Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label pricilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pricilla. Tampilkan semua postingan

LOVE WILL FIND ITS WAY [Side Story of LOVE HURTS]

            Terdengar bunyi-bunyian yang memekakkan telinga dari dalam studio. Sebuah band beraliran heavy rock sedang berlatih di dalam dengan didampingi managernya. Jam dinding telah menunjuk angka sebelas dengan jarum panjangnya dan angka satu dengan jarum pendeknya. Di luar sedang turun hujan, membuat malam itu semakin dingin.
            Bunyi-bunyi berisik berangsur hilang. Studio perlahan menjadi senyap. Keempat anggota band yang sedang naik daun itu beristirahat untuk sementara, sang manager memperhatikan dalam diam. Jadwal latihan mereka memang semakin padat menjelang konser keliling Indonesia yang mereka gelar pada pertengahan bulan nanti.
            Rockability. Itulah mereka. Sebuah band dengan empat lelaki bertampang diatas rata-rata yang tergabung didalamnya. Cakka yang sudah nyaman sebagai vocalist, Gabriel dengan bass, Ozy dengan gitar, dan Ray bersama drum. Dan keempatnya berada dibawah kuasa penuh sang manager, Ashilla–atau yang lebih akrab disapa Shilla.
            Mereka berempat sedang meminum soft drink masing-masing ketika salah satu ponsel yang tergeletak di sudut ruangan meraung-raung pertanda sebuah pesan telah masuk. Kelimanya saling lirik.
            “Biar gue yang cek.” Ray melangkah untuk mengecek keempat ponsel tersebut dan mengambil salah satunya. “Punya lo, Kka.” Ray mengacungkannya pada Cakka lalu melemparkannya.
            Cakka dengan sigap menangkap. “Thanks, Ray!”

From: Oik
Kt ptus

            “Wh–––Are you kidding me?!” Cakka memekik kaget.
            Gabriel menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Got problem, Bro?” tanyanya penasaran. Cakka hanya mengangkat salah satu tangannya dan kembali fokus memelototi layar ponsel.

To: Oik
We’re just fine n u... Why?

            “Kka?” Ozy memanggil Cakka dan tak dihiraukan sedikit pun oleh sang obyek.

From: Oik
Aq bsn sm qm

            Cakka mengacak rambutnya frustasi. Dengan segera, ia mengantongi ponselnya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas berlari ke parkiran. Ia sama sekali tak memerdulikan ketiga sahabatnya dan seorang managernya yang berteriak kencang dari dalam studio menanyakan ada apa padanya.
            Ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan ke wilayah Menteng, tempat dimana dorm Diamond –girlband Oik– berada. Hanya dalam waktu sepuluh menit –yang dalam keadaan normal Cakka harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih– ia sudah memarkirkan mobilnya asal-asalan di halaman depan dorm Diamond.
            Cakka turun dari mobilnya. Ia mengangguk sekilas pada seorang satpam paruh baya yang berjaga di pos. Dengan langkah lebar-lebar, Cakka berjalan menuju bangunan utama dorm. Tangannya menggedor pintu dengan keras.

**

            Kelima anggota Diamond sedang berada di kamar Oik di lantai dua ketika suara gedoran pintu yang dapat menulikan telinga itu terdengar. Sivia, yang sedang mengecat kukunya dengan kuteks motif leopard berwarna tosca-putih, berteriak nyaring karena cairan kuteks tersebut luntur hingga keibu jarinya.
            “Siapa, sih, malam-malam begini ngegedor pintu seperti orang kesurupan?!” Ify berkata sewot dari balik laptopnya.
            Acha melirik keempat partnernya dengan curiga, “Elo berempat nggak lagi delivery sesuatu, kan?”
            “Nggak!” Pricilla menggeleng kecil. Kemudian gadis itu kembali larut dalam majalah fashion yang ia baca.
            “Biar gue aja yang buka,” kata Oik.
            Gadis bergigi gingsul itu segera turun dari ranjangnya, mengenakan sandal boneka, dan pasti sudah keluar dari kamar ketika kakinya tidak sengaja mengantuk sebuah kotak berukuran sedang di bawah ranjang.
            Keadaan mendadak sunyi. Sivia berhenti mengoleskan kuteks kekukunya. Ify menutup laptopnya. Acha berhenti mengunyah jeruk. Pricilla meletakkan majalahnya. Oik memandang ngeri kearah boks tersebut.
            Dengan sigap, Sivia kembali mendorong boks tersebut ke bawah ranjang Oik tanpa memperhatikan kuteksnya yang masih basah.
            “Come on, Oik! Elo nggak pingin ngebuat orang kesetanan yang sedang ngetuk pintu itu makin kesetanan lagi, kan, karena elo nggak ngebukain?” Sivia mendorong punggung Oik menuju pintu kamar dan memaksa gadis itu turun.
            Oik mengangguk pelan tanpa melihat ekspresi keempatnya. Perlahan, ia pun turun. Meninggalkan keempat sahabatnya yang –tanpa mereka sadari– sedang menahan napas semenjak kaki Oik tidak sengaja mengantuk boks itu.
            Oik terlebih dahulu mengintip sesosok bayangan hitam yang sedang menggedor pintu dormnya itu melalui kaca jendela. Sialnya, lampu depan sudah padam semua dan Oik hanya bisa melihat siluet itu. Siluet laki-laki.
            Oik membuka pintu. Ia tersentak kaget begitu mendapati Cakka tengah berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Oik segera menutup kembali pintunya. Wajahnya pucat pasi. Tapi sayangnya, tangan kokoh Cakka berhasil mencegah Oik melakukannya.
            “Buka, Oik!” suara Cakka terdengar frustasi di luar sana.
            “Nggak! Kamu ngapain malam-malam begini ke dorm?” Oik menyahut dari dalam.
            “Arrrggghh!!” Cakka mendorong pintu dorm Oik hingga membuat gadis mungil itu agak mundur. “For God’s sake, Oik! Buka pintunya! Kita perlu bicara.”
            Oik menggeleng dengan peluh yang sudah menetes dari dahinya. “Nggak mau. Sebaiknya kamu pulang aja.”
            “Please, Oik...” Cakka berkata pelan. “Sekali ini aja. Setelah itu, aku nggak akan ganggu kamu lagi.”
            “Janji?” tanya Oik dengan suara bergetar.
            Cakka memejamkan matanya. Mengapa suara Oik terdengar bergetar? Cakka memijat keningnya membayangkan ia akan menghabiskan sisa umurnya tanpa bayangan Oik. “IYA! OKE!” Cakka menggeram.
            Perlahan, Cakka merasakan pintu yang ia dorong tak lagi ditahan dari dalam. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cakka dapat melihat wajah Oik yang pucat pasi dari balik daun pintu. Dengan tak sabar, Cakka mendorong pintu tersebut supaya terbuka lebar. Oik beringsut masuk ke dalam dorm.
            “Why were you doing this to me?” tanya Cakka dengan suara memohon.
            “Doing what?” tanya Oik balik dengan terbata-bata.
            “Look at me, Oik!” Cakka mengangkat dagu Oik agar pandangan mereka bertemu. “Kenapa, Ik?” tanya Cakka lagi, terdengar seperti suara orang kesakitan.
            Oik kembali melarikan pandangannya ke samping. “Ak––Gue bosen sama lo.”
            Cakka jatuh terduduk dikaki Oik. Menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Setetes air mata Oik jatuh ketika melihat lelaki itu begitu tersiksa karenanya. Cepat-cepat ia hapus air mata itu sebelum Cakka melihatnya.
            Cakka mendongak menatap Oik, “Can you think about it again? I’ll wait for it. ‘Til the end of time. Just... don’t leave me. Please.” Cakka memohon.
            Oik menggeleng, tetap pada keputusannya. “Ini udah malam, Kka. Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Sukses buat konser keliling Indonesia Rockability.”
            Cakka menggeleng lesu. Oik sudah menutup pintunya keras-keras. Satu yang Cakka tak tahu, Oik juga terduduk di balik pintu. Ia tak tahu gadis itu juga sama tersiksanya dengan dirinya.
            “Ik, buka...” lirih Cakka.
            “Pulang, Kka!” bentak Oik.
            “Nggak.” Cakka menggeleng frustasi.
            “Pak satpam! Suruh dia pulang!” Oik berteriak dari dalam.
            Oik bangkit. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Ia menyeret kakinya, memaksanya menaiki tangga. Telinganya mendengar Cakka dan satpamnya yang tengah berdebat diluar. Oik semakin lemas saja.
            Begitu sampai di kamarnya, Oik langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Sivia, Ify, Pricilla, dan Acha saling pandang.
            “Tadi siapa, Ik, yang datang?” tanya Acha seraya mengusap punggung Oik dengan lembut.
            “Ca...kka...”
            Keempatnya terpekik. Sivia melongokkan kepalanya ke bawah sana melalui jendela. Mobil Cakka meninggalkan pelataran dorm. Ia mengantar kepergian Cakka dengan alis terangkat sebelah. Sivia melirik kearah ranjang Oik. Ify, Pricilla, dan Acha tengah memeluk Oik bersamaan. Sivia menatap Oik kasihan.
            “Be strong, Oik.”

**

            Keesokan paginya, Diamond bertolak menuju kantor management mereka. Mereka sampai disana sekitar pukul sepuluh pagi. Lobby kantor terlihat ramai oleh penyanyi yang diorbitkan oleh TS-Entertainment. Kelima member Diamond segera menuju hall untuk menemui manager mereka–Zahra.
            “Mbak Zahra!” sapa Pricilla ketika kelimanya baru saja memasuki hall.
            “Hey!” Zahra menengok kearah mereka berlima, menyuruh mereka untuk menghampirinya. “Sudah lama datengnya?”
            “Belum, Mbak.” Acha menjawab dengan tersenyum lebar.
            Zahra menengok pada Oik, menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan artisnya itu. “Mata kamu sembab, Ik?”
            Oik terperangah kaget mengetahui Zahra menyadari matanya yang supersembab. Ia kemudian menggeleng lemas. “Nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur aja.”
            Baru saja Zahra akan kembali bertanya macam-macam pada Oik, Sivia sudah mendahuluinya. Ia tak mau Oik gelagapan menjawab pertanyaan manager mereka. “Itu siapa, Mbak?” tanya Sivia, melirik seorang lelaki di samping Zahra.
            Oik melirik Sivia. Ia tersenyum kikuk pada Sivia. Sivia hanya mengacungkan jempolnya tak kentara. Oik menghela napasnya. Bagaimanapun juga, Oik masih agak kikuk jika berbicara dengan gadis itu. Apalagi kalau bukan karena kejadian itu?
            “Oh, iya!” Zahra seakan baru mengingat bahwa ada seseorang di sampingnya. “Ini Alvin. Penyanyi baru orbitan TS-Entertainment.”
            Alvin tersenyum pada kelima member Diamond. Kelimanya pun mulai menyalami Alvin.
            “Penyanyi solo, member boyband, apa personel band?” tanya Pricilla.
            “Kebetulan penyanyi solo.” Alvin menjawab dengan disertai senyum manisnya. Kelima member Diamond mengangguk mengerti.
            “Oik!!!” Oik mendengar suara bass yang cukup ia kenali tengah mamanggil namanya. Oik menengok ke samping dan menemukan salah satu staf TS-Entertainment telah berada di sampingnya.
            “Kenapa, Biet?” tanya Oik pada lelaki itu–Obiet.
            “Kenapa lo nggak cerita ke kita, sih, Darling?” Obiet menatap Oik dengan mata sayunya. Ia sudah menganggap Oik sebagai adiknya sendiri.
            “Cerita apa?” tanya Oik balik.
            Obiet menghela napasnya. “Gue barusan lihat acara gossip di TV. Managernya Rockability, tuh... siapa?”
            “Shilla!” jawab Sivia cepat. Ia melirik Oik dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa sama Shilla, Bang?”
            “Shilla bikin pernyataan kalau Cakka lagi frustasi, depresi, dan semacamnya. Gara-gara elo, Darling.” Obiet menatap Oik dalam-dalam. “Lo putus sama Cakka?”
            Oik memejamkan matanya. Ia sadar berita ini akan cepat menyebar. Tetapi ia tak mengira kalau akan secepat ini media mengendus hubungannya dan Cakka yang telah berakhir. Padahal baru semalam ia dan Cakka resmi putus.
            “Kamu putus, Ik? Itu yang bikin mata kamu sembab begini?” tanya Zahra was-was.
            Oik tersenyum jengah. “Padahal baru semalam gue dan Cakka putus.”
            Sivia bergerak mendekati Oik. Ia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Sivia merangkul Oik. Oik berdiri diam dalam rangkulannya. Suasana mendadak senyap karena pernyataan singkat Oik barusan.
            “Oik?” Alvin memanggil gadis itu. “Maaf sebelumnya. Mau minum hot chocolate bareng? Banyak orang bilang kalau coklat bisa menimbulkan efek tenang.”
            Oik mengangguk kikuk. Ia melepaskan diri dari rangkulan Sivia dan berjalan bersama Alvin menuju coffee shop yang terletak di lobby kantor management mereka. Keempat member Diamond lainnya beserta Zahra dan Obiet menatap kepergian Oik dengan lesu.
            “Gue makin merasa bersalah sama Oik,” ujar Sivia lirih.

**

            Sore itu Oik beserta Ify tengah menandatangani beratus-ratus lembar foto Diamond yang akan dijadikan souvenir dalam peluncuran album terbaru mereka besok. Acha, Pricilla, dan Sivia sudah membubuhkan tandatangan mereka dalam foto-foto itu. Hanya Oik dan Ify yang belum.
            “Acha, Sivia, sama Pricilla kemana, Fy?” tanya Oik.
            Ify menggeleng tak tahu. “Sivia, sih, tadi lagi keluar. Nggak tahu kalau Acha sama Prissy. Lagi molor, kali. Itu anak dua, kan, pada kebo semua.” Oik tertawa.
            Ditengah-tengah kegiatan mereka membubuhkan tandatangan, terdengar keributan kecil dari luar dorm. Keduanya mendengar jelas keributan kecil antara dua gadis tersebut karena Oik dan Ify sedang berada di ruang tamu. Sepertinya keributan kecil itu berlangsung di teras dorm mereka.
            “Siapa?” tanya Oik bingung.
            “Nggak tahu. Biar gue aja yang cek.” Ify memberikan isyarat agar Oik tetap duduk saja.
            Ify bangkit dari duduknya. Baru saja ia akan membuka pintu, pintu sudah terlebih dahulu dibuka dari luar. Tubuh Sivia menyeruak masuk. Dengan cepat, Sivia kembali menutup pintu dorm. Ify menatapnya curiga.
            “Oik––,” Sivia membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Ia bingung akan berbicara apa.
            “Apa, Siv?” tanya Oik dengan alis terangkat sebelah.
            Ify berusaha mendorong tubuh Sivia agar menyingkir dari pintu. Ify ingin sekali melihat siapakah yang kini tengah berada di teras dorm. “Itu siapa, sih, Siv?”
            Sivia makin gelagapan saja. Melihat Sivia yang tengah bingung dengan pikirannya sendiri, Ify segera mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga agar menyingkir dari pintu. Ify segera membuka pintu dorm dan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di teras dorm dengan wajah merah padam.
            Ify terkesiap begitu menyadari siapa gadis itu. Ify pun kembali menutup pintu dan berbisik pada Sivia. “Kenapa orang itu bisa ada di sini, Siv? Lo hutang penjelasan sama gue.”
            “Ada siapa, Fy, di luar?” tanya Oik penasaran.
            “Nggak tahu. Nggak kelihatan. Sivia, nih, nggak mau minggir, gue jadi nggak bisa ngebuka pintunya.” Ify pun melangkah meninggalkan Oik dan Sivia.
            “Fy! Mau ke mana?” tanya Oik lagi.
            “Ke dapur!” jawab Ify cepat. “Haus gue. Lo mau gue ambilin minum juga?”
            “Nggak usah, deh.” Oik membalas dengan berteriak.
            “Ik..” panggil Sivia pelan. “Ada yang mau ketemu sama lo.” Sivia menggigit bibirnya gugup ketika melihat ekspresi penasaran yang memancar jelas dari wajah Oik.
            “Siapa?” tanya Oik penasaran. “DiAddict? Atau OikLovers?”
            “Sepupu gue,” jawab Sivia takut-takut.
            Oik berdiri ketika Sivia mulai membuka pintu dorm. Seorang gadis masuk kemudian berdiri di hadapan Oik. Gadis itu berwajah merah padam karena marah. Ia menggenggam beberapa lembar foto yang sudah lecek karena ia genggam terlalu keras.
            “Hay, Oik..” sapanya sinis.
            “Shilla?” suara Oik terdengar bergetar karena takut. Oik pun beralih pada Sivia. Rupanya gadis itu tengah menatapnya dengan pandangan meminta maaf. “Kenapa bisa ada dia di sini, Siv? Mana sepupu lo?”
            “Gue sepupunya Sivia,” ujar Shilla dengan senyum sinisnya.
            “Lo nyari Cakka, Shil? Cakka nggak di sini, kok.” Oik menatap Shilla dengan gemetar.
            “Gue nggak nyari Cakka,” Shilla berkata perlahan seraya berjalan semakin dekat kearah Oik. Wajahnya mendadak berubah sengit. Ia melemparkan lembaran foto yang ia genggam tadi tepat kearah wajah Oik. “Lihat foto itu!” teriaknya bengis.
            Oik terkesiap kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Shilla. Ia beringsut mengambil beberapa lembar foto yang terjatuh dilantai. Oik memperhatikan keempat foto itu dengan seksama.
            “Gara-gara foto itu semuanya jadi kacau, Oik!” suara Shilla mulai terdengar berbahaya.
            “Kacau...?” Oik bergumam tak mengerti.
            “Gara-gara empat foto itu RockaFriends, terutama C~LUVers, pada ngamuk di twitter! Gara-gara foto itu! Gara-gara elo!” teriak Shilla sebal.
            Oik kembali memperhatikan empat foto tersebut. Keempatnya menunjukkan gambar dirinya dan Cakka. Cakka tengah mencium pipinya dengan latar belakang Menara Petronas, Kuala Lumpur. Oik ingat betul bahwa foto itu diambil seminggu yang lalu ketika ia dan Cakka menghabiskan waktu berdua di Malaysia.
            “Gimana bisa foto-foto ini ada di twitter?” tanya Oik tak mengerti.
            “Bukan Oik yang upload foto itu di twitter, Shil!” ujar Sivia.
            Shilla menatap Sivia tajam kemudian menatap Oik dengan pandangan membunuh. “Iya, gue tahu. Cakka yang upload foto itu––,”
            “Terus kenapa elo nyalahin gue?!” teriak Oik balik dengan suara bergetar antara marah dan ingin menangis karena gadis di hadapannya itu dari dulu tak pernah menyetujui hubungannya dengan Cakka.
            “Terus gue harus nyalahin siapa? Cakka?” tanya Shilla dengan senyum meremehkan.
            “Cakka yang upload foto itu. Bukan gue. Jangan salahin gue!” teriak Oik lagi.
            Shilla menatap Oik tak suka. “Lo berani sama gue?” tanya Shilla tak suka. Tangannya melayang akan menampar Oik. Tapi sayangnya, Sivia sudah menahannya terlebih dahulu.
            “Mending lo balik aja, Shil. Lo emang sepupu gue, tapi bukan berarti gue ngedukung apapun yang lo lakuin.” Sivia menatap Shilla dingin kemudian mendorong gadis itu agar cepat-cepat angkat kaki dari dorm Diamond.
            Selepas kepergian Shilla, Oik terduduk lemas pada sofa ruang tamu dorm Diamond. Oik terisak. Sivia bergerak untuk memeluk Oik tetapi ditepis olehnya. Sivia hanya mampu menatap Oik sedih. Ify, Pricilla, dan Acha datang tak lama kemudian. Oik sama sekali tak menolak ketika ketiganya memeluknya.

**

            “Jadi gitu ceritanya,” ujar Oik, mengakhiri ceritanya.
            Alvin mengangguk mengerti. “Jadi, Sivia itu sepupunya Shilla?” ulang Alvin.
            “Iya. Dan gue masih kikuk aja kalau ngomong sama Sivia. Masih kebayang-bayang gimana waktu itu dia ngebawa Shilla ke dorm Diamond aja.” Oik tersenyum tipis. “Eh, maaf, ya. Kita baru aja kenal tapi gue udah cerita nggak penting gini ke elo.”
            “Nggak apa-apa, kali.” Alvin tersenyum maklum. “Daripada elo pendem semuanya sendirian dan akhirnya jadi gila. Iya, kan?”
            Oik tertawa kecil. “Makasih banget, Vin.”
            “Lo nggak ada niatan untuk perbaikin hubungan lo sama Sivia? Takutnya ntar malah kecium media dan bakalan ada gossip nggak jelas.”
            “Asal Sivia nggak pernah bawa Shilla ke hadepan gue lagi, sih..” Oik mengerling.

**

            Hari itu, Oik kembali menjadi bintang tamu dalam acara Hitam Putih. Bedanya, kali ini ia tidak datang bersama Diamond, namun bersama Cakka. Keduanya duduk berdampingan sementara sang host –Dedy– menatap keduanya iri.
            “Jadi, kalian kapan resmi balikan?” tanya Dedy sembari menatap Cakka dan Oik bergantian.
            “Resminya tiga bulan lalu, Om,” Oik menjawab dengan tersenyum malu-malu sehingga membuat Cakka tertawa dan menariknya kedalam pelukan lelaki itu.
            “Terus sekarang udah main tunangan aja?!” tanya Dedy kaget.
            Cakka tertawa. “Kan, aslinya kita berdua udah dari lama, Om. Cuman sempet putus aja beberapa bulan lalu. Jadinya waktu kita balikan, ya, langsung dibawa kejenjang yang lebih serius aja.”
            “Kalian berdua waktu itu putusnya kenapa, sih? Waktu itu Oik juga sempet pacaran sama Alvin, kan? Ya, meskipun sebentar doang.” Dedy kembali berceloteh.
            “Nggak, Om. Aku sama Alvin nggak pacaran, kok. Kita berdua sahabat deket. Deket banget. Sampai sekarang masih sahabatan, kok. Isu yang bilang Alvin pernah nembak Oik juga nggak bener.” Oik kembali teringat isu bahwa ia dan Alvin pacaran kemudian tertawa bingung.
            “Bukannya waktu itu temen-temen kamu dari Diamond sendiri yang bilang kalau kamu sama Alvin pacaran?” tuntut Dedy.
            “Nggak!” Oik menggeleng keras. “Bercandaan doang itu, Om. Sekarang juga Alvin udah punya cewek, kali. Jangan sebut-sebut Alvin pacarku, dong. Lagian Om Dedy nggak bisa diajak bercandaan amat. Udah tua, sih.” Studio pun kembali riuh oleh tawa penonton.
            Dedy memandang Oik keki karena telah mengatainya sudah tua. “Putus, putus. Kalian putusnya kenapa waktu itu?”
            Cakka dan Oik berpandangan penuh arti. “Itu biar jadi rahasia kita berdua aja, Om,” jawab Cakka.
            Dedy menatap kamera lalu memasang wajah jengkelnya. “Begini ini bintang tamu minta diusir. Ditanyain malah sok main rahasia-rahasiaan.”
            “Om, nggak nanya kita nikahnya kapan?” tanya Oik dengan wajah polosnya.
            “Iya, iya! Kapan kalian berdua nikah?” tanya Dedy balik dengan terlampau bersemangat.
            “Tahun depan, Om!” jawab Cakka dan Oik berbarengan yang memancing gelak tawa penonton seisi studio.


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKEDAR CERITA [05]

            Pagi-pagi sekali Alvin sudah berada di kantin kampusnya. Ia sengaja berangkat pagi-pagi buta karena ia yakin jalanan pasti macet. Beruntung Alvin sudah sampai di kampusnya tiga puluh menit sebelum kuliahnya dimulai.
            Sambil menyantap gado-gadonya, Alvin mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru kantin. Kemana keempat sahabatnya itu? Bukannya mereka sama-sama mengambil kuliah pagi pada semester ini?
            “Hay, Vin,” sapa sebuah suara lembut. Alvin menengok ke samping dan mendapati Sivia di sana.
            Alvin tersenyum sekilas lalu menelan gado-gadonya. “Sendirian aja? Pricilla mana?”
            Sivia mengangkat bahunya dengan cuek. “Mungkin terlambat bangun lagi. Atau, kalau nggak, berarti dia––,”
            “Cari aku?” sela sebuah suara. Tiba-tiba saja Pricilla sudah berada di antara mereka. Ia baru saja datang bersama dengan Ray.
            “Ada yang kurang,” gumam Ray. Ia melirik satu-persatu sahabatnya. “Oik?”
            Pricilla meletakkan map yang sedari tadi ia peluk didepan dada. Binar dimatanya mulai meredup. “Oik kemana? Dia... masih marah?”
            Alvin menghembuskan napasnya dengan berat. “Oik sudah putus dengan Gabriel. Kemarin.” Alvin tersenyum kaku ketika menyadari ketiga sahabatnya tengah menahan napas.
            “Tapi dia baik-baik aja, kan?” todong Ray langsung.
            “Nggak tau, Ray,” Alvin menggeleng lemas. Ia menundukkan kepalanya, bermaksud mengecek ponselnya apakah Oik sudah membalas pesan singkatnya atau belum. Tetapi matanya terantuk pada map milik Pricilla. Wajahnya pias.
            “Kenapa, Vin?” tanya Pricilla. Ia menatap Alvin dan mapnya bergantian.
            “Itu map punya kamu?” tanya Alvin tak percaya.
            “Iya,” jawab Pricilla bingung. “Kenapa? Ada yang salah dengan mapku?”
            Rahang Alvin mengeras menatap milik Pricilla. “Bukan map punyamu yang salah. Tapi kamu.” Alvin tersenyum miring. Pantas saja ia merasa mengenal nama itu. Ternyata... “Elizabeth Agatha Pricilla Soekamto.” Alvin mengeja nama Pricilla yang tertera pada map berwarna biru itu dengan penekanan pada nama belakang sang pemilik.
            “Vin...” Sivia memegang lengan Alvin. Ia belum pernah melihat Alvin semarah ini sebelumnya. Ia menatap Pricilla penuh tanya yang hanya dibalas tatapan bingung gadis berbehel itu.
            “Kalian tahu kenapa Gabriel memutuskan Oik?” tanya Alvin.
            “Orangtua Gabriel nggak pernah menyetujui hubungan mereka. Iya, kan?” tanya Ray balik. Insting Ray mulai bekerja. Ia menyadari ada yang tidak beres dalam nada bicara dan ekspresi wajah Alvin.
            “Bukan cuma itu,” balas Alvin singkat. Matanya menatap Pricilla tajam.
            Pricilla bergedik ketakutan ditatap Alvin sebegitu tajamnya. “Apa la––,”
            “Gabriel dijodohkan dengan anak keluarga Soekamto.”
            Hening.
            “Apa?!” Pricilla memekik tertahan. Lelucon dari mana ini?
            Sivia menatap Alvin tajam. Ia tidak suka Alvin bercanda disaat seperti ini. Lagipula, ia tahu betul Pricilla sama sekali tak mengenal Gabriel. Pricilla hanya sebatas tahu bahwa adalah pacar Oik, dulu. Bagaimana bisa Pricilla dijodohkan dengan Gabriel?
            “Alvin, jangan bercanda,” tegas Sivia.
            Alvin beralih menatap Sivia. “Apa aku kelihatan bercanda?”
            “Kamu tahu dari mana Gabriel dijodohkan dengan Pricilla, Vin?” tanya Ray, menengahi. Ia yakin perang dunia ketiga akan berlangsung diantara ketiga sahabatnya itu jika tak ia tengahi sekarang juga.
            Alvin memandang Pricilla dengan sinis. Bibirnya terbuka, menguntai cerita semalam tanpa ada yang dikurangi dan dilebihkan. Mulai dari surat yang diterima Oik, ajakan Oik untuk mengantarkan gadis itu, pertemuan Oik dengan Gabriel beserta Angel, Gabriel yang memutuskan hubungan secara sepihak, hingga alasan mengapa Gabriel memutuskan Oik.
            “Sudah cukup jelas, Nona Soekamto?” tanya Alvin sinis.
            Pricilla menelan ludahnya lalu menggelengkan kepala dengan lemas. “Aku nggak tahu,” lirihnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
            “Bagaimana bisa kamu nggak tahu, Pris?!” bentak Alvin.
            “Alvin!” Sivia menatap Alvin tajam. “Kalau memang Pricilla nggak tahu, mau bagaimana lagi? Sudahlah. Lagipula, kenapa kamu jadi sebegini peduli dengan Oik?”
            Alvin terdiam mendengar kalimat terakhir Sivia. “Aku peduli dengan Oik karena dia sahabatku.”
            “Pricilla juga sahabat kamu, Vin!” seru Sivia sebal.
            “Tapi dalam kondisi ini Oik yang terluka. Bukan Pricilla.” Alvin tak mau kalah.
            “Teman-teman, berhenti..” Ray mengingatkan dengan suara rendahnya.
            “Apa, Ray?” tantang Sivia. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Alvin. “Tapi kamu juga nggak seharusnya menyalahkan Pricilla! Namanya juga perjodohan. Pasti itu kehendak orangtua mereka. Bukan kehendak Gabriel dan Pricilla. Pricilla belum tahu soal ini.”
            “Apa kamu bilang, Siv? Pricilla belum tahu?” Alvin tertawa sumbang. “Bagaimana Pricilla belum tahu, sedangkan Gabriel sudah tahu?”
            “Alvin, Sivia.. Stop!” Ray kembali menengahi.
            Alvin menatap Ray tajam, menyuruh lelaki itu untuk diam saja. “Aku nggak percaya Pricilla sama sekali nggak tahu soal ini.” Alvin mendengus kesal.
            “Aku nggak tahu, Vin. Sama sekali nggak tahu.” Pricilla berujar lirih.
            “Bohong!” seru Alvin.
            “Seminggu ini Mama dan Papa memang selalu ngajak aku keluar untuk makan malam bareng. Karena aku yang memang sibuk sama tugas kuliah, aku selalu nolak. Mungkin itu...” aku Pricilla.
            “Teman-teman...” Ray kembali mengingatkan.
            “Apa, Ray?” tanya Sivia dengan galak. Ia sebal karena Ray terus saja menyuruh mereka untuk berhenti. Padahal ini hal serius. Sepuluh menit lagi kuliah dimulai dan Sivia mau pembicaraan mengenai ini harus selesai secepatnya.
            “Ada Oik...” Ray menengok pada seorang gadis yang tengah berdiri menatap mereka berempat dengan datar. Bibirnya bergetar.
            “Kenapa nggak bilang dari tadi, Ray?” bisik Alvin.
            Ray menatap ketiga sahabatnya dengan menggelengkan kepalanya. “Aku sudah ingatkan dari tadi tapi kalian tetap nggak mau berhenti.”
            “Ik...” Pricilla mendongakkan kepalanya. Menatap Oik dengan pandangan memohon maaf.
            “Jadi gini...?” tanya Oik datar. Gadis itu berusaha menekan luapan emosinya dalam-dalam. Ia tak mau menangis dan marah-marah di tempat umum. Sama sekali tidak sopan.
            “Aku bisa jelasin, Ik.” Pricilla bersuara dengan nada memohon.
            “Apalagi yang perlu dijelasin?” tanya Oik. Suaranya sudah mulai bergetar. “Kalau kamu mau tahu gimana rasanya jadi aku yang diputusin karena pacarku dijodohkan dengan sahabat sendiri.. Rasanya sakit. Banget.”
            Alvin, Ray, Sivia, dan Pricilla dapat melihat Oik yang berusaha mati-matian agar genangan kecil dipelupuk matanya tidak tumpah. Tapi gagal. Tetesan itu mulai turun satu-persatu. Oik cepat-cepat mengusapnya, menghilangkan jejaknya.
            “Lebih sakit lagi karena sahabatku nggak pernah cerita soal perjodohan ini sebelumnya.” Oik terisak. Dengan berlari-lari kecil, ia meninggalkan keempat sahabatnya.
            “Pris, kamu...” Alvin menggelengkan kepalanya tak paham. “Apa susahnya cerita dari awal?” bentaknya. Alvin kemudian berlari menyusul Oik.

**

            “Oik!” Alvin berteriak memanggil Oik yang sudah berlari jauh di depannya.
            Alvin menengok kesana-kemari. Untung saja koridor telah sepi. Itu berarti, ia dan Oik tak perlu jadi tontonan para mahasiswa lainnya karena berlari saling mengejar sambil berteriak-teriak. Alvin menyadari sesuatu. Ia menengok pada jam tangannya. Mata kuliah pertama sudah dimulai lima menit yang lalu. Alvin tak peduli. Sekarang, yang penting, ia harus menenangkan Oik.
            “Oik! Tunggu!” teriak Alvin lagi.
            Alvin melihat Oik yang mulai menurunkan kecepatan berlarinya hingga akhirnya berhenti. Gadis itu terduduk di parkiran mobil, dibawah sebuah pohon trembesi rindang. Oik terduduk dengan melihat lututnya. Ia membenamkan wajahnya pada lututnya.
            “Ik?” panggil Alvin lagi.
            Alvin berjongkok di hadapan Oik. Ia mengusap puncak kepala Oik dengan lembut. “Gimana perasaanmu?” tanyanya.
            Oik bergeming. Tak mengindahkan usaha Alvin untuk menghiburnanya dan menenangkannya. Alvin mendesah putus asa. Lelaki itu mendengar derap langkah yang semakin lama semakin terdengar keras. Ia menengok ke belakang dan mendapati Pricilla telah berada di belakangnya.
            “Mau apa kamu?” tanya Alvin dingin.
            Pricilla tak menggubris pertanyaan Alvin. Ia melewati lelaki itu dan duduk bersila di samping Oik. “Oik?”
            Mendengar suara Pricilla, Oik mendongakkan kepalanya. “Mau apa kamu?”
            “Aku... minta maaf,” Pricilla menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak tega menatap ekspresi terluka Oik.
            “Rasanya sakit, Pris,” seru Oik dengan suara bergetar. Ia kemudian bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Alvin serta Pricilla dalam keheningan yang membunuh.
            “Oik!” panggil Alvin. Lelaki itu berdiri, bersiap untuk menyusulnya kembali.         
            Oik mengangkat tangan kanannya tanpa menengok ke belakang. “Nggak usah cari aku dulu, Vin.”
            Pricilla segera berdiri dan menghampiri Oik. Gadis itu mencekal lengan Oik, mencegah gadis itu pergi. “Aku minta maaf, Ik. Sungguh.”

            Rahang Oik kembali mengeras. Ia kibaskan lengannya. Dengan sekali sentakan keras, tangan Pricilla telah menyingkir dari lengannya. “Kasih aku waktu untuk sendiri,” ujarnya dingin. Dan tanpa berpamitan pada Alvin dan Pricilla, Oik kembali melangkah pergi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LOVE HURTS [Cerpen]

            Tiga..
            Dua..
            Satu.
            Lampu studio mulai menyorot ke stage. Segmen keempat dimulai dengan kelima anggota girlband Diamond yang mulai menyanyikan single terbaru mereka secara acoustic. Single keempat yang diluncurkan dari album perdana mereka merupakan lagu recycle–Dealova.
            Salah satu anggota girlband yang berambut sebahu mulai memetik gitar yang berada dipangkuannya. Ia duduk pada sebuah kursi tinggi ditengah-tengah stage dan dikelilingi keempat anggota girlband Diamond lainnya.
            “Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu. Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Karena langkah merapuh tanpa dirimu. Oh, karena hati telah letih.
            Suara salah satu anggota girlband yang berambut ikal panjang membuka penampilan mereka kali ini. Anggota lainnya yang berdagu tirus mengambil alih suara dua.
            “Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh. Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu. Tanpamu sepinya waktu merantai hati. Oh, bayangmu seakan-akan..
            Perpaduan suara antara dua anggota girlband yang sama-sama bersuara lembut memukau penonton dalam studio dan penonton di rumah–acara merupakan live show.
            “Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang kuhela kau selalu ada.
            Kelima anggota Diamond mulai menyanyi bersama dengan perpecahan suara yang terdengar apik. Keempat anggota girlband yang tidak memegang alat musik mengangkat tangannya ke atas, mengajak penonton di studio untuk ikut bernyanyi.
            “Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang. Tanpa dirimu aku merasa hilang. Dan sepi. Dan sepi.
            Salah seorang anggota Diamond yang berpostur tubuh paling tinggi menutup penampilan singkat mereka dengan falsetnya hingga menimbulkan keriuhan tepuk tangan dalam studio.
            “Diamond!” seru sang host, tangan kanannya menunjuk kelima anggota Diamond.
            Kelima anggota Diamond membungkukkan badan sedikit lalu kembali duduk bersebelahan disisi stage. Mereka ikut membawa serta gitar yang tadi digunakan untuk mengiringi menyanyikan lagu Dealova.
            “Om Botak, aku titip gitar. Jangan diapa-apain!” Sivia –anggota Diamond yang tadi bermain gitar– meletakkan gitar kesayangannya pada meja sang host kemudian kembali duduk diantara keempat anggota Diamond lainnya.
            “Om Botak?” ulang sang host dengan mata menatap Sivia tajam. Penonton dalam studio tertawa, sedangkan Sivia –sang tersangka utama– hanya nyengir lebar.
            “Om, kan, memang botak.” Ify –anggota girlband yang berdagu tirus– menyahut dari samping Sivia.
            “Iya, saya tahu saya botak.” Host tersebut –Dedy Corbuzier– mulai menatap kelima anggota Diamond dengan tajam. Penonton dalam studio kembali tertawa.
            “You’re botak and you know it.” Acha menimpali. Anggota Diamond yang berambut ikal panjang itu lalu mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya­ –peace– begitu melihat Dedy mulai memelototinya.
            Pricilla –yang tadi menutup penampilan singkat Diamond dengan falset– terkekeh mendengar ucapan Acha. “Ini yang bintang tamu siapa, yang host siapa. Kenapa malah host-nya yang di-bully?”
            “Iya, iya. Oik, kenapa?” Dedy menyela begitu melihat anggota lain girlband tersebut mulai membuka mulut. Ancang-ancang sebelum gadis itu ­–Oik– ikut mem-bully-nya.
            “Nggak, nggak jadi.” Oik menggeleng. “Cuman mau bilang, tadi disuruh Mas yang itu,” Oik mengedik pada seorang kru disudut studio. “buat cepet-cepet mulai... apa, ya? Itu deh, pokoknya. Nggak tahu apa. Eh, nggak tau.”
            Sementara Dedy berbincang dengan kelima anggota Diamond, beberapa kru mulai menata dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja pada spot utama stage. Sebentar lagi akan dimulai bagian Question of Life.
            “Om Botak nggak boleh jahat-jahat sama Oik. Nanti ditonjok sama yang sekarang lagi di backstage.” Sivia berbicara dengan wajah polos yang mendramatisir suasana.
            “Backstage? Siapa yang di backstage?” tanya Dedy, melirik Oik sekilas.
            “Nggak ada! Nggak ada yang di backstage. Krunya Diamond doang, kok. Ih, Sivia! Ngapain, sih?!” Oik mulai berseru panik dengan wajah memerah.
            “Ini acaranya siapa, sih, Om Botak? Yang punya acara, kok, bisa nggak tahu siapa yang lagi di backstage.” Ify terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang rapi berbehel.
            “Eh, Ify barusan ganti karet behel kemarin. Jadi warna tosca sekarang. Lucu, kan, Om?” ujar Oik, mengalihkan pembicaraan.
            “Oik ngeles! Ih! Salting! Pipinya merah!” Pricilla berseru heboh, semakin membuat Oik salah tingkah.
            “Ih, Pricilla jahat banget. Oik lagi ulang tahun, nih! Nggak boleh jahat-jahat!” Ify memukul pelan lengan Pricilla.
            “Oh, Oik ulang tahun?” tanya Dedy.
            “Iya, Om.” Oik mengangguk malu.
            Dan dalam hitungan detik, lagu Happy Birthday menggema dalam studio. Oik tersenyum cerah. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih–entah pada siapa.
            “Ulang tahun yang ke-berapa?” tanya Dedy.
            “Sembilan belas, Om.” Oik nyengir lebar. “Udah gede, nih.”
            “Yang di backstage udah ngucapin belum, Ik?” tanya Sivia usil.
            “Apa, sih, lo? Mulai lagi!” Oik mendadak sewot.
            “Siapa, sih, yang ada di backstage?” tanya Dedy dengan wajah sebal karena pertanyaannya tak kunjung dijawab.
            Acha pun ikut buka suara. “Ada si solois itu, Om, di backstage. Nungguin Oik. Itu, tuh.. Si Al––,”
            Belum sempat Acha menyelesaikan ucapannya, Oik sudah melemparkan bantal sofa yang tadi dipeluknya tepat kewajah Acha. “Acha, apaan?! Nggak, nggak. Acha bohong, Om. Nggak ada siapa-siapa di backstage.”
            “Al? Al siapa? Al Ghazaly–anaknya Ahmad Dhani?” tanya Dedy, ia menatap bingung pada kelima anggota Diamond yang mulai ribut sendiri.
            “Alvin Jonathan, Om!” ujar Ify datar.

**

            Cakka baru saja tiba di apartemennya. Ia baru selesai sesi latihan bersama personel Rockability lainnya. Ia melihat seisi apartemennya yang kosong. Seperti kakaknya sudah berangkat kuliah. Cakka hanya mengangkat bahunya tak acuh.
            Lelaki itu melepas jaketnya dan melemparkannya begitu saja kearah sofa. Ia mengambil remote televisi dan menyalakannya. Merasakan tenggorokannya yang kering, Cakka melangkah menuju dapur. Ia menuangkan orange juice instan pada gelasnya kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk nyaman diatas sofanya.
            Cakka menyeruput sedikit orange juice-nya kemudian meletakkannya diatas meja. Ia merasakan ponsel dalam saku celananya bergetar, pertanda sebuah SMS masuk. Cakka mengeluarkannya dan membuka pesan dari Shilla –manager Rockability– tersebut. Seperti biasa, mengingatkan jadwal latihan untuk esok hari.
            Ia mendengar jingle salah satu acara terfavorit dari televisi. Cakka seperti mengenalinya. Ia pun mendongakkan kepala, menatap televisi. Oh, benar dugannya. Hitam Putih. Siapa bintang tamunya kali ini? Cakka ingat, ia dan personel Rockability lainnya baru saja menjadi bintang tamu dalam acara tersebut minggu lalu.
            Sang host –Dedy– mulai membuka segmen dengan seruan khasnya–sinis. Cakka kembali mengambil orange juice-nya dan menyeruputnya. Ia terbatuk ketika mengetahui siapa bintang tamu Hitam Putih kali ini. Cakka meletakkan gelasnya dan fokus dengan acara tersebut.
            “Diamond?” desisnya tak percaya.

**

            Di dalam studio, Dedy mulai menghampiri kelima anggota Diamond. Mencari-cari siapa yang akan ia pilih mewakili Diamond dalam Question of Life.
            “Siapa, nih?” tanya Dedy.
            “Nggak mau! Jangan aku, Om!” Pricilla menutup wajahnya dengan bantal sofa.
            “Jangan aku juga, Om. Janji, deh, nggak akan manggil pakai sebutan Om Botak lagi!” Sivia nyengir lebar menatap Dedy.
            “Om, aku anak alim, Om. Jangan aku.” Acha tersenyum memelas, menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada.
            “Om, Sivia aja. Dia yang palig nakal, Om.” Oik menunjuk Sivia dengan telunjuknya.
            “Eits, eits!” Ify menggelengkan kepalanya begitu mengetahui Dedy tengah menatapnya. “Aku yang paling tua disini. Nggak bisa, nggak bisa.”
            Dedy menatap Ify tak mengerti kemudian menatap kamera. “Apa hubungannya yang paling tua sama Question of Life?” tanyanya.
            Studio salah satu televisi swasta Indonesia tersebut kembali riuh dengan tawa.
            “Hom pim pah aja, deh, kalian berlima.” Suruh Dedy dengan tak sabar.
            “Nggak mau!” koor kelima anggota Diamond dengan kompak.
            Dedy kembali menatap kamera dengan wajah masam. “Susah, nih, kalau punya bintang tamu anak ABG. Pada suka semaunya!”
            “Sivia aja, Om!”
            “Nggak mau. Oik aja!”
            “Acha, nih, mupeng!”
            “Ify aja, Om. Yang paling tua!”
            “Yang paling tembem aja, Om. Pricilla!”
            Dedy menggelengkan kepalanya menatap kelima bintang tamunya kali ini. Ia pun menarik paksa salah seorang anggota Diamond dan mendudukkannya pada salah satu kursi di spot utama stage, lalu ia duduk di hadapannya.
            “Yeay! Oik! Semangat!” Pricilla bertepuk tangan heboh.
            “Nah, gitu! Yang paling muda aja!” Ify terkekeh menatap Oik.
            “Go Oik! Go Oik! Go!” Acha berdiri, lalu bertepuk tangan, kemudian kembali duduk.
            “Untung bukan gue!” Sivia mengelus dadanya seraya nyengir lebar.
            “Sialan lo semua!” Oik merengut menatap keempat partner-nya dalam Diamond.
            “Ssssttt!!” Dedy mendesis sebal. Kelima bintang tamunya benar-benar tidak bisa diam. “Oik, udah ngerti cara ngejawabnya, kan? Jadi nanti ada dua sesi. Yang pertanya saya kasih pertanyaan dan kamu harus jawab. Yang kedua tanpa pertanyaan. Oke?”
            “Om, aku udah ngerti. Nggak usah dijelasin.” Oik menatap Dedy dengan polos.
            Dedy memasang wajah sebal–lagi. Ia mulai membuka-buka note hitam miliknya.
            “Pacaran sehat adalah pacaran yang...?”
            “Sehat? Nggak sakit!”
            “Hah?!” Dedy menatap Oik bingung. “Pacaran sehat. Pacaran sehat, Oik! Pacaran sehat adalah pacaran yang...?”
            “Yang... nggak macem-macem,” Oik nyengir lebar.
            “Macem-macem gimana?” tanya Dedy lagi dengan wajah usilnya.
            “Yang... gitu, deh! Kepo banget, Om?” Oik menjulurkan lidahnya, mengejek Dedy.
            “Udah pernah macem-macem, ya, sama pacarnya?” tanya Dedy lagi.
            “Nggak!” Oik menggeleng cepat. “Nggak punya pacar!”
            “Bohong!” sahut Ify dan Pricilla.
            “Lho? Udah putus sama personelnya Rockability?” tanya Dedy menatap Oik.
            “Cakka, Om, namanya.” Acha menimpali.
            “Iya, Cakka.” Dedy melirik Acha sekilas lalu kembali pada Oik. “Udah putus sama Cakka, ya?”
            “Udah, Om,” Oik mengangguk kikuk. Wajahnya mendadak keruh.
            “Sebulan yang lalu, Om, putusnya! Kudet banget, sih, Om Botak,” seloroh Sivia.
            “Berani manggil saya Om Botak lagi?” Dedy menengok pada Sivia dan Sivia menggeleng heboh.
            “Ampuni saya, Om! Saya udah tobat!”
            Dedy menggeleng kemudian menengok pada Oik. “Saya putus dengan mantan saya karena...?”
            Oik gelagapan. “Hm, karena... karena apa, ya?” Oik menengok pada keempat sahabatnya. “Karena apa, woy?”
            “Eh, eh, eh,” seruan Dedy membuat Oik kembali menatapnya. “Nggak boleh nanya temen. Lagian kamu yang putus, kok, bisa nggak tahu alasannya?!”
            “Apa, ya, Om?” tanya Oik balik seraya nyengir.
            “Saya putus dengan Cakka Rockability karena...?” Dedy kembali mengulang pertanyaannya dengan embel-embel nama mantan kekasih Oik dibelakangnya.
            “Karena udah nggak cocok!” ujar Oik spontan.
            Dedy mengangguk kemudian tertawa. “Sekarang saya sedang dekat dengan...?”
            “Om, please.. Kenapa pertanyaannya gitu banget?” keluh Oik.
            “Oik harus jujur!” seru Acha heboh.
            “Jujur pale lu peyang! Gue lagi nggak deket sama siapa-siapa!” Oik menatap Acha dengan tajam.
            “Sekarang saya sedang dekat dengan...?”
            “Dengan... Ify, Sivia, Pricilla, Acha!”
            “Oik..” Nada suara Dedy mulai terdengar menyeramkan.
            “Yang di backstage, Ik!” sahut Ify.
            “Alvin Jonathan!” jawab Oik lantang lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia yakin pipinya kini telah merona merah.
            “Saya merasa jelek banget pada saat...?”
            “Bangun tidur!” sela Sivia. Gadis itu kemudian tertawa terpingkal-pingkal karena membayangkan wajah kuyu Oik ketika baru saja bangun tidur.
            Oik menjentikkan jarinya. “Bangun tidur,”
            “Pertanyaan terakhir,” Dedy menatap Oik jahil. “Saya nyaman berada didekat Alvin Jonathan karena...?”
            “Om! Nggak ada yang bilang aku nyaman deket Alvin!” Oik memekik. Ia dapat mendengar Ify, Sivia, Pricilla, dan Acha yang tertawa heboh.
            “Jawab aja..” desak Dedy.
            “Karena... Alvin baik, pengertian. Udah, ah! Rese, nih, Om Botak,” seru Oik sebal.
            Studio kembali riuh. Dedy memasang wajah keruhnya karena kembali dipanggil Om Botak oleh anggota Diamond.
            Oik mendadak bingung karena studio dan teman-temannya yang riuh sekali. Oik menengok pada sebuah layar dibelakang anggota Diamond. Rupanya layar itu sedang menampilkan slide foto-fotonya bersama Alvin.
            “Ini kapan diambil fotonya?” tanya Dedy.
            Oik menatap fotonya bersama Alvin yang tampak sedang makan es krim berdua dengan latar belakang patung Merlion. Tangan kanan Alvin memegang cone es krim dan tangan kirinya merangkul Oik yang tersenyum lebar menatap kamera.
            Oik tampak berpikir. “Dua minggu yang lalu kayaknya, Om.”
            “Kalian ke Spore berdua?”
            “Nggak!” Oik menggeleng cepat. “Sama temen-temen satu management lainnya juga. Cuman kebetulan ini fotonya berdua.”
            “Alvin sama Diamond itu satu management?”
            “He’eh,” Oik mengangguk.
            Foto berganti. Kini fotonya dan Cakka yang terpampang disana. Keduanya berfoto disebuah ruang tengah–entah rumah siapa. Cakka tampak sedang memakan pizza dan Oik melirik Cakka.
            “Ini...?”
            “Sama Cakka, Om,” Oik menjawab seraya tersenyum kecut.
            “Ah, Om Botak flashback, nih!” seru Sivia.
            “Sivia, kamu nakal sekali?!” balas Dedy dengan sebal.
            “Om, lanjutin Question of Life-nya!” sergah Ify begitu melihat Oik yang mulai murung.
            “Oh, iya!” Dedy pun kembali fokus pada Oik, tak menghiraukan foto-foto lainnya yang terpampang dilyara. “Pacaran atau kuliah?”
            “Kuliah!”
            “Mall atau kafe?”
            “Kafe!”
            “Pantesan tembem.” Dedy menatap Oik mengerti. “Karir atau kuliah?”
            Oik menahan napasnya. “Ku...liah,”
            “Ayah atau ibu?”
            “Ibu,”
            “Ibu atau pacar?”
            “Nggak punya pacar, Om!” koreksi Oik.
            “Oh, oke. Ibu atau gebetan?”
            “Om..” Oik menggelengkan kepalanya.
            “Ibu atau Alvin?”
            “Ibu!” jawab Oik langsung.
            “Ik, yang di backstage sakit hati ntar,” seloroh Acha.
            “Terkenal atau kaya?”
            “Terkenal aja, deh. Terkenal, kan, duit gampang datengnya.
“Matre lo!” seru Ify lalu terkekeh.
            “Sahabat atau gebetan?”
            “Sahabat, dong!”
            “Yang di backstage udah terkapar karena serangan jantung denger elo nggak milih dia, Ik.” Pricilla kembali bersuara.
            “Serba salah, kan, jadi gue?! Gue milih sahabat, salah. Gue milih gebetan, salah.” Oik menggelengkan kepalanya tak mengerti.
            “Cantik atau pintar?”
            “Susah, nih, Om. Aku, kan, cantik sama pinter.”
            “Pilih salah satu, Oik!” ujar Dedy, sebal.
            “Pinter, deh.”
            “Berarti jelek nggak masalah, ya?”
            “Nggak gitu juga!” seru Oik sewot. Dedy tertawa puas.
            “Personel band atau solois?” Dedy kembali tertawa.
            “Ngecengin mulu, nih!” Oik mendadak cemberut.
            “Kalau pilih personel band, ntar yang di backstage serangan jantung lagi.” Ify menyahut.
            “Kalau pilih solois, ntar sang mantan kecewa.” Acha meneruskan.
            “Anggota girlband, deh!” Oik menjawab lalu nyengir lebar.
            “Nggak bisa.” Dedy kembali sebal. “Personel band atau solois?”
            “Solois!” Oik menjawab dengan setengah hati.
            “PDKT atau CLBK?”
            “PDKT! Kalau ada yang baru, ngapain sama yang lama?” seloroh Oik.
            “Wajah atau tubuh?”
            “Tubuh.”
            “Salon atau bioskop?”
            “Bioskop, lah!”
            “Justin Bieber atau Bruno Mars?”
            “Bruno Mars, deh.”
            “Mendadak kaya atau bisa go international bareng Diamond?”
            “Go international,”
            “Punya sedikit fans atau banyak haters?”
            “Eh, gila! Jahat banget pertanyaannya?!” Oik melirik Dedy sebal. “Sedikit fans, deh.”
            “Kehilangan sahabat atau kehilangan karir?”
            “Wah, ngajak ribut.” Oik menggebrak meja kemudian tertawa. “Nggak mau milih!”
            “Kehilangan sahabat atau kehilangan karir?” ulang Dedy.
            “Maksa amat, Om?” ejek Oik.
            “Kehilangan sahabat atau kehilangan karir?” ulang Dedy lagi.
            “Sahabat, deh.”
            Keempat anggota Diamond lainnya mulai bersorak heboh mendengar jawaban Oik.
            “Kalian itu partner, lebih dari sahabat. Tenang aja.” Oik melirik keempatnya kemudian terkekeh pelan.
            “Gebetan baru atau girlband baru?”
            “Gebetan baru!” Oik menjawab mantap.
            “Coy! Telepon UGD, coy! Yang di backstage terkapar kehabisan napas!” seru Sivia yang mengundang riuh tawa penonton dalam studio.
            “Diamond atau Cakka?”
            “Diamond, dong!”
            “Eh, Cakka nge-BBM gue, nih. Mau ngelabrak Om Botak katanya.” Pricilla berpura-pura menengok ponselnya lalu nyengir menatap Oik dan Dedy.
            “Diamond atau... Alvin?” seru Dedy bersemangat.
            “Abis, nih, yang di backstage. Koma pasti abis ini.” Acha menengok kearah sudut belakang stage, berpura-pura mencari Alvin.
            “Diamond,” Oik menjawab yakin.
            “Terakhir.” Dedy tertawa. “Alvin atau Cakka?”

**

            Cukup!
            Cakka mematikan televisinya dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia mengenakan jaketnya dengan asal, mengambil kunci mobil, kemudian berlalu dari ruang tengah. Begitu ia akan keluar dari apartemennya, ia berpapasan dengan Shilla.
            “Mau kemana, Kka?” tanya Shilla seraya menenteng cheese cake kesukaan Cakka. “Nih, buat lo.”
            Cakka tak mengiraukan Shilla dan cheese cake yang kini disodorkan padanya. “Bukan urusan lo,” kata Cakka dengan nada dingin.
            Shilla menatap Cakka yang bergerak menjauh dan membuang cheese cake-nya begitu saja dikoridor apartemen. “Kka! Tunggu!” Ia pun berlari menghampiri Cakka.
            Cakka menatap Shilla datar. Begitu keduanya masuk dalam lift dan pintu lift tertutup, Cakka segera menekan tombol lift hingga membawanya ke lobby apartemen. Cakka melangkah cepat menuju parking area dengan diikuti Shilla yang kesusahan menyamai langkahnya dengan Cakka.
            “Lo mau kemana, sih, Kka?” tanya Shilla lagi, berusaha menghentikan laju langkah lelaki itu dengan cara menahan lengannya.
            Cakka menatap Shilla sebal lalu menghentakkan lengannya, membuat tangan Shilla tak lagi menahan lengannya. “Gue bilang bukan urusan lo!”
            Shilla berdiri dengan Cakka yang memunggunginya. Keduanya kini telah berada disisi mobil Cakka. Rupanya lelaki itu sedang membuka kunci mobilnya. Begitu terbuka, ia langsung masuk dan menyalakan mesin.
            “Kka! Dengerin gue!” Shilla mengetuk-ngetuk kaca mobil Cakka.
            Dengan terpaksa, Cakka membukanya dan menatap Shilla sinis. “Lo ngapain, sih?!”
            “Harusnya gue yang nanya ke elo!” Shilla berteriak dengan suara bergetar. “Elo yang ngapain?! Elo, tuh, kayak orang kesetanan! Kenapa, sih, Kka?” tanya Shilla lirih.
            Cakka membuang pandangannya. “Lo nggak usah ikut campur urusan gue.”
            “Tapi gue manager lo!” sela Shilla cepat.
            “Elo manager Rockability, bukan manager gue.” Cakka berkata dengan mata menatap Shilla tajam.
            “Elo mau kemana, Kka? Ini udah hampir jam delapan malem. Waktunya lo istirahat.” Shilla menyeka air mata yang mulai meleleh dipipinya dengan cepat.
            “Gue mau ke studio salah satu televisi swasta. Gue lihat Oik disana. Sama Alvin. Puas lo?!” Cakka kembali menutup kaca mobilnya dan berlalu meninggalkan Shilla.
            “Tapi gue sayang sama elo, Kka. Kenapa lo nggak nyadar juga?” lirih Shilla.
            Air matanya kembali meleleh menatap mobil Cakka yang semakin menjauh. Ia terduduk di parking area apartemen Cakka. Ia menangisi dirinya yang terlanjur mencintai Cakka. Ia menangisi Cakka yang tak menyadari perasaannya. Dan, terlebih, ia menangisi Cakka yang tak kunjung bisa melupakan Oik–mantannya.

**

            Alvin sedang menyalakan lilin pada kue tart untuk Oik. Lima menit lagi acara selesai dan Oik beserta anggota Diamond lainnya pasti akan menuju backstage untuk bersiap-siap pulang. Alvin sengaja memberikan tart untuk Oik pada malam hari karena pagi tadi Oik sibuk mempersiapkan untuk hadir dalam acara ini.
            Alvin mendengar derap langkah seseorang di belakangnya. Dan, belum sempat ia menengok ke belakang, ia sudah tersungkur karena tonjokan seseorang.
            “Makan, tuh!” suara berat seseorang mengagetkan Alvin.
            Alvin berusaha memfokuskan pandangannya pada seseorang yang berdiri di hadapannya. Alvin mencoba untuk berdiri dan terkesiap kaget menyadari siapa yang telah memukulnya. “Cakka?”
            “Hai, Alvin!”
            “Lo ngapain kesini?” tanya Alvin tak suka.
            “Harusnya gue yang tanya begitu ke elo!” Cakka kembali melayangkan tinjunya pada pipi Alvin. “Ngapain lo disini?! Mau narik simpatinya Oik, hah?!”
            Alvin meringis kesakitan. Darah mulai menetes dari sudut bibirnya. “Asal lo tahu, Oik yang minta gue buat nemenin dia dateng ke acara ini.”
            “Sialan lo!”
            Cakka sudah akan meninju Alvin lagi ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Cakka menengok dan mendapati Oik tengah menahan tangannya. Ia juga mendapati keempat anggota Diamond lainnya yang tengah menatapnya cemas.
            “Stop, Kka,” ujar Oik lirih.
            Alvin tersenyum tipis menatap Oik. Ia lalu mengambil kue tart untuk Oik dan menunjukkannya pada gadis itu. “Happy birthday, Oik.”
            “Makasih, Vin.” Oik tersenyum sedih. Tangannya terulur untuk menghapus darah pada sudut bibir Alvin. Cakka meradang melihatnya.
            “Happy birthday, Oik. Happy birthday, Oik. Happy birthday, happy birthday... happy birthday, Oik.” Alvin menyenandungkan lagu sederhana itu dengan meringis menahan perih pada sudut bibirnya.
            Cakka mendorong Alvin menjauh. Ia menghadap Oik. Kedua tangannya menyentuh lengan Oik. Cakka menatap Oik dalam, berharap Oik bisa membaca perasaannya lewat bola matanya.
            “Ik, kenapa...?” tanya Cakka dengan suara tercekat.
            Oik menggeleng. “Kita udah putus, Kka!”
            “Dan secepet itu kamu dapet penggantiku?” tanya Cakka tak mengerti.
            “Iya!” Oik menatap Cakka dengan pandangan menantang. “Ak–Gue capek sama lo! Gue capek jadi satu-satunya yang ngerasa sakit!” Oik berteriak histeris.
            “Sakit? Sakit apa?” Cakka bertanya dengan suara lembutnya. Tangannya menyentuh pipi Oik, mengusapnya perlahan.
            “Kamu nggak tahu, Kka. Kamu nggak tahu rasanya jadi aku! Udah, kita udah putus.” Oik mulai menangis. Ia melepaskan tangan Cakka dari lengan dan pipinya lalu beranjak membopong Alvin.
            “Ik!” Cakka memanggil Oik yang berlalu dari hadapannya bersama Alvin.
            Oik menengok sekilas dengan air mata yang masih berlinang. “Kamu nggak tahu, Kka. Aku capek, sakit, sedih.” Ia kemudian menghapus air matanya. “Makasih untuk kado ulang tahunnya. Baik-baik sama Rockability dan... Shilla.”
            Oik benar-benar berlalu dari hadapan Cakka. Bersama Alvin. Ify, Sivia, Pricilla, Acha, dan para kru Diamond pun hanya dapat menatap Cakka prihatin lalu bergegas menyusul Oik serta Alvin.
            Cakka termenung di tempatnya. Pandangannya kosong.
            “OIIIIIIKKKKK!!!!!”


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS