara dia dan Oik. Alvin benci perbedaan karena hal itulah yang memaksanya untuk berbohong pada Oik. Alvin benci perbedaan karena perbedaan itu membuat Alvin mengingkari perasaannya sendiri selama ini. Sungguh, Alvin ingin menghapus perbedaannya dengan Oik jika ia bisa.
            “Iya, aku cuman nganggap kamu sebagai adik. Nggak lebih.” Alvin bergumam seraya memeluk Oik. Ia menujukan gumaman tersebut lebih kepada dirinya sendiri, bukan kepada Oik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKEDAR CERITA [04]

            Oik baru saja akan memasuki kamar kosnya ketika ia mendengar sebuah suara yang lumayan familiar tengah memanggil namanya. Ia menengok ke samping, arah sumber suara. Salah satu teman kosnya tengah menatapnya.
            “Ya? Ada apa?” tanya Oik.
            “Ini,” Osa –teman kosanya tersebut– mengangsurkan sebuah amplop pada Oik. “Tadi ada yang titip untuk kamu.”
            Oik menerima amplop tersebut dengan kening berkerut bingung. “Dari siapa, Sa?”
            “Aku nggak tahu namanya. Dia bilang, kamu harus cepat-cepat baca isi suratnya.”
            “Oh,” Oik mengangguk. “Makasih, Sa.”
            Osa mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar kosnya. Sepeninggal Osa, Oik masuk ke kamar kosnya dan meletakkan tasnya pada meja belajar. Setelahnya, ia merebahkan tubuhnya pada ranjang.
            “Dari siapa, ya?” gumamnya ketika ia mulai membuka amplop tersebut.
            Oik membaca setiap huruf yang tertera pada surat tersebut. Oik merasakan dadanya sesak begitu menyadari tulisan tangan siapa itu. Oik segera bangkit dari posisi rebahannya dan mencari-cari ponselnya. Kemudian, ia menelepon seseorang.
            “Halo? Alvin, bisa anterin aku?”

**

            Oik dan Alvin baru saja sampai disebuah kafe daerah Surabaya Pusat. Oik turun dari boncengan motor Alvin dan mengembalikan helm milik lelaki itu.
            “Kamu yakin nggak mau aku antar sampai dalam?” tanya Alvin cemas.
            “Nggak,” Oik menggeleng dengan senyum yang dipaksakan. “Aku nggak mau kamu mengacaukan pertemuan pertamaku dengan dia.”
            “Apa dia juga datang sendirian?” tanya Alvin lagi.
            Oik mengangkat bahunya. “Aku bilang, aku nggak tahu. Teman kosku cuman menyampaikan surat dari dia.”
            “Kenapa nggak lewat SMS aja?”
            “Aku nggak tahu, Alvin.” Oik terpekik sebal. “Mungkin dia tadinya datang ke tempat kosku dan aku nggak ada. Jadi dia memutuskan untuk titip surat aja ke Osa–teman kosku.”
            “Ya sudah, tunggu apa lagi?”
            Oik tersenyum tipis. Ia merasakan Alvin mulai mendorongnya untuk masuk ke dalam kafe tersebut. Oik menurut, ia melangkah masuk dan meninggalkan Alvin yang terdiam diatas motornya. Rupanya lelaki itu mempunyai firasat buruk mengenai pertemuan ini.
            Oik mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru teras kafe itu. Ada beberapa meja bundar yang masing-masing dikelilingi oleh empat kursi kayu di teras kafe. Penerangan di luar sini menggunakan lampion berwarna merah yang menggantung pada seutas tali diatas sana. Oik tak menemukannya berada di teras.
            Oik mengangguk paham. Mungkin dia memilih duduk di dalam. Ya. Oik mendorong pintu masuk kafe –yang terbuat dari kayu dengan kaca tembus pandang pada tengah-tengahnya– dan melangkah masuk. Ramai sekali.
            Oik menemukannya berada disudut kafe. Di dekat meja kasir. Oik tersenyum penuh antusias melihatnya. Oik mengangkat tangan kanannya, menyapa orang tersebut–yang kebetulan juga sedang menatapnya.
            “Ha––,” Oik mengatupkan bibirnya, menyadari orang itu tak sendirian.
            Orang itu berdiri sejenak, mempersilahkan Oik untuk duduk di hadapannya. Oik menelan bulat-bulat sapaan untuknya ketika melihat gadis yang duduk di samping orang tersebut tengah menatapnya tajam. Oik duduk dengan perasaan tak nyaman.
            “Hai, Gab.” Oik menyapa lelaki yang duduk di hadapannya dengan lirih.
            “Hai,” Gabriel menyapa Oik balik dengan dinding.
            “Apa aku tembus pandang?” sindir seorang gadis yang duduk di samping Gabriel–Angel, adiknya.
            Oik menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Hai, Angel.”
            “Hai juga, Oik!” Angel tersenyum miring.
            “Aku perlu bicara sama kamu, Ik.” Gabriel menatap Oik dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Aku...,”
            “Kamu nggak perlu seneng dulu karena Mas Gabriel ngundang kamu kesini.” Angel menyela dengan sinis. “Kalau bukan karena terpaksa dan kasihana sama kamu, pasti Mas Gabriel lebih memilih untuk memberitahu kamu lewat telepon.”
            Oik mengangguk perlahan. Ia mulai menyadari ada yang tak beres.
            “Angel!” Gabriel memperingatkan adiknya itu dengan suara rendah, lalu ia berpaling pada Oik. “Oik, sebelumnya aku minta maaf.”
            “Aku juga minta maaf, Gab. Harusnya aku yang temui kamu duluan. Kamu baru keluar dari rumah sakit, aku tahu itu.” Oik tersenyum meminta maaf pada Gabriel.
            “Bukan. Bukan masalah itu, Ik.” Gabriel mulai bergerak-gerak gelisah di tempatnya.
            “Ya?” Oik menatap Gabriel tepat pada manik matanya. Dan Oik tahu betul lelaki di hadapannya itu sedang gelisah setengah mati.
            Angel memutar bola matanya, malas. “Langsung keintinya aja, Mas.”
            Oik menatap Angel penuh tanya, meminta penjelasan. Sedangkan yang ditatap pun hanya melengos malas setelah memberikan isyarat untuk bertanya saja pada Gabriel. Pada titik ini, Oik benar-benar merasa jengah.
            “Ada apa, Gab?” tanya Oik tak sabar. “Ngel?” Ketika Gabriel tak kunjung menjawab, Oik beralih pada Angel.
            “Mas Gabriel akan––,”
            Belum sempat Angel meneruskan kata-katanya, Gabriel sudah menyela. “Kita putus, Ik.”
            Telak! Oik menahan napasnya melihat Gabriel yang kini berubah dingin. Angel pun sudah tersenyum puas di tempatnya.
            “Pu...tus? Tap-Tapi, kenapa..., Gab?” Oik menggigit bibirnya. Air matanya hampir meluncur. Bagaimana ia tidak shock jika diputuskan secara tiba-tiba begini?
            Gabriel setengah mati menahan dirinya untuk tidak menarik kata-katanya kembali ketika melihat ekspresi terluka Oik. Ia menengok pada Angel dan mendapati adiknya itu tengah memberi isyarat untuk melanjutkan semuanya.
            “Keputusanku udah bulat, Ik. Kita putus.” Gabriel menahan napas ketika melihat satu butir air mata Oik yang meluncur dipipi mulus gadis itu.
            “Aku... butuh penjelasa, Gab.” Oik meneruskan kata-katanya dengan susah payah.
            Dari awal, Oik memang sudah merasa bahwa Gabriel berbeda. Tatapan mata lelaki itu tak sehangat biasanya, tak sehangat sebelum lelaki itu dirawat di rumah sakit. Begitupula saat ini. Oik menggigil menatap lelaki itu. Gabriel menghujamkan tatapan dinginnya padanya. Hanya satu yang Oik tak tahu. Gabriel tengah berperang dengan hatinya sendiri untuk melanjutkan ini atau berhenti saja.
            “Benar kata kedua orangtuaku, Ik. Kita berbeda. Kita nggak akan punya masa depan.”
            “Kalau yang kalian maksud berbeda adalah,” Oik mengusap cepat air matanya yang luruh. “kamu langit dan aku buminya... Oke.”
            “Bukan, bukan itu.” Gabriel mendadak panik.
            “Apa lagi? Keluargamu memang dari dulu berpikiran begitu, kan, Gab? Aku tahu.” Oik tersenyum miris. “Oke. Kita putus.”
            “Kita berbeda, Ik. Kita menyembah Tuhan yang berbeda.” Gabriel menatap kalung salib yang ia pakai. “Aku dengan salibku, dan kamu dengan tasbihmu.”
            “Agama? Kepercayaan?” tanya Oik. “Hal paling klise tetapi memang nggak bisa disatukan.” Oik mengangguk mengerti.
            “Ya.” Gabriel pun ikut mengangguk.
            “Mas Gabriel udah dijodohkan.” Angel menimpali, gemas karena kakaknya itu tak kunjung melanjutkan pembicaraan.
            “Dijodohkan? Dan kamu udah setuju, Gab?” tanya Oik tak percaya. “Kenapa kamu nggak putuskan aku duluan?”
            “Karena Mas Gabriel masih berbaik hati sama Mbak Oik.” Angel menatap Oik dari sudut matanya dengan sinis. “Nggak perlu merasa sedih, Mbak. Mas Gabriel bukan cuman satu-satunya laki-laki di dunia. Iya, kan? Mbak Oik masih bisa cari yang lain.” Angel berujar dengan nada menyindir.
            “Pertanyaan terakhir.” Oik menelan ludahnya. “Kamu dijodohkan dengan siapa?”
            “Aku nggak tahu, Ik.”
            “Dan kamu masih bisa setuju?”
            “Dengan anak dari rekan bisnis Papa.”
            “Oh,” Oik mengangguk. “Namanya?”
            Gabriel kembali menggeleng tak tahu. “Dari keluarga Soekamto.”
            Oik mengangguk mengerti lalu melirik jam tangannya sekilas. “Sudah hampir jam sembilan. Aku harus pulang.” Oik bangkit lalu tersenyum paksa pada Gabriel dan Angel. “Aku permisi dulu.”
            Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Oik sudah melangkah meninggalkan mereka. Dengan langkah tergesa dan air mata yang sudah menggenang dipelupuk, ia menghampiri Alvin yang masih setia duduk diatas motornya.
            “Vin..” panggil Oik dengan suara bergetar.
            “Ya?” Alvin –yang tadinya sedang memainkan ponselnya– segera mendongak begitu mendengar suara Oik. “Kenapa, Ik?” tanya Alvin panik, wajahnya pias melihat ekspresi terluka Oik.
            “Aku putus,” lirih Oik.
            “Kemari,” Alvin merentangkan tangannya lebar-lebar, mempersilahkan Oik memeluknya. Dalam sekejap, Oik pun telah berada dalam dekapan Alvin. “Mau cerita?”
            Oik mengangguk dalam pelukan Alvin. “Gabriel bilang aku dan dia berbeda.”
            “Ya. Agama?” timpal Alvin.
            Oik kembali mengangguk. “Dan dia udah dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis Papanya. Gabriel setuju. Bahkan dia udah setuju sebelum dia memutuskan aku.”
            Alvin menghembuskan napasnya. Ia mengelus puncak kepala Oik. “Siapa namanya?”
            “Gabriel nggak tahu. Gabriel cuman tahu kalau nama keluarga dari orang yang dijodohkan dengan dia adalah... Soekamto.”
            “Soekamto?” ulang Alvin, merasa familiar dengan nama tersebut.
            “Ya.” Oik mengangguk kecil.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CRUIFFIN part 25 (Sivia : "Gue sayang Sakaki siapapun dia, termasuk elo, Vin")

Sivia POV



Begitu gue sampai di rumah, gue langsung disambut dengan wajah bingungnya nyokap. Ada apaan lagi sih? Gue udah bener-bener capek gara-gara tadi di sekolah gue ulangan dadakan Kimia! Bayangin! Ulangan dadakan Kimia!

Gue langsung aja masuk rumah tanpa ngehirauin nyokap yang udah nungguin gue di pintu rumah. Gue ngelempar tas gue gitu aja ke sofa di ruang keluarga dan cepet-cepet ke ruang makan. Untung aja udah ada makanan di sana -.-

“Siv..” panggil nyokap gue.

Sambil duduk dan ngambil nasi di tempatnya, gue nengok ke nyokap, “Apa, ma?”

Nyokap duduk di kursi makan sebelah gue yang kosong, “Kamu lagi deket sama siapa?”

Hah? Maksudnya apaan nih? Nyokap mau ngeledekin gue lagi kayak dulu itu? Yang pas nyokap nanya persis kayak tadi, terus ngeledekin gtue gara-gara cuman ada satu cowok yang ngedeketin gue. Gabriel. Cuman dia.

“Apaan sih, ma? Ngomong yang jelas dong..” cecar gue, gue lanjutin aja ngambil sayur sama lauk di tempatnya.

Nyokap nunjukkin seiket bunga mawar warna pink yang lucu bin unyu ke gue, “Ini.. Tadi pas kamu baru aja berangkat sekolah, ada tukang kembang dari Lani Florist yang ke sini dan ngasih itu. Katanya buat kamu..”

Gue nerima buket bunga itu sambil senyum-senyum ga jelas, “Mawar pink? Suka banget!” pekik gue.

“Siv? Dari siapa kira-kira?” tanya nyokap gue lagi.

Gue ngangkat bahu sok-sokan ga tau. Padahal sih gue udah ada bayangan gitu siapa yang ngirimin beginian lagi ke gue, haha :D Siapa lagi kalau bukan si Sakaki? Eh tapi ntar biar gue SMS dia dulu deh, kali aja gue yang ke-GR-an -_____-

“Ya udah ma, ga usah dipikirin. Enjoy aja. Itu berarti ada yang kesengsem sama Sivia..” canda gue.

Nyokap melengos kesel, “Ya udah.. Abisin makanannya, terus sholat ya. Abis itu kamu bantu-bantu aja di petshop kalau kamu ga ada PR atau besok ga ada ulangan”

“Sip!” gue ngacungin jempol gue ke nyokap.

Nyokap langsung pergi ga tau ke mana. Bawa mobil sih tapi. Palingan ketemuan sama temen-temennya yang doyan arisan itu. Ya kan? -__-

^^^

Kayak yang nyokap suruh tadi, gue bantu-bantu aja di petshop. Kebetulan besok kan gue ga ada ulangan, gue juga ga ada PR. Abis makan tadi gue langsung ganti baju terus ke sini deh. Ga nyampek lima menit mah, gue udah sampek di petshop :p Kan petshop-nya sebelahan sama rumah gue -.-v

“Mbak Sivia..” sapa para pegawai nyokap gue di petshop, gue senyum ke mereka semua.

“Mbak, aku duduk-duduk di kursi kasir aja ya? Lagi ga rame-rame amat kan? Lagi males basah-basahan mandiin kucing, anjing, sama yang lainnya soalnya” tanya gue.

Mbak Osa, salah satu pegawai yang bagiannya mandiin para hewan lucu itu, ngejawab dengan anggukan aja. Mbak Osa emang gitu tuh orangnya, diem banget! -_-

Astaga! Gue lupa! Gue kan mau SMS si Sakaki! Dasar Sivia pikun! Baru kelas satu SMA aja udah pikun. Gimana ntar kalau gue udah nenek-nenek, coba? -_- Ayo deh SMS si Sakaki, daripada ntar kelupaan lagi..

Lo bukan, sih, yg tadi pagi ngirimin buket mawar pink ke rumah gue?

Sent. Oke. Gue taruh HP gue di meja dan gue langsung ngelayanin ibu-ibu yang mau bayar. Dia abis aja nyalonin anjing kecilnya, hehe. Setelah ibu tadi bayar, HP gue geter-geter sambil ngeluarin suara gitu u,u Eh taunya ada balesan dari Sakaki.

Iya.. Kenapa? Lo suka ga? Pasti suka deh :p

Kok si Sakaki tau sih? Kayaknya dia tau banget gitu tentang gue -.-

Suka banget! Lo tau dari mana kalau gue suka mawar pink? Lo juga tau dari mana alamat gue?

Ga lama, ada balesan dari si Sakaki. Gue langsung aja buka sambil senyum-senyum ga jelas. Kayaknya gue mulai suka deh sama si Sakaki. Errr.. Suka? Apa sayang? --a

Gue tau semuanya tentang lo..

Oke.. Gue nyerah! Lagi banyak banget yang mau ngebayar. Dan sangking banyaknya, gue sampek-sampek ga sempet liat wajah mereka satu persatu. Gue terlalu focus ke mesin kasir di depan gue. Gini nih ga enaknya bantu-bantu di petshop -.-

^^^

Baru aja gue mau tidur, ceritanya udah malem nih, HP gue geter-geter lagi. SMS lagi nih -.-

From: Sakaki

Lo tau? Gue adalah salah satu dari pelanggan di petshop lo hari ini. Sayangnya, lo pasti ga ngeliat wajah gue. Lo terlalu fokus, sih, sama mesin kasirnya :p

Ghost! Lo semua bisa baca kan?! Sakaki itu salah satu dari pelanggan di petshop nhyokap gue hari ini! Dia tau kalau gue terlalu fokus sama mesin kasir, dia tau itu petshop punya nyokap gue, dia tau alamat rumah gue, dia tau gue suka mawar pink! :-o

Kira-kira Sakaki itu siapa sih? Sumpah ya, gue udah penasaran tingkat dewa sama Sakaki! Gue pingin lihat dia secara langsung. Gue pingin tau gimana wujudnya dia. Gue pingin tau tentang dia sebanyak yang dia tau tentang gue!

To: Sakaki

Oke, gue udah cukup penasaran sama lo. Lo tau gue, tapi gue ga tau lo.. Gimana kalau kita lanjut di chat FB aja? Mumpung belum malem-malem amat..

Sekitar lima menit setelah itu, ada SMS masuk dari Sakaki. Dia setuju. Akhirnya gue pindah tempat dari yang tadinya ngendon di kasur, gue sekarang jadi ada di atas kursi dan ngadep ke laptop gue yang warnanya pink unyu itu :*

Gue nyalain laptop, nyolokin modem, buka web browser, buka Facebook, dan voila! Si Sakaki udah lebih dulu on daripada gue. Malu! Padahal kan gue yang ngajak dia on eh malah dia duluan yang on -.-

Sakaki: Lama amat neng? -_-
Shiori Hayami:  Sorry bang, kesalahan teknis tadi :D
Sakaki: Oke.. Mau ngomong apa lo?
Shiori Hayami: Biasa aja kali, bang, ngomongnya -_-
Sakaki: Gue udah biasa ini, lo-nya aja yang sensi 
Shiori Hayami: Iya deh, maap.. Gue mau nanya! 
Sakaki: Nanya apaan? Cepet! Keburu malem soalnya.. 
Shiori Hayami: Lo tau dari mana sih semuanya tentang gue?
Sakaki: Dari siapa kira-kira? 
Shiori Hayami: Kok lo malah balik nanya sih? -_- 
Sakaki: Ya udah, lo maunya apa? :) 
Shiori Hayami: Jawab pertanyaan gue yang tadi! 
Sakaki: Sebenernya lo tuh kenal siapa gue, cuman lo ga nyadar aja.. 
Shiori Hayami: Seriusan lo? Sekenal apa gue sama lo? :-o 
Sakaki: Yang jelas, kita itu saling kenal :p 
Shiori Hayami: Sumpah gue penasaran! Gimana kalau kita ketemuan? 
Sakaki: Ngapain ketemuan? Tiap hari kita udah ketemu! :p 
Shiori Hayami: Jadi lo itu temen sekolah gue? :-o 
Sakaki: Gue ga bilang kayak gitu ya :p 
Shiori Hayami: Ayolah! Kita ketemuan ya? 
Sakaki: Oke.. Besok ya? Pulang sekolah. Gimana?
Shiori Hayami: Sip! Ketemuan di mana?
Sakaki: Di kantin sekolah aja..
Shiori Hayami: Boleh.. Gimana caranya gue ngenalin lo?
Sakaki: Cari aja cowok yang ngebawa tas punggung warna item ada putihnya dikit
Shiori Hayami: Gue pegang omongan lo. Awas sampek besok lo ga ada!

Setelah matiin laptop dan ngerapiin buku pelajaran buat besok, gue langsung balik lagi ke kasur. Selama sekitar sejam pertama, gue ga bisa tidur. Gue masih kepikiran sama Sakaki. Gue beneran penasaran sama dia!

^^^

Besoknya, pas bel pulang bunyi, gue langsung cepet-cepet ngeberesin buku-buku dan alat tulis gue. Cepet-cepet gue masukkin semua barang-barang gue itu ke dalam tas. Gue langsung cus ke kantin tanpa ngehirauin anak-anak Cruiffin yang udah teriak-teriak manggil gue.

“Siv! Lo mau ke mana?” teriak Oik.

Gue cuman nengok ke belakang sebentar, ke Oik lebih tepatnya, senyum dan balik lari lagi ke kantin. Gue ga mau telat sedetikpun dari waktu janjian gue sama Sakaki! Eh, tunggu! Emang dia nyebutin ya jam berapa dia bakal dateng? Tuhan! -_-

Kantin masih rame. Pasti si Sakaki belum dateng deh. Mana mau dia desel-deselan di kantin cuman buat ketemu sama gue -_- Ya udah deh, gua langsung nyerobot tempat yang ada pas di tengah-tengah kantin dan duduk di sana.

Berhubung dari pagi gue belum makan karena kepikiran soal ini, akhirnya gue mutusin buat pesen makan. Nungguin si Sakaki sambil makan, apa salahnya? :p

Sekitar sejam kemudian, kantin baru sepi. Bisa dibilang, cuman ad ague di sana. Sangking bosennya gue nungguin si Sakaki, gue sampek ribet ngutak-atik HP gue. Dan sangking ribetnya gue ngutak-atik HP, gue jadi ga sadar kalau ada orang yang tau-tau aja duduk di kursi yang semeja sama gue. Gue ngedongak dan ngeliat ada Alvin di sana.

“Eh, Alvin..” sapa gue, sambil cengengesan dan naruh HP gue.

Alvin senyum cool, “Nunggu siapa, Siv?” tanyanya.

Duh! Jawab ga ya? “Nunggu temen gue. Gue taunya sih namanya dia itu Sakaki. Tapi ga tau nama aslinya siapa..”

Alvin manggut-manggut. Duh, gila! Jantung gue lompat-lompat! “Emang temen lo itu ga ngasih cirri-cirinya dia gitu?” tanyanya lagi.

Gue ngangguk semangat, “Ngasih, kok! Ngasih! Dia bilang kalau dia itu bawa tas punggung warna item, ada putihnya dikit..”

“Kayak gini?” Alvin ngadep ke belakang sekilas buat nunjukkin tasnya ke gue.

“Vin?” gue speechless, ga nyangka!

Alvin balik lagi ngadep ke gue sambil senyum cool (lagi), “Kenapa, Siv?”

“Gue ga nyangka aja.. Jadi, Sakaki itu lo?” tanya gue, buat mastiin.

Alvin ngangguk, “Iya.. Gue bukan cowok yang bisa terang-terangan ngauin perasaannya ke cewek yang dia suka. Makanya gue pake cara ini..”

“Maksud lo?” tanya gue, ngegantung. Gue ga mau GR deh -,-

“Ya dengan cara jadi Sakaki ini gue nunjukkin perasaan gue ke lo..” jawabnya.

“Jadi? Lo suka sama gue?”

Omongan gue angsung dipotong Alvin, “Ralat! Bukan suka, tapi sayang!”

Gue melongo sangking kagetnya, “Serius, Vin?”

Alvin ngangguk kalem, “Lo ga kecewa, kan, karena ternyata Sakaki itu gue?”

“Ga! Gue sayang Sakaki siapapun dia, termasuk elo, Vin” jawab gue, malu-malu :p

“Jadi? Lo juga sayang sama gue?” tanya Alvin, ga tau buat yang keberapa kalinya -_-

“Iya..” jawab gue, malu-malu (lagi)

“Kita jadian?”

“Sure!”

“Saranghae, Siv!” bisik Alvin. Gue melting parah! -_-

Alvin nyium jidat gue dan AAAAAAA gue makin melting! Wajah gue pasti merah. Gue noleh ke samping buat sekedar nyembunyiin warna merah di pipi gue. Dan ga sengaja, gue liat Zevana sama Gabriel di sana. Gue senyum ke Zevana pas ga sengaja dia nengok kea rah gue sama Alvin :)

(Part Sivia - End)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS