Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label rio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rio. Tampilkan semua postingan

PHOTOGRAPHY IN LOVE [06]

            Sore hari yang cerah. Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua tengah duduk disebuah bangku dekat tempat bermain anak-anak. Gadis kecil itu masih mengenakan seragam sekolahnya dengan badge kelas 4 SD.
            Ia menengok ke samping. Adiknya –yang hanya berbeda satu tahun dengannya– rupanya tengah bermain perosotan dengan teman-temannya. Ia mendengus kesal karena tak diajak bermain bersama dengan adiknya.
            “Halo!”
            Gadis itu menengok cepat ke samping dan menemukan seorang lelaki kecil seumuran dengannya telah duduk manis. Gigi ompong lelaki itu membuat sang gadis kecil terkekeh pelan. Tiba-tiba saja rasa kesal kepada adiknya hilang entah kemana.
            “Kamu dari mana aja, sih?” tanya gadis kecil itu dengan sedikit merajuk. “Aku nggak punya temen, tau!”
            “Tadi Mama bilang nggak boleh kesini dulu. Disuruh nunggu sebentar. Mama lagi bikin ini,” Lelaki kecil itu menyodorkan sebuah kotak makan pada gadis di sampingnya. “Mama bikin buat kamu.”
            Gadis kecil itu meliriknya sekilas dan tanpa basa-basi membuka kotak makan yang telah berada dalam genggamannya. “Sandwich isi tuna?!” pekiknya gembira.
            “Iya.” Lelaki kecil di sampingnya mengangguk.
            Dengan lahap, disantapnya sandwich-sandwich tersebut. “Kamu mau main perosotan juga?” tanya gadis kecil itu dengan mulut penuh makanan.
            Lelaki itu menggeleng lesu. “Nggak, deh. Kayaknya habis ini hujan.”
            Sang gadis kecil mendongak menatap langit. Gumpalan awan kelabu menggantung diatas sana. “Oh, iya! Lagi mendung, ya!” serunya dengan suara cempreng khas anak kecil.
            “Gimana kalau kita pulang aja? Nanti kita kehujanan, lho!” Wajah sang lelaki kecil mendadak panik membayangkan ia aka terserang flu berhari-hari hanya karena kehujanan. Seperti beberapa minggu yang lalu.
            “Tapi adikku gimana? Dia masih main perosotan sama temen-temennya,” gadis kecil itu mengedik pada sekumpulan anak kecil lainnya yang tengah mengantri bermain perosotan.
            “Udah, biarin aja. Biarin mereka nanti pilek soalnya kehujanan!” sungut sang lelaki kecil.
            “Yang udah, deh,” Sang gadis kecil hanya mengangguk pasrah.
            Keduanya pun bangkit berdiri lalu menyusuri jalanan taman dalam diam. Sang gadis kecil menyantap sandwich isi tunanya sambil berjalan. Tangan kirinya menggenggam erat sebuah kotak makan dan tangan kanannya menggenggam sandwich isi tuna yang sudah tinggal setengah bagian.
            Begitu sampai di pinggir jalan, keduanya diam sejenak. Melihat gadis kecil berambut pendek yang tengah gelisah di seberang jalan sana, keduanya saling pandang bingung. Gadis di seberang jalan berancang-ancang untuk menyebrang.
            “Hey! Kamu kenapa?” tanya sang lelaki kecil.
            Gadis kecil di seberang jalan menatap sang lelaki kecil dengan sedih. “Kalungku hilang. Mungkin jatuh.” Suaranya bergetar, seperti ingin menangis.
            “Jatuh dimana?” tanya sang gadis kecil yang baru saja menelan bulat-bulat sandwich isi tuna yang belum sempat ia kunyah.
            “Nggak tahu,” gadis kecil berambut pendek itu merajuk, seperti ingin menangis. Ia kembali menengok ke kanan dan ke kiri, mengambil ancang-ancang untuk menyebrang.
            “Eh! Kamu mau nyebrang?” tanya sang lelaki kecil. Begitu gadis di seberang sana mengangguk, ia tersenyum senang dan beralih pada gadis kecil di sampingnya. “Aku mau bantu dia nyebrang dulu, ya! Kamu tunggu sini aja!”
            Gadis kecil di sampingnya menggenggam kuat-kuat kotak makan. “Hati-hati ketabrak motor atau mobil, ya!”
            Lalu lelaki kecil itu tersenyum mantap dan berlari ke tengah jalan raya. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar ke samping, menyuruh segala macam kendaraan untuk berhenti sejenak. Begitu melihat sudah tak ada lagi kendaraan yang akan melintas, ia menengok pada gadis kecil berambut pendek dan memberikan kode agar segera menyebrang.
            Dengan takut-takut, gadis kecil berambut pendek itu menyebrang jalan. Begitu ia telah sampai di seberang, ia melambaikan tangan pada sang lelaki kecil. Lelaki kecil itu berlari kencang menuju kearah dua gadis kecil.
            “Debo awaaaaaassss!!!!!” pekik sang gadis kecil yang tengah menggenggam sebuah kotak makanan.
            BRAK!

**

            Cakka dan Shilla baru saja tiba di pelataran Oicagraph. Keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke dalam galeri. Ada Alvin, Oik, Rio, dan Ify yang tengah berkumpul di meja Ify. Aroma mie kuah langsung menyergap hidung mereka.
            Suara derap langkah keduanya menarik perhatian Ify. “Hay!” sapanya.
            Cakka dan Shilla mengangguk sopan dan segera menghampiri keempatnya. Rupanya Alvin dan Oik tengah makan semangkuk berdua. Hal itu membuat Cakka menautkan alisnya, mengingat apa yang terjadi semalam di apartemen Oik.
            “Kita duduk mana, nih?” tanya Shilla dengan tersenyum kikuk. Pasalnya, dua bangku yang biasanya diperuntukkan pada tamu di depan meja Ify kini tengah didudukki Alvin dan Oik.
            “Oh, iya. Bentar, Shil. Gue sama Alvin pindah aja.” Oik segera meletakkan sendok yang digenggamnya diatas mangkuk dan hendak berdiri jika saja suara Rio tidak menahannya.
            “Nggak usah! Lo duduk aja, Ik. Pamali makan sambil berdiri. Biar gue ambilin kursi di belakang.”
            Beberapa detik setelahnya, Rio datang dengan membawa dua buah kursi plastik yang ia ambil dari dapur Oicagraph. Ia meletakkannya di samping meja Ify. Cakka dan Shilla mengangguk berterima kasih dan segera duduk.
            “Makan dulu, Kka, Shill,” seru Alvin. Ia mengangkat mangkuknya sedikit, menawarkan pada Cakka dan Shilla. “Mau? Biar gue suruh office boy bikin.”
            “Nggak usah. Makasih.” Tolak Shilla halus. Ia harus mengontrol asupan makanannya jika ingin suara indahnya tetap terkontrol. Ia hanya makan makanan rumahan yang dimasak oleh Mama atau pembantunya saja, atau –sekali-kali– makanan resto mahal.
            Cakka tertarik untuk bertanya makanan apa yang sedang Alvin dan Oik santap ketika melihat keduanya sangat menikmati makanan tersebut. “Makan apa, Vin, Ik?”
            “Mie kuah,” jawab Oik singkat.
            Cakka kembali mendapatkan sentakan keras dalam hatinya. Pikirannya kembali berkecamuk. Satu lagi fakta yang yang mengganggu pikirannya. Apalagi ini?
            Mie kuah? Lala sama sekali nggak suka mie instant, apalagi mie kuah.

**

RADAR BANDUNG ––– 28 September 2008
REM BLONG, YAARIS MASUK JURANG

Satu Penumpang Tewas, Empat Luka

     BANDUNG – Kecelakaan maut terjadi di Ciburial, Kabupaten Bandung, kemarin (27/9). Sebuah Toyota Yaaris bernomor polisi B 5413 AI yang berisi empat penumpang dan satu sopir masuk ke dalam jurang sedalam 20 meter karena remnya blong. Akibat kecelakaan itu, satu penumpang meninggal di lokasi.
     Korban tewas adalah Nur Wachid Hidayat, 18. Sementara itu, empat penumpang mobil lainnya selamat. Yakni, Dadang Iskandar (sopir) beserta ketiga penumpang lainnya yang belum diketahui identitasnya. Semua adalah warga Bandung.
     Radar Bandung (Jawa Pos Group) melaporkan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.00. Udin, salah seorang saksi, mengungkapkan, kecelakaan bermula saat Yaaris melaju dari arah utara. Sesampai di jalan berkelok turun, kecepatan mobil tidak menurun. Tak ayal, mobil pun jatuh ke jurang karena oleng.
     Camat setempat menyatakan, pihaknya prihatin atas kecelakaan tersebut. Apalagi, itu bukan yang pertama. “Sudah lebih dari tiga kali terjadi kecelakaan di jalan berkelok ini sejak 2005.” ujarnya.

**

            Alvin dan Oik tengah berjalan menuju lobby apartemen ketika senja menjelang. Mereka baru saja selesai membantu Rio dalam proses editting foto pukul lima tadi. Dengan lesu, keduanya jalan beriringan menuju lift.
            “Mau makan malam di luar atau aku masakin?” tanya Oik sambil melirik Alvin.
            Alvin merangkul pinggang Oik dan tersenyum tipis. “Kamu aja yang masak. Udah lama kamu nggak masak buat aku.”
            “Oke,” Oik mengedikkan bahunya cuek. “Kamu mau makan apa? Biar aku ke minimarket dulu.”
            Keduanya berhenti di depan lift. Alvin melepaskan rangkulannya dan memencet tombol panah ke atas. Ia menatap anga empat di atas pintu lift. Menyadari lift masih berada di lantai empat, Alvin kembali menghadap Oik.
            “Terserah kamu aja,” ujarnya sambil memencet pelan ujung hidup Oik.
            Oik tersenyum malu-malu dan menyingkirkan telunjuk Alvin yang masih bertengger di telunjuknya. “Nasi goreng jamur aja, ya? Aku lagi malas masak yang macem-macem.”
            Alvin mengangguk.
            Kemudian pintu lift terbuka. Alvin mengusap puncak kepala Oik sejenak dan mencium sekilas kening gadis itu dan masuk ke dalam lift. Oik masih terbengong-bengong di tempatnya dengan wajah bersemu merah.
            “Alvin! Jahil banget?!” seru Oik dengan suara tertahan, membuat Alvin terkekeh.
            Pintu lift mulai tertutup. Oik seakan teringat sesuatu. Ia segera menyelipkan tangan kirinya pada ruang sisa pintu lift, mencegah agar pintu lift tak tertutup sekarang. Sedangkan tangan kanannya membongkar isi tas, mencari-cari sesuatu.
            “Ngapain, Ik?” tanya Alvin bingung.
            Oik bergumam tak jelas. Lalu, ia menyodorkan kartu apartemennya pada Alvin. “Kamu langsung ke apartemenku aja. Buatkan aku coklat hangat, ya.”
            Alvin mengangguk mengerti dan menerima kartu apartemen Oik. Pintu lift pun tertutup. Alvin seorang diri berada dalam lift. Ia menimang-nimang kartu apartemen Oik sambil bersiul. Begitu lift tiba di lantai apartemennya dan Oik, Alvin melangkah keluar.
            Lelaki bermata sipit itu melangkah menyusuri koridor apartemen. Pada persimpangan jalan, Alvin berbelok kanan. Ia berhenti pada pintu apartemen keempat di sebelah kiri–apartemen Oik. Setelah menempelkan kartu apartemen Oik pada sensor pintu, ia masuk ke dalam.
            Alvin segera menuju pantry. Ia menemukan sebuah teko untuk memanaskan air tergeletak diatas kompor. Ia segera mengambilnya dan berjalan menuju dispenser. Setelah mengisinya hingga penuh, Alvin kembali meletakkannya diatas kompor dan menyalakan kompr tersebut.
            Tiba-tiba saja ponsel dalam saku celananya bergetar. Alvin berdecak kesal begitu melihat notifikasi bahwa baterai ponselnya telah habis. Dengan menggerutu, ia berjalan ke kamar Oik. Dinyalakannya lampu tidur pada night stand dan ia duduk dibibir ranjang Oik.
            Alvin membuka laci night stand dan mencari-cari charger ponsel Oik, meminjamnya. Begitu menemukan benda yang dicari, Alvin segera mengambilnya. Ketika ia hendak mematikan lampu tidur Oik, matanya terantuk pada sebuah wristband berwarna biru yang tergeletak diatas night stand. Tangan Alvin terulur untuk mengambilnya.
            Setelah mematikan night stand, Alvin segera keluar dari kamar Oik. Begitu ia akan melangkahkan kaki menuju dapur, terdengar ketukan pintu. Alvin memutar tubuhnya dan membukakan pintu. Ia mendapati Oik yang tengah membawa sebuah tas plastik kecil telah menatapnya.
            “Hay,” sapanya.
            “Kayak nggak ketemu berhari-hari aja, Vin,” ejek Oik. Gadis itu lalu melangkah menuju pantry, Alvin mengekor di belakangnya.
            “Aku pinjem charger kamu, Ik,” kata Alvin begitu keduanya telah sampai di pantry. Alvin duduk dimeja counter, menunjukkan charger yang tadi telah diambilnya pada Oik yang tengah mengeluarkan isi tas plastik tersebut.
            “Ya,” Oik menjawab singkat seraya mengangguk.
            Alvin lalu bangkit dan men-charge baterai ponselnya di ruang tengah apartemen Oik. Setelah itu, ia kembali ke pantry dan menemukan Oik yang tengah memanaskan wajan penggorengan.
            Alvin bergerak ke samping Oik. Lelaki itu mematikan kompor dan membawa membawa teko panas itu ke meja counter. Ia telah menyiapkan dua cangkir berisikan bubuk coklat sebelumnya. Dengan berjingkat karena takut terkena tetesan air panas, Alvin menuangkannya pada kedua cangkir itu.
            Sepuluh menit kemudian, Alvin dan Oik telah duduk berhadapan dimeja counter. Dua piring nasi goreng jamur dan dua cangkir coklat hangat telah menunggu untuk disantap. Alvin dan Oik berdoa terlebih dahulu baru menyantap makan malam mereka.
            “Vin, besok bisa temani aku?” tanya Oik sambil mengunyah nasi goreng jamurnya.
            “Kemana?” tanya Alvin balik.
            “Jenguk dia,” lirih Oik. “Apa aku naik taxi aja, ya?”
            Alvin meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Oik dingin. “Nggak. Nggak boleh. Kamu nggak boleh pergi jauh-jauh tanpa aku. Aku nggak mau kejadian lima tahun lalu terulang lagi.”
            “Alvin,” Oik merajuk dengan wajah sedihnya. “Ayolah..”
            “Besok lusa aja, Ik. Kamu tahu sendiri aku besok ada pemotretan buat year book SMA Karitas.” Alvin kembali menyantap nasi goreng buatan Oik.
            “Aku maunya besok, Vin. Aku udah kangen dia.” Oik tetap bersikeras.
            “Rio mungkin besok nggak ada jadwal editting foto. Biar aku telepon dia.” Alvin bangkit, hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio.
            “Nggak usah,” Oik juga ikut bangkit. Ia kembali mendudukkan Alvin dikursinya. “Aku nggak mau ganggu dia dan Ify. Biar aku tanya ke tetangga sebelah aja. Siapa tahu besok mereka free.” Oik mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan keluar apartemen, menuju apartemen si lima sekawan.
            Baru saja Oik mengetuk pintu apartemen sang lima sekawan, sudah terdengar teriakan untuk menunggu sebentar dari dalam. Oik terkikik geli mendengar suara cempreng Ray yang tak ubahnya anak kecil.
            “Hay!” sapa Ray begitu ia melihat Oik tengah berdiri di depannya. “Masuk, masuk..” ajaknya. Ia mundur selangkah dan mempersilahkan Oik masuk. Begitu Oik masuk, ia langsung menutup kembali pintu apartemennya.
            “Halo, Oik!” sapa empat lelaki lainnya yang tengah menonton DVD di ruang tengah.
            Oik melambaikan tangan pada mereka dan duduk diatas sofa, di antara Gabriel dan Deva. “Lagi nonton apa?” tanyanya.
            “The Bay, Ik,” jawab Ozy sambil melahap popcorn-nya.
            “Mau minta tolong apa, Ik?” tanya Patton tanpa mengalihkan pandangannya dari TV plasma yang sedang menayangkan film keluaran terbaru tersebut.
            “Tahu aja lo kalau gue mau minta tolong,” ujar Oik seraya tertawa malu.
            “Karena kita berlima udah sehati sama lo,” sambung Deva lalu nyengir lebar.
            “Besok ada yang free ga?” tanya Oik langsung. Ia menatap Ray, Deva, Ozy, Patton dan Gabriel bergantian. Begitu matanya bertemu dengan mata Gabriel, Oik menelan ludah entah karena apa.
            “Wah, gue besok ada kuliah, Ik. Sorry, sorry..” Patton melirik Oik sekilas sambil tersenyum meminta maaf. Besok ia harus menjalani UAS di kampusnya.
            “Gue UAS besok, Ik,” lanjut Deva. “Mungkin lo bisa minta tolong Gabriel, Ozy, atau Ray. Kayaknya tiga orang itu besok free.”
            “Besok gue kerja. Cadangan cuti gue udah habis buat tahun ini.” Ozy tersenyum memaksa. Ia menggaruk tengkuknya begitu ingat bahwa cadangan cutinya telah habis.
            “Besok gue sama Gabriel free kok, Ik.” Ujar Ray yang baru saja kembali dari pantry. Ia menyerahkan tiga bungkus popcorn pada Ozy. “Mau minta tolong apa memangnya?”
            “Bisa anter gue ke Serpong?”
            Tiba-tiba saja Gabriel yang tengah mengunyah popcorn terbatuk-batuk. Ia melirik Oik dengan pandangan yang sulit diartikan lalu segera meneguk colanya. “Serpong? Untuk apa?”
            “Jenguk... saudara,” lirih gadis itu. “Pakai mobil gue. Salah satu dari kalian yang nyetir. Bisa? Alvin nggak ngebolehin gue keluar jauh-jauh sendirian dan besok dia ada jadwal motret.” Oik menatap Ray dan Gabriel dengan wajah memelas.
            “Oke, deh!” Ray menyanggupi sambil mengangguk mantap. “Besok berangkat jam berapa, Oik?”

**

            “Selamat malam. RS Khusus Jiwa Dharma Graha. Ada yang bisa dibantu?”
            “Halo, Sayang.”
            “Kamu? Astaga! Untung bukan suster atau dokter lain yang angkat!”
            “Karena aku tahu kalau pasti kamu yang bakal angkat teleponnya.”
            “Untuk apa malam-malam begini telepon?”
            “Aku kangen, Sayang. Besok ada jadwal praktek?”
            “Besok aku dinas siang. Mau ketemu?”
            “Boleh. Jam tujuh pagi ya, Sayang?”
            “Oke. Di tempat biasa, kan?”
            “Iya. Dandan yang cantik, ya. Aku ada kejutan buat kamu.”
            “Apa? Tiket untuk pergi ke Paris berdua?”
            “Aku serius, Sayang.”
            “Oke, oke.. Eh, Sayang, udahan dulu, ya. Ada pasien yang ngamuk, nih.”
            “Oke. Ketemu besok, ya.”


**

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [05]

            Pagi itu Agni sedang menonton acara gossip di ruang tengah kediamannya sambil membaca majalah mode terbaru ketika terdengar bunyi derap langkah seseorang. Agni lantas menutup majalahnya dan mengalihkan pandangan menuju sumber suara.
            “Oh, elo, Shil. Kirain Mami sama Papi.” Agni pun kembali menonton televisi.
            Shilla tersenyum pada Agni. Ia kemudian meletakkan sebuah kotak makan di depan calon kakak iparnya itu. “Dari Mama tuh, Mbak.”
            “Apa ini, Shil?” tanya Agni. Tangannya terulur untuk membuka kotak makan tersebut. “Lo nggak ada jadwal nyanyi pagi ini?”
            Shilla terkekeh begitu melihat Agni yang tersenyum lebar ketika membuka kotak makan darinya. “Tadi Mama lagi masak sandwich isi tuna dan gue ingat lo suka banget sama makanan ini. Jadi, ya.. Gue bawa buat lo, Mbak. Ada, kok. Ini gue lagi jemput Cakka. Kemarin dia sudah janji mau temani gue.”
            “Oh,” Agni mengangguk. “Cakka masih molor, tuh. Bangunin aja.”
            Shilla melambaikan tangannya kemudian melangkah menuju kamar Cakka. Benar kata Agni, calon suaminya itu masih belum juga bangun. Buktinya, pintu kamar lelaki itu masih tertutup. Shilla ingat betul kebiasaan Cakka setiap paginya. Jika lelaki itu sudah bangun, ia pasti membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
            Shilla membuka pintu kamar Cakka tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia terdiam di tempat dengan berkaca pinggang begitu melihat ruangan itu kosong. Tak ada sesosok tubuh yang sedang meringkuk dibalik selimut, tak ada bunyi gemericik air dari kamar mandi yang terletak di sudut ruangan, dan tak ada tanda-tanda bahwa Cakka ada di sini.
            “Mbak Agni!” teriak Shilla kalap.
            Shilla berlari menuju ruang tengah dan ia mendapati Agni tengah memakan sandwich darinya. Shilla berdiri di hadapan Agni dan menjauhkan kotak makan berisi sandwich itu dari perempuan di hadapannya.
            “Lo ngapain, Shil?” tanya Agni keki.
            “Cakka, Mbak!” Shilla kembali berteriak kalap. “Cakka nggak ada di kamarnya!”
            Mata Agni membulat kaget. “Serius lo?” Melihat Shilla yang menganggukkan kepalanya, Agni berlalu menuju kamar Cakka. “Gue berani sumpah, Shil, kalau gue nggak lihat dia keluar rumah pagi ini.”
            Agni akhirnya melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Cakka tidak ada di kamarnya. Ia menggeleng tak mengerti. Ia pun melangkah cepat menuju garasi mobil–diikuti Shilla.
            “Mobilnya Cakka nggak ada,” desis Agni bingung.
            “Mbak, Cakka kemana?” tanya Shilla dengan panik.
            “Gue nggak tahu, Shil,” Agni berujar lirih. Ia kemudian mendorong Shilla ke samping mobil gadis itu. “Nyokap lo mana?”
            “Udah di venue sama crew gue yang lain.” Shilla menjawab pendek.
            “Ya udah, lo ke venue aja.” Agni membukakan pintu kemudi untuk Shilla lantas mendorong pelan tubuh gadis semampai itu untuk masuk ke dalam. “Lo tenang aja. Gue telepon Cakka setelah ini. Gue juga akan kabarin lo secepatnya.”
            “Janji, Mbak?”
            Agni mengangguk menyanggupi.
            Setelah Shilla mengendarai mobilnya meninggalkan halaman rumah Agni, Agni langsung menuju kamarnya dan mengambil ponselnya. Ia harus menghubungi Cakka sekarang juga!

**

            Bunyi dering ponsel membangunkan Oik pagi itu. Dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya, ia meraba-raba night stand. Sebuah ponsel bergetar di sana. Oik agak mendekatkan tubuhnya pada night stand dengan susah. Gadis itu mendengus sebal begitu menyadari lengan Cakka yang masih memeluk erat pinggangnya.
            Begitu mendapat ponsel yang tengah meraung-raung, Oik baru menyadari bahwa ponsel itu bukan miliknya. Pasti milik Cakka. Oik kembali mendengus. Ia melirik layar ponsel dan nama Agni tertera di sana. Dengan ragu-ragu, Oik menerima panggilan tersebut.
            “Kka! Lo dimana? Pagi-pagi udang ngilang aja!”
            Oik terkesiap. Pasti itu kakak atau adik dari Cakka. Oik cepat-cepat mendekatkan ponsel itu ketelinga Cakka. Tangan kirinya yang bebas segera menepuk-nepuk pipi Cakka agar lelaki itu terbangun.
            “Hn,” Cakka berucap tak jelas.
            “Cakka! Jawab gue!”
            Cakka mendadak membuka matanya begitu mendengar suara nyaring dari ponselnya. Memanfaatkan kesempatan itu, Oik menyingkirkan lengan Cakka dari pingganya. Keduanya pun segera menegakkan punggung, duduk diatas ranjang.
            “Iya, Mbak?” tanya Cakka.
            “Lo dimana, Cakka?” Suara di seberang sana terdengar tengah menahan amarahnya.
            “Gue di....” Cakka melirik Oik yang tengah menggelengkan kepalanya dengan tatapan tajam. “Di rumah temen gue, Mbak. Kenapa?”
            “Lo nginep?”
            Cakka menangkap nada curiga dari suara Agni barusan. “Nggak, Mbak. Gue berangkat tadi pagi-pagi banget. Jogging bareng.”
            “Bikin gue dan Shilla panik aja lo!”
            “Shilla?” gumam Cakka bingung.
            “Iya! Tadi dia kesini jemput elo. Dia bilang lo sudah janji sama dia kalau bakalan temeni dia manggung hari ini. Lo lupa?”
            “Oh, iya!” Cakka menepuk jidatnya. “Gue langsung ke venue aja, Mbak.”
            Dan dalam sekejap sambungan telepon pun terputus. Cakka segera menyusul Oik yang telah berada di dapur apartemen gadis itu. Ia mendapati Oik yang sedang menyeduh secangkir teh hangat. Cakka bergerak menghampiri.
            “Buat gue mana?” tanya Cakka begitu ia sudah berada di samping Oik.
            “Buat elo?” tanya Oik balik dengan dahi berkerut bingung. “Mending lo cepet susul Shilla aja. Gue juga nggak butuh elo di sini.”
            “Lala––,”
            “Berhenti panggil gue Lala karena gue bukan Lala!” potong Oik cepat.
            Cakka menggeleng frustasi. “Gue yakin elo itu Lala, Ik! Insting gue nggak mungkin salah menyangkut soal Lala! Semua bukti ngarahin gue ke fakta kalau elo itu Lala, temen kecil gue!”
            Oik menenggak habis teh hangatnya lalu melemparkan cangkirnya pada tempat cuci piring. “Lebih baik elo angkat kaki sekarang juga dari apartemen gue sebelum Alvin pergokin elo di sini.” Ujar Oik, ia kemudian berlalu menuju kamar tidurnya dan membanting pintunya hingga meninggalkan bunyi berdebam yang cukup memukul bagi Cakka.

**

            Pada waktu yang sama, di kediamannya di Kabupaten Bandung, kedua orangtua Oik tengah sibuk bersiap-siap. Keduanya telah rapi dengan setelan batik bermotif pesisir Jawa. Kali ini, Papa Oik juga telah menyewa seorang sopir khusus untuk mengantar dan menjemput keduanya.
            Setelah selesai sarapan dengan nasi goreng keju buatan Mama Oik, keduanya segera masuk ke dalam mobil. Sang sopir mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobil tersebut menuju tempat yang dituju.
            Mama Oik mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, bermaksud untuk menelepon Oik. Setelah terdengar nada sambung beberapa kali, akhirnya Oik mengangkat telepon dari beliau.
            “Iya.. Kenapa, Ma?”
            “Nggak, kok. Ini Mama sama Papa mau jenguk dia, Ik.” Mama Oik menjawab pertanyaan putrinya sambil melihat ekspresi suaminya dari ekor mata.
            “Dia?” Terdengar Oik yang menghembuskan napas diujung telepon. “Titipkan salam Oik buat dia juga ya, Ma.”
            “Pasti.” Mama Oik tersenyum sedih. “Kapan kamu juga bisa ikut kami jenguk dia? Kamu terlalu sibuk sama galerimu, Ik.”
            “Beberapa bulan ini memang lagi banyak job, Ma. Maaf ya, lagi-lagi Oik nggak bisa ikut jenguk dia.”
            “Ya sudah, nggak apa-apa. Lain kali kosongin jadwal kamu untuk jenguk dia, Ik. Sekarang kamu lagi di galeri?”
            “Masih di apartemen, Ma. Ini mau ke makam Dayat dulu. Mama mau titip doa?”
            “Doakan dia tenang disana, ya. Minggu depan Mama dan Papa usahakan ngunjungin makam Dayat.”
            “Oke, Ma. Talk to you later. Ini Oik sudah di basement. Mau langsung ke makam Dayat.”
            Mama Oik langsung menutup sambungan teleponnya. Beliau kembali memasukkan ponsel ke dalam tas lebih merapatkan lagi duduknya kearah suaminya.
            “Oik hari ini ke makam Dayat, Pa.” Mama Oik berujar pelan pada suaminya.
            Papa Oik hanya tersenyum tipis. Beliau melirik istrinya sekilas kemudian kembali memandangi hijaunya sawah di luar sana melalui kaca mobil.

**

            Oik baru saja masuk ke dalam mobilnya ketika ia melihat bayangan tubuh seseorang yang dikenalnya melintas. Seorang lelaki dengan pakaian serba hitam. Tak lupa juga, kaca mata hitam bertengger dihidungnya.
            “Gabriel?” desis Oik.
            Gadis itu kemudian hanya mengangkat bahunya cuek. Beberapa menit setelahnya, Oik sudah mengendarai mobilnya membelah jalanan padat Jakarta. Perjalanan menuju TPU Kebon Jeruk membutuhkan waktu sepuluh menit.
            Begitu sampai di pelataran makam, Oik dengan sigap mencari lahan parkir yang masih kosong. Ya! Dapat! Sebuah lahan parkir yang pasti akan muat dibawah pohon rindang. Oik segera memarkirkan mobilnya disana.
            Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal di dalam mobil, Oik turun, mengunci mobilnya, dan berjalan memasukki area pemakaman. Dengan lupa-lupa ingat, Oik berjalan menuju arah utara. Oik menemukan makam Dayat lima menit kemudian.
            Dengan mata yang sudah berair, Oik berjongkok di samping makam Dayat. Ia mengelus nisan bertuliskan Nur Wachid Hidayat itu dengan sedih.
            “Gue jenguk elo lagi, Day.” Oik tersenyum tipis. “Gimana kabar lo di sana? Baik, kan? Gue kangen banget sama lo.”
            Oik mengeluarkan sebuket bunga anggrek dari dalam tasnya. Ia sudah mempersiapkan bunga anggrek itu dari kemarin sore. Dan untungnya, belum layu juga hingga saat ini. Kemudian Oik meletakkan bunga anggrek itu dengan hati-hati diatas makam Dayat.
            “Ini, gue bawain bunga buat lo.”
            Untuk beberapa menit, Oik sibuk memanjatkan doa. Tentu saja ia mendoakan agar Dayat diterima di sisi-Nya, agar Dayat tenang di sana, dan agar semua amal Dayat diterima. Setelah itu, Oik pun berdiri.
            “Gue nggak bisa lama-lama, Day. Ntar siapa dong, yang jaga galeri gue?” Oik terkikik geli. “Besok-besok gue ke sini lagi, Kok. Oh, ya.. Bokap sama nyokap gue kayaknya minggu depan bakal ke sini. Tapi dia belum bisa ikut, Day.”

**

            Shilla baru saja selesai menyanyikan single terbarunya diatas panggung. Setelah sang pembawa acara mempersilahkannya untuk turun, Shilla bergegas menuju ke backstage. Ia yakin Cakka sudah menunggunya di sana. Tadi sebelum ia naik panggung, Agni telah mengiriminya pesan singkat yang berisi Cakka sedang dalam perjalanan menuju venue.
            Begitu sampai di backstage, Shilla mendapati Cakka yang tengah mengobrol bersama krunya. Dengan riang, Shilla menghampiri Cakka dan duduk dipangkuan lelaki itu.
            “Hay, dear,” sapa Shilla manja.
            Cakka tersenyum memohon maaf pada kru Shilla, ia kemudian berbisik pada gadis dalam pangkuannya itu. “Shil, minggir. Nggak enak dilihat kru kamu.”
            “Kenapa, sih?” tanya Shilla tak suka.
            “Minggir.” Cakka mulai hilang kesabaran. Begitu melihat Shilla yang tetap bergeming dalam pangkuannya, Cakka langsung berdiri. Ia tak memperdulikan Shilla yang menatapnya kesal campur sedih.
            “Kamu kenapa, sih?” serang Shilla. Kini keduanya telah berada di dalam mobil Cakka. Shilla telah menitipkan mobilnya pada salah satu kru sebelumnya.
            “Kamu yang kenapa!” balas Cakka. “Aku nggak suka kamu yang overprotektif. Kamu tahu sendiri aku bukan tipe orang yang suka nunjukin kemesraan di depan publik.”
            “Itu cuman kru dari management aku, Cakka. Mereka bukan publik.” Shilla menatap Cakka kesal lalu melempar pandangannya pada keadaan di luar sana.
            “Kita udah mau nikah empat bulan lagi dan kamu masih belum bisa ngertiin aku?” Cakka menatap Shilla tak percaya kemudian menggeleng lesu. “Lebih baik kita undur aja semuanya.”
            Shilla terkesiap. “Nggak bisa. Nggak bisa, Kka. Kita udah persiapin semuanya. Kamu nggak bisa ngundur pernikahan kita gitu aja!”
            “Sesusah apa sih, Shil, ngertiin aku?” tanya Cakka lirih. “Aku nggak suka kamu terlalu show off seperti tadi. Meskipun itu sama kru kamu sendiri.”
            “Oke, oke. Nggak akan lagi. Aku janji.” Shilla menyerah beragumen dengan Cakka. Pasalnya ia selalu kalah. Dan akhirnya, ia selalu mengalah pada Cakka.
            “Sekarang kita kemana?” tanya Cakka dingin.
            “Galeri Oik.”

**

            Alvin menengok kearah galeri Oicagraph, memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya. Alvin kembali mengarahkan pandangannya pada gadis berwajah riang yang berada di dalam mobil di hadapannya.
            “Kenapa? Takut ada yang mata-matain dan aduin kamu ke Oik, ya?” canda gadis berwajah riang itu.
            “Aku takut Rio, Ify, atau pegawai lainnya lihat kita.”
            “Rio dan Ify sudah masuk kerja lagi? Bukannya minggu lalu mereka baru aja nikah? Nggak bulan madu mereka?” tanya gadis itu beruntun.
            Alvin terkekeh. Tangan kanannya mencubit gemas pipi gadis itu. “Iya, mereka udah masuk kerja lagi. Iya, minggu lalu baru aja nikah. Bulan madu? Mana aku tahu!”
            Gadis itu mendadak melirik jam tangannya. “Vin, udah siang. Aku kembali ke rumah sakit, ya. Ada jadwal cek pasien.”
            “Oke. Hati-hati di jalan, ya. Jadi dokter yang berbakti!”
            Alvin memandang mobil yang dikendarai gadis berwajah riang itu perlahan meninggalkan pelataran parkir Oicagraph, bergumul dengan mobil-mobil lainnya di jalan, dan menghilang dibalik padatnya jalan siang itu.
            Baru saja Alvin akan membalikkan badannya untuk masuk ke dalam galeri, sebuah klakson mobil terdengar nyaring. Alvin familiar betul dengan bunyi klakson itu.
            “Oik!”
            Sang pengemudi pun turun setelah memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Ia langsung berpelukan sekilas dengan Alvin. Alvin bersyukur dalam hati. Untung saja gadis berwajah riang tadi telah meninggalkan Oicagraph sebelum Oik datang.
            “Dari mana aja, Ik?” tanya Alvin. Tangannya mulai melingkari bahu Oik.
            “Dari makam Dayat. Biasa, kunjungan rutin tiap bulan.” Oik tersenyum tipis. “Minggu depan Mama sama Papa mau kesini. Kamu mau ketemu?”
            “Oke. Kita bisa minta tolong Ify untuk kosongin jadwal minggu depan.”
            “Hay, Oik!” Sapa Ify dari balik mejanya.
            “Oik? Halo!” Rio pun ikut menyapa dari balik layar komputernya. Rupanya lelaki itu tengah melakukan editting foto.
            Oik hanya melambaikan tangan pada keduanya. Ia dan Alvin langsung duduk di depan meja Ify. Gadis berbehel itu tengah memasukkan foto-foto yang telah dicetak ke dalam beberapa amplop.
            “Pasangan baru kenapa udah masuk kerja aja?” sindir Oik.
            “Tau tuh, si Ify. Gue ajakin bulan madu nggak mau.” Rio menjawab cuek. Oik dan Alvin tertawa.
            “Kita ada jadwal ketemu sama siapa hari ini?” tanya Oik pada Ify.
            Ify terlihat mengecek agenda terlebih dahulu, kemudian ia melirik Oik dan Alvin. “Cakka dan Shilla. Janjian disini jam sebelas.”
            “Jam sebelas, ya? Oke.” Alvin menggumam. Ia lantas berdiri dan berlalu masuk ke dalam ruangan khusus pegawai Oicagraph.
            “Mau kemana, Vin?” Oik berteriak dari tempatnya.
            “Mau ngerebus mie di dapur. Nggak sempat sarapan tadi, Ik.”
            Setelah mengira-ngira Alvin tak akan bisa mendengar percakapannya dengan Ify, Oik memajukan kursinya. “Fy, gue mau tanya.”
            Ify menatap Oik sekilas dengan alis terangkat sebelah. “Ya?”
            “Alvin...” Oik menghela napasnya. “Alvin ada tamu pagi ini? Atau, paling nggak, dia telepon siapa gitu hari ini?” tanya Oik penasaran.
            Begitu menyadari ada yang serius, Ify meletakkan seluruh foto yang tadi menyita perhatiannya. “Ada apa, Ik?” tanya Ify lembut.
            “Gue nggak tahu, Fy.” Oik menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Gue ngerasa Alvin beda akhir-akhir ini. Dia nggak seperti biasanya.”
            “Yup! Gue setuju! Gue ngerasa perlakuan dia ke elo akhir-akhir ini beda.” Rio kembali menyahut.
            Oik mengangguk. “Tuh, Fy.. Rio aja sadar.”
            Ify mengangguk mengerti.
            “Beberapa minggu yang lalu, waktu Cakka dan Shilla kemari, gue lihat Alvin ngobrol sama cewek di depan sana. Waktu gue pingsan itu, Fy.” Oik melirik sekitar, Alvin tidak ada. “Beberapa kali setelah itu, gue sering lihat cewek itu ada di sekitar Alvin.”
            “Lo yakin lo nggak salah lihat?” Ify memastikan.
            “Nggak.” Oik menggeleng yakin.
            “Apa yang lo maksud... cewek dengan wajah riang dan kulit putih?”
            Oik terperangah kemudian mengangguk cepat. “Iya! Nggak salah lagi! Cewek itu!”
            “Tadi sebelum elo dateng, cewek itu ada di sini. Ngobrol di depan sama Alvin, Ik.”

            Oik kembali terpekur. Siapa gadis itu? Apa Alvin mengkhianatinya?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SESUATU YANG BARU [06] : Tentang Ify

           Begitu keluar dari cafeteria, Ify segera menuju library. Tak lupa juga ia memeriksa kembali keberadaan member card library yang tadi ia letakkan pada saku jubahnya. Ify telah berpesan kepada Oik untuk mengantarkan Alvin ke halaman depan sekolah. Seperti biasa, kereta kuda telah menunggu disana guna mengantarkan ke rumah sakit.
            Ify berjalan sendirian diantara lalu-lalang siswa-siswi lain. Memang, jalan menuju rumah pohon dan library menjadi satu. Pada ujung jalan, jika ke kanan akan menemukan jalan setapak menuju rumah pohon dan jika ke kiri maka akan bertemu library dan Kesekretariatan OSIS serta berbagai ekskul.
            Ify mendorong pintu library dan masuk. Setelah mengisi buku daftar pengunjung, ia menuju bagian timur library. Buku mengenai musik terletak pada rak-rak dibagian itu.
            Gadis berbehel itu berjalan diantara dua rak buku yang menjulang tinggi. Dengan mata yang menyusuri setiap judul buku disana, Ify bergerak pelan. Buku yang ia cari tak kunjung ia temukan.
            “Sedang mencari apa?” tanya sebuah suara bariton.
            “Eh?” Ify terkesiap. Ia tersenyum malu pada seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu rupanya juga sedang mencari-cari sesuatu. “Buku musik, untuk tugas.” Ify menyerahkan secarik kertas yang ia kantongi bersama member card library.
            Lelaki itu menerima secarik kertas dari Ify dengan alis bertaut. “Kamu anak kelas musik?” tanyanya.
            “Ya, begitulah. Kamu sendiri?” Ify mengerling pada lelaki itu dan kembali fokus pada rak buku.
            “Aku juga. Mungkin aku bisa membantu kamu cari buku ini.” Lelaki itu kembali melirik secarik kertas dari Ify. Ia seperti mengenali tulisan itu. “Ini tulisan tangan.....”
            “Nggak, nggak!” Ify mengibaskan kedua tangannya dengan panik. “Aku tahu tulisan itu memang jelek. Tapi, jangan salah. Itu bukan tulisanku.”
            Lelaki itu terkekeh. “Bukan itu maksudku. Aku seperti mengenali tulisan ini.”
            “Sudahlah. Bukan waktunya mengingat hal sepele seperti itu. Jadi membantuku mencari buku?” Ify tersenyum diujung kalimatnya.
            “Tentu!” Lelaki itu tersenyum riang dan mulai membantu Ify mencari buku yang dimaksud.
            “Buku ini susah sekali dicari,” gerutu Ify.
            “Sudahlah. Bukan waktunya menggerutu hal sepele seperti itu.”
            Ify berbalik dan menatap lelaki yang memunggunginya itu dengan berkacak pinggang dan senyum mengembang. “Hey! Kamu meniru ucapanku!”
            “Ya.” Lelaki itu mengangkat bahunya dengan cuek. Dan dalam sekejap, ia berbalik menghadap Ify dengan membawa sebuah buku. “Buku ini, kan, yang kamu cari?”
            Ify menahan napasnya tak kentara. Bukan karena gerakan cepat lelaki itu yang berbalik badan. Bukan. Melainkan jarak diantara mereka berdua yang sangat dekat. Dalam beberapa detik, Ify masih terpana. Lalu setelahnya, ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah padam.
            Ify mengambil buku dari tangan lelaki itu dan tersenyum kikuk. “Y-Ya, ini buku yang... aku cari.” Ify melirik sampul buku tebal tersebut. “Jadi, ini jilid pertama? Ya, ya. Dimana kamu menemukannya? Aku juga butuh jilid kedua untuk aku bawa ke rumah pohon.”
            Lelaki itu bergeser ke samping beberapa langkah, tangannya menunjuk rak buku yang tadinya berada di belakangnya.
            Tangan Ify terulur mengambil buku jilid kedua. “Ya, aku menemukannya.”
            “Baiklah. Aku permisi dulu.”
            Dan ketika Ify masih fokus membolak-balikkan halaman kedua buku itu, lelaki yang tadi membantunya telah melesat meninggalkan perpustakaan entah kemana. Begitu Ify selesai meneliti tiap halaman kedua buku itu, ia menengok ke samping.
            “Terima... kasih..... Eh? Kemana lelaki tadi?” Ify mengedarkan pandangannya pada seluruh penjurulibrary dan ia hanya menemukan pintu library yang bergoyang-goyang, pertanda baru saja ada yang masuk atau keluar.
            “Padahal aku belum sempat menyampaikan terima kasih.” Ify mengangkat bahunya dan membawa buku-buku itu kesebuah meja bundar ditengah-tengah library yang dikelilingi oleh empat kursi empuk.
            Ify meletakkan keduanya diatas meja dan menghempaskan tubuhnya pada kursi empuk itu. Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya, Ify membuka buku jilid pertama dengan bersemangat. Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit dan ia hanya punya waktu satu jam lebih lima menit sebelum library ditutup untuk menghafalkan not-not balok yang berada pada halaman paling akhir.
            Jemari Ify bergerak membalik halaman dengan hati-hati. Kedua buku ini adalah buku tua yang halamannya sudah menguning. Jika ia membalik halamannya dengan kasar, ia bisa saja membuat beberapa lembar terlepas dari bukunya.
            Mata Ify terbelalak lebar melihat sederet not balok dihadapannya.
            “Apa-apaan ini?!” Ify mengacak-acak rambutnya frustasi. “Not balok lagu klasik? Are you kidding me?!”
            Rangkaian not balok nan rumit inilah santapan malamnya. Ini tugas pertama dari guru pembimbingnya di kelas seni musik. Ify tak habis pikir dengan jalan pikiran beliau. Mereka ini –Ify dan teman-temannya di kelas seni musik– masih terbilang ‘bau kencur’. Mereka baru tiga hari mengenyam segala tetek-bengek seni musik dan sekarang sudah dihadapkan dengan musik klasik? Apa-apaan?!
            “Bagaimana aku bisa menghafalkan not-not ini dalam waktu satu jam?” Ify menatap halaman tersebut dengan lemas. “Terpaksa aku harus membawa kedua buku ini ke rumah pohon.”
            Satu jam yang menyiksa ini Ify habiskan dengan menghafalkan setiap not perlahan-lahan. Setelah dua puluh menit, Ify mulai menguap. Sepuluh menit kemudian, Ify dapat merasakan kadar kantuknya meningkat. Pukul sembilan kurang lima belas menit, Ify menelungkupkan wajahnya diatas meja.
            “Aku menyerah,” desahnya.
            “Menyerah apa?”
            Ify menegakkan badannya begitu mendengar sebuah suara yang menggelitik telinganya. Dan begitu ia menengok ke kanan, Ify terkesiap. “Kak Debo?”
            “Ya?” Debo menatap Ify lamat-lamat.
            “Sedang apa disini?” tanya Ify. “Library sudah hampir tutup.”
            “Sebenarnya cuma iseng. Tadi aku sama sekali nggak ada kegiatan di rumah pohon. Niatnya kesini, mencari majalah. Tapi ternyata malah menemukan kamu yang setengah desperate disini. Ada apa, Fy?” kini ganti Debo yang bertanya.
            Ify menggeleng lalu menutup buku di hadapannya. “Ada tugas menghafal not balok. Dan ternyata ini adalah not balok musik klasik.”
            “Wow,” Debo tertawa. “Pasti susah.”
            “Of course!” Ify mendesah pelan.
            “Besok, kan, hari Minggu. Kamu hafalkan saja di rumah pohon, Fy.”
            “Ya, ya, ya..” Ify mengangguk malas. “Itu berarti aku akan menghabiskan hari Minggu dengan kedua buku ini.” Ify menunjukkan kedua jilid buku itu pada Debo dan beranjak berdiri.
            “Sudah malam. Ayo, aku antar ke rumah pohon.” Debo pun ikut berdiri.
            Ify mengangguk. Ia berjalan menuju penjaga library yang terduduk dibelakang meja kebesarannya. Debo mengekornya dan memperhatikan setiap gerak yang Ify buat. Setelah urusan pinjam-meminjam buku usai, keduanya berjalan meninggalkan perpustakaan.
            Lampu taman yang berada disisi kanan dan kiri jalan setapak mulai menyala redup. Itu berarti, pemberlakuan jam malam sudah akan dimulai. Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah pohon seraya mengobrol kecil.
            “Sudah mencoba kirim pesan menggunakan burung mungilmu?” tanya Debo.
            Ify meliriknya sekilas dan menggeleng. “Memang bisa?”
            “Jelas bisa, dong.” Debo terkikik menyadari kepolosan Ify dan dengan refleks ia mengacak-acak rambut gadis itu.
            “Kak Debo apa-apaan, sih?!” Ify menggerutu seraya tertawa dan merapikan kembali rambutnya. “Bagaimana caranya?”
            “Gampang saja. Tulis pesanmu untuk seseorang diselembar kertas. Beri juga blok rumah pohonnya. Setelah itu, lipat dan berikan pada burung mungilmu. Nanti burung mungilmu yang akan mengantarkan pada rumah pohon yang dituju.”
            “Wah, lucu sekali! Kalau begitu, besok aku akan coba mengirimkan pesan untuk kamu, Kak.” Ify berkata dengan antusias.
            “Boleh, boleh.” Debo membalas dengan tak kalah antusiasnya. “Blok rumah pohonku MA-09. Jangan lupa, itu berada di kawasan rumah pohon siswa tingkat kedua.”
            Ify mengangguk mengerti.
            “Oh, ya. Besok setelah dinner, jangan kemana-mana, ya.” Debo tersenyum penuh arti setelahnya.
            “Aku, Sivia, dan Oik memang nggak ada rencana untuk kemana-mana,” sahut Ify datar.
            “Akan ada kejutan dari kakak-kakak OSIS yang satu tingkat dengan aku.” Debo melirik Ify untuk melihat reaksi gadis itu.
            “Kejutan apa?” Ify mendadak antusias.
            “Lihat saja nanti. Bukan kejutan lagi namanya kalau kamu tahu sekarang.”
            “Oke!” Ify mengangguk bersemangat. “Awas saja kalau kejutannya nggak mengasyikan!”
            “Bagi kamu dan dua teman kamu mungkin nggak mengasyikan tapi pasti kalian bertiga akan dapat pengalaman baru.”
            “Hey! Kalian berdua!” Sebuah suara menggelegar terdengar dari belakang Ify dan Debo. Keduanya menengok serentak pada sumber suara. “Kenapa masih berduaan pada jam segini? Masih ingat pemberlakuan jam malam, kan?” Orang itu –yang ternyata sang Kepala Sekolah– kembali bersuara.
            Ify dan Debo mengangguk dalam-dalam.
            “Kalau begitu, segera kembali ke rumah pohon masing-masing!”
            Tanpa bersuara kembali, Ify dan Debo mempercepat langkahan kaki mereka menuju rumah pohon. Begitu berada dipersimpangan antara kawasan siswa tingkat pertama dan kedua, Ify menghentikan langkahnya.
            “Sudah, Kak Debo sampai disini aja mengantar aku.” Ify mencegah Debo masuk lebih dalam pada kawasannya.
            “Memangnya kenapa?”
            “Sudah malam, Kak. Tadi Kepala Sekolah juga sudah menegur. Semakin cepat kita berdua sampai di rumah pohon masing-masing, semakin bagus.”
            Debo pun mengangguk. Ia mengiyakan permintaan Ify dengan terpaksa. Awalnya, ia ingin mengantarkan Ify sampai di rumah pohonnya. Ini sudah pukul sembilan, lampu disisi jalan setapak mulai meredup dan ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ify.
            “Aku kembali ke rumah pohonku, ya. Kak Debo juga kembali saja.” Ify tersenyum kecil lalu berbalik dan meninggalkan Debo.
            Ify tak menyadari lelaki itu masih berdiam diri ditempat, menatap punggungnya lekat-lekat, dan baru berbalik badan juga ketika punggungnya telah hilang ditelan gelapnya malam.
            Begitu sampai dibawah rumah pohonnya, Ify langsung beranjak naik. Suara nyaring Oik terdengar sampai bawah. Ify terkekeh pelan begitu sampai diatas rumah pohonnya dan melihat Oik serta Sivia masih terjaga. Keduanya sedang bergosip, rupanya.
            “Menggosipkan apa malam-malam begini?” tanya Ify seraya meletakkan dua jilid buku yang tadi ditentengnya diatas meja belajar.
            “Kamu kelewatan banyak sekali, Ify! Tadi kita membicarakan soal Dokter Gabriel, Irsyad, Zevana, Cakka, Nadya.....”
            Ify tak lagi mendengar celotehan Oik dan kikikan Sivia karena ia beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa menit setelahnya, Ify keluar dengan mengenakan piyama. Ia pun berbaring diranjangnya dan mengamati kedua teman sekamarnya yang masih asyik bergosip.
            “Ify, bagaimana menurutmu? Oik bilang Agni itu cantik. Sedangkan menurutku, Agni itu manis. Ify? Fy?”
            Suara Sivia makin terdengar menjauh. Kesadarannya pun memudar. Ify rupanya telah memasuki alam mimpi, meninggalkan Sivia dan Oik yang masih berargumen mengenai Agni yang cantik atau Agni yang manis.

**

            Ify terbangun keesokan harinya ketika kamar telah kosong. Hanya menyisakan dirinya seorang. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, ia bangkit dan meregangkan tubuh. Ketika kesadarannya sudah pulih betul, ia melihat burung mungilnya tengah membawa secarik kertas berwarna pink. Seperti dari Oik.
            Burung mungil bercicit pelan ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Karena air yang pagi itu terasa amat dingin, akhirnya Ify memutuskan untuk mandi kilat. Tak sampai lima menit, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai.
            Ia terduduk di kursi belajarnya. Perlahan ia mulai memakan menu sarapannya. Kebetulan bubur ayam dan segelas teh hangat adalah menu sarapan kali ini. Ify mengerling pada burung mungilnya dan memanggilnya mendekat.
            “Ada pesan dari siapa?” tanya Ify.
            Ia meletakkan sendok serta garpunya terlebih dahulu dan mengambil secarik kertas yang digigit burung mungilnya. Ia membuka lipatannya dan mulai membaca.

Aq & Sivia sdh berada d Bukit Hijau.
Cpt susul kmri.
-Oik-

            Ify mengangguk mengerti dan membuang begitu saja secarik kertas tadi. Sebelum kertas tersebut menyentuh lantai, benda itu sudah terbakar dan asapnya hilang begitu saja. Ify mengernyit menatap cara kerja pesan singkat tersebut lalu mengangguk dalam diam.
            Sepuluh menit kemudian, Ify telah menghabiskan sarapannya. Ia bergegas meninggalkan rumah pohonnya untuk menyusul Sivia dan Oik di Bukit Hijau.
            Disepanjang jalan menuju Bukit Hijau, banyak sekali siswa-siswi Witchy School of Art yang dilihat Ify. Rupanya siswa tingkat kedua dan ketiga mempunyai kegiatan rutin setiap Minggu pagi. Senam bersama di Bukit Hijau! Ify mempercepat langkahnya meninggalkan kawasan rumah pohon.
            “Ify!” panggil seseorang.
            Ify menengok ke belakang dan mendapati Keke disana. “Hay, Ke!”
            “Mau kemana, Fy?” tanya Keke seraya menyamai langkahnya dengan Ify.
            “Bukit Hijau. Sivia dan Oik sudah disana. Kamu?” tanya Ify balik.
            “Sama.” Keke mengangguk.
            “Bagaimana tugasnya? Sudah hafal?” Ify kembali mengingat not-not balok sialan itu.
            Keke menggeleng sebal. “Belum. Susah sekali! Itu, kan, musik klasik. Benarkah kita akan benar-benar memainkannya dikelas pada hari Senin?”
            “Sepertinya iya.” Ify mengangguk tak yakin. “Sendirian saja, Ke, ke Bukit Hijau?”
            “Ah, ya!” Keke mendadak bersemangat. “Sebenarnya aku kemari mau menemui kakakku yang aku ceritakan waktu itu. Tapi terputus karena kamu pergi bersama kakak itu,” Keke menekankan pada akhir kalimat dengan bola mata berputar malas.
            Ify terkekeh. “Ya. Lalu? Kenapa ekspresimu seperti itu?”
            “Nggak. Hanya saja... Ya, kamu pasti nanti tahu sendiri.” Keke mengangkat bahunya tak perduli.
            “Baiklah. Kamu akan menceritakan tentang kakakmu, kalau aku tidak salah ingat.”
            “Iya! Iya!” Keke kembali bersemangat. “Kakakku ini laki-laki dan berada ditingkat kedua. Dia sedang senam bersama di Bukit Hijau. Aku akan mengenalkanmu pada kakakku.”
            Keduanya pun sampai di Bukit Hijau. Ify mengedarkan pandangannya, mencari Oik dan Sivia diantara kerumunan didepannya. Sedangkan Keke –tentu saja– mencari kakaknya.
            “Ah! Itu dia!” Keke mendadak berpekik senang.
            “Ya? Siapa?” sahut Ify, sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Keke.
            “Kakakku, Fy! Kakakku! Dia ada disana!” Keke menggoncang-goncangkan lengan Ify sesaat lalu menunjuk kearah siswa-siswi tingkat kedua dan ketiga yang tengah senam bersama.
            “Ya,” Ify hanya bergumam seadanya menanggapi antusiasme Keke.
            “Ayo! Aku akan mengajakmu berkenalan dengan kakakku sekarang juga!” Keke tiba-tiba saja menyeret lengan Ify menuju arah tertentu.
            Dapat! Itu mereka! Sivia dan Oik tengah berkerumun dengan siswa-siswi tingkat pertama lainnya. Mereka berada disisi utara Bukit Hijau. Dengan sedikit paksa, Ify melepaskan seretan tangan Keke dilengannya lalu berlari menghampiri kedua sahabatnya.
            “Ify! Ify! Mau kemana kamu, Fy? Ify!” Keke berteriak nyaring dari tempatnya.
            Ify hanya menengok sekilas kebelakang dan tersenyum meminta maaf pada Keke. Ify tidak mau berada diantara kakak-beradik yang –takutnya– tidak akan menghiraukan kehadirannya nantinya.
            Keke menunduk lesu. “Ya, lain kali saja aku kenalkan Ify pada kakak.”
            “Keke?”
            Keke mendongak dan mendapati kakaknya telah berdiri disampingnya. “Eh, Kakak. Sudah selesai senamnya?”
            “Belum.”
            “Lalu kenapa menghampiriku?” tanya Keke gemas.
            “Karena tadi aku lihat kamu langsung sedih begitu ditinggal temanmu.”
            “Oh,” Keke mengangguk.
            “Itu tadi temanmu, kan?” tanya kakaknya.
            “Iya.” Keke mengangguk lagi. “Teman sekelasku. Namanya Ify, Kak. Sebenarnya aku akan mengenalkan kalian berdua sekarang tapi ternyata dia malah menghampiri sahabat-sahabatnya.”
            “Ya sudahlah, lain kali saja.” Keke merasakan kakaknya mulai menepuk-nepuk puncak kepalanya dan membuatnya tersenyum. Ia suka sekali diperlakukan begini oleh kakaknya.
            “Dia berteman akrab dengan Kak Debo,” ujar Keke tak suka.
            Kakaknya mengerling padanya dan mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?”
            “Ya!” Keke mengangguk cepat.
            Kakaknya mengangguk mengerti. Ia mengamati punggung Ify dari jauh. “Aku seperti pernah melihatnya, Ke.”
            “Jelaslah, Kak! Kita, kan, satu sekolah!” ujar Keke seraya memukul lengan kakaknya.

**

            Sore itu, ketika Ify telah selesai menghafalkan seluruh not balok dari kedua jilid buku tersebut, ia mulai berpikir untuk mencoba mengirim pesan melalui burung mungilnya. Ia pun merobek secarik kertas dari buka coret-coretnya dan menuliskan sesuatu disana.

Hay, Kak!

            “Eh, tunggu! Blok rumah pohon Kak Debo apa, ya?” Ify mengetuk-ketukkan telunjuknya pada pelipis, berusaha mengais ingatan dari otaknya. “MA-09 bukan? Atau NA-09, ya? Aduh, aku lupa! Tapi seperti NA-09. Iya. NA-09.”
            Ify pun membubuhkan blok rumah pohon Debo pada sudut kanan bawah kertas lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu, ia menyerahkannya pada burung mungilnya. Ify menyaksikan burung mungilnya mulai keluar dari rumah pohon dan bergerak menjauh.
            Ia menunggu burung mungilnya untuk kembali dengan bersenandung kecil. Kelima jemari tangan kanannya mengetuk meja belajarnya sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan berisik.
            “Sedang apa, Ify?” tanya Sivia.
            Ify menengok pada Sivia dan menggeleng saja. “Bukan apa-apa, kok.”
            Sivia mengangguk. “Menunggu sesuatu?” tanyanya lagi.
            Ify kembali menggeleng. “Nggak juga.” Ia kembali menatap jendela rumah pohonnya. Burung mungilnya belum terlihat. “Oh, ya! Oik kemana, Siv?”
            “Ke minimarket sekolah, membeli satu set cat air baru untuk tugas melukisnya.” Sivia menjawab sekenanya lalu kembali larut dalam tumpukan lirik lagu dihadapannya.
            Lalu, tak lama kemudian, burung mungil Ify kembali membawa secarik kertas yang ia gigit. Ify mengambilnya perlahan, membukanya, lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Hay jg. Ini siapa? Knp mmnggilku kak?

            Ify mengerutkan keningnya lalu tertawa pelan. “Bisa saja Kak Debo ini.”

Ini Ify, Kak. Aq dr tgkt prtama. Lupa?

Ify? Tmn Keke?

Iy. Aq bru tw kalo Kak Debo knl Keke.

Debo? Km slh org!!

            Ify mengerjap bingung. Jadi kesimpulannya.. Ia salah orang, begitu? Pantas saja ia sudah merasa aneh sejak awal. Seharusnya jika orang yang ia kirimi pesan tadi benar-benar Debo, orang itu pasti akan langsung mengerti ketika mendapat pesan. Mereka berdua sudah membicarakan mengenai ini semalam.
            Ify menengok pada Sivia yang juga terduduk dikursi belajarnya. “Siv?”
            “Ya?” sahut Sivia tanpa menengok Ify sedikitpun.
            “Blok rumah pohon Kak Debo berapa, ya? Sepertinya aku––,”
            Belum sempat Ify menyelesaikan kalimatnya, Sivia sudah menghela napas dan menyela. “Jadi sedari tadi kamu berkirim pesan dengan dia?” tanya Sivia tak percaya.
            “Iya,” jawab Ify sekenanya. “Sepertinya aku salah menulis blok rumah pohon Kak Debo.”
            “Ify, sudahlah!” Sivia meletakka kumpulan lirik lagu miliknya dan melenggang keluar rumah pohon. “Kamu tahu sendiri aku nggak suka Kak Debo dan kenapa kamu masih saja membicarakan soal dia didepanku?!”
            Ify menatap kepergian Sivia dengan bingung. “Sensitif sekali kamu, Sivia.”
            Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tak akan mengirimkan pesan lagi jika belum yakin blok rumah pohon Debo. Biarlah nanti selagidinner ia akan mencari Debo dan menanyakan blok rumah pohonnya. Kali ini, ia akan mencatatnya agar tidak lupa.

**

            Malamnya, Ify bersama Oik serta Sivia sedang berjalan menuju cafetaria. Sudah waktunya dinner. Ketiganya berjalan santai sembari mengobrol. Kebetulan, jalan menuju cafetaria tak seberapa ramai karena sebagian besar siswa-siswi telah berada disana.
            Ify teringat perkataan Debo kemarin malam. “Setelah dinner kalian ada rencana kemana?”
            Oik melirik Sivia sebentar dan menggeleng. “Nggak kemana-mana.”
            “Memangnya kenapa, Fy?” tanya Sivia.
            “Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Ify pun hanya mampu tersenyum garing setelahnya.
            Ketika ketiganya telah tiba dimeja makan, rupanya kursi telah tersisa tiga. Ify melirik Alvin dan Zevana serta Cakka dan Nadya. Tumben sekali dua pasangan itu sampai di cafetaria tepat waktu? Ify, Sivia, dan Oik beranjak duduk pada kursi masing-masing.
            “Sivia, sudah menemukan lagu yang cocok untuk dinyanyikan solo Senin nanti?” tanya Agni begitu Sivia baru saja duduk.
            “Belum,” Sivia menggeleng. “Aku masih bingung. Kamu?”
            Agni juga menggeleng dengan tersenyum lebar. “Belum juga.”
            “Hey! Aku juga belum.” Irsyad menyela dari samping Agni.
            Ify terdiam melihat yang lainnya mulai berbicara secara kelompok. Sivia, Agni, dan Irsyad membicarakan mengenai lagu. Alvin dan Zevana entah membicarakan apa. Oik pun rupanya sudah mengajak Cakka dan Nadya ngobrol mengenai lukisan.
            Tiba-tiba saja ada yang mencolek bahu Ify dari belakang. Ia menengok dan mendapati Debo ada disana. “Kak Debo? Sedang apa?”
            “Aku––,”
            Belum sempat Debo menyelesaikan kalimatnya, bunyi dentuman besar dari langit-langit cafetariasudah terdengar. Dinner telah dimulai. Dengan berat hati, Debo pun kembali ke meja makannya.
            Tiga puluh menit setelahnya, seluruh siswa-siswi tingkat pertama telah berada di Bukit Hijau. Mereka semua berkelompok sesuai kelas sementara ketika MOS tempo hari. Ify, Sivia, dan Oik berada dalam kerumunan siswa-siswi kelas kedelapan.
            Setiap kelas membentuk kerumunan sendiri-sendiri disegala penjuru Bukit Hijau. Bagian tengah Bukit Hijau sengaja dibuat kosong karena ada beberapa siswa tingkat kedua yang berdiri disana.
            Ify melirik sebuah pohon akasia berukuran besar yang terletak tak jauh dari kerumunan kelasnya. Entah kenapa, ada sesuatu dari pohon itu yang membuatnya tertatik. Ify menajakmkan pengelihatannya dan ia menemukan Debo bersandar pada batangnya.
            Semua terasa begitu cepat. Rupanya kakak-kakak kelas didepan itu sedang mengumumkan nama-nama calon anggota OSIS Witchy School of Art. Tepat ditengah Bukit Hijau, ada sebuah botol yang akan mengeluarkan kembang api. Kembang api tersebut membentuk nama-nama calon anggota OSIS diatas sana. Persis seperti pembagian kelas beberapa hari yang lalu.
            Ify, Sivia, dan Oik hanya menopang dagu dengan mata hampir terpejam sampai ketika.....
            “Dari kelas kedelapan..”
            “Alvin Jonathan Sindunata,”
            “Alyssa Saufika Umari,”
            Ify terkaget-kaget melihat namanya dibentuk oleh kembang api diatas sana.
            “Oik Cahya Ramadlani,”
            Oik menegakkan tubuhnya. Kantuknya mendadak hilang melihat namanya muncul.
            “Sivia Azizah.”
            Sivia mengucek matanya beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Ketiganya lantas saling pandang dengan wajah terkejut masing-masing. Ketiganya lalu menggeleng tak mengerti dengan mata disipitkan, dan...
            “AAAARGH!!!” teriak ketiganya sebal.
            “Ulah siapa ini?!” pekik Oik tak terima.
            “Kita bertiga nggak mau jadi anggota OSIS!” sahut Sivia setelahnya.
            Ify terdiam, kembali mengingat perkataan Debo. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki dibawah pohon akasia itu. Ify melihatnya tersenyum penuh arti. Oh, jadi ini apa yang dimaksud Kak Debo kemarin malam..

**

            Istirahat kali itu, Ify menemani Keke ke cafetaria. Keke ingin membeli beberapa camilan dan menemui kakaknya disana. Begitu keduanya menginjakkan kaki di cafetaria, Keke langsung bergegas membeli camilan dan Ify duduk pada salah satu set meja makan yang terletak ditengah-tengah cafetaria.
            Ify menopang dagunya dengan tangan kanan dan mengedarkan pandangan kesetiap sudutcafetaria. Rupanya ramai juga tempat ini ketika istirahat. Maklum saja, ini pertama kalinya Ify kemari diluar jam lunch dan dinner.
            “Nih,”
            Tiba-tiba saja Ify merasakan dingin dipipinya. Ia mendongak dan mendapati Keke tengah menempelkan sekotak susu fermentasi rasa vanilla dipipinya. Ify menerimanya dan kemudian Keke duduk.
            “Aku sudah membeli banyak camilan untuk kita. Mungkin nanti kita ada jam kosong karena Madam Winda nggak masuk hari ini.” Ujar Keke setelah menelan roti bolunya.
            Ify menusukkan sedotan pada kotak susu tersebut dan meminumnya sedikit. “Benarkah? Untung saja, aku belum terlalu hafal dengan not-not balok menyebalkan itu.”
            “Ya, aku juga.” Keke kembali menggigit roti bolunya.
            “Kita masih akan terus disini atau kembali ke kelas?” tanya Ify setelah melihat Keke menghabiskan kue bolunya.
            “Tunggu sebentar. Aku, kan, sudah janji akan mengenalkan kamu dengan kakakku. Sebentar lagi kakakku kesini.” Keke membuka tas plastik berisi camilan.
            “Eh!” Tangan Ify mencegah Keke yang akan mengambil satu lagi camilan dari dalam tas plastik. “Sudah, jangan dihabiskan! Katanya untuk camilan kita waktu jam kosong nanti. Bagaimana, sih?”
            Keke hanya mengangguk cuek dan mencomot sebungkus roti bolu lagi. Ify menggeleng-geleng melihat temannya. Ify tidak akan heran mengapa pipi Keke sebulat itu begitu mengetahui bahwa Keke senang sekali makan. Ify pun kembali menopang dagunya.
            “Keke!”
            Ify dapat merasakan Keke yang beranjak berdiri. Begitu Ify melayangkan pandangan pada Keke dan kakaknya, rupanya keduanya sedang berpelukan sehingga tidak memungkinkan Ify melihat wajah kakaknya.
            “Duduk sini, Kak.” Keke beranjak duduk dan kebetulan kakaknya duduk dihadapan Ify.
            Akhirnya Ify dapat melihat wajah kakak Keke. Ify menahan napasnya saat itu juga.
            “Jadi ini yang namanya Ify?” tanya laki-laki itu.
            Keke mengangguk. “Iya, Kak. Ini yang aku mau kenalkan sama kakak.”    
            “Jadi kamu, ya, yang kemarin sore salah kirim pesan?” tanya laki-laki itu dengan menahan senyum.
            Ify tersenyum kikuk. “Iya, Kak. Jangan-jangan kakak, ya, yang menerima pesan itu?”
            “Ya.” Lelaki itu pun tertawa.
            “Lho? Pesan apa? Kalian sudah kenal?” tanya Keke bingung.
            “Belum.” Ify menyahut. “Kakak ini... yang membantu aku cari buku di library juga, kan?”
            Laki-laki itu mengangguk. “Kamu masih ingat juga ternyata.”
            “Bagaimana aku nggak ingat? Aku belum sempat berterima kasih sama kakak.” Ify tersipu menyadari kebodohannya.
            “Nggak apa-apa,” lelaki itu tersenyum maklum.
            “Kalian sudah berkenalan, belum?” tanya Keke yang dijawab gelengan kepala dari keduanya.
            Keke lantas menarik tangan kanan Ify yang berada dibawah meja dan menarik tangan kakaknya yang sudah berada diatas meja. Keke menautkan kedua tangan itu untuk saling berjabat dengan nyengir lebar.
            “Ayo, kenalan!” perintahnya.
            “Aku Ify, Kak,” Ify tersenyum kecil.
            “Hay, Ify. Aku Rio.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS