Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label elang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elang. Tampilkan semua postingan

LUVAFFAIR [01]

            Pagi itu Oik sedang meminum teh hangatnya sembari duduk di ruang tamu ketika terdengar bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga. Dengan mata mengerjap kaget, Oik meletakkan gelas tehnya dan buru-buru berlari ke pekarangan rumahnya.
            Oik tinggal di pinggiran kota Salatiga. Ia dan keluarganya tinggal serumah dengan keluarga dari dua adik Bapaknya. Tiga keluarga ini tinggal dalam tiga rumah yang berbeda namun masih dalam satu area dan dilindungi dengan pagar yang sama.
            Oik berkacak pinggang di terasnya. Ia menengok ke dua rumah di samping kanan rumahnya. Rumah para Tante dan Omnya itu masih sepi. Sepertinya masih sibuk dengan rutinitas pagi masing-masing.
            TIN! TIN!
            “Siapa toh, pagi-pagi ngeklakson terus?!” ujar Oik jengkel.
            Ia kemudian berlari ke pagar rumahnya. Rupanya ada mobil yang menunggu untuk dibukakan pagar. Oik menyipitkan matanya, mencoba mengenali mobil siapakah itu.
            “Oik! Bukain pagernya!” seru seorang gadis yang baru saja turun dari mobil.
            “Mbak Dera?” sapa Oik kaget, gadis itu mengangguk cepat.
            Oik pun segera membukakan pagar. Mobil itu memasukki pekarangan rumahnya dan berhenti di depan rumah Tantenya. Dera berjalan menghampiri. Setelah menutup kembali pagernya, Oik berjalan beriringan bersama dengan Dera menuju rumah keluarga Dera.
            “Mbak Dera ngapain balik lagi?” tanya Oik.
            Dera menengok pada Oik sekilas. “Mau ngambil pakaianku yang ketinggalan, Ik.”
            Oik mengangguk mengerti. Keduanya berhenti di samping Peugeot 207 yang tadi dinaiki Dera. Tak lama kemudian, dua orang lelaki berwajah mirip turun.
            “Halo, Ik!” sapa Elang. Ia menepuk pelan lengan Oik.
            Dera dan Elang kemudian berjalan mendahului Oik dan Cakka. Oik dan Cakka bertos kemudian tertawa. Keduanya mengikuti Dera dan Elang yang duduk-duduk di teras rumah Dera. Keempatnya duduk melingkar pada kursi kayu teras rumah Dera.
            Keempatnya mengobrol seru dalam beberapa jam. Hingga pada akhirnya, Dera pamit masuk ke dalam rumahnya untuk mengepak barang-barangnya yang ketinggalan. Setelah resepsi pernikahannya dua minggu yang lalu, Dera langsung berpindah ke rumah Elang di Jogjakarta.
            “Mas Elang mau kemana?” tanya Cakka begitu melihat kakaknya itu berdiri.
            “Mau bantuin Dera aja,” jawab Elang lalu ngeloyor masuk ke dalam.
            Cakka berdecak kemudian melirik jam tangannya sekilas. Baru pukul sepuluh. Ia menengok pada Oik yang sama bosannya dengan dia.
            “Ik.. Jalan-jalan, yuk?” ajak Cakka.
            Oik mendongak dengan wajah bingung. “Jalan-jalan kemana?”
            Cakka mengangkat bahunya dengan wajah cuek. “Kemana aja. Terserah kamu.” Ia kemudian menarik lengan Oik agar berdiri juga. Dengan wajah kesal, Oik menuruti permintaan Cakka.
            “Kita mau kemana, Kka?” tanya Oik sebal.
            “Enaknya kemana?” tanya Cakka balik dengan wajah konyol.
            Oik pun berjalan mendahului Cakka. Sebenarnya Oik canggung juga berdua dengan Cakka begini. Mereka baru sekali mengobrol. Itu pun hanya mengobrol basa-basi. Hanya karena Cakka yang kini merupakan sepupunya, jangan harap Oik bisa rileks-rileks saja bersamanya.
            Kring! Kring!
            Cakka dan Oik dikagetkan oleh bunyi bel sepeda angin tepat dari belakang mereka. keduanya menengok dan mendapati seorang lelaki berwajah khas Jawa tengah mengendarai sebuah sepeda angin butut.
            “Halo!” sapa Oik dengan wajah berbinar.
            “Halo juga, Ik.” Sapa lelaki itu balik. Wajahnya tak kalah berbinarnya dengan wajah Oik tadi. “Aku duluan ya, Ik. Mau bantu-bantu Bapak sama Ibu di pasar.”
            Oik hanya mengangguk. Tak lupa pula ia memasang senyum termanisnya untuk mengantarkan kepergian lelaki itu. setelah lelaki itu hilang pada tikungan di depan sana, wajah Oik kembali datar dan biasa-biasa saja.
            “Ik,” Cakka menyenggol lengan Oik. “Tadi itu siapa?” tanyanya penasaran.
            “Namanya Dipta. Kami udah pacaran hampir setahun.” Oik merasakan panas dipipinya. Volume suaranya juga semakin mengecil ketika menyebutkan hubungannya dengan Dipta.
            “Oik malu-malu!” ejek Cakka kemudian tertawa kencang.
            Oik melirik Cakka dengan sebal lalu berjalan cepat, meninggalkan sepupu barunya itu jauh di belakang. Cakka kalang kabut mengikutinya.
            “Eh, Ik! Ik! Oik! Tunggu!” seru Cakka. Ia berlari-lari kecil menghampiri Oik yang kini telah berada jauh di depannya. Cakka menengok kesana-kemari dan ia hanya melihat sawah. Hanya sawah.
            Oik menengok ke belakang dengan terus berjalan. “Apa, Kka?”
            “Ini kemana?” tanya Cakka dengan ngos-ngosan begitu ia berhasil menyamai langkahnya dengan Oik.
            Oik merentangkan tangannya, menunjukkan sawah yang terhampar di sekitar mereka. “Sawah, Kka. Emangnya di Jogja ndak ada sawah?”
            “Di deket rumahku nggak ada sawah,” jawab Cakka sembari menggaruknya tengkuknya yang tak gatal.
            “Mau duduk di saung itu?” tanya Oik. Tangan kanannya menunjuk pada saung tua yang berdiri di tengah-tengah hijaunya sawah.
            “Boleh,” Cakka menjawab singkat.
            Oik pun berjalan menuju saung tersebut melalui pematang sawah yang tanahnya tak rata. Oik mendengar Cakka yang berkali-kali berdecak kesal karena hampir terperosok masuk ke dalam sawah. Oik tertawa kecil dalam hati.
            Oik sudah duduk manis diatas saung ketika Cakka menghampirinya dengan kaki yang belepotan tanah basah. Oik menepuk-nepuk tempat di sampingnya, mempersilahkan Cakka untuk duduk. Cakka pun duduk di samping Oik setelah ia berhasil melepas sandalnya yang berlumuran tanah.
            “Ini sawah keluargaku, Kka. Punya Bapakku sama dua adiknya. Ibunya Mbak Dera itu salah satu adik dari Bapakku,” ujar Oik. Matanya tak lepas dari sawah yang menghampar di hadapannya.
            “Oh,” Cakka mengangguk. “Kamu nggak sekolah, Ik?”
            Oik menggeleng kemudian tersenyum ketika merasakan angin menerpa wajahnya. “Nggak. Kamu sendiri?”
            “Nggak juga. Ini kan, Sabtu. Sekolahku kalau Sabtu sama Minggu libur. Sekolahmu juga, kan?” tanya Cakka.
            “Nggak.” Oik menggeleng dengan wajah polosnya. “Aku lagi libur. Kan, udah kelas dua belas. Tinggal nunggu pengumuman aja. Pengumuman kelulusan sih, udah kemarin. Ini lagi nunggu pengumuman siapa-siapa aja yang keterima masuk universitas pakai jalur undangan.”
            Cakka menatap Oik dengan wajah kaget. “Kamu udah kelas dua belas?”
            “Iya. Kenapa? Kayak udah kuliah ya, wajahku?” Oik terkekeh.
            “Aku ngiranya kamu adik kelasku, Ik.” Cakka menatap Oik tak percaya.
            “Adik kelas? Aku ngiranya kamu udah kuliah, Kka. Wajahmu dewasa buanget.” Oik nyengir lebar setelahnya.
            Suasana kembali hening. Keduanya sibuk memandangi para petani yang sedang bekerja di sawah. Semilir angin membelai kulit keduanya, menggelitik indra peraba mereka dan meninggalkan sensasi sejuk.
            Tiba-tiba saja terdengar dering ponsel. Cakka langsung mengambil ponsel dalam saku celananya dan mengangkat panggilan masuk tersebut. Oik hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap ke depan. Tak munafik, Oik juga curi-curi dengar percakapn via ponsel itu.
            “Iya, ini udah sampai Salatiga. Kenapa?” Cakka terdiam sebentar, mendengarkan lawan bicaranya yang sedang mengomel. “Iya. Nggak nginep, kok. Ntar sore juga balik ke Jogja. Iya, aku langsung ngerjain tugas juga nanti.”
            Beberapa saat kemudian, panggilan pun diputus oleh Cakka. Ia kembali mengantongi ponselnya. Cakka melirik Oik yang terdiam menatap sawah.
            “Betah banget, Ik, mandangin sawah?” tanya Cakka.
            “Iya. Gimana ndak betah? Wong dari kecil aku mainnya di sini.” Cakka tertawa kecil kemudian, membuat Oik memincingkan matanya. “Kamu ini kenapa to, Kka? Kok, ketawa-ketawa sendiri?”
            “Nggak, nggak apa-apa.” Cakka menghentikan laju tawanya. “Lucu aja. Kamu ngomongnya medok banget.”
            “Apa ada yang salah? Namanya juga orang Jawa.” Oik melengos keki.
            Cakka melompat turun dari saung. “Ik, bosen..” rajuknya.
            “Ya, terus?” Oik menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Cakka sebal. Memang benar Cakka berpenampilan dan berwajah dewasa, tetapi kelakuannya masih seperti anak kecil yang doyan merajuk.
            “Jalan-jalan, yuk!” ajak Cakka dengan bersemangat. Ia mulai menarik-narik tangan Oik agar gadis itu turun dari saung juga dan menjejakkan kakinya ditanah sawah yang lembek.
            “Di sini ndak ada mall, Cakka. Kamu mau jalan-jalan kemana?” Oik mengalah pada sifat kekanak-kanakan Cakka. Ia pun ikut turun dari saung.
            Cakka berjalan pelan dengan diiringi Oik di sampingnya. “Jalan-jalan keliling desa aja. Oke? Kamu pasti tau kan, pemandangan bagus apa di desa ini.”
            “Pemandangan bagus?” tanya Oik, Cakka mengangguk. Oik terlihat berpikir sejenak sebelum wajahnya berubah sumringah karena ide cemerlang baru saja melintas diotaknya. “Kamu mau ke kali? Kalau kamu beruntung, kamu bisa lihat penduduk sini yang mandiin kerbau di kali. Gimana?”
            “Kali? Sungai, maksud kamu?” tanya Cakka balik dengan wajah bingung.
            Oik mengangguk antusias. “Iya! Iya! Gimana? Kamu mau ndak?”
            Dengan agak terpaksa, Cakka pun menganggukkan kepalanya. Cakka belum pernah sekalipun bermain di sungai. Dan ini akan menjadi pengalaman pertamanya bermain air di sungai. Membayangkan ia akan bermain air bersama kerbau membuatnya bergidik jijik.
            Oik melangkah mendahului Cakka. Cakka dapat melihat Oik yang sangat bersemangat menuju sungai desa. Mencurigakan.
            Oik membimbing Cakka berjalan diatas pematang sawah. Dengan tertawa mengejek, Oik menggandeng Cakka yang masih saja kesulitan berpijak pada tanah sawah. Setelah terbebas dari tanah sawah yang lembek, keduanya berjalan beriringan menyusuri jalanan desa. Setelah berjalan selama kira-kira lima menit, keduanya sampai pada hutan kecil di bagian timur desa.
            “Sungainya mana, Ik?” Sepanjang mata memandang, Cakka hanya melihat puluhan pohon bambu yang menjulang tinggi.
            “Di situ,” jemari Oik menunjuk sekumpulan pohon bambu yang tumbuh di depan mereka.
            Cakka memincingkan matanya. Apa Oik sudah gila? Atau buta? Sekumpulan pohon bambu dibilangnya kali? Cakka menatap Oik yang masih berjalan santai di depannya dan kembali mengikuti langkah gadis itu.
            “Oik, mana sung––,”
            Perkataan Cakka terputus tatkala ia melihat Oik menyibakkan dedaunan bambu yang ada di hadapan mereka. Rupanya di balik pepohonan bambu itulah kali yang dimaksud Oik berada.
            “Ayo, sini!” Oik melambaikan tangannya pada Cakka yang masih terdiam di tempat. Melihat Cakka yang sama sekali tak memberikan respon, Oik pun menghampirinya lalu menyeret lelaki itu untuk berjalan mendekat pada kali. “Kamu ini lelet banget, Kka.”
            Oik menyeret Cakka menuju pinggir kali. Tak jauh dari mereka, ada sebongkah batu besar yang dapat diduduki. “Mau duduk situ?” tawar Oik, Cakka hanya mengangguk.
            Oik melangkah menuju batu superbesar tersebut diikuti Cakka. Oik melirik Cakka, memberikan kode bahwa Cakka bisa duduk diatas batu tersebut. Oik tersenyum melihat Cakka yang telah duduk manis diatas batu.
            Oik menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Cakka pun juga begitu. Lelaki itu mengakui dalam hati bahwa udara di desa ini sangat sejuk.
            Sebuah kali kecil terhampar di hadapan Cakka dan Oik. Arusnya tidak terlalu kuat, juga tidak terlalu kecil. Airnya jernih, tidak seperti kali di kota-kota besar. Terdapat bongkahan batu berukuran sedang didalamnya. Di ujung kali –yang bercabang dua diujungnya– terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain, menyiratkan air pada satu dan lainnya.
            “Oik!” panggil sebuah suara.
            Oik menengok ke samping dan mendapati seorang lelaki tengah memandikan kerbaunya di sana. “Halo!” Oik menyapa balik. Lelaki itu pun kembali menyabuni karbaunya. Oik mengalihkan pandangan pada Cakka. “Mau ikut mandiin kerbau ndak?”
            “Itu siapa? Cowok yang tadi di jalan?” tanya Cakka balik tanpa menggubris pertanyaan Oik.
            Oik mengangguk. “Iya, itu Dipta. Mau ndak?”
            “Boleh, deh.” Cakka pun turun dari batu besar tersebut.
            Cakka mengikuti Oik melepas alas kakinya dan meletakkannya dibantaran kali. Dengan sedikit berjingkat, Cakka mengekor Oik melompati batu yang satu ke batu yang lainnya untuk menuju tempat Dipta saat ini.
            “Mending lewat batu-batu gini aja, Kka. Nanti kalau langsung masuk kali, celana kamu bisa basah.” Ujar Oik singkat, Cakka mengangguk mengerti.
            “Dipta,” sapa Oik malu-malu ketika ia dan Cakka sudah berada di samping lelaki itu.
            Dipta menengok pada Oik dan Cakka sekilas lalu kembali menyabuni karbaunya. Tanggung, hanya tinggal kaki depannya saja yang belum terkena sabun. “Tumben nyusul aku ke kali, Ik? Biasanya kamu nungguin aku di rumahku.”
            “Aku nggak nyusul kamu, Dip. Ini, lho.. Cakka, sepupu baruku, minta diajakin jalan-jalan. Yo wis, aku ajak aja ke sini.” Oik melihat Dipta telah selesai menyabuni kerbaunya. Lelaki itu pun sudah membilas tangannya dengan air sungai. Kemudian Oik menengok Cakka. “Kka, ini Dipta–pacarku. Dip, ini Cakka–sepupuku.”
            Kedua lelaki itu lantas saling berjabat tangan dengan menyunggingkan senyum.
            “Ik, mau bantuin aku ngebilas si kebo?” tawar Dipta, Oik mengangguk bersemangat.
            Dan di sinilah Cakka sekarang. Memandang Oik dan Dipta yang saling bekerja sama membilas kerbau milik Dipta. Ketika keduanya tak sengaja bertemu pandang, Cakka dapat melihat Oik yang mengalihkan pandangan dengan wajah yang bersemu merah dan Dipta yang terkekeh pelan.
            “Ik, balik sekarang aja. Udah Dhuhur.” Cakka berseru ketika adzan Dhuhur baru saja selesai berkumandang.
            Oik menoleh pada Cakka dengan wajah kesal. “Iya, iya. Sebentar.” Oik membalas dengan ketus.
            Cakka terkikik. Bukannya ia tak menyadari bahwa Oik masih ingin bersama Dipta. Hanya saja, Cakka suk melihat Oik yang sedang kesal. Seperti saat ini. Setelah Oik berpamitan malu-malu pada Dipta, Cakka segera menarik lengan gadis itu untuk segera pulang.
            “Dadah, Dipta!” Oik melambaikan tangan pada Dipta yang juga dibalas lambaian tangan dengan lelaki itu. Setelah saling melempar senyum malu-malu satu sama lain, Oik berbalik pada Cakka. “Kamu ini jahat buanget, Kka?! Aku kan, lagi sama Dipta tadi!”
            “Udah Dhuhur, Oik,” ujar Cakka, mengingatkan.
            “Iya, aku tahu,” balas Oik dengan keki.
            Keduanya pun berjalan beriringan menuju rumah Oik dalam keadaan hening. Oik sendiri masih kesal pada Cakka yang sudah mengajaknya pulang cepat-cepat. Padahal Oik masih ingin membantu Dipta memandikan kerbaunya.
            “Oik! Cakka!”
            Keduanya melihat Dera yang tengah berkacak pinggang di teras rumahnya, memanggil-manggil mereka. Oik segera membuka pagar. Tanpa menutupnya kemudian, ia mengekor Cakka yang menghampiri Dera dan Elang di teras.
            “Dari mana aja?” tanya Elang sambil menatap Cakka dan Oik yang menenteng alas kaki masing-masing.
            “Main di kali, Mas,” jawab Oik singkat. Elang mengangguk paham.
            “Kka, sholat Dhuhur dulu sana. Habis itu kita langsung pulang.” Cakka hanya mengangguk. Dengan diiringi Oik, ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudlu lalu sholat di mushola rumah Oik.
            Tak berapa lama kemudian, keduanya kembali ke teras. Rupanya Elang dan Dera tengah memasukkan tas-tas berisi barang-barang Dera ke dalam mobil, Cakka dan Oik pun menyusul.
            “Langsung balik, Mbak?” tanya Oik pada Dera yang baru saja memasukkan sebuah tas besar berisikan bonekanya.
            “Iya, Ik,” Dera mengangguk. “Kamu nggak mau ikut ke Jogja juga?” tawar Dera.
            Oik menggeleng. “Masih nunggu pengumuman jalur undangan, Mbak.”
            “Kamu daftar di mana aja emang?”
            “UGM, Mbak.” Oik tersenyum lebar diakhir kalimatnya.
            “Semoga keterima, ya!” seru Dera. Ia merangkul Oik sekilas lalu masuk ke dalam mobil. Elang dan Cakka pun sudah berada di dalam.
            “Balik dulu, Ik,” pamit Elang.
            Oik mengangguk pelan. “Iya, Mas. Hati-hati nyetirnya.”
            “Oik, mau kuliah di mana?” tanya Cakka dari dalam mobil.
            “UGM, Kka.”
            “Wah! Deket rumahku!” Cakka berseru riang. “Ikut ke Jogja, yuk, Ik?!”
            “Besok-besok aja, Kka. Aku masih nunggu pengumuman.” Tolak Oik dengan halus.

            Setelah berbasa-basi sebentar, Elang pun menyalakan mesin mobilnya. Setelah memanasi mesinnya dalam beberapa menit, Elang melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Oik. Oik melambaikan tangan pada ketiganya–entah ketiganya melihat atau tidak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

THE ONLY EXCEPTION [Cerpen #4thAnnivCaikersFamily]

Jogjakarta, 7 Juni 2013

            Oik, masih ingat, kan, ini tanggal berapa? Masih ingat, kan, apa yang terjadi empat tahun lalu? Masih ingat, kan, kita jadian empat tahun yang lalu?
            Happy 4th anniversary, honey!
            Make it lasts, please. Tetap jadi Oikku sampai kapan pun, ya, karena aku akan jadi Cakkamu sampai kapan pun juga. Jangan berubah karena aku cinta kamu apa adanya. Aku suka kamu yang childish, cerewet, selalu bersemangat, dan over-perhatian, kok. Jadi, jangan hilangkan itu semua. You’re my extraordinary girl, Oik.
            Setiap kita merayakan anniversary, kamu pasti meminta hadiah dariku. Kali ini, karena kita belum bisa bertemu, aku akan memberikan kamu hadiah dalam bentuk lain. Aku akan menceritakan bagaimana Papa dan Mamaku. Kamu ingin tahu soal mereka, kan? Baiklah, aku akan menceritakannya. Ini kali pertama aku menceritakan mengenai mereka pada seseorang dan seseorang itu kamu, Ik. Kamu spesial. Makadari itu kamu adalah orang pertama yang aku ceritakan soal ini.
            Sebelum aku menceritakan semuanya, aku cuma mau bilang... aku punya lagu untuk kamu. Ini memang bukan lagu ciptaanku sendiri dan bukan aku pula yang menyanyikannya. Hanya saja, aku rasa lagu ini cocok untuk kamu. The Only Exception. Tahu lagu itu, kan? Lagu dari Paramore. It’s so you, Oik.
            Semuanya bermula ketika aku berumur 13 tahun. Aku baru saja menjadi siswa putih-biru pada saat itu. Papa dan Mama mulai sering bertengkar karena masalah sepele. Setiap harinya aku harus mendengar teriakan-teriakan penuh amarah dari mereka dari dalam kamar. Aku sendirian, Ik. Mas Elang selalu sibuk dengan sekolah dan bandnya.
            Suatu hari aku melihat Papa berdiri di teras rumah. Kesedihan tampak jelas dari wajahnya. Aku nggak pernah lihat Papa sesedih itu, Ik. Aku nggak berani mendekat, jadi aku hanya melihat Papa dari balik tirai ruang tamu. Setelah beberapa menit terdiam, Papa mulai menangis sesenggukan. Aku bingung harus berbuat apa. Mas Elang nggak pulang dari semalam. Biasanya Mas Elang menginap di rumah temannya.
            Lalu aku ingat. Tadi malam Papa dan Mama bertengkar sangat hebat. Aku terdiam di kamar sendirian. Buku yang tadinya kubaca untuk bahan ulangan minggu depannya, aku buang begitu saja. Aku sadar aku nggak sekuat itu untuk dengar pertengkaran mereka yang lagi-lagi karena masalah sepele. Aku butuh Mas Elang. Tapi setiap saat aku butuh kakakku, dia selalu nggak pernah ada untuk aku.
            Ternyata laki-laki sekeras dan sekuat Papa pun bisa menangis karena cinta, karena Mama. Semakin lama tangisan kecil Papa semakin terdengar olehku. Papa mulai terisak, walaupun pelan. Aku bingung waktu itu, Ik. Apakah aku harus menghampiri Papa lalu menghiburnya atau malah meninggalkannya sendirian dan memberikan waktu Papa untuk menangis sepuasnya.
            Akhirnya opsi kedua yang aku pilih. Aku meninggalkan Papa sendirian di teras. Aku kembali ke kamarku dan terdiam. Keluargaku berantakan. Aku nggak tahu apakah ada hal lain yang lebih buruk daripada ini. Papa menangis, Mama pergi entah kemana, Mas Elang pun jarang pulang ke rumah.
            Sejak saat itu Mama juga jadi jarang pulang. Aku nggak tahu Mama tinggal dimana. Penghuni rumah saat itu hanya aku dan Papa. Kami berdua pun jarang mengobrol. Berbicara hanya seperlunya. Dan bila Mama sudah pulang ke rumah, mereka berdua akan kembali bertengkar. Itu seperti nggak ada satu hari pun yang lewat untuk mereka berdua bertengkar.
            Pertengkaran Papa dan Mama terhebat yang kedua terjadi ketika aku akan lulus SMP. Malam itu, Papa dan Mama bertengkar di ruang tamu. Aku mendengar jelas pertengkaran mereka dari dapur. Aku hanya mampu diam sampai suara menggelegar Papa terdengar. Papa mengancam akan menceraikan Mama. Setelahnya, semua terjadi begitu cepat. Mama kembali pergi dan Papa kembali ke kamarnya.
            Aku tahu Papa telah mematahkan hatinya sendiri dengan ancaman perceraian itu. Papa menjadi semakin pendiam sejak saat itu. Jika Papa bertemu dengan Mama dan keduanya bertengkar, Papa hanya akan membalas teriakan amarah Mama dengan suara tertahan. Papa juga terlihat berusaha menahan amarahnya. Mungkin itu adalah salah satu usaha Papa untuk membuat Mama tetap tinggal. Aku pun nggak tahu apa yang membuat Mama nggak betah di rumah.
            Waktu berlalu begitu cepat. Selama itu pun aku tahu Papa sedang menata kembali hatinya. Mama semakin jarang pulang. Papa juga sudah mulai terbiasa dengan itu. Papa mulai menyuruh pembantu rumah tangga kami untuk hanya memasakan makanan dengan porsi sedikit, hanya untuk Papa dan aku.
            Suatu hari, Mas Elang pulang membawa surat keterangan kelulusannya. Aku tahu waktu ini akan datang. Aku menceritakan semuanya kepada Mas Elang secara singkat. Hal itu membuat Mas Elang semakin membulatkan tekadnya untuk berkuliah diluar kota, di Bandung. Mas Elang lebih terluka daripada aku.
            Papa dan Mama bertengkar lagi, Ik. Mungkin ini puncak dari semua pertengkaran mereka. Papa yang akhir ini hanya diam saja jika bertengkar dengan Mama, kini juga berbalik berteriak pada Mama. Rumah kami penuh dengan teriakan mereka berdua.
            Hingga pada suatu titik, Papa mengusir Mama. Papa bilang Mama nggak perlu pulang ke rumah ini lagi karena Papa sudah nggak butuh Mama. Selama lima menit nggak ada suara lagi yang aku dengar. Tetapi setelah itu, aku melihat siluet tubuh Mama yang membawa kopernya keluar dari rumah. Mama benar-benar pergi.
            Dari teras rumah, Mama memaki-maki Papa. Mama bilang kalau beliau nggak akan melupakan bagaimana Papa mengusirnya. Mama juga bilang kalau Papa nggak cinta Papa, nggak pernah ada cinta diantara mereka berdua. Lalu, aku dan Mas Elang itu apa? Bukannya kami –harusnya– adalah buah cinta mereka?
            Mama menantang Papa untuk benar-benar mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan. Dan Papa menyanggupinya. Mama pergi dengan langkah berderap, meninggalkan rumah kami. Aku syok. Aku nggak pernah menyangka kalau akan begini akhirnya. Sebelumnya aku malah berpikir akan membuat mereka adem-ayem seperti dulu lagi. Akhirnya aku sadar itu nggak mungkin.
            Selama sebulan lebih Papa mulai mengurus dokumen-dokumen untuk perceraian mereka. Papa jadi mondar-mandir Jogjakarta-Semarang. Aku dengar dari Papa, sidang perceraian Papa dan Mama akan dilaksanakan di Semarang. Mas Elang pun nggak tahu-menahu soal ini. Papa juga sudah mengontak salah satu pengacara terkenal di Jogjakarta.
            Sidang perceraian pertama berlangsung dua tahun kemudian dan dilaksanakan di Semarang. Ketika itu aku nggak datang karena sedang mempersiapkan Ujian Nasional SMA. Mas Elang sepertinya juga nggak datang karena sedang mengerjakan skripsi. Biasanya dalam sidang pertama akan disarankan menjalankan mediasi.
            Dan memang benar. Papa dan Mama menjalani masa mediasi selama hampir satu tahun. Masing-masing didampingi pengacara. Mediasi pun ternyata gagal. Papa dan Mama bersikukuh untuk bercerai. Papa dan Mama menjadi sosok mengerikan yang nggak aku kenal.
            Sejak saat itu aku mulai ragu dengan adanya cinta. Papa dan Mama saja yang menikah hampir 20 tahun bisa bercerai. Oh, Mama juga pernah mengatakan kalau nggak pernah ada cinta dianatara mereka. Lalu, cinta itu apa? Sesuatu yang nggak berguna?
            Dalam hati aku tahu kalau cinta itu nggak ada yang bertahan selamanya. Waktu akan menghapuskan rasa itu. Atau memang, perasaan itu hanya kamuflase dari rasa-rasa lain. Ya, perasaan lain yang mengatasnamakan cinta. Papa dan Mama, contohnya. Aku nggak tahu bagaimana mereka bisa mempertahankan pernikahan hampir selama 20 tahun dan mengatakan nggak pernah ada cinta, seolah-olah aku dan Mas Elang itu nggak ada. Sakit hati? Pasti.
            Kita harus mempertahankan cinta kalau ingin terus bersama dengan pasangan masing-masing. Begitu, kan? Lalu, bagaimana caranya? Menghentikan waktu agar ia nggak bisa melunturkan perasaan abstrak itu? Atau malah lebih baik kita nggak perlu mengecap manisnya cinta agar kita juga nggak perlu merasakan pahitnya?
            Aku jadi anti-pati dengan cinta, Ik. Aku menjaga hatiku baik-baik agar nggak merasakan perasaan itu. Aku terlalu takut untuk jatuh. Karena dimana-mana jatuh itu nggak enak, sakit. Biarlah sekalian aku nggak pernah jatuh cinta daripada hatiku jatuh pada tangan yang salah. Tapi semua berubah sejak kita bertemu.
            Sebelum aku kenal kamu, aku percaya kalau hidup sendirian itu lebih baik. Atau, paling nggak, aku hanya kenal dengan Ayah dan Mas Elang. Mereka berdua nggak mungkin menyakiti aku, kan? Aku nggak mau kenal dengan banyak orang. Takut menghadapi masalah yang datang, takut sakit hati. Dengan nggak mengenal banyak orang itu berarti aku memperkecil kemungkinan akan jatuh cinta dan sakit hati, kan? Karena aku percaya nggak ada orang yang berhak disakiti.
            Kamu masih ingat pertemuan pertama kita, kan? Waktu itu hujan sedang turun dengan derasnya dan kita bertemu di sebuah kafe dekat rumahmu. Kamu datang menghampiri aku dengan baju yang basah kuyup karena kehujanan. Kita mengobrol banyak waktu itu. Aku berkata padamu kalau aku sedang ada urusan, kan? Makadari itu aku menyempatkan datang. Padahal hari itu hatiku sedang kacau. Paginya persidangan kedua Papa dan Mama dilaksanakan di Semarang. Mereka berdua resmi bercerai dengan hak asuh atas aku dan Mas Elang diberikan pada Papa.
            Sejak kita bertemu, aku jadi nggak se-antipati seperti dulu dengan cinta. Kamu itu mungil, kamu tahu? Karena itu aku jadi ingin selalu melindungi kamu. Masih ingat, kan, jaket yang aku berikan kepada kamu waktu pertemuan pertama kita? Itu gerakan alam bawah sadarku untuk menyerahkannya pada kamu.
            Aku nggak bermaksud untuk menggombal atau membual, tapi itu nyata. Aku jadi lebih bisa terbuka. Aku sendiri nggak tahu kenapa. Kamu memberikan pengaruh tersendiri untuk aku. Belum lagi pertemuan-pertemuan singkat kita ketika mencuri-curi jadwal kuliah untuk saling mengunjungi. Percakapan kita lewat SMS, jejaring sosial, bahkan percakapan online lewat Skype pun membuat hatiku seperti tergelitik.
            Pernah, suatu hari, Papa memandangku dengan aneh. Aku nggak tahu jenis pandangan macam apa itu. Tapi Papa hanya tersenyum setelahnya. Papa bilang aku sudah besar. Papa mengatakan hal itu setelah kita menghabiskan berjam-jam mengobrol via Skype. Apa Papa menyadari sesuatu, ya? Akhirnya setelah aku bercerita pada Mas Elang, aku tahu apa yang Papa maksud. Itu soal kamu, soal kita.
            Pertama kalinya kamu mengunjungiku setelah kita jadian adalah pada awal bulan Agustus. Aku menjemput kamu di Stasiun Tugu pada siang hari. Kamu bilang kalau kamu akan berada di Jogjakarta selama hampir satu minggu. Kamu tahu? Aku sudah merencanakan akan mengajak kamu pergi kemana saja sejak seminggu sebelum kamu datang. Aku mencari referensi angkringan paling bagus untuk kita kunjungi. Kebetulan saat kamu datang ke rumahku, Papa sedang nggak ada di rumah. Tetapi aku sudah bilang sebelumnya pada Papa kalau pacarku akan menginap disini.
            Kita pergi ke banyak tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Setiap pagi selama satu minggu pun kamu memasakkan kita makanan untuk sarapan dan makan siang. Sedangkan malamnya kita selalu mengunjungi angkringan yang berbeda selama satu minggu itu. Ternyata referensi angkringan bagus dari Mas Elang berguna juga.
            Aku nggak percaya kalau akhirnya aku bisa jatuh cinta. Seharusnya orang-orang nggak perlu menamainya dengan jatuh cinta karena jatuh itu dimana-mana selalu sakit. Cukup menyebutnya cinta saja. Dengan begitu, nggak ada kata jatuh. Dengan harapan, setiap kali kita merasakan cinta, kita nggak perlu juga untuk jatuh dan merasakan sakit. Begitu, kan?
            Aku sempat berdoa pada malam hari. Ketika itu kamu sudah tidur. Karena aku yang masih belum percaya bahwa cinta akan sebahagia ini, aku berdoa pada Tuhan.. Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Cinta itu berjuta rasanya, aku percaya. Dan dari jutaan rasa itu, nggak ada yang membuat aku sakit.
            Pada masa awal kita pacaran, aku masih belum percaya kalau kamu ada disisiku. Aku juga masih belum percaya kalau aku bisa berkompromi dengan diriku sendiri untuk merobohkan benteng dalam hatiku. Kamu juga membuat aku percaya kalau cinta itu ada. Nggak hanya aku yang membuat kamu percaya lagi pada cinta, kamu juga melakukan hal yang sama untuk aku.
            Hari terakhir kamu berada di Jogjakarta, aku tertidur sampai tengah hari karena malam sebelumnya kita berkeliling Jogjakarta. Karena alarm yang nggak berbunyi seperti semestinya, aku pun nggak bangun seperti semestinya. Padahal jadwal kereta yang akan membawamu kembali ke Salatiga adalah pagi-pagi sekali, sekitar pukul lima.
            Siangnya, ketika aku bangun, aku nggak menemukan kamu di seluruh sudut rumahku. Aku mulai panik dan berpikiran kalau seminggu bersamamu memang benar-benar mimpi. Sampai akhirnya aku menemukan surat didekat alarmku. Surat dari kamu. Barulah aku benar-benar yakin kalau seminggu ini bukan sekedar mimpi.
            Dalam surat itu kamu bilang kalau kamu nggak tega membangunkan aku untuk mengantar kamu ke stasiun. Jadinya kamu berangkat sendiri menggunakan becak. Aku merasa bersalah sekali karena sebelumnya aku sudah berjanji akan mengantar kamu ke stasiun. Sepertinya aku tahu siapa yang mematikan alarmku waktu itu. Kamu, ya?
            Pada awal Februari kemarin, aku ke rumahmu. Tetapi ternyata kamu nggak ada. Ayah kamu bilang kamu sedang ke Semarang bersama teman-teman sefakultasmu. Akhirnya aku mengobrol bersama beliau selama lebih dari empat jam.
            Ayah kamu memang sudah merestui kita berdua semenjak awal kita pacaran, tapi... sejak kapan beliau menjadi sebegini bersemangatnya untuk menikahkan kita? Lagipula kita berdua juga masih beum lulus kuliah. Kita masih mengurus skripsi. Ketika itu beliau berkata bahwa kita berdua sudah cukup dewasa untuk itu.
            Aku hanya tertawa saja ketika beliau memintaku kembali berkunjung ke Salatiga bersama Papa dan Mama. Aku tertawa bukan karena menyetujui idenya tetapi lebih kepada... Papa dan Mama? Mereka sudah bercerai.
            Satu yang paling aku ingat. Beliau ingin akhir tahun ini aku sudah melamar kamu. Aku masih memikirkannya. Aku takut akhir tahun nanti kita berdua belum wisuda. Aku ingat betul komitmen kita. Kita nggak akan melangkah kejenjang yang lebih tinggi kalau kita berdua belum wisuda. Aku sendiri, akan diwisuda pada pertengahan Oktober.
            Bagaimana menurutmu? Papa juga berkata kalau kita sudah cukup dewasa. Beberapa kali Papa memang bertanya mengenai hal sensitif itu tetapi aku hanya tertawa kecil menanggapinya. Apakah Ayahmu nggak pernah menyinggung soal itu di hadapanmu?
            Ya sudahlah. Mungkin kita memang perlu bertemu untuk membicarakannya. Hanya aku dan kamu. Nggak perlu mengajak Papa dan Ayah terlebih dahulu. Aku takut mereka akan menyuruh kita menikah secepatnya sementara kita berdua belum lulus kuliah. Aku nggak mau proses pembuat skripsi kita terganggu.
            Mungkin minggu depan aku akan ke Salatiga. Mengunjungi sepupuku dan kamu. Kamu ingin kita bertemu dimana? Bagaimana kalau di kafe tempat pertemuan pertama kita? Setelah kita berbicara berdua, barulah aku akan menemui Ayahmua. Begitu?
            Sekali lagi, selamat tanggal 7 Juni yang keempat, Oikku. Tetap jadi Oikku yang seperti ini, ya. Semoga kita langgeng dan waktu juga nggak akan melunturkan perasaan ini. Semoga proses pembuatan skripsi kita juga nggak menemui banyak masalah agar cepat disidang bersama para dosen.
            You’re the only exception..

Tons of love,
Cakka

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAPPY ENDING [Fourthquel of PROSES MELUPAKANMU]

#NowPlaying: Abdul & The Coffee Theory – Happy Ending

**

            Bunyi alarm menggema di sebuah kamar tidur. Seorang lelaki yang meringkuk dibawah selimut masih memejamkan matanya. Dengan tangan yang terulur sembarangan ke nightstand, ia mengambil ponselnya dan mematikan alarm. Beberapa detik kemudian, ia sudah duduk tegak diatas ranjangnya dengan senyum mengembang.
            Hari pertama di Jakarta!
            Dengan bersemangat, ia menyingkap selimutnya dan membereskan ranjangnya yang nampak berantakan. Dengan bersiul ceria, ia melangkah menuju almari di sudut ruangan dan mengambil sebuah celana jeans dan sebuah T-Shirt. Setelahnya, ia bergegas menuju kamar mandi yang masih terletak di dalam kamarnya.
            Sejak pertama ia membuka matanya tadi, hanya satu yang ia ingin lihat. DiaDia-lah alasan utamanya kembali kemari secepat mungkin, meninggalkan Singapura dan segala keistimewaan negara itu.
            Beberapa menit berselang, ia keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi. Ia menatap rambut sebentar dan melangkah keluar dari kamar sembari menenteng dompet, ponsel, dan kunci motor.
            Ketika ia membuka pintu kamarnya, ternyata seseorang juga sedang membukanya dari luar. Ia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat siapa yang kini berada di hadapannya.
            “Den Ca––,” perkataannya terhenti begitu melihat sosok yang sudah rapi itu.
            “Halo, Bi,” sapa lelaki itu, enteng. “Bibi nyiapin apa buat sarapan pagi ini?”
            Tanpa menunggu jawaban dari pembantunya, lelaki itu berjalan menuju ruang makan. Sudah ada kakak dan mamanya disana. Ia bersiul heboh dan menghempaskan tubuh pada sebuah kursi di hadapan keduanya.
            “Cakka?” panggil mamanya, bingung.
            “Ya, Ma?” Cakka melirik mamanya seraya mengolesi lembaran roti tawar tanpa kulit dengan selai coklat.
            “Mimpi apa lo, hari libur begini jam segini udah bangun?” samber kakaknya, Elang.
            Cakka memutar bola matanya, jengah. “Sirik aja lo, Kak.”
            Bel rumah berbunyi tepat ketika Cakka menggigit rotinya. Mamanya meliriknya penuh arti.
            Cakka menggeleng. “Biar bibi aja yang bukain,” tolaknya.
            “Cakka,” mamanya meletakkan sendok dan garpu diatas piringnya. “Bibi lagi cuci baju.”
            “Nggak mau. Cakka lagi makan.” Cakka tetap menggeleng.
            Mamanya menghela napas dan bangkit berdiri, melenggang menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Cakka teta pada posisinya dan menghabiskan roti berisi selai coklat yang hanya tinggal beberapa gigit lagi.
            “Dasar pemales!” sindir kakaknya.
            “Kenapa nggak lo aja yang bukain pintu?” sindir Cakka balik.
            “Cakka            ! Ini ada Shilla, cariin kamu.” Cakka mendengar suara lengkingan mamanya dari ruang tamu.
            “Hah? Shilla?” kening Cakka berkerut bingung. Cakka melirik Elang dengan sebal. “Elo, ya, yang kasih tahu dia kalau gue udah balik?” selidiknya.
            Elang hanya mengangkat bahunya dengan cuek, membuat Cakka melemparkan tisu makan miliknya dengan gemas.
            “Sialan lo!” maki Cakka.
            “Cakka! Cepetan sarapannya! Shilla udah nunggu, nih.” Lagi-lagi mamanya berteriak kencang dari ruang tamu, membuat Cakka bergidik ngeri.
            “Shit!” gumam Cakka.
            Ia melompat turun dari kursinya dan mengambil sebuah sepatu yang terletak di rak dekat pintu masuk dapur lalu memakainya. Cakka kembali ke meja makan dan meminum susu coklat yang sudah disediakan untuknya.
            “Gue pinjem mobil lo. Kalau mau pake motor gue, ambil aja kuncinya di kamar,” bisik Cakka.
            Dengan cepat, ia mengambil kunci mobil Elang yang tergeletak di meja makan dan keluar dari rumah melewati pintu samping untuk menghindari Shilla.
            “Cakka!” mamanya kembali memanggil.
            “Cakka kabur, Ma! Bawa mobil aku!” teriak Elang dari dapur.
            “Kak! Diem lo!” teriak Cakka dari garasi mobil.
            Cepat-cepat, Cakka menyalakan mesin mobil. Ketika ia melewati teras, ia melihat mamanya dan Shilla sedang berkacak pinggang menatapnya.
            “Cakka pergi dulu, Ma!” pamitnya, dengan nada mengejek.
            “Cakka! Mau kemana?” teriak mamanya, Cakka tak menghiraukannya dan melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
            Samar-samar, Cakka juga mendengar teriakan Shilla di belakangnya. “Cakka, aku kangen! Kenapa pergi lagi, sih?”
            Di dalam mobil, Cakka menirukan teriakan mamanya dan Shilla dengan gaya yang dibuat-buat kemudian tertawa nyaring setelahnya. Merasa telah berhasil kabur dari serangkaian gaya menyebalkan Shilla, Cakka memamerkan senyum kemenangannya.
            Tangan Cakka bergerak untuk menyalakan tape dan telinga Cakka mulai dipenuhi oleh lagi itu. Lagu kenangannya bersama dia. Otak Cakka mulai bekerja, mengais-ngais memori yang sudah tertumpuk dibawah sana. Memorinya bersama dia.
            Kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin, dan akan kuberikan lebih dan lebih sampai akhir hayat nanti...
            “Sial!” Cakka memukul kemudi mobilnya. “Aku makin kamu kamu... Ik,”
            Cakka membelokkan mobilnya memasuki sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Selatan. Ia masih hafal betul jalan menuju rumah itu. Begitu juga dengan pemiliknya, Cakka hafal diluar kepala apapun mengenai dia.
            Mobil Cakka berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan pagar setinggi pinggang orang dewasa. Cakka mematikan mesin mobilnya lalu keluar. Dengan menyunggingkan senyum lebarnya, ia berjalan menuju pagar rumah itu dan memencet belnya.
            Beberapa detik kemudian, muncul seorang wanita paruh baya yang Cakka kenali sebagai bunda daridia. Dengan mata memincing, wanita itu membukakan pagar untuk Cakka.
            “Oiknya ada, Tante?” tanya Cakka dengan sopan.
            “Cakka?”
            “Iya, Tante.” Cakka melebarkan senyumnya karena beliau masih mengingatnya. “Masih inget saya aja, Tante.”
            “Iya, nih. Bukannya kamu sekolah di Singapura? Oik bilang begitu.”
            “Udah pulang, Tante. Udah lulus juga. Ngapain lama-lama disana?” Cakka terkekeh pelan diakhir kalimatnya. “Jadi, Oiknya ada nggak, Tante?”
            “Wah, Oiknya nggak ada. Dia udah berangkat ke sekolah pagi-pagi buta tadi.”
            Cakka mengerucutkan bibirnya. “Ngapain, Tante? Bukannya libur, ya? Sudah pengumuman kelulusan juga, kan?”
            “Iya, sudah.” Bunda Oik mengangguk. “Persiapan buat prom night, katanya. Dia ketua panitianya, Kka.”
            “Oh,” Cakka mengangguk mengerti. “Pulangnya jam berapa kira-kira, Tante?”
            “Kurang tahu, Kka. Kalau seminggu ini Oik pulang sekitar jam sebelas. Nggak tahu lagi hari ini. Kan, gladi bersih. Prom night-nya besok, sih.”
            “Eh, Tante.. Nanti nggak usah bilang ke Oik kalau Cakka kesini, ya?” pinta Cakka dengan wajah memelas.
            “Kenapa memangnya?” tanya bunda Oik bingung.
            Cakka terlihat berpikir sebentar, mencari alasan yang pas. “Cakka mau kasih kejutan aja ke Oik, Tante. Iya. Kan, Oik belum tahu kalau Cakka balik kesini.”
            “Oh,” Bunda Oik mengangguk mengiyakan. “Baiklah.”
            “Ya udah, Tante. Cakka susul ke sekolah aja. Permisi, Tante.” Bunda Oik mengangguk dan tersenyum.
            Cakka melangkah menuju mobilnya dengan –sedikit– kecewa. Setelah sekali lagi tersenyum pada Bunda Oik, Cakka melajukan kembali mobilnya menuju sekolah lamanya. Cakka menyemangati dirinya sendiri. Setelah ini pasti Cakka bisa bertemu dengan dia, dengan Oik.
            Dalam perjalanan, Cakka melewati sebuah restoran cepat saji. Mengingat Oik sudah berangkat pagi buta, pasti gadis itu belum sarapan. Tanpa pikir panjang, Cakka memasuki restoran itu. Cakka memesan sebuah big burger dan coffee melalui drive thru. Begitu selesai membayar, Cakka kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah lamanya.
            Sepuluh menit kemudian, Cakka sampai di depan bangunan sekolahnya. Karena gerbang yang ditutup, Cakka memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dengan menenteng makanan untuk Oik, Cakka menghampiri pos satpam di sudut gerbang sekolah.
            “Pak Aji?” sapa Cakka.
            Sang satpam –yang merasa namanya disebut– menengok kearah Cakka. “Lho, Mas Cakka?” serunya kaget.
            “Iya, Pak.”             Satpam itu bergerak untuk membukakan gerbang. “Sudah pulang dari Singa... Singa mana, Mas?”
            “Singapur, Pak,” Cakka menjawab pendek dengan tawa tertahan.
            “Iya, itu. Sudah pulang dari Singapur, Mas?” tanyanya.
            “Udah.” Cakka mengangguk. “Lagi ada persiapan untuk prom, ya?” tanya Cakka balik.
            “Iya, Mas. Panitianya lagi sibuk. Mau masuk, Mas?” tawar Pak Aji.
            “Eh? Ada Oik nggak, Pak?” tanya Cakka lagi.
            Pak Aji menggeleng sopan. “Nggak ada, Mas. Barusan aja Mbak Oik keluar berdua sama Mas Rio. Mau cari alat buat dekor, katanya.”
            “Oh, gitu..” Cakka menyimpan informasi itu rapi-rapi diotaknya. “Saya nggak jadi masuk, deh. Ini aja...” Cakka menyerahkan makanan yang tadi ia beli pada Pak Aji. “Titip buat Oik. Tadi dia beum sarapan, Pak.”
            “Oh, iya, iya.” Pak Aji menerimanya. “Dari Mas Cakka?”
            “Bukan! Bukan!” Cakka menggeleng cepat. “Bilang aja itu kiriman dari bundanya. Nggak usah bilang kalau saya yang nganterin kesini, Pak.”
            Pak Aji mengangguk mengerti. “Oke, Mas Cakka.”
            “Ya udah, saya balik dulu. Salam buat yang lain, Pak.”
            Dan dengan diantarkan Pak Aji hingga memasuki mobilnya, Cakka kembali meluncur meninggalkan bangunan sekolah lamanya. Kali ini, Cakka sudah benar-benar kecewa. Tetapi, seberapapun kecewanya ia, ia masih tetap harus bersemangat. Agar dapat bertemu dengan Oik. Ya.
            Usaha kedua bertemu dengan Oik: gagal.

**

            Rio mengemudikan motornya memasuki pelataran sekolah. Oik turun dari boncengan motor Rio dengan menenteng masing-masing satu tas plastik besar dikedua tangannya. Gadis itu menunggu Rio yang masih mematikan mesin motor.
            “Mbak Oik!”
            Oik menengok kearah sumber suara. Pak Aji sedang berlari-lari kecil kearahnya seraya membawa sebuah bungkusan–yang entah apa isinya.
            “Kenapa, Pak Aji?” tanya Oik dengan tersenyum tipis.
            Rio –yang baru saja selesai mematikan mesin motornya– segera bergabung dengan Oik dan Pak Aji yang berdiri berhadapan tak jauh dari tempat motornya diparkir. Melihat Oik yang kesusahan membawa dua tas plastik besar, Rio mengambil alih salah satunya.
            “Makasih, Yo,” kata Oik singkat. Rio hanya mengangguk.
            “Ini, Mbak Oik. Ada kiriman makanan.” Pak Aji menyerahkan sebuah bungkusan itu kepada Oik.
            Oik menerimanya dengan wajah bingung. Ia menengok pada Rio dan yang ditengok hanya menggeleng tak tahu. “Dari siapa, Pak? Saya nggak delivery, kok.”
            “Dari...” Pak Aji terlihat bingung untuk beberapa saat, Oik semakin mengerutkan dahinya. “Dari bundanya Mbak Oik. Tadi pagi ngantar kesini.”
            “Oh,” Oik mengangguk dan melihat isi bungkusan tersebut. Big burger dan coffee. “Nggak biasanya bunda beliin yang big gini porsinya,” gumam Oik.
            “Nganterinnya kesini tadi pagi. Tapi Mbak Oik sudah keburu keluar sama Mas Rio.” Pak Aji kembali bercicit.
            Oik mengangguk kembali seraya tersenyum. “Ya udah, makasih. Saya sama Rio ke dalem dulu, Pak.” Pak Aji mengangguk dan kembali ke posnya.
            Oik hanya mengangguk tak acuh pada bungkusan itu karena ia memang belum lapar–dari tadi pagi. Ia pun menyeret Rio untuk segera menuju taman belakang sekolah. Prom nite kali ini bernuansakan pesta kebun. Taman belakang sekolah pun disulap oleh para panitia menjadi taman teromantis abad ini.
            Keduanya berhenti melangkah karena dering ponsel Rio. Oik berhenti menarik lengan Rio karena cowok itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Oik dapat melihat Rio yang mendadak kaget begitu membaca tulisan yang tertera dilayar ponselnya.
            Rio mendongak menatap Oik dan memamerkan cengiran lebarnya. “Lo duluan aja, Ik.”
            “Oh, oke.” Oik mengangguk dan melenggang meninggalkan Rio. Samar-samar, ia mendengar suara Rio yang tengah berbicara via telepon–entah dengan siapa.
            “Ya, Kka?”

**

            Cakka memarkirkan mobil Elang di garasi rumah mereka. Selama lima jam penuh tadi, Cakka hanya berputar-putar di daerah Jakarta. Melepaskan kangennya pada kota ini, membeli berbagai makanan yang tak ia temui di Singapura, dan membeli seporsi martabak manis untuk Elang karena sudah merelakan –dengan terpaksa– mobilnya untuk ia pakai.
            Cakka turun dari mobil dengan tangan kiri menenteng martabak manis dan tangan kanan yang mengutak-atik ponsel. Ia baru saja teringat informasi penting yang diberikan Pak Aji tadi. Tanpa menunggu lama, ia menelepon Rio.
            “Halo? Rio?” sapa Cakka begitu telepon diangkat.
            “Ya, Kka?” suara Rio terdengar lebih berat ketimbang setahun lalu.
            “Apa kabar lo?” tanya Cakka sembari berjalan memasuki rumahnya.
            “Baik-baik aja, kok. Lo sendiri? Kapan balik dari Spore?”
            “Baik juga.” Cakka terkekeh pelan. “Ini juga gue udah di Jakarta, woy!”
            “Serius lo?” Rio terdengar kaget.
            “Serius!” Cakka mengalihkan pandangannya sejenak pada sesosok wanita yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. Mamanya. “Tadi pagi gue ke sekolah. Ternyata elo lagi keluar sama... Oik.”
            “Eh? Iya. Eh, tapi gue sama Oik nggak ada apa-apa, kok. Swear!” Cakka yakin Rio sedang panik sendiri disana.
            Cakka berjalan menuju ruang keluarga dan tak menghiraukan mamanya yang sedang berceramah panjang-lebar karena ulahnya tadi pagi. “Apaan, sih, Yo? Nggak usah panik begitu, kali! Biasa aja. Gue sama Oik juga udah... putus.”
            “Iya, sih. Gue denger-denger juga, lo sekarang sama Shilla. Iya, Kka?”
            Cakka mengerutkan keningnya. “Kata siapa?”
            “Kata Shilla sendiri. Kalian udah berapa bulan emang?” tanya Rio blak-blakan.
            “Gila lo! Gue nggak jadian sama dia, Yo. Ngarang banget tuh orang.” Cakka menemukan Elang sedang menonton televisi. Ia meletakkan bungkusan berisi martabak manis itu dipangkuan Elang, juga dengan kunci mobilnya.
            “Lah? Gue harus percaya sama elo apa sama Shilla, nih? Seantero sekolah juga tahunya elo sama Shilla sekarang.” Rio mengungkapkan fakta yang dapat membuat Cakka mencekik Shilla saat itu juga.
            “Thanks, Kka!” seru Elang dari ruang keluarga.
            Cakka menengok kearahnya sejenak dan mengangkat tangan kirinya, pertanda mengerti. Cakka kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
            “Ya percaya sama gue, dong! Elo temen gue, kan? Bukan temen Shilla, kan?” Cakka mendadak sewot karenanya.
            “Gue juga temen Shilla, Kka.” Rio berkata dengan polos diujung sana.
            “Rese lo!” Cakka dapat mendengar Rio yang tengah terbahak-bahak. “Udah, udah. Lo bisa bantu gue nggak?”

**

            Oik berhenti di ujung koridor yang mengarah menuju taman. Sebuah panggung kecil di utara taman sudah hampir jadi. Backdrop pun sudah tinggal sedikit lagi dihias. Sebuah layar proyektor yang nantinya akan menampilkan perjalanan mereka selama tiga tahun sudah terpasang di samping panggung. Para anggota sie dokumentasi sedang berkumpul dibawah rimbunnya pohon akasia untuk mengedit video.
            Oik menghampiri Ify dan Sivia yang tengah menata meja dan kursi di depan panggung. Sudah disediakan lima puluh meja bundar dengan enam kursi yang mengitari masing-masing. Taplak meja dan kain pembungkus kursi dibuat dengan warna senada, merah marun.
            “Udah beres semua?” tanya Oik pada keduanya, ia meletakkan belanjaannya dan Rio diatas meja.
            Sivia melirik sekelilingnya. “Seperti yang lo lihat. Ini meja terakhir yang gue sama Ify dekor. Mungkin abis ini kita berdua mau ngedekor meja registrasi di ujung koridor.”
            “Iya.” Ify mengangguk. “Lo bantuin yang lainnya aja, Ik. Gue sama Sivia udah hampir kelar, kok.”
            “Oke.” Oik mengangguk mengerti.
            Setelah Sivia dan Ify selesai mendekor meja terakhir, keduanya bergegas menuju ujung koridor. Seperangkat meja registrasi sudah diletakkan disana. Keduanya hanya perlu mendekorasi agar tampak lebih manis. Oik pun melangkah menuju kerumunan panitia sie perlengkapan yang sedang merapikan area dancefloor.
            Di samping kiri panggung, disediakan sebuah meja disc jokey. Area barat taman pun sudah disulap menjadi dance floor. Sie acara menambahkan sub-acara pesta dansa pada prom kali ini.
            Oik sedang berbincang dengan Kiki, Lintar, dan Rizky ketika Rio datang menghampirinya. Rio –sebagai ketua pelaksana yang masih jobless– pun memutuskan untuk membantu sie perlengkapan.             “Udah pada oke semua? Atau masih ada yang kurang?” tanya Oik pada Kiki–koordinator sie perlengkapan.
            “Nggak ada, sih, Ik.” Kiki menggeleng dengan wajah lelah. “Tapi sie acara minta yang aneh-aneh.”
            “Aneh-aneh apanya?” sahut Oik langsung.
            “Si Shilla tadi SMS gue, minta tenda kerucut untuk basecamp guest star.” Kiki mengangkat bahunya tak mengerti.
            “Apa?” Oik berseru nyaring. “Bukannya gue udah bilang kalau basecamp panitia itu di Sekretariat OSIS aja? Kalian semua juga udah setuju, kan? Lagipula Sekretariat OSIS nggak seberapa jauh dari panggung, adem juga karena udah ada AC. Jadi kita nggak perlu buang-buang duit lagi untuk sewa itu semua.”
            “Sabar, Ik.” Rio menepuk-nepuk bahu Oik pelan.
            “Nggak bisa gitu, Yo. Itu sama aja buang-buang duit. Pengeluaran bisa membengkak. Emang dia pikir duit tinggal metik aja dari pohon?!” semprot Oik.
            “Ketua panitia nggak boleh gampang emosi.” Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, mendramatisir.
            “Gue perlu ngomong, nih, sama Shilla kalau gini caranya!” gumam Oik.
            Rio menoel bahu Oik dan melirik ujung koridor. “Tuh, si Shilla baru dateng.”
            “Keterlaluan jam segini baru dateng.” Oik menghampiri Shilla dengan wajah ditekuk.
            Keduanya terlibat diskusi –adu mulut, lebih tepatnya– panjang. Shilla tetap pada pendiriannya soal tenda kerucut dan AC portable sedangkan Oik ngotot menolaknya. Adu mulut itu berakhir setelah lima belas menit. Shilla harus mengalah jika tidak ingin dikeluarkan dari kepanitiaan.
            “Waktunya makan siang!” Acha dan Aren berteriak nyaring dari bawah pohon akasia. Keduanya meletakkan beberapa bungkusan makan siang untuk para panitia disana.
            Seluruh panitia pun berbondong-bondong menyerbu menu makan siang mereka. Seluruh panitia duduk melingkar dibawah pohon dan makan bersama. Oik melihat mereka semua dari jauh dan tersenyum tipis.
            “Gimana, Ik?” tanya Zahra.
            “Eh?” Oik terkesiap. Ia kembali membaca deretan huruf dihadapannya. “Boleh, sih. Tapi nggak efisien aja. Coba dirancang ulang aja susunan acaranya setelah makan siang. Ntar gue bantu.”
            Zahra mengangguk. “Berdua aja?” tanyanya.
            “Ya nggak, dong. Sie acara, kan, nggak cuman elo. Shilla, Febby, sama Zevana?” seru Oik.
            “Dari tadi jug ague doang, kali, Ik, yang ngerjain ini. Makanya nggak selesai-selesai.” Zahra menggerutu pelan.
            “Mereka bertiga pada kemana?” tanya Oik.
            “Shilla, seperti yang lo tahu, baru dateng. Katanya juga ntar sekitar jam dua dia mau balik pulang bentar buat ganti baju. Febby sama Zevana ngebantu anak dokumentasi bikin video.”
            Oik menggelengkan kepalanya sebal. “Ya udah, ntar biar gue tarik tuh anak tiga buat ngebantu elo.”
            Zahra pun berterima kasih pada Oik dan keduanya berjalan menghampiri panitia-panitia yang lain untuk makan siang bersama.

**

            Setelah makan malam, Cakka bergegas melajukan motornya menuju sekolah. Semoga saja kali ini ia dapat bertemu dengan Oik. Ia juga sudah membawakan Oik seporsi nasi uduk buatan mamanya.
            Begitu sampai di depan sekolahnya, Cakka mengernyit heran. Sekolahnya sepi sekali. Mengingat prom yang akan diadakan di taman belakang sekolah, Cakka memaklumi keadaan gedung utama yang sesepi ini.
            Cakka menuruni motornya dan berjalan menghampiri pos satpam. Pak Aji sedang menonton televisi. Cakka mengetuk pintu pos satpam sehingga Pak Aji menyadari kehadirannya dan bergerak menghampirinya.
            “Eh, Mas Cakka lagi. Kenapa, Mas?” tanya Pak Aji.
            “Ini.. Kok sepi, ya, Pak?” tanya Cakka, kepalanya menengok ke segala penjuru gedung utama sekolah.
            “Ya namanya juga sudah malem, Mas.” Pak Aji menjawab sekenanya.
            “Nggak, maksud saya.. Panitia prom. Kemana semua, Pak?”
            “Oh, itu. Sudah pada pulang, Mas. Mas Cakka nyari panitia prom apa nyari Mbak Oik?” goda Pak Aji.
            Cakka tersenyum malu-malu. “Nyari Oik, Pak. Kok udah pulang? Bukannya biasanya baru pada pulang sekitar jam sebelas?”
            “Nggak tahu juga, Mas Cakka. Tapi tadi Mbak Oik bilang persiapannya sudah selesai semua, makanya sudah pada pulang. Tapi Mbak Oik, Mbak Acha, sama Mbak Aren tadi ke tempat katering dulu, katanya. Mau fiksasi makanan untuk prom.”
            “Oh,” Cakka menatap bungkusan yang ia bawa dengan kecewa.
            “Kenapa toh, Mas Cakka?” tanya Pak Aji lagi.
            “Nggak, nggak apa-apa. Ini buat Pak Aji aja, deh.” Cakka menyerahkan bungkusan nasi uduk itu kepada Pak Aji.
            “Wah, makasih, Mas.” Pak Aji menerimanya dengan senyum mengembang.
            Lalu Cakka pun pamit untuk pulang. Ia mengendarai motornya dengan perasaan campur aduk. Sudah tiga kali ia mencoba untuk menemui Oik dan... gagal. Semesta sedang bersekongkol untuk itu. Ya, Cakka yakin.

**

            Oik menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia melirik jam yang tergantung didinding kamarnya. Baru pukul tujuh lebih sedikit dan Oik sudah siap dengan piyama tidurnya. Oik benar-benar lelah hari ini.
            Oik tiba di rumah selepas maghrib. Ia diantarkan oleh Acha dengan mobilnya. Terlebih dahulu Acha mengantarkan Aren. Ketiganya baru saja fiksasi mengenai makanan untuk prom besok. Begitu sampai, Oik langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah sholat, ia pun tergeletak diranjang.
            Matanya menatap langit-langit kamar. Lampu utama kamar telah ia matikan. Sebagai gantinya, dua buah lampu nightstand dikanan dan kiri ranjangnya ia nyalakan. Cahaya temaramnya membuat Oik semakin mengantuk.
            Lalu, tiba-tiba saja, Oik teringat perkataan Shilla tadi siang. Tepat pukul dua ketika ia berpamitan akan pulang sebentar.
            “Temen-temen, gue balik bentar, ya! Mau ke rumah Cakka, nih. Nemenin dia makan siang. Abis itu gue balik sini lagi, kok!”
            Jadi, Cakka sudah kembali ke Jakarta?
            Jadi, Cakka sekarang memang berpacaran dengan Shilla?
            Jadi, orang pertama yang Cakka temui selain keuarganya adalah Shilla?
            Jadi, Cakka tidak ingat dengannya?
            Jadi, Cakka lebih mementingkan bertemu Shilla daripada dirinya?
            Jadi––,
            “Ya iya, lah! Shilla, kan, ceweknya Cakka!” seru Oik frustasi.
            Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan singkat dari Sivia. Oik segera membukanya dan membacanya.

From: Sivia
Gk ush d pkrin kta2 shllz td.
Jdoh gk kmn kok:-)

            Oik tersenyum tipis. Ia segera membalas pesan singkat Sivia tersebut.

To: Sivia
Ttp aj gw k pkran. Slh gk sih klo gw kgn dy?

            Begitu pesan singkat untuk Sivia terkirim, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan singkat baru dari Ify. Oik terkikik. Kedua sahabatnya ini memang yang paling mengerti dirinya. Pasti Ify mengatakan hal yang sama dengan Sivia.

From: Ify
Ik, ini gw lg sm Rio. Nyari bunga.
Mnrt lo, bgsny pk bunga lili apa mwar bwt buket utk prom queen?

            Oik terbengong-bengong membaca isi pesan singkat dari Ify. Perkiraannya meleset. Ia memutar bola matanya dengan jengah. Ia kira Ify akan mengatakan juga apa yang tadi dikatakan Sivia. Eh, ternyata...

To: Ify
Trsrh. Gw cpek.

            Oik segera memilih option send dan terkirimlah pesan singkat tersebut untuk Ify. Suhu kamarnya yang sejuk karena AC telah dinyalakan pun tak urung membuatnya semakin mengantuk. Oik pun lama-kelamaan terlelap, dengan dahi yang berkerut gelisah.
            Aku... kangen kamu, Kka.

**

            Dalam perjalanan pulang, Cakka teringat sesuatu. Bukankah tadi Pak Aji bilang bahwa seluruh panitia prom telah pulang–ya, walaupun Oik dan kedua temannya itu mampir ke tukang catering terlebih dahulu? Itu berarti, Oik langsung pulang setelah itu. Dan Cakka tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menemui Oik di rumahnya.
            Cakka pun memutar balik motornya untuk menuju kediaman Oik. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Cakka memasuki kompleks perumahan Oik yang telah sepi itu.
            Ia memarkirkan motornya di depan rumah Oik. Lampu taman, teras, dan ruang tamu masih menyala. Harapan Cakka untuk bertemu dengan Oik kian melambung tinggi. Segera saja ia memencet bel rumah Oik dengan tidak sabar.
            Bunda Oik keluar dari dalam. “Cakka lagi, ya?”
            “Iya, Tante.” Cakka tersenyum sopan.
            “Cari Oik, kan?” tanya Bunda Oik.
            Beliau membukakan pagar untuk Cakka, mempersilahkan Cakka masuk, kemudian berjalan beriringan menuju teras. Akhirnya Cakka dapat kembali menginjakkan kakinya lagi disini. Dan Cakka bersyukur untuk itu.
            “Iya, Tante.” Cakka tertawa pelan. “Tadi saya udah ke  sekolah, kali aja Oik masih disana. Eh, ternyata udah pulang. Makanya saya kemari, Tante.”
            “Tante panggilin dulu, ya. Yuk, masuk,” ajak beliau.
            “Nggak usah, Tante.” Cakka menggelengkan kepalanya. “Saya tunggu disini aja.”
            Bunda Oik pun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam. Cakka sendiri segera duduk disalah satu kursi yang terletak di sudut teras. Tak seberapa lama menunggu, bunda Oik keluar dengan raut wajah meminta maaf.
            “Aduh, Cakka.. Oiknya udah tidur. Mau dibangunin aja atau gimana?”
            Cakka segera berdiri dan tersenyum kikuk. “Wah, udah tidur, Tante? Nggak usah dibangunin, deh. Pasti Oik capek. Besok saya kesini lagi aja, deh, Tante.”
            “Serius nggak usah Tante bangunin aja? Oik barusan, kok, tidurnya.”
            Cakka kembali menggeleng. “Nggak usah, Tante. Kasihan Oiknya nanti. Kalau gitu, saya pulang dulu, Tante.” Cakka pun bergerak untuk mencium punggung tangan bunda Oik.
            “Iya. Hati-hati, ya. Maaf, Cakka, Oiknya udah tidur.”
            Bunda Oik mengantarkan Cakka hingga pagar rumahnya. Setelah menyalakan mesin motornya dan memakai helm, Cakka melajukan motornya menuju rumahnya. Dalam perjalanan, ia kembali merasa kecewa. Usaha keempat untuk menemui Oik pun kembali gagal.

**

            Cakka terbangun ketika matahari tengah berada dipuncak tahtanya. Dengan mata sedikit terpejam, ia mengambil ponselnya dan melihat jam. Matanya mendadak terbelalak lebar ketika melihat pukul berapa saat ini.
            Ia bergegas mengambil pakaian dengan sembarangan dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak sampai lima menit kemudian, Cakka sudah keluar. Ia nampak berantakan dan ia tidak peduli dengan itu.
            Dalam hati ia masih mengutuk Elang yang semalam mengajaknya bermain playstation hingga dini hari. Jadilah ia baru bangun tengah hari begini. Ia bertemu dengan mamanya di ruang keluarga.
            “Baru bangun, Kka?” tanya mamanya.
            Cakka hanya mengangguk sambil berlalu. “Iya, Ma.”
            “Ada titipan dari Rio, tuh. Mama taruh dinightstand kamu.” Kata mamanya.
            Cakka kembali mengangguk. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Ia melihat sebuah bungkusan diatas nightstand. Cakka tersenyum miring dan kembali keluar. Ia berjalan menuju garasi lalu menyalakan mesin motornya, melaju menuju rumah Oik.
            Begitu sampai di depan rumah Oik, rupanya bunda Oik sedang menyiram tanaman di halaman. Cakka melepas helmnya lalu turun dari motor. Ia melangkah menuju pagar rumah Oik. Tak lupa, ia mengetuk-ketukkan jarinya pada pagar rumah Oik untuk menarik perhatian bunda Oik.
            “Tante Lani,” panggil Cakka pada bunda Oik.
            Bunda Oik menengok kearah Cakka dan tersenyum. Beliau berjingkat untuk mematikan kran. Setelah meletakkan selang begitu saja diatas rerumputan, beliau berjalan menghampiri Cakka seraya tersenyum.
            “Oiknya ada, Tante?” tanya Cakka.
            “Waduh,” bunda Oik tertawa pelan. “Lagi-lagi kamu dateng disaat yang nggak tepat, Kka.”
            “Memangnya kenapa, Tante?” tanya Cakka bingung, perasaannya mulai tak enak.
            “Oik baru aja dijemput Sivia. Mau ke rumah Ify. Dandan bareng, nyalon bareng, terus berangkat keprom.”
            Cakka menganggukkan kepalanya dengan lesu. Lagi-lagi ia gagal bertemu dengan Oik.
            “Tante juga lupa tadi nggak ngasih tahu Oik kalau semalem kamu kesini nyariin dia.” Bunda Oik tersenyum meminta maaf pada Cakka.
            “Iya. Nggak apa-apa, Tante. Saya... permisi dulu, Tante.” Cakka kembali mengangguk untuk berpamitan dan berlalu dari rumah Oik.
            Gagal untuk yang kelima kalinya.

**

            Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore ketika rapat akbar prom baru saja selesai. Seluruh panitia keluar dari Laboratorium Fisika –tempat rapat akbar dilaksanakan– lalu standby pada posisi masing-masing.
            Sie perlengkapan mulai menata Sekretariat OSIS untuk basecamp guest star, beberapa anggota sie acara bersama sie transportasi bergerak menjemput guest star sedangkan sisanya berkoordinasi dengan MC, sie dokumentasi mengedit video untuk slide, sie konsumsi bersama waitress dari katering menata makanan kecil dan minuman pada meja di dekat dance floor sedangkan makanan utama dihidangkan disetiap meja bundar, lalu Oik dan Rio sebagai ketua panitia dan ketua pelaksana berlalu-lalang untuk membantu setiap sie yang kesusahan.
            Jarum jam terus berputar, waktu terus berjalan, hingga tak terasa sekarang sudah pukul enam petang. Meja registrasi mulai dibuka, dua orang panitia yang ditugaskan menjaga meja registrasi pun sudah siap di tempat. Seluruh panitia pun sudah memakai topeng masing-masing. Ini ide dari Oik. Garden partydengan menggunakan topeng.
            Melihat dua orang panitia –entah siapa namanya Oik tahu karena mereka menggunakan topeng juga– yang kewalahan menjaga meja pendaftaran, akhirnya Oik menyeret Rio untuk menghampiri sekaligus membantu.
            Registrasi dibuka selama tiga puluh menit. Selama tiga puluh menit itu, seluruh teman seangkatan Oik registrasi dengan menulis nama beserta kelas pada buku tamu. Seluruh undangan diwajibkan sudah memakai topeng masing-masing ketika memasuki area sekolah.
            Pukul enam lebih tiga puluh, registrasi ditutup. Dua orang panitia penjaga meja registrasi memasuki area prom lalu duduk dikursi yang masih kosong, entah dengan siapa. Oik dan Rio saling pandang lalu duduk juga pada salah satu meja disudut taman. Oik ingat betul dress yang dikenakan Ify dan Sivia dan ia yakin betul dua orang lainnya yang duduk satu meja dengannya adalah mereka berdua.
            Pukul tujuh tepat, acara dimulai. MC naik ke atas panggung untuk cuap-cuap beberapa menit. Lalu, Oik dipanggil. Ia memberikan sedikit sambutan sebagai ketua panitia.
            “Selamat malam, teman-teman.” Oik sedikit membungkuk untuk memberikan salam.
            “Malam,” koor seluruh teman-temannya.
            “Saya –sebagai ketua panitia prom– mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kedatangannya. Terima kasih juga karena nggak telat datengnya.” Oik tertawa kecil, begitupula teman-temannya yang lain. “Untung mempersingkat waktu, acara prom angkatan 2009-2013 resmi dimulai.” Oik mengambil sebuah gelas beserta sendok yang diserahkan MC lalu mengetukkan sendok pada gelas, simbolis acara telah dimulai. “Selamat menikmati makan malam.”
            Oik turun dari panggung, kembali menuju kursinya. Seluruh teman-temannya pun mulai menyantap makanan masing-masing. Mereka makan malam diiringi dengan alunan musik dari band-band adik kelas yang silih berganti menunjukkan selera musik masing-masing.
            Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Waktunya turun ke dancefloor!
            Seluruh undangan pun berbondong-bondong menuju dance floor. DJ yang sudah siap di samping panggung mulai menunjukkan kebolehannya. Musik berirama cepat mulai terdengar di seluruh penjuru taman. Seluruh undangan menari mengikuti irama.
            Setelah setengah jam, musik mendadak berhenti. Lampu menyorot kepada MC yang sudah berdiri di samping sang DJ. “Yak! Kita main, yuk, sekarang?!”
            Terdengar berbagai macam respons dari seluruh undangan. Sang MC sama sekali tidak menghiraukan keluhan mereka-mereka yang menggerutu karena musik dihentikan.
            “Jadi, permainannya gini. Gue bakalan sekongkol sama DJ. DJ bakalan nyalain musiknya lagi lalu ntar gue suruh berhenti sewaktu-sewaktu, semau gue. Selama musik masih nyala, kalian harus berpindah-pindah tempat dan begitu musik berhenti kalian harus stay di tempat itu. Gimana? Setuju?”
            “Setuju!” tanpa menunggu lama, seluruh undangan berkoor.
            “Oke. Mulai!”
            DJ kembali menyalakan musik. Hingar-bingarnya membuat seluruh orang di dance floor bergerak kesana-kemari.
            “Stop!” Dan dalam sesaat, musik pun berhenti.
            Oik berhenti bergerak. Ia berdiri di tengah-tengah dance floor, berhadapan dengan seorang lelaki yang ia tak tahu siapa–tentu saja karena lelaki itu menggunakan topeng.
            “Please welcome.. Our guest star! Abdul and The Coffee Theory!” sang MC berteriak heboh, membuat seluruh kepala menengok pada panggung.
            Lelaki itu membungkukkan punggungnya, mengulurkan tangan kanannya kepada Oik. “May I dance with you?”
            “Of course.” Oik tersenyum dan menyambut uluran tangan lelaki itu.
            Beberapa lampu mulai diredupkan. Lampu menyorot pada sosok guest star di atas panggung. Musik mulai mengalun pelan. Seluruh undangan mulai berdansa berpasangan. Begitu juga Oik dan lelaki itu.
            Abdul and The Coffee Theory membawakan sepuluh lagu. Dimulai dengan Aku Suka Caramu, lalu Kucinta Kau Lebih dari yang Kemarin, Tersenyumlah, Amazing You, Indah, Mulailah dengan Cinta, Loveable, Dunia Ini Indah, Beauty is You, dan ditutup dengan Happy Ending.
Kaulah yang pertama ingin kulihat
Saat mentari mulai bersinar
Kaulah yang terakhir ingin kulihat
Saat kupejamkan mata
            Oik benar-benar merasa waktu berhenti. Berdansa dengan lelaki di hadapannya ini begitu menyenangkan. Lelaki itu sangat piawai berdansa. Sampai-sampai Oik yang tidak pernah berdansa pun sanggup mengikuti irama karena bimbingannya.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik tertawa pelan. Entah sudah berapa kali ia tak sengaja menginjak kaki lelaki ini. Ia tersenyum meminta maaf pada lelaki itu dan lelaki itu hanya mengangguk memaklumi.
Kaulah yang pertama ingin kulihat
Saat mentari mulai bersinar
Kaulah yang terakhir ingin kulihat
Saat kupejamkan mata
            Lelaki itu mengangkat tangannya yang bertautan dengan tangan Oik, mempersilahkan Oik berputar seperti layaknya dansa pada film-film. Oik kembali tertawa kecil. Kali ini, ia berhasil tidak menginjak –lagi– kaki lelaki itu.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik menggelengkan kepalanya tak kentara. Ia menetralisir hatinya. Bagaimana mungkin jantungnya berdegup kencang seperti ini hanya karena berdansa berdansa dengan lelaki yang tak ia tahu? Tidak boleh. Ia kembali menggeleng. Ia bertekad akan tetap terus setia pada Cakka. Hingga lelaki itu menemuinya kembali, nanti.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oh, sial! Usaha penetralan perasaannya gagal. Dan itu karena Oik yang menyadari tangan kiri lelaki itu masih memeluk erat pinggangnya. Bulu kuduknya meremang, merasakan kepakan ribuan sayap kupu-kupu dalam perutnya.
Indah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku ‘kan selalu di sampingmu
Karena kamu happy endingku
            Oik menarik napasnya panjang-panjang. Satu hal lagi yang baru ia sadari. Ia familiar sekali dengan harumnya parfum ini. Oik merasa sesak napas seketika. Kepalanya berdenyut memikirkan siapa lelaki yang tengah berdansa dengannya kini.
            Musik mendadak berhenti, suara sang vokalis tak lagi terdengar, seluruh lampu meredup lalu mati total. Oik samar-samar mendengar pekikan kaget beberapa temannya.
            Kepalanya masih berdenyut-denyut hingga kedua tangan lelaki di hadapannya ini menangkup wajahnya. Entah siapa yang memulai duluan, keduanya mempersempit jarak yang memisahkan. Hingga, tiba-tiba saja, Oik merasakan sesuatu menempel pada bibirnya.
            “Yak! Waktunya pemilihan king dan queen prom!”
            Suara sang MC membuat keduanya melepaskan bibir masing-masing. Oik mendadak limbung. Untung saja, lengan lelaki itu menahannya. Lampu mulai menyala temaram, membuat Oik dapat melihat siluet lelaki itu.
            “Jadi, king dan queen kita malam ini adalah...” Gbukan drum terdengar nyaring, membuat seluruh orang berdegup jantungnya. Lampu utama mulai bergerak-gerak menyorot di dance floor.
            Lelaki itu melepaskan tangkupannya pada wajah Oik. Perlahan, ia membuka sedikit topengnya. Membiarkan Oik melihat wajahnya.
            Lampu berhenti menyorot pada... Oik dan lelaki itu.
            “Dan inilah king dan queen kita malam ini!” sang MC kembali berseru heboh dan Oik sama sekali tak menghiraukannya, matanya terpaku pada lelaki di hadapannya.
            Oik terkesiap begitu menyadari wajah siapa yang ada dibalik topeng.
            “Hei, Oik!” sapanya.
            “Cakka?”

**

            Semilir angin sore membuat lelaki berumur hampir tiga puluh tahun itu terkantuk-kantuk. Ia kembali berusaha memfokuskan matanya untuk membaca koran. Tangannya terulur ke samping, mengambil segelas teh hijau dan menyeruputnya.
            Dari balik korannya, ia dapat melihat seorang wanita yang sebaya dengannya tengah berjalan menghampirinya. Beberapa detik setelah itu, ia merasakan wanita itu telah duduk tepat di sampingnya. Kepala wanita itu bersandar pada bahunya.
            “Mereka nggak bisa diem banget,” keluh wanita itu.
            Lelaki itu terkekeh pelan. “Namanya juga masih kecil.” Tangan kanannya bergerak mengacak rambut wanita di sampingnya.
            “Cakka..” wanita itu mulai merengek memanggil nama sang lelaki, tangan kanannya menyentuh pipi lelaki itu dan menghadapkannya padanya.
            “Apa, sih, Oik?” tanya lelaki itu seraya mengangkat salah satu alisnya.
            Wanita itu tersenyum kecil lalu mengecup bibir lelaki di hadapannya.
            “Bundaaa! Dedek Oca nakal! Nggak mau gentian main ayunannya!” seru seorang bocah kecil.
            “Kakak Difa yang nakal, Ayah! Oca dipaksa berhenti main ayunan!” sebuah suara cempreng gadis kecil menyahut.
            Oik melepaskan bibirnya dari Cakka dan sedikit mendorong dada Cakka menjauh. Ia mengangkat tubuh Difa yang telah berada di hadapannya dan mendudukkannya dipangkuannya. Oik mencubit pipi bocah kecil itu dengan gemas.
            Tak ketinggalan, Oca –gadis kecil bersuara cempreng– langsung melompat kepangkuan Cakka dan memukul lengan Difa dengan sebal.
            “Eh, nggak boleh berantem!” kata Cakka. Ia meletakkan koran yang tadi ia baca dan memeluk gadis kecilnya.
            “Oca nggak boleh egois, dong. Mainnya gantian sama kakak. Ya?” Oik menepuk-nepuk puncak kepala Oca penuh sayang.
            Namanya juga anak kecil, kedua bocah itu kembali bertengkar karena masalah sepele. Cakka melirik Oik, wanita yang akan menghabiskan seluruh harinya dengannya. Tangan kanannya merangkul bahu Oik dan kembali menyadarkan kepala wanita itu pada pundaknya.
            Cakka berbisik ditelinga Oik, “Karena kamu happy endingku..”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS