Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label ozy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ozy. Tampilkan semua postingan

LOVE WILL FIND ITS WAY [Side Story of LOVE HURTS]

            Terdengar bunyi-bunyian yang memekakkan telinga dari dalam studio. Sebuah band beraliran heavy rock sedang berlatih di dalam dengan didampingi managernya. Jam dinding telah menunjuk angka sebelas dengan jarum panjangnya dan angka satu dengan jarum pendeknya. Di luar sedang turun hujan, membuat malam itu semakin dingin.
            Bunyi-bunyi berisik berangsur hilang. Studio perlahan menjadi senyap. Keempat anggota band yang sedang naik daun itu beristirahat untuk sementara, sang manager memperhatikan dalam diam. Jadwal latihan mereka memang semakin padat menjelang konser keliling Indonesia yang mereka gelar pada pertengahan bulan nanti.
            Rockability. Itulah mereka. Sebuah band dengan empat lelaki bertampang diatas rata-rata yang tergabung didalamnya. Cakka yang sudah nyaman sebagai vocalist, Gabriel dengan bass, Ozy dengan gitar, dan Ray bersama drum. Dan keempatnya berada dibawah kuasa penuh sang manager, Ashilla–atau yang lebih akrab disapa Shilla.
            Mereka berempat sedang meminum soft drink masing-masing ketika salah satu ponsel yang tergeletak di sudut ruangan meraung-raung pertanda sebuah pesan telah masuk. Kelimanya saling lirik.
            “Biar gue yang cek.” Ray melangkah untuk mengecek keempat ponsel tersebut dan mengambil salah satunya. “Punya lo, Kka.” Ray mengacungkannya pada Cakka lalu melemparkannya.
            Cakka dengan sigap menangkap. “Thanks, Ray!”

From: Oik
Kt ptus

            “Wh–––Are you kidding me?!” Cakka memekik kaget.
            Gabriel menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Got problem, Bro?” tanyanya penasaran. Cakka hanya mengangkat salah satu tangannya dan kembali fokus memelototi layar ponsel.

To: Oik
We’re just fine n u... Why?

            “Kka?” Ozy memanggil Cakka dan tak dihiraukan sedikit pun oleh sang obyek.

From: Oik
Aq bsn sm qm

            Cakka mengacak rambutnya frustasi. Dengan segera, ia mengantongi ponselnya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas berlari ke parkiran. Ia sama sekali tak memerdulikan ketiga sahabatnya dan seorang managernya yang berteriak kencang dari dalam studio menanyakan ada apa padanya.
            Ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan ke wilayah Menteng, tempat dimana dorm Diamond –girlband Oik– berada. Hanya dalam waktu sepuluh menit –yang dalam keadaan normal Cakka harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih– ia sudah memarkirkan mobilnya asal-asalan di halaman depan dorm Diamond.
            Cakka turun dari mobilnya. Ia mengangguk sekilas pada seorang satpam paruh baya yang berjaga di pos. Dengan langkah lebar-lebar, Cakka berjalan menuju bangunan utama dorm. Tangannya menggedor pintu dengan keras.

**

            Kelima anggota Diamond sedang berada di kamar Oik di lantai dua ketika suara gedoran pintu yang dapat menulikan telinga itu terdengar. Sivia, yang sedang mengecat kukunya dengan kuteks motif leopard berwarna tosca-putih, berteriak nyaring karena cairan kuteks tersebut luntur hingga keibu jarinya.
            “Siapa, sih, malam-malam begini ngegedor pintu seperti orang kesurupan?!” Ify berkata sewot dari balik laptopnya.
            Acha melirik keempat partnernya dengan curiga, “Elo berempat nggak lagi delivery sesuatu, kan?”
            “Nggak!” Pricilla menggeleng kecil. Kemudian gadis itu kembali larut dalam majalah fashion yang ia baca.
            “Biar gue aja yang buka,” kata Oik.
            Gadis bergigi gingsul itu segera turun dari ranjangnya, mengenakan sandal boneka, dan pasti sudah keluar dari kamar ketika kakinya tidak sengaja mengantuk sebuah kotak berukuran sedang di bawah ranjang.
            Keadaan mendadak sunyi. Sivia berhenti mengoleskan kuteks kekukunya. Ify menutup laptopnya. Acha berhenti mengunyah jeruk. Pricilla meletakkan majalahnya. Oik memandang ngeri kearah boks tersebut.
            Dengan sigap, Sivia kembali mendorong boks tersebut ke bawah ranjang Oik tanpa memperhatikan kuteksnya yang masih basah.
            “Come on, Oik! Elo nggak pingin ngebuat orang kesetanan yang sedang ngetuk pintu itu makin kesetanan lagi, kan, karena elo nggak ngebukain?” Sivia mendorong punggung Oik menuju pintu kamar dan memaksa gadis itu turun.
            Oik mengangguk pelan tanpa melihat ekspresi keempatnya. Perlahan, ia pun turun. Meninggalkan keempat sahabatnya yang –tanpa mereka sadari– sedang menahan napas semenjak kaki Oik tidak sengaja mengantuk boks itu.
            Oik terlebih dahulu mengintip sesosok bayangan hitam yang sedang menggedor pintu dormnya itu melalui kaca jendela. Sialnya, lampu depan sudah padam semua dan Oik hanya bisa melihat siluet itu. Siluet laki-laki.
            Oik membuka pintu. Ia tersentak kaget begitu mendapati Cakka tengah berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Oik segera menutup kembali pintunya. Wajahnya pucat pasi. Tapi sayangnya, tangan kokoh Cakka berhasil mencegah Oik melakukannya.
            “Buka, Oik!” suara Cakka terdengar frustasi di luar sana.
            “Nggak! Kamu ngapain malam-malam begini ke dorm?” Oik menyahut dari dalam.
            “Arrrggghh!!” Cakka mendorong pintu dorm Oik hingga membuat gadis mungil itu agak mundur. “For God’s sake, Oik! Buka pintunya! Kita perlu bicara.”
            Oik menggeleng dengan peluh yang sudah menetes dari dahinya. “Nggak mau. Sebaiknya kamu pulang aja.”
            “Please, Oik...” Cakka berkata pelan. “Sekali ini aja. Setelah itu, aku nggak akan ganggu kamu lagi.”
            “Janji?” tanya Oik dengan suara bergetar.
            Cakka memejamkan matanya. Mengapa suara Oik terdengar bergetar? Cakka memijat keningnya membayangkan ia akan menghabiskan sisa umurnya tanpa bayangan Oik. “IYA! OKE!” Cakka menggeram.
            Perlahan, Cakka merasakan pintu yang ia dorong tak lagi ditahan dari dalam. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cakka dapat melihat wajah Oik yang pucat pasi dari balik daun pintu. Dengan tak sabar, Cakka mendorong pintu tersebut supaya terbuka lebar. Oik beringsut masuk ke dalam dorm.
            “Why were you doing this to me?” tanya Cakka dengan suara memohon.
            “Doing what?” tanya Oik balik dengan terbata-bata.
            “Look at me, Oik!” Cakka mengangkat dagu Oik agar pandangan mereka bertemu. “Kenapa, Ik?” tanya Cakka lagi, terdengar seperti suara orang kesakitan.
            Oik kembali melarikan pandangannya ke samping. “Ak––Gue bosen sama lo.”
            Cakka jatuh terduduk dikaki Oik. Menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Setetes air mata Oik jatuh ketika melihat lelaki itu begitu tersiksa karenanya. Cepat-cepat ia hapus air mata itu sebelum Cakka melihatnya.
            Cakka mendongak menatap Oik, “Can you think about it again? I’ll wait for it. ‘Til the end of time. Just... don’t leave me. Please.” Cakka memohon.
            Oik menggeleng, tetap pada keputusannya. “Ini udah malam, Kka. Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Sukses buat konser keliling Indonesia Rockability.”
            Cakka menggeleng lesu. Oik sudah menutup pintunya keras-keras. Satu yang Cakka tak tahu, Oik juga terduduk di balik pintu. Ia tak tahu gadis itu juga sama tersiksanya dengan dirinya.
            “Ik, buka...” lirih Cakka.
            “Pulang, Kka!” bentak Oik.
            “Nggak.” Cakka menggeleng frustasi.
            “Pak satpam! Suruh dia pulang!” Oik berteriak dari dalam.
            Oik bangkit. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Ia menyeret kakinya, memaksanya menaiki tangga. Telinganya mendengar Cakka dan satpamnya yang tengah berdebat diluar. Oik semakin lemas saja.
            Begitu sampai di kamarnya, Oik langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Sivia, Ify, Pricilla, dan Acha saling pandang.
            “Tadi siapa, Ik, yang datang?” tanya Acha seraya mengusap punggung Oik dengan lembut.
            “Ca...kka...”
            Keempatnya terpekik. Sivia melongokkan kepalanya ke bawah sana melalui jendela. Mobil Cakka meninggalkan pelataran dorm. Ia mengantar kepergian Cakka dengan alis terangkat sebelah. Sivia melirik kearah ranjang Oik. Ify, Pricilla, dan Acha tengah memeluk Oik bersamaan. Sivia menatap Oik kasihan.
            “Be strong, Oik.”

**

            Keesokan paginya, Diamond bertolak menuju kantor management mereka. Mereka sampai disana sekitar pukul sepuluh pagi. Lobby kantor terlihat ramai oleh penyanyi yang diorbitkan oleh TS-Entertainment. Kelima member Diamond segera menuju hall untuk menemui manager mereka–Zahra.
            “Mbak Zahra!” sapa Pricilla ketika kelimanya baru saja memasuki hall.
            “Hey!” Zahra menengok kearah mereka berlima, menyuruh mereka untuk menghampirinya. “Sudah lama datengnya?”
            “Belum, Mbak.” Acha menjawab dengan tersenyum lebar.
            Zahra menengok pada Oik, menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan artisnya itu. “Mata kamu sembab, Ik?”
            Oik terperangah kaget mengetahui Zahra menyadari matanya yang supersembab. Ia kemudian menggeleng lemas. “Nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur aja.”
            Baru saja Zahra akan kembali bertanya macam-macam pada Oik, Sivia sudah mendahuluinya. Ia tak mau Oik gelagapan menjawab pertanyaan manager mereka. “Itu siapa, Mbak?” tanya Sivia, melirik seorang lelaki di samping Zahra.
            Oik melirik Sivia. Ia tersenyum kikuk pada Sivia. Sivia hanya mengacungkan jempolnya tak kentara. Oik menghela napasnya. Bagaimanapun juga, Oik masih agak kikuk jika berbicara dengan gadis itu. Apalagi kalau bukan karena kejadian itu?
            “Oh, iya!” Zahra seakan baru mengingat bahwa ada seseorang di sampingnya. “Ini Alvin. Penyanyi baru orbitan TS-Entertainment.”
            Alvin tersenyum pada kelima member Diamond. Kelimanya pun mulai menyalami Alvin.
            “Penyanyi solo, member boyband, apa personel band?” tanya Pricilla.
            “Kebetulan penyanyi solo.” Alvin menjawab dengan disertai senyum manisnya. Kelima member Diamond mengangguk mengerti.
            “Oik!!!” Oik mendengar suara bass yang cukup ia kenali tengah mamanggil namanya. Oik menengok ke samping dan menemukan salah satu staf TS-Entertainment telah berada di sampingnya.
            “Kenapa, Biet?” tanya Oik pada lelaki itu–Obiet.
            “Kenapa lo nggak cerita ke kita, sih, Darling?” Obiet menatap Oik dengan mata sayunya. Ia sudah menganggap Oik sebagai adiknya sendiri.
            “Cerita apa?” tanya Oik balik.
            Obiet menghela napasnya. “Gue barusan lihat acara gossip di TV. Managernya Rockability, tuh... siapa?”
            “Shilla!” jawab Sivia cepat. Ia melirik Oik dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa sama Shilla, Bang?”
            “Shilla bikin pernyataan kalau Cakka lagi frustasi, depresi, dan semacamnya. Gara-gara elo, Darling.” Obiet menatap Oik dalam-dalam. “Lo putus sama Cakka?”
            Oik memejamkan matanya. Ia sadar berita ini akan cepat menyebar. Tetapi ia tak mengira kalau akan secepat ini media mengendus hubungannya dan Cakka yang telah berakhir. Padahal baru semalam ia dan Cakka resmi putus.
            “Kamu putus, Ik? Itu yang bikin mata kamu sembab begini?” tanya Zahra was-was.
            Oik tersenyum jengah. “Padahal baru semalam gue dan Cakka putus.”
            Sivia bergerak mendekati Oik. Ia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Sivia merangkul Oik. Oik berdiri diam dalam rangkulannya. Suasana mendadak senyap karena pernyataan singkat Oik barusan.
            “Oik?” Alvin memanggil gadis itu. “Maaf sebelumnya. Mau minum hot chocolate bareng? Banyak orang bilang kalau coklat bisa menimbulkan efek tenang.”
            Oik mengangguk kikuk. Ia melepaskan diri dari rangkulan Sivia dan berjalan bersama Alvin menuju coffee shop yang terletak di lobby kantor management mereka. Keempat member Diamond lainnya beserta Zahra dan Obiet menatap kepergian Oik dengan lesu.
            “Gue makin merasa bersalah sama Oik,” ujar Sivia lirih.

**

            Sore itu Oik beserta Ify tengah menandatangani beratus-ratus lembar foto Diamond yang akan dijadikan souvenir dalam peluncuran album terbaru mereka besok. Acha, Pricilla, dan Sivia sudah membubuhkan tandatangan mereka dalam foto-foto itu. Hanya Oik dan Ify yang belum.
            “Acha, Sivia, sama Pricilla kemana, Fy?” tanya Oik.
            Ify menggeleng tak tahu. “Sivia, sih, tadi lagi keluar. Nggak tahu kalau Acha sama Prissy. Lagi molor, kali. Itu anak dua, kan, pada kebo semua.” Oik tertawa.
            Ditengah-tengah kegiatan mereka membubuhkan tandatangan, terdengar keributan kecil dari luar dorm. Keduanya mendengar jelas keributan kecil antara dua gadis tersebut karena Oik dan Ify sedang berada di ruang tamu. Sepertinya keributan kecil itu berlangsung di teras dorm mereka.
            “Siapa?” tanya Oik bingung.
            “Nggak tahu. Biar gue aja yang cek.” Ify memberikan isyarat agar Oik tetap duduk saja.
            Ify bangkit dari duduknya. Baru saja ia akan membuka pintu, pintu sudah terlebih dahulu dibuka dari luar. Tubuh Sivia menyeruak masuk. Dengan cepat, Sivia kembali menutup pintu dorm. Ify menatapnya curiga.
            “Oik––,” Sivia membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Ia bingung akan berbicara apa.
            “Apa, Siv?” tanya Oik dengan alis terangkat sebelah.
            Ify berusaha mendorong tubuh Sivia agar menyingkir dari pintu. Ify ingin sekali melihat siapakah yang kini tengah berada di teras dorm. “Itu siapa, sih, Siv?”
            Sivia makin gelagapan saja. Melihat Sivia yang tengah bingung dengan pikirannya sendiri, Ify segera mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga agar menyingkir dari pintu. Ify segera membuka pintu dorm dan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di teras dorm dengan wajah merah padam.
            Ify terkesiap begitu menyadari siapa gadis itu. Ify pun kembali menutup pintu dan berbisik pada Sivia. “Kenapa orang itu bisa ada di sini, Siv? Lo hutang penjelasan sama gue.”
            “Ada siapa, Fy, di luar?” tanya Oik penasaran.
            “Nggak tahu. Nggak kelihatan. Sivia, nih, nggak mau minggir, gue jadi nggak bisa ngebuka pintunya.” Ify pun melangkah meninggalkan Oik dan Sivia.
            “Fy! Mau ke mana?” tanya Oik lagi.
            “Ke dapur!” jawab Ify cepat. “Haus gue. Lo mau gue ambilin minum juga?”
            “Nggak usah, deh.” Oik membalas dengan berteriak.
            “Ik..” panggil Sivia pelan. “Ada yang mau ketemu sama lo.” Sivia menggigit bibirnya gugup ketika melihat ekspresi penasaran yang memancar jelas dari wajah Oik.
            “Siapa?” tanya Oik penasaran. “DiAddict? Atau OikLovers?”
            “Sepupu gue,” jawab Sivia takut-takut.
            Oik berdiri ketika Sivia mulai membuka pintu dorm. Seorang gadis masuk kemudian berdiri di hadapan Oik. Gadis itu berwajah merah padam karena marah. Ia menggenggam beberapa lembar foto yang sudah lecek karena ia genggam terlalu keras.
            “Hay, Oik..” sapanya sinis.
            “Shilla?” suara Oik terdengar bergetar karena takut. Oik pun beralih pada Sivia. Rupanya gadis itu tengah menatapnya dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa bisa ada dia di sini, Siv? Mana sepupu lo?”
            “Gue sepupunya Sivia,” ujar Shilla dengan senyum sinisnya.
            “Lo nyari Cakka, Shil? Cakka nggak di sini, kok.” Oik menatap Shilla dengan gemetar.
            “Gue nggak nyari Cakka,” Shilla berkata perlahan seraya berjalan semakin dekat kearah Oik. Wajahnya mendadak berubah sengit. Ia melemparkan lembaran foto yang ia genggam tadi tepat kearah wajah Oik. “Lihat foto itu!” teriaknya bengis.
            Oik terkesiap kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Shilla. Ia beringsut mengambil beberapa lembar foto yang terjatuh dilantai. Oik memperhatikan keempat foto itu dengan seksama.
            “Gara-gara foto itu semuanya jadi kacau, Oik!” suara Shilla mulai terdengar berbahaya.
            “Kacau...?” Oik bergumam tak mengerti.
            “Gara-gara empat foto itu RockaFriends, terutama C~LUVers, pada ngamuk di twitter! Gara-gara foto itu! Gara-gara elo!” teriak Shilla sebal.
            Oik kembali memperhatikan empat foto tersebut. Keempatnya menunjukkan gambar dirinya dan Cakka. Cakka tengah mencium pipinya dengan latar belakang Menara Petronas, Kuala Lumpur. Oik ingat betul bahwa foto itu diambil seminggu yang lalu ketika ia dan Cakka menghabiskan waktu berdua di Malaysia.
            “Gimana bisa foto-foto ini ada di twitter?” tanya Oik tak mengerti.
            “Bukan Oik yang upload foto itu di twitter, Shil!” ujar Sivia.
            Shilla menatap Sivia tajam kemudian menatap Oik dengan pandangan membunuh. “Iya, gue tahu. Cakka yang upload foto itu––,”
            “Terus kenapa elo nyalahin gue?!” teriak Oik balik dengan suara bergetar antara marah dan ingin menangis karena gadis di hadapannya itu dari dulu tak pernah menyetujui hubungannya dengan Cakka.
            “Terus gue harus nyalahin siapa? Cakka?” tanya Shilla dengan senyum meremehkan.
            “Cakka yang upload foto itu. Bukan gue. Jangan salahin gue!” teriak Oik lagi.
            Shilla menatap Oik tak suka. “Lo berani sama gue?” tanya Shilla tak suka. Tangannya melayang akan menampar Oik. Tapi sayangnya, Sivia sudah menahannya terlebih dahulu.
            “Mending lo balik aja, Shil. Lo emang sepupu gue, tapi bukan berarti gue ngedukung apapun yang lo lakuin.” Sivia menatap Shilla dingin kemudian mendorong gadis itu agar cepat-cepat angkat kaki dari dorm Diamond.
            Selepas kepergian Shilla, Oik terduduk lemas pada sofa ruang tamu dorm Diamond. Oik terisak. Sivia bergerak untuk memeluk Oik tetapi ditepis olehnya. Sivia hanya mampu menatap Oik sedih. Ify, Pricilla, dan Acha datang tak lama kemudian. Oik sama sekali tak menolak ketika ketiganya memeluknya.

**

            “Jadi gitu ceritanya,” ujar Oik, mengakhiri ceritanya.
            Alvin mengangguk mengerti. “Jadi, Sivia itu sepupunya Shilla?” ulang Alvin.
            “Iya. Dan gue masih kikuk aja kalau ngomong sama Sivia. Masih kebayang-bayang gimana waktu itu dia ngebawa Shilla ke dorm Diamond aja.” Oik tersenyum tipis. “Eh, maaf, ya. Kita baru aja kenal tapi gue udah cerita nggak penting gini ke elo.”
            “Nggak apa-apa, kali.” Alvin tersenyum maklum. “Daripada elo pendem semuanya sendirian dan akhirnya jadi gila. Iya, kan?”
            Oik tertawa kecil. “Makasih banget, Vin.”
            “Lo nggak ada niatan untuk perbaikin hubungan lo sama Sivia? Takutnya ntar malah kecium media dan bakalan ada gossip nggak jelas.”
            “Asal Sivia nggak pernah bawa Shilla ke hadepan gue lagi, sih..” Oik mengerling.

**

            Hari itu, Oik kembali menjadi bintang tamu dalam acara Hitam Putih. Bedanya, kali ini ia tidak datang bersama Diamond, namun bersama Cakka. Keduanya duduk berdampingan sementara sang host –Dedy– menatap keduanya iri.
            “Jadi, kalian kapan resmi balikan?” tanya Dedy sembari menatap Cakka dan Oik bergantian.
            “Resminya tiga bulan lalu, Om,” Oik menjawab dengan tersenyum malu-malu sehingga membuat Cakka tertawa dan menariknya kedalam pelukan lelaki itu.
            “Terus sekarang udah main tunangan aja?!” tanya Dedy kaget.
            Cakka tertawa. “Kan, aslinya kita berdua udah dari lama, Om. Cuman sempet putus aja beberapa bulan lalu. Jadinya waktu kita balikan, ya, langsung dibawa kejenjang yang lebih serius aja.”
            “Kalian berdua waktu itu putusnya kenapa, sih? Waktu itu Oik juga sempet pacaran sama Alvin, kan? Ya, meskipun sebentar doang.” Dedy kembali berceloteh.
            “Nggak, Om. Aku sama Alvin nggak pacaran, kok. Kita berdua sahabat deket. Deket banget. Sampai sekarang masih sahabatan, kok. Isu yang bilang Alvin pernah nembak Oik juga nggak bener.” Oik kembali teringat isu bahwa ia dan Alvin pacaran kemudian tertawa bingung.
            “Bukannya waktu itu temen-temen kamu dari Diamond sendiri yang bilang kalau kamu sama Alvin pacaran?” tuntut Dedy.
            “Nggak!” Oik menggeleng keras. “Bercandaan doang itu, Om. Sekarang juga Alvin udah punya cewek, kali. Jangan sebut-sebut Alvin pacarku, dong. Lagian Om Dedy nggak bisa diajak bercandaan amat. Udah tua, sih.” Studio pun kembali riuh oleh tawa penonton.
            Dedy memandang Oik keki karena telah mengatainya sudah tua. “Putus, putus. Kalian putusnya kenapa waktu itu?”
            Cakka dan Oik berpandangan penuh arti. “Itu biar jadi rahasia kita berdua aja, Om,” jawab Cakka.
            Dedy menatap kamera lalu memasang wajah jengkelnya. “Begini ini bintang tamu minta diusir. Ditanyain malah sok main rahasia-rahasiaan.”
            “Om, nggak nanya kita nikahnya kapan?” tanya Oik dengan wajah polosnya.
            “Iya, iya! Kapan kalian berdua nikah?” tanya Dedy balik dengan terlampau bersemangat.
            “Tahun depan, Om!” jawab Cakka dan Oik berbarengan yang memancing gelak tawa penonton seisi studio.


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PHOTOGRAPHY IN LOVE [06]

            Sore hari yang cerah. Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua tengah duduk disebuah bangku dekat tempat bermain anak-anak. Gadis kecil itu masih mengenakan seragam sekolahnya dengan badge kelas 4 SD.
            Ia menengok ke samping. Adiknya –yang hanya berbeda satu tahun dengannya– rupanya tengah bermain perosotan dengan teman-temannya. Ia mendengus kesal karena tak diajak bermain bersama dengan adiknya.
            “Halo!”
            Gadis itu menengok cepat ke samping dan menemukan seorang lelaki kecil seumuran dengannya telah duduk manis. Gigi ompong lelaki itu membuat sang gadis kecil terkekeh pelan. Tiba-tiba saja rasa kesal kepada adiknya hilang entah kemana.
            “Kamu dari mana aja, sih?” tanya gadis kecil itu dengan sedikit merajuk. “Aku nggak punya temen, tau!”
            “Tadi Mama bilang nggak boleh kesini dulu. Disuruh nunggu sebentar. Mama lagi bikin ini,” Lelaki kecil itu menyodorkan sebuah kotak makan pada gadis di sampingnya. “Mama bikin buat kamu.”
            Gadis kecil itu meliriknya sekilas dan tanpa basa-basi membuka kotak makan yang telah berada dalam genggamannya. “Sandwich isi tuna?!” pekiknya gembira.
            “Iya.” Lelaki kecil di sampingnya mengangguk.
            Dengan lahap, disantapnya sandwich-sandwich tersebut. “Kamu mau main perosotan juga?” tanya gadis kecil itu dengan mulut penuh makanan.
            Lelaki itu menggeleng lesu. “Nggak, deh. Kayaknya habis ini hujan.”
            Sang gadis kecil mendongak menatap langit. Gumpalan awan kelabu menggantung diatas sana. “Oh, iya! Lagi mendung, ya!” serunya dengan suara cempreng khas anak kecil.
            “Gimana kalau kita pulang aja? Nanti kita kehujanan, lho!” Wajah sang lelaki kecil mendadak panik membayangkan ia aka terserang flu berhari-hari hanya karena kehujanan. Seperti beberapa minggu yang lalu.
            “Tapi adikku gimana? Dia masih main perosotan sama temen-temennya,” gadis kecil itu mengedik pada sekumpulan anak kecil lainnya yang tengah mengantri bermain perosotan.
            “Udah, biarin aja. Biarin mereka nanti pilek soalnya kehujanan!” sungut sang lelaki kecil.
            “Yang udah, deh,” Sang gadis kecil hanya mengangguk pasrah.
            Keduanya pun bangkit berdiri lalu menyusuri jalanan taman dalam diam. Sang gadis kecil menyantap sandwich isi tunanya sambil berjalan. Tangan kirinya menggenggam erat sebuah kotak makan dan tangan kanannya menggenggam sandwich isi tuna yang sudah tinggal setengah bagian.
            Begitu sampai di pinggir jalan, keduanya diam sejenak. Melihat gadis kecil berambut pendek yang tengah gelisah di seberang jalan sana, keduanya saling pandang bingung. Gadis di seberang jalan berancang-ancang untuk menyebrang.
            “Hey! Kamu kenapa?” tanya sang lelaki kecil.
            Gadis kecil di seberang jalan menatap sang lelaki kecil dengan sedih. “Kalungku hilang. Mungkin jatuh.” Suaranya bergetar, seperti ingin menangis.
            “Jatuh dimana?” tanya sang gadis kecil yang baru saja menelan bulat-bulat sandwich isi tuna yang belum sempat ia kunyah.
            “Nggak tahu,” gadis kecil berambut pendek itu merajuk, seperti ingin menangis. Ia kembali menengok ke kanan dan ke kiri, mengambil ancang-ancang untuk menyebrang.
            “Eh! Kamu mau nyebrang?” tanya sang lelaki kecil. Begitu gadis di seberang sana mengangguk, ia tersenyum senang dan beralih pada gadis kecil di sampingnya. “Aku mau bantu dia nyebrang dulu, ya! Kamu tunggu sini aja!”
            Gadis kecil di sampingnya menggenggam kuat-kuat kotak makan. “Hati-hati ketabrak motor atau mobil, ya!”
            Lalu lelaki kecil itu tersenyum mantap dan berlari ke tengah jalan raya. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar ke samping, menyuruh segala macam kendaraan untuk berhenti sejenak. Begitu melihat sudah tak ada lagi kendaraan yang akan melintas, ia menengok pada gadis kecil berambut pendek dan memberikan kode agar segera menyebrang.
            Dengan takut-takut, gadis kecil berambut pendek itu menyebrang jalan. Begitu ia telah sampai di seberang, ia melambaikan tangan pada sang lelaki kecil. Lelaki kecil itu berlari kencang menuju kearah dua gadis kecil.
            “Debo awaaaaaassss!!!!!” pekik sang gadis kecil yang tengah menggenggam sebuah kotak makanan.
            BRAK!

**

            Cakka dan Shilla baru saja tiba di pelataran Oicagraph. Keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke dalam galeri. Ada Alvin, Oik, Rio, dan Ify yang tengah berkumpul di meja Ify. Aroma mie kuah langsung menyergap hidung mereka.
            Suara derap langkah keduanya menarik perhatian Ify. “Hay!” sapanya.
            Cakka dan Shilla mengangguk sopan dan segera menghampiri keempatnya. Rupanya Alvin dan Oik tengah makan semangkuk berdua. Hal itu membuat Cakka menautkan alisnya, mengingat apa yang terjadi semalam di apartemen Oik.
            “Kita duduk mana, nih?” tanya Shilla dengan tersenyum kikuk. Pasalnya, dua bangku yang biasanya diperuntukkan pada tamu di depan meja Ify kini tengah didudukki Alvin dan Oik.
            “Oh, iya. Bentar, Shil. Gue sama Alvin pindah aja.” Oik segera meletakkan sendok yang digenggamnya diatas mangkuk dan hendak berdiri jika saja suara Rio tidak menahannya.
            “Nggak usah! Lo duduk aja, Ik. Pamali makan sambil berdiri. Biar gue ambilin kursi di belakang.”
            Beberapa detik setelahnya, Rio datang dengan membawa dua buah kursi plastik yang ia ambil dari dapur Oicagraph. Ia meletakkannya di samping meja Ify. Cakka dan Shilla mengangguk berterima kasih dan segera duduk.
            “Makan dulu, Kka, Shill,” seru Alvin. Ia mengangkat mangkuknya sedikit, menawarkan pada Cakka dan Shilla. “Mau? Biar gue suruh office boy bikin.”
            “Nggak usah. Makasih.” Tolak Shilla halus. Ia harus mengontrol asupan makanannya jika ingin suara indahnya tetap terkontrol. Ia hanya makan makanan rumahan yang dimasak oleh Mama atau pembantunya saja, atau –sekali-kali– makanan resto mahal.
            Cakka tertarik untuk bertanya makanan apa yang sedang Alvin dan Oik santap ketika melihat keduanya sangat menikmati makanan tersebut. “Makan apa, Vin, Ik?”
            “Mie kuah,” jawab Oik singkat.
            Cakka kembali mendapatkan sentakan keras dalam hatinya. Pikirannya kembali berkecamuk. Satu lagi fakta yang yang mengganggu pikirannya. Apalagi ini?
            Mie kuah? Lala sama sekali nggak suka mie instant, apalagi mie kuah.

**

RADAR BANDUNG ––– 28 September 2008
REM BLONG, YAARIS MASUK JURANG

Satu Penumpang Tewas, Empat Luka

     BANDUNG – Kecelakaan maut terjadi di Ciburial, Kabupaten Bandung, kemarin (27/9). Sebuah Toyota Yaaris bernomor polisi B 5413 AI yang berisi empat penumpang dan satu sopir masuk ke dalam jurang sedalam 20 meter karena remnya blong. Akibat kecelakaan itu, satu penumpang meninggal di lokasi.
     Korban tewas adalah Nur Wachid Hidayat, 18. Sementara itu, empat penumpang mobil lainnya selamat. Yakni, Dadang Iskandar (sopir) beserta ketiga penumpang lainnya yang belum diketahui identitasnya. Semua adalah warga Bandung.
     Radar Bandung (Jawa Pos Group) melaporkan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.00. Udin, salah seorang saksi, mengungkapkan, kecelakaan bermula saat Yaaris melaju dari arah utara. Sesampai di jalan berkelok turun, kecepatan mobil tidak menurun. Tak ayal, mobil pun jatuh ke jurang karena oleng.
     Camat setempat menyatakan, pihaknya prihatin atas kecelakaan tersebut. Apalagi, itu bukan yang pertama. “Sudah lebih dari tiga kali terjadi kecelakaan di jalan berkelok ini sejak 2005.” ujarnya.

**

            Alvin dan Oik tengah berjalan menuju lobby apartemen ketika senja menjelang. Mereka baru saja selesai membantu Rio dalam proses editting foto pukul lima tadi. Dengan lesu, keduanya jalan beriringan menuju lift.
            “Mau makan malam di luar atau aku masakin?” tanya Oik sambil melirik Alvin.
            Alvin merangkul pinggang Oik dan tersenyum tipis. “Kamu aja yang masak. Udah lama kamu nggak masak buat aku.”
            “Oke,” Oik mengedikkan bahunya cuek. “Kamu mau makan apa? Biar aku ke minimarket dulu.”
            Keduanya berhenti di depan lift. Alvin melepaskan rangkulannya dan memencet tombol panah ke atas. Ia menatap anga empat di atas pintu lift. Menyadari lift masih berada di lantai empat, Alvin kembali menghadap Oik.
            “Terserah kamu aja,” ujarnya sambil memencet pelan ujung hidup Oik.
            Oik tersenyum malu-malu dan menyingkirkan telunjuk Alvin yang masih bertengger di telunjuknya. “Nasi goreng jamur aja, ya? Aku lagi malas masak yang macem-macem.”
            Alvin mengangguk.
            Kemudian pintu lift terbuka. Alvin mengusap puncak kepala Oik sejenak dan mencium sekilas kening gadis itu dan masuk ke dalam lift. Oik masih terbengong-bengong di tempatnya dengan wajah bersemu merah.
            “Alvin! Jahil banget?!” seru Oik dengan suara tertahan, membuat Alvin terkekeh.
            Pintu lift mulai tertutup. Oik seakan teringat sesuatu. Ia segera menyelipkan tangan kirinya pada ruang sisa pintu lift, mencegah agar pintu lift tak tertutup sekarang. Sedangkan tangan kanannya membongkar isi tas, mencari-cari sesuatu.
            “Ngapain, Ik?” tanya Alvin bingung.
            Oik bergumam tak jelas. Lalu, ia menyodorkan kartu apartemennya pada Alvin. “Kamu langsung ke apartemenku aja. Buatkan aku coklat hangat, ya.”
            Alvin mengangguk mengerti dan menerima kartu apartemen Oik. Pintu lift pun tertutup. Alvin seorang diri berada dalam lift. Ia menimang-nimang kartu apartemen Oik sambil bersiul. Begitu lift tiba di lantai apartemennya dan Oik, Alvin melangkah keluar.
            Lelaki bermata sipit itu melangkah menyusuri koridor apartemen. Pada persimpangan jalan, Alvin berbelok kanan. Ia berhenti pada pintu apartemen keempat di sebelah kiri–apartemen Oik. Setelah menempelkan kartu apartemen Oik pada sensor pintu, ia masuk ke dalam.
            Alvin segera menuju pantry. Ia menemukan sebuah teko untuk memanaskan air tergeletak diatas kompor. Ia segera mengambilnya dan berjalan menuju dispenser. Setelah mengisinya hingga penuh, Alvin kembali meletakkannya diatas kompor dan menyalakan kompr tersebut.
            Tiba-tiba saja ponsel dalam saku celananya bergetar. Alvin berdecak kesal begitu melihat notifikasi bahwa baterai ponselnya telah habis. Dengan menggerutu, ia berjalan ke kamar Oik. Dinyalakannya lampu tidur pada night stand dan ia duduk dibibir ranjang Oik.
            Alvin membuka laci night stand dan mencari-cari charger ponsel Oik, meminjamnya. Begitu menemukan benda yang dicari, Alvin segera mengambilnya. Ketika ia hendak mematikan lampu tidur Oik, matanya terantuk pada sebuah wristband berwarna biru yang tergeletak diatas night stand. Tangan Alvin terulur untuk mengambilnya.
            Setelah mematikan night stand, Alvin segera keluar dari kamar Oik. Begitu ia akan melangkahkan kaki menuju dapur, terdengar ketukan pintu. Alvin memutar tubuhnya dan membukakan pintu. Ia mendapati Oik yang tengah membawa sebuah tas plastik kecil telah menatapnya.
            “Hay,” sapanya.
            “Kayak nggak ketemu berhari-hari aja, Vin,” ejek Oik. Gadis itu lalu melangkah menuju pantry, Alvin mengekor di belakangnya.
            “Aku pinjem charger kamu, Ik,” kata Alvin begitu keduanya telah sampai di pantry. Alvin duduk dimeja counter, menunjukkan charger yang tadi telah diambilnya pada Oik yang tengah mengeluarkan isi tas plastik tersebut.
            “Ya,” Oik menjawab singkat seraya mengangguk.
            Alvin lalu bangkit dan men-charge baterai ponselnya di ruang tengah apartemen Oik. Setelah itu, ia kembali ke pantry dan menemukan Oik yang tengah memanaskan wajan penggorengan.
            Alvin bergerak ke samping Oik. Lelaki itu mematikan kompor dan membawa membawa teko panas itu ke meja counter. Ia telah menyiapkan dua cangkir berisikan bubuk coklat sebelumnya. Dengan berjingkat karena takut terkena tetesan air panas, Alvin menuangkannya pada kedua cangkir itu.
            Sepuluh menit kemudian, Alvin dan Oik telah duduk berhadapan dimeja counter. Dua piring nasi goreng jamur dan dua cangkir coklat hangat telah menunggu untuk disantap. Alvin dan Oik berdoa terlebih dahulu baru menyantap makan malam mereka.
            “Vin, besok bisa temani aku?” tanya Oik sambil mengunyah nasi goreng jamurnya.
            “Kemana?” tanya Alvin balik.
            “Jenguk dia,” lirih Oik. “Apa aku naik taxi aja, ya?”
            Alvin meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Oik dingin. “Nggak. Nggak boleh. Kamu nggak boleh pergi jauh-jauh tanpa aku. Aku nggak mau kejadian lima tahun lalu terulang lagi.”
            “Alvin,” Oik merajuk dengan wajah sedihnya. “Ayolah..”
            “Besok lusa aja, Ik. Kamu tahu sendiri aku besok ada pemotretan buat year book SMA Karitas.” Alvin kembali menyantap nasi goreng buatan Oik.
            “Aku maunya besok, Vin. Aku udah kangen dia.” Oik tetap bersikeras.
            “Rio mungkin besok nggak ada jadwal editting foto. Biar aku telepon dia.” Alvin bangkit, hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio.
            “Nggak usah,” Oik juga ikut bangkit. Ia kembali mendudukkan Alvin dikursinya. “Aku nggak mau ganggu dia dan Ify. Biar aku tanya ke tetangga sebelah aja. Siapa tahu besok mereka free.” Oik mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan keluar apartemen, menuju apartemen si lima sekawan.
            Baru saja Oik mengetuk pintu apartemen sang lima sekawan, sudah terdengar teriakan untuk menunggu sebentar dari dalam. Oik terkikik geli mendengar suara cempreng Ray yang tak ubahnya anak kecil.
            “Hay!” sapa Ray begitu ia melihat Oik tengah berdiri di depannya. “Masuk, masuk..” ajaknya. Ia mundur selangkah dan mempersilahkan Oik masuk. Begitu Oik masuk, ia langsung menutup kembali pintu apartemennya.
            “Halo, Oik!” sapa empat lelaki lainnya yang tengah menonton DVD di ruang tengah.
            Oik melambaikan tangan pada mereka dan duduk diatas sofa, di antara Gabriel dan Deva. “Lagi nonton apa?” tanyanya.
            “The Bay, Ik,” jawab Ozy sambil melahap popcorn-nya.
            “Mau minta tolong apa, Ik?” tanya Patton tanpa mengalihkan pandangannya dari TV plasma yang sedang menayangkan film keluaran terbaru tersebut.
            “Tahu aja lo kalau gue mau minta tolong,” ujar Oik seraya tertawa malu.
            “Karena kita berlima udah sehati sama lo,” sambung Deva lalu nyengir lebar.
            “Besok ada yang free ga?” tanya Oik langsung. Ia menatap Ray, Deva, Ozy, Patton dan Gabriel bergantian. Begitu matanya bertemu dengan mata Gabriel, Oik menelan ludah entah karena apa.
            “Wah, gue besok ada kuliah, Ik. Sorry, sorry..” Patton melirik Oik sekilas sambil tersenyum meminta maaf. Besok ia harus menjalani UAS di kampusnya.
            “Gue UAS besok, Ik,” lanjut Deva. “Mungkin lo bisa minta tolong Gabriel, Ozy, atau Ray. Kayaknya tiga orang itu besok free.”
            “Besok gue kerja. Cadangan cuti gue udah habis buat tahun ini.” Ozy tersenyum memaksa. Ia menggaruk tengkuknya begitu ingat bahwa cadangan cutinya telah habis.
            “Besok gue sama Gabriel free kok, Ik.” Ujar Ray yang baru saja kembali dari pantry. Ia menyerahkan tiga bungkus popcorn pada Ozy. “Mau minta tolong apa memangnya?”
            “Bisa anter gue ke Serpong?”
            Tiba-tiba saja Gabriel yang tengah mengunyah popcorn terbatuk-batuk. Ia melirik Oik dengan pandangan yang sulit diartikan lalu segera meneguk colanya. “Serpong? Untuk apa?”
            “Jenguk... saudara,” lirih gadis itu. “Pakai mobil gue. Salah satu dari kalian yang nyetir. Bisa? Alvin nggak ngebolehin gue keluar jauh-jauh sendirian dan besok dia ada jadwal motret.” Oik menatap Ray dan Gabriel dengan wajah memelas.
            “Oke, deh!” Ray menyanggupi sambil mengangguk mantap. “Besok berangkat jam berapa, Oik?”

**

            “Selamat malam. RS Khusus Jiwa Dharma Graha. Ada yang bisa dibantu?”
            “Halo, Sayang.”
            “Kamu? Astaga! Untung bukan suster atau dokter lain yang angkat!”
            “Karena aku tahu kalau pasti kamu yang bakal angkat teleponnya.”
            “Untuk apa malam-malam begini telepon?”
            “Aku kangen, Sayang. Besok ada jadwal praktek?”
            “Besok aku dinas siang. Mau ketemu?”
            “Boleh. Jam tujuh pagi ya, Sayang?”
            “Oke. Di tempat biasa, kan?”
            “Iya. Dandan yang cantik, ya. Aku ada kejutan buat kamu.”
            “Apa? Tiket untuk pergi ke Paris berdua?”
            “Aku serius, Sayang.”
            “Oke, oke.. Eh, Sayang, udahan dulu, ya. Ada pasien yang ngamuk, nih.”
            “Oke. Ketemu besok, ya.”


**

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS