Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label zahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zahra. Tampilkan semua postingan

BRING BACK MEMORIES [Cerpen]

            Seluruh siswa kelas 12 IPA 4 serentak menghela napas lega ketika guru matematika mereka mengakhiri pendalaman materi untuk UNAS. Begitu Bu Winda –sang guru matematika– keluar, para siswa 12 IPA 4 pun berhamburan keluar.
            Begitu pula dengan Oik dan Sivia. Keduanya segera mengambil dompet masing-masing dan menentengnya menuju kantin. Kantin kala itu tengah sepi karena hanya kelas mereka saja yang sedang beristirahat.
            Oik duduk disalah satu meja dan membiarkan Sivia yang memesan makanan–sebelumnya ia telah memberikan selembar sepuluh ribu pada gadis berpipi chubby itu.

**

            “Halo, Dek. Kita dari ekskul mading. Kita lagi cari anggota baru.” Seorang laki-laki bermata sayu tengah berdiri di hadapan seluruh siswa 10-4 yang sedang menjalani OSPEK itu.
            Oik dan Sivia saling lirik melihat tiga orang kakak kelasnya yang tengah mengoceh mengenai kelebihan mengikuti ekskul mading. Keduanya tersenyum penuh arti. Rupanya dua gadis yang baru kenal sehari lalu ini memang sehati dalam –hampir– segala hal.
            “Oh iya, saya Zahra.” Ujar kakak kelasnya yang berbehel. “Ini Agni.” Ia menunjuk seorang gadis yang terlihat agak tomboy di sampingnya. “Dan ini Cakka.” Terakhir, ia menunjuk seorang laki-laki bermata sayu itu.
            Sivia menengok kearah Oik dan tersenyum lucu. “Oh.. namanya Cakka, Ik!”
            “Iya, Siv.” Oik mengangguk-angguk bersemangat. “Ganteng, ya!”
            Oik dan Sivia pun tertawa cekikikan sambil sesekali mencuri pandang pada Cakka. Keduanya pun sepakat untuk mengikuti ekskul mading bersama. Hanya demi Cakka. Ya, hanya demi lelaki itu.
            “Jadi, siapa yang minat ikut ekskul mading?” Tanya Agni dengan senyum terukir lebar.
            “Kita, Kak!!” Oik dan Sivia mengacungkan tangan dengan bersemangat sembari berseru bersama.
            Melihat tingkah Oik dan Sivia, Cakka tertawa gemas. Oik dan Sivia saling pandang dengan wajah bersemu merah. Kakak kelasnya ini memang super ganteng!!

**

            Sivia kembali dengan dua mangkuk soto ayam dan dua botol air mineral dingin. Ia menggelengkan kepalanya begitu menyadari Oik tengah melamun. Ia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman itu di depan Oik dengan keras, membuat gadis mungil itu mengerjap kaget.
            Oik menatap Sivia sengit dengan bibir yang maju beberapa senti. “Apaan sih, Siv?!”
            “Elo sih, ngelamun aja.” Sivia tertawa nyaring. “Ngelamunin apa sih, Ik?”
            Oik menggeleng. “Kak Cakka gimana kabarnya ya, sekarang? Dia nggak pernah dateng kalau kita ngadaian kumpul bareng sama anggota mading.”
            “Mungkin dia lagi sibuk, Ik. Namanya juga awal-awal kuliah. Kenapa, sih? Lo kangen, ya?” seloroh Sivia.
            “Nggak!!” Oik memalingkan mukanya yang telah bersemu merah, membuat sahabatnya itu kembali tertawa.

**

            Beberapa hari setelah OSPEK selesai, ekskul mading mengadakan pertemuan bersama para anggota baru di secretariat ekskul. Pertemuan sudah dimulai semenjak lima belas menit yang lalu ketika Oik dan Sivia baru keluar dari kelas.
            “Aduh! Kita telat, Ik!” seru Sivia seraya merapikan barang-barangnya.
            Setelah merapikan barang dengan asal-asalan, keduanya segera berlari menuju secretariat ekskul mading. Dilihat dari luar saja sudah tampak penuh. Pasti banyak sekali yang ingin menjadi anggotanya.
            Oik memberanikan diri mengetuk pintu. Seketika itu juga seluruh mata yang ada segera menumpukan fokusnya pada Oik dan Sivia.
            “Maaf terlambat. Kelasnya baru bubaran soalnya.” Oik bercicit pelan. Takut juga dia begitu melihat Zahra dan Agni yang memandangnya tanpa ekspresi.
            “Sini, sini.. masuk aja.” Cakka melambaikan tangan pada mereka berdua dan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
            Oik dan Sivia pun masuk dengan bersemangat. Keduanya segera duduk di samping Cakka. Lebih tepatnya, Oik lah yang benar-benar duduk di samping Cakka. Sedangkan Sivia, ia duduk di sisi Oik yang lainnya.
            “Aduh, Kak. Maaf banget, terlambat!” Oik mengatupkan kedua tangannya didepan dada, membuat Cakka tertawa.
            “Iya, nggak apa-apa.” Cakka tersenyum menenangkan seraya mengusap puncak kepala Oik.

**

            “Ah, yakin lo nggak kangen Kak Cakka? Gue sih, nggak munafik, ya. Gue ngakuin kalau gue kangen Kak Cakka.” Seloroh Sivia hingga membuat sahabatnya itu melotot.
            “Eh, gila aja lo! Alvin mau lo taruh mana?!” cecar Oik tanpa ampun, lagi-lagi Sivia tertawa.
            “Alvin tetep dihati gue dong, Ik. Nah elo, si itu mau lo taruh mana kalau lo masih mikirin Kak Cakka terus? Gagal move on banget, deh.” Ejek Sivia.
            Tanpa Sivia sadari, Oik termenung mendengar perkataannya. Oik menghela napas, membuyarkan lamunan mengenai Cakka yang kembali hinggap diotaknya. Walaupun sudah hampir setahun ia tak bertemu dengan lelaki itu, ingatannya mengenai dia tak terhapuskan.

**

            Petang itu, Oik dan Cakka baru saja selesai sholat berjamaah berdua di mushola sekolah mereka. Beberapa anggota ekskul mading tengah bekerja rodi menyelesaikan mading yang setiap dua minggu sekali haru diganti.
            Begitu Oik selesai membereskan mukenah milik sekolah, keduanya berjalan beriringan menuju sekretariat ekskul.
            “Kak Cakka tumben nggak nganterin Kak Agni pulang?” Tanya Oik.
            Cakka hanya tersenyum tipis. “Emang lo pikir gue ojek langganannya sampai-sampai tiap hari harus nganterin dia pulang?”
            Oik menggeleng malu. “Ya kan, aku pikir Kak Cakka sama Kak Agni itu... pacaran,”
            “Hah?!” Cakka menengok kearah Oik dengan ekspresi bingung lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Kok lo mikirnya gitu, sih?”
            Pipi Oik semakin bersemu merah saja. “Abisnya Kak Cakka sama Kak Agni deket banget kayak amplop sama perangko, nggak kepisahin.”
            “Gue sama Agni udah sahabatan dari kecil, Ik. Kami satu sekolah dari TK sampai sekarang. Jelas aja kami deket banget.” Jeda sebentar sampai Cakka kemudian memasang wajah konyol dan memandang Oik. “Lo jealous, ya?”
            “Nggak! Nggak, ih! Kak Cakka apaan, sih?! Nggak, aku nggak jealous! Ngapain juga aku harus jealous?!” Oik langsung gelagapan sendiri dan mengoceh tidak jelas sambil mempercepat langkahnya, meninggalkan Cakka yang berjalan santai di belakangnya.
            Dengan wajah bersemu merah, Oik merapikan barang-barangnya di sekretariat ekskul. Rupanya seluruh teman-temannya anggota ekskul mading sudah pulang. Langkah kakinya berderap menuju halaman depan, menunggu ayahnya menjemput.
            Berkali-kali diliriknya jam tangan tetapi ayahnya tak kunjung muncul. Hingga akhirnya seseorang yang tengah duduk diatas motornya berhenti di dekatnya.
            “Belum dijemput, Ik?” Tanya orang itu–Cakka.
            “Belum, Kak.” Jawab Oik singkat. Oik masih malu jika mengingat kejadian barusan.
            “Mau gue anter aja?” tawar Cakka yang disambut gelengan kepala dari Oik. “Ya udah, gue tungguin sampai elo dijemput.” Cakka turun dari motornya dan lekas duduk bersama Oik dibangku sekolah.
            “Kak Cakka pulang duluan aja. Ayah masih lama jemputnya, macet.” Usir Oik halus.
            “Nggak.” Cakka menggeleng. “Ini udah hampir malem. Gue nggak akan ngebiarin lo nunggu sendirian. Apalagi bokap lo masih lama kan, jemputnya.”

**

            “Eh, Ik.. gue denger mau ada reuni alumnus tahun lalu, deh. Angkatannya Kak Cakka kan, berarti?” Tanya Sivia dengan mulut penuh.
            Oik langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar nama Cakka disebut-sebut. “Serius lo?! Denger dari siapa?” Tanya Oik histeris.
            “Dari Alvin. Biasa.. dia kan, banyak kenalan kakak kelas. Hari ini katanya, sih. Tapi gue nggak tahu lagi. Dan gue berani taruhan kalau lo pingin banget Kak Cakka dateng.”
            “You got me, Siv.” Kata Oik lirih.
            “Hey, Oik!” sebuah suara menyapa, membuat sang empunya nama menengok dan mendapati salah satu temannya disana. “Happy anniv, ya! Semoga kalian langgeng sampai kakek-nenek.”
            Oik hanya menanggapi dengan tersenyum hambar. “Makasih, ya.”

**

            Oik tengah berkutat dengan laptop ketika Cakka datang. Melihat keadaan sekretariat yang lengang dan hanya ada Oik membuat lelaki itu mendengus. Dengusannya rupanya mengagetkan Oik yang tengah berkonsentrasi penuh mencari artikel untuk mading minggu depan.
            “Kak Cakka ngagetin aja,” seru Oik dongkol. Gadis itu pun kembali memfokuskan matanya pada layar laptop.
            Cakka meringis dan beringsut duduk di samping Oik. “Lagi ngapain, sih? Serius amat kayaknya. Berasa gue ganggu elo banget, deh.”
            “Iya, nih.” Oik menghela napasnya. “Lagi cari artikel, Kak. Tema minggu depan kan,something yang tradisional gitu. Aku masih nggak ngerti mau ngebahas apa.”
            “Lho?” Cakka mengernyit. “Yang ngurusin artikel kan, nggak cuman kamu. Yang lainnya pada kemana? Agni juga.. dia kemana?”
            “Nggak tau, Kak. Aku suntuk banget. Nggak ngerti harus gimana.” Oik menelungkupkan kepalanya diatas laptop. “Aku lagi nggak mood dan mereka semua nggak tau pada kemana.”
            Cakka jadi bingung sendiri begitu melihat Oik yang mulai terisak. Ia menggaruk tengkuknya, bingung. Melihat sebuah sapu yang teronggok disudut sekretariat, ia bergegas mengambilnya.
            “Tiap kali ku melihatmu, sesak napas dan kehilangan arah. Tolong, tolong, tolong bantulah aku berdiri tegak dengan dua kakiku.”
            Oik mengangkat kepalanya. Kedua tangannya menghapus lelehan air mata dipipinya. Ia melihat Cakka tengah bernyanyi dengan menggunakan sapu sebagaimicrophone. Tak ayal, tingkah berlebihan lelaki itu ketika membawakan lagu membuat Oik sedikit tersenyum.
            “Kak Cakka ngapain?” Tanya Oik dengan suara serak.
            “Nyanyi, dong! Banyak yang bilang gue mirip sama vokalisnya The Finest Tree, sih.”
            Oik semakin melebarkan senyumnya ketika mendengar ucapan Cakka barusan. “Makasih ya, Kak. I really mean it..”
            “Iya. Jangan sedih lagi, ya.” Cakka tersenyum tipis.

**

            Sivia baru saja menghabiskan sotonya. Ia meletakkan sendok beserta garpunya dengan posisi tertelungkup. Tangannya terulur untuk mengambil sebotol air mineralnya. Ia menenggaknya sambil menatap satu fokus.
            “Ik, Oik..” panggilnya.
            “Apa, sih?” Tanya Oik tak mengerti. Sivia tiba-tiba saja mendadak kaku.
            “Look who’s coming..” Ucap Sivia, ia mengedik pada koridor.
            Oik menggelengkan kepalanya tak mengerti lalu menengok kearah koridor. Napasnya tercekat begitu mengetahui siapa yang tengah berjalan menuju kantin–tempat mereka saat ini. Ia melirik Sivia. Rupanya sahabatnya itu sama terpananya dengan dirinya.
            “Gue nggak salah lihat, kan?” Tanya Oik dengan suara berbisik.
            Lama-kelamaan sosok itu semakin dekat dengan Oik dan Sivia. Semakin jelaskan spekulasi mereka mengenai siapakah sosok itu.
            “Hay, Oik! Hay, Sivia!” sapa sosok itu–tentu saja dengan suara beratnya.
            “Kak Cakka..”

**

            Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar satu jam yang lalu. Tetapi Cakka dan Oik masih berada di area sekolah. Semalam Cakka meminta tolong gadis itu untuk membantunya membuat figur doraemon dari tanah liat yang telah diolah sebelumnya.
            “Artikelnya udah siap, Ik?” Tanya Cakka. Ia melirik gadis yang tengah duduk disampingnya itu dengan tersenyum.
            “Udah, Kak.” Oik mengangguk. “Mau dibantuin nggak?”
            “Nggak usah. Nanti tangan lo kotor. Gue aja harus pakai sarung tangan.” Tolak Cakka. “Udah, lo duduk manis aja disamping gue.”
            Oik menghela napasnya. “Terus apa gunanya aku disini kalau Kak Cakka nggak mau aku bantuin? Kan, Kak Cakka yang semalem minta dibantuin.”
            “Bukan gitu,” Cakka tertawa melihat gadis disampingnya itu cemberut.
            “Gini, deh.” Cakka berbalik badan, menghadap Oik sepenuhnya dan menyodorkan kedua tangannya pada Oik. “Lepasin sarung tangan gue dulu.”
            “Lepas aja sendiri!” seru Oik sebal.
            “Nggak bisa, Oik.” Balas Cakka. “Ayo, lepasin. Tolong.”
            Dengan wajah yang masih cemberut, Oik membantu melepaskan sarung tangan dari kedua tangan lelaki itu. Lalu ia letakkan kedua benda itu disampingnya.
            “Terus? Apa?” Tanya Oik bingung.
            Cakka memegang kedua tangan Oik perlahan-lahan. “Gue nggak mau tangan lo jadi kotor. Ini kerjaan cowok. Ntar tangan lo bisa kotor dan nggak halus lagi.”
            Oik menahan napasnya. Begitu ia mendongak, ia mendapati Cakka tengah menatapnya dalam. Ia segera mengalihkan pandangannya. Apapun. Apapun asal jangan kedua bola mata yang memandangnya lekat itu.
            Oik hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merona merah.

**

            “Ik, gue ke kelas duluan, ya. Alvin nyariin gue.” Sivia langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Oik serta Cakka berdua.
            Oik menundukkan kepalanya sekilas. Ia merutuki Sivia karena telah membiarkannya berada pada momen yang canggung seperti ini bersama Cakka. Begitu ia mendongakkan kepalanya, ia melihat Cakka telah duduk manis di hadapannya.
            “Apa kabar, Ik?” Tanya Cakka dan seutas senyum.
            “Baik, Kak.” Oik tersenyum kikuk. “Kak Cakka sendiri, gimana?”
            “Baik juga. Aku sekarang ambil manajemen, Ik.” Ujar Cakka. Oik hanya mengangguk mengerti.
            Keduanya lantas terdiam untuk waktu yang cukup lama.

**

Cakka Nuraga: Ik, bsk jgn lupa bawa artikelny ya:-)
Oik: Siap kak!!^^
Cakka Nuraga: Udh siap semua kn?
Oik: Udh ko. Ini udh diprint jg hehe.
Cakka Nuraga: Ya udh. Ini udh mlm jg. Lo cpt tidur gih sana:-)
Oik: Gak bs tidur kak. Laper:-(
Oik: Ini msh mau ngerebis mie:-(
Cakka Nuraga: Waduh sama! Tp gue gak bs masak mie=))
Oik: Wah sehati ya kita:))
Cakka Nuraga: Wah cocok dong kl gt:-P
Oik: Iy nih, cocok bgt kak=))
Cakka Nuraga: Cpt jadian aja kl gt. Udh sehati sih:-P
Oik: Ih apaan jadian2??? Ditembak aja gak:-P
Cakka Nuraga: Oh km mau aku tembak?
Oik: Jgn dong, ntar aku mati:”(
Cakka Nuraga: Gmn sih? Serius nih._.
Cakka Nuraga: Ya udh, gini aja.........
Cakka Nuraga: Oik, aku suka sm kamu:-)
Cakka Nuraga: PING!!
Oik: Iy kak:-) aku jg:-)
Cakka Nuraga: Tp aku mau fokus ujian dl. Gpp kn ik?:-(
Cakka Nuraga: Ik? Oik?
Cakka Nuraga: Km udh tidur ya?:-(
Cakka Nuraga: Ya udh deh. Sleep tight ya:-)

**

            “Ik, kita bisa ngomongin soal itu, kan?” Tanya Cakka penuh harap.
            “Ngomongin apalagi sih, Kak?” Tanya Oik jengah. Ia segera mengalihkan pandangannya dari lelaki di hadapannya. Ia lelah.
            “Sejak itu kamu nggak pernah bales BBM aku lagi. Kamu juga kayak ngehindar. Iya, kan? Kamu kenapa sih, Ik?” Tanya Cakka memelas.
            Oik menghela napasnya. “Nggak ada lagi yang perlu diomongin.”
            Oik menggelengkan kepalanya melihat Cakka yang masih menatapnya penuh harap. Oik sebenarnya mengerti betul apa yang Cakka inginkan. Kini lelaki itu tengah menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.
            “Aku capek nunggu, Kak. Apalagi waktu itu Kakak bilang kalau Kakak mau fokus ujian. Iya, kan? Oke, aku turutin. Aku nggak pernah gangguin Kakak semenjak itu. Aku bukan menghindari. Aku cuman coba nurutin permintaan Kakak.” Oik membuang napasnya yang lama tertahan diparu-paru.
            “Kita sama sekali nggak berhubungan sampai Kakak selesai ujian. Sampai Kakak masuk universitas, malah. Sebelum Kakak bilang kalau Kakak masuk manajemen, aku nggak tau. Aku nggak tau harus ngapain, Kak.” Oik mulai terisak.
            “Ik..” Cakka mengulurkan tangannya, mencoba menghapus lelehan air mata gadis itu.
            “Nggak usah. Makasih.” Oik menepis tangan Cakka dengan kasar.
            “Sampai berbulan-bulan setelahnya pun aku nggak menghubungi Kakak sama sekali. Karena aku mikir kalau awal-awal jadi mahasiswa pasti sibuk. Tapi sampai awal tahun ini pun Kakak nggak ngehubungin aku.”
            Oik menundukkan kepalanya. Begitu ia mendongak, Cakka menemukan gadis itu tengah memasang wajah dinginnya. “Aku capek nunggu, Kak. Aku capek nunggu kamu. Kamu nggak pernah ada kabar.”
            “So, why should I hold on to something.. something doesn’t exist?” Tanya Oik sarkastik.
            “Ik, aku nggak bermaksud begitu. Aku...”
            “Kamu apa, Kak?” tantang Oik.
            “Kasih aku satu kesempatan lagi.”
            Oik menggeleng tegas. Bibirnya bergetar menahan tangis. “Nggak bisa, Kak. Kamu dateng diwaktu yang nggak tepat.”
            Cakka menatap Oik bingung. Juga, tidak terima.
            “Hay, Ik.” Sapa sebuah suara. “Happy anniv, Sayang.”
            Oik tersenyum menatap lelaki gondrong yang tengah mengulurkan tangan dihadapannya. “Happy anniv juga, Ray.”
            Oik menyambut uluran tangan Ray. Oik berdiri, berjalan beriringan dengan Ray setelah berpamitan kepada Cakka sebelumnya.
            “Kasih aku satu kesempatan lagi, Ik..”

THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LOVE WILL FIND ITS WAY [Side Story of LOVE HURTS]

            Terdengar bunyi-bunyian yang memekakkan telinga dari dalam studio. Sebuah band beraliran heavy rock sedang berlatih di dalam dengan didampingi managernya. Jam dinding telah menunjuk angka sebelas dengan jarum panjangnya dan angka satu dengan jarum pendeknya. Di luar sedang turun hujan, membuat malam itu semakin dingin.
            Bunyi-bunyi berisik berangsur hilang. Studio perlahan menjadi senyap. Keempat anggota band yang sedang naik daun itu beristirahat untuk sementara, sang manager memperhatikan dalam diam. Jadwal latihan mereka memang semakin padat menjelang konser keliling Indonesia yang mereka gelar pada pertengahan bulan nanti.
            Rockability. Itulah mereka. Sebuah band dengan empat lelaki bertampang diatas rata-rata yang tergabung didalamnya. Cakka yang sudah nyaman sebagai vocalist, Gabriel dengan bass, Ozy dengan gitar, dan Ray bersama drum. Dan keempatnya berada dibawah kuasa penuh sang manager, Ashilla–atau yang lebih akrab disapa Shilla.
            Mereka berempat sedang meminum soft drink masing-masing ketika salah satu ponsel yang tergeletak di sudut ruangan meraung-raung pertanda sebuah pesan telah masuk. Kelimanya saling lirik.
            “Biar gue yang cek.” Ray melangkah untuk mengecek keempat ponsel tersebut dan mengambil salah satunya. “Punya lo, Kka.” Ray mengacungkannya pada Cakka lalu melemparkannya.
            Cakka dengan sigap menangkap. “Thanks, Ray!”

From: Oik
Kt ptus

            “Wh–––Are you kidding me?!” Cakka memekik kaget.
            Gabriel menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Got problem, Bro?” tanyanya penasaran. Cakka hanya mengangkat salah satu tangannya dan kembali fokus memelototi layar ponsel.

To: Oik
We’re just fine n u... Why?

            “Kka?” Ozy memanggil Cakka dan tak dihiraukan sedikit pun oleh sang obyek.

From: Oik
Aq bsn sm qm

            Cakka mengacak rambutnya frustasi. Dengan segera, ia mengantongi ponselnya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas berlari ke parkiran. Ia sama sekali tak memerdulikan ketiga sahabatnya dan seorang managernya yang berteriak kencang dari dalam studio menanyakan ada apa padanya.
            Ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan ke wilayah Menteng, tempat dimana dorm Diamond –girlband Oik– berada. Hanya dalam waktu sepuluh menit –yang dalam keadaan normal Cakka harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih– ia sudah memarkirkan mobilnya asal-asalan di halaman depan dorm Diamond.
            Cakka turun dari mobilnya. Ia mengangguk sekilas pada seorang satpam paruh baya yang berjaga di pos. Dengan langkah lebar-lebar, Cakka berjalan menuju bangunan utama dorm. Tangannya menggedor pintu dengan keras.

**

            Kelima anggota Diamond sedang berada di kamar Oik di lantai dua ketika suara gedoran pintu yang dapat menulikan telinga itu terdengar. Sivia, yang sedang mengecat kukunya dengan kuteks motif leopard berwarna tosca-putih, berteriak nyaring karena cairan kuteks tersebut luntur hingga keibu jarinya.
            “Siapa, sih, malam-malam begini ngegedor pintu seperti orang kesurupan?!” Ify berkata sewot dari balik laptopnya.
            Acha melirik keempat partnernya dengan curiga, “Elo berempat nggak lagi delivery sesuatu, kan?”
            “Nggak!” Pricilla menggeleng kecil. Kemudian gadis itu kembali larut dalam majalah fashion yang ia baca.
            “Biar gue aja yang buka,” kata Oik.
            Gadis bergigi gingsul itu segera turun dari ranjangnya, mengenakan sandal boneka, dan pasti sudah keluar dari kamar ketika kakinya tidak sengaja mengantuk sebuah kotak berukuran sedang di bawah ranjang.
            Keadaan mendadak sunyi. Sivia berhenti mengoleskan kuteks kekukunya. Ify menutup laptopnya. Acha berhenti mengunyah jeruk. Pricilla meletakkan majalahnya. Oik memandang ngeri kearah boks tersebut.
            Dengan sigap, Sivia kembali mendorong boks tersebut ke bawah ranjang Oik tanpa memperhatikan kuteksnya yang masih basah.
            “Come on, Oik! Elo nggak pingin ngebuat orang kesetanan yang sedang ngetuk pintu itu makin kesetanan lagi, kan, karena elo nggak ngebukain?” Sivia mendorong punggung Oik menuju pintu kamar dan memaksa gadis itu turun.
            Oik mengangguk pelan tanpa melihat ekspresi keempatnya. Perlahan, ia pun turun. Meninggalkan keempat sahabatnya yang –tanpa mereka sadari– sedang menahan napas semenjak kaki Oik tidak sengaja mengantuk boks itu.
            Oik terlebih dahulu mengintip sesosok bayangan hitam yang sedang menggedor pintu dormnya itu melalui kaca jendela. Sialnya, lampu depan sudah padam semua dan Oik hanya bisa melihat siluet itu. Siluet laki-laki.
            Oik membuka pintu. Ia tersentak kaget begitu mendapati Cakka tengah berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Oik segera menutup kembali pintunya. Wajahnya pucat pasi. Tapi sayangnya, tangan kokoh Cakka berhasil mencegah Oik melakukannya.
            “Buka, Oik!” suara Cakka terdengar frustasi di luar sana.
            “Nggak! Kamu ngapain malam-malam begini ke dorm?” Oik menyahut dari dalam.
            “Arrrggghh!!” Cakka mendorong pintu dorm Oik hingga membuat gadis mungil itu agak mundur. “For God’s sake, Oik! Buka pintunya! Kita perlu bicara.”
            Oik menggeleng dengan peluh yang sudah menetes dari dahinya. “Nggak mau. Sebaiknya kamu pulang aja.”
            “Please, Oik...” Cakka berkata pelan. “Sekali ini aja. Setelah itu, aku nggak akan ganggu kamu lagi.”
            “Janji?” tanya Oik dengan suara bergetar.
            Cakka memejamkan matanya. Mengapa suara Oik terdengar bergetar? Cakka memijat keningnya membayangkan ia akan menghabiskan sisa umurnya tanpa bayangan Oik. “IYA! OKE!” Cakka menggeram.
            Perlahan, Cakka merasakan pintu yang ia dorong tak lagi ditahan dari dalam. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cakka dapat melihat wajah Oik yang pucat pasi dari balik daun pintu. Dengan tak sabar, Cakka mendorong pintu tersebut supaya terbuka lebar. Oik beringsut masuk ke dalam dorm.
            “Why were you doing this to me?” tanya Cakka dengan suara memohon.
            “Doing what?” tanya Oik balik dengan terbata-bata.
            “Look at me, Oik!” Cakka mengangkat dagu Oik agar pandangan mereka bertemu. “Kenapa, Ik?” tanya Cakka lagi, terdengar seperti suara orang kesakitan.
            Oik kembali melarikan pandangannya ke samping. “Ak––Gue bosen sama lo.”
            Cakka jatuh terduduk dikaki Oik. Menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Setetes air mata Oik jatuh ketika melihat lelaki itu begitu tersiksa karenanya. Cepat-cepat ia hapus air mata itu sebelum Cakka melihatnya.
            Cakka mendongak menatap Oik, “Can you think about it again? I’ll wait for it. ‘Til the end of time. Just... don’t leave me. Please.” Cakka memohon.
            Oik menggeleng, tetap pada keputusannya. “Ini udah malam, Kka. Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Sukses buat konser keliling Indonesia Rockability.”
            Cakka menggeleng lesu. Oik sudah menutup pintunya keras-keras. Satu yang Cakka tak tahu, Oik juga terduduk di balik pintu. Ia tak tahu gadis itu juga sama tersiksanya dengan dirinya.
            “Ik, buka...” lirih Cakka.
            “Pulang, Kka!” bentak Oik.
            “Nggak.” Cakka menggeleng frustasi.
            “Pak satpam! Suruh dia pulang!” Oik berteriak dari dalam.
            Oik bangkit. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Ia menyeret kakinya, memaksanya menaiki tangga. Telinganya mendengar Cakka dan satpamnya yang tengah berdebat diluar. Oik semakin lemas saja.
            Begitu sampai di kamarnya, Oik langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Sivia, Ify, Pricilla, dan Acha saling pandang.
            “Tadi siapa, Ik, yang datang?” tanya Acha seraya mengusap punggung Oik dengan lembut.
            “Ca...kka...”
            Keempatnya terpekik. Sivia melongokkan kepalanya ke bawah sana melalui jendela. Mobil Cakka meninggalkan pelataran dorm. Ia mengantar kepergian Cakka dengan alis terangkat sebelah. Sivia melirik kearah ranjang Oik. Ify, Pricilla, dan Acha tengah memeluk Oik bersamaan. Sivia menatap Oik kasihan.
            “Be strong, Oik.”

**

            Keesokan paginya, Diamond bertolak menuju kantor management mereka. Mereka sampai disana sekitar pukul sepuluh pagi. Lobby kantor terlihat ramai oleh penyanyi yang diorbitkan oleh TS-Entertainment. Kelima member Diamond segera menuju hall untuk menemui manager mereka–Zahra.
            “Mbak Zahra!” sapa Pricilla ketika kelimanya baru saja memasuki hall.
            “Hey!” Zahra menengok kearah mereka berlima, menyuruh mereka untuk menghampirinya. “Sudah lama datengnya?”
            “Belum, Mbak.” Acha menjawab dengan tersenyum lebar.
            Zahra menengok pada Oik, menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan artisnya itu. “Mata kamu sembab, Ik?”
            Oik terperangah kaget mengetahui Zahra menyadari matanya yang supersembab. Ia kemudian menggeleng lemas. “Nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur aja.”
            Baru saja Zahra akan kembali bertanya macam-macam pada Oik, Sivia sudah mendahuluinya. Ia tak mau Oik gelagapan menjawab pertanyaan manager mereka. “Itu siapa, Mbak?” tanya Sivia, melirik seorang lelaki di samping Zahra.
            Oik melirik Sivia. Ia tersenyum kikuk pada Sivia. Sivia hanya mengacungkan jempolnya tak kentara. Oik menghela napasnya. Bagaimanapun juga, Oik masih agak kikuk jika berbicara dengan gadis itu. Apalagi kalau bukan karena kejadian itu?
            “Oh, iya!” Zahra seakan baru mengingat bahwa ada seseorang di sampingnya. “Ini Alvin. Penyanyi baru orbitan TS-Entertainment.”
            Alvin tersenyum pada kelima member Diamond. Kelimanya pun mulai menyalami Alvin.
            “Penyanyi solo, member boyband, apa personel band?” tanya Pricilla.
            “Kebetulan penyanyi solo.” Alvin menjawab dengan disertai senyum manisnya. Kelima member Diamond mengangguk mengerti.
            “Oik!!!” Oik mendengar suara bass yang cukup ia kenali tengah mamanggil namanya. Oik menengok ke samping dan menemukan salah satu staf TS-Entertainment telah berada di sampingnya.
            “Kenapa, Biet?” tanya Oik pada lelaki itu–Obiet.
            “Kenapa lo nggak cerita ke kita, sih, Darling?” Obiet menatap Oik dengan mata sayunya. Ia sudah menganggap Oik sebagai adiknya sendiri.
            “Cerita apa?” tanya Oik balik.
            Obiet menghela napasnya. “Gue barusan lihat acara gossip di TV. Managernya Rockability, tuh... siapa?”
            “Shilla!” jawab Sivia cepat. Ia melirik Oik dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa sama Shilla, Bang?”
            “Shilla bikin pernyataan kalau Cakka lagi frustasi, depresi, dan semacamnya. Gara-gara elo, Darling.” Obiet menatap Oik dalam-dalam. “Lo putus sama Cakka?”
            Oik memejamkan matanya. Ia sadar berita ini akan cepat menyebar. Tetapi ia tak mengira kalau akan secepat ini media mengendus hubungannya dan Cakka yang telah berakhir. Padahal baru semalam ia dan Cakka resmi putus.
            “Kamu putus, Ik? Itu yang bikin mata kamu sembab begini?” tanya Zahra was-was.
            Oik tersenyum jengah. “Padahal baru semalam gue dan Cakka putus.”
            Sivia bergerak mendekati Oik. Ia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Sivia merangkul Oik. Oik berdiri diam dalam rangkulannya. Suasana mendadak senyap karena pernyataan singkat Oik barusan.
            “Oik?” Alvin memanggil gadis itu. “Maaf sebelumnya. Mau minum hot chocolate bareng? Banyak orang bilang kalau coklat bisa menimbulkan efek tenang.”
            Oik mengangguk kikuk. Ia melepaskan diri dari rangkulan Sivia dan berjalan bersama Alvin menuju coffee shop yang terletak di lobby kantor management mereka. Keempat member Diamond lainnya beserta Zahra dan Obiet menatap kepergian Oik dengan lesu.
            “Gue makin merasa bersalah sama Oik,” ujar Sivia lirih.

**

            Sore itu Oik beserta Ify tengah menandatangani beratus-ratus lembar foto Diamond yang akan dijadikan souvenir dalam peluncuran album terbaru mereka besok. Acha, Pricilla, dan Sivia sudah membubuhkan tandatangan mereka dalam foto-foto itu. Hanya Oik dan Ify yang belum.
            “Acha, Sivia, sama Pricilla kemana, Fy?” tanya Oik.
            Ify menggeleng tak tahu. “Sivia, sih, tadi lagi keluar. Nggak tahu kalau Acha sama Prissy. Lagi molor, kali. Itu anak dua, kan, pada kebo semua.” Oik tertawa.
            Ditengah-tengah kegiatan mereka membubuhkan tandatangan, terdengar keributan kecil dari luar dorm. Keduanya mendengar jelas keributan kecil antara dua gadis tersebut karena Oik dan Ify sedang berada di ruang tamu. Sepertinya keributan kecil itu berlangsung di teras dorm mereka.
            “Siapa?” tanya Oik bingung.
            “Nggak tahu. Biar gue aja yang cek.” Ify memberikan isyarat agar Oik tetap duduk saja.
            Ify bangkit dari duduknya. Baru saja ia akan membuka pintu, pintu sudah terlebih dahulu dibuka dari luar. Tubuh Sivia menyeruak masuk. Dengan cepat, Sivia kembali menutup pintu dorm. Ify menatapnya curiga.
            “Oik––,” Sivia membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Ia bingung akan berbicara apa.
            “Apa, Siv?” tanya Oik dengan alis terangkat sebelah.
            Ify berusaha mendorong tubuh Sivia agar menyingkir dari pintu. Ify ingin sekali melihat siapakah yang kini tengah berada di teras dorm. “Itu siapa, sih, Siv?”
            Sivia makin gelagapan saja. Melihat Sivia yang tengah bingung dengan pikirannya sendiri, Ify segera mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga agar menyingkir dari pintu. Ify segera membuka pintu dorm dan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di teras dorm dengan wajah merah padam.
            Ify terkesiap begitu menyadari siapa gadis itu. Ify pun kembali menutup pintu dan berbisik pada Sivia. “Kenapa orang itu bisa ada di sini, Siv? Lo hutang penjelasan sama gue.”
            “Ada siapa, Fy, di luar?” tanya Oik penasaran.
            “Nggak tahu. Nggak kelihatan. Sivia, nih, nggak mau minggir, gue jadi nggak bisa ngebuka pintunya.” Ify pun melangkah meninggalkan Oik dan Sivia.
            “Fy! Mau ke mana?” tanya Oik lagi.
            “Ke dapur!” jawab Ify cepat. “Haus gue. Lo mau gue ambilin minum juga?”
            “Nggak usah, deh.” Oik membalas dengan berteriak.
            “Ik..” panggil Sivia pelan. “Ada yang mau ketemu sama lo.” Sivia menggigit bibirnya gugup ketika melihat ekspresi penasaran yang memancar jelas dari wajah Oik.
            “Siapa?” tanya Oik penasaran. “DiAddict? Atau OikLovers?”
            “Sepupu gue,” jawab Sivia takut-takut.
            Oik berdiri ketika Sivia mulai membuka pintu dorm. Seorang gadis masuk kemudian berdiri di hadapan Oik. Gadis itu berwajah merah padam karena marah. Ia menggenggam beberapa lembar foto yang sudah lecek karena ia genggam terlalu keras.
            “Hay, Oik..” sapanya sinis.
            “Shilla?” suara Oik terdengar bergetar karena takut. Oik pun beralih pada Sivia. Rupanya gadis itu tengah menatapnya dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa bisa ada dia di sini, Siv? Mana sepupu lo?”
            “Gue sepupunya Sivia,” ujar Shilla dengan senyum sinisnya.
            “Lo nyari Cakka, Shil? Cakka nggak di sini, kok.” Oik menatap Shilla dengan gemetar.
            “Gue nggak nyari Cakka,” Shilla berkata perlahan seraya berjalan semakin dekat kearah Oik. Wajahnya mendadak berubah sengit. Ia melemparkan lembaran foto yang ia genggam tadi tepat kearah wajah Oik. “Lihat foto itu!” teriaknya bengis.
            Oik terkesiap kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Shilla. Ia beringsut mengambil beberapa lembar foto yang terjatuh dilantai. Oik memperhatikan keempat foto itu dengan seksama.
            “Gara-gara foto itu semuanya jadi kacau, Oik!” suara Shilla mulai terdengar berbahaya.
            “Kacau...?” Oik bergumam tak mengerti.
            “Gara-gara empat foto itu RockaFriends, terutama C~LUVers, pada ngamuk di twitter! Gara-gara foto itu! Gara-gara elo!” teriak Shilla sebal.
            Oik kembali memperhatikan empat foto tersebut. Keempatnya menunjukkan gambar dirinya dan Cakka. Cakka tengah mencium pipinya dengan latar belakang Menara Petronas, Kuala Lumpur. Oik ingat betul bahwa foto itu diambil seminggu yang lalu ketika ia dan Cakka menghabiskan waktu berdua di Malaysia.
            “Gimana bisa foto-foto ini ada di twitter?” tanya Oik tak mengerti.
            “Bukan Oik yang upload foto itu di twitter, Shil!” ujar Sivia.
            Shilla menatap Sivia tajam kemudian menatap Oik dengan pandangan membunuh. “Iya, gue tahu. Cakka yang upload foto itu––,”
            “Terus kenapa elo nyalahin gue?!” teriak Oik balik dengan suara bergetar antara marah dan ingin menangis karena gadis di hadapannya itu dari dulu tak pernah menyetujui hubungannya dengan Cakka.
            “Terus gue harus nyalahin siapa? Cakka?” tanya Shilla dengan senyum meremehkan.
            “Cakka yang upload foto itu. Bukan gue. Jangan salahin gue!” teriak Oik lagi.
            Shilla menatap Oik tak suka. “Lo berani sama gue?” tanya Shilla tak suka. Tangannya melayang akan menampar Oik. Tapi sayangnya, Sivia sudah menahannya terlebih dahulu.
            “Mending lo balik aja, Shil. Lo emang sepupu gue, tapi bukan berarti gue ngedukung apapun yang lo lakuin.” Sivia menatap Shilla dingin kemudian mendorong gadis itu agar cepat-cepat angkat kaki dari dorm Diamond.
            Selepas kepergian Shilla, Oik terduduk lemas pada sofa ruang tamu dorm Diamond. Oik terisak. Sivia bergerak untuk memeluk Oik tetapi ditepis olehnya. Sivia hanya mampu menatap Oik sedih. Ify, Pricilla, dan Acha datang tak lama kemudian. Oik sama sekali tak menolak ketika ketiganya memeluknya.

**

            “Jadi gitu ceritanya,” ujar Oik, mengakhiri ceritanya.
            Alvin mengangguk mengerti. “Jadi, Sivia itu sepupunya Shilla?” ulang Alvin.
            “Iya. Dan gue masih kikuk aja kalau ngomong sama Sivia. Masih kebayang-bayang gimana waktu itu dia ngebawa Shilla ke dorm Diamond aja.” Oik tersenyum tipis. “Eh, maaf, ya. Kita baru aja kenal tapi gue udah cerita nggak penting gini ke elo.”
            “Nggak apa-apa, kali.” Alvin tersenyum maklum. “Daripada elo pendem semuanya sendirian dan akhirnya jadi gila. Iya, kan?”
            Oik tertawa kecil. “Makasih banget, Vin.”
            “Lo nggak ada niatan untuk perbaikin hubungan lo sama Sivia? Takutnya ntar malah kecium media dan bakalan ada gossip nggak jelas.”
            “Asal Sivia nggak pernah bawa Shilla ke hadepan gue lagi, sih..” Oik mengerling.

**

            Hari itu, Oik kembali menjadi bintang tamu dalam acara Hitam Putih. Bedanya, kali ini ia tidak datang bersama Diamond, namun bersama Cakka. Keduanya duduk berdampingan sementara sang host –Dedy– menatap keduanya iri.
            “Jadi, kalian kapan resmi balikan?” tanya Dedy sembari menatap Cakka dan Oik bergantian.
            “Resminya tiga bulan lalu, Om,” Oik menjawab dengan tersenyum malu-malu sehingga membuat Cakka tertawa dan menariknya kedalam pelukan lelaki itu.
            “Terus sekarang udah main tunangan aja?!” tanya Dedy kaget.
            Cakka tertawa. “Kan, aslinya kita berdua udah dari lama, Om. Cuman sempet putus aja beberapa bulan lalu. Jadinya waktu kita balikan, ya, langsung dibawa kejenjang yang lebih serius aja.”
            “Kalian berdua waktu itu putusnya kenapa, sih? Waktu itu Oik juga sempet pacaran sama Alvin, kan? Ya, meskipun sebentar doang.” Dedy kembali berceloteh.
            “Nggak, Om. Aku sama Alvin nggak pacaran, kok. Kita berdua sahabat deket. Deket banget. Sampai sekarang masih sahabatan, kok. Isu yang bilang Alvin pernah nembak Oik juga nggak bener.” Oik kembali teringat isu bahwa ia dan Alvin pacaran kemudian tertawa bingung.
            “Bukannya waktu itu temen-temen kamu dari Diamond sendiri yang bilang kalau kamu sama Alvin pacaran?” tuntut Dedy.
            “Nggak!” Oik menggeleng keras. “Bercandaan doang itu, Om. Sekarang juga Alvin udah punya cewek, kali. Jangan sebut-sebut Alvin pacarku, dong. Lagian Om Dedy nggak bisa diajak bercandaan amat. Udah tua, sih.” Studio pun kembali riuh oleh tawa penonton.
            Dedy memandang Oik keki karena telah mengatainya sudah tua. “Putus, putus. Kalian putusnya kenapa waktu itu?”
            Cakka dan Oik berpandangan penuh arti. “Itu biar jadi rahasia kita berdua aja, Om,” jawab Cakka.
            Dedy menatap kamera lalu memasang wajah jengkelnya. “Begini ini bintang tamu minta diusir. Ditanyain malah sok main rahasia-rahasiaan.”
            “Om, nggak nanya kita nikahnya kapan?” tanya Oik dengan wajah polosnya.
            “Iya, iya! Kapan kalian berdua nikah?” tanya Dedy balik dengan terlampau bersemangat.
            “Tahun depan, Om!” jawab Cakka dan Oik berbarengan yang memancing gelak tawa penonton seisi studio.


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS