Seminggu kemudian..
Oik berjalan dengan tergesa-gesa menuju Sekretariat OSIS.
Pasti rapat mengenai LDKS yang akan diselenggarakan besok sudah
dimulai. Ini semua gara-gara Sivia dan Pricilla! Kedua sahabatnya itu
tadi mengajaknya makan di kantin. Mentang-mentang keduanya tidak
mencalonkan sebagai anggota OSIS lagi, mereka jadi semena-mena menculik
Oik saat rapat digelar! Huh!
Oik mengetuk pintu Sekretariat OSIS dengan hati-hati.
Setelah itu, ia membukanya. Seluruh pasang mata di dalamnya memandang
tajam ke arahnya. Oik masuk seraya tersenyum kikuk, lalu mengambil
tempat duduk di samping Keke –adik kelasnya–.
Oik mengerling ke depan. Para senior OSIS sedang memimpin
rapat. Ada Zahra, Angel, Rio, Kiki –Ketua OSISnya–, Lintar –Wakil Ketua
OSIS–, Irva –Ketua Panitia LDKS–, dan Rahmi –Bendahara I OSIS–.
Oik mengedarkan pandangannya. Rupanya Cakka dkk itu juga
mencalonkan sebagai anggota OSIS. Oik menggerutu dalam hati. Mau jadi apa OSIS tahun ini kalau anggotanya kayak mereka ini?
“Ya sudah, rapat saya tutup. Setelah ini langsung pulang,
jaga kesehatan. Besok kita berangkat ke daerah Trawas, Mojokerto.
Barang-barangnya juga jangan sampai ada yang ga dibawa.” Angel menutup
rapat dengan senyum sinisnya.
Angel, Rio, Kiki, Lintar, dan Rahmi langsung keluar dari
Sekretariat OSIS. Sedangkan Zahra dan Irva menunggu sampai seluruh
adik-adiknya keluar. Pasalnya, Zahra yang membawa kunci ruangan ini.
Jadi, dia yang akan menguncinya.
“Ik! Oik!”
Oik menengok ke belakang sambil membenahi dasinya. Ada
Shilla yang berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Cakka cs. Oik
mengangkat salah satu alisnya, membuat Shilla serta Cakka cs datang
menghampirinya.
“Hay, Kak.” Alvin tersenyum lebar seraya agak menganggukkan kepalanya, Oik hanya menatapnya datar.
“Halo, Mbak!” Cakka mengangkat tangan kanannya, bermaksud untuk berhigh five dengan Oik tapi sama sekali tak diperdulikan olehnya.
Shilla memandang Alvin, Cakka, Deva dan Ozy – teman
keduanya– dengan tersenyum kecil, lalu beralih pada Oik, “Ikut LDKS,
kan, Ik?”
Oik mengangguk, “Iya. Kenapa, Shill?”
“Jangan jutek-jutek, dong, Mbak.” celetuk Deva dan dia berhasil mendapatkan pelototan tajam dari Oik.
“Kamu tadi, kan, ga dateng rapat dari awal. Nanti aku
SMSin ke kamu aja, ya, barang-barang apa yang harus dibawa?” tawar
Shilla.
“Ga usah,” Oik menggeleng dan tersenyum berterima kasih.
“Aku udah tau, kok, Shill. Aku, kan, juga ikut LDKS tahun lalu... ga
kayak kamu. Aku juga bisa tanya Mbak Irva.”
Shilla hanya mengangguk mengerti dan tersenyum kikuk.
**
Keesokan harinya..
Para peserta LDKS telah siap di barisan masing-masing.
Dan, sialnya, Oik harus berbaris di dekat Cakka cs. Satu hal lagi yang
membuat Oik kesal adalah sinar matahari yang menyengat itu membuatnya
agak sedikit limbung. Oik memang tidak bisa berada di bawah sinar
matahari dalam waktu yang lama. Ia bisa pingsan dibuatnya.
“Kenapa, Kak?” Alvin melongokkan kepalanya pada Oik.
Oik menggeleng lemah, “Ga kenapa-kenapa. Cuman kepanasan.”
“Aku bawa jaket, Mbak. Mau pinjem?” tawar Cakka, lagi-lagi ia tersenyum lebar.
“Aku juga bawa.” Oik melirik Cakka dingin.
**
Seluruh peserta LDKS beserta para senior OSIS turun dari
dalam bus. Mereka semua dihadapakan dengan barisan bukit yang hijau.
Para peserta LDKS kembali berbaris, dipimpin oleh beberapa orang dari event organizer
yang disewa oleh para seniornya. Senior-senior itu mengawasi mereka
dari bawah teduhnya pepohonan. Oik menatap kakak-kakaknya dengan raut
wajah sebal.
Oik berbaris di dekat Gita dan Nova –teman
seangkatannya–. Para peserta LDKS pun mulai berjalan, menaiki dan
menuruni perbukitan di depannya. Zahra, Irva, Rahmi, Angel, Kiki,
Lintar, dan Rio mengikuti mereka dari belakang. Zahra sudah berjaga-jaga
membawa Oxycan –Oxygen Can– untuk Oik.
Dan, benar saja, baru beberapa kilometer berjalan, Oik
sudah lemas. Wajahnya sudah sepucat mayat hidup, bibirnya sudah seputih
kapas. Akhirnya ia dibopong oleh Zahra dan Irva. Rahmi dan Angel
mengipasi Oik. Rio membawakan Oxycan Oik. Kiki dan Lintar tetap berjalan
bersama para peserta LDKS yang lain.
“Sok-sokan ikut pendakian, sih, Ik..” cibir Rahmi.
“Mbak Rahmi, nih... ngeselin!” Oik merajuk dengan suara
manjanya. “Kan, biar bareng-bareng sama yang lainnya juga. Masa aku
langsung ke perkemahan, sih? Sendirian, dong!”
“Butuh Oxycan, Ik?” tanya Rio.
Oik menggeleng cepat, “Masih kuat, kok, Mas!”
Akhirnya Oik kembali berdiri. Tangan kanannya digandeng
oleh Zahra dan tangan kirinya digandeng oleh Angel. Rahmi dan Rio
berjalan di depannya. Perlahan, mereka berlima menyusun rombongan
lainnya yang sudah jauh di depan.
“Mbak, calon anggota OSISnya, kok, gini semua, sih?” Oik memperhatikan adik-adik kelasnya dengan prihatin.
“Cakka cs, ya?” tanya Rahmi.
Oik mengangguk, “Iya, Mbak. Gitu, kok, ya, diterima..”
Irva mengangkat bahunya, “Tanya Ketua OSISmu aja, Ik. Dia bilang Cakka c situ kurang diasah aja kemampuannya.”
“Udah jelas-jelas nakal gitu, kok! Buktinya, waktu MOS, kan, mereka jadi troublemaker, Mbak.” Oik menimpali dengan kesal.
“Tenang... Cakka, Alvin, Deva, sama Ozy itu takut sama aku.” Rio menyombongkan dirinya.
Angel menyoraki Rio dengan hebohnya. Ia sampai mendorong
bahu Rio karena gemas dengan percaya dirinya yang selangit itu. Oik pun
tertawa. Tak terasa, asmanya sudah mulai sembuh. Tumben sekali asmanya
kumat tidak berlangsung lama.
**
Seluruh rombongan pendakian sampai di area perkemahan
dengan peluh yang menetes deras. Para peserta LDKS duduk melingkar di
depan tenda. Oik menyusul dan duduk di samping Shilla karena hanya
tempat itulah yang masih kosong.
“Asma kambuh, Ik?” tanya Shilla.
Oik mengangguk dan tersenyum jengah, “Iya, tapi udah mendingan. Ini udah ga kenapa-kenapa, kok.”
Shilla mengangguk mengerti. Gadis itu kembali meluruskan
kakinya. Begitupula dengan Oik. Mereka berdua terlibat pembicaraan seru
seputar MOS seminggu yang lalu. Apalagi ketika Oik mendapatkan banyak
surat yang menyatakan bahwa dialah panitia MOS yang paling galak.
“Dek!” Angel berdiri di tengah lingkaran bersama dengan
Rio. “Ini air mineral gelasnya setiap orang dapet jatah satu. Cepetan
diminum. Setelah ini, kita ada games di sungai belakang.” Angel mengedik ke belakang tenda. Ada sungai berair jernih di sana.
Dengan cepat, Rio membagikan kepada adik-adiknya segelas
air mineral. Setelah itu, para senior dan beberapa orang dari event organizer segera menuju sungai untuk mempersiapkan peralatan games.
“Mbak, gamesnya nanti ngapain?” tanya Cakka pada Shilla.
Shilla menggeleng dan tersenyum masam, “Ga tau, dek. Tanya Mbak Oik aja. Aku, kan, tahun lalu ga ikut LDKS.”
Cakka mengangguk dan kemudian beralih pada Oik, “Mbak, gamesnya nanti ngapain?”
“Pipa bocor.” Oik menjawab pendek.
Cakka kembali menengok pada Alvin, Deva, dan Ozy. “Dev, Zy, dulu di SMP Permata games LDKSnya apa, ya?”
Deva, Ozy, dan Cakka adalah alumnus SMP Permata. Dulu
–semasa SMP– ketiganya merupakan anggota OSIS juga. Deva pada Sekbid 2
yang menangani soal Pendidikan, Ozy pada Sekbid 7 soal Olah Raga, dan
Cakka pada Sekbid 8 yang merupakan spesialis Kesenian. Sedangkan Alvin
adalah alumnus SMP Langit Jingga.
Ozy mengedik pada Deva dan menjawab, “Lupa, Kka. Udah lama juga..”
Shilla menengok pada ketiga adik kelasnya itu dengan raut
wajah kaget, “Kalian alumnusnya SMP Permata?” ketiganya mengangguk
bersamaan. “Ik, kamu alumnus SMP Permata juga, kan?”
“Mbak Oik alumnus SMP Permata?” tanya Cakka dengan mata berbinar.
“Iya.” Oik kembali menjawab dengan pendek dan dingin.
“Tapi aku ga pernah lihat Mbak Oik, lho..” Ozy juga terlihat kaget.
Oik memandang tajam ketiga adik kelasnya itu, “Kalian
pikir aku pernah lihat kalian waktu SMP? Emang penting? Buang-buang
waktu aja.”
Oik bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju
sungai. Cakka, Alvin, Deva, dan Ozy dibuat melongo oleh keketusan Oik
barusan. Ketiganya tak menyangka bahwa Oik akan tetap menjadi senior
yang ketus seperti ketika MOS. Shilla hanya memandang Oik dengan
menggelengkan kepalanya, memaklumi.
“Mungkin Mbak Oik masih kebawa suasana MOS.” Shilla mencoba menjelaskan.
“Tapi Mbak Shilla udah ga kebawa suasana MOS, kan? Kok
Mbak Oik masih kebawa?” tanya Deva dengan raut wajah –agak– sebal.
“Mbak Shilla yang pas MOS jadi SK aja bisa baik ke kita.
Mbak Oik yang cuman panitia biasa, kok, tetep jahat?” Ozy ikut
menimpali.
“Hus!” Alvin menoyor kepala Ozy. “Ceplas-ceplos banget kamu! Mbak Oik itu pas MOS pegang jabatan double, tau! Sekretaris sekaligus bendahara!”
“Kamu tau dari mana, Vin?” tanya Cakka dengan pandangan tak suka.
“Dari Mbak Shilla.” Alvin pun memamerkan cengiran lebarnya pada Cakka, Deva, dan Ozy.
“Udah, ah. Ga baik ngomongin orang terus. Ntar Mbak
Oiknya tau, kalian bisa dimarahin.” Shilla pun bangkit berdiri lalu
membersihkan rok pramukanya yang kotor karena rerumputan. “Ke sungai
belakang sekarang, yuk!”
Cakka, Deva, dan Ozy berdiri pula tanpa banyak bicara.
Hanya Alvin yang masih duduk dan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia
mengulurkan tangannya ke atas, bermaksud ingin dibantu berdiri. Cakka,
Deva, dan Ozy menatapnya malas. Shilla memandangnya dengan tersenyum
simpul.
“Ayo, sini.. Berdiri!” Shilla membalas uluran tangan Alvin.
Cepat-cepat Alvin menjauhkan tangannya dari Shilla dan
menampakkan wajah malaikatnya, “Maaf, Kak.. Kita bukan muhrim.” Alvin
menjawab dengan kalem.
Shilla pias. Ia kembali menarik uluran tangannya kemudian
berbalik dan melangkah menuju sungai. Meninggalkan keempat adik
kelasnya itu dengan diselimuti kebingungan.
“Kamu, sih, Vin! Mbak Shilla ngambek, tuh!” Deva mengulurkan tangannya untuk membantu Alvin berdiri dengan malas.
“Ya, kan, aku cuman bercanda. Kak Shilla aja yang terlalu serius nanggepinnya.” bantah Alvin.
Keempatnya pun berjalan menuju sungai dengan cepat.
Pasalnya, para peserta LDKS yang lainnya telah melenggang menuju sungai
sejak lima menit yang lalu. Begitu mereka sampai di bantaran sungai,
mereka melihat para peserta lain telah berbaris membentuk lima banjar.
“Kalian berempat!” Angel berteriak dari depan. “Kenapa telat kemari?”
“Maaf, Kak.” Alvin, Cakka, Deva, dan Ozy hanya mampu menundukkan kepala mereka.
“Udah, cepet baris! Jangan buang-buang waktu.” Rahmi menimpali.
Keempatnya segera berbaris. Kebetulan, banjar paling
kanan baru terisi oleh tiga orang, kurang empat lagi. Jadilah mereka
semua berbaris pada banjar paling kanan tersebut. Rupanya mereka
sebanjar dengan Oik, serta dua teman seangkatan mereka lainnya –Dea dan
Agni–.
Alvin –yang berbaris di depan ketiga temannya yang lain–
mencolek bahu Agni dari belakang, “Games pipa bocor, Ag?” tanyanya.
Agni mengangguk, “Iya. Ssstt!” Gadis itu menyilangkan
telunjuknya di depan bibir. “Bilangin Cakka, Deva, sama Ozy.. Jangan
rame! Nanti kalian ga denger penjelasan dari Kak Angel, tau!”
Alvin mengangguk. Ia memberikan kode kepada ketiga
temannya itu agar jangan berbicara sendiri dan mendengarkan penjelasan
tentang permainan pertama ini dengan baik. Cakka, Deva, dan Ozy pun
diam. Mereka semua menyimak penjelasan dari Angel dengan seksama.
“Nah! Kelompoknya dibagi menurut banjar masing-masing,
ya! Satu banjar, satu kelompok!” Angel mengakhiri penjelasannya.
Oik, yang berbaris paling depan, segera menengok ke
belakang. Ia kaget bukan main ketika mendapati bahwa ia akan sekelompok
dengan keempat adik-adik troublemaker itu. Ia menggeram dalam hati dan kembali menghadap ke depan.
Kelima kelompok tersebut segera masuk ke dalam sungai.
Alhasil, seragam pramuka mereka menjadi basah kuyup. Kelompok pertama
berada di tengah-tengah sungai, kelompok kedua di sebelah utara kelompok
pertama, kelompok ketiga di sebelah timur kelompok pertama, kelompok
keempat berada di sebelah selatan kelompok pertama, dan kelompok kelima
berada di sebelah barat kelompok pertama.
“Mbak, masuk sungai ga bikin asmanya kambuh lagi, kan?” tanya Cakka khawatir.
Oik menggeleng dan tersenyum tipis, “Ga, kok. Ga selebay itu juga, lah, asmaku!”
“Wah! Mbak Oik bisa senyum!” Cakka memekik heboh.
“Kamu pikir Kak Oik itu robot?” Alvin menginjak kaki Cakka hingga temannya itu mengaduh kesakitan.
“Ya! Di tengah-tengah kalian semua sudah ada sebuah pipa
yang memiliki lubang di mana-mana. Di dalamnya ada sebuah bola kecil.
Tugas kalian adalah mengisinya dengan air sungai hingga bola kecil itu
keluar dari dalam pipa.”
Begitu peluit dibunyikan, seluruh kelompok tersebut mulai
sibuk sendiri mengisi masing-masing pipa dengan air sungai. Ada yang
bertugas menutup lubang-lubangnya dan ada juga yang bertugas menimba air
lalu menuangkannya ke dalam pipa.
“Ga ngaruh, nih!” seru Agni dengan sebal.
“Ya sabar, Ag!” Ozy menimpali dengan tak kalah kesalnya.
“Logika kalian jalan ga, sih? Yang ditutup jangan cuman
lubang-lubang yang ini, dong!” Oik pun ikut berseru dengan kesal.
“Terus yang mana lagi, Mbak?” tanya Ozy. Ia bertugas menimba air dan memasukkannya ke dalam pipa.
“Yang di bawah masih bolong!” pekik Alvin, seakan baru menyadari sesuatu.
Oik mengangguk. Rupanya logika anak-anak troublemaker ini
berjalan juga. Oik tersenyum dalam hati. Akhirnya, Dea yang menutup
lubang bawah pipa yang mengangalebar. Ozy pun melanjutkan pekerjaannya.
Perlahan, bola kecil itu mulai muncul dan akhirnya keluar
dari dalam pipa. Kelompok Oik bersorak senang. Akhirnya mereka pun
diperbolehkan kembali ke bantaran sungai dan duduk-duduk di bawah
pepohonan sambil menunggu kelompok lain yang tak kunjung berhasil
mengeluarkan bolanya.
“Mbak, Mbak Oik jangan jutek-jutek, dong..” rajuk Dea.
“Siapa yang jutek? Ga ada.” Oik terkekeh pelan setelahnya.
“Ya Mbak Oik yang jutek!” Agni cemberut. “Waktu MOS jutek. Ini tadi juga jutek. Tapi, kok, tadi bisa senyum, Mbak?”
“Lagi bete aja kemarin-kemarin.” Oik kembali tersenyum simpul.
“Tuh, kan, senyum lagi!” Cakka kembali memekik dengan heboh.
“Berisik, Kka!” Deva menempeleng wajah Cakka dengan tidak berperasaan.
“Berarti kalau Mbak Oik jutek itu Mbak Oik lagi badmood?” tanya Dea, memastikan.
Oik mengangguk, “Iya, Dek.”
“Kak Oik berarti sering badmood, ya..” gumam Alvin seraya tersenyum simpul
“Udah takdir, Vin, kalau aku sering badmood.” Oik tertawa kencang.
“Jangan badmood lagi, ya, Mbak..” kata Cakka. Ia menatap Oik lurus-lurus dan tersenyum tulus padanya.
Oik kembali tersenyum. Ia mulai nyaman berada di antara
mereka. Semangat, Oik! Ia masih akan menjalani dua hari kedepan dalam
kegiatan LDKS dengan mereka-mereka ini. Oik tak menyangka mereka adalah
adik kelas yang menyenangkan begini.
Tampilkan postingan dengan label rahmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahmi. Tampilkan semua postingan
THE UNTITLED STORY [2 of 4]
05.48 |
Label:
agni,
alvin,
angel,
cakka,
dea,
deva,
irva,
kiki,
lintar,
oik,
ozy,
pricilla,
rahmi,
rio,
shilla,
sivia,
zahra
Read User's Comments(0)
SUPERGIRLS part 1 (Nova's Story)
02.29 |
Label:
acha,
alvin,
angel,
aren,
gita,
ify,
keke,
lintar,
nova,
oik,
rahmi,
shilla,
sivia,
zahra
Gadis itu, Nova, baru saja keluar dari kamarnya. Ia segera menghampiri kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya di meja makan sembari menggendong tas PolloHunter berwarna cokelat kulit yang nampak sangat boyish.
Seperti hari-hari biasanya, mamanya hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat dandanan gadis itu. Kemeja seragam yang kusut di beberapa bagiannya, rambut yang tidak tersisir rapi, dan kaca mata minus yang bertengger sembarangan di wajahnya.
Wanita paruh baya itu menghela napas jengah, “Nova, bukannya mama sudah bilang kalau kamu bisa minta tolong pada mama untuk menyetrika kemeja seragammu?”
Nova hanya tersenyum samar, “Mama, kan, tahu kalau Nova lebih suka seperti ini..”
“Iya, mama tahu. Tapi, kan, kalau kamu bisa terlihat lebih rapi lagi, kenapa tidak?” ucap mamanya lagi, tak pernah bosan dengan perdebatan pagi ala keduanya.
“Ga usah, ma..” lagi-lagi Nova menggelengkan kepalanya kalem.
Selesai. Memang hanya sampai disitu saja perdebatan pagi itu, juga pagi-pagi sebelumnya. Wanita paruh baya itu akan berhenti jika anak gadisnya telah bersikap pasrah seperti tadi.
Sarapan pagi itu kembali berjalan. Nova segera menghabiskan nasi goreng buatan mamanya. Selang beberapa menit, makanan di piringnya sudah habis tak bersisa. Begitupula dengan nasi goreng di piring mama, papa, dan adik laki-lakinya.
“Berangkat sekarang, kak?” tanya papanya, Nova mengangguk.
Keduanya segera bangkit dari kursinya masing-masing. Nova menghampiri mamanya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut. Setelahnya, ia menyusul papanya yang sudah berada di teras bersama sepeda motornya.
Adiknya tidak sekolah? Bukan. Hanya saja, anak laki-laki mungil itu masuk siang. Sekolahnya yang menerapkan sistem masuk siang tersebut. Satu lagi, Nova biasa dipanggil ‘Kak’ dan adiknya dipanggil ‘Dik’ oleh kedua orang tua mereka.
Nova pun naik ke boncengan motor papanya dan keduanya pun melesat menuju sekolah Nova, SMP Mariskova..
^^^
Bel pertanda waktu istirahat akan dimulai baru saja berdering. Oik, yang notabene adalah teman sebangku Nova, langsung mengajak gadis itu untuk buru-buru ke kantin. Anggota SUPERGIRLS yang lainnya juga sudah siap menuju kantin. Mereka bersepuluh pun berjalan bergerumbul menuju kantin.
Hanya tersisa satu meja saja di kantin. Cukup untuk berduabelas, rupanya. Tepat ketika kesepuluhnya mendudukki kursi di meja tersebut, dua orang siswi SMP Mariskova juga berangsur mendudukki dua kursi yang tersisa.
Rahmi dan Gita. Siswi kelas delapan SMP Mariskova. Kakak kelas mereka, yang lumayan akrab dengan mereka. Keduabelasnya tertawa nyaring ketika menyadari ketidaksengajaan tersebut.
SMP Mariskova menerapkan sistem cathering. Jadi, seluruh siswa-siswi tinggal duduk melingkar di kursi masing-masing, dan kemudian, datanglah dua orang wanita. Seorang yang membawa meja dorong beroda yang mengangkut makanan dan minuman untuk mereka semua. Dan seorang lagi yang meletakkan makanan dan minuman tersebut di meja-meja yang telah terisi.
“Jadi, gimana soal agenda kita week end ini?” tanya Gita, memulai perbincangan di antara mereka.
Tepat saat Gita selesai bertanya, makanan dan minuman telah terhidang di meja mereka. Menu mereka hari ini adalah Spageti Bolognaise, jus jeruk, dan pastel tutup sebagai dessert. Mereka semua mengucapkan terima kasih kepada kedua wanita tersebut dan kembali larut dalam pembicaraan tentang rencana mereka.
“Hunting foto lagi aja gimana?” tanya Shilla, sembari menatap kesebelas gadis lainnya.
“Oh iya, aku ada tempat keren buat hunting foto. Ya itu pun kalau kalian mau week end ini kita hunting foto lagi,” gumam Keke, setelah menyeruput sedikit jus jeruknya.
Rahmi melirik kesepuluh adik kelasnya itu sembari tersenyum, “Ya udah.. Hunting foto aja, ya?”
Yang lainnya mengangguk semangat. Hanya Nova yang telah sibuk dengan makanannya. Ify kemudian menatapnya jengah. Selalu saja.
“Nov, kamu ikut kita hunting foto, kan?” tanya Ify, lebih tepatnya memaksa.
Nova meletakkan sendok dan garpunya perlahan, “Iya, deh. Sebenernya, sih, aku bosen sama kegiatan week end kita yang itu-itu aja. Kenapa ga bikin kegiatan yang belum pernah kita lakuin sebelumnya?”
“Seperti?”
Nova menghela napas sejenak, “Mba’ Gita, kita belum pernah nyoba donor darah bareng, kan? Berarti, kapan-kapan, kita bisa ngisi week end kita sama donor darah. Itung-itung amal, lah. Ga rugi juga, kan?”
Sivia tersenyum menanggapinya, “Boleh.. Week end lainnya aja, ya? Kan, week end ini kita udah punya rencana buat hunting foto,”
Nova mengangguk sekilas, dan kemudian, kembali berkutat dengan makanannya. Kesebelas gadis lainnya pun mengikuti apa yang ia lakukan, berkutat dengan makanannya masing-masing hingga bel kembali berdering, menandakan waktu istirahat telah usai.
“Jangan lupa, ya.. Besok kumpul di rumah aku dulu,” ujar Rahmi, yang lainnya tersenyum mengiyakan.
“Zahra juga! Jangan lupa bawa camera lomo punyamu yang efeknya bagus-bagus, ya!” seru Gita seraya tersenyum lebar.
^^^
Hari Sabtu telah tiba. Ify, Angel, Aren, Shilla, Keke, Acha, Oik, Sivia, Zahra, dan Gita sudah berkumpul di kediaman Rahmi semenjak beberapa menit yang lalu. Kesebelasnya sedang berada di ruang keluarga rumah Rahmi, membicarakan soal Nova.
“Nova, kok, tumben telat..” gumam Angel, ia melirik Ripcurl berwarna putih gading yang bertengger indah di pergelangan tangan kirinya.
Rahmi meliriknya sekilas, “Macet mungkin, Ngel. Malang, kan, udah mulai kaya’ Jakarta sama Surabaya yang selalu macet,”
“Tapi tumben banget ini, mba’. Nova itu ga pernah telat. Apa lagi, kan, dia pakai motor kalau ke mana-mana. Tahu sendiri, lah, kalau papanya itu jarang banget mau pakai mobil,” serobot Aren.
Hening. Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari ruang tamu. Rahmi, yang baru saja berdiri dan akan membukakan pintu, segera duduk kembali ketika adiknya mencegahnya. Adik dari Rahmi? Tentu saja Lintar. Siapa lagi? Lintar juga bersekolah di SMP Mariskova. Satu angkatan dengan anggota SUPERGIRLS.
“Aku aja, mba’..” katanya.
Lintar berlalu begitu saja.
^^^
Lintar baru saja membuka pintu rumahnya. Ia mendapati Nova, yang merupakan teman sekelasnya, sedang dalam keadaan berantakan. Peluh bercucuran dari dahinya. Lintar segera saja memupuskan senyum lebarnya.
“Aku kira Alvin yang dateng,” gumamnya, mendadak salah tingkah.
“Mba’ Rahmi sama anak-anak SUPERGIRLS ada di dalem, kan?” tanya Nova, tak menggubris gumaman Lintar sebelumnya.
“Iya, masuk aja..”
Nova pun masuk. Lintar kembali menutup pintu rumahnya dan berjalan di belakang Nova. Rupanya ia masih salah tingkah karenanya. Tepat saat Nova menengok ke arahnya, ia segera berjalan mendahului gadis itu dan masuk ke dalam kamarnya.
“Nova!” panggil Rahmi, dari ruang keluarga.
Nova tersenyum sekilas dan menghampiri kesebelas orang yang dicarinya itu. Ia menghempaskan tubuhnya di samping tubuh mungil Acha. Acha mengedik padanya dan mengerutkan keningnya, kaget.
“Nov, naik apa tadi ke sini?” tanyanya.
“Jalan kaki,” jawabnya, santai.
“APA? Jalan kaki? Yang bener aja, Nova.. Kasihan itu kaki kamu. Rumahmu sama rumahnya Mba’ Rahmi, kan, jauh!” Zahra mendelik kaget.
Nova tertawa kecil dan mengibas-kibaskan tangannya, “Ga apa-apa, lah. Itung-itung olah raga aja..”
Rahmi, sang tuan rumah, masih memandang geli ke arah pintu kamar adiknya yang telah tertutup rapat. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum jahil. Ia segera mengalihkan pandangannya menuju Nova.
“Lintar tadi kenapa, Nov?” tanyanya.
Ify menepuk pundak Rahmi pelan, “Mba’ Rahmi gimana, sih? Bukannya nanya gimana Nova sekarang, eh malah nanyain soal Lintar,”
“Bukannya gitu, Fy. Kan, tadi kalian udah nanya-nanya gitu ke Nova. Masa’, ya, aku nanya kaya’ gitu lagi?”
“Lintar? Emangnya dia kenapa, mba’?” tanya Nova balik.
Rahmi hanya menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum jahil, “Ga, sih. Cuman, kok, dia kaya’ salting gitu?”
“Cieeeeeeeeeeee, Nova!” anggota SUPERGIRLS yang lainnya beserta Gita kompak menggoda Nova.
“Udah, ah! Jadi hunting foto ga, nih? Aku pulang, deh, kalau kalian masih ngegodain aku gitu..” Nova memanyunkan bibirnya.
“Ya udah, yuk..”
Kesebelasnya pun segera naik ke dalam mobil. Ify, Sivia, Oik, Zahra, Angel, dan Acha menaikki mobil Oik. Sedangkan sisanya, menaikki mobil Keke. Kedua mobil tersebut telah dilengkapi dengan supir dari masing-masing pemiliknya.
^^^
Keduabelasnya baru saja sampai di perkebunan teh di daerah Wonosalam. Kebetulan, Keke menyewa perkebunan teh tersebut untuk acara hunting foto mereka kali ini. Dan, kebetulan lagi, perkebunan teh tersebut adalah milik tetangganya.
“Keren, Ke!” gumam Aren, yang baru saja turun dari mobil milik Keke.
Kini keduabelasnya sedang berada di pintu masuk perkebunan teh tersebut. Keke berjalan di paling depan. Ia berbincang-bincang sebentar dengan penjaga perkebunan tersebut. Setelahnya, mereka semua telah berada di tengah-tengah hamparan tanaman teh yang menghijau.
“Zahra, camera!” seru Shilla, bersemangat.
Zahra tersenyum kepadanya. Ia segera membuka tasnya dan mengobrak-abriknya. Kali ini, ia membawa banyak camera. Mulai dari camera pocket, SLR, hingga camera-camera lomo yang pemakaiannya secara manual.
“Mau pakai camera yang mana?” tanya Zahra.
Acha berjalan mendekatinya. Kemudian, ia ikut-ikut mengobrak-abrik tas milik Zahra tersebut.
“Camera yang fotonya langsung jadi itu. Namanya apa, ya? Kamu bawa ga?” tanya Acha.
“Bawa. Itu Fuji Instax namanya,”
Zahra segera mengeluarkan camera yang ia maksud. Jepret sana-sini. Yang lainnya berpose, ia yang memotret. Sesekali, ia juga ikut berfoto. Kali ini, mereka akan berfoto close up. Satu orang saja dalam satu foto.
Dimulai dari Rahmi, Gita, Ify, Angel, dan seterusnya. Hingga yang terakhir, Nova.
“Nov, di yang agak puncak aja. Bagus, tuh,” saran Sivia.
Nova segera naik menuju pijakan tanah yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Sampai. Ia segera berpose sangat biasa. Tersenyum sambil memiringkan sedikit kepalanya. Zahra, yang memang selalu menjadi fotografer saat mereka hunting foto, berdecak malas.
“Yang lebih heboh, dong, Nov!” teriaknya, dari bawah.
“Malu, ah!” balas Nova.
“Ga ada yang lihat, kok!”
“Tetep aja, Ren! Kalian, kan, lihat!”
“Ya udah. Pose biasa aja. Pokoknya jangan gitu doang,” teriak Oik, gemas.
Nova mengangguk pasrah. Ia segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum lebar kepada camera yang dipegang oleh Zahra. Satu kali jepret. Baru saja Zahra akan menyuruh Nova untuk kembali turun, Rahmi sudah membisikkannya sesuatu.
Cklik! Satu kali jepret lagi. Cepat-cepat hasil fotonya disimpan oleh Rahmi di tas Esprit miliknya.
“Udah, turun lagi aja,” teriak Zahra.
Nova mengangguk riang. Dengan senang hati, ia kembali menghampiri kesebelasnya di pijakan tanah yang lebih rendah.
Mereka semua segera keluar dari perkubunan teh tersebut dan duduk-duduk di rerumputan hijau yang terhampar di luar perkebunan. Zahra meletakkan seluruh hasil foto mereka di rerumputan dan memandanginya seraya tersenyum puas.
“Gimana hasilnya? Bagus-bagus?” tanya Sivia.
Zahra mengangguk bersemangat, “Keren-keren! Kebetulan, nih, sinar yang ada pada pas semua. Jadi, ya, kelihatan keren..” gumamnya.
Ketika mereka semua sedang asyik memandangi hasil jepretan hari itu, dua buah andong lewat dan berhasil menarik perhatian mereka.
“Mau naik andong ga?” Gita menawarkan pada yang lainnya, dan mereka semua mengangguk.
Jadilah, mereka naik ke kedua andong tersebut. Formasinya seperti ketika mereka berada di mobil tadi. Zahra membekali Ify, Angel, dan Aren masing-masing sebuah camera lomo yang pemakaiannya secara manual. Mereka-mereka ini memang anggota klub fotografi di SMP Mariskova.
“Pakai aja. Foto apapun yang menurut kalian bagus. Ntar aku cetak di rumah. Jangan lupa, camera yang kalian pegang itu camera manual,” pesan Zahra, ketika ia menyerahi ketiga sahabatnya camera.
Dalam perjalanan menaikki andong pun, Nova terlihat paling diam. Kedua matanya menerawang nun jauh entah ke mana. Rahmi, yang memang jahil, segera saja mengagetkannya.
“Hayo! Nova mikirin siapa? Kok ngelamun aja? Lintar, ya?” tanyanya beruntun.
Nova tersenyum kecil dan segera menundukan kepalanya. Rahmi sempat melihat semburat-semburat berwarna merah muda yang muncul di pipi gadis itu. Ia hanya terkikik pelan dan berhenti setelah Nova memandangnya dengan wajah cemberut.
“Mba’ Rahmi apa, sih?” tanya Nova, jengkel.
Rahmi menggelengkan kepalanya, “Ga kenapa-kenapa, kok..”
“Ya udah, ga usah ketawa-ketawa gitu!”
“Siapa yang ketawa? Kamu GR, ih!”
“Terus itu tadi apa namanya kalau bukan ketawa, mba’?”
“Cuman suka aja ngegodain kamu soal Lintar, hehe,” Rahmi tersenyum lebar diakhir kalimatnya.
Nova semakin cemberut saja. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada hamparan tanaman teh yang ada di samping kirinya. Berusaha tak memperdulikan senyuman jahil dari Rahmi dan mengenyahkan wajah adik Rahmi yang sedang salah tingkah di depannya pagi tadi.
^^^
Tepat pukul lima sore. Rahmi segera masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamar Lintar. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lebih tepatnya.
Lintar, yang sedang terduduk di meja belajarnya, langsung menengok kaget ketika pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Cepat-cepat ia masukkan ‘benda’ tersebut ke dalam laci meja belajarnya.
“Mba’ Rahmi ngapain, sih? Masuk ke kamar aku ga pakai ketuk dulu, pula!” amuknya.
Rahmi hanya tertawa lepas, “Itu tadi apa, sih, yang kamu masukkin ke dalem laci? Lihat, dong..”
“Bukan apa-apa!”
Lintar segera menghalangi kakaknya itu yang sedang berusaha membuka laci meja belajar miliknya. Bisa gawat kalau kakaknya tahu apa yang ia simpan di dalam sana. Rahmi pun menyerah. Ia segera duduk di bibir kasur adiknya.
“Mba’ punya oleh-oleh, nih, buat kamu,”
“Oleh-oleh apa?”
Rahmi pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di meja belajar Lintar. Cepat-cepat ia melesat keluar dari kamar Lintar.
Lintar pun segera melihat benda apa yang kakaknya letakkan tadi. Sebuah foto... Nova. Lintar tersenyum lebar.
“Makasih, kak!” gumamnya, ketika ia memastikan kakaknya telah keluar dari kamarnya.
Tanpa ia sadari, kakaknya masih berada di luar kamarnya dan mendengarkan apa yang ia gumamkan tadi. Rahmi hanya tertawa tanpa suara dan segera masuk ke kamarnya sendiri.
^^^
Minggu pagi. Nova baru saja keluar dari rumahnya dan berniat untuk mengambil Koran di halaman rumahnya ketika ia tak sengaja menginjak sesuatu tepat di depan pintu rumahnya. Nova kontan bingung dan menundukkan kepalanya untuk melihat benda apa yang telah ia injak.
Setangkai mawar merah yang masih segar.
Ia segera mengambilnya dan menemukan sebuah kartu yang tersangkut di batang mawar tersebut. Cepat-cepat ia ambil dan ia baca kartu tersebut.
Good morning, My Princess! Start your day with smile! :)
-with love, N-
Nova tersenyum kecil. Baru kali ini ia mendapatkan setangkai mawar dipagi hari seperti ini. Hatinya berdesir seketika. Ia pun berjalan riang dan mengambil Koran yang tergeletak di halaman rumahnya, lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.
“Mawar dari siapa, kak?” tanya papanya.
Nova hanya mengangkat bahunya dan menyerahkan koran tersebut ke papanya, “Ga tahu, pa. Udah ada di depan waktu Nova ngambili Koran buat papa,”
^^^
Lagi-lagi, ia mendapatkan mawar merah lagi pagi itu. Kali ini ia sudah tak sekaget saat ia mendapatkan mawar merah pertamanya. Ia kembali memungut mawar merah tersebut dan membaca kartunya.
Don’t forget to go to school. I will meet you, dear :)
-with love, I-
Kali ini, dahinya berkerut heran. Hey! Bukannya kemarin si pengirim misterius itu memberikan inisial N? Lalu, mengapa hari ini ia memberikan inisial I? Apakah pengirim mawar itu adalah dua orang yang berbeda?
^^^
You don’t forget to do your homework, do you? We can do our homework together, dear :)
-with love, A-
Hey! Lagi-lagi dengan inisial yang berbeda! Ia telah mengantongi tiga inisial yang berbeda dari si pengirim misterius ini! Lalu? Salahkah jika ia berpikir bahwa ia memiliki tiga penggemar misterius?
^^^
Happy Wednesday, dear! Don’t forget, we will have Mathematics test today :)
-with love, T-
Hari keempat ia mendapat mawar merah. Dan, ia mendapat inisial yang berbeda! LAGI! Sudah empat huruf yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Apakah ini berarti ia memiliki tambahan satu penggemar rahasia lagi?
“Dari mana dia tahu kalau hari ini aku ada ulangan matematika? Apa dia teman sekelasku? Kemarin dia juga bilang kalau kita bisa mengerjakan PR bareng,” gumamnya.
BRUK!
Saking sibuknya ia berpikir tentang pengirim mawar misterius itu, ia sampai menabrak seseorang di koridor sekolah. ia segera mendongakkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang ia tabrak.
“Eh, maaf! Aku tadi ga lihat,” ujar Nova seraya tersenyum tipis.
“Ga apa-apa,” balas yang ia tabrak tadi, Lintar.
^^^
So confused about my initial, dear? Don’t worry, I just a person who admirers you so much :)
-with love, R-
^^^
Ini adalah hari keenam ia mendapat kiriman mawar merah dari pengagum rahasianya itu. Dan, pagi ini, ia sama sekali belum membuka kartu ucapan yang juga menyertai mawar merah tersebut.
Memang, ia membawa serta kartu ucapan tersebut ke sekolah. Ia juga membawa keenam kartu ucapakan yang lainnya. Tetapi ia tidak ikut membawa mawar merahnya. Ia tak mau menjadi tontonan gratis bagi seluruh siswa-siswi SMP Mariskova karena membawa enam tangkai mawar merah.
Ia baru saja sampai di kelasnya. Sudah ada anggota SUPERGIRLS yang lainnya berserta dua kakak kelasnya, Rahmi dan Gita. Nova segera melempar begitu saja tasnya dan menghampiri kesebelas gadis tersebut.
“Kenapa lagi, Nov?” tanya Oik.
“Dapet kiriman mawar merah lagi?” tanya Ify.
“Inisialnya beda lagi, ya?” tanya Shilla.
Nova mengangguk, “Bingung ini akunya! Ini udah enam hari, tau! Tapi kartu ucapan yang hari ini belum aku buka,”
“Ya udah, buka aja..” kata Acha.
Nova mengangguk dan segera membaca kartu ucapan yang baru ia dapatkan pagi itu. Lagi-lagi menghela napas, jengah. Ia segera memberikan kartu ucapan tersebut kepada kesebelas gadis itu.
It’s the last day I send you a red rose. And, the last day I give you my initial :)
-with love, L-
“Ini beda lagi, lho, inisialnya,” gumam Zahra.
“Dia bilang kalau ini mawar terakhir, tuh. Inisial terakhir juga,” sambung Sivia.
“Kali aja dia minta kamu buat nebak-nebak siapa dia lewat huruf-huruf itu,” kata Keke.
“Emangnya kamu dapet huruf apa aja?” tanya Gita, ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan senyumannya. Begitupula dengan Rahmi.
Nova segera mengeluarkan kelima kartu ucapan lainnya dari dalam saku kemejanya. Ia menata keenam kartu ucapan tersebut di atas meja dan melirik kesebelas gadis lainnya dengan ekspresi datar.
“Coba dirangkai aja. Kali aja bisa jadi namanya siapa gitu,” saran Rahmi.
“Nyoba dirangkai gimana, mba’? Ini, tuh, hurufnya aneh-aneh,” ujar Nova, frustasi.
“N... I... A... T... L... R...” gumam Nova.
“Apa, ya, kira-kira?” gumam Angel.
“Sumpah sok misterius banget, sih, ini..” ujar Acha, jengkel.
Ketika mereka bersepuluh sedang berpikir dengan keras, Rahmi dan Gita sedang tersenyum-senyum sambil saling melirik penuh arti. Tak lama, masuklah dua orang laki-laki. Oik lantas tersenyum melihat salah satu di antara keduanya.
“Alvin..” sapanya, kalem. Yang disapa hanya tersenyum malu-malu.
Seketika itu juga, kesembilan anggota SUPERGIRLS lainnya segera menengok kepada Alvin dan satu orang lagi temannya, yang juga siswa kelas itu.
“Lintar,” gumam kesembilannya.
Hening sejenak. Rahmi dan Gita semakin lebar saja senyumnya.
“LINTAR!” teriak kesepuluhnya bersamaan, yang namanya disebutkan hanya melongo kaget.
“Iya.. Aku kenapa?” tanya Lintar, masih dengan ekspresi tak mengerti.
“N, I, A, T, L, R. Lintar. Pas!” ujar Ify, ia masih menatapi satu-persatu kartu ucapan yang Nova dapatkan.
“Nah! Berarti dia yang ngirimin!” sambung Zahra, tak percaya.
Nova merasakan kedua pipinya tiba-tiba saja menghangat. Rahmi dan Gita tertawa semakin terbahak-bahak. Kesembilan anggota SUPERGIRLS lainnya juga, kontan, tertawa lepas. Nova, Lintar, dan Alvin memandang kesebelasnya dengan bingung.
“Jadi, kamu yang suka ngirimin mawar merah ke rumah aku?” tanya Nova, malu-malu.
“Mawar merah? Rumah kamu? Maksudnya?” tanya Lintar, ia tak kalah salah tingkahnya dengan Nova.
Rahmi menghentikan tawanya seketika, “Ini semua rencana aku, sama mereka..” akunya.
Nova dan Lintar berpandangan dengan wajah bingung, “Maksudnya?”
“Kita semua, tuh, tahu kalau kalian sama-sama... Hmm... Suka,” lanjut Gita.
“Nah! Makanya kita bikin rencana itu,” sela Oik.
“Ya, kita gemes aja sama kalian. Sama-sama suka, kok, susah banget buat jadian,” aku Aren, ia membentuk huruf V dengan tangan kanannya.
Nova dan Lintar kembali merasakan pipi mereka yang menghangat. Alvin, yang sudah mulai mengerti soal ini, langsung saja tertawa terbahak-bahak.
Shilla, yang tepat berada di samping Nova, pun segera mendorong gadis berkulit sawo matang tersebut agar lebih dekat dengan Lintar. Lagi-lagi, keduanya salah tingkah. Jadilah tawa-tawa di sekitar mereka semakin kencang saja.
“Udah, jadian aja!” sorak Rahmi.
“Mba’! Apa, sih?!” seru Lintar.
“Ga bakalan bilang ke papa yang aneh-aneh, deh! Janji!” ujar Rahmi, tak menghiraukan seruan Lintar.
“Ya udah, cepetan jadian!” sorak Sivia.
Lintar melirik Nova. Begitupula Nova, melirik Lintar. Keduanya, kontan, tersenyum malu ketika pandangan mereka tak sengaja beradu.
“Lin, tembak!” seru Alvin, ikutan gemas. Lintar meliriknya sinis.
“Ehm.. Gimana, Nov?” tanya Lintar.
Nova mengangkat bahunya, “Ya gitu,”
“Jadi?” tanya Lintar, lagi.
“Iya..” jawab Nova, malu-malu.
“Serius?”
“Iyaaaa!”
Selesai! Sorakan dari kesembilan anggota SUPERGIRLS, Rahmi, Gita, dan Alvin semakin riuh saja. Nova dan Lintar pun hanya tersenyum malu-malu. Dan, pelan-pelan tapi pasti, Lintar menggenggam tangan Nova dengan erat.
(Nova’s Story - End)
Langganan:
Postingan (Atom)






