Seminggu kemudian..
Oik berjalan dengan tergesa-gesa menuju Sekretariat OSIS.
Pasti rapat mengenai LDKS yang akan diselenggarakan besok sudah
dimulai. Ini semua gara-gara Sivia dan Pricilla! Kedua sahabatnya itu
tadi mengajaknya makan di kantin. Mentang-mentang keduanya tidak
mencalonkan sebagai anggota OSIS lagi, mereka jadi semena-mena menculik
Oik saat rapat digelar! Huh!
Oik mengetuk pintu Sekretariat OSIS dengan hati-hati.
Setelah itu, ia membukanya. Seluruh pasang mata di dalamnya memandang
tajam ke arahnya. Oik masuk seraya tersenyum kikuk, lalu mengambil
tempat duduk di samping Keke –adik kelasnya–.
Oik mengerling ke depan. Para senior OSIS sedang memimpin
rapat. Ada Zahra, Angel, Rio, Kiki –Ketua OSISnya–, Lintar –Wakil Ketua
OSIS–, Irva –Ketua Panitia LDKS–, dan Rahmi –Bendahara I OSIS–.
Oik mengedarkan pandangannya. Rupanya Cakka dkk itu juga
mencalonkan sebagai anggota OSIS. Oik menggerutu dalam hati. Mau jadi apa OSIS tahun ini kalau anggotanya kayak mereka ini?
“Ya sudah, rapat saya tutup. Setelah ini langsung pulang,
jaga kesehatan. Besok kita berangkat ke daerah Trawas, Mojokerto.
Barang-barangnya juga jangan sampai ada yang ga dibawa.” Angel menutup
rapat dengan senyum sinisnya.
Angel, Rio, Kiki, Lintar, dan Rahmi langsung keluar dari
Sekretariat OSIS. Sedangkan Zahra dan Irva menunggu sampai seluruh
adik-adiknya keluar. Pasalnya, Zahra yang membawa kunci ruangan ini.
Jadi, dia yang akan menguncinya.
“Ik! Oik!”
Oik menengok ke belakang sambil membenahi dasinya. Ada
Shilla yang berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Cakka cs. Oik
mengangkat salah satu alisnya, membuat Shilla serta Cakka cs datang
menghampirinya.
“Hay, Kak.” Alvin tersenyum lebar seraya agak menganggukkan kepalanya, Oik hanya menatapnya datar.
“Halo, Mbak!” Cakka mengangkat tangan kanannya, bermaksud untuk berhigh five dengan Oik tapi sama sekali tak diperdulikan olehnya.
Shilla memandang Alvin, Cakka, Deva dan Ozy – teman
keduanya– dengan tersenyum kecil, lalu beralih pada Oik, “Ikut LDKS,
kan, Ik?”
Oik mengangguk, “Iya. Kenapa, Shill?”
“Jangan jutek-jutek, dong, Mbak.” celetuk Deva dan dia berhasil mendapatkan pelototan tajam dari Oik.
“Kamu tadi, kan, ga dateng rapat dari awal. Nanti aku
SMSin ke kamu aja, ya, barang-barang apa yang harus dibawa?” tawar
Shilla.
“Ga usah,” Oik menggeleng dan tersenyum berterima kasih.
“Aku udah tau, kok, Shill. Aku, kan, juga ikut LDKS tahun lalu... ga
kayak kamu. Aku juga bisa tanya Mbak Irva.”
Shilla hanya mengangguk mengerti dan tersenyum kikuk.
**
Keesokan harinya..
Para peserta LDKS telah siap di barisan masing-masing.
Dan, sialnya, Oik harus berbaris di dekat Cakka cs. Satu hal lagi yang
membuat Oik kesal adalah sinar matahari yang menyengat itu membuatnya
agak sedikit limbung. Oik memang tidak bisa berada di bawah sinar
matahari dalam waktu yang lama. Ia bisa pingsan dibuatnya.
“Kenapa, Kak?” Alvin melongokkan kepalanya pada Oik.
Oik menggeleng lemah, “Ga kenapa-kenapa. Cuman kepanasan.”
“Aku bawa jaket, Mbak. Mau pinjem?” tawar Cakka, lagi-lagi ia tersenyum lebar.
“Aku juga bawa.” Oik melirik Cakka dingin.
**
Seluruh peserta LDKS beserta para senior OSIS turun dari
dalam bus. Mereka semua dihadapakan dengan barisan bukit yang hijau.
Para peserta LDKS kembali berbaris, dipimpin oleh beberapa orang dari event organizer
yang disewa oleh para seniornya. Senior-senior itu mengawasi mereka
dari bawah teduhnya pepohonan. Oik menatap kakak-kakaknya dengan raut
wajah sebal.
Oik berbaris di dekat Gita dan Nova –teman
seangkatannya–. Para peserta LDKS pun mulai berjalan, menaiki dan
menuruni perbukitan di depannya. Zahra, Irva, Rahmi, Angel, Kiki,
Lintar, dan Rio mengikuti mereka dari belakang. Zahra sudah berjaga-jaga
membawa Oxycan –Oxygen Can– untuk Oik.
Dan, benar saja, baru beberapa kilometer berjalan, Oik
sudah lemas. Wajahnya sudah sepucat mayat hidup, bibirnya sudah seputih
kapas. Akhirnya ia dibopong oleh Zahra dan Irva. Rahmi dan Angel
mengipasi Oik. Rio membawakan Oxycan Oik. Kiki dan Lintar tetap berjalan
bersama para peserta LDKS yang lain.
“Sok-sokan ikut pendakian, sih, Ik..” cibir Rahmi.
“Mbak Rahmi, nih... ngeselin!” Oik merajuk dengan suara
manjanya. “Kan, biar bareng-bareng sama yang lainnya juga. Masa aku
langsung ke perkemahan, sih? Sendirian, dong!”
“Butuh Oxycan, Ik?” tanya Rio.
Oik menggeleng cepat, “Masih kuat, kok, Mas!”
Akhirnya Oik kembali berdiri. Tangan kanannya digandeng
oleh Zahra dan tangan kirinya digandeng oleh Angel. Rahmi dan Rio
berjalan di depannya. Perlahan, mereka berlima menyusun rombongan
lainnya yang sudah jauh di depan.
“Mbak, calon anggota OSISnya, kok, gini semua, sih?” Oik memperhatikan adik-adik kelasnya dengan prihatin.
“Cakka cs, ya?” tanya Rahmi.
Oik mengangguk, “Iya, Mbak. Gitu, kok, ya, diterima..”
Irva mengangkat bahunya, “Tanya Ketua OSISmu aja, Ik. Dia bilang Cakka c situ kurang diasah aja kemampuannya.”
“Udah jelas-jelas nakal gitu, kok! Buktinya, waktu MOS, kan, mereka jadi troublemaker, Mbak.” Oik menimpali dengan kesal.
“Tenang... Cakka, Alvin, Deva, sama Ozy itu takut sama aku.” Rio menyombongkan dirinya.
Angel menyoraki Rio dengan hebohnya. Ia sampai mendorong
bahu Rio karena gemas dengan percaya dirinya yang selangit itu. Oik pun
tertawa. Tak terasa, asmanya sudah mulai sembuh. Tumben sekali asmanya
kumat tidak berlangsung lama.
**
Seluruh rombongan pendakian sampai di area perkemahan
dengan peluh yang menetes deras. Para peserta LDKS duduk melingkar di
depan tenda. Oik menyusul dan duduk di samping Shilla karena hanya
tempat itulah yang masih kosong.
“Asma kambuh, Ik?” tanya Shilla.
Oik mengangguk dan tersenyum jengah, “Iya, tapi udah mendingan. Ini udah ga kenapa-kenapa, kok.”
Shilla mengangguk mengerti. Gadis itu kembali meluruskan
kakinya. Begitupula dengan Oik. Mereka berdua terlibat pembicaraan seru
seputar MOS seminggu yang lalu. Apalagi ketika Oik mendapatkan banyak
surat yang menyatakan bahwa dialah panitia MOS yang paling galak.
“Dek!” Angel berdiri di tengah lingkaran bersama dengan
Rio. “Ini air mineral gelasnya setiap orang dapet jatah satu. Cepetan
diminum. Setelah ini, kita ada games di sungai belakang.” Angel mengedik ke belakang tenda. Ada sungai berair jernih di sana.
Dengan cepat, Rio membagikan kepada adik-adiknya segelas
air mineral. Setelah itu, para senior dan beberapa orang dari event organizer segera menuju sungai untuk mempersiapkan peralatan games.
“Mbak, gamesnya nanti ngapain?” tanya Cakka pada Shilla.
Shilla menggeleng dan tersenyum masam, “Ga tau, dek. Tanya Mbak Oik aja. Aku, kan, tahun lalu ga ikut LDKS.”
Cakka mengangguk dan kemudian beralih pada Oik, “Mbak, gamesnya nanti ngapain?”
“Pipa bocor.” Oik menjawab pendek.
Cakka kembali menengok pada Alvin, Deva, dan Ozy. “Dev, Zy, dulu di SMP Permata games LDKSnya apa, ya?”
Deva, Ozy, dan Cakka adalah alumnus SMP Permata. Dulu
–semasa SMP– ketiganya merupakan anggota OSIS juga. Deva pada Sekbid 2
yang menangani soal Pendidikan, Ozy pada Sekbid 7 soal Olah Raga, dan
Cakka pada Sekbid 8 yang merupakan spesialis Kesenian. Sedangkan Alvin
adalah alumnus SMP Langit Jingga.
Ozy mengedik pada Deva dan menjawab, “Lupa, Kka. Udah lama juga..”
Shilla menengok pada ketiga adik kelasnya itu dengan raut
wajah kaget, “Kalian alumnusnya SMP Permata?” ketiganya mengangguk
bersamaan. “Ik, kamu alumnus SMP Permata juga, kan?”
“Mbak Oik alumnus SMP Permata?” tanya Cakka dengan mata berbinar.
“Iya.” Oik kembali menjawab dengan pendek dan dingin.
“Tapi aku ga pernah lihat Mbak Oik, lho..” Ozy juga terlihat kaget.
Oik memandang tajam ketiga adik kelasnya itu, “Kalian
pikir aku pernah lihat kalian waktu SMP? Emang penting? Buang-buang
waktu aja.”
Oik bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju
sungai. Cakka, Alvin, Deva, dan Ozy dibuat melongo oleh keketusan Oik
barusan. Ketiganya tak menyangka bahwa Oik akan tetap menjadi senior
yang ketus seperti ketika MOS. Shilla hanya memandang Oik dengan
menggelengkan kepalanya, memaklumi.
“Mungkin Mbak Oik masih kebawa suasana MOS.” Shilla mencoba menjelaskan.
“Tapi Mbak Shilla udah ga kebawa suasana MOS, kan? Kok
Mbak Oik masih kebawa?” tanya Deva dengan raut wajah –agak– sebal.
“Mbak Shilla yang pas MOS jadi SK aja bisa baik ke kita.
Mbak Oik yang cuman panitia biasa, kok, tetep jahat?” Ozy ikut
menimpali.
“Hus!” Alvin menoyor kepala Ozy. “Ceplas-ceplos banget kamu! Mbak Oik itu pas MOS pegang jabatan double, tau! Sekretaris sekaligus bendahara!”
“Kamu tau dari mana, Vin?” tanya Cakka dengan pandangan tak suka.
“Dari Mbak Shilla.” Alvin pun memamerkan cengiran lebarnya pada Cakka, Deva, dan Ozy.
“Udah, ah. Ga baik ngomongin orang terus. Ntar Mbak
Oiknya tau, kalian bisa dimarahin.” Shilla pun bangkit berdiri lalu
membersihkan rok pramukanya yang kotor karena rerumputan. “Ke sungai
belakang sekarang, yuk!”
Cakka, Deva, dan Ozy berdiri pula tanpa banyak bicara.
Hanya Alvin yang masih duduk dan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia
mengulurkan tangannya ke atas, bermaksud ingin dibantu berdiri. Cakka,
Deva, dan Ozy menatapnya malas. Shilla memandangnya dengan tersenyum
simpul.
“Ayo, sini.. Berdiri!” Shilla membalas uluran tangan Alvin.
Cepat-cepat Alvin menjauhkan tangannya dari Shilla dan
menampakkan wajah malaikatnya, “Maaf, Kak.. Kita bukan muhrim.” Alvin
menjawab dengan kalem.
Shilla pias. Ia kembali menarik uluran tangannya kemudian
berbalik dan melangkah menuju sungai. Meninggalkan keempat adik
kelasnya itu dengan diselimuti kebingungan.
“Kamu, sih, Vin! Mbak Shilla ngambek, tuh!” Deva mengulurkan tangannya untuk membantu Alvin berdiri dengan malas.
“Ya, kan, aku cuman bercanda. Kak Shilla aja yang terlalu serius nanggepinnya.” bantah Alvin.
Keempatnya pun berjalan menuju sungai dengan cepat.
Pasalnya, para peserta LDKS yang lainnya telah melenggang menuju sungai
sejak lima menit yang lalu. Begitu mereka sampai di bantaran sungai,
mereka melihat para peserta lain telah berbaris membentuk lima banjar.
“Kalian berempat!” Angel berteriak dari depan. “Kenapa telat kemari?”
“Maaf, Kak.” Alvin, Cakka, Deva, dan Ozy hanya mampu menundukkan kepala mereka.
“Udah, cepet baris! Jangan buang-buang waktu.” Rahmi menimpali.
Keempatnya segera berbaris. Kebetulan, banjar paling
kanan baru terisi oleh tiga orang, kurang empat lagi. Jadilah mereka
semua berbaris pada banjar paling kanan tersebut. Rupanya mereka
sebanjar dengan Oik, serta dua teman seangkatan mereka lainnya –Dea dan
Agni–.
Alvin –yang berbaris di depan ketiga temannya yang lain–
mencolek bahu Agni dari belakang, “Games pipa bocor, Ag?” tanyanya.
Agni mengangguk, “Iya. Ssstt!” Gadis itu menyilangkan
telunjuknya di depan bibir. “Bilangin Cakka, Deva, sama Ozy.. Jangan
rame! Nanti kalian ga denger penjelasan dari Kak Angel, tau!”
Alvin mengangguk. Ia memberikan kode kepada ketiga
temannya itu agar jangan berbicara sendiri dan mendengarkan penjelasan
tentang permainan pertama ini dengan baik. Cakka, Deva, dan Ozy pun
diam. Mereka semua menyimak penjelasan dari Angel dengan seksama.
“Nah! Kelompoknya dibagi menurut banjar masing-masing,
ya! Satu banjar, satu kelompok!” Angel mengakhiri penjelasannya.
Oik, yang berbaris paling depan, segera menengok ke
belakang. Ia kaget bukan main ketika mendapati bahwa ia akan sekelompok
dengan keempat adik-adik troublemaker itu. Ia menggeram dalam hati dan kembali menghadap ke depan.
Kelima kelompok tersebut segera masuk ke dalam sungai.
Alhasil, seragam pramuka mereka menjadi basah kuyup. Kelompok pertama
berada di tengah-tengah sungai, kelompok kedua di sebelah utara kelompok
pertama, kelompok ketiga di sebelah timur kelompok pertama, kelompok
keempat berada di sebelah selatan kelompok pertama, dan kelompok kelima
berada di sebelah barat kelompok pertama.
“Mbak, masuk sungai ga bikin asmanya kambuh lagi, kan?” tanya Cakka khawatir.
Oik menggeleng dan tersenyum tipis, “Ga, kok. Ga selebay itu juga, lah, asmaku!”
“Wah! Mbak Oik bisa senyum!” Cakka memekik heboh.
“Kamu pikir Kak Oik itu robot?” Alvin menginjak kaki Cakka hingga temannya itu mengaduh kesakitan.
“Ya! Di tengah-tengah kalian semua sudah ada sebuah pipa
yang memiliki lubang di mana-mana. Di dalamnya ada sebuah bola kecil.
Tugas kalian adalah mengisinya dengan air sungai hingga bola kecil itu
keluar dari dalam pipa.”
Begitu peluit dibunyikan, seluruh kelompok tersebut mulai
sibuk sendiri mengisi masing-masing pipa dengan air sungai. Ada yang
bertugas menutup lubang-lubangnya dan ada juga yang bertugas menimba air
lalu menuangkannya ke dalam pipa.
“Ga ngaruh, nih!” seru Agni dengan sebal.
“Ya sabar, Ag!” Ozy menimpali dengan tak kalah kesalnya.
“Logika kalian jalan ga, sih? Yang ditutup jangan cuman
lubang-lubang yang ini, dong!” Oik pun ikut berseru dengan kesal.
“Terus yang mana lagi, Mbak?” tanya Ozy. Ia bertugas menimba air dan memasukkannya ke dalam pipa.
“Yang di bawah masih bolong!” pekik Alvin, seakan baru menyadari sesuatu.
Oik mengangguk. Rupanya logika anak-anak troublemaker ini
berjalan juga. Oik tersenyum dalam hati. Akhirnya, Dea yang menutup
lubang bawah pipa yang mengangalebar. Ozy pun melanjutkan pekerjaannya.
Perlahan, bola kecil itu mulai muncul dan akhirnya keluar
dari dalam pipa. Kelompok Oik bersorak senang. Akhirnya mereka pun
diperbolehkan kembali ke bantaran sungai dan duduk-duduk di bawah
pepohonan sambil menunggu kelompok lain yang tak kunjung berhasil
mengeluarkan bolanya.
“Mbak, Mbak Oik jangan jutek-jutek, dong..” rajuk Dea.
“Siapa yang jutek? Ga ada.” Oik terkekeh pelan setelahnya.
“Ya Mbak Oik yang jutek!” Agni cemberut. “Waktu MOS jutek. Ini tadi juga jutek. Tapi, kok, tadi bisa senyum, Mbak?”
“Lagi bete aja kemarin-kemarin.” Oik kembali tersenyum simpul.
“Tuh, kan, senyum lagi!” Cakka kembali memekik dengan heboh.
“Berisik, Kka!” Deva menempeleng wajah Cakka dengan tidak berperasaan.
“Berarti kalau Mbak Oik jutek itu Mbak Oik lagi badmood?” tanya Dea, memastikan.
Oik mengangguk, “Iya, Dek.”
“Kak Oik berarti sering badmood, ya..” gumam Alvin seraya tersenyum simpul
“Udah takdir, Vin, kalau aku sering badmood.” Oik tertawa kencang.
“Jangan badmood lagi, ya, Mbak..” kata Cakka. Ia menatap Oik lurus-lurus dan tersenyum tulus padanya.
Oik kembali tersenyum. Ia mulai nyaman berada di antara
mereka. Semangat, Oik! Ia masih akan menjalani dua hari kedepan dalam
kegiatan LDKS dengan mereka-mereka ini. Oik tak menyangka mereka adalah
adik kelas yang menyenangkan begini.
Tampilkan postingan dengan label dea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dea. Tampilkan semua postingan
THE UNTITLED STORY [2 of 4]
05.48 |
Label:
agni,
alvin,
angel,
cakka,
dea,
deva,
irva,
kiki,
lintar,
oik,
ozy,
pricilla,
rahmi,
rio,
shilla,
sivia,
zahra
Read User's Comments(0)
Metropolitan
Sang rembulan sudah berada di puncak tahtanya. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Seorang gadis manis berpakaian seragam SMA terkenal di Jakarta baru saja pulang. Entah dari mana. Ia berjalan lunglai memasukki kediamannya.
Ckreek..
Ia membuka pintu rumahnya. Lampu-lampu sudah padam. Seluruh penghuni rumah pasti sudah terlelap tidur. Dengan sempoyongan gadis itu berjalan ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya perlahan.
Trap!
Lampu menyala tiba-tiba. Terlihat seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahun duduk di bibir ranjang seraya menatap gadis manis itu pilu. Wanita itu bangkit dan berdiri berhadapan dengan gadis manis itu.
“Kamu dari mana, Ik? Kenapa jam segini baru pulang?” tanyanya. Suaranya terdengar parau. Matanya pun terlihat berkaca-kaca.
“Dari rumah temen, ngerjain tugas” jawabnya singkat.
Wanita paruh baya dihadapannya mencium bau alcohol dari mulut gadis manis itu. Makin pilu saja hatinya mengetahui cucunya mengkonsumsi minuman haram itu.
Gadis itu, Oik, mengibaskan tangan kanannya dan berjalan ke ranjangnya. Ia segera berbaring di sana, tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Tak lama, ia sudah terlelap. Wanita paruh baya itu hanya dapat mengelus dada.
Pintu kamar kembali terbuka. Seorang gadis dengan kulit putih dan berparas ayu berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut. Ia merangkul pundak wanita itu dari samping seraya tersenyum pilu. Gadis itu melirik Oik sekilas. Ia hanya dapat geleng-geleng kepala saja mendapati sepupunya baru pulang jam segini.
Gadis itu kembali beralih pada wanita paruh baya yang sedang ia rangkul, “Oma, ini udah tengah malem loh. Oma tidur, ya? Sivia anterin ke kamar, deh. Mau, ya, oma?” tawarnya.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk. Mereka berdua melenggang meninggalkan Oik yang sepertinya telah terlelap. Sivia mematikan lampu kamar Oik dan kembali melirik sepupunya itu sekilas. Hatinya trenyuh. Malang benar sepupunya ini.
Semua itu berawal ketika…
Oik baru saja pulang sekolah, bersama Sivia. Keduanya memang satu sekolah, satu kelas, dan satu bangku pula. Mereka seperti tak terpisahkan. Keduanya disambut mama Oik siang itu. Mereka segera menghampiri mama Oik dan mencium punggung tangan beliau.
“Wah yang baru aja masuk SMP.. Kok jam segini sudah pulang?” tanya mama Oik dengan ramah.
Sivia dan Oik mengangguk bersamaan, “Iya tante.. Kan baru aja masuk. Jadi, ya, tadi di sekolah cuman perkenalan sama pemilihan pengurus kelas. Buat tiga hari ke depan rutinitasnya kayak gitu, tante” jelas Sivia dengan semangat, Oik hanya tersenyum simpul di sampingnya.
“Oh ya, Sivia! Ayah dan bunda kamu mungkin masih lama di Surabaya. Kerjaan mereka sepertinya bertambah. Mereka kira-kira baru pulang dua minggu lagi” mama Oik berat sekali menyampaikan kabar tersebut. Mengingat seminggu lagi Sivia akan ulang tahun. Ini adalah kali keempat Sivia melewati ulang tahun tanpa ada kedua orang tuanya di sampingnya.
Sivia tersenyum kecut, “Ga apa-apa kok, tante. Udah biasa juga. Udah empat kali, kan?”
Kring kring.. Tiba-tiba saja telpon berbunyi. Mama Oik segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri telpon. Sivia dan Oik mengekornya.
“.....Iya benar, ini dengan siapa, ya?.....”
“.....Kepolisian? Ada apa dengan suami saya?.....”
“.....Apa? Kecelakaan? Tolong jangan bercanda!.....”
“.....Oh, baiklah.....”
Mama Oik menutup gagang telpon dengan lesu. Ia pandang putrid semata wayangnya dengan pilu. Segera ia menarik Oik ke dalam pelukannya. Mama Oik menangis tersedu-sedu dalam pelukan Oik. Sivia dan Oik yang tidak tahu apa-apapun hanya diam saja.
Tak lama, oma Sivia dan Oik datang dengan tergopoh-gopoh. Napasnya tersengal-sengal. Wanita paruh baya itu mengguncang-guncang tubuh menantunya, Mama Oik, dengan keras. Seolah meminta penjelasan.
“Ada apa dengan suamimu, Zahra?” tanya oma.
Zahra, Mama Oik, masih terus menangis. Air matanya belum kering. Beberapa menit kemudian, sebuah ambulance datang. Seluruh keluarganya berlomba-lomba keluar dan melihat siapa yang dibawa oleh ambulance tersebut.
Oik terpaku. Para petugas medis membopong jasad seorang laki-laki masuk ke dalam rumahnya. Ia kenal betul siapa laki-laki yang sudah tak bernyawa itu. Setelah itu, para perawat medis mengajak mama Oik untuk berbincang sejenak.
“Ini jenazah suami ibu. Tadi diantar oleh para teman sekantornya ke rumah sakit kami. Ketika dibawa ke rumah sakit pun keadannya sudah sangat memburuk. Terjadi insiden saat beliau sedang mengunjungi project di daerah Kemang” jelas petugas medis tersebut.
Oik dan Sivia tak sengaja mendengarnya. Mama Oik terlihat makin sembab saja matanya. Seluruh kerabat dan sanak saudara pun sudah datang dan menengok ayah Oik untuk yang terakhir kalinya.
Oik hampir saja ambruk kalau-kalau Sivia tidak menopang tubuh mungilnya, “Opa! Oik pingsan! Bantuin Sivia bawa ke kamar!” teriak Sivia dan ruang keluarga.
Opa mereka datang dan segera menggendong Oik ke kamar mamanya. Kenapa ke kamar mamanya? Karena kamar Oik berada di lantai atas, tak mungkin opanya menggendong ke sana. Bisa kambuh encoknya.
Opa membaringkan tubuh Oik di ranjang. Walaupun ia pingsan, tetap saja air mata mengucur deras dari kedua matanya. Opa beranjak keluar kamar, meninggalkan Sivia yang menjaga Oik di sana.
Karena hari yang relatif masih siang, diputuskan bahwa jasad ayah Oik akan dimakamkan sekarang. Rombongan para pelayat dengan busana serba hitam berangkat ke TPU terdekat. Hanya Sivia dan Oik saja yang tinggal di rumah.
Suasana pemakaman pun sangat sendu, seperti pada umunya. Setelah jasad dikebumikan, para pelayat berangsur pulang. Beberapa dari mereka ada juga yang kembali ke rumah duka. Sekedar untuk menghibur atau membantu persiapan untuk tahlilan malamnya.
Oik sadar ketika Sivia sudah tak ada di sampingnya. Gadis manis tersebut rupanya sedang membantu sanak keluarga yang mempersiapkan acara tahlilan. Di kamar itu hanya ada dirinya dan mamanya. Oik tersentak kaget ketika melihat mamanya beres-beres pakaian dan memasukkannya ke dalam koper besar.
“Mama! Mama mau ke mana? Kenapa semua pakaian dimasukkan ke dalam koper?” tanya Oik, ia berusaha mencegah mamanya memasukkan lebih banyak pakaian lagi ke dalam koper.
Mamanya menyingkirkan tangan mungil Oik dari kopernya. Ia kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu, “Bukan urusan kamu, Oik! Kamu itu masih kecil!” hardiknya.
Oik kembali menangis, “Iya, tapi mama mau ke mana?”
“Mama mau pulang ke Bandung! Puas kamu, hah?! Buat apa mama di sini? Papa kamu sudah tiada! Lagi pula rumah mama memang di Bandung, kan?”
“Tapi di sini masih ada Oik, ma! Nanti siapa yang nemenin Oik kalau mama juga pergi? Papa baru aja pergi dari sini. Kenapa mama mau pergi juga ninggalin Oik?” tanya Oik, air matanya menetes dengan deras.
Mama Oik telah selesai mengepak barang. Seluruh pakaian dan barang-barangnya yang lain telah siap untuk ia bawa ke Bandung. Mama Oik menyeret kopernya keluar dari kamar. Oik masih berusaha menahan kepergian mamanya.
Di teras, semua pasang mata melihat ke arahnya. Tak terkecuali Sivia serta opa dan oma. Sivia kembali berkaca-kaca, tak menyangka akan setragis ini hidup sepupunya. Ternyata hidupnya lebih beruntung daripada hidup Oik.
Kejadian empat tahun silamlah yang merubah Oik menjadi seperti ini. Beberapa bulan belakangan ini ia jadi sering pulang malam. Tak jarang pula omanya mencium bau alkohol dari mulutnya. Sivia pun sudah memperingatkannya berkali-kali. Tetapi Oik tetap saja bandel.
^^^
Oik baru saja membuka matanya. Kepalanya terasa pening, efek dari terlalu banyak meminum alkohol semalam. Ia segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju almari. Ia mengambil sebuah T-Shirt berwarna pink dan sebuah jeans selutut lalu mengenakannya.
Ia keluar kamar. Rumah terlihat sangat sepi. Jelas saja. Ia hanya tinggal bersama Sivia dan omanya di sini. Orang tua Sivia masih sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Sedangkan opanya, sudah meninggal dua tahun silam.
Oik berjalan ke dapur. Ketika ia melewati ruang keluarga, ia melihat Sivia sedang bersenda-gurau bersama teman-temannya. Ia berlalu begitu saja, seolah tak melihat ada teman-teman Sivia di sana. Sivia pun tak sempat melihat Oik.
Oik mengambil segelas jus jeruk di kulkas. Ia habiskan jus tersebut dalam hitungan detik. Ia menengok kesana-kemari. Tak ada omanya di sana. Ke mana beliau? Oik kembali berlalu, menghampiri Sivia dan kawan-kawannya di ruang keluarga. Tak ia hiraukan teman-teman Sivia.
“Eh, oma di mana?” tanya Oik dengan ekspresi datar.
Sivia meliriknya sekilas dan tersenyum manis, “Duduk situ aja dulu, Ik” suruh Sivia. Oik menggelengkan kepalanya, “Ayolah, Ik. Gue ga akan kasih tau oma lagi di mana kalau lo ga mau duduk di situ,” ancam Sivia. Jemarinya menunjuk sebuah bangku kosong di samping seorang laki-laki.
Oik terpaksa duduk di sana. Ia mengerti betul tabiat Sivia. Ia tak main-main dengan omongannya, “Siv, oma di mana?” tanya Oik sekali lagi. Kali ini ia sudah duduk di bangku kosong tadi.
Sivia menggelengkan kepalanya, “Kenalan dulu, gih, sama temen-temen gue. Lo sekelas, kan, sama Cakka sama Alvin? Sip! Gue mau ngambilin camilan dulu,” ujar Sivia dengan santainya.
Oik berdecak kesal. Terlihat sekali kalau ia malas berurusan dengan teman-teman Sivia. Sivia telah berlalu ke dapur. Sekembalinya dari dapur, nampan yang ia tenteng telah tenuh terisi dengan camilan ala remaja. Ia meletakkannya di atas meja dan kembali duduk di sebelah laki-laki berwajah oriental.
“Oik, udah kenalan?” tanya Sivia. Oik menggelengkan kepalanya dengan malas, “Ayo kenalan!” suruh Sivia. Oik memutar bola matanya malas.
“Zevana..”
“Oik..”
“Alvin, cowoknya Sivia..”
“Oh, Oik..”
“Rio..”
“Oik..”
“Ozy..”
“Oik”
“Ray..”
“Oik..”
“Dea..”
“Oik..”
“Cakka..”
“Oik..”
Oik kembali menoleh ke arah Sivia, “Puas, kan, lo? Sekarang, oma di mana?” tanya Oik, untuk yang kesekian kalinya. Dan jika kali ini pertanyaannya tak dijawab oleh Sivia, ia telah berjanji dalam hati bahwa ia akan langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kasar.
Sivia menoleh. Tangan kanannya masih sibuk menyuapi Alvin dengan camilan-camilan tadi, “Oh, oma. Oma lagi ke tetangga sebelah. Ada arisan katanya. Kenapa?” Sivia kembali bertanya.
Oik hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya, “Tanya aja,”
Tiba-tiba saja ponsel dalam sakunya berdering. Oik segera mengambilnya dan memandang layarnya sekilas. Sebuah panggilan masuk dari soulmatenya, Acha. Buru-buru ia angkat panggilan tersebut, tanpa berpindah tempat dahulu sebelumnya.
“.....Iya, kenapa, Cha?.....”
“.....Mau jalan? Boleh! Ke mana?.....”
“.....Sip! Sekarang?.....”
“.....Oke, gue ganti baju dulu. Kalau udah nyampe, lo langsung masuk aja.....”
Klik! Panggilan terputus. Baru saja Oik akan bangkit dari duduknya ketika suara Sivia menahannya, “Mau ke mana, Ik?” tanya gadis cantik itu.
Oik buru-buru melenggang meninggalkan Sivia dan teman-temannya. Ia berjalan menuju kamarnya. Mandi dengan cepat dan berganti pakaian. Ia mengambil T-Shirt berwarna cerah dan celana jeans diatas lutut.
Setelahnya, ia berdandan dan keluar dari kamarnya seraya membawa tas mini berwarna senada dengan pakaiannya. Kebetulan, Acha, soulmatenya, belum datang. Akhirnya Oik memutuskan untuk bergabung sebentar dengan Sivia dan teman-temannya.
“Ik, mau pergi sama siapa? Kok pake celana yang mini gitu sih?” tanya Sivia lagi. Ia memandang sepupunya itu dari kaki sampai kepala, memakai pakaian yang terbuka sekali sepupunya itu.
Oik melengos, “Sok ikut campur banget sih lo?! Gue mau pergi sama siapa, ya, itu terserah gue. Nyokap gue aja ga peduli, kan, sama gue?” buru-buru Oik mengalihkan pandangannya. Matanya beradu dengan salah satu teman Sivia yang, tanpa Oik sadari, memandangnya sedari tadi.
Sivia memincingkan sebelah matanya, “Ik, kok lo ngebandingin gue sama nyokap lo, sih? Kita beda! Gue peduli sama lo! Gue ga kayak nyokap lo yang---” perkataan Sivia menggantung.
“Nyokap gue yang apa? Lo mau bilang apa soal nyokap gue, hah? Ga bertanggung jawab? Gitu? Apa lagi? Matre? Ga ngurusin gue? Terus aja deh lo buka semua aib gue di depan temen-temen lo!” bentak Oik dengan sengitnya.
Sivia melunak. Ia berangsur duduk kembali. Rupanya gadis itu sedang berusaha mengendalikan napasnya yang tadi sempat terputus-putus, “Maaf, Ik..” lirihnya.
Oik kembali melengos. Lagi-lagi, pandangannya beradu dengan teman Sivia itu. Keduanya lantas mengalihkan pandangan masing-masing. Ray, yang duduk tepat di sebelah orang itu, hanya memandang keduanya bingung.
Tak lama kemudian, terdengar mesin mobil yang dimatikan. Setelahnya, seorang gadis masuk ke dalam rumah Oik tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Oik langsung sumringah. Ozy memandang gadis itu dari sudut matanya.
“Heyo, honey!” sapa gadis itu pada Oik.
Oik berjalan menghampirinya. Keduanya berpelukan hangat, bak sepasang sahabat yang telah lama tak bertemu. Cipika-cipiki beberapa detik.
Sampai akhirnya, suara Dea membuyarkannya, “Oh.. Jadi bener, ya, soal kabar itu? Lo berdua jeruk makan jeruk? Idih, najis!”
Sivia memandang Dea tak percaya. Oik memandangnya tak suka, begitupula Acha. Ozy dan teman Sivia yang tadi sempat beradu pandang dengan Oik pun menatapnya benci, “Loh, bener, kan, kata Dea? Kalian berdua itu jeruk makan jeruk!” seru Zevana. Jemarinya menunjuk-nunjuk Acha dan Oik.
Wajah Acha dan Oik mengeras mendengar seruan Zevana. Keduanya segera berjalan menuju tempat Zevana duduk, “Ngomong apa lo barusan?” tanya Acha dingin.
“Lo!” Zevana menunjuk wajah Acha, “Dan lo!” dan sekarang ganti menunjuk wajah Oik, “Jeruk makan jeruk!” ujar Zevana berani.
Oik tersenyum sinis. Ia segera mengambil sebuah gelas di dekatnya yang masih penuh terisi minuman dan menyiramkannya tepat di puncak kepala Zevana. Setelahnya, Oik kembali meletakkan gelas tersebut dan kembali tersenyum sinis.
“Jaga omongan lo, ya, Nona Cantik Zevana! Ini rumah gue dan gue bisa nendang lo kapan aja dari rumah gue!” gertak Oik santai.
“Lo!” ujar Zevana tertahan seraya menatap Acha dan Oik tajam.
Baru saja Zevana akan membalas perlakuan Oik, sebuah tangan mencegahnya dan menariknya untuk kembali duduk, “Ozy? Ngapain lo nyegah gue, hah?!” bentak Zevana.
“Udahlah.. Lagian lo ngapain repot-repot ngebales, sih? Dia itu tuan rumah di sini. Dan lo cuman tamu!” kata Ozy dingin, Zevana melunak dan akhirnya kembali duduk.
Salah seorang teman Sivia bergender laki-laki menonton insiden kecil barusan dari sudut matanya. Lebih tepatnya, melirik Oik. Ia pun hanya dapat menggeleng kecil melihat perilaku Oik. Tak salah Oik juga sebenarnya. Harusnya Zevana yang disalahkan dalam insiden kecil tadi.
“Beruntung lo ga kena siram gue sama Oik! Jaga mulut kalau lagi di deket gue sama Oik!” ancam Acha. Jemari mungilnya menunjuk-nunjuk Dea dengan penuh dendam.
Dea menelan ludah ngeri. Ia pun segera mengambil tasnya dan menggeret Zevana keluar dari rumah Sivia. Mereka berdua pun pulang ke rumah masing-masing dengan terbirit-birit. Tak menyangka bahwa Acha dan Oik ‘seganas’ itu.
“Oik! Lo harusnya ga bersikap kayak tadi sama sohib-sohib gue!” lirih Sivia.
Oik memandangnya sebal, “Harusnya juga sohib-sohib lo itu bisa jaga bacot dan ga asal ceplos! Pakai ngatain gue sama Acha jeruk makan jeruk, segala! Coba, siapa yang harusnya jaga diri, hah?!” sembur Oik kesal.
Oik dan Acha pun melenggang meninggalkan tempat tersebut dan pergi entah ke mana. Meninggalkan Sivia, Alvin, Rio, Ozy, Ray, dan Cakka di dalamnya. Rio dan Ray masih terpaku dengan insiden penyiraman tadi. Mereka berdua sama tak menyangkanya dengan Dea dan Zevana.
“Sivia, itu tadi sepupu lo?” tanya Rio, masih antara sadar dan tidak. Sivia mengangguk padanya. Rio berdecak kagum, “Hebat, ya, dia berani nyiram Zevana! Keren!” gumam Rio tanpa sadar.
“Eh, gue masih penasaran sama sepupu lo tadi. Kata Dea sama Zevana, kok, dia jeruk makan jeruk, sih? Maksudnya mereka berdua apaan?” tanya Ray. Sama seperti Rio, ia masih antara sadar dan tidak.
“Gue sendiri juga ga tau kenapa pada bilang kalau Oik sama Acha itu jeruk makan jeruk. Gue, sih, ga mikir sampai sejauh itu. Mungkin karena mereka berdua emang lengket banget. Tapi menurut gue, mereka berdua itu sahabatan,” jelas Sivia, Ray mengangguk mengerti.
“Tenang aja.. Kita bisa bantu kamu buat ‘nyadarin’ Oik, kok, Siv,” hibur Alvin sambil tersenyum penuh arti pada Sivia.
“Gimana kalau kita lihat kamarnya? Kali aja ada yang bisa jadi bukti, gitu?” saran Ozy, kelima sahabatnya pun mengangguk menerima saran darinya itu.
Keenam manusia tersebut pun segera bangkit dan berjalan santai menuju kamar Oik. Mengapa harus terburu-buru? Toh, pemilik kamarnya sedang tidak ada. Dan dapat dipastikan, pemilik kamar tersebut tak akan tau bahwa mereka berenam sempat mengobrak-abrik kamarnya.
Kriet.. Sivia membuka pintu kamar tersebut dan terhamparlah kamar dengan nuansa pink cerah di hadapan mereka berenam. Alvin, Rio, Ray, Ozy, dan Cakka menggeleng-geleng takjub melihat kamar Oik yang sangat girly itu. Keenamnya pun menyusup masuk dan ‘memelototi’ setiap sudut ruangan tersebut.
Sivia mengangkat sebuah pigura di nakas milik Oik dengan satu tangannya dan mengacungkannya pada keempat sahabatnya dan seorang pacarnya, “Lihat, deh! Ini foto Oik sama Acha. Mereka deket banget, kan?” tanyanya, meminta persetujuan.
Kelima laki-laki tersebut mengangguk dan tersenyum tipis, “Dan mereka kelihatan kayak sahabat. Bukan something-more-than-a-friendship,” lanjut Cakka.
Ia masih memandang lekat foto dalam pigura tersebut. Oh, bukan! Ia memandang gadis dengan cardigan berwarna pink yang tersenyum lebar ke arahnya. Ia tau benar bahwa gadis bercardigan pink tersebut adalah sepupu Sivia, Oik. Sebenarnya ia juga telah lama mengenal gadis manis tersebut.
“Kalau dilihat mereka emang sahabat. Gue sendiri juga ga tau kenapa mereka-mereka pada ngejudge Acha sama Oik seburuk itu. Apa yang salah, sih, sama dua orang manusia yang ngejalanin hidup senormal mungkin kayak mereka? Terlalu deket? Makanya disebut jeruk makan jeruk? Ga logis, tau ga!” ujar Ozy panjang lebar.
Mereka berenam terus saja menelisik setiap bagian kamar bernuansa pink cerah ini. Lagi-lagi, salah satu dari mereka tersenyum hangat memandangi setiap lembar foto yang terpajang di pigora yang berbeda dan menampakkan sesosok gadis yang sama.
Dan bukannya Sivia tak menyadarinya, ia hanya membiarkan salah satu sahabatnya tersebut untuk memandangi foto sepupunya sepuas kemauannya. Sivia sendiri tak dapat memungkiri bahwa Oik memang sedap dipandang.
“Siv, waktu itu aku sempet baca tweetsnya Oik, gitu. Umm, dia update lewat foursquare kayaknya. Dan, kamu tau? Di updatesnya dia itu nunjukkin kalau dia lagi di Black Cat. Black Cat, Siv! Tempat dugem! Oik suka ngedugem?” tanya Alvin, teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu.
Sivia menggeleng tak tau, “Ga tau, Vin. Aku aja baru denger kali ini, dari kamu, kalau Oik pernah ke tempat kayak gitu. Sejak dia sam Acha, dia jadi kayak gini,” kata Sivia lemah.
Alvin menepuk pelan lengan gadisnya dan tersenyum menyemangati, “Kan, tadi kita udah bilang kalau kita bakalan bantu kamu. Kita ada buat kamu, kok. Kita berlima. Bukan kita bertujuh. Errr, maksud aku, Dea sama Zevana ga masuk hitungan”
“Kenapa sama mereka berdua?” tanya Sivia tak mengerti.
“Mereka berdua mungkin bakalan ilfeel sama lo dan sepupu lo itu. Lo tau sendiri kalau itu anak dua emang sensitif banget,” sergah Rio enteng, Sivia hanya menganggukkan kepalanya.
^^^
Pagi itu, suasan sekolah sudah ramai. Oik menggerutu sendiri karena dirinya harus berangkat sendirian naik taxi ke sekolah. Pasalnya, Sivia hari ini ada piket dan harus berangkat lebih awal. Dan tentunya, sepupu karibnya itu berangkat bersama Alvin. Sedangkan Acha, sahabatnya, juga sudah berangkat karena takut jalanan macet menghadangnya. Oik menghela napas kesal.
Tepat di koridor utama sekolahnya, sudah berjejer siswa-siswi lain sekolahnya sedang menatapnya jijik. Seakan-akan dirinya adalah sampah yang harus dibuang jauh-jauh dari mereka-mereka itu. Oik memandang mereka tak mengerti.
“Dasar jeruk makan jeruk!” ujar sebuah suara.
“Beda banget sama sepupu lo! Sepupu lo itu alim! Ga kayak lo!” sahut suara lainnya.
“Lo itu pantesnya di-DO dari sini!” cecar sebuah suara lagi.
Oik hanya berpura-pura tuli dan terus melangkah menuju kelasnya. Namun sayangnya, cercaan-cercaan semacam tadi terus saja mengejarnya. Air matanya sudah hampir meleleh ketika seseorang merangkul pundaknya dan cepat-cepat menggiringnya berjalan ke kelasnya. Oik terkesiap dan mendongakkan kepalanya.
“Cakka?” tanyanya pelan.
Seseorang itu pun menundukkan kepalanya sedikit dan menatap Oik dengan senyumnya. Ia kembali menggiring Oik ke kelasnya dan menjauhkan gadis di dalam rangkulannya itu dari cercaan-cercaan kejam itu. Dan ia tau betul bahwa Dea dan Zevana yang mengompori seluruh siswa-siswi di sini untuk mengejek Oik.
Keduanya kini telah sampai di dalam kelas. Oik dan Cakka memang sekelas. Mereka sekelas pula dengan Sivia dan Alvin. Sedangkan Ray, Rio, Ozy, Zevana, Dea, dan Acha ada di lain kelas. Ray, Rio, Ozy, Zevana, dan Dea ada di kelas sebelah, dan Acha ada di kelas paling ujung.
Cakka segera melepas rangkulannya dan mendudukkan Oik di bangkunya, pojok belakang kelas. Jelas saja banyak yang tak menyadari kehadiran Oik. Apalagi ia tak begitu akrab dengan Sivia. Jelas pula hanya segelintir siswa yang mkengetahui keduanya adalah saudara sepupu.
“Sivia! Alvin!” Cakka memanggil kedua sejoli yang sedang asyik membenahi papan tulis kelas tersebut dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Sivia dan Alvin pun menoleh. Keduanya segera menghampiri Cakka dan belum juga menyadari bahwa Oik sudah duduk di tempatnya, “Apa, Cakk?” tanya Alvin, mewakili Sivia.
Cakka mengedik kepada Oik yang masih shock dengan insiden di koridor tadi, “Oik, tuh. Gue ke kantin dulu, ya. Cari yang anget-anget buat dia,” pamitnya, Sivia dan Alvin pun mengangguk, dan Cakka berlalu menuju kantin.
Sivia segera duduk di bangku yang selalu kosong di samping Oik dan berusaha menenangkannya, “Lo kenapa, Ik?” tanya Sivia dengan lembut.
Dengan cepat, Oik menyingkirkan tangan Sivia yang bertengger di bahunya dan melotot kesal kepada sepupunya tersebut, “Ini semua gara-gara dua sohib lo yang ga bisa jaga bacot itu!” seru Oik dengan tajam.
Sivia terperangah, tak menyangka bahwa Zevana dan Dea akan benar-benar menyebar gossip murahan macam kabar bahwa Acha dan Oik ‘jeruk makan jeruk’, “Zevana sama Dea maksud lo?” tanya Sivia hati-hati.
Oik kembali melotot kepadanya, “Lo pinter, kan? Selalu jadi juara kelas, kan? Kenapa masalah gini aja lo masih nanya sama gue? Kalau bukan mereka berdua, terus siapa? Lo? Alvin? Cakka? Ray? Rio? Ozy? Acha? Atau, gue sendiri?”
Alvin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun, akhirnya menengahi, “Oke, Ik.. Ntar biar gue sama Cakka yang ngomong ke mereka berdua. Ya?” bujuknya.
Oik melengos kesal, “Percuma aja kalau lo sama Cakka mau ngomong sama mereka. Mereka berdua pasti bakalan tetep ngomong yang bukan-bukan” ujarnya dengan nada meremehkan.
“Terus lo maunya apa?” tanya Alvin lagi.
“Lo anaknya Ketua Yayasan, kan?” tanya Oik, Alvin mengangguk, “Bokap lo bisa ngeluarin siapa aja, kan, dari sekolah ini?” Alvin kembali mengangguk, “Kalau gitu, gue mau lo ngomong ke bokap biar beliau ngeluarin Dea sama Zevana dari sini,” ujar Oik, telak.
Alvin tergagap, Sivia melotot kaget. Sivia pun menyenggol pelan lengan Oik. Oik menoleh malas kepadanya, “Apa, Siv?” tanyanya enteng.
“Yang bener aja lo?! Masa lo nyuruh Alvin ngomong begitu ke bokapnya?!” bisiknya.
“Vin, cewek lo keberatan, nih, kalau gue nyuruh lo ngeluarin Dea sama Zevana. Gimana, dong?” tanya Oik dengan nada sangat manis.
Sivia menatap Alvin dengan perasaan bersalah. Alvin pun hanya menatap gadisnya balik dengan senyum tipis, “Oke, gua coba ngomong sama bokap gue,” gumam Alvin.
Oik tersenyum senang, “Nah! Gitu, kek, dari tadi! Oke, gue restuin lo sama Sivia!” kata Oik dengan mata berbinar.
Tak lama, Cakka datang dengan kantong plastik berisikan teh hangat. Ia pun mengangsurkannya kepada Oik, “Makasih,” kata Oik riang.
^^^
Sivia dan Oik baru saja tiba di kediaman mereka. Hari ini, memang, Oik menumpang mobil Alvin. Kebetulan juga hari ini Alvin sedang membawa mobilnya. Sepeninggal Alvin, kedua gadis tersebut pun masuk ke dalam rumah.
“Oik! Tunggu! Gue mau ngomong!” Sivia memanggil Oik yang telah berjalan santai jauh di depannya.
Oik menoleh sekilas seraya tersenyum penuh arti, “Mau ngomong apa lo?”
“Kita ngomong di dalem aja. Gue ga enak sama tetangga-tetangga,” ujar Sivia setengah berbisik. Gadis berparas oriental itu pun segera menarik lengan Oik agar cepat masuk ke dalam. Oik sendiri, hanya mengangkat bahunya santai.
Oik melepaskan cekalan Sivia di lengannya begitu mereka berdua telah sampai di ruang tamu. Oik berdiri berhadapan dengan Sivia seraya melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum remeh kepada sepupunya itu.
“Mau ngomong, kan, lo? Ayo ngomong di sini,” ungkap Oik ringan.
Sivia mendengus kesal, “Lo apa-apaan, sih, tadi? Pakai minta Alvin ngomong ke bokapnya, segala! Gue ga enak sama Alvin! Harusnya lo tau itu, Ik!” seru Sivia dengan suara nyaring.
Oik mengangkat sebelah alisnya, “Hey! Yang minta tolong ke Alvin itu gue, bukan lo! Kenapa lo yang sungkan? Apalagi lo, kan, ceweknya Alvin. Sedangkan gue? Cuman sepupu lo yang nyebelin, kan?” balas Oik, tak kalah sengitnya.
“Ya tapi bukan kayak gitu, Ik, caranya!” seru Sivia frustasi.
“Oh, atau lo mau gue ngebatalin permintaan tolong gue ke Alvin dengan bilang kalau lo ga enak dan ngerasa sungkan, gitu?” tantang Oik.
Sivia mengibaskan tangannya di depan Oik, “Ga perlu!” serunya tajam.
Sivia pun melengos dan berjalan cepat menuju kamarnya. Tak lama, terdengar bunyi pintu yang ditutup dengan kasar. Oik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan tak bersalah sedikit pun.
“Ada apa lagi, Oik?” tanya sebuah suara yang terdengar lemas dari belakang Oik.
Oik menengok ke arahnya dan mengangkat bahunya, “Tanya aja sama cucu kesayangannya oma itu,” jawabnya singkat, “Oik mau kamar, capek,” pamitnya.
Seperti Sivia, Oik pun melenggang ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kasar. Cukup membuat omanya terkaget dan mengelus dada nelangsa. Di dalam kamarnya pun, Oik tak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam di sofa kamarnya yang menghadap ke jendela dan memperlihatkan pemandangan jalanan kompleks rumahnya seperti biasa.
^^^
Matahari baru saja berganti dengan rembulan. Sayup-sayup sudah terdengar hembusan angin khas malam hari. Sebuah mobil baru saja berhenti di depan sebuah rumah mewah yang terlihat sangat tertutup dari depan. Tertutup dengan macam-macam tanaman pagar dan pagar besi yang menjulang tinggi ke angkasa.
Seorang lelaki paruh baya berjas turun dari mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah mewahnya dengan langkah gontai. Ia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ketika baru saja memasukki altar mewahnya, ia disambut dengan para pelayannya yang berbaris di ruang tamu dan menunduk menyambut kehadirannya.
“Tasya, Nia, Alvin di mana?” tanya lelaki paruh baya tersebut kepada segelintir pelayannya.
“Di ruang makan, Tuan. Tuan Muda Alvin juga sedang menunggu Tuan,” jawab seluruh pelayan tersebut, kompak.
Lelaki tersebut hanya mengangguk dan berjalan melewati ruang tamu tersebut dengan malas-malasan. Ialah Tuan Sindunata. Pemilik kediaman mewah ini. Yang juga merupakan ayah dari Alvin, Alvin Jonathan Sindunata.
Setibanya di ruang makan, ketiga putra-putrinya sudah selesai makan. Ia pun duduk di tempatnya seperti biasa. Dengan santai, ia mengambil beberapa sendok nasi dan beberapa lauk untuk makan malamnya. Ia menoleh sekilas kepada ketiga anaknya.
“Sudah makan?” tanyanya.
Ketiganya mengangguk lugas, “Pi, Tasya ke kamar dulu. Mau belajar, besok ada mid test di kampus,” pamit putri sulungnya, ia mengangguk. Tasya, putri sulungnya, pun melenggang menuju kamarnya.
“Pi, Nia ke kamar juga, ya. Belum nyiapin buku buat besok,” pamit putri keduanya. Lagi-lagi ia mengangguk. Dan lagi-lagi, putrinya melenggang menuju kamarnya. Tinggal lah ia dan satu-satunya putranya.
“Papi..”
“Hmm?”
“Alvin mau ngomong..”
“Just tell me, now..”
“Penting, pi!”
“Apa?” lelaki tersebut pun meletakkan sendok dan garpunya. Ia meletakkan seluruh fokusnya pada putra kesayangannya, Alvin.
“Alvin mau papi ngeluarin dua temen Alvin dari sekolah. Zevana sama Dea,”
“Untuk?”
“Untuk Alvin, pi!”
“Tell me the reason, Vin..”
“Alvin ga suka sama mereka. Mereka semena-mena. Mereka sombong. Mereka ngeselin. Cukup, pi?”
“Cukup.. Besok papi akan hubungi Kepala Sekolah kamu,”
“Alvin maunya sekarang, pi,”
“Oke, oke.. Setelah papi makan,”
“Dan?”
“Dan dapat dipastikan bahwa besok kedua teman kamu itu akan keluar dari sekolah,”
^^^
Sivia sedang membaca novelnya di teras rumah ketika sebuah taxi berhenti tepat di depan rumahnya. Sivia tak menggubrisnya sama sekali. Ia kira taxi itu hanyalah taxi biasa yang mengangkut penumpangnya, yang mungkin adalah tetangganya.
Sivia tetap saja terpaku dengan novelnya sambil sesekali mencomot kue kering di topless sampingnya. Terdengar pula suara pintu pagar yang terbuka, lagi-lagi Sivia mengacuhkannya.
Sampai akhirnya, “Sivia!” panggil sebuah suara.
Sivia mengedik ke dalam rumahnya. Tak terlihat omanya maupun Oik. Lalu, siapa yang memanggilnya? Sivia pun bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke dalam rumahnya ketika sebuah suara kembali menyapanya.
“Kok malah masuk, Siv? Ga mau bantuin papa sama mama bawa barang?” ucap suara tersebut.
Sivia terpekur sesaat. Hey! Sepertinya ia mengenali suara tersebut. Sivia pun kembali membalikkan badannya, menghadap pekarangan rumahnya, “Papa? Mama?” gumam Sivia tak percaya.
“Iya! Ayo, sini! Ga mau peluk kami berdua? Kami berdua baru pulang, lho!” ujar wanita paruh baya yang menenteng tas berukuran besar, mamanya.
Sivia segera menghampiri kedua sosok tersebut dan memeluknya erat-erat, seakan ia tak mau kedua sosok itu kembali meninggalkannya. Sedangkan kedua sosok tersebut, mengelus lembut puncak kepala Sivia.
“Papa sama mama kok ga bilang, sih, kalau mau balik ke Jakarta? Sivia, kan, bisa jemput kalian di bandara,” ujar Sivia dengan nada manja.
Papa dan mamanya tersenyum tipis, “Udah, bantu papa sama mama bawa barang aja, yuk,” ajak papanya, Sivia mengangguk bersemangat.
^^^
Oik menyibak gorden kamarnya dengan mata masih setengah terpejam. Ia baru saja bangun tidur. Ia menengok sejenak ke arah jam dindingnya. Sudah petang rupanya. Pantas saja lampu di pekarangan rumahnya sudah menyala.
Oik mengucek pelan kedua kelopak matanya. Samar-samar ia melihat tiga sosok yang sedang berpelukan hangat di pekarangan rumahnya. Oh.. Pasti itu Sivia dan kedua orang tuanya, om dan tante Oik.
Tak terasa, bulir-bulir bening itu telah menganak-sungai di kedua pipinya. Cepat-cepat ia hapus buliran-buliran itu dan kembali menutup gordennya. Rupanya buliran-buliran itu telah meninggalkan galur-galur di pipinya.
Oik segera mengambil tissue basah di nakasnya dan menghapus galur-galur tersebut, “Itu salah satu alas an yang bikin gue iri sama lo, Siv. Kedua orang tua lo masih bisa lo lihat. Sedangkan gue? Haha..” Oik mengakhirinya dengan tawa tak bermakna.
“Oma! Oik! Papa sama mama Sivia dateng, nih!” teriak sebuah suara lembut dari luar kamar Oik, jelaslah itu suara Sivia.
Tak ingin sedih berlama-lama, Oik pun menyalakan lampu kamarnya dan menghampiri keluarga kecil itu di ruang keluarga. Sudah ada oma-nya pula di sana. Mereka berempat terlihat sangat bersuka-cita.
“Ehem ehem..” Oik berdehem beberapa kali.
“Hey! Oik!” sapa tantenya, mama Sivia.
“Hey juga, tan,” sapa Oik datar.
“Ga mau peluk tante?” tanya beliau.
Oik mengangguk ragu. Ia memeluk mama Sivia sekilas, “Oik mau ke kamar. Ada tugas yang belum selesai. Permisi..” pamit Oik. Singkat, padat, jelas.
Oik berjalan gontai menuju kamarnya. Mati-matian ia menahan buliran-buliran menyebalkan itu lagi. Dengan cepat, ia tutup pintu kamarnya dan terduduk bersandarkan daun pintu itu. Dan sialnya, buliran-buliran menyebalkan itu semakin deras menganak-sungai di pipinya.
“Gue kangen mama, gue kangen papa. Gue kangen keluarga kecil gue yang bahagia. Dulu.” Isaknya pelan, mati-matian pula ia menahan isakannya.
^^^
Hari-hari berikutnya setelah kedatangan kedua orang tua Sivia pun sama seperti sebelum mereka berdua datang. Oik tetap pulang di atas jam delapan malam dan masih mengenakan seragam sekolahnya.
Seperti malam ini, malam keenam kedua orang tua Sivia di rumah, Oik baru pulang pukul 20.45. Oik baru saja memasukki ruang tamu kediamannya yang gelap gulita itu. Dan tiba-tiba saja, lampu ruang tamu menyala.
Oik mengerling malas kepada dua sosok yang duduk berdampingan di sofa ruang tamunya.
“Ini keenam kalinya tante sama om lihat kamu pulang jam segini, Ik,” ujar mama Sivia.
Oik terus berjalan menuju kamarnya, “Terus kenapa?”
“Kamu sini dulu, Ik.. Tante sama om mau ngomong,” panggil beliau.
“Oik capek! Oik baru aja pulang, mau tidur!” ketus Oik.
“Oik! Sini dulu!” teriak papa Sivia, kali ini lumayan kencang.
Oik tercenung sejenak di depan pintu kamarnya. Dalam hitungan ketiga, gadis manis itu sudah duduk di hadapan mama dan papa Sivia. Entah ke mana sepupunya yang satu itu dan omanya.
“Mau ngomong apa, sih? Bisa cepetan?” tanya Oik, sedikit tak sopan.
“Kalau kamu terus-terusan seperti ini, kami bisa kirim kamu ke Bandung. Kami titipkan kamu ke asrama super ketat di sana,” ujar papa Sivia.
Oik melongo kaget, “Emang kalian siapa? Berani banget kirim aku ke Bandung, hah?”
“Atau kamu mau mama kamu yang nyeret kamu ke Bandung?” tantang papa Sivia.
Oik menggeleng kesal, “Ga perlu!” desisnya tajam.
“Om sama tante kasih kamu waktu tiga hari. Kalau dalam tiga hari, kamu ga berubah. Kami kirim kamu ke Bandung!” kata papa Sivia lagi.
Oik bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Setengah mati ia berusaha tak acuh di depan kedua orang tua Sivia. Padahal dalam hati ia sangat ketar-ketir mendengar ‘ancaman’ keduanya.
“Bodo amat.. Paling cuman gertak sambel. Mana berani mereka kirim gue ke Bandung? Cih!” dumel Oik sambil membuka pintu kamarnya.
^^^
Alvin baru saja kembali dari kantor papinya. Tadi sore, omanya menyuruhnya untuk mengantarkan makanan untuk papinya. Rencananya, papinya akan lembur sampai tengah malam nanti.
Begitu sampai di singgasananya, Alvin segera merebahkan tubuhnya dan meraba nakas di samping singgasananya. Dapat! Ia segera mengacungkan remote tersebut ke AC, menyalakannya.
Ia melirik sekilas pada jam dinding di kamarnya. Sudah lima menit lewat dari pukul 19.00. Ia pun mengambil BlackBerry-nya dari saku celananya dan membuka aplikasi UberSocial. Sejenak, ia hanya membaca updates dari teman-temannya.
Keduanya matanya melebar ketika membaca salah satu update.
oikcahya_r At Black Cat with @RaissaArifII
“Oik? Ke Black Cat lagi? Sama Acha? Astaga! Kudu diapain ini si Acha biar ga gangguin Oik lagi?” desisnya sinis.
Alvin pun segera menutup aplikasinya dan beralih pada menu Message. Ia mengetik dengan sesekali menggelengkan kepala tak percaya.
To: She’s Mine, Cakka, Ozy, Ray, Rio
Oik di Black Cat lagi! Bareng sama Acha! Ada yang mau nyusulin ke sana? Gue langsung ke rumah Sivia aja..
Selesai. Alvin segera berjalan cepat menuju almari pakaian miliknya dan mengambil sepotong T-Shirt. Laki-laki oriental itu segera menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan berganti pakaian.
Setelahnya, ia kembali mengambil BlackBerry-nya yang tergeletak di atas kasur. Rupanya ada lima pesan singkat baru. Pasti dari mereka-mereka yang ia kirimi pesan singkat sebelumnya. Ia buka satu-persatu pesan tersebut.
^^^
Sivia, kedua orang tuanya, dan omanya sedang menunggu Oik di ruang tamu. Sebentar-sebentar, omanya mengerling pada jam dinding dan menghela napas berat. Kedua orang tua Sivia pun tampak geram menunggu Oik.
“Kemarin udah dibilang kalau ga boleh pulang malam lagi, kok, masih aja pulang malam! Dasar Oik!” gerutu papa Sivia.
“Kalau begini caranya, kita beneran akan kirim Oik ke Bandung!” ujar mama Sivia.
“Hah? Apa? Kalian mau kirim Oik ke Bandung? Untuk apa?” tanya oma, beruntun.
“Jangan kirim Oik ke Bandung, ma, pa. Sivia mohon! Nanti Sivia ga ada temen di sini..” mohon Sivia.
Lalu, tiba-tiba saja ponsel Sivia bergetar. Ia segera mengambilnya dari saku celananya. Rupanya ada sebuah pesan singkat masuk. Dari Alvin. Cepat-cepat Sivia membacanya. Betapa kagetnya ia membaca SMS dari Alvin tersebut.
“Oik? Di Black Cat? Sama Acha?” gumam Sivia, tak percaya.
“Apa, Siv? Oik di Black Cat? Tempat dugem itu?” tanya mamanya, tak percaya juga.
Sivia mengangguk ragu-ragu, “Iya.. Sama Acha. Biasanya Acha yang ngajak dia ke sana,”
“Keterlaluan Oik! Besok, akan saya kirim dia ke Bandung!” geram mama Sivia.
To: He’s Mine
Beneran, Vin? Ya udah, kamu cepetan ke sini! Biar Rio, Ray, Ozy, atau Cakka aja yang nyusulin Oik sama Acha ke sana..
Selesai! Sivia kembali mengantongi ponselnya dan duduk termenung di sofa, samping omanya. Papa dan mamanya masih saja mondar-mandir di depannya dengan raut wajah cemas masing-masing.
Tak lama kemudian, terdengar deru suara motor dari luar. Sivia bangkit dan melenggang menuju pintu rumah dan membukanya perlahan. Benar saja. Terlihat, Alvin yang sedang memarkirkan motornya di pekarangan rumahnya. Setelah itu, Alvin pun menghampirinya.
“Gimana Oik?” tanya Sivia langsung.
Alvin mengangkat bahunya pertanda tak tau, “Terus, gimana oma sama orang tua kamu?” tanya Alvin balik.
Sivia mengerling pada tiga orang yang disebut tadi, “Mereka tau kalau Oik di Black Cat. Tadi aku baca SMS dari kamu kekencengen. Mereka bakal kirim Oik ke Bandung!” bisik Sivia.
Alvin hanya mengangguk mengerti. Mereka berdua pun berjalan beriringan menemui ketiga insan paruh baya di sofa.
^^^
Rio dan Ray sedang asyik bermain kartu di kamar Ray. Mereka memang tinggal seatap. Sepupu. Terlihat pula coretan-coretan berwarna putih di wajah keduanya. Bedak. Bagi siapa pun yang kalah, maka akan mendapat coretan bedak di wajahnya dari yang menang.
“Lo kalah lagi, Yo! Ayo sini gue coretin bedak lagi!” seru Ray riang.
Rio berdecak kesal. Ia memasrahkan lagi wajah tampannya dicoret oleh Ray, “Curang lo, Ray! Lo, kan, tau gue paling ga bisa main beginian!” protesnya.
Ray hanya tertawa keras, mengabaikan Rio yang sedang manyun di hadapannya. Tawanya seketika terhenti. Ponsel keduanya berbunyi. Rupanya ada SMS masuk. Keduanya pun segera melirik ponsel masing-masing.
“SMS dari Alvin, Yo?” tanya Ray.
Rio mengangguk lucu, “Iya. Acha sama Oik lagi di.....” ucap Rio menggantung.
“Black Cat!” teriak keduanya berbarengan, nyaring.
“Yo, cepet bales SMS Alvin! Bilang kalau kita yang bakalan nyusul Oik sama Acha di Black Cat!” suruh Ray, Rio mengangguk patuh dan cepat-cepat membalas SMS Alvin.
Ray segera mengambil jaketnya yang berada di gantungan. Ia mengenakannya dengan asal-asalan. Keduanya pun berjalan ke garasi dan melaju menuju Black Cat. Ray yang menyetir. Sangking paniknya, mereka sampai lupa berpamitan terlebih dahulu..
^^^
“Zy! Ada SMS, nih! Mau gue buka apa gimana?” tanya Zahra, kakak Ozy, dari atas kasur.
“Ga usah! Biarin! Biar gue sendiri ntar yang baca!” teriak Ozy, dari dalam kamar mandi.
Zahra pun kembali memainkan ponsel Ozy. Selang beberapa menit, Ozy kembali dari kamar mandi dan mendapati kakak perempuannya itu sedang tiduran di atas singgasananya sambil memainkan ponselnya. Ozy merebutnya dengan cepat. Zahra melengos kesal.
“Ape lo? Punya gue ini!” ejek Ozy, makin kesal saja Zahra.
Ozy pun segera membuka pesan singkat tersebut. Dari Alvin. Matanya melotot ketika membaca SMS tersebut. Cepat-cepat ia balas. Setelahnya, ia beranjak dari kasurnya dan mengambil kunci motor di nakas.
“Mau ke mane lo, Zy?” tanya Zahra bingung.
“Black Cat!” sahut Ozy singkat.
Sontak, Zahra cepat-cepat bangun, “Ngapain lo ke tempat dugem?” selidiknya.
“’Dia’ ada di sana, kak! Izinin nyokap sama bokap, ya! Bilang gue ke rumah Alvin! Gue cabut!” pamit Ozy.
“Ya udah.. Ati-ati lo!” balas Zahra, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
^^^
Keempat pemuda tadi bertemu tepat di pintu masuk Black Cat. Keempatnya berpandangan sesaat dan mengangguk bersamaan. Tepat di hadapan mereka, dua penjaga dengan badan besar mengawasi mereka.
Dan dengan agak gugup, keempatnya masuk ke dalam. Tentu saja dengan diiringi tatapan menyelidik dari dua penjaga tadi. Hingar-bingar musik menyambut kedatangan keempatnya di Black Cat. Mereka berempat sampai harus saling mendekat dan berteriak kencang jika ingin berbicara, sangking kerasnya musik di sini.
“Kita mencar, ya? Cari Acha sama Oik!” teriak Ray, ketiga kawannya mengangguk.
“Balik lagi ke sini kalau udah dapet Oik sama Acha!” teriak Rio.
“Oke! Gue sama Cakka dan Lo sama Ray!” teriak Ozy, jari telunjuknya mengarah ke Rio.
“HP pada digeter, ya! Ntar kalau salah dua dari kita udah nemuin Oik sama Acha, miscall yang lain!” teriak Cakka, yang lainnya kembali mengangguk.
Mereka berempat pun berpencar. Rio dan Ray ke arah kanan, Ozy dan Cakka ke arah kiri. Rio dan Ray berkali-kali bergidik ngeri ketika melihat beberapa gadis sedang duduk menyilangkan kaki dengan punting rokok di tangan masing-masing.
“Kita ngecheck ke Ruang VIP aja, gimana?” teriak Ray, meminta pendapat Rio.
Rio mengangguk setuju. Keduanya pun segera menelusuri Ruang-ruang VIP yang berjejer di sebelah kanan mereka. Dan untungnya, keseluruhan Ruang VIP itu tak tertutup pintunya. Semakin membantu pencarian mereka.
Mulai dari Ruang VIP paling ujung. Tak ada dua gadis yang mereka cari. Terus seperti itu sampai Ruang VIP terakhir. Keduanya bersandar di dinding Black Cat dengan sesekali terbatuk karena bau-bauan rokok dan minuman beralkohol di mana-mana.
“Gila! Baunya ga enak banget! Rokok sama alkohol emang jago bikin kita mual!” teriak Rio, Ray mengangguk cepat dari sampingnya.
“Haus ga lo? Cari minum, yuk? Noh, di bar!” teriak Ray balik.
Rio menatap Ray kaget, “Mau nyari ape lo di sini? Whisky? Wine? Cocktail?” teriak Rio beruntun, Ray menggeleng kemudian.
“Kali aja ada soda!” teriak Ray, menyangkal. Rio pun mengangguk. Keduanya berjalan menuju bar.
^^^
“Mau nyari Oik sama Acha di mana? Rio sama Ray pasti udah nyari di Ruang VIP!” teriak Cakka, pada Ozy.
Ozy terlihat diam sejenak. Matanya berkeliling cepat, “Dance floor, Cakk! Mereka berdua pasti ga nyari ke sana! Atau kalau ga, di sekeliling situ!” teriak Ozy, Cakka mengangguk mengiyakan.
Keduanya pun segera berlari menuju dance floor. Beberapa kali mereka menabrak orang-orang dengan bau-bauan menyengat dari mulutnya. Alkohol. Mereka hanya bergidik ngeri dan segera berkeliling di dance floor, mencari Oik dan Acha.
“Kita misah aja, Zy. Lo ke sana dan gue ke sana,” komando Cakka. Tangan kanannya bergerak ke dua arah yang berbeda.
Ozy mengangguk. Keduanya pun segera berpencar. Entah bagaimana dengan Ozy. Yang jelas, Cakka sudah berkeliling di dance floor sebelah kanan. Beberapa kali Cakka salah orang. Sampai akhirnya, mata elangnya menangkap siluet tubuh mungil berambut sepunggung yak jauh dari tempatnya berdiri.
“Oik!” teriaknya, siluet gadis bertubuh mungil tadi menengok ke arahnya seraya tersenyum miring.
Cakka segera menghampiri gadis itu. Untungnya, Oik, gadis itu, sedang sendirian. Jadi dia tak perlu berdebat dengan orang lain agar ia dapat mengajak Oik pulang.
Cakka segera melingkarkan tangannya di pinggang Oik ketika ia sudah tepat berada di samping Oik. Cakka kembali mencium bau-bauan menyengat itu dari mulut Oik. Rupanya gadis itu juga sudah meminum alkohol. Cakka hanya mendesah pelan.
“Lo ngapain di sini?” tanya Oik, setengah menggumam.
“Nyariin lo dan ngajak lo pulang,” jawab Cakka seraya membantu Oik berjalan.
“Gue ga mau pulang!”
“Kenapa, sih?”
“Gue betah di sini. Di rumah itu ga enak. Ga ada yang perhatian sama gue. Semuanya cuman ngebelain Sivia! Ga ada yang mau ngerti gimana gue!” Oik semakin ngelantur saja.
“Ga ada yang perhatian sama lo? Terus, kalau gue ga perhatian sama lo, ngapain gue nyariin lo sampai ke sini?” teriak Cakka.
“Palingan lo cuman sok-sokan perhatian sama gue. Kasihan sama gue karena ga ada yang perhatian sama gue,”
“Gue beneran perhatian sama lo! Gue ga suka lo ke tempat beginian! Gue ga suka lo minum alkohol!”
“Tapi gue suka ke tempat beginian. Gue suka minum alkohol. Karena, lo tau? Cuman di sini gue bisa ngelupain semua masalah gue. Karena, juga, alkohol itu enak!”
Cakka mendekatkan hidungnya ke mulut Oik, “Ga! Bau alkohol aja udah ga enak, apalagi rasanya!”
Sejurus kemudian, Oik segera menempelkan bibirnya pada bibir Cakka dan menyeringai lebar setelahnya.
“Gimana? Masih ada sisa-sisa alkohol di bibir gue, kan? Enak, kan?” tanya Oik. Setelahnya, ia tertawa nyaring.
Tanpa Oik sadari, wajah Cakka memerah setelah tindakannya barusan. Cakka terdiam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia cepat-cepat membawa Oik keluar dan mendudukkannya di atas jok motornya.
“Lo ngapain ngajak gue keluar? Gue masih mau minum!” lirih Oik.
Cakka tak menghiraukan perkataan Oik barusan untuk sejenak. Ia hanya bergulat dengan ponselnya dan mengacuhkan Oik yang terus-terusan memintanya untuk kembali masuk ke dalam dan menemaninya ‘minum’.
“.....Zy, udah ketemu Acha?.....”
“.....Begitu ketemu Acha lo langsung keluar aja, ya. Gue udah bawa Oik keluar soalnya.....”
“.....Oke.....”
Cakka terlihat manjauhkan ponselnya dan kembali menempelkan ponselnya ke telinga kanannya setelah beberapa detik memencet tombol-tombol keypad ponselnya.
“.....Yo, masih sama Ray, kan?.....”
“.....Kalian berdua bantuin Ozy nyari si Acha aja. Ozy lagi ada di dance floor.....”
“.....Gue udah di luar, sama Oik. Kalian berdua tenang aja.....”
Sambungan kembali terputus. Cakka segera menyimpan ponselnya di dalam saku celananya dan menatap Oik pilu.
“Cakk, ayo ke dalem lagi. Temenin gue,” rajuk Oik, lagi.
Cakka menggeleng dan segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Lo apa-apaan, sih, Cakk?! Lepasin! Gue mau balik ke dalem!” teriak Oik, meronta dalam pelukan Cakka.
Cakka semakin mengeratkan pelukannya. Tangan kanannya terjulur untuk mengusap-usap puncak kepala Oik dengan penuh sayang.
“Please, lo jangan gini. Gue tau lo dulu ga kayak gini. Balik jadi Oik yang dulu, gue mohon. Gue ga mau lihat lo ‘rusak’ gini. Gue ga mau lo dibawa ke Bandung gara-gara kelakuan lo..” bisik Cakka, tepat di telinga Oik.
Oik melemas. Ia menghentikan rontaannya dalam pelukan Cakka dan membalas pelukan Cakka sambil menutup kedua kelopak matanya.
^^^
Di dalam, Rio dan Ray baru saja bertemu Ozy. Ketiganya saling bertatapan ketika melihat Acha dari kejauhan. Rupanya gadis berambut bergelombang itu sedang ada di bar bersama laki-laki yang tak jelas lainnya. Ketiganya segera menghampiri Acha. Gadis itu dalam keadaan mabuk berat.
Ozy menepuk pundak Acha dari belakang. Sontak, Acha menengok padanya dan memasang wajah kaget.
“Mending lo ikut kita bertiga balik, deh. Oik udah ada di luar sama Cakka,” kata Ozy dingin.
Acha, yang kesadarannya berangsur pulih, hanya dapat menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ozy segera memapah gadis itu keluar dan menemui Cakka dan Oik di parkiran.
Tanpa basa-basi, Ozy segera menaikki motornya. Disusul dengan Acha yang naik di boncengan motor Ozy.
“Pegangan! Gue tau lo mabuk, jangan sampai lo jatuh dari boncengan motor gue,” suruh Ozy.
Acha segera melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ozy.
“Yo, Ray, Cakk, gue duluan! Mau nganterin Acha balik terus pulang. Kak Zahra udah nunggu di rumah,” pamit Ozy.
Tanpa menunggu persetujuan dari ketiga sahabatnya, Ozy sudah menggas motornya. Melaju menuju kediaman Acha untuk mengantarkan gadis itu pulang.
“Cakk..” panggil Ray.
Cakka menengok ke arah keduanya. Ia tersenyum tipis seraya menyilangkan jari telunjuknya di depan bibirnya, member isyarat agar kedua sahabatnya itu tidak berbicara dengan volume yang terlalu keras.
“Apa? Ngomongnya jangan keras-keras, Oik ketiduran,” katanya, sejenak mengedik pada Oik yang sudah terlelap dalam pelukannya.
“Lo mau nganterin Oik pulang?” tanya Rio, Cakka mengangguk.
“Ya udah, gue sama Ray duluan, ya. Mau ngelanjutin main dulu di rumah,” pamit Rio, dengan polosnya.
Cakka mengangguk pelan. Cukup membuat Rio dan Ray berlalu dari hadapannya. Ray segera menyalakan mesin motornya dan Rio naik ke boncengan motornya setelahnya. Keduanya pun segera berlalu.
“Untung aja kita cepet-cepet pergi. Kalau ga, kan, kita bisa-bisa jadi kambing congek doang ngelihat Cakka meluk Oik. Cih!” gerutu Ray seraya menyetir.
^^^
Cakka baru saja mematikan mesin motornya. Ia mengajak Oik ke rumahnya. Belum saatnya ia mengajak Oik untuk pulang ke kediamannya sendiri. Cakka segera memopong tubuh mungil Oik ke dalam rumahnya dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
Kebetulan kedua orang tua Cakka sedang berlibur entah ke mana dan meninggalkannya sendirian di rumah. Oik masih terlelap. Cakka duduk tepat di sampingnya dan memandang Oik lekat-lekat. Tangan kanannya menepuk-nepuk pipi Oik pelan.
“Ik, bangun..”
“Ik, bangun, dong..”
“Ik, ayo bangun..”
Oik menggeliat. Perlahan-lahan, ia membuka kelopak matanya. Untuk beberapa saat, Oik masih sibuk mengucek kedua matanya. Barulah, setelah beberapa detik, kedua bola mata Oik tertuju pada Cakka yang masih memandangnya lekat-lekat.
“Ini di mana?” tanya Oik.
“Di rumah gue,” jawab Cakka, singkat.
“Mau ngapain lo ngajak gue ke rumah lo?”
“Udah, lo bersih-bersih aja dulu. Cuci muka, sikat gigi. Ilangin bau-bau alkohol dari mulut lo, baru abis itu gue anter lo pulang,” kata Cakka.
Oik mengangguk pasrah, “Kamar mandi di mana?”
Cakka mengedik pada sebuah pintu, tak jauh dari ruang tamu. Oik berjalan ke arahnya, meninggalkan Cakka yang terus saja menatapnya lekat-lekat sampai ia hilang ditelan pintu kamar mandi.
Cakka menghela napas berat. Ia menunggu Oik sekitar lima belas menit. Dalam kurun waktu itu, ia merebahkan dirinya di sofa dengan posisi telentang. Hingga akhirnya, ia tertidur.
Lima belas menit kemudian, Oik keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang jauh lebih segar dari sebelumnya. Bau-bau alkohol sudah tak tercium lagi dari mulutnya. Ia segera menghampiri Cakka yang berada di ruang tamu.
“Yeh! Ini anak kenapa malah molor?” gerutu Oik.
Oik pun duduk di samping Cakka. Menatap setiap lekuk wajah Cakka dengan seksama.
“Lo kenapa, sih, Cakk? Kenapa lo perhatian banget sama gue? Kenapa lo mau-mau aja ngejemput gue di Black Cat tadi?” tanya Oik beruntun.
Cakka pun membuka matanya. Rupanya Cakka sudah bangun semenjak Oik duduk di sampingnya. Tetapi ia masih menutup kelopak matanya. Ingin mengetahui bagaimana reaksi Oik ketika melihatnya sedang tertidur.
“Karena aku sayang sama kamu..” kata Cakka, dalam, seraya menatap Oik tepat di manic mata gadis itu.
Lagi-lagi, Cakka menarik Oik ke dalam pelukannya. Oik kembali meronta. Tanpa Oik sadari, bibirnya menyunggingkan senyum kecil dan pipinya bersemu merah.
“Lo udah dua kali peluk gue. Udah, ah. Lepas!” kata Oik.
Cakka menggeleng, “Lima menit lagi..”
“Sekarang! Lo anterin gue pulang!”
“Hm? Sepuluh menit lagi..”
Oik menggeram. Ia pasrah.
Sepuluh menit kemudian...
“Udah sepuluh menit, Cakk..” kata Oik.
Cakka menghela napas dan melepaskan pelukannya. Ia ganti memegang kedua pipi Oik dan memaksa gadis itu menatapnya balik, tepat di manik mata.
“Janji, ya, kamu ga bakalan kayak gini lagi. Janji kamu ga bakalan ‘minum’ dan berubah jadi kamu yang dulu. Semuanya kangen sama kamu yang dulu. Semuanya ga suka sama kamu yang sekarang, yang suka ‘minum’. Janji sama aku, ya?”
Oik mengalihkan pandangannya dari manik mata Cakka, “Lihat ntar aja..”
“Ik..” panggil Cakka, dengan nada sangat memelas.
“Oke, oke.. Gue janji. Puas lo?”
Cakka tersenyum. Ia mengecup lembut kening Oik dan mengantarkan gadis itu ke kediamannya.
^^^
Keduanya baru saja sampai di kediaman Oik. Cakka segera turun dari motornya, begitu pula Oik, ia segera turun dari boncengan motor Cakka. Oik berjalan di belakang Cakka.
“Kamu ngapain jalan di belakang aku?” tanya Cakka.
Oik menggeleng, “Takut, Cakk! Aku takut dimarahin sama mereka,”
Cakka tersenyum dalam hati ketika menyadari Oik menyebut dirinya dengan ‘aku’, bukan ‘gue’. Cakka segera menarik lembut tangan kanan Oik dan mengajaknya masuk ke dalam. Oik makin mengeratkan tautan tangannya dengan Cakka.
“Takut, Cakk..” lirih Oik, tepat ketika keduanya telah sampai di pintu rumah Oik.
“Sssstt! UDah, ga usah takut. Kan, ada aku. Lagipula kamu tadi udah janji buat balik jadi Oik yang dulu, kan?” kata Cakka, kembali menatap Oik tepat di manik matanya.
Lutut Oik serasa melemas diperlakukan Cakka seperti itu. Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri dalam hati. Tanpa ia sadari, tangannya semakin bertaut erat dengan tangan Cakka.
Tok tok tok..
Cakka mengetuk pintu rumah Oik. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Ada Sivia di sana. Dan Alvin di belakang gadis cantik itu. Tanpa basa-basi, Sivia langsung memeluk Oik. Otomatis, tautan tangannya dan tangan Cakka terlepas. Oik mengedik pada Cakka sejenak, lelaki itu hanya tersenyum melihatnya.
“Lo ke mana aja, Ik? Kita bingung nyariin lo!” teriak Sivia, heboh.
“Ga ke mana-mana. Abis dari.....”
“Black Cat?” potong Sivia, Oik mengangguk.
“Iya. Terus ke rumah Cakka,” lirih Oik.
Sivia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Oik, “Ke rumahnya Cakka? Ngapain? Kalian ga macem-macem, kan?” tanya Sivia, melirik Cakka sekilas.
Oik jadi salah tingkah sendiri, Cakka tertawa kecil di belakang gadis itu, “Gue sama Cakka ga ngapa-ngapain. Tadi cuman ngilangin bau alkohol di mulut gue,”
“Tadi aku peluk kamu, terus cium kening kamu,” bisik Cakka, tepat di telinga Oik. Pipi Oik kembali bersemu merah karena Cakka.
“Ik, mending lo masuk aja. Udah ditunggu oma sama bokap-nyokapnya Sivia di dalem,” usul Alvin, Oik mengangguk.
Sivia segera menuntun Oik masuk ke dalam. Alvin dan Cakka berjalan di belakang keduanya. Oik menengok ke belakang, melihat Cakka dengan was-was. Cakka kembali tersenyum. Lumayan membuat hati Oik menghangat dibuatnya.
“Oik! Dari mana saja kamu?” tanya papa Sivia dengan volume sangat tinggi.
“Sudah. Jangan emosi dulu,” lerai mama Sivia.
Sivia dan Oik lantas duduk di sofa yang tersisa. Alvin berdiri di belakang Sivia dan Cakka berdiri di belakang Oik. Cakka mengusap puncak kepala Oik sekilas. Hati Oik berdesir, perasaannya lambat laun menjadi lebih tenang.
“Ik, kamu dari mana?” tanya oma.
“Black Cat, oma..”
“Sudah! Besok kamu berangkat ke Bandung, Ik. Di sana ada asrama super ketat. Kamu lebih baik di sana saja,” bentak papa Sivia.
“Papa ga bisa gitu dong! Papa ga bisa ngasih Oik kesempatan lagi? Pokoknya kalau sampai Oik dikirim ke Bandung, Sivia ga mau sekolah! Sivia ga mau makan! Sivia ga mau ngomong sama papa! Titik! Gada tapi-tapian!” seru Sivia.
Sivia segera memeluk Oik erat-erat. Tak akan ia biarkan papanya mengirim Oik ke Bandung besok. Oik membisikkan kata terima kasih di telinganya. Sivia hanya mengangguk.
Cakka buka suara, “Tolong, om. Om kasih Oik kesempatan lagi. Lagipula tadi dia sudah janji sama saya kalau dia ga akan ‘minum’ lagi dan balik jadi dia yang dulu. Ya, om?”
Sivia, Alvin, oma, dan kedua orang tua Sivia menengok kaget pada Cakka.
“Benar, Cakka? Oik janji seperti itu?” tanya oma, Cakka mengangguk mengiyakan.
“Ik, lo janji beneran, kan? Lo janji buat jadi lo yang dulu, kan?” tanya Sivia, Oik mengangguk.
“Asal kalian ga nyuruh gue buat ngejauhin Acha,” ralat Oik, yang lainnya mengangguk cepat.
“Benar, Ik? Kamu janji, ya? Pokoknya kalau sampai kamu mengulanginya lagi, om akan langsung kirim kamu ke Bandung,” kata papa Sivia, Oik kembali mengangguk.
Sivia tersenyum senang. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Oik. Papa dan mamanya berangsur kembali ke kamar beliau. Oma juga, kembali ke kamar beliau. Selang beberapa detik.....
“Oik! Ik! Ik! Lo kenapa? Ik!” teriak Sivia.
Tiba-tiba saja Oik pingsan dalam pelukannya. Dengan sigap, Cakka menggendong Oik ke dalam kamarnya. Sivia dan Alvin segera menghampiri papa Sivia, mama Sivia, dan oma. Lantas, kelimanya berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Oik.
“Oik kenapa itu, Cakka?” tanya oma.
Cakka menggeleng, “Ga tau, oma. Tadi tiba-tiba aja dia pingsan waktu dipeluk Sivia,”
Oma segera duduk di bibir ranjang Oik. Cakka menyingkir dan berpindah di sebelah Alvin dan Sivia. Mama Sivia pun segera menelpon dokter untuk memeriksa Oik. Papa Sivia menunggu dokter yang baru saja ditelpon oleh istrinya tadi di luar.
“Oik kenapa, sih, nak?” tanya mama Sivia.
Sekitar sepuluh menit kemudian. Papa Sivia dating dengan seorang dokter perempuan di sampingnya. Dokter segera memeriksa Oik tak lama kemudian.
“Oik tidak apa-apa. Hanya terlalu capek dan stress. Hanya butuh istirahat. Tidak perlu saya beri obat, ya. Obatnya hanya istirahat, kok..” ujar dokter tersebut.
Setelah Oik berangsur sadar, dokter tersebut undur diri. Papa dan mama Sivia pun segera kembali ke kamarnya. Begitupula dengan oma. Tinggal Sivia, Alvin, dan Cakka saja yang masih berada di kamar Oik.
“Vin, kamu ga pulang?” tanya Sivia.
Alvin mengangguk, “Ini juga mau pulang, Siv..”
“Ik, Cakk, gue nganter Alvin ke depan, ya. Terus langsung balik ke kamar,” pamit Sivia.
“Lo sendiri, ga pulang, Cakk?” tanya Alvin.
Cakka menggeleng, “Ntaran aja. Nunggu Oik bener-bener sadar dulu,”
Sivia dan Alvin pun berlalu. Cakka kembali menatap Oik. Ia pun berangsur menghampiri gadis mungil itu dan duduk di bibir ranjangnya. Tangannya tergerak untuk memegang pipi Oik. Hati Oik kembali berdesir, begitu pula dengan Cakka.
“Kok aku tau-tau aja ada di kamar, sih?” tanya Oik.
Cakka tersenyum simpul, “Kamu tadi pingsan,”
“Hah? Pingsan? Kok bisa? Pantesan tadi ada dokter..”
“Kata dokter kamu terlalu capek. Stress juga, sih. Makanya, istirahat aja..”
“Gitu, ya?”
“Iya..”
Suasana mendadak hening. Keduanya mematung dengan saling menatap satu sama lain.
“Aku sayang kamu..” kata Cakka.
“Aku juga,” lirih Oik.
“Juga apa?”
“Juga sayang kamu..” lanjut Oik, pipinya kembali bersemu merah.
“Jadi Oik yang dulu, ya?”
“Pasti! Buat Sivia, oma, om, sama tante..”
“Buat aku?”
“Emang kamu siapa?”
“Aku.....”
“Siapa? Bukan siapa-siapa aku, kan?”
“Kata siapa aku bukan siapa-siapa kamu?”
“Kata aku, lah! Kamu, kan, bukan cowokku,”
“Ya udah, aku cowokmu mulai sekarang. Dan mulai sekarang juga, kamu cewekku!”
“Ih, maksa! Ga bisa gitu, dong!”
“Bisa-bisa aja..”
Baru saja Oik akan kembali membantah, Cakka sudah mengunci bibirnya dengan miliknya sendiri. Oik menutup matanya, begitupula dengan Cakka. Dengan mata tertutup seperti itu, keduanya tak bisa melihat wajah masing-masing yang sudah semerah kepiting rebus.
Dan tanpa keduanya sadari, Sivia dan Alvin mengintip dari luar.
“Selesai! Ini ending yang keren!” desis Sivia.
Alvin mengangguk, “Oik udah balik jadi dia yang dulu,”
Alvin segera merangkul Sivia dan mengecup kening gadisnya. Keduanya segera berlalu meninggalkan Cakka dan Oik yang masih bertahan dengan posisi seperti sebelumnya.
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)





